cover
Contact Name
Sony Christian Sudarsono
Contact Email
sintesis@usd.ac.id
Phone
+6285642606679
Journal Mail Official
sintesis@usd.ac.id
Editorial Address
Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unversitas Sanata Dharma Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Sintesis
ISSN : 1693749X     EISSN : 27229408     DOI : 10.24071/sin
SINTESIS adalah jurnal ilmiah bahasa, sastra, dan kebudayaan Indonesia yang diterbitkan oleh Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sintesis terbit pertama kali bulan Oktober 2003 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan Oktober. Sintesis is a scientific journal of Indonesian language, literature, and culture published by the Indonesian Letters Study Program, Faculty of Letters, Sanata Dharma University, Yogyakarta. Sintesis was first published in October 2003 with a frequency of publishing twice a year in March and October.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2024)" : 5 Documents clear
Noda merah kekuasaan orde baru dalam cerpen “Mei Hwa” karya Gunawan Budi Susanto Julianno, Ivo Trias
Sintesis Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i1.7022

Abstract

Karya sastra adalah representsi realitas yang ada di dalam dan di sekitar pengarang. Hal ini membuktikan bahwa sastra bukanlah sebuah teks yang kosong dan terpisah dari fenomena sosial-budaya yang terjadi di masyarakat. Ia mesti mengandung ‘didikan’ yang berguna bagi para pembaca. Demikianlah makna adagium dulce et utile yang dilontarkan Horace. Meski mengurai banyak perdebatan ilmiah, tetapi dua kata di atas betul-betul mampu untuk menjawab makna kehadiran karya sastra di tengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk relasi kuasa yang terdapat dalam cerpen “Mei Hwa” karya Gunawan Budi Susanto. Penelitian ini juga membongkar citra rezim Orde Baru selama Reformasi Mei 1998 menggunakan konsep representasi sastra yang berdasar pada konteks historis di sekitar teks tersebut. Metode yang digunakan selama penelitian terbagi dalam tiga tahap, yakni metode pengumpulan data, metode analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data. Data-data dikumpul dengan teknik baca-catat lalu dianalisis menggunakan metode analisis konten. Setelah itu, data-data disajikan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dengan menggunakan teori relasi kekuasaan Michel Foucault, ditemukanlah ‘didikan’ yang dimaksud Horace dalam teks cerpen “Mei Hwa”. Data mengenai relasi kuasa yang terdapat dalam cerpen tersebut meliputi relasi kuasa yang bekerja atas pemikiran, meliputi manipulasi agama, kontrol bahasa, hingga stigmatisasi pada etnis Tionghoa, dan relasi kuasa yang bekerja atas tubuh, meliputi objektifikasi tubuh perempuan Tionghoa yang dijadikan hasrat seksual kaum lelaki hingga kontrol atas tubuh individu berdasarkan pada norma social yang berlaku. Dari keseluruhan hasil penelitian tersebut, ditemukanlah beberapa kesimpulan atas representasi Orde Baru dalam teks cerpen, yakni (1) negara Orde Baru menggunakan media agama, budaya, bahasa, hingga lembaga untuk melegitimasi kepentingan kekuasannya di masyarakat, (2) negara Orde Baru menggunakan kekuatan politik identitas sebagai alat propagandanya dalam melanggengkan kekuasaan di Indonesia, dan (3) militer dan aparatur negara selaku instrumen kekuasaan memiliki peran penting dalam setiap peristiwa kelam yang terjadi di negeri ini.
Membaca “Hujan Pertama dari Kampung Kafir” karya Silvester Petara Hurit dengan perspektif cultural studies Koten, Inosensius Soni
Sintesis Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i1.7710

Abstract

Tulisan ini merupakan usaha membaca karya sastra dengan menggunakan perspektif Cultural Studies. Teks karya sastra yang digunakan sebagai objek peneltian adalah, cerita pendek ‘Hujan Pertama dari Kampung Kafir’. Cerpen ini ditulis oleh Silvester Petara Hurit dan diterbitkan oleh koran Jawa Pos pada 25 Oktober 2020. Cerpen ini akan dibaca dalam konteks sejarah dan sosial, konsep identitas dalam cultural studies dan konteks produksi, distrubusi dan konsumsi. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah kajian tekstual dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil yang ditemukan bahwa cerita pendek “Hujan Pertama dari Kampung Kafir” ditulis berdasarkan tiga konteks sajarah dan dipengaruhi oleh dua kehidupan sosial yang dominan. Implikasi dari tulisan ini, yakni sekiranya usaha pembacaan dengan persepketif cultural studies ini dapat diperoleh sebuah pemahaman yang lengkap tentang isi cerita pendek ini.
Simbolisasi bunga mawar dalam cerita pendek "Siapa Kirim Aku Bunga?" karya Eka Kurniawan: Analisis dekonstruksi Furqon, Haekal Pradifa
Sintesis Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i1.8009

