cover
Contact Name
Verna A. Suoth
Contact Email
vernaalbert@gmail.com
Phone
+628124757878
Journal Mail Official
mipa.unsrat.online@gmail.com
Editorial Address
EDITOR IN CHIEF Gerald H. Tamuntuan, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia MANAGING EDITOR Verna A. Suoth, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia BOARD OF EDITOR Audy Wuntu, Fakultas MIPA Univesitas Sam Ratulangi BOARD OF EDITOR Nio Song Ai, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia BOARD OF EDITOR Nelson Naingolang, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal MIPA
ISSN : -     EISSN : 23023899     DOI : https://doi.org/10.35799/jmuo.10.2.2021.33592
Core Subject : Science, Education,
Jurnal MIPA menjadi sarana publikasi bagi akademisi dan peneliti. Jurnal MIPA mempublikasikan artikel hasil penelitian di bidang : Matematika Fisika Biologi Kimia
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2014)" : 16 Documents clear
Barcode DNA Tumbuhan Pangi (Pangium edule R.) Berdasarkan Gen matK Bangol, Irmi; Momuat, Lidya Irma; Kumaunang, Maureen
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5862

Abstract

DNA barcoding merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mempercepat dan mempermudah proses identifikasi organisme dengan menggunakan potongan gen tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sekuens DNA barcode tumbuhan pangi berdasarkan gen standar matK dan membandingkannya dengan spesies yang berkerabat dekat di GenBank. DNA total daun pangi diisolasi menggunakan Innuprep plant DNA kit dan berhasil diamplifikasi dengan proses Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer berdasarkan gen matK. Hasil sekuensing fragmen DNA yang menunjukkan panjang 720 bp yang teramplifikasi oleh primer forward dan 780 bp untuk yang teramplifikasi oleh primer reverse. Hasil analisis BLASTn menunjukkan tingkat kemiripan tumbuhan pangi sangat tinggi dengan Trichadenia zeylanical, yaitu 99%, dan diikuti spesies lainnya (Kiggelaria africanal, 98%; Guthriea capensis, 96%; Acharia tragodes, 92%; Erythrospermum phytolaccoides, 92%; Hydnocarpus sp. Chase 1301, 90%; Carpotroche longifolia, 89%; Moultonianthus leembruggianus, 89% dan Pimelodendron zoanthogyne, 88%). Analisis komposisi asam amino menunjukkan bahwa matK Pangium edule dan kesembilan spesies tumbuhan lainnya bersifat hidrofobik.DNA barcoding is a technical used to accelerate and simplify the process identification of organism with by using a snipping of specific genes. This study aimed to determine the DNA sequences of plant barcoding standard pangi based gene matK and compare with closely related species in GenBank. Total DNA was isolated using Innuprep pangi leaf plant DNA kit and successfully amplified by the Polymerase Chain Reaction (PCR) using primers based on the gene matK. The results of sequencing long DNA fragments showed7 20 bp are amplified by the forward primer and 780 bp were amplified by the primer for reverse. Blast analysis of the results showed very extremely high the plant pangi degree of similarity with Trichadenia zeylanical, namely99%, and followed by other species (Kiggelaria africanal, 98%; Guthriea capensis, 96%; Acharia tragodes, 92%; Erythrospermum phytolaccoides, 92%; Hydnocarpus sp. Chase 1301, 90%; Carpotroche longifolia, 89%; Moultonianthus leembruggianus, 89% dan Pimelodendron zoanthogyne, 88%). Analysis of aminoacid composition showed that matK Pangium edule and nine other plant species are hydrophobic.
Kelimpahan Serangga Air di Sungai Toraut Sulawesi Utara Candra, Yudi; Langoy, Marnix; Koneri, Roni; Singkoh, Marina F. O.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5317

