Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika welcomes high-quality manuscripts resulted from a research project or literature review in the scope of mathematics education, which includes, but is not limited to the following topics: Realistic Mathematics Education, Design/Development Research in Mathematics Education, PISA Task, Mathematics Ability, ICT in Mathematics Education, Lesson Study for Learning Community, Cooperative Learning Models, Higher-Order Thinking Skills in Mathematics Education, Learning Evaluation, Metacognitive in Mathematics Education, and Ethnomathematics.
Articles
329 Documents
Peningkatan proses dan hasil belajar muatan matematika tema 8 subtema 1 melalui model Meaningful Instructional Design (MID) siswa kelas 2 SD Negeri Mangunsari 01 semester II tahun pelajaran 2017/2018
Marlinda Putri Maharani;
Nyoto Harjono;
Gamaliel Septian Airlanda
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v4i2.86
The classroom action research using Kemmis and Taggart model which through 2 cycles, every cycle passing through planning, action-observation, and reflection which aim to see improvement of process and learning outcomes on theme 8 mathematics content using Meaningful Instructional Design (MID). Improved processes are divided into teacher activities and student activities. The subjects of the study were 2nd grade students of SDN Mangunsari 01 with 30 students. The success criteria is ≥75 and 80% of the total studentsare classical, and the learning process is at least good. The research suggerts that: (1) MID learning model can improve the score of learning process. This is seen from the score of teacher activity and student activity cycle I, cycle II. The score of teacher activity in cycle I was 2.94 or 73.5% and 3.68 or 92% in cycle II. While the score of student activity on the first cycle of 2.59 or 64.7% and 3.48 or 87% in cycle II. (2) Improvement of the process impact on improving learning outcomes, seen from the learning completeness in the first cycle of 53.33% or 16 students and cycle II increased to 83% or 25 students. Thus the MID model to improve processes and learning outcomesof mathematics load on 2nd grade students of SDN Mangunsari 01.
Pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan problem posing ditinjau dari kemandirian belajar siswa SMPN 4 Banjarbaru
Asy'ari Asy'ari;
Nonong Rahimah
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v4i2.87
The purpose of this study are to determine the effect of the learning models on the learning achievement in Mathematics viewed from the learning independence of the students. The learning models compared were the Contextual Teaching and Learning (CTL) model, the Problem Posing learning model, and the conventional learning model. The type of this study was a quasi-experimental study with a 3×3 factorial design. The study population was all grade VIII students of State Junior Secondary School 4 Banjarbaru. The samples in this study amounted to 87 students with the details of 29 students for experiment 1 and 28 students for experiments 2 and 30 students for the control class. The data collected instrument used mathematics achievement tests and a questionnaire of student’s learning independence. Based on the hypothesis, the results could be concluded as follows, the learning achievement of the students treated with CTL model was as good as that of those with the Problem Posing learning model. In addition, students’ learning achievement treated by CTL model and Problem Posing better than students treated by conventional learning model.
Kemampuan pemecahan masalah mahasiswa pada mata kuliah kalkulus diferensial
Mayang Gadih Ranti;
Indah Budiarti
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v4i2.88
This research aims to describe problem solving abillity of mathematics education departement students STKIP PGRI Banjarmasin in the academic year 2017/2018 on differential calculus. The populations of research were 21 of differential calculus students in the academic year 2017/2018. This research was a Total sampling Population Research. The research method was a descriptive method. Data Collection Technique was a test. The research instrument was a problem solving abillity test on maximum-minimum problem topic. Data was analyzed by using averages and percentages. The study found that problem solving abillity of students on differential calculus is in the middle level.
Number sense
Sutarto Hadi
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.89
Pemahaman anak mengenai bilangan bertujuan untuk menambah dan mengembangkan keterampilan berhitung dengan bilangan sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu aspek utamanya adalah menekankan pengembangan kepekaan terhadap bilangan atau dikenal dengan number sense. Number sense dapat diartikan sebagai berpikir fleksibel dan intuisi tentang bilangan. Untuk menilai sifat number sense yang dimiliki seorang individu, kita harus memeriksa fleksibilitas terhadap bilangan yang ditunjukkan oleh individu tersebut. Fleksibilitas ini dapat diamati ketika seseorang melakukan empat komponen number sense, yaitu menilai besaran bilangan, komputasi mental, estimasi, dan menilai kerasionalitasan atau kewajaran hasil perhitungan yang diperoleh.
Pembinaan karakter dalam pembelajaran matematika
Agung Hartoyo
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.90
Anak-anak adalah harta karun bangsa. Nasib masa depan bangsa ada di pundak para generasi muda. Memperlakukan anak secara istimewa, baik perkembangan emosional, kesehatan, kecerdasan maupun perilaku mereka menjadi kewajiban bersama. Para pendidik bertanggung jawab untuk menggelorakan revolusi mental dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Intergrasipendidikan karakter dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran diarahkan untuk membawa peserta didik ke pengenalan nilai-nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan bermuara pada pengamalan nilai secara nyata. Pendidikan karakter membekali kepada peserta didik ilmu, pengetahuan dan pengalaman budaya, perilaku yang berorientasi pada nilai-nilai ideal kehidupan, baik yang bersumber pada budaya lokal maupun budaya luar. Ada banyak local genius khasanah budaya bangsa yang dapat digali dari seantero kawasan nusantara yang sarat makna dan kaya akan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Potensi budaya dikembangkan sebagai basis dan sumber belajar berbagai mata pelajaran untuk mewujudkan bangsa yang berjati diri. Matematika bukan sekedar kegiatan hitung menghitung, tetapi banyak yang berkaitan dengan pemberdayaan berbagai kekayaan yang tersedia di sekitar kehidupan peserta didik. Para guru matematika meski berpikir, berkreasi dan menghasilkan karya yang berguna untuk pembelajaran matematika, agar dapat mengajar dan mendidik peserta didik menuju masa depannya sebagaimana dicita-citakan dalam tujuan pendidikan nasional.
