cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Analisis Kimiawi Air Tanah Akibat Pemompaan Berlebih di Cilincing-Koja-Kelapa Gading, Jakarta Utara Arini Dian; A. Asseggaf; Himmes Fitra Yuda
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i2.340

Abstract

ABSTRAK Masyarakat Kawasan Cilincing-Koja-Kelapa Gading menggunakan air tanah hanya untuk mandi-cuci-kakus (MCK) saja, sedangkan untuk makan-minum membeli air galon (40 liter) untuk dua hari. Penelitian ini untuk mengetahui penyebab air tanah tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Metode yang digunakan di antaranya pemetaan muka air tanah (MAT) sumur gali/pantek, pengambilan contoh air, pengukuran sifat fisik air tanah dan analisis kimiawi air tanah. Sebaran MAT menghasilkan cone of depression (Kelapa Gading Utara). Ini menunjukkan telah terjadi pengambilan air tanah berlebih menggunakan mesin pompa. Fasies ion dominan (70%) HCO3 + SO4 /Cl pada 7 lokasi fasies Cl + SO4 (30%) di 3 lokasi dan ion logam yang dikaji hanya ion Mn menggunakan baku mutu PerMenKes No 492/MEN.KES/PER/IV/2010. Salinitas mengacu kadar TDS umumnya masuk kategori tawar (<1.000 mg/l), dan 3 lokasi kategori payau (1.000-10.000 mg/l). Analisis konsentrasi Cl pada 5 lokasi masuk kategori payau (100-1.000 mg/l), 3 lokasi kategori asin Cl >1.000 mg/l yaitu 2 lokasi Barat dan 1 lokasi Timur dan hanya 2 lokasi masuk kategori tawar (Cl <100 mg/l) terletak di bagian tengah serta utara. Air tanah fasies awal NaK-HCO3 mengalir ke arah selatan terjadi perubahan menjadi fasies NaK-Cl. Beberapa lokasi mempunyai kandungan ion Mn telah melampaui baku mutu di antaranya Mn; 3 lokasi di Barat dan 1 lokasi di Timur, sedangkan lokasi lainnya masih di bawah baku mutu yang disyaratkan. Lokasi Kelapa Gading Utara dan Marunda mempunyai kadar TDS (<500 mg/l) dan Klorida/Cl (<100 mg/l) yang digunakan masyarakat sebagai sumber air baku untuk makan-minum, karena rasa air tanahnya tawar. Sedangkan lokasi air tanah (SG/SP) lainnya, tidak dapat digunakan masyarakat sebagai air baku untuk makan-minum, karena tingginya nilai TDS di atas normal berkisar 500 - 4020 mg/l yang mempunyai rasa air payau hingga asin.Kata kunci: air tanah, fasies hidrokimia, Jakarta Utara, kimiawi air tanah, muka air tanah, TDSABSTRACT People of the Cilincing-Koja-Kelapa Gading area use groundwater only for bathing-washing-toilet, while for eating and drinking they buy water gallon (40 litres) for 2 days. This study is to determine the cause of groundwater not being used for daily needs. The methods used include mapping the groundwater level of dug wells, taking water samples, measuring the physical properties of groundwater and chemical analysis of groundwater. The distribution of groundwater levels shows a cone of depression (North Kelapa Gading). This indicates that there has been excess groundwater extraction using a pump machine. Dominant ion facies (70%), HCO3 + SO4 / Cl at 7 locations Cl + SO4 facies (30%) in 3 locations and only metal ions studied were Mn ions using the quality standard of PerMenKes No 492/MEN.KES/PER/IV/2010. Salinity refers to the levels of TDS, generally are in the fresh category (<1,000 mg / l), and 3 locations in the brackish category (1,000 - 10,000 mg / l). Analysis of chloride / Cl concentrations at 5 locations are in the brackish category (100 - 1,000 mg / l), 3 locations in the salty category of Cl> 1,000 mg / l, which are 2 locations in the West and 1 in the East and only 2 locations in the fresh category (Cl <100 mg / l) which are located in the Central and North. The initial NaK - HCO3 facies groundwater flows to the South and changes to NaK - Cl facies. Several locations that contain Mn ions have exceeded the quality standard, including Mn; 3 locations in the West and 1 location in the East, while the other locations are still below the required quality standard. The locations of Kelapa Gading Utara and Marunda have levels of TDS (<500 mg/l) and chloride/Cl (<100 mg/l) which are used by the community as a source of raw water for food and drink because the groundwater tastes fresh. Meanwhile, other groundwater (SG/SP) locations cannot be used by the community as raw water for food and drink, because the high TDS value above normal ranges from 500 - 4020 mg/l, which has a brackish to salty taste. Keywords: groundwater, chemical facies, North Jakarta, chemical groundwater, groundwater level, TDS
Metode G-ALDIT dan G-ALDITLcR untuk Evaluasi Kerentanan Air Tanah Dangkal Akibat Pengaruh Intrusi Air Laut (Studi Kasus: Air Tanah Dangkal Kawasan Pesisir Bagian Utara dan Selatan Kota Makassar) Annisa Dwi Damayanti; Surihanto Notodarmodjo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i2.368

