cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
Pengaruh senam lansia terhadap kadar kolesterol total pada lansia di BPLU Senja Cerah Manado Mamitoho, Rando F.; Sapulete, Ivonny M.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10845

Abstract

Abstract: Many changes occur in the elderly include changes in body composition, muscle, bones and joints, cardiovascular system, respiratory and cognition. One of the efforts to maintain, improve health and physical fitness for the elderly is to exercise. The aim of this research is to know the effect of the elderly gymnastics on the levels of total cholesterol in elderly at BPLU Senja Cerah Manado. This research is experimental study with one group pre-post test design. The research respondents are 18 elderly people in BPLU Senja Cerah Manado. Cholesterol levels are measured before the first gymnastics session and after final gymnastics session. Respondents do gymnastics three times a week for eight weeks. The research results is analyzed by Wilcoxon test using a computer program. The result of the research shows that the mean level of cholesterol before first elderly gymnastics 222,17 mg/dL and after final elderly gymnastics 231,50 mg/dL. There is no significant effect on respondents total cholesterol after doing elderly gymnastics for three times a week for eight weeks.Keywords: elderly, cholesterol, elderly gymnasticAbstrak: Banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia di antaranya perubahan komposisi tubuh, otot, tulang dan sendi, sistem kardiovaskular, respirasi dan kognisi. Salah satu upaya untuk menjaga, meningkatkan kesehatan dan kesegaran jasmani bagi lansia adalah dengan melakukan olahraga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senam lansia terhadap kadar kolesterol total pada lansia di BPLU Senja Cerah Manado. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan pre-post one group test. Responden merupakan lansia di BPLU Senja Cerah Manado yang berjumlah 18 orang. Kadar kolesterol diukur sebelum senam pertama dan sesudah senam terakhir. Responden melakukan senam tiga kali dalam seminggu selama delapan minggu. Hasil penelitian dianalisis dengan uji Wilcoxon menggunakan program komputer. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil yang menunjukan bahwa rerata kadar kolesterol sebelum senam lansia pertama adalah 222,17 mg/dL dan kadar kolesterol sesudah senam lansia terakhir adalah 231,50 mg/dL. Tidak ada pengaruh yang bermakna terhadap kolesterol total responden setelah melakukan senam lansia selama tiga kali dalam seminggu selama delapan minggu.Kata Kunci: lansia, kolesterol, senam lansia
PERBEDAAN MOTILITAS SPERMATOZOA SAPI JANTA (frisian holstein) SETELAH PEMBERIAN CAIRAN KRISTALOID-RINGER LAKTAT Yumte, Kristin; Wantouw, Benny; Queljoe, Edwin de
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.1614

Abstract

Abstract :Spermatozoa motility is one of the benchmarks determining  Fertilisation, where energy is used for movement is influenced by energy sources such as fructose, and liquid electrolytes such as Na +, Ca +, Cl-, and lactate.This study aimed to assess the motility of spermatozoa after crystalloid fluid penembahan given Ringer's lactate. The design of this study is the correlation study with a sample of 4 bull testiclesData collected by differentiating cauda epididymis of bull testicles and Ringer's lactate given crystalloid fluid is then observed under a microscope. From the research that has been done on the motility of the results obtained after administration of Ringer's lactate infusion at 56.35% while the non-provision of 52.5%. Conclusion: The bull sperm have a progressive motility after having given crystalloid fluid Ringer's lactate. Keywords: Motility, Spermatozoa, Lactate    Abstrak: Motilitas  spermatozoa merupakan salah satu tolok ukur penentu kesangupan Fertilisasi, dimana energi yang digunakan untuk pergerakannya di pengaruhi oleh sumber energi seperti fruktosa, dan cairan elektrolit seperti Na+ ,Ca+ ,Cl-, dan laktat. Penelitian ini bertujuan untuk  menilai motilitas spermatozoa setelah diberikan penembahan cairan kristaloid ringer laktat. Desain penelitian ini adalah correlation study dengan jumlah sampel 4 testis sapi jantan. Data dikumpulkan dengan membeda cauda epididimis dari testis sapi jantan dan diberikan cairan kristaloid ringer laktat kemudian diamati dibawah mikroskop. Dari penelitian yang telah dilakukan di peroleh hasil motilitas setelah pemberian cairan infus ringer laktat sebesar 56,35% sedangkan tanpa pemberian sebesar 52,5%. Simpulan: Spermatozoa sapi jantan memiliki motilitas progresif setelah di berikan cairan kristaloid ringer laktat. Kata kunci: Motilitas, Spermatozoa, Laktat.
PERANAN LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN MALARIA DI KECAMATAN SILIAN RAYA KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Pantow, Melisa; Tuda, Josef S. B.; Sorisi, Angle
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7428

