cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Orientasi Baru
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Orientasi Baru adalah Jurnal ilmiah yang bertujuan menyampaikan pemikiran-pemikiran kritis yang dapat memberi inspirasi dan arah baru bagi kehidupan Gereja dan masyarakat Indonesia di tengah kemajemukan budaya dan agama dalam diskusi bidang filsafat, teologi ataupun ilmu-ilmu terkait dalam bentuk karya tulis, laporan penelitian dan resensi buku. Jurnal ini diterbitkan oleh Pusat Penelitian Teologi Kontekstual, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Jurnal terbit 2 kali dalam setahun (April dan Oktober).
Arjuna Subject : -
Articles 564 Documents
Merayakan Pembebasan Manusia E.P.D. Martasudjita
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 11, TAHUN 1998
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

---
Kenabian dan Prognose Historis: Tinjauan atas Tulisan-Tulisan Romo van Lith Fl. Hasto Rosariyanto
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 21, NOMOR 02, OKTOBER 2012
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Though as a film, SOEGIJA was primarily thought as a Catholic film, it has actually another important theme, namely, nationalism. This writing sought to show that the involvement of the Catholic Church in the national struggle has actually a long history. It goes back to a well-known Dutch missionary called Rev. F. van Lith, SJ. In his time, he proposed a different strategy of doing missionary work. Instead of baptizing, he chose a completely different approach, namely, cultural approach. His choice was based on his respect to indigenous culture. And in turn, it shaped his political vision as well. A missionary Church must be in the part of local people, less she would find difficulties. Three key words should be mentioned here: independent, involvement and liberation.
Kerinduan (Akan) Kebijaksanaan Abadi Y.B. Prasetyantha
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 16, NOMOR 02, OKTOBER 2007
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The longing for Christ as Wisdom marks the most singular trait of the spiritual journey and the work of St. Louis-Marie de Montfort. That is clearly reflected in The Love of Etemal Wisdom, a work of Montfort's youth, dating from the first years of his priestly ministry. In this christological masterpiece, young Montfort meditates on the paradoxical mystery of the crucified Christ, the incarnate Wisdom of God. This article is an attempt to discover Montfort's discourse on Wisdom and its relevance to the Indonesian context, especially in dealing with poverty and religious plurality.
Menuju Masa Depan. Spiritualitas Orang Muda Aloysius Purwa Hadiwardaya
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 08, TAHUN 1994
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

---
Kehadiran Kristus di Tengah Umat Manusia Zaman Ini E.P.D. Martasudjita
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plausibilitas iman bukan hanya tantangan bagi rasionaritas: rasionalitas iman mendapat tempatnya dalam pengertian dan perjumpaan pribadi. Iman itu menjadi plausibel sebagai pengenalan, dari hidup ke hidup. Maka, karangan ini membahas bagaimana orang dapat mengerti dan menghayati kehadiran Kristus yang sakramental (khususnya dalam Sakramen Ekaristi) sebagai kehadiran dan perjumpaan Kristus di tengah umat manusia sekarang ini.Kehadiran itu hanya dapat dimengerti dalam pengalaman eksistensial manusia, yakni dalam pengalaman transendensi manusia yang berhadapan dengan misteri, dan dalam pengalaman akan Allah yang memberikan diri, tak terjangkau oleh manusia, demi pengampunan dosa. Orang beriman kristiani mendapatkan pengalaman itu dalam perjumpaan dengan Yesus Kristus sebagai tanda kehadiran Allah, dan pewartaan dan hidup Gereia hendaknya mengantarai perjumpaan dengan Yesus Kristus itu.Kristus hadir yakni di tengah umat manusia yang aktual. Kehadiran melibatkan hidup manusia yang kongkret-aktual dan membawa manusia ke dalam keagungan Allah yang selalu lebih besar.
Peziarahan Bima Mencari Air Kehidupan Hardono Hardono
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 24, NOMOR 01, APRIL 2015
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Water is the source of life. Every living thing depends on the presence of water. Without water, life will never exist. Physically, water is needed by every of the absolute water has its own meaning. Man pulls out spiritual meaning of the local cultures value especially about Wayang story. The meaning is Peziarahan Bima Mencari Air Kehidupan Dewaruci. Bima is a fictional character in Wayang culture that developed in Java. Bima is a symbol of man who longs to live with God. Bima integrates his existence and essence of his life. Bima is a true image of all human pilgrimage in the world. Bima is a symbol of individuation to achieve the perfection of life. Perfection was reflected in Acts Dewaruci. Bima met Dewaruci, and received Eternal Life Water (Words of Salvation). Finally, Bima can live happily in manunggaling kawula Gusti.
Kesatuan Nasional. Menjadi Bhinneka Tunggal Ika Bernadus Mardiatmadja
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 09, TAHUN 1995
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