Abstract

Serangga air merupakan kelompok Arthropoda yang dapat dijumpai hampir pada jenis perairan misalnya pada habitat lentik atau lotik. Seranggan air dalam suatu ekosistem berperan penting dalam rantai makanan selain itu juga serangga air dapat dijadikan sebagai bioindikator terhadap penentuan kualitas suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan serangga air yang terdapat di Sungai Toraut. Lokai penelitian terletak pada Sub DAS dari DAS Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Sungai ini memiliki luas sekitar 249 km2 dan hulunya terletak di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). Penelitian ini menggunakan metode Purposive Random Sampling dengan menggunakan alat surber sampler. Total individu yang didapatkan dari 3 stasiun sebanyak 1497 individu dengan jumlah famili sebanyak 24 yang terdiri dari 27 spesies. Spesies serangga air yang paling banyak ditemukan pada stasiun satu, sedangkan yang sedikit pada stasiun 3. Kelimpahan spesies yang paling banyak ditemukan adalah Hydropsyche sp.Arthropods is a group of aquatic insects that can be found in almost all types of aquatic habitats for example lentic or lotic habitat. In the field of ecology, aquatic insects plays a role in the food chain, moreover the aquatic insects can be used as bioindicator to determine the quality of water. This study aims to analyze the abundance of aquatic insects found in the Toraut River. This study lies in the sub-watershed from the watershed of Dumoga Bolaang Mongondow, North Sulawesi. This river has an area of ​​approximately 249 km2 and its located in the headwaters of Bogani Nani Wartabone  National Park. The method used in this study is purposive random sampling method by using a sampler surber. Total individuals were obtained from 3 stations are 1497 individuals with total 24 families consisting of 27 species. The most commonly species of aquatic insects found at station 1, whereas slightly at station 3. The most commonly species of aquatic insects found is Hydropsyche sp.
Penggunaan Karbon Aktif Cangkang Pala - TiO2 Untuk Fotodegradasi Zat Warna Metanil Yellow Patiung, Grace Aprianne Bellatrix; Wuntu, Audy D.; Sangi, Meiske S.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5991

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh perbandingan berat karbon aktif cangkang pala (KA) : titanium dioksida (TiO2), konsentrasi awal metanil yellow, dan lama penyinaran UV pada jumlah metanil yellow yang terdegradasi menggunakan KA-TiO2. KA dibuat melalui aktivasi arang cangkang pala menggunakan NaCl pada 700 oC. Pembuatan fotokatalis KA-TiO2 dengan perbandingan berat 0,1:9,9 (KA 1%) dan 0,5:9,5 (KA 5%) dilakukan dengan cara sonifikasi. Interaksi KA-TiO2 dengan metanil yellow dilakukan pada konsentrasi awal 2, 4, 6, 8, 10, 20, 30, 40, dan 50 ppm selama 3 jam. Eksperimen pengaruh lama penyinaran dilakukan pada variasi 1, 2, 3, 4, 5, 18, dan 20 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi konsentrasi awal dan makin lama penyinaran, makin banyak metanil yellow terdegradasi. Fotokatalis dengan perbandingan berat KA:TiO2 0,1:9,9 mendegradasi metanil yellow lebih banyak dengan persen degradasi maksimum 66% pada konsentrasi awal 6 ppm.A research had been done to determine the effect of weight ratio of nutmeg shell activated carbon (KA) : titanium dioxide TiO2, initial concentration of metanil yellow, and UV irradiation time on the quantity of metanil yellow degraded using KA-TiO2. KA was prepared by activating nutmeg shell charcoal using NaCl at 700 oC. KA-TiO2 having weight ratio of 0.1:9,.9 (KA 1%) and 0.5:9.5 (KA 5%) were prepared by sonification. Interaction of KA-TiO2 with metanil yellow was performed at initial concentration of 2, 4, 6, 8, 10, 20, 30, 40, and 50 ppm for 3 hours. The experiment of UV irradiation time was performed at 1, 2, 3, 4, 5, 18, and 20 hours. The results showed that the higher the initial concentration of metanil yellow and that the longer the irradion time, the higher the amount of metanil yellow degraded. KA:TiO2 having weight ratio of 0.1:9.9 degraded more metanil yellow than that of 0.5:9.5 with maximum degradation of 66% at initial concentration of 6-10 ppm.
Perbandingan Aktivitas Antioksidan Dari Tongkol Jagung (Zea mays L.) Segar dan Kering Dengan Metode Refluks Saryana, Ryan Vanly; Suryanto, Edi; Sangi, Meiske S.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5858