Membangun kepribadian dengan nilai-nilai pendidikan matematika
Muhammad Royani
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.91
Pendidikan merupakan sarana yang sangat tepat dalam membantu manusia untuk mengembangkan potensi diri agar menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang baik atau karakter baik atau pribadi yang positif atau berakhlak mulia dalam menjalan ikhtiar/syariat kehidupan sesuai dengan tuntunan agama yang diturunkan Allah melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dengan kata lain menjadi manusia yang memiliki nilai-nilai religius atau menjadi manusia religius dalam istilah filsafat atau manusia yang utuh dalam istilah Negara. Matematika sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, hendaknya tidak hanya dipandang memiliki makna krusial, melainkan juga harus sampai pada makna esensial yang mengandung nilai edukasi sebagai pembentuk kepribadian. Aktualisasi nilai-nilai pendidikan matematika melalui pengungkapan dan penekanan nilai-nilai yang terkandung dari proses pembelajaran melalui pemaknaan.
Matematika hijau sebagai salah satu upaya pendidikan karakter berwawasan lingkungan
Desy Arnita Dewi
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.92
Kerusakan lingkungan akhir-akhir ini semakin terasa dampaknya bagi masyarakat. Keterlibatan semua pihak diperlukan untuk mengendalikan dan memperbaikinya, termasuk keterlibatan pelaku pendidikan. Pembelajaran matematika di sekolah dituntut berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembentukan nilai-nilai positif dalam diri siswa. Nilai-nilai positif yang dimaksud adalah nilai peduli terhadap upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Artikel ini menguraikan terlebih dahulu tujuan dan fungsi pembelajaran matematika di sekolah, kemudian dikaitkan dengan perannya dalam pembentukan karakter berwawasan lingkungan. Pendidikan lingkungan hidup yang diintegrasikan dalam pembelajaran matematika ini disebut sebagai pembelajaran matematika hijau. Peran guru sangat penting sebagai subjek atau pelaku pendidikan di sekolah. Peran guru tersebut adalah dalam hal mengembangkan konsep dan contoh permasalahan dalam pembelajaran matematika yang dikaitkan dengan isu lingkungan. Tujuannya adalah selain siswa menguasi matematika juga tertanamnya nilai-nilai pelestarian lingkungan hidup dalam diri siswa sehingga akan membawa manfaat bagi kesejahteraan umat manusia.
Scaffolding dalam pembelajaran matematika
Zahra Chairani
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.93
Dalam belajar matematika, siswa menggunakan strategi kognitif untuk dapat menentukan bagaimana ia belajar, bagaimana ia memanggil kembali informasi, menggunakan apa yang dipelajari, dan bagaimana ia berpikir untuk mendapatkan strategi penyelesaian masalah yang tepat, sehingga ia dapat mencapai tujuan kognitif yaitu menyelesaikan masalah. Dalam menyelesaikan masalah, prosedur penyelesaian masalah matematika merupakan proses kognitif berdasarkan hal-hal yang sudah diketahuinya. Tidak jarang dalam pelaksanaan pembelajaran, terutama pada saat siswa memecahkan masalah matematika, siswa menemui kesulitan. Untuk mengatasi kesulitan ini diperlukan peranan guru atau orang lain yang dapat menjadi fasilitator dan motivator dalam meminimalkan kesulitan dan mengarahkan proses kognitif untuk membantu siswa menyelesaikan masalahnya. Salah satu alternatif penerapan scaffolding memuat komponen-komponen explaining, reviewing, restructuring, dan developing conceptual thinking.
Membentuk karakter peserta didik melalui model pembelajaran search, solve, create, and share
Hasby Assidiqi
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.94
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan sains dan teknologi, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Oleh karena itu, pembelajaran matematika harus dirancang dengan baik sedemikian sehingga dapat digunakan sebagai wahana dalam meningkatkan kemampuan akademis dan membentuk karakter positif peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengakomodasi ranah tersebut, yaitu model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS).
Implementasi pendekatan scientific untuk meningkatkan kemandirian belajar matematika
Syamsir Kamal
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.95
emandirian belajar siswa dalam matematika merupakan salah satu aspek yang ikut menunjang kesuksesan dan prestasi siswa dalam belajar matematika. Salah satu pendekatan pembelajaran yang bisa meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa adalah pendekatan scientific. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pembelajaran dengan pendekatan scientific yang dapat meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa. Penelitian ini adalah penelitian dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas X SMA Negeri 10 Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan scientific yang dapat meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa terdiri dari 5 (lima) langkah atau yang disingkat dengan 5M, yaitu: (1) Mengamati, (2) Menanya, (3) Mengasosiasi, (4) Mengumpulkan informasi dan, (5) Mengomunikasikan mampu meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa.