cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
HUBUNGAN KINERJA OTAK DENGAN SPIRITUALITAS DIUKUR DENGAN MENGGUNAKAN INDONESIA SPIRITUAL HEALTH ASSESSMENT PADA TOKOH-TOKOH AGAMA KRISTEN GMIST (PENDETA) DI RESORT TAHUNA Samel, Mirachel. D.
e-Biomedik Vol 2, No 1 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i1.4550

Abstract

Abstract: Neuroscience is a science about the nervous system. The development of neuroscience has touched the spiritual dimension. There are four things if combined will result spirituality, they are meaning of life, positive emotions, spiritual experience and rituals. Daniel Amen divides brain into five major systems namely prefrontal cortex, limbic system, basal ganglia, gyrus cingulatus, and temporal lobes. Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA) is a tools that can measure and describe the correlation of spirituality with brain. This study aimed to determine the correlation between the brain performance with the spirituality in christian religious leaders GMIST (pastor) at resort Tahuna. This was a descriptive studywith analytical survey method. Sample of this research was GMIST pastors amount of 33 people. The Spearman correlation test showed a P value 0.017 between the basal ganglia and spiritual experience which indicated that the correlation was significant. Conclusion: There was significant correlation between the brain performance with the human spirituality measured by using ISHA in Christian religion leaders GMIST (pastors) at Tahuna resort.Keywords: brain, ISHA, Christian religious leaders, spiritualityAbstrak: Neurosains adalah ilmu yang mempelajari mengenai sistem saraf. Perkembangan neurosains telah menyentuh dimensi spiritual. Terdapat empat hal bila digabungkan menghasilkan spiritual yaitu makna hidup, emosi positif, pengalaman spiritual dan ritual. Daniel Amen membagi otak dalam lima sistem utama yaitu korteks prefrontalis, sistem limbik, ganglia basalis, girus singulatus, dan lobus temporalis. Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA) adalah alat yang digunakan untuk mengukur hubungan spiritualitas dengan otak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kinerja otak dengan spiritualitas pada pendeta GMIST di Resort Tahuna. Jenis penelitian yang digunakan ialah deskriptif dengan metode survei analitik. Sampel penelitian adalah pendeta-pendeta GMIST di Resort Tahuna sebanyak 33 orang. Data penelitian dianalisis dengan uji korelasi spearman. Hasil uji korelasi spearman antara ganglia basalis dan pengalaman spiritual menunjukan nilai P = 0,017 ini berarti kedua variabel memiliki hubungan yang bermakna. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara kinerja otak dan spiritualitas manusia diukur dengan menggunakan ISHA pada tokoh-tokoh agama kristen GMIST (pendeta) di Resort Tahuna.Kata kunci: otak, ISHA, tokoh agama Kristen, spiritualitas
Gambaran pemeriksaan makroskopis urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Mustikawangi, Vivin; Rambert, Glady I.; Wowor, Mayer
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14647