Abstract

Abstract: Malaria, an infectious disease, is still an issue for public health world-wide, including in Indonesia. Malaria is caused by Plasmodium Sp. which is transmitted by the Anopheles mosquito. Southeast Minahasa Regency has high malaria rate. This study aimed to know the role of the environment on the incidence of malaria in Silian Raya subdistrict, Southeast Minahasa regency. This was a descriptive survey. The population was the community in Silian Raya subdistrict, Southeast Minahasa regency with 194 respondents. The results showed that people in Silian Raya subdistrict mostly live around swamps, rice paddies, and rivers. This study also showed that only a few people of Silian Raya subdistrict who had pets, and fish ponds around their houses.Keywords: malaria, environmentAbstrak: Malaria adalah penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Dunia termasuk di Indonesia. Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium Sp ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Kabupaten Minahasa Tenggara merupakan salah satu Kabupaten yang angka malarianya tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peranan lingkungan terhadap kejadian malaria di Kecamatan Silian Raya Kabupaten Minahasa Tenggara. Jenis penelitian ini adalah survey yang bersifat deskriptif. Populasi penelitian adalah masyarakat di Kecamatan Silian Raya Kabupaten Minahasa Tenggara dengan jumlah sampel 194 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Kecamatan Silian Raya sebagian besar memiliki tempat tinggal di sekitar rawa, sawah, sungai. Penelitian ini juga menunjukkan hanya sedikit masyarakat Kecamatan Silian Raya yang memiliki hewan peliharaan atau kolam ikan di sekitar tempat tinggal.Kata kunci: malaria, lingkungan
GAMBARAN HISTOPATOLOGIK TESTIS TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) SETELAH PEMBERIAN MONOSODIUM GLUTAMATE (MSG) Bilondatu, Ririen S.S.; Durry, Meilany; Lintong, Poppy
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14714

Abstract

Abstract: Monosodium glutamate (MSG) is a sodium salt from glutamic acid which is currently very popular to be used as a food flavoring ingredient to stimulate appetite. The objective of the study to discover the histologic findings of wistar rats’ testicles after MSG administration. This was an experimental laboratoric study, using 20 wistar rats that has been divided into 4 groups. The negative control group is given standard pallet and drinking water for 40 days; it devided to 2 smaller groups, K1 and K2, each of the group was terminated on the 21st and 41st day. The intervention group was given MSG according to average consumption dose in Indonesia; it devided to two smaller groups, P1 and P2, each group was terminated on the 21st and 41st day. The result showed on group K1 and K2, a normal finding of seminiferous tubules, spermatogenic cell layer arrays, and interstitial cell density was found. On group P1, showed seminiferous tubules with decrease of spermatogenic cells development, causing the tubules compartment to appear vacant; the spermatogonia layers appeared sparse on basal membrane, and fewer interstitial cells. On group P2, the findings were not of much difference with group P1, but in this group, one testicle specimen showed calcification cells inside its seminiferous tubules was found. Conclusion: Administration of MSG according to average consumption dose in Indonesia causes decrease of seminiferous tubules’ diameter and decrease of the number of spermatogenic cells and interstitial cells.Keywords: Monosodium glutamate (MSG), Indonesia average consumption dose, testicles. Abstrak: Monosodium glutamate (MSG) adalah garam natrium dari asam glutamat yang saat ini sangat popular digunakan sebagai bahan penyedap makanan untuk merangsang selera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histologik testis tikus wistar setelah pemberian MSG. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik, menggunakan 20 ekor tikus wistar yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok kontrol negatif terdiri dari dua kelompok yakni K1 dan K2, masing-masing diterminasi pada hari ke-21 dan hari ke-41. Kelompok perlakuan diberi MSG sesuai dosis konsumsi rata-rata di Indonesia, terdiri dari dua kelompok yakni P1 dan P2, masing-masing diterminasi pada hari ke-21 dan hari ke-41. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok K1 dan K2 didapatkan gambaran tubulus semineferus, susunan lapisan sel spermatogenik dan kepadatan sel interstisial yang normal. Pada kelompok P1 didapatkan gambaran fokus-fokus tubulus semineferus tanpa perkembangan sel-sel spermatogenik sehingga ruang tubulus tampak kosong, lapisan spermatogonia yang saling jarang pada membran basalis, dan sedikit sel interstisial. Pada kelompok P2 didapatkan gambaran yang tak jauh berbeda dengan kelompok P1, namun pada kelompok ini didapatkan satu sediaan testis yang tampak ruang tubulus semineferusnya berisi sel-sel yang mengalami kalsifikasi. Simpulan: Pemberian MSG sesuai dosis konsumsi rata-rata di Indonesia menyebabkan mengecilnya diameter tubulus semineferus, penurunan jumlah lapisan sel-sel spermatogenik dan berkurangnya sel interstisial. Kata Kunci: Monosodium glutamate (MSG), dosis rata-rata konsumsi Indonesia, testis.
GAMBARAN KADAR TRIGLISERIDA PADA REMAJA OBES DI KABUPATEN MINAHASA Damanik, Novelina Irianti; Manampiring, Aaltje E.; ., Fatimawali
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4595