Abstract

Tulisan ini memuat pembacaan dekonstruktif atas sebuah karya sastra, yakni cerita pendek “Siapa Kirim Aku Bunga?” karya Eka Kurniawan. Sebagai sebuah kajian kualitatif diberdayakan metodologi filsafat, yaitu dekonstruksi, sebagai langkah metodis. Tujuannya, untuk memecah kebekuan makna oleh pemaknaan tunggal yang diusung oleh ideologi teks “Siapa Kirim Aku Bunga?”, utamanya terkait simbolisasi bunga mawar dan makna lain yang mengikutinya. Secara metodis, analisis berjalan dengan: (1) menentukan pusat teks, (2) inventarisasi oposisi-oposisi biner, (3) membalik hierarki metafisik, serta (4) mendiseminasi makna. Pada hasil pembacaan kritis yang digelar, teridentifikasi “bunga mawar sebagai tanda ungkapan cinta” menjadi pusat teks sekaligus pemaknaan lumrah dan prioritas payung oposisi biner, yang ditopang oleh sederet binaritas, di antaranya: “Eropa/Non Eropa”, “Noni/Gadis lokal”, “Pemerintah Hindia Belanda/Warga masyarakat lokal”, “Sopan/Tidak sopan”, “Pantas/Sembrono”, “Sama/Berbeda”, “Kolonial/Bumiputera”, “Pejabat/Jongos”, “Setelan Eropa/Kebaya Jawa”, “Normal/Aneh”. Ditegaskan bunga dan bunga mawar sebagai suatu undécidable atau ambiguitas, yang darinya lahir pembalikan atas hierarki metafisik pada binaritas yang ada, yang kemudian lewat diseminasi, ketunggalan makna berhasil didobrak. Hasilnya, bunga mawar tidaklah lagi sekadar dimaknai sebagai tanda/ungkapan cinta, melainkan berdasarkan logika internal teks sendiri dapat pula merentangkan signifikasi yang sebelumnya terabaikan, seperti: bunga mawar sebagai representasi rasa subversif dan perlawanan, makna keringnya cinta, atau perwujudan dari realitas pascakolonial seperti mimikri. Pembacaan dekonstruktif yang dilakukan juga berhasil mengangkat eksistensi krusial bunga mawar sebagai aktan atau agen non-manusia lewat pluralitas posibilitas simbolisasi yang dimungkinkannya. Pada akhirnya, melalui analisis atas cerita pendek ini juga berhasil diperlihatkan bagaimana metodologi filsafat seperti dekonstruksi diberdayakan untuk membuka pembacaan kritis atas teks secara lebih luas dan radikal.
Istilah-istilah kepercayaan lokal dan identitas budaya masyarakat Bengkulu Harmia, Citra Dewi
Sintesis Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i1.7998

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna serta nilai kebudayaan dari istilah-istilah yang digunakan dalam sistem kepercayaan masyarakat Bengkulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnolinguistik untuk memaparkan kaitan antara makna leksikal dengan unsur serta nilai budaya masyarakat yang tercermin di dalamnya. Istilah yang diteliti dalam penelitian ini dikategorikan ke dalam empat jenis sistem kepercayaan, yaitu (1) kepercayaan pada dewa-dewa, (2) kepercayaan pada makhluk halus, (3) kepercayaan pada kekuatan gaib, dan (4) kepercayaan kepada kekuatan sakti. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini merupakan metode deskriptif-kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari istilah-istilah kepercayaan gaib yang masih digunakan oleh masyarakat di berbagai daerah di Provinsi Bengkulu. Data kemudian dianalisis dari segi makna leksikal, lalu dikaitkan dengan unsur nilai dan budaya yang tecermin pada masyarakat yang menggunakan istilah tersebut, penggunaan istilah juga akan diidentifikasi dari segi konteksnya untuk menunjukkan fenomena pergeseran makna dari istilah tersebut jika digunakan dalam konteks kehidupan sosial masyarakat.
Makna dan fungsi mantra dalam upacara adat nyadran Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul: Kajian tradisi lisan Damayanti, Fira Nur Vianingtias; Adji, Fransisca Tjandrasih; Taum, Yoseph Yapi
Sintesis Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i1.6079

Abstract

Penelitian ini membahas makna dan fungsi mantra dalam upacara Nyadran Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul: Kajian Tradisi Lisan. Studi ini memiliki tiga tujuan yaitumenjelaskan asal mula upacara adat nyadran di Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul, mendeskripsikan makna mantra dalam prosesi nyadran di Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul, Memaparkan fungsi mantra dalam upacara nyadran. Landasan tori yang digunakan sebagai landasan referensi adalah tradisi lisan (folklore) dan teori fungaionalism. Penelitian ini menggunakan empat teknik pengumpulan data yaitu, teknik pengamatan, teknik wawancara, teknik kepustakaan, dan teknik dokumentasi. Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk formal dan informal.Hasil penelitian ini menunjukan adanya cerita tentang dua keturunan darah biru yaitu, GRM Sumadi dan GRAy Sudarminah melatarbelakangi upacara Nyadran untuk memperingati ditemukannya keturunan darah biru yang bersemayam di Desa Pundungsari dan  juga sebagai bentuk ucap syukur brayat yang doanya telah terkabul atau bentuk penyampaian nazar, makna mantra yang digunakan dalam upacara nyadran merujuk pada pertanian di desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul dan nazar yang dilahirkan oleh brayat dari luar Pundungsari. Selain itu, ditemukan pula makna yang terkandung dalam ubarampe yang digunakan sebagai syarat pelafalan mantra dan simbol dari harapan masyarakat yang ada di desa Pundungsari, ditemukan empat fungsi mantra yakni, fungsi religius yang merujuk pada bentuk ucap syukur atas terkabulnya nazar atau harapan setiap brayat yang hadir, fungsi sosial budaya merujuk pada gotong-royong masyarakat desa Pundungsari dan seluruh brayat, fungsi ekonomi merujuk pada hasil tani yang dihasilkan, dan fungsi estetika merujuk pada metafora atau makna yang terkandung dalam mantra.

Page 1 of 1 | Total Record : 5