Abstract

Tujuan pada penelitian ini adalah menentukan potensi antioksidan ekstrak air dari tongkol jagung. Tongkol jagung yang sudah dikering anginkan digiling sedangkan yang segar hanya dicincincang hingga halus kemudian diekstraksi menggunakan metode refluks selama 0, 1, 2, 3 dan 4 jam menggunakan pelarut akuades. Analisis kandungan total fenolik, flavonoid dan tanin terkondensasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Untuk penentuan penangkal radikal bebas menggunakan metode 1.1-diphenyl-2.-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tongkol jagung kering memiliki kandungan total senyawa fenolik, flavonoid dan DPPH  terbaik dengan pemanasan selama 4 jam. Akan tetapi total tanin terkondensasi terbaik terdapat pada tongkol jagung segar dengan pemanasan selama 4 jam.The purpose of this study was to determine the antioxidant potential of water extract of corn cobs. Corn cobs wind dried milled while fresh only chopped until smooth then extracted using the reflux method for 0, 1, 2, 3 and 4 hours using distilled water solvent. Analysis of total phenolic content, flavonoids and condensed tannins using UV-Vis spectrophotometer. For the determination of free-radical scavengers using the method of 1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). The results of this study indicate that the dried corn cobs have the best content of total phenolic compounds, flavonoids and DPPH by heating for 4 hours. But, the total condensed tannins are best fresh on corn cob with heating for 4 hours.
Identifikasi Barcode Tumbuhan Gedi Merah (Abelmoschus manihot L. medik) dan Gedi Hijau (Abelmoschus moschatus) Berdasarkan Gen matK Fattah, Yusuf R.; Kamu, Vanda S.; Runtuwene, Max R. J.; Momuat, Lidya I.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5863

Abstract

Gedi (Abelmoschus L.) merupakan tumbuhan tropis. Tumbuhan ini memilki efek farmakologis. Masyarakat Minahasa mengkonsumsi daun gedi yang direbus tanpa diberi bumbu sebagai obat tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol, antihipertensi dan antidiabetes. Suatu metode baru untuk mengidentifikasi dan menganalisis keanekaragaman genetika spesies telah dikembangkan dengan menggunakan potongan gen standar yang dikenal dengan teknik DNA barcoding. Salah satu gen yang terdapat pada tumbuhan yaitu gen matK telah digunakan sebagai gen standar untuk barcoding. Pada penelitian ini telah dilakukan isolasi DNA total dan gen matK penanda barcode DNA dari gedi merah dan gedi hijau, serta analisis in-silico terhadap produk gen matK gedi merah, gedi hijau, dan kerabat terdekatnya. Gen matK diisolasi dan diamplifikasi menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer forward (5’-CGTACAGTACTTTTGTGTTT ACGAG-3’) dan primer reverse (5’-ACCCAGTCCATCTGGAAATCTTGGTTC-3’). Hasil pengurutan nukleotida DNA barcode matK menunjukkan bahwa sebanyak 828 pb matK berhasil diisolasi untuk tumbuhan gedi merah dan tumbuhan gedi hijau. Urutan nukleotida matK gedi merah dan gedi hijau menunjukkan tingkat kemiripan yang tinggi, yaitu > 95%. Selain itu, hasil analisis in-silico menunjukkan bahwa protein MatK gedi dan kerabat terdekatnya bersifat hidrofobik.Gedi (Abelmoschus L.) is a tropical plant. This plant has the pharmacological effects. Minahasan people consumed boiled gedi without any spices addition to lower cholesterol level, blood pressure, and glucose level. A new method for identifying and analyzing the genetic diversity of species has been developed using standard gene known as DNA barcoding technique. One of the genes found in plants called matK gene was used as standard for DNA barcoding. In this research, identification of DNA barcode of red gedi and green gedi based on matK gene, and in-silico analysis on the matK gene products of red gedi, green gedi, and its closest relatives gedi have been done. matK gene was isolated with Polymerase Chain Reaction (PCR) using forward primer (5'-CGTACAGTACTTTTGTGTTTACGAG-3') and reverse primer (5'-ACCCAGTCCATCTGGAAATCTTGGTTC-3'). Barcode DNA of red and green gedi showed 828 bp nucleotide sequence based on matK gene. In addition, matK of both gedi showed high similarity, i.e. >95%. Furthermore, in-silico analysis of MatK gedi and its closest relative showed that this protein is hidrophobic.
Penggulungan Daun Pada Padi Lokal Sulut Saat Kekurangan Air Lenak, Audry Agatha; Nio, Song Ai; Mantiri, Feky R.; Mambu, Susan
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5318

