cover
Contact Name
Umbara
Contact Email
jurnalumbara@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalumbara@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
UMBARA Indonesian Journal of Anthropology
ISSN : 25282115     EISSN : 25281569     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 145 Documents
Peran dan Tantangan Aktivis Yayasan Gaya Dewata dalam Kegiatan Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Bali Ni Made Anggita Sastri Mahadewi
Umbara Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.814 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v2i1.15673

Abstract

Abstract This research discusses roles and challenges encountered by the activists of Yayasan Gaya Dewata (Gaya Dewata Foundation) in their efforts to prevent HIV infection and AIDS among gays and transgenders in Bali. This research applies qualitative approach to examine the actions conducted by the activists in three regions of Bali Province: Denpasar City, Badung Regency, and Gianyar Regency. The actions include field and cyber outreach, interactive group discussion, HIV counseling and testing, condom and lubricant distribution to gays and transgenders; and social support for people living with HIV and AIDS (PLHA). This research applies social action and simbolic interactionism theory to analyse several actions by the activists. This research finds that the actions by the activists of demonstrate a rational-instrumental and affective action as well as a symbolic  interactionism action in the context of HIV and AIDS prevention. Keywords: Yayasan Gaya Dewata, gays and transgender, HIV, AIDS, Bali  Abstrak Penelitian ini membahas peran dan tantangan yang dihadapi oleh para aktivis di Yayasan Gaya Dewata dalam upaya mereka mencegah infeksi HIV dan AIDS di kalangan gay dan waria di Bali. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif untuk mengamati kegiatan yang dilakukan para aktivis di tiga wilayah di Provinsi Bali: Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Gianyar. Kegiatan para aktivis meliputi; penjangkauan lapangan dan online, diskusi kelompok interaktif, konseling dan tes HIV, pembagian kondom dan pelican bagi para gay dan waria, dan dukungan sosial bagi orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Penelitian ini menggunakan teori tindakan sosial dan interaksionisme simbolik untuk menganalisis kegiatan yang dilakukan para aktivis. Penelitian ini menemukan bahwa kegiatan yang dilakukan para aktivis menunjukkan sebuah bentuk tindakan sosial rasional-instrumental dan sebuah interaksi simbolik dalam konteks pencegahan HIV dan AIDS.  Kata kunci: Yayasan Gaya Dewata, gay, waria, HIV, AIDS, Bali.
Ibuisme Masa Kini: Suatu Etnografi tentang Posyandu dan Ibu Rumah Tangga Mochammad Arief Wicaksono
Umbara Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.863 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v1i2.9921

Abstract

"Housewife" is often an issues and concepts essential to studies the relationship between the state and society at the micro level. Through the women in the villages of cities, the "face" of state trying to be presented continuously in everyday life, one of them in public health system through Posyandu (Pos Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Terpadu). Posyandu put women, especially housewifes, as the ‘spearhead’ for realizing a healthy society, both in terms of physical and everyday behavior. The housewife is not only a target of health programs, but also as the person running the program, called Kader Posyandu. Each month the cadre pf Posyandu should attend the meetings, held events medical examinations for infants and the elderly, health counseling, surveys to homes, and making health data in the village, which of course it is all done in tandem with their role as housewifes and partly again also has another job outside the home. This study illustrates how the state wants to stick around to be present at the local level people today, especially in health programs through the perspective housewife-Posyandu cadres who are willing to work for the country. This study also wanted to answer the question, what is the reason for the housewifes so that it would work for the state in the present context. Observation and in-depth interviews with the cadres Posyandu conducted to answer the research questions above. Many of them on behalf of volunteerism in running this program, through this article we will know how the state can instill a sense of volunteerism so that the ideals of a healthy society can be realized through the role of women, especially housewifes.
Kedudukan, Peran, dan Fungsi Dukun Pandita di Suku Tengger Syifa Sakinah Hidayat
Umbara Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.635 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v4i1.20543

Abstract

Tengger community in Ngadisari village maintains its values and tradition. One of it is the traditional ceremony led by Dukun Pandita. This study aims at describing the role, function, and leadership system of Dukun Pandita as part of the large social structure of the Tenggerese community of Ngadisari. This study applies qualitative method. Data were collected through in-depth interviews, participation observations, and secondary data collection. This study finds that Dukun Pandita has responsibilities and duties related to religious ritual and adat. He holds a crucial position in this context, and therefore his role and function in religious ceremonies is central, sacred, and pure; and his authority is charismatic.
“Tak Cukup Bagi Kami untuk Meratap, Kami harus Berjuang”: Kemandirian Mama-Mama dalam Dinamika Pemekaran Daerah di Tanah Papua I Ngurah Suryawan
Umbara Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.247 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v1i2.10060