Abstract

ABSTRAK Ketidakseimbangan lingkungan seperti kerentanan air tanah terhadap intrusi air laut dapat disebabkan karena eksploitasi air tanah yang berlebihan. Eksploitasi air tanah merupakan konsekuensi logis dari peningkatan jumlah penduduk, khususnya di daerah Pesisir Makassar yang merupakan pesisir yang terletak di kawasan berkembang. Metode GALDIT merupakan salah satu metode untuk mengukur tingkat kerentanan air tanah terhadap intrusi air laut. Modifikasi dan pengembangan GALDIT dilakukan dengan dua tipe yaitu G-ALDIT dan G-ALDITLcR. Modifikasi ini dibuat dengan penyesuaian kondisi lapangan dan pengembangan dilakukan dengan penambahan parameter di antaranya tutupan lahan dan jarak dari muara sungai. Penambahan parameter ini dianggap lebih efektif untuk mewakili kondisi kerentanan air tanah. Metode ini menggabungkan bobot dan rating tingkat kepentingan penilaian faktor untuk menilai zona rawan terhadap intrusi air laut. Penyesuaian bobot pada setiap faktor pengembangan dilakukan dengan metode Perbandingan Berpasangan-Analysis Hierarchy Process (AHP) menggunakan aplikasi Expert Choice 11. Pemetaan akhir kerentanan air tanah dangkal dipetakan dengan analisis overlay menggunakan ArcGIS 10.3. Hasil penilaian kerentanan menggunakan G-ALDIT menunjukkan bahwa zona kerentanan intrusi air laut hanya menunjukkan kerentanan sebesar 10,23%. Setelah menggunakan metode G-ALDITLcR, zona kerentanan tinggi terlihat meningkat menjadi 28,61% dengan menambahkan kriteria tutupan lahan dan jarak dari muara sungai. Dengan pengembangan metode G-ALDITLcR secara lebih jelas dapat menunjukkan daerah yang memiliki tingkat kerentanan yang tinggi sehingga dapat meningkatkan sensitivitas penilaian.Kata kunci: intrusi air laut, kerentanan air tanah, Analysis Hierarchy Process (AHP), GALDITABSTRACT Environmental imbalances such as groundwater susceptibility to seawater intrusion can be caused by overexploitation of groundwater. The exploitation of groundwater is a logical consequence of the increasing population, especially in coastal areas of Makassar, which are located in developing areas. GALDIT method is one of the methods to measure the level of vulnerability of groundwater to seawater intrusion. Modification and development of GALDIT is called G-ALDIT and G-ALDITLcR. This modification was made by adjusting field conditions and the development was carried out by adding parameters including land cover and distance from estuary. The addition of this parameter is considered more effective to represent the condition of groundwater vulnerability. This method combines weight and rating of factor assessment importance to assess zones prone to seawater intrusion. Weight adjustment in each development factor is done by Paired Comparison-Analysis Hierarchy Process (AHP) method using Expert Choice 11 application. Final mapping of shallow groundwater vulnerabilities is mapped with overlay analysis using ArcGIS 10.3. The results of vulnerability assessment using G-ALDIT method showed that the vulnerability zone of seawater intrusion shows a vulnerability of 10.23%. After using the G-ALDITLcR method, the high vulnerability zone was seen increasing to 28.61% by adding criteria for land cover and distance from the estuary. The development of the G-ALDITLcR method can more clearly show areas that have a high level of vulnerability that can increase the assessment sensitivity. Keywords: seawater intrusion, groundwater vulnerability, Analysis Hierarchy Process (AHP), GALDIT
Evaluasi Nilai Parameter Akuifer Tidak Tertekan Berdasarkan Data Uji Pemompaan dan Analisis Ukuran Butir Agus Mochamad Ramdhan; Arifin Arifin; Rusmawan Suwarman
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i2.376

