cover
Contact Name
Umbara
Contact Email
jurnalumbara@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalumbara@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
UMBARA Indonesian Journal of Anthropology
ISSN : 25282115     EISSN : 25281569     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Preferensi Visual Gen Z Terhadap Busana Perkawinan Adat Aceh Suid, Nurul Aini
Umbara Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i1.63799

Abstract

AbstrakKeberlanjutan busana pengantin adat Aceh kini tengah menghadapi tantangan besar, terutama fenomena preferensi visual Gen Z yang tidak hanya dipengaruhi oleh tren global tetapi juga dinamika sosial, budaya, dan politik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana Gen Z menegosiasikan budaya luhur dalam busana pengantin adat Aceh melalui pilihan estetika yang dipersonalisasi dengan menempatkan pilihan secara personal. Menggunakan pendekatan kualitatif, wawancara mendalam dilakukan kepada lima informan perempuan Gen Z. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juli 2024-Februari 2025. Preferensi utama Gen Z dilihat dari tiga aspek: pertama, pemilihan warna cenderung memilih warna yang sedang tren. Kedua, penggunaan aksesoris megah seperti gunting yang merupakan kreasi masing-masing MUA (Makeup Artist). Ketiga, preferensi busana dengan potongan ramping untuk menonjolkan lekuk tubuh. Temuan ini menunjukkan bahwa preferensi Gen Z tidak terjadi secara instan, ada ruang untuk fleksibilitas dalam tradisi, yang dimungkinkan oleh peran pembuat kebijakan, sehingga budaya luhur dianggap sebagai sesuatu yang dinamis dan adaptif oleh Gen Z. Globalisasi dan dinamika lokal saling memengaruhi, menciptakan fenomena perubahan yang berkelanjutan. Akibatnya, Aceh tidak memiliki template gaun pengantin yang tetap, tetapi secara dinamis mengikuti tren yang diciptakan pasar.Kata Kunci: Busana, Kebiasaan, Gen Z, Preferensi, VisualAbstrakKeberlanjutan pakaian pengantin Aceh kini menghadapi tantangan besar, fenomena terutama preferensi visual Gen Z yang tidak hanya dipengaruhi oleh tren global tetapi juga dinamika sosial, budaya dan politik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana Gen Z menegosiasikan budaya luhur dalam busana perkawinan adat Aceh melalui pilihan estetika yang bersifat personal dengan menempatkan pilihan secara pribadi. Dengan pendekatan kualitatif, wawancara mendalam dilakukan pada lima informan perempuan Gen Z. Pengumpulan data dilakukan pada Juli 2024- Februari 2025. Preferensi utama Gen Z dilihat dari tiga aspek: pertama, pemilihan warna cenderung memilih warna yang sedang tren. Kedua, penggunaan aksesoris megah seperti sunting yang merupakan kreasi dari setiap MUA (Makeup Artist). Ketiga, preferensi baju dengan potongan ramping untuk menonjolkan lekuk tubuh. Temuan ini menunjukkan bahwa preferensi Gen Z tidak terjadi secara instan, adanya ruang keabadian dalam tradisi, yang dimungkinkan oleh peran pemangku kebijakan, sehingga budaya luhur dianggap sebagai sesuatu yang dinamis dan adaptif oleh Gen Z. Globalisasi dan dinamika lokal saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain, menciptakan fenomena perubahan yang berlangsung secara kontinu. Akibatnya, Aceh tidak mempunyai template baju adat pengantin yang tetap, tetapi dinamis mengikuti tren yang diciptakan oleh pasar.Kata Kunci: Pakaian, Adat, Gen Z, Preferensi, Visual
Tradisi Masyarakat Sunda dalam Panen sebagai Pendorong Keberlanjutan Pertanian: Studi Kasus di Kabupaten Bandung Barat Sukmayadi, Qolbi Mujahidillah Adzimat; Octavianti, Meria; Mulyana, Roni; Fadhila, Sarah Annisa
Umbara Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i1.60648

