Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan hasil-hasil penelitian sosial ekonomi pertanian. Jurnal ini bertujuan untuk memperluas dan menciptakan inovasi dalam konsep, teori, paradigma, perspektif dan metodologi dalam ilmu sosial ekonomi pertanian. Ruang lingkup Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis meliputi: Ekonomi Pertanian Sosiologi pertanian Kebijakan pertanian Pembangunan pertanian Penyuluhan pertanian Komunikasi pertanian Kelembagaan pertanian Usahatani dan pascapanen Agroindustri Perdagangan internasional Ketahanan pangan Manajemen agribisnis Manajemen produksi Manajemen operasi Manajemen pemasaran Pembiayaan agribisnis Rantai pasok Perencanaan wilayah pertanian Ekonomi sumberdaya alam.
Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016"
:
12 Documents
clear
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABAI MERAH
Sri Ayu Andayani
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (94.097 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.46
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan penggunaan faktor-faktor produksi terhadap produksi cabai merah. Penelitian telah dilaksanakan di Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka Jawa Barat dengan menggunakan pendekatan survey melalui analisis deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel petani cabai merah melalui simple random sampling dengan jumlah 33 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi pada usahatani cabai merah di daerah penelitian masih didasarkan pada minat dan pengalaman para petani, penggunaan faktor produksi masih belum sesuai dengan anjuran atau rekomendasi. Faktor produksi lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja secara serempak berpengaruh nyata terhadap produksi cabai merah sedangkan secara parsial faktor produksi pupuk, pestisida, dan tenaga kerja berpengaruh terhadap produksi tetapi faktor produksi lahan dan bibit tidak berpengaruh nyata terhadap produksi cabai merah.
KELAYAKAN USAHATANI CABAI MERAH DENGAN SISTEM PANEN HIJAU DAN SISTEM PANEN MERAH (Kasus Pada Petani Cabai di Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya)
Dedi Djuliansah
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.114 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.42
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani cabai dilihat dari system panen yang dilakukan petani yaitu sistem panen merah dan yang melakukan sistem panen hijau di Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah metode survey, adapun data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder. Penentuan petani sampel memakai metode sampel acak proporsional (proporsional random sampling), jumlah responden yang diambil sebanyak 36 petani, terdiri dari petani cabai yang melakukan panen merah sebanyak 9 orang dan petani cabai yang melakukan panen sistem hijau sebanyak 27 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani cabai dengan sistem panen merah lebih besar baik dilihat dari segi biaya yang dikeluarkan maupun dari penerimaan dan pendapatan yang diperoleh serta nilai R-C yang dihasilkan.
ANALISIS STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA ASING
Dedeh Rohayati
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (117.962 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.47
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran bahasa mahasiswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing; khususnya mengenai jenis strategi yang paling sering digunakan serta kecenderungan mahasiswa dalam menggunakan strategi-strategi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metoda studi kasus deskriptif (descriptif case study) yang melibatkan 26 mahasiswa Prodi Agrobisnis Fakultas Pertanian di sebuah universitas swasta di Jawa Barat. Mereka dipilih secara acak berstrata (stratified random sampling). Instrument yang digunakan adalah satu set kuesioner yang diadaptasi dari Oxford (1990). Hasil kajian menunjukan bahwa mahasiswa tidak begitu menyadari akan penggunaan strategi pembelajaran belajar bahasa dalam mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa asing karena mereka jarang menggunakannya. Namun, mahasiswa memiliki prioritas strategi affective (30.8%). Hal ini menunjukan bahwa mahasiswa memerlukan pengendalian emosi yang memadai, motivasi, dan sikap keberminatan yang kuat dalam pembelajaran bahasa Inggris. Kemudian diikuti oleh strategi metacognitive (28.8%), compensation (13.5%), cognitive (5.8%), social (3.85%), dan memory (1.9%). Penemuan lainnya adalah ternyata mahasiswa laki-laki menggunakan berbagai jenis strategi disbanding mahasiswa perempuan. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan mahasiswa dapat lebih mengenal dan belajar strategi pembelajaran bahasa asing secara komprehensif, yang harus di terapkan secara berkesinambungan untuk mecapai keberhasilan.