Abstract

Abstract: Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. Anti-tuberculosis drugs have nephrotoxic and hepatotoxic side effect. Renal and liver damage caused by the side effect of anti-tuberculosis drugs will make some changes in macroscopic urinalysis. Research Objective: To understand the description of macroscopic urinalysis on pulmonary tuberculosis patients in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Research Method: Observational descriptive, to obtain the data of macroscopic urinalysis on pulmonary tuberculosis patients conducted in October - November 2016 at RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.The research samples were random urine specimen and 24-hour urine specimen that meet with the predefined criteria. Result: Based on macroscopic urinalysis results on 30 patients, almost all of the colour, odour, clarity and volume examination results were normal. Only a couple of patients have macroscopic changes. Although in colour examination, rifampicin changes urine colour to orange. Conclusion: Based on the result, it can be concluded that macroscopic urinalysis on pulmonary tuberculosis patients either in-patient or out patient showed that there are no abnormalities in almost all of them.Keywords: pulmonary tuberculosis, urinalysis, macroscopic examination Abstrak: Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Obat yang diberikan pada pasien TB bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik. Kerusakan ginjal dan hati yang disebabkan oleh efek samping obat tersebut akan menunjukkan perubahan pada pemeriksaan makroskopis urin. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui gambaran pemeriksaan makroskopis urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Metode Penelitian: deskriptif observasional, untuk mendapatkan data tentang pemeriksaan makroskopis urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa yang dilakukan sejak oktober-november 2016 di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel penelitian adalah sampel urin sewaktu dan 24 jamdari semua pasien tuberkulosis paru yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Hasil: Berdasarkan urinalisis pemeriksaan makroskopis pada 30 pasien, pemeriksaan warna, bau, kejernihan, dan volume sebagian besar normal. Hanya beberapa pasien yang mengalami perubahan makroskopis.Pada pemeriksaan warna, pemakaian rifampisin menyebabkan urin berwarna jingga. Simpulan: dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa antara pemeriksaan makroskopis urin dengan pasien tuberkulosis paru dewasa baik yang dirawat inap maupun rawat jalan menunjukan hampir semua tidak ada kelainan. Kata kunci: tuberkulosis paru, urinalisis, pemeriksaan makroskopis
PENGARUH SINBIOTIK PADA ANAK DENGAN DIARE AKUT DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Khan, Muh Akbar; Manoppo, Christi; Mantik, Max
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4591

Abstract

Abstract: Diarrhea is one of the most frequent diseases of the babies and children in the world. many efforts were made to improve the absorption function of the small intestine, one of the providing of a combination of probiotics (live microorganisms) and prebiotics (substrate), which is known as synbiotic, synbiotic in vivo studies are still very few, especially its handling of non-infectious acute diarrhea is still not yet. This study was aimed to investigate the effect of synbiotic for acute diarrhea in children. This is an a randomized clinical trial double blind in 40 children aged 1-14 years in department of Pediatric, Prof. dr. R. D. Kandou Manado General Hospital. Subjects were randomly allocated into 2 groups, synbiotic and control group. Based on a sample of 40 children study. More men (62.5%) than women (37.5%). Age group 1-5 years is the largest age group with 22 patients. There were no significant differences between treatment groups (sinbiotik) 2.9 days (SB 0.64) and controls 3.2 days (SB 0.61) p = 0.138. conclusion is There is no effect of synbiotic  in shortening long of acute diarrhea in children who were treated in the department of Prof. dr. R.D Kandou Manado general hospital. Keywords: acute diarrhea, synbiotic, long diarrhea.     Abstrak: Diare merupakan salah satu penyakit yang paling sering mengenai bayi dan anak di dunia. banyak usaha yang dilakukan untuk memperbaiki fungsi absorbsi usus halus, salah satunya dengan pemberian kombinasi antara probiotik (mikroorganisme hidup) dan prebiotik (substrat) yang dikenal dengan istilah sinbiotik, penelitian tentang sinbiotik secara invivo masih sangat sedikit, terkhusus penanganan terhadap diare akut non infeksi masih belum ada. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh sinbiotik pada anak dengan diare akut. Jenis penelitian ini adalah penelitian uji klinis acak terkontrol buta ganda pada 40 anak berumur 1-14 tahun di RSUP Prof.dr.R.D Kandou Manado yang dibagi menjadi kelompok sinbiotik dan kelompok kontrol. Hasil penelitian ini didapatkan 40 anak yang menjadi sampel penelitian. Laki-laki lebih banyak (62,5%) dari perempuan (37,5%). Kelompok umur 1 – 5 tahun merupakan kelompok umur terbanyak yaitu 22 pasien. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan (sinbiotik) 2,9 hari (SB 0,64) dan kontrol 3,2 hari (SB 0,61) p = 0,138. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukan tidak terdapat pengaruh sinbiotik dalam mempersingkat lama diare akut pada anak yang dirawat di RSUP Prof. dr. R.D Kandou Manado. Kata Kunci: diare akut, sinbiotik, lama diare.
Isolasi dan identifikasi bakteri aerob yang berpotensi menjadi sumber penularan infeksi nosokomial di ruang ICU Rsad Robert Wolter Mongisidi Teling Manado Sarlin, Hilary G.; Homenta, Heriyannis; Porotu'o, John
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14607