Abstract

Abstract: Obesity is a condition with abnormal fat accumulation or excessive adipose tissue that can be detrimental to health. Central obesity has a strong correlation with insulin resistance. In a state of insulin resistance hormone sensitive lipase in adipose tissue becomes active so that triglycerides in adipose tissue lipolysis increases. Therefore, insulin resistance occurs abnormalities of serum lipid profiles a typical triglyceride levels increased. The purpose of this study was to describe the levels of triglycerides in obese adolescents in Tondano City. Cross-sectional study has been done in August 2012- January 2013 with population of the student in the SMK Negeri in Tondano city, from grade one to grade three were aged 13-18 years with a simple random sampling as the technique of sampling. Measurements of weight, height, waist circumference and triglyceride levels examinations have been made. Obesity is declared if it meets the following criterias: BMI ≥ 25 kg/m2, waist circumference > 90 cm for men and > 80 cm for women. Triglyceride levels increased when ≥ 150 mg / dl. Found in 54 samples of patients with obesity. 54 obese patients were consist of female (43 samples, 79.63%), men (11 samples, 20.37%). 54 samples were measured, eight samples had elevated levels of triglycerides are women (7 samples, 88%) and men (1 samples, 12%). Conclusion of this study found that obese women have experienced more elevated triglyceride levels than obese men. These results may be useful for prevention and treatment of obesity and elevated triglyceride levels in the early teens. Key words: adolescent, obesity, triglyceride.     Abstrak: Obesitas merupakan suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan. Obesitas sentral mempunyai korelasi yang kuat dengan resistensi insulin. Pada keadaan resistensi insulin hormone sensitive lipase di jaringan adiposa akan menjadi aktif sehingga lipolisis trigliserida di jaringan adiposa semakin meningkat. Oleh karena itu pada resistensi insulin terjadi kelainan profil lipid serum yang khas yaitu kadar trigliserida meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar trigliserida pada remaja obes di Kota Tondano. Penelitian potong lintang di lakukan Agustus 2012- Januari 2013 dengan populasi siswa SMK Negeri di Kota Tondano dari kelas satu sampai kelas tiga yang berumur 13-18 tahun dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang dan pemeriksaan kadar trigliserida. Obesitas dinyatakan apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: IMT ≥25 kg/m2, lingkar pinggang >90 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk perempuan. Kadar trigliserida meningkat apabila ≥150 mg/dl. Didapatkan 54 sampel penderita obesitas. 54 penderita obesitas adalah perempuan (43 sampel; 79,63%), laki-laki (11 sampel; 20,37%). 54 sampel yang diukur, 8 sampel yang mengalami peningkatan kadar trigliserida yaitu perempuan (7 sampel; 88%) dan laki-laki (1 sampel; 12%). Kesimpulan penelitian ini didapatkan perempuan yang obesitas lebih banyak mengalami peningkatan kadar trigliserida di bandingkan laki-laki yang obesitas. Hasil ini dapat berguna untuk tindakan pencegahan dan tatalaksana obesitas serta peningkatan kadar trigliserida pada remaja sejak dini. Kata kunci: remaja, obesitas, trigliserida.
GAMBARAN VISUS MATA PADA SENAT MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Tamboto, Freelyn Ch. P.; Wungouw, Herlina I. S.; Pangemanan, Damajanty H. C
eBiomedik Vol 3, No 3 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.3.2015.10148