Abstract

Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas produksi padi di Indonesia. Kajian sifat tahan kering pada padi lokal Sulawesi Utara (Sulut) perlu dilakukan, dalam upaya mendukung tercapainya tujuan strategis meningkatkan kemampuan wilayah Sulawesi untuk menjadi pilar ketahanan pangan nasional. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi sifat tahan kering pada empat varietas padi local Sulut (Burungan, Superwin, Temo dan Ombong) pada saat kekurangan air berdasarkan karakter penggulungan daun. Setelah 14 hari perlakuan, skor penggulungan daun pada tanaman yang diairi berkisar 3-4, sedangkan pada tanaman yang tidak diairi rata-rata 9. Pada perlakuan tidak diairi skor penggulungan daun terendah pada Superwin (7,26) dibandingkan pada Burungan (8,86), Temo (8,57) dan Ombong (8,85). Berdasarkan karakter skor penggulungan daun, sifat tahan kering Superwin lebih besar dibandingkan dengan ketiga padi lokal Sulut lainnya, sehingga varietas ini potensial untuk ditanam di daerah kekurangan air.Water availability is one factor limiting rice production in Indonesia. The evaluation of drought resistance in North Sulawesi local rice is important to elevate Sulawesi capability as food security supporter. This study was conducted to evaluate drought resistance in four local rice cultivars (Burungan, Superwin, Temo and Ombong) under water deficit condition based on the leaf rolling score. After 14 days of treatment, mean of leaf rolling score in well-watered plants was 3-4, whereas in water deficit plants was 9. Under water deficit, Superwin had the lowest score (7.26) compared with Burungan (8.86), Temo (8.57), and Ombong (8.85). Based on the leaf rolling score character, drought resistance in Superwin was larger than the other 3 local rice cultivars, so that Superwin was potential to be cultivated in the water limited area.
Analisis Senyawa Metabolit Sekunder dan Uji Toksisitas Ekstrak Batang Bawang Laut (Proiphys amboinensis (L.) Herb.) Dapas, Chendy Christy; Koleangan, Harry S. J.; Sangi, Meiske S.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5992

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai analisis senyawa metabolit sekunder dan uji toksisitas pada batang tanaman bawang laut (Proiphys amboinensis (L.) Herb.) Analisis senyawa metabolit sekunder dilakukan dengan skrining fitokimia untuk senyawa alkaloid, flavonoid, triterpenoid, steroid, saponin dan tanin pada ekstrak batang tanaman bawang laut segar dan kering dan selanjutnya dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-VIS. Penentuan toksisitas ekstrak batang tanaman bawang laut menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina Leach sebagai bioindikator. Pada skrining fitokimia diperoleh flavonoid dan  steroid positif sedangkan alkaloid, saponin triterpenoid dan tanin negatif. Analisis spektofotometer UV-VIS ekstrak etanol menunjukkan puncak serapan pada 304,40 dan  284,50 nm. Data pengujian toksisitas diperoleh dari analisis Lethality Concentration 50 (LC50) yang dilakukan dengan  metode probit menggunakan perangkat lunak SPSS 20. Hasil uji toksisitas ekstrak batang tanaman bawang laut menunjukkan bahwa  ekstrak segar maupun kering bersifat sangat toksik dengan nilai LC50 kurang dari 30 ppm, yaitu: 9,978 ppm untuk batang kering dan 3,980 ppm untuk batang segar.A research has been done on the analysis of secondary metabolites and toxicity examination on the stems of the sea onion (Proiphys amboinensis (L.) Herb.). Analysis of secondary metabolites carried out with the phytochemical screening for alkaloid compounds, flavonoids, triterpenoids, steroids, saponins, and tannins in extracts of fresh and dried stems of the sea onion, then analyzed using UV-VIS spectrophotometer. The toxicity determination of stems extract of the sea onion plant was done by using Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) with Artemia salina Leach as bioindicator. Phytochemical screening showed positive test for flavonoids and steroids while alkaloids, saponins, triterpenoids, and tannins were negative. UV-VIS  spectrophotometer analysis on ethanol extract showed peaks at 304,40 and 284,50 nm. Data of the toxicity examination was obtained from the analysis of Lethality Concentration 50 (LC50) which were performed with the probit method using SPSS 20. Results of toxicity examination of sea onion stems extract showed that fresh or dried extract are very toxic with LC50 values ​​of less than 30 ppm, namely: 9,978 ppm for fresh stems and 3,980 ppm for dried stems.
Keanekaragaman Echinodermata di Pantai Basaan Satu Kecamatan Ratatotok Sulawesi Utara Budiman, Chika Christianti; Maabuat, Pience V.; Langoy, Marnix L. D.; Katili, Deidy Y.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5859

Abstract

Keanekaragaman fauna banyak ditemukan di ekosistem pesisir. Salah satu Filum yang memiliki daya tarik tersendiri di lingkungan pesisir yaitu Echinodermata. Berdasarkan informasi dan data yang diperoleh, di Pantai Basaan Satu Kecamatan Ratatotok Sulawesi Utara belum pernah ada penelitian Echinodermata sebelumnya. Pengambilan sampel menggunakan metode Purposive Random Sampling dan metode kuadrat. Hasil Penelitian didapatkan 13 spesies Echinodermata yaitu kelas Asteroidea diwakili oleh Linckia laevigata, Protoreaster nodosus dan Nardoa tuberculata. Ophiomastix annulosa termasuk pada kelas Ophiuroidea. Kelas Echinoidea diwakili oleh Diadema setosum, Tripneustes gratilla, Echinometra mathaei, Echinothrix diadema dan Echinothrix calamaris. Kelas Holothuroidea  diwakili oleh Synapta maculata, Holothuria atra, Holothuria scabra dan Bohadschia marmmota. Indeks keanekaragaman Echinodermata sedang ditemukan pada habitat mangrove yaitu H'=1,21 dan habitat terumbu karang H'=1,97, sedangkan pada habitat padang lamun indeks keanekaragamannya rendah dengan H'=0,88.The animal diversity can be found in beach-side ecosystem. One of animal phylum wich has its own uniqueness is Echinoderms. According to the information and data, in Basaan Satu beach, Ratatotok district, North Sulawesi, there’s no research related to Echinoderms has been done there yet. Method used in sampling was Purposive Random Sampling and square method. In this research, 13 species of Echinoderms were found. They are Linckia laevigata, Protoreaster nodosus and Nardoa tuberculata from Asteroidea class. Ophiomastix annulosa from Ophiuroidea class. Diadema setosum, Tripneustes gratilla, Echinometra mathaei, Echinothrix diadema and Echinothrix calamaris from Echinoidea class. Synapta maculata, Holothuria atra, Holothuria scabra and Bohadschia marmmota from Holothuroidea class. Diversity index of Echinoderms in mangrove habitat and coral habitat are moderate (H'=1,21 and H'=1,97, respectively), while in seagrass habitat it is low (H'=0,88).
Pola Aktivitas Harian Tangkasi (Tarsius spectrum) Di Taman Marga Satwa Naemundung Kota Bitung Manori, Orpa Smarce Fransina; de Queljoe, Edwin; ., Saroyo; Siahaan, Parluhutan
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5988

Abstract

Tangkasi (Tarsius spectrum) adalah primata primitif dari Famili Tarsidae dan merupakan primata endemik di Sulawesi. Tangkasi memiliki tubuh kecil, mempunyai mata bulat besar, dapat melompat dan dapat membalik 180˚. Karena keunikan yang dimiliki hewan ini menjadikannya disukai banyak orang sehingga diburu, diperdagangkan secara illegal dan dijadikan sebagai hewan peliharaan. Padahal tangkasi (T. spectrum) dilindungi, termasuk kategori rentan (Vulnerable) dan tercantum dalam CITES Appendix II. Tangkasi yang telah dikandangkan akan mengalami  perubahan perilaku dibanding yang ada di alam. Penelitian aktivitas harian tangkasi yang ada di dalam kandang belum pernah dilakukan di Sulawesi Utara, oleh karena itu, maka penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian yang menganalisis aktivitas harian dan tingkah laku tangkasi (T. spectrum) di dalam kandang khususnya dilihat dari aktivitas makan, mencari makan, beristirahat, berpindah, dan aktivitas sosial. Metode pengambilan data secara Instantaneous sampling. Hasil pengamatan terhadap pola aktivitas harian di kandang yaitu : makan (1,5%), mencari makan (8,5%), berpindah (26,8%), instirahat (57,5%), dan sosial (5,5%). Aktivitas tertinggi adalah istirahat, diikuti dengan aktivitas berpindah, kemudian mencari makan, sosial dan yang terendah adalah aktivitas makan.Tangkasi (Tarsius spectrum) is a primitive primate from Family Tarsidae and a  endemic primate in Sulawesi. Tangkasi have a small body, and ayeball, they can jump and their can head flipped until 180˚. Tangkasi already caged will experience a change in behavior campared to the wild. Many  people hunt, trade illegally and use it as pet because of the uniqueness of this species.  Even though tangkasi (T. spectrum) is protected, included in vulnerable category and listed in CITES Appendix II. Research on daily activity of tangkasi in the cage has never been done in North Sulawesi, therefore, this research needs to be done. Studies analyzing daily activities and behavior tangkasi (T. spectrum) in the cage in terms of the activity of eating, foraging, resting, moving, and social activities. Data were collected by using Instantaneous sampling method. The observation of the daily activity patterns in the cage namely: eating (1.5%), foraging (8.5%), moving (26.8%), resting (57.5%), and social (5.5%) . The highest activity is resting, followed by moving activity, foraging, social and respectively the lowest is feeding activity.
Penentuan Aktivitas Antioksidan Berdasarkan Nilai IC50 Ekstrak Metanol dan Fraksi Hasil Partisinya pada Kulit Biji Pinang Yaki (Areca vestiaria Giseke) ., Filbert; Koleangan, Harry S. J.; Runtuwene, Max R. J.; Kamu, Vanda S.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.6002

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan nilai IC50 ekstrak metanol dan hasil partisinya dari ekstrak Areca vestiaria Giseke. Penelitian dimulai dengan proses maserasi menggunakan pelarut metanol, kemudian dievaporasi pada suhu 40oC dan menghasilkan 27,3 g ekstrak pekat dari 330,2 g sampel. Selanjutnya, ekstrak metanol diuji aktivitas antioksidannya dan diperoleh nilai IC50 sebesar 8,3 ppm.. Ekstrak kemudian dipartisi dengan  pelarut n-heksana, etil asetat dan air dan dievaporasi. Seluruh fraksi kemudian diuji aktivitas antioksidannya dan fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas antioksidan yang paling baik dengan nilai IC50 sebesar 10,9 ppm.The purposes of this research were to determine the IC50 values from methanol extract and its extract partition of extract Areca vestiaria Giseke. The research was started with maceration process using methanol as a solvent, then evaporated at 40oC which produce 27,3 g extract from 330,2 g sample. After that, methanol extract was tested its antioxidant activity and the result of IC50 values ​​was 8,3 ppm. And then, the extract was partitioned with n-hexane, ethyl acetate and water and evaporated. All of the fraction was then tested its antioxidant activity. Ethyl acetate fraction showed the best antioxidant activity with IC50 values ​​of 10,9 ppm.

Page 1 of 2 | Total Record : 16