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi bangsa Indonesia yang perlu mengupayakan pertanian berkelanjutan, demi tercapainya kebutuhan akan komoditas pangan dan pencapaian SDGs. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tradisi dalam panen pada masyarakat sunda di Kabupaten Bandung Barat yang mampu mendorong keberlanjutan pertanian, yakni tradisi upacara nyalin dan upacara ngamandian munding. Desain penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakaksanakan melalui wawancara bersama dua pemangku adat dan beberapa informan penunjang lainnya. Data yang diperoleh dianalisis dengan mereduksi, menyajikan, dan menarik kesimpulan data. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa upacara nyalin merupakan tradisi dalam proses panen yang sarat akan penumbuhan rasa syukur, sikap lembut dan kehati-hatian dalam proses panen. Adapun upacara ngamandian munding merupakan kegiatan memandikan kerbau pasca-panen sebagai simbol terima kasih dan permohonan maaf atas kesalahan yang menimpa fisik maupun batin kerbau. Kesimpulannya adalah bahwasanya kedua tradisi tersebut layak menjadi warisan budaya takbenda yang mampu untuk mendorong pertanian berkelanjutan yang terbukti secara ilmiah.
Resiliensi Petani Kentang dalam Menghadapi Bun Upas vitnia, vitnia; Gunawan, Gunawan
Umbara Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i1.61189

Abstract

Isu Perubahan iklim sudah dibahas pada konferensi Tingkat tinggi bumi sejak tahun 1992. Tingginya aktivitas manusia menyebabkan terjadinya Emisi Gas Rumah Kaca yang berdampak pada proses perubahan iklim. Di dataran tinggi perubahan iklim masif terjadi yang menyebabkan tejadinya tanah longsor, perubahan suhu dan pola angin serta degradasi lahan. Pada sektor pertanian dampak tersebut menyebabkan terjadinya gangguan kegiatan para petani kentang yang berada di dataran tinggi. Salah satunya adalah Fenomena Bun Upas yang menyerang tanaman kentang .Petani kentang merupakan salah satu komunitas yang sangat rentan terhadap kondisi alam sebab petani sangat bergantung pada alam untuk menghasilkan produksi tanaman yang maksimal disamping tuntutan kondisi sosialnya. Fenomena Bun Upas yang terjadi didataran tinggi menuntut petani kentang untuk melakukan berbagai strategi untuk menghindari dampak kerusakan yang disebabkan Fenomena Bun Upas. Tujuan dari penulisan ini untuk melihat ketahanan dan strategi petani dalam menghadapi gangguan pada lahan pertanian kentang. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan kategori informan berupa petani berlahan luas dan petani berlahan sempit. Hasil penelitian menunjukan adanya resiliensi petani kentang dalam menghadapi bun upas, melalui pemanfaatan pengetahuan lokal menggunakan Pranata Mangsa, penyiraman, penggunaan pestisida dan penerapan diversifikasi tanaman.Kata Kunci: Perubahan Iklim, Petani Kentang , Resiliensi
Pengetahuan Masyarakat terhadap Fenomena Stunting pada Komunitas Nelayan di Sumatera Barat Alfani, Harun; Zamzami, Lucky; Syahrizal, Syahrizal
Umbara Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i1.62806

Abstract

This research aims to describe the community's knowledge regarding the phenomenon of stunting and to analyze the factors contributing to stunting among small-scale fishing communities in the Pasia Kandang, Pasia Nan Tigo Village, Padang City, West Sumatra Province A qualitative approach was used: observation, in-depth interviews, and a literature review. The research results show that the understanding of stunting among fishing communities is still limited and is more often identified as a physical problem, such as being thin and short. This lack of knowledge impacts the ineffectiveness of stunting prevention efforts, which generally focus on increasing food consumption without considering nutritional balance. In addition, factors such as unstable income, low access to nutritious food, and inadequate dietary patterns are the main drivers of stunting potential in the area. This research highlights the importance of health education programs and policy interventions to improve awareness and access to balanced nutrition for small-scale fishing communities in the Pasia Kandang, Pasia Nan Tigo Village, Padang City.
Eksistensi Pikukuh pada Komunitas Baduy Tangtu putri, yona syahtiwa
Umbara Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i1.60879

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji eksistensi Pikukuh pada komunitas Baduy Tangtu di tengah arus modernisasi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, penelitian dilakukan di kampung Cibeo, Desa Kanekes, dengan melibatkan 11 informan dari berbagai latar belakang sosial. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pikukuh tetap kokoh sebagai pedoman hidup komunitas Baduy Tangtu melalui tiga mekanisme utama: peran aktif lembaga adat dalam pengawasan dan edukasi, selektivitas dalam menerima pengaruh modernisasi, dan kerjasama strategis dengan pemerintah dalam pelestarian adat. Meskipun menghadapi tantangan seperti masuknya teknologi komunikasi dan perubahan pola konsumsi di kalangan generasi muda, komunitas Baduy Tangtu berhasil mempertahankan esensi Pikukuh melalui adaptasi yang tidak mengorbankan nilai-nilai fundamental. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang ketahanan budaya masyarakat adat dalam menghadapi modernisasi dan dapat menjadi referensi dalam pengembangan kebijakan pelestarian budaya tradisional.
Bersuara Lewat Foto: Menyingkap Pengalaman Masyarakat terhadap Industri Migas Alfrendi, Jonathan
Umbara Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i2.64422

Abstract

This article aims to explain the influence and impact of the oil and gas industry on communities based on their life experiences, which were studied using the photovoice method. Data collection was conducted through participant observation around the oil and gas industry area in Tapung Hulu District, Riau. Through the presentation of photographs taken by informants (photovoice), this study provides a space for the community to voice their experiences visually, document their daily realities, and convey them so that they can be heard and followed up by policy makers. The findings show that the presence of the oil and gas industry has opened up job opportunities for women, but at the same time has given rise to various social and environmental problems, such as the vulnerability of buildings to cracks and limited access to clean water. In addition, the findings also reveal that the corporate social responsibility (CSR) programs that are being implemented are still charitable in nature and are not yet oriented towards sustainable social empowerment. This article contributes to the anthropological literature on the relationship between the oil and gas industry and local communities by offering a photovoice methodological approach to connect the experiences of communities in a contextual and reflective manner.
Sosialisasi Kekerasan Berbasis Gender: Studi Etnografi pada Yayasan Jaringan Relawan Independen Najla, Amanda Naura; Hermawati, Rina
Umbara Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i2.67492

Abstract

Kekerasan berbasis gender (KBG) masih menjadi persoalan yang terus-menerus terjadi dalam masyarakat Indonesia, diperkuat oleh norma patriarki yang memarginalkan penyintas. Penelitian ini mengkaji strategi Yayasan Jaringan Relawan Independen (JaRI) dalam meningkatkan kesadaran publik dan memberikan pendampingan bagi penyintas di tengah konteks sosial-budaya yang seringkali belum berperspektif korban. Dengan metode etnografi, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pendiri, pengurus, serta relawan JaRI di Bandung, serta analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa JaRI menerapkan model berbasis komunitas yang mengintegrasikan kampanye publik, program pelatihan, dan layanan pendampingan penyintas yang berfokus pada tiga pilar utama: dukungan psikologis, medis, dan hukum. Meskipun strategi ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat, JaRI masih menghadapi tantangan signifikan, termasuk resistensi budaya, stigma sosial, dan keterbatasan sumber daya organisasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya gerakan sosial akar rumput dalam mendekonstruksi relasi kuasa patriarkis dan mendorong transformasi sosial menuju keadilan gender. Selain itu, penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi kajian antropologi mengenai advokasi berbasis komunitas dan peran organisasi lokal dalam menangani KBG.
Life and Value of Remote Working: Defining Well-being in Digitized Era of Young Employee Malang Agatta, Shilvi Khusna Dilla; Triratnawati, Atik
Umbara Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i2.61634