SISTEM KEUANGAN PEDESAAN DAN PERTANIAN MELALUI PERAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO (LKM) SYARI’AH (BMT: alternatif model LKM Sya’riah)
Najmudin, Asep
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (177.205 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.38
Dalam era otonomi daerah memerlukan perubahan cara pandang dalam pengelolaan sumberdaya kapital untuk sebesar-besarnya dapat diakses oleh pelaku agribisnis dan agroindustri di pedesaan. Meskipun modal merupakan faktor pelancar pembangunan pertanian, namun tanpa kehadiran modal dalam jumlah dan kualitas pelayanan yang memadai akan menjadi salah satu penghambat dalam peningkatan produktivitas nilai tambah hasil pertanian. Selama kurun waktu lebih dari sepuluh tahun terakhir alokasi kredit sektor pertanian kurang dari 10 persen dari total kredit yang disalurkan kepada sektor-sektor ekonomi. Sistem perbankan konvensional yang berjalan saat ini sangat mengabaikan sektor pertanian. Alokasi kredit yang timpang tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh rendahnya kemampuan sektor pertanian untuk mengembalikan kredit, tetapi lebih disebabkan oleh keberpihakan yang sangat rendah pada sektor ini dan aturan main (kelembagaan) kredit yang sangat kaku, utamanya bagi petani pelaku agribisnis dan agroindustri. Akses pelaku agribisnis yang rendah pada sumber modal memerlukan kreasi lembaga keuangan yang tepat bagi sektor ini. Maraknya lembaga keuangan yang bercorak Islam (syari’ah) menjadi satu indikator akan kebangkitan ekonomi Islam. Keberadaan lembaga keuangan mikro syari’ah ini, mulai Baitul Mal wa Tamwil (BMT) yang banyak beroperasi di pedesaan sampai koperasi keuangan syariah, dan Bank syariah, hampir tersebar di berbagai penjuru daerah. Bahkan beberapa bank dan lembaga keuangan konvensional melakukan diversifikasi produk dalam bentuk syari’ah. Belum adanya lembaga keuangan yang menjangkau daerah perdesaan secara memadai yang mampu memberikan alternatif pelayanan (produk jasa) simpan-pinjam yang kompatibel dengan kondisi sosial kultural serta ‘kebutuhan’ ekonomi masyarakat desa menyebabkan konsep BMT dapat ‘dihadirkan’ di daerah perdesaan. Dalam hubungannya dengan mengatasi masalah kemiskinan, BMT memiliki kelebihan konsep pinjaman kebajikan (qardhul hasan) yang diambil dari dana sosial. Dengan adanya model pinjaman ini (Baitul Maal) tidak memiliki risiko kerugian dari kredit macet yang dialokasikan untuk masyarakat paling miskin. Sesuai dengan konsep pemberdayaan maka aktivitas sosial (non profit oriented) seperti pengorganisasian dan penguatan kelompok di tingkat komunitas (jamaah) menjadi langkah awal sebelum masuk pada aktivitas yang mendatangkan keuntungan (profit oriented) melalui model pinjaman/pembiayaan komersial (Baitut Tamwil). Dua sisi keutamaan inilah yang membuat BMT menjadi sebuah institusi yang paling cocok dalam mengatasi permasalahan kemiskinan di daerah pedesaan dan pertanian.
KAJIAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN DI KOTA TASIKMALAYA
Djoni Djoni;
Suprianto Suprianto;
Eri Cahrial
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (138.135 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.43
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi luas dan klasifikasi lahan pertanian pangan eksisting; identifikasi rata-rata luas lahan pertanian pangan yang beralih fungsi; identifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian pangan; dan menyusun strategi pengendalian alih fungsi lahan pertanian pangan di Kota Tasikmalaya.Berdasarkan hasil analisis, hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa luas lahan pertanian Kota Tasikmalaya 12.519 Ha, terdiri dari lahan sawah 5.993 Ha dan lahan pertanian bukan sawah 6.526 hektar. Berdasarkan sistem pengairannnya lahan sawah terdiri dari lahan sawah irigasi 5.055 hektar dan tadah hujan 938 hektar; Dalam periode waktu delapan tahun terakhir terjadi alih fungsi lahan sawah seluas 191 Ha. Faktanya dilapangan luas lahan pertanian yang beralih fungsi lebih luas lagi, karena cukup banyak satuan hamparan lahan sawah yang tidak tercatat beralih fungsi; Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya alih fungsi lahan pertanian dapat dibagi kedalam dua kategori, yaitu: yaitu faktor internal dan faktor ekternal. Faktor internal meliputi Faktor Teknis; Faktor Ekonomis dan Faktor sosial. Sementara faktor ekternal yang mempenagruhi alih fungsi lahan pertanian diantaranya adalah laju pertumbuhan penduduk, kebijakan pembangunan pemerintah (daerah) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Rekomendasi pengendalian alih fungsi lahan pertanian ini berbasiskan pada faktor-faktor yang menyababkan alih fungsi lahan pertanian tersebut.
OPTIMASI AGROINDUSTRI STROBERI
Betty Rofatin;
Hendar Nuryaman;
Suyudi Suyudi
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (91.649 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.48
Penggunaan sumberdaya yang optimal merupakan salah satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan produksi. Maka dari itu, kombinasi yang tepat dalam penggunaan sumberdaya yang tersedia dalam proses produksi harus dilakukan secara optimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi aktual dan optimal agroindustri berbahan baku stroberi serta selisih penerimaan sebelum dan sesudah dilakukan optimasi. Metode yang digunakan adalah studi kasus dan penentuan lokasi secara purposive. Analisis menggunakan Linear Programming. Hasil penelitian menunjukkan Kondisi aktual berdasarkan penggunaan bahan baku adalah 40 kg untuk dodol stroberi, 20 kg untuk selai stroberi dan 20 kg untuk sirup stroberi. Berdasarkan penggunaan tenaga kerja adalah 24 JKO untuk dodol stroberi, 4 JKO untuk selai stroberi dan 4 JKO untuk sirup stroberi, sehingga dengan 30 kg dodol stroberi, 12 kg selai dan 17,5 kg (?35 botol) sirup stroberi, diperoleh penerimaan sebesar Rp. 2.505.000. Kondisi optimal berdasarkan penggunaan bahan baku adalah 39,67 kg untuk dodol stroberi, 40,33 kg untuk sirup stroberi, dan tidak memproduksi selai stroberi. Berdasarkan penggunaan tenaga kerja adalah 23,86 JKO untuk dodol stroberi, 8,14 JKO untuk sirup stroberi, sehingga dengan 29,83 kg dodol stroberi dan 35,37 kg (? 71 botol) sirup stroberi diperoleh penerimaan Rp. 2.552.716. Perbedaan penerimaan sebelum dan sesudah dilakukan optimasi adalah Rp. 47.716.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP EFISIENSI USAHA AYAM SENTUL DI KABUPATEN CIAMIS
Agus Yuniawan Isyanto;
Sudradjat Sudradjat;
Mohamad Iskandar
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (78.845 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.39
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) Tingkat efisiensi usaha ayam Sentul di Kabupaten Ciamis, dan (2) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi usaha ayam Sentul di Kabupaten Ciamis. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Ciamis dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 36 peternak. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan sekunder. Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi usaha ayam Sentul dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Peternak yang inefisien dalam melaksanakan usaha ayam Sentul (R/C<1) sebanyak 13 orang (36,11%), impas (R/C=1) sebanyak 1 orang (2,78%), dan efisien (R/C>1) sebanyak 22 orang (61,11%), dan (2) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi usaha ayam Sentul adalah produktivitas, jumlah kepemilikan ayam, dummy pelatihan, pendidikan dan pengalaman. Efisiensi teknis, umur dan jumlah anggota keluarga tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi usaha ayam Sentul.
OPTIMALISASI SEKAM PADI BEKAS AYAM PETELUR TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans)
Aceng Iskandar
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (361.092 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.44
Dalam peningkatan produksi hortikultura, khususnya sayuran di Indonesia selama ini masih menggunakan sistem pertanian konvensional dengan masukan input luar. Semakin tinggi biaya produksi terhadap pertumbuhan tanaman budidaya, maka akan mengakibatkan semakin tinggi pula masukan input luar seperti pestisida dan pupuk yang diberikan terhadap tanaman.Banyak orang yang menanam kangkung hanya untuk sekedar dikonsumsi sendiri dan melepas hobi bercocok tanam. Namun dalam bercocok tanam sering kali yang menjadikan masalah adalah lahan yang dimiliki tidak dapat ditanami tanaman sesukanya. Jika ingin menanam tanaman, maka dibutuhkan lahan tanah yang cukup luas. Daerah perkotaan saat ini sudah jarang memiliki lahan yang luas yang dapat digunakan sebagai media bercocok tanam. Akan tetapi saat ini banyak berbagai cara yang dapat dilakukan untuk sekedar meluapkan hobi bertanam, salah satunya adalah dengan budidaya kangkung dalam polybag dengan tambahan sekam padi bekas ayam petelur. Polybag adalah menanam tanaman ke dalam kantong plastik hitam. Cara ini dapat digunakan untuk membudidayakan tanaman kangkung, selain tidak membutuhkan lahan yang luas cara ini juga sangat mudah dan hemat untuk dilakukan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan hasil tanaman kangkung darat ( Ipomoea reptans) dilakukan untuk mengetahui pengaruh sekam padi yang berasal dari kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan produksi kangkung darat (Ipomoea reptans), menggunakan bahan dalam berbudidayanya seperti benih kangkung ( Ipomoea reptans), dan sekam padi yang berasal dari kotoran ayam. Budidaya tanaman kangkung merupakan budidaya tanaman yang menggunakan tahapan-tahapan budidaya seperti langkah awal adalah sediakan media tanam dengan menggunakna polybag,masukan tanah dan campuran sekam padi bekas kotoran ayam ke dalam polybag, usahakan untuk memberikan pupuk organik sehingga tanaman yang akan dihasilkan akan terbebas dari bahan kimia yang berbahaya, pilihlah bibit kangkung yang unggul dengan kualitas yang baik dan tidak busuk atau cacat. Penyemaian bibit kangkung dilakukan ke dalam polybag. Setelah bibit kangkung mulai tumbuh hingga terdapat 3 sampai 5 helai daun lalu pindahkan ke dalam polybag yang sudah disiapkan. Dalam satu polybag dapat menampung sekitar 3 sampai 5 batang kangkung untuk mendapatkan nutrisi yang cukup dan juga dapat tumbuh dengan baik. Lakukan penyiraman dalam waktu 2 kali dalam sehari agar tanah tidak kering dan juga tidak terlalu lembab. Hasil analisis usaha kangkung darat memiliki nilai keuntungan yaitu berdasarkan perhitungan R/C ratio yaitu diperoleh 2,59 dengan menggunakan sekam padi bekas kotoran ayam petelur dan yang tidak menggunakan sekam padi ( control) diperoleh R/C ratio yaitu 1,71. Jadi usaha kangkung darat, setiap Rp. 1,- biaya yang dikeluarkan akan mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 2,59 (perlakuan dengan menggunakan sekam padi bekas kotoran aya) dan Rp. 1,71 ( pada perlakuan control).