Abstract

Abstract: Nosocomial infections are infections that arise during the patient was hospitalized and starting to show symptoms for a person being treated or after completion of treatment. Patients in the ICU may have a tendency to nosocomial infections. The purpose of the study is to identify and knowing the most common aerobic bacteria that cause nosocomial infections in the ICU RSAD Robert Wolter Monginsidi Teling Manado.This research is a descriptive cross sectional study. The study samplesare bacteria on the floor, walls, air, bed, and ECG in the ICU RSAD Teling Robert Wolter Monginsidi Manado. The results showed 26 samples out of 26 samples contained bacteria, Bacillus sp. eight samples (30.7%), Enterobacter aerogens six samples (23%), Staphylococcus sp. six samples (23%) and Enterobacter cloacae, Serratia liquefaciens, Serratia rubidaea, Serratia marcescens, Klebsiella pneumoniae, Proteus sp. each found as many as one sample (3.8%). Conclusion: The most common bacteria is Bacillus sp.Keywords: nosocomial infection, ICU, aerobic bacteria Abstrak: Infeksi nosokomial adalah Infeksi yang muncul selama penderita tersebut dirawat dirumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat. Pasien yang berada di ruang ICU dapat mempunyai kecenderungan terkena infeksi nosokomial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui bakteri aerob yang terbanyak penyebab infeksi nosokomial di ruang ICU RSAD Robert Wolter Mongisidi Teling Manado. Desain penelitian ini bersifat deskriptif dengan studi cross sectional. Sampel penelitian ialah bakteri pada lantai, dinding, udara, tempat tidur, dan EKG di ruang ICU RSAD Robert Wolter Mongisidi Teling Manado. Hasil penelitian memperlihatkan dari 26 sampel terdapat 26 sampel yang tumbuh yaitu, Bacillus sp. sebanyak delapan sampel (30,7%), Enterobacter aerogens ditemukan sebanyak enam sampel (23%), Staphylococcus sp. Ditemukan sebanyak enam sampel (23%) sedangkan Enterobacter cloacae, Serratia liquefaciens, Serratia rubidaea, Serratia marcescens, Klebsiella pneumoniae, Proteus sp. masing-masing ditemukan sebanyak satu sampel (3,8%). Simpulan: bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Bacillus sp. Kata kunci: infeksi nosokomial, ICU, bakteri aerob
HUBUNGAN JUMLAH TROMBOSIT DAN NILAI AGREGASI TROMBOSIT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Memah, Maya F.
e-Biomedik Vol 2, No 1 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i1.4390

Abstract

Abstract: Patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) are characterized by an acceleration of thrombopoiesis, an increase of platelet turnover, and a decrease of platelet survival time. These conditions affect the platelet count that manifest as an increase of the proportion of large and reactive platelets which are more thrombogenic. This study aimed to obtain the correlation between the platelet count and the platelet aggregation value in T2DM patients. This was an observational analytical study using the Pearson correlation test. Subjects were 30 T2DM outpatients at Endocrine-Metablolic Clinic of Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado. Blood samples of all patients were examined for platelet count and platelet aggregation value. The results showed that most of the subjects were ≥50 tahun (86.7%). Mean thrombocyte count was within normal level. Platelet aggregation values of the ADP 10 µm showed hypoaggregation, meanwhile of the ADP 5 µm showed normoaggregation The Pearson correlation test showed that there was no significant correlation between the platelet count and the platelet aggregation value, either using 10µm ADP (P = 0.22) or using 5µm ADP (P = 0.08). Conclusion: There was no significant correlation between the platelet count and the platelet aggregation values in patients with type-2 diabetes mellitus at Endocrine-Metabolic Clinic of Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado. Keywords: platelet count, platelet aggregation, T2DM   Abstrak: Pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) terjadi percepatan trombopoiesis, peningkatan pergantian trombosit, dan penurunan waktu hidup trombosit. Hal-hal tersebut dapat memengaruhi jumlah trombosit, yang menyebabkan terjadinya peningkatan trombosit berukuran lebih besar dan reaktif yang lebih bersifat trombogenik. Penelitian ini bertujuan  untuk mendapatkan hubungan antara jumlah trombosit dan nilai agregasi trombosit pada pasien DMT2. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Subjek penelitian berjumlah 30 pasien DMT2 di Poliklinik Edokrin-Metabolik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel darah dilakukan pemeriksaan jumlah trombosit dan nilai agregasi trombosit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa subjek penelitian terbanyak pada usia tua ≥50 tahun (86,7%). Rerata jumlah trombosit masih dalam rentang normal, sedangkan nilai agregasi trombosit dengan ADP 10 µm menunjukkan hipoagregasi dan yang dengan ADP 5 µm menunjukkan normoagregasi. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara jumlah trombosit dan nilai agregasi trombosit baik dengan ADP 10 µm (P = 0,22) maupun ADP 5 µm (P = 0,08). Simpulan: Pada pasien DMT2 di Poliklinik Edokrin-Metabolik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tidak terdapat hubungan bermakna antara  jumlah trombosit dan nilai agregasi trombosit. Kata kunci: jumlah trombosit, sgregasi trombosit, DMT2
Gambaran Histopatologik Hati Tikus Wistar yang Diberikan Sari Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhisus) dan Parasetamol Wowor, Maurin; Loho, Lily; Lintong, Poppy M.
e-Biomedik Vol 6, No 1 (2018): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v6i1.18680