Abstract

The aim of this study is to examine the mental well-being of young remote workers in Malang City through social interactions, expectations, and self worth. As an evolving work system in Indonesia, remote work still presents challenges, both in terms of technology and social dynamics. Young employees who are in the career development stage at the age of 23-29 are often caught up in trying to achieve high productivity and maximum happiness, which sometimes triggers burnout. Through an anthropological approach with qualitative methods, this research utilises semi-structured interviews by highlighting remote employee perspectives on mental well-being and considering the values and experiences of work culture in a virtual work environment. The different experiences and definitions of well-being for young remote employees depend on their individual perspectives, backgrounds and working conditions, making the results of this study subjective. The results show that the mental well-being of remote workers cannot be separated from the Javanese social and cultural context that emphasises collective happiness. On that basis, this research is expected to contribute to the development of subjective well-being studies in the field of anthropology.
Kesesakan yang Gaib : Kisah Perempuan Dayak Ngaju dalam Navigasi Kebakaran Hutan dan Lahan Fadhila, Hanina Naura
Umbara Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i2.64271

Abstract

The degradation of peat swamp forests that resulted in forest and land fires that hit Central Kalimantan in 1997, 2015, 2019, and 2023 was the beginning of the marginalization of women in its governance. Women lost their sources of food, clean water, and family livelihoods. As a result, women are faced with a confusion considering the burden of care that is pinned on them as a result of the gender division of labor in the family. But on the other hand, they are not equipped with sufficient knowledge in dealing with this problem. This research uses a feminist political ecology framework and ethnographic methods with Ngaju Dayak women living along the Katingan River to reveal the process of marginalization of women in disaster governance, especially in the aspects of disaster prevention and mitigation. The feminist political ecology framework helps to reveal the gendered dimensions of science, the right to live and work in a healthy environment, and the responsibility to protect the place of residence from all environmental hazards. The gender dimension that has been pinned and embodied to women is not considered in this matter. In addition, this approach must also recognize the political context referring to the way power constructs a gender narrative and the various policies that try to embody it through literature study. Women’s marginalization could be traced from the emergence of various intervention programs that introduced by the state and its auxiliaries and targeted the adjacent peat swamp forest community. Those interventions brought a further women’s marginalization and took a vantage point from the sociopolitical landscape alteration caused by mass forest fires.
Rekacipta Tradisi Kue Bulan Pada Perkembangan Kontemporer Budaya Etnis Tionghoa di Bogor Saputra, Nicko
Umbara Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v10i2.59254

Abstract

The moon cake tradition is an important cultural practice among the Chinese ethnic community, carried out to welcome the arrival of autumn each year. This tradition has a long history and has undergone various social, cultural, and political dynamics. However, in the contemporary context, the understanding and meaning of the moon cake tradition among the Chinese ethnic community in Bogor has shifted, especially between generations. Factors such as cultural localization, differences in beliefs, and a lack of intergenerational literacy regarding Chinese cultural traditions have influenced the continuity of this practice. This study aims to understand the contemporary development of the moon cake tradition through the perspective of traditional re-creation in the Chinese ethnic culture in Bogor. This study uses a qualitative approach with participatory observation and in-depth interviews. The conceptual framework used includes the concepts of traditional recreation, the moon cake tradition, and local Chinese ethnic identity. The results show that the moon cake tradition is still practiced routinely every year by the Chinese ethnic community in Bogor across generations. Practices include rituals to worship ancestors, eating moon cakes with family, and the tradition of exchanging cakes or gifts. The moon cake tradition is contemporarily interpreted as an effort to maintain family relationships, strengthen ethnic identity, and express gratitude and respect for ancestors in the context of cultural change.