Abstract

Abstract: Visus is visual acuity. Vision examination is an examination to see visual acuity. Overview vision and blindness remains a substantial social problem in Indonesia. WHO estimates that in 2000 there were 45 million people with blindness in the world, in which one third is in south east asia. With the world's population increases with the increase in life expectancy will increase the number of blindness at least one million people Indonesia reached 1.47%. This study aims to determine visual acuity eye on the students of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. This descriptive study using cross sectional study design (cross-sectional). With the study sample met the criteria is the age of 19-22 years old and healthy while doing research. The samples were students of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi numbered 20 people. Based on the research results that show the frequency of eye vision disorders did not differ between the sexes men and women, but the effect on the frequency of vision disorder age. Conclusion: Impaired vision usually occurs due to hereditary factors or behavioral factors that are not well when reading or watching near for a long time and with less lighting.Keywords: visusAbstrak: Visus adalah ketajaman penglihatan. Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan untuk melihat ketajaman penglihatan. Gambaran penglihatan dan kebutaan masih menjadi masalah sosial yang cukup besar di Indonesia. WHO memperkirakan pada tahun 2000 terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia, di mana sepertiganya berada di Asia Tenggara. Penambahan jumlah penduduk dunia dengan peningkatan umur harapan hidup maka jumlah kebutaan akan meningkat paling sedikit satu juta orang Indonesia mencapai 1,47%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui visus mata pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan desain studi potong lintang (cross sectional study). Sampel penelitian yang memenuhi kriteria yaitu usia 19-22 tahun dan sehat disaat melakukan penelitian. Sampel penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi berjumlah 20 orang. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil yang menunjukkan frekuensi gangguan visus mata tidak berbeda antara jenis kelamin laki laki maupun perempuan, namun frekuensi gangguan visus berpengaruh pada usia. Simpulan: Gangguan visus biasanya terjadi karena faktor herediter atau faktor perilaku yang tidak baik saat membaca atau nonton dekat dalama waktu yang lama dan dengan penerangan yang kurang.Kata kunci: visus
Perbandingan kadar HbA1C pada pasien DM Tipe 2 dengan frekuensi senam prolanis satu kali per minggu dan tiga kali per minggu Tompira, Brigitha M.; Marunduh, Sylvia R.; Sapulete, Ivonny M.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.11698

Abstract

Abstract: World-wide diabetes prevalence has been rapidly increasing in the last two decades and according to the International Federations Projects, it will reach 438 million people by 2030. HbA1c examination is a standard for measuring the long-term glycemic value in diabetic patients. A case control study shows that structured exercise is effective in lowering the HbA1c level. Prolanis is a program in Indonesia focused on managing patients with hypertension and diabetes. One of the programs that Prolanis offers is doing physical exercise for 60 minutes per week. However, American Diabetes Association stated that diabetic patients should perform at least 150 minutes of physical exercise per week. This study aimed to obtain the effect of PROLANIS exercise frequency on HbA1c. This was a field experimental study with a pre post test control group design. Data were statistically analyzed by using the T-Independent and T-dependent tests with a standard error of 5%. There were 30 respondents divided into 2 groups: Prolanis exercise 3 times a week and once a week. The levels of HbA1c was measured before and after 4 weeks of Prolanis exercise. After the 4-weeks exercise the HbA1c levels of the once a week group rose by 0.13%. Meanwhile, the 3 times per week group displayed a decreased HbA1c level by 0.04%. There was a significant difference in HbA1c level before and after 4 weeks of Prolanis exercise between both groups (p = 0.032). Conclusion: Among diabetic patients, the 3 times of Prolanis exercise per week regimen was more effective in lowering the HbA1c levels than the 1 time of PROLANIS exercise per week regimen. Keyword: HbA1c, type 2 diabetes melitus, prolanis Abstrak: Prevalensi diabetes di seluruh dunia telah meningkat jauh selama dua dekade terakhir dan menurut International Federation Projects pada tahun 2030 akan mencapai 438 juta orang. Pemeriksaan HbA1c merupakan standard dalam pemeriksaan kadar gula darah jangka panjang pada penyandang diabetes. Suatu penelitian kasus kontrol menunjukkan bahwa olahraga teratur dapat menurunkan kadar HbA1c. Prolanis adalah sebuah program dari Indonesia yang difokuskan terhadap pasien dengan hipertensi dan diabetes melitus. Salah satu program yang ditawarkan ialah senam 60 menit setiap minggu. American Diabetes Association menyatakan bahwa sekurang-kurangnya pasien diabetes harus latihan fisik selama 150 menit setiap minggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari frekuensi senam terhadap kadar HbA1c. Jenis penelitian ini ialah eksperimental lapangan dengan rancangan pre post test control group design. Analisis statistic dilakukan dengan uji T tidak berpasangan dan T berpasangan (taraf kesalahan 5%). Senam dilakukan oleh 30 responden yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok 1 kali per minggu dan kelompok 3 kali per minggu. Pengukuran kadar HbA1c dilakukan sebelum dan setelah senam Prolanis selama 4 minggu. Setelah senam, rerata kadar HbA1c kelompok 1 kali/minggu mengalami peningkatan sebesar 0,13% sedangkan kelompok 3 kali/minggu mengalami penurunan sebesar 0,04%. Terdapat perbedaan bermakna antara selisih kadar HbA1c sebelum dan sesudah 4 minggu senam Prolanis kedua kelompok (p = 0,032). Simpulan: Senam Prolanis 3 kali/minggu lebih efektif dalam menurunkan kadar HbA1c daripada senam Prolanis 1 kali/minggu.Kata kunci: HbA1c, diabetes melitus tipe 2, prolanis
PENGARUH LATIHAN AEROBIK TERHADAP FORCED VITAL CAPACITY (FVC)PRIA DEWASA DENGANOVERWEIGHT Sagay, Ester Florencia; Polii, Hedison; Wungouw, Herlina I. S.
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.1624

Abstract

Abstract: Changes to respiratory function due to regular aerobic exercise will affect the value of pulmonary function, especially in Forced Vital Capacity (FVC). This research aimed to determine the effect of aerobic exercise on FVC overweight male students of Unsrat Medical Faculty. This research is analytic with design experimental, one group pre and post test design. The sampling technique used is non-purposive sampling technique. The research sample was taken from the students of the Faculty of Medicine 2009, Univercity of Sam Ratulangi who fulfill the inclusion criteria. Some 32 students were selected as research subjects. After giving informed consent, FVC measurement was done with the spirometer. After it was measured, they were given treatmen in the form aerobic exercise using a stationary bike for three weeks with frequency of exercise three times a week and exercise intensity for 30 minutes. We measured again FVC values after the exercise three times program. Normality test data showed significance for FVC value before treatment by 0.752, and after treatment by 0.912. Comparison of the average value before and after exercise were tested by using a paired test. Significant value for FVC is P = 0.084, means there is no significant difference between FVC values before and after exercise (P> 0.05). The mean FVC was 3.88 before treatment and after treatment the mean value was 4.00, an increase in the average value of 0.11. Conclusion:Aerobic Exercise on a regular basis using a stationary bike on the overweight male student can improve lung function in particular the mean FVC but there was no significant difference from the mean value. Keywords: FVC, Aerobic Exercise, Overweight.   Abstrak: Perubahan fungsi pernapasan karena latihan aerobik secara teratur akan mempengaruhi nilai fungsi paru khususnya Forced Vital Capacity (FVC). Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan aerobik terhadap FVC mahasiswa pria Fakultas Kedokteran Unsrat dengan berat badan lebih.Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan eksperimental one grup pre and post test design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non purposive sampling. Sampel penelitian diambil dari Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2009.Sejumlah 32 orang mahasiswa terpilih sebagai subjek penelitian dan dilakukan pengukuran FVC dengan Spirometer.Setelah itu diberikan perlakuan berupa latihan aerobik menggunakan sepeda statis selama tiga minggu dengan frekuensi latihan tiga kali seminggu dan intensitas latihan selama 30 menit.Selanjutnya dilakukan pengukuran kembali nilai FVC sesudah program latihan.Uji normalitas data menunjukkan nilai signifikansi untuk FVC sebelum perlakuan sebesar 0.752, dan sesudah perlakuan sebesar 0.912. Perbandingan nilai rata  rata  sebelum dan sesudah latihan diuji dengan menggunakan uji t berpasangan.Nilai signifikan untuk FVC adalah P = 0.084, berarti tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai FVC sebelum dan sesudah latihan (P > 0.05) .Nilai rerata FVC sebelum pelakuan adalah 3,88  dan nilai rerata sesudah perlakuan adalah  4,00,  terjadi penigkatan nilai rerata sebesar 0,11.Simpulan:Latihan Aerobik menggunakan sepeda statis secara teratur dapat meningkatkan nilai rerata fungsi paru khususnya FVC tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari nilai rerata tersebut. Kata Kunci: FVC, Latihan Aerobik, Berat Badan Lebih (Overweight).
GAMBARAN HISTOPATOLOGIK PAYUDARA MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI BENZO(α)PYRENE DAN DIBERIKAN EKSTRAK KUNYIT (Curcuma longa L.) Nansi, Eka M.; Durry, Meilany F.; Kairupan, Carla
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7504

Abstract

Abstract: Breast cancer (Carcinoma mammae) is one of the most common cancers affecting women. The etiology of breast cancer is still unknown, however, there are several important risk factors linked to the occurence of breast cancer, as follows: genetic, hormonal, and environmental. Polycyclic aromatic hydrocarbons (PHA) such as benzo(a)pyrene is a carcinogenic agent that can be found in the surrounding environment. It has been proven that benzo(a)pyrene can induce tumors in experimental animal models. Turmeric is a natural biocompound that is often used to treat cancer due to its curcumin contents. Curcumin interacts with a variety of genetic molecules that undergo mutation in cancer. This study aimed to determine the effects of turmeric extract administration on the hispathological features of the breast of mice induced with benzo(a)pyrene. This was an experimental study using 15 female mice weighing 20-30g divided into 3 groups. Group A (negative control) was given standard food for 28 days and terminated on day 29. Group B (treatment I), the breasts were induced with benzo(a)pyrene subcutaneously for 14 days and the mice were terminated on day 29. Group C (treatment II), the breasts were induced with benzo(a)pyrene for 14 days and the mice were given the tumeric extract on day 15-28 and then terminated on day 29. Tissues were stained with hematoxylin eosin. The results showed that Group A had normal microscopic features of breast tissues. Group B showed PMN inflammatory cells, thickening layer of cuboidal epithelial cells surrounding the lactiferous ducts (>4 layers) as well as cells with coarse nucleus chromatin. Although mice in group C still presented the PMN inflammatory cells, their cuboidal epithelial layers were thinner than that of group B (2-3 layers) and the cells contained rough nucleus chromatin. Conclusion: The histopathological features of the breast of benzo(a)pyrene induced mice administered with turmeric extract showed fewer layers of cuboidal epithelial cells with rough nucleus chromatin of the lactiferous duct cells wall compared to those treated with benzo(a)pyrene without turmeric extract.Keywords: benzo(a)pyrene, turmeric, hyperplasia, breastAbstrak: Kanker payudara (Carcinoma mammae) dikenal sebagai salah satu kanker yang paling sering menyerang kaum wanita. Penyebab pasti kanker payudara belum diketahui, namun ada beberapa faktor risiko yang penting dalam terjadinya kanker payudara yaitu keturunan, hormonal dan lingkungan. Senyawa hidrokarbon poliaromatik (HPA) merupakan karsinogen yang dapat ditemukan dalam lingkungan sekitar, contohnya ialah benzo(α)pyrene. Telah terbukti bahwa benzo(α)pyrene dapat menyebabkan tumor pada setiap model hewan percobaan. Beberapa pengobatan kanker sering melibatkan kunyit karena kandungan kurkuminnya yang dapat berinteraksi dengan berbagai molekul genetik yang bermutasi pada 510Nansi, Durry, Kairupan: Gambaran histopatologik payudara...sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kunyit terhadap gambaran histopatologik payudara mencit yang diinduksi benzo(α)pyrene. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang menggunakan mencit betina dengan berat 20-30g sebanyak 15 ekor, dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok A (kontrol negatif), mencit diberi pelet standard selama 28 hari dan diterminasi pada hari ke-29. Kelompok B (perlakuan I), payudara mencit diinduksi benzo(α)pyrene secara subkutan selama 14 hari dan mencit diterminasi pada hari ke-29. Kelompok C (perlakuan II), payudara mencit diinduksi benzo(α)pyrene selama 14 hari dan mencit diberi ekstrak kunyit pada hari ke- 15-28 kemudian diterminasi pada hari ke-29. Jaringan diwarnai dengan hematoksilin eosin. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok A didapatkan gambaran mikroskopik jaringan payudara mencit yang normal. Pada kelompok B didapatkan adanya sel-sel radang PMN, penebalan lapisan sel epitel kuboid yang mengelilingi duktus laktiferi (>4 lapis) serta sel-sel dengan kromatin inti yang kasar, sedangkan pada kelompok C masih menunjukkan adanya sel-sel radang PMN, lapisan sel epitel kuboid yang tidak setebal pada kelompok B (2-3 lapis) serta kromatin inti sel yang kasar. Simpulan: Gambaran histopatologik payudara mencit yang diinduksi benzo(𝛼)pyrene kemudian diberikan ekstrak kunyit menunjukkan jumlah lapisan sel epitel kuboid dengan kromatin inti kasar pada dinding duktus laktiferi tampak lebih sedikit dibandingkan dengan yang terlihat pada payudara mencit yang tidak diberikan ekstrak kunyit.Kata kunci: benzo(a)pyrene, kunyit, hiperplasia, payudara.
GAMBARAN KADAR ASAM URAT DARAH PADA PEKERJA KANTOR Assa, Youla A.; Darmawan, Pibi S.; Kaligis, Stefana H.M.
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.14615

Abstract

Abstract: Prolonged hyperuricemia is the cause of gout arthritis, which has become one of burden diseases in the wide society. Several conditions can increase hyperuricemia and one of that conditions is insulin resistance associated with decreased physical activity. People with low physical activity like office workers have a higher risk of hyperuricemia. This study was aimed to describe the level of blood uric acid among office workers. This was a descriptive study with a cross-sectional design using total sampling method to obtain respondents. The results showed that there were 52 respondents in this study. Thirty eight respondents (79,1%) had normal blood uric acid level and 14 respondents (26,9%) had high blood uric acid level. The average of blood uric acid level was 6,09 mg/dL,the median was 6.15 mg/dL, the minimum and maximum values were 3 mg/dL and 9,36 mg/dL respectively, and the standard of deviation was 1,615 mg/dL. Of 14 respondents with high blood uric acid level, one was female (7.1%) and the rest were males (92.9%). Conclusion: The majority of office workers had normal blood uric acid.Keywords: blood uric acid, office workers. Abstrak: Hiperurisemia yang berkepanjangan merupakan penyebab terjadinya penyakit gout arthritis, yang telah menjadi salah satu beban penyakit dimasyarakat. Beberapa keadaan dapat meningkatkan kejadian hiperurisemia, salah satunya ialah resistensi insulin yang terkait dengan penurunan aktivitas fisik. Orang dengan aktivitas fisik yang rendah seperti pekerja kantor berisiko tinggi terhadap terjadinya hiperurisemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar asam urat pada pekerja kantor. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 52 pekerja kantor sebagai responden. Terdapat 38 orang (79,1%) memiliki kadar asam urat dalam batas normal dan 14 orang (26,9%) memiliki kadar asam urat tinggi. Nilai rerata kadar asam urat darah 6,09 mg/dL, nilai median 6,15 mg/Dl, nilai minimum dan maksimum pada 3 mg/dL dan 9mg/dL serta standar deviasi 1,615 mg/dL. Dari 14 responden tersebut terdapat satu orang perempuan (7,1%) sedangkan sisanya ialah laki-laki (92,9%) . Simpulan: Sebagian besar pekerja kantor memiliki kadar asam urat darah normal. Kata kunci: asam urat darah, pekerja kantor.