Abstract

Artikel ini mendiskusikanrespon perempuan Papua, terkhusus mama-mama Papua yang berjualan di pasar-pasar tradisional, dalam menghadapi dinamika pemekaran daerah dan transformasi sosial budaya yang terjadi di Tanah Papua.Di tengah kondisi itulah tergambar bagaimana perjuangan mama-mama Papua untuk menumbuhkan kemandirian dan solidaritas sosial.Artikel ini berwacana dengan melakukan etnografi perjuangan mama-mama Papua di beberapa wilayah di pasar-pasar tradisional dalam pemenuhan ekonomi rumah tangga dengan bekerja di kebun dan mengurus perkembangan anak-anak mereka.Perempuan Papua ini berjuang dalam keseharian kehidupan mereka dan berperan penting dalam menjalankan hal-hal pokok dalam kehidupan rumah tangga. Gerakan sosial mama-mama Papua untuk mengakses pasar tradisional yaitu SOLPAP (Solidaritas Pedagang Asli Papua) dan Koperasi Mama-Mama Pedagang Asli Papua (KOMMPAP) menjadi praksis usaha mereka untuk mengorganisir diri, berlatih kemandirian untuk berjuang merebut akses ekonomi dan sekaligus memperkuat solidaritas sosial para mama Papua. Bagian terakhir dari artikel ini mencoba mendiskusikan bagaimana menempatkan gerakan sosial mama-mama Papua ini sebagai inspirasi dari langkah menumbuhkan kemandirian perempuan Papua di tengah transformasi sosial budaya yang semakin pelik di Papua karena pemekaran daerah. Kata kunci: perempuan Papua, kemandirian, etnografi, transformasi sosial budaya, gerakan sosial  
Karl Marx : The Anthropologist Dede Mulyanto
Umbara Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.9 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v1i1.9605

Abstract

Ayo Menikah (Muda)! : Mediatisasi Ajaran Islam di Media Sosial Izmy Khumairoh
Umbara Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.756 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v2i1.15671

Abstract

Abstract This article analyzes the close relationship between religion (i.e. religious discourses in the context of everyday life) and modernization (i.e. the intensive and excessive use of social media in society). This article is based on literature and social media review—in particular it reviews on how the role of religion changed drastically due to mediatization process that occurs in the public sphere; as well as how the social media plays a dynamic role in society. This article concludes that the new image of religion as shown in mass media and social media demonstrates its shifting power from traditional institutions to mass and social media. Religious value immerses into every aspect of the everyday life and the religious aura; and this phenomenon neglects the secularization theory. Keywords: anthropology, social media, marriage, Islam  Abstrak Artikel ini menganalisis hubungan erat antara agama (yaitu wacana keagamaan dalam konteks kehidupan sehari-hari) dan modernisasi (yaitu penggunaan media sosial yang intensif dan eksesif dalam masyarakat). Analisis berdasar pada studi literatur dan observasi di dunia maya - termasuk beberapa akun media sosial dan interaksi antara netizen - terutama bahasan mengenai perubahan peran agama yang drastis akibat proses mediatisasi yang di ranah publik; sebagaimana media memainkan peran dinamis dalam masyarakat. Artikel ini menyimpulkan bahwa citra baru agama, yang terpampang di media massa dan media sosial, mencerminkan pergeseran kekuasaan agama dari institusi tradisional ke media. Nilai-nilai agama terus menemukan celah untuk memasuki setiap aspek kehidupan dan mencakup aspek aura agama sehingga fenomena ini tidak sesuai dengan teori sekulerisasi. Kata kunci: antropologi, media sosial, pernikahan, Islam
Program Pemberdayaan Sebagai Aktivitas Corporate Social Responsibility Studi Kasus Pemberdayaan Penderes di Pangandaran Rahmad Efendi
Umbara Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.117 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v1i2.10163

Abstract

Abstract This article examines the phenomenon of the implementation of community empowerment program as the Corporate Social Responsibility (CSR) activity, which is used as a strategy to control the supply chain of raw materials. This paper prepared using qualitative research methods with field study at Pangandaran District, West Java. The Pangandaran Tappers Community Empowerment Program has been run by PT Ultrava since 2012 until 2014. The program is aimed to manage the brown sugar supply chain problems in Pangandaran that caused by the tappers. For that purpose, Ultrava running the govermentality agenda against all of the brown sugar supply chain actors in Pangandaran. The govermentality agenda use the biopolitic and subjectivity process, to change the tappers became the obedient subject to the will of Ultrava. Keywords : CSR, Empowerment, Govermentality Abstrak Artikel ini mengkaji fenomena pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat sebagai Corporate Social Responsibility (CSR), yang digunakan sebagai strategi untuk mengendalikan rantai pasokan bahan baku. Artikel ini disusun dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi lapangan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Program Pemberdayaan Penderes Pangandaran telah dijalankan oleh PT Ultrava sejak 2012 hingga 2014. Program ini bertujuan untuk mengelola masalah rantai pasokan gula di Pangandaran yang disebabkan oleh penderes. Untuk itu, Ultrava menjalankan agenda govermentality terhadap semua pelaku rantai pasokan gula di Pangandaran. Agenda govermentality tersebut menggunakan proses biopolitic dan subjectivity, untuk mengubah penderes menjadi subyek yang patuh kepada kehendak Ultrava. Kata Kunci – CSR, Pemberdayaan, Kepengaturan
Pemberdayaan Sosial dan Ekonomi pada Kelompok Penyandang Disabilitas Fisik di Kota Bandung Ariel Pandita Dhairyya; Erna Herawati
Umbara Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.194 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v4i1.19039