Abstract

Abstract: Red dragon fruit contains natural antioxidant compounds in the form of lycopene, betalains, hydroxycinnamates, and flavonoids that allegedly can minimize liver cell damage due to hepatotoxic drugs such as paracetamol. This study was aimed to obtain histopathological features of liver tissue of Wistar rats given red dragon juice (Hylocereus polyrhisus) and paracetamol. This was an experimental laboratory study using 20 male Wistar rats as subjects. The dose of red dragon fruit juice was 7.8 g/day (single dose) and of paracetamol was 50 mg/ days (single dose); both were administered orally. Subjects were divided into 4 groups. Group A (negative control) was given no treatment for 7 days. Group B (positive control) was given paracetamol for 7 days. Group C was given red dragon fruit juice for 7 days and followed with administration of paracetamol for 7 days retaining the administration of red dragon fruit juice. Group D was administered with the red dragon juice and paracetamol simultaneously for 14 days. As the results, group A showed normal histological feature of liver cells. Group B showed fatty liver appearance. Group C showed regeneration of hepatocytes; fatty liver appearance was hardly found. Group D showed regeneration of hepatocytes and fatty liver appearance. Conclusion: Fatty liver could be induced by paracetamol. Administration of red dragon fruit juice for 7 days followed by red dragon fruit juice and paracetamol for 7 days showed better regeneration of hepatocytes than administration of paracetamol and red dragon juice simultaneously for 2 weeks.Keywords: red dragon fruit, paracetamol, liverAbstrak: Buah naga merah mengandung senyawa antioksidan alami berupa likopen, betalains, hydroxycinnamates, dan flavonoid yang diduga dapat meminimalisasi kerusakan hepatosit yang antara lain disebabkan oleh obat-obatan berefek hepatotoksik seperti parasetamol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran histopatologik hepatosit tikus Wistar yang diberi sari buah naga merah (Hylocereus polyrhisus) dan parasetamol. Jenis penelitian ini eksperimental laboratorik, dengan menggunakan 20 ekor tikus Wistar. Pada penelitian ini digunakan sari buah naga merah 7,8 g/hari (dosis tunggal) dan obat parasetamol 50 mg/hari (dosis tunggal) yang diberikan secara oral. Subjek penelitian dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A (kontrol negatif) tidak diberi perlakuan selama 7 hari. Kelompok B (kontrol positif) diberikan parasetamol selama 7 hari. Kelompok C diberikan sari buah naga merah selama 14 hari dilanjutkan dengan pemberian parasetamol dan sari buah naga merah secara bersamaan. Kelompok D diberikan sari buah naga merah dan parasetamol secara bersamaan selama 14 hari. Sebagai hasil, kelompok A memperlihatkan gambaran histopatologik hepatosit normal. Pada kelompok B terlihat kerusakan hepatosit berupa perlemakan. Pada kelompok C tampak regenerasi hepatosit yang luas dan tidak ditemukan perlemakan sedangkan pada kelompok D tampak regenerasi hepatosit namun masih terdapat perlemakan hati. Simpulan: Pemberian parasetamol menyebabkan perlemakan hati. Pemberian sari buah naga merah selama 7 hari dilanjutkan dengan pemberian sari buah naga merah serta parasetamol selama 7 hari menunjukkan regenerasi hepatosit lebih luas dibandingkan dengan pemberian parasetamol dan sari buah naga merah secara bersamaan selama 2 minggu.Kata kunci: buah naga merah, parasetamol, hati
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN OBESITAS PADA WANITA USIA SUBUR PESERTA JAMKESMAS DI PUSKESMAS WAWONASA KECAMATAN SINGKIL MANADO Novitasary, Meiriyani Deliana
eBiomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.2.2013.3255

Abstract

Abstract: Obesity is being a serious problem in a few of developing countries. This time has prevalence of overweight and obesity are had a fast movement in the worldwide and could be dangerous. The nutritions of the older people has an overweight possibility. The aim of research knowing about relation between the physical activities and obesity on the women of childbearing period age as member of public insurance at public health centers in Wawonasa Singkil Manado District. This research is a kind of observational analytic with a cross sectional. The population in this research on the ladies who came during the research as a member and also had a criteria are 77 person. The result of this research is based on the statistic analytic which used chi-square and had p value 0,55 which bigger than ?0,05. This result also shows that, there is no relation between physical activities and obesity on the Women of Childbearing Age (WUS) as member of public health insurance at public health centers in Wawonasa Singkil Manado District.Keywords: Physical Activities, Obesity, Women Childbearing PeriodAbstrak: Obesitas menjadi masalah serius di banyak negara berkembang. Saat ini terdapat bukti bahwa prevalensi kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas meningkat sangat tajam diseluruh dunia, yang mencapai tingkatan yang membahayakan. Permasalahan gizi pada orang dewasa cenderung lebih dominan untuk kelebihan berat badan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara aktivitas fisik dengan obesitas pada wanita usia subur (WUS) peserta Jamkesmas di puskemas wawonasa kecamatan singkil manado. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan Cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua wanita usia subur peserta Jamkesmas yang datang saat penelitian dilakukan yang memenuhi kriteria peneilitan yaitu sebanyak 77 orang. Hasil penelitian berdasarkan uji statistik dengan menggunakan Chi-square diperoleh nilai p sebesar 0,55 yakni lebih besar dibandingkan dengan ?0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan obesitas pada wanita usia subur (WUS) peserta Jamkesmas di Puskesmas Wawonasa Kecamatan Singkil Manado.Kata kunci: Aktivitas Fisik, Obesitas, Wanita Usia Subur
UJI EFEK EKSTRAK DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera L.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA INSISI KULIT KELINCI (Oryctolagus cuniculus) Sewta, Christian A.; Mambo, Christi; Wuisan, Jane
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7424