ANALISIS TITIK IMPAS AGROINDUSTRI TAHU (Suatu Kasus di Desa Buniseuri Kecamatan Cipaku Kabupaten Ciamis)
Tiktiek Kurniawati
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (85.036 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.49
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) besarnya biaya dan pendapatan agroindustri tahu dalam satu kali proses produksi, 2) besarnya R/C agroindustri tahu dalam satu kali proses produksi, 3) besarnya titik impas nilai penjualan dan titik impas volume produksi agroindustri tahu dalam satu kali proses produksi. Metode penelitian yang digunakan adalah survai dengan mengambil kasus di Desa Buniseuri. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik penarikan sampel acak sederhana sebanyak 20 persen dari anggota populasi 115 orang, yaitu 23 perajin tahu. Data yang diperoleh dianalisis secra deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) Biaya produksi agroindustritahu di Desa Buniseuri dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp 566.912,22, prodkusi yangdihasilkan sebanyak 3.215,63 potong tahu, harga produk 225 per potong tahu. Penerimaan perajinsebesar Rp 723.516,63 per satu kali proses produksi dan pendapatan sebesar Rp 156.603,41 per satukali proses produksi; 2) R/C agroindustri tahu di Desa Buniseuri sebesar 1,28. Artinya untuk setiapsatu rupiah biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan agroindustri tahu, maka akan diperolehpenerimaan sebesar Rp 1,28. Sehingga pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 0,28; 3) Titik impas(BEP) agroindustri tahu di Desa Buniseuri tercapi pada nilai penjualan sebesar Rp 48.575,29 dan volume produksi minimum sebanyak 214,66 potong.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PUPUK ORGANIK (PO) CURAH
Cecep Pardani;
Devi Sutriana
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (107.809 KB)
|
DOI: 10.25157/ma.v1i3.40
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Kelayakan finansial usaha pupuk organik curah pada Kelompok Tani Serang Kuning di Desa Salakaria Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis, (2) Jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan seluruh modal yang diinvestasikan pada usaha pupuk organik curah Kelompok Tani Serang Kuning di Desa Salakaria Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus pada Kelompok Tani Serang Kuning yang berada di Desa Salakaria Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis. Penarikan sampel dilakukan secara purposive. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kelayakan usaha/finansial yaitu dengan menggunakan rumus NPV, IRR, Net B/C dan Payback Periods. Hasil analisis menunjukkan: 1. Nilai NPV sebesar Rp. 443.274.340,- berarti responden memperoleh keuntungan pada tingkat bunga 12 persen sebesar Rp. 443.274.340,-. Nilai Net B/C sebesar 1,43 ini berarti setiap 1,00 modal yang ditanam pada usaha pupuk organik curah akan memperoleh manfaat sebesar 1,43. Nilai IRR yang diperoleh sebesar 28 persen, berarti tingkat bunga bank maksimum yang mampu dibayar oleh responden sebesar 28 persen per tahun atau lebih besar dari tingkat bunga 12 persen. Dilihat dari nilai NPV, Net B/C dan IRR maka usaha pupuk organic curah di Desa Salakaria layak untuk diusahakan, karena nilai NPV nya lebih dari 0, Net B/C lebih dari 1, dan IRR nya lebih besar dari tingkat bunga bank yang berlaku. 2. Jangka waktu pengembalian modal yang diinvestasikan dalam kegiatan usaha pupuk organik curah pada kelompok tani di Desa Salakaria yaitu 2 tahun 5 bulan 21 hari.