Abstract

This study explores an economic and social empowerment activities by Kelompok Berani Binangkit (KBB), an informal organization for the people with disabilities in Bandung City. KBB activities focus on pegleg and pegarm production and selling to improve the members’s livelihood. KBB also has mission to donate pegleg and pegarm for the disabled who could not affort it. All of the KBB activities are initiated by the members.The study applies qualitative method; in particular case study model. Data were collected through participation observation towards KBB’s activities and in-depth interviews to its members. The study finds that the main purpose of KBB, that is to improve the livelihood of the members has not brought a significant impact to its members. The members’ income  is relatively small and does not sufficient for their living. Meanwhile social empowerment activities has brought  a significant impact to the member’s social lives. The KBB members build an emotional bond throught several ways such as spesific model of communication among them, and build self confidence as well as develop open-minded attitude regarding their physical condition and response towards negative stigma that attached to them. These have led KBB’s members construct their new identity, so they could feel ‘normal’.
Agama dan Kebudayaan Amri Marzali
Umbara Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.962 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v1i1.9604

Abstract

Artikel ini membahas agama yang memiliki pengertian sebagai religion dalam bahasa Inggris, termasuk apa yang disebut agama wahyu, agama natural, dan agama lokal. Artikel ini bertujuan memberikan pengantar singkat dalam mempelajari agama menurut disiplin ilmu sosioantropologi, yaitu gabungan dari disiplin ilmu sosiologi, antropologi sosial, dan antropologi kultural. Kata kunci: Agama, Kebudayaan, Antropologi
Relasi Kuasa dalam Perebutan Lahan di Situs Candi Bojongmenje Fikri Muhammad; Caroline Paskarina
Umbara Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.246 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v2i1.15678

Abstract

Abstract This paper discusses the power relations in the land dispute on the site of Bojongmenje Temple, to reveal why conflicts in Bojongmenje Temple Site lasted continuously (2003-present). To clarify this, this paper uses an analysis of power relations to identify the mutually contested interests in establishing a claim on land in the site of Bojongmende Temple area. The research method used is qualitative method, with data collection through indepth interview among actors involved in conflict. The research finds that land dispute in the area of Bojongmenje Temple site is a complicated conflict, preceeded by changes in the economic value of land due to the discovery of cultural heritage sites that have tourism potential. This complicated conflict is prolonged and unresolved because the government's bargaining power as an authoritative institution is in a weak position. Conflict resolution needs to be arranged comprehensively, especially to resolve the root of conflict triggered by the instability of system change. This is done by balancing the power positions among conflicting actors in the land management of the Bojongmenje Temple site, beginning with the recognition of local land rights by the government and establishing concensus with citizens to manage the site participatively. Keywords: power relations, conflict, land dispute Abstrak Tulisan ini membahas tentang relasi kuasa dalam perebutan lahan di situs Candi Bojongmenje untuk mengungkapkan mengapa konflik dalam perebutan lahan di Situs Candi Bojongmenje berlangsung dengan lama (2003-sekarang). Untuk menjelaskan hal tersebut, tulisan ini menggunakan analisis kekuasaan untuk mengidentifikasi ragam kepentingan yang saling berkontestasi untuk membentuk klaim atas lahan di kawasan Situs Candi Bojongmende. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada para aktor yang terlibat di dalam konflik. Hasil riset menemukan bahwa konflik lahan di kawasan situs Candi Bojongmenje merupakan bentuk konflik pelik, yang diawali oleh perubahan nilai ekonomi lahan akibat ditemukannya situs cagar budaya yang berpotensi wisata. Konflik pelik ini berlangsung berkepanjangan dan tidak terselesaikan karena posisi tawar pemerintah sebagai institusi yang memegang otoritas justru berada pada posisi yang lemah. Penyelesaian konflik pelik perlu dilakukan secara komprehensif, terutama untuk menyelesaikan akar permasalahan yang dipicu akibat dari ketidakstabilan perubahan. Hal tersebut dilakukan dengan menyeimbangkan posisi kekuasaan dari para aktor yang berkepentingan di dalam pengelolaan lahan situs Candi Bojongmenje, yang diawali dengan pengakuan hak atas tanah dari warga setempat oleh pemerintah dan membangun kesepakatan dengan warga mengenai rencana pengelolaan kawasan tersebut secara partisipatif. Kata kunci: relasi kuasa, konflik pelik, perebutan lahan 

Page 4 of 15 | Total Record : 145