Abstract

Abstract: Aloe vera has been used for thousands years to treat burns, hair loss, skin infections, sinus inflamation and gastro-intestinal tract pain. Previous researches showed that Aloe vera works effectively as anti-inflammatory, anti-pyretic, anti-fungal, anti-oxidant, anti-septic, anti-microbial, and anti-viral. This study aimed to evaluate the effect of aloe vera extract on wound healing in incised rabbit skin. This was an experimental study using 3 rabbits as test animals. The rabbits right and left backs were incised for 4 cm long and 2 mm deep. The wound on the right back was given aloe leaf extract , and the wound on the left back was not. The length of the wounds were measured everyday for 2 weeks. ResThe results showed that the wounds that were given aloe leaf extract dried and healed faster. Conclusion: Aloe vera extract accelerated wound healing in the incised rabbit skin.Keywords: aloe vera leaf extract, incision woundAbstrak: Lidah buaya digunakan sebagai bahan obat sejak beberapa ribu tahun yang lalu untuk mengobati luka bakar, rambut rontok, infeksi kulit, peradangan sinus, dan rasa nyeri pada saluran cerna. Beberapa peneliti terdahulu telah membuktikan bahwa Aloe vera berkhasiat sebagai antiinflamasi, antipiretik, antijamur, antioksidan, antiseptik, antimikroba, serta antivirus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstraksi lidah buaya terhadap penyembuhan luka insisi kulit kelinci. Penelitian ini mengunakan metode eksperimental, dengan menggunakan 3 ekor kelinci sebagai hewan uji. Punggung kanan dan kiri kelinci diinsisi sepanjang 4 cm dan kedalaman 2 mm. Luka pada punggung kanan diberi ekstrak daun lidah buaya sedangkan luka pada punggung kiri tidak diberi ekstrak daun lidah buaya. Pemberian ekstrak daun lidah buaya dan pengukuran panjang luka dilakukan setiap hari selama 2 minggu. Hasil penelitian memperlihatkan luka insisi kulit kelinci yang diberi ekstrak daun lidah buaya lebih cepat kering dan sembuh dibandingkan dengan luka insisi kulit kelinci yang tidak diberikan ekstrak daun lidah buaya. Simpulan: Pemberian ektrak daun lidah buaya memiliki efek untuk mempercepat penyembuhan luka insisi pada kulit kelinci.Kata kunci: ekstrak daun lidah buaya, luka insisi
PENGARUH LATIHAN FISIK AEROBIK TERHADAP KOLESTEROL HIGH DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) PRIA DENGAN BERAT BADAN LEBIH (OVERWEIGHT) Hengkengbala, Gloria; Polii, H.; Wungouw, H. I. S.
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4360

Abstract

Abstract: Several studies have suggested that aerobic exercise can affect the metabolism of cholesterol in the blood, one of which cholesterol High Density Lipoprotein (HDL), otherwise known as “good cholesterol”, but it has not been mentioned in detail what kind of exercise and how much exercise intensity long and also how many levels of HDL can be improved with practice. Aerobic physical exercise using a stasionary bicycle made for one’s physicalfitness test. This study aimed to determine the effect of aerobic exercise on HDL overweight male student of the Unsrat Medical Faculty. This research is analytic experimental design field with one group pre-post test. The study subject were 28 students medical Unsrat 2009 (18-25 years) with IMT > 23 who fulfil the inclusion criteria. Subjects were given aerobic physical exercise in the fitness center Manado for 3 weeks with a frequency of three times a week, with duration of 30 minutes of exercise, then it is conducted normality test of data distribution, and data analysis followed by paired t test for normally distributed data obtained. The result showed an increase in the mean  levels of HDL subjects 44.85±7.98 mg/dL to 46.89±8.96 mg/dL (p=0.104) but trough paired t test, Ido not get meaningful results after doing aerobic exercise (p>0.005). Aerobic Phycical Exercise on a regular basis using a stationary bike on the overweight men student can increase the mean HDL cholesterol levels but no significant difference from the mean value.Keywords: Aerobic Physical Exercise, HDL, Overweight.  Abstrak: Beberapa penelitian telah menyebutkan bahwa latihan fisik aerobik dapat mempengaruhi metabolisme kolesterol dalam darah salah satunya kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) atau dikenal sebagai “kolesterol baik”, namun belum disebutkan secara terperinci jenis latihan fisik seperti apa dan dengan intensitas latihan berapa lama dan juga berapa banyak kadar HDL yang dapat ditingkatkan dengan latihan. Latihan fisik aerobik dengan menggunakan sepeda statis yang dilakukan untuk tes kebugaran fisik seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan fisik aerobic terhadap kadar HDL mahasiswa pria Fakultas Kedokteran Unsrat dengan berat badan lebih.  Jenis penelitian ini bersifat eksperimental lapangan dengan rancangan pre-post one group test. Subjek  penelitian sebanyak 28 mahasiswa Kedokteran UNSRAT Angkatan 2009  (18-25 tahun) dengan IMT ≥ 23 yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek  diberikan latihan fisik aerobic di pusat Kebugaran Manado selama 3 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu, dengan lamanya latihan 30 menit, selanjutnya dilakukan uji normalitas distribusi data, kemudian dilanjutkan analisis data dengan uji t berpasangan karena data yang didapat berdistribusi normal. Hasil penelitian didapatkan terjadi peningkatan nilai rerata kadar HDL subyek  44,85 ± 7.98 mg/dL menjadi 46.89 ±8.96 mg/dL (p= 0.104) namun  melalui uji t berpasangan mendapatkan hasil yang tidak bermakna sesudah melakukan latihan fisik aerobik (p >0.005). Simpulan: Latihan fisik aerobik menggunakan sepeda statis secara teratur pada mahasiswa pria dengan berat badan lebih dapat meningkatkan nilai rerata kadar HDL tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari nilai rerata tersebut.Kata Kunci: latihan Fisik Aerobik, HDL, overweight.
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Resisten Merkuri melalui Analisis Gen 16S rRNA pada Urin Pasien dengan Tumpatan Amalgam Karamoy, Eunike M.; Fatimawali, . .; Kepel, Billy J.
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18513

Abstract

Abstract: Mercury is a hazardous metal used as the main component of amalgam. Amalgam is a source of the chronic exposure of elemental mercury (Hg0) to human body. In the body, mercury is excreted through urine. Chronic exposure to mercury causes bacteria to develop resistance using mer operon. By analyzing the 16S rRNA gene, the bacterial identification is more specific and able to facilitate further studies about mercury-resistant bacteria within the human body. This study was aimed to identify the mercury-resistant bacteria isolated from the urine of patients with dental amalgam. This was an explorative descriptive study by isolation and identification of mercury-resistant bacteria in the urine samples of patients with dental amalgam and studying the evolutionary relationship through 16S rRNA gene. The nucleotide sequence of 16S rRNA gene of bacteria from urine samples of patients with dental amalgam showed 100% resemblances with Bacillus cereus. The phylogenetic tree showed that Bacillus cereus was closely related to Bacillus anthracis, Bacillus sp., and Bacillus thuringiensis. Conclusion: Mercury-resistant bacteria isolated from urine of patients with dental amalgam was Bacillus cereus, which was not the normal flora of human body. Bacillus cereus had close evolutionary relationship with Bacillus anthracis, Bacillus sp., and Bacillus thuringiensis.Keywords: mercury-resistant bacteria, 16S rRNA gene, urine, amalgam. Abstrak: Merkuri adalah logam berbahaya komponen utama pada amalgam. Amalgam merupakan sumber paparan kronis merkuri elemental (Hg0) pada manusia. Di dalam tubuh, merkuri diekskresikan melalui urin. Akibat terpapar merkuri dalam waktu lama, bakteri dalam urin mengembangkan mekanisme resistensi terhadap merkuri melalui operon mer. Melalui analisis gen 16S rRNA, identifikasi bakteri lebih spesifik sehingga mempermudah untuk mempelajari dan meneliti lebih lanjut tentang bakteri resisten merkuri pada tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bakteri resisten merkuri yang diisolasi dari urin pasien dengan tumpatan amalgam. Jenis penelitian ialah deskriptif eksploratif, melalui isolasi dan identifikasi bakteri resisten merkuri dari urin pasien pengguna amalgam serta melihat hubungan kekerabatan bakteri tersebut melalui gen 16S rRNA. Hasil penelitian mendapatkan urutan nukleotida gen 16S rRNA bakteri dari urin pasien pengguna amalgam memiliki kesamaan 100% paling banyak dengan Bacillus cereus. Berdasarkan analisis hubungan kekerabatan, Bacillus cereus berkerabat dekat dengan Bacillus anthracis, Bacillus sp, dan Bacillus thuringiensis. Simpulan: Bakteri resisten merkuri yang diisolasi dari sampel urin pasien pengguna amalgam ialah Bacillus cereus, yang bukan merupakan flora normal tubuh manusia. Bacillus cereus memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan Bacillus anthracis, Bacillus sp, dan Bacillus thuringiensis.Kata kunci: bakteri resisten merkuri, gen 16S rRNA, urin, amalgam