---
Teologi Dengan Motivasi Religius Seperlunya? Teologi yang Jauh dari Kerahiman Allah Joannes Hartono Budi
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orang mengatakan bahwa "membaca tanda-tanda zaman" merupakan salah satu keunggulan pada teologi pembebasan. Bukankah saatnya bahwa teologi pembebasan membaca tanda-tanda zaman dan mengaku bahwa telah kedaluwarsa? Sebab dipertanyakan (apalagi dalam ketidakpastian politik dewasa ini): Apakoh teologi pembebasan de facto menyumbang sesuatu demi pembebasan manusia? Di tengah-tengah kerinduan rohani yang baru dipertanyakan juga: Bukankah teologi pembebasan tak lain daripada politik dengan motivasi religius seperlunya? Apakah, dalam kenyataan hidup manusia yang pribadi dan sosial, penghayatan iman dapat menyumbang lebih daripada itu?
CONSIDERING THE STATUS AND PURPOSE OF JBAPTIST PASSAGES IN THE PROLOGUE OF THE FOURTH GOSPEL St. Eko Riyadi
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 23, NOMOR 01, APRIL 2014
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran dua unit narasi tentang Yohanes Pembaptis (Yoh 1:6-8.15) di dalam prolog puitis Injil Yohanes (Yoh 1:1-18) yang berbicara tentang Sabda/ Terang memunculkan beberapa pertanyaan penting tentang status kedua unit narasi tersebut dan fungsi mereka baik di dalam prolog maupun di dalam keseluruhan Injil Yohanes. Tidak ada keraguan bahwa kedua unit tersebut merupakan tambahan yang disisipkan ke dalam madah puitis yang dijadikan sebagai materi dasar prolog Yohanes. Namun demikian, status sebagai sisipan ini tidak berarti bahwa kedua unit narasi ini tidak penting sehingga bisa diabaikan dalam memahami prolog Yohanes. Kehadiran kedua unit tetang Yohanes Pembaptis di dalam prolog menampakkan peran penting Yohanes Pembaptis dan mempersiapkan kehadirannya di dalam Injil sebagai saksi utama bagi Sabda yang menjelma menjadi manusia. Dengan menempatkan dua unit narasi dalam dua unit paralel prolog, penginjil secara cermat menyisipkan informasi tentang Yohanes Pembaptis tanpa merusak susunan kiastik yang dibangun dalam madah aslinya.
Filsafat dan Teologi Antonius Sudiarja
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam tradisi kristiani, Filsafat sangat erat dikaitkan dengan teologi. Sebab credo ut intelligam dan "fides quaerens intellectum". Filsafat melayani pemahaman iman. Namun, tradisi memperlihatkan juga bagaimana terutama filsafat humanis dan ilmu-ilmu modern yang empiris rasional menantang pemahaman dan penghayatan iman. Kini, setelah ilmu pengetahuan modern dan teknologi menjadi kontroversial, sementara filsafat mengingatkan IPTEK akan de-humanisasi, dan agama-agama baru mengungkapkan kerinduan akan Yang Transenden, tumbuhlah juga kesadaran bahwa hehidupan begitu luas sehingga diperlukan kerja sama pengetahuan lebih daripada kontroversi. Tak ada lagi pengetahuan termasuk teologi - yang mendaku (claim) diri paling benar. Bagaimana dikembangkan kerja sama terlebih dahulu antara filsafat dan teologi?