Abstract

ABSTRAKUji pemompaan merupakan metode yang dianggap paling baik dalam menentukan nilai parameter akuifer. Namun, ada kemungkinan bahwa nilai parameter akuifer yang dihitung menggunakan data uji pemompaan tersebut tidak merepresentasikan nilai parameter akuifer yang sebenarnya. Sebagai sebuah studi kasus, data uji pemompaan akuifer tidak tertekan dari dua sumur observasi (1 dan 2) pada salah satu daerah di SE Asia dianalisis menggunakan metode pencocokan kurva dengan dua skenario. Pada skenario 1, nilai parameter akuifer dihitung dengan mengasumsikan sumur pemompaan dan observasi menembus seluruh ketebalan akuifer (fully penetrating well), sedangkan pada skenario 2 nilai parameter akuifer dihitung berdasarkan kondisi sumur pemompaan dan observasi yang sebenarnya, yaitu menembus hanya sebagian ketebalan akuifer (partially penetrating well). Selain itu, nilai konduktivitas hidraulik akuifer juga diestimasi berdasarkan analisis ukuran butir. Hasilnya menunjukkan bahwa asumsi pada skenario 1 akan menyebabkan nilai konduktivitas hidraulik dalam arah vertikal menjadi lebih besar dari yang seharusnya. Nilai specific yield yang mendekati nilai referensi, berdasarkan litologi pasir kerikilan yang dominan pada daerah studi, hanya diperoleh menggunakan data uji pemompaan dari sumur observasi 1 pada kedua skenario. Adapun hasil estimasi nilai konduktivitas hidraulik berdasarkan analisis ukuran butir memperlihatkan nilai konduktivitas hidraulik yang lebih besar dibandingkan nilai konduktivitas hidraulik yang dihitung berdasarkan data uji pemompaan.Kata kunci: akuifer tidak tertekan, analisis ukuran butir, parameter akuifer, uji pemompaanABSTRACT The pumping test is considered as the best method in determining the values of the aquifer parameter. However, there is a possibility that the values calculated using the pumping test data do not represent the actual aquifer parameter values. As a case study, pumping test data of unconfined aquifer from two observation wells (1 and 2) in an area of SE Asia were analyzed using the Neuman’curve matching method with two scenarios. In scenario 1, the aquifer parameter values were calculated by assuming the pumping and observation wells penetrate the entire thickness of the aquifer (fully penetrating well), while in scenario 2 the values were calculated based on the actual conditions of the pumping and observation wells, i.e., penetrating the aquifer thickness partially (partially penetrating well). In addition, the hydraulic conductivity of the aquifer was also estimated based on grain size analysis. The results show that the assumptions in scenario 1 will cause the vertical hydraulic conductivity value to be greater than it should be. The specific yield value close to the reference value, based on the dominant lithology of gravelly sand in the study area, was only obtained using the pumping test data from the observation well 1 in both scenarios. The results of the hydraulic conductivity value estimation based on grain size analysis show that the hydraulic conductivity value is greater than the hydraulic conductivity value calculated based on the pumping test data. Keywords: unconfined aquifer, grain size analysis, aquifer parameter, pumping test
Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole Untuk Penetapan Bidang Gelincir Gerakan Tanah di Jajaway, Palabuhanratu, Sukabumi Shinta Kiky Rachmawati; Yayat Sudrajat; Lina Handayani; Dadan Dani Wardhana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i1.354

Abstract

ABSTRAKGerakan tanah di kompleks perkantoran Kabupaten Sukabumi di Jajaway, Palabuhanratu, terjadi di luar perkiraan dan perencanaan pembangunan sebelumnya. Untuk melihat kondisi dan luasan daerah gerakan tanah dan dalam usaha mengurangi resiko kerugian lebih besar, diperlukan identifikasi bidang gelincir gerakan tanah di kompleks tersebut. Bidang gelincir dicari berdasarkan model tahanan jenis yang diperoleh dari survei pengukuran geolistrik. Akuisisi data dilakukan pada 7 lintasan, dengan 6 lintasan berarah utara-selatan dan 1 lintasan berarah barat-timur. Metode akusisi yang digunakan adalah tahanan jenis multielektrode dengan konfigurasi dipole-dipole. Hasil penelitian membuktikan bahwa kondisi perlapisan batuan lepas tetapi lebih berat di atas lapisan lempung merupakan salah satu penyebab kejadian pergerakan tanah. Kejadian itu sangat terlokalisir karena kondisi seperti itu tidak ditemukan pada lintasan lainnya.Kata kunci: bidang gelincir, geolistrik, gerakan tanah, konfigurasi dipole-dipole, tahanan jenisABSTRACTGround movement in the Sukabumi Regency office complex (Jajaway, Palabuhanratu), occurred unexpectedly. To reduce the potential risk, we need to identify the slip surface to detect the possibility of more landslides. The resistivity model by the dipole-dipole geoelectrical method was applied to find the slip surface. Data acquisition was carried out in 7 lines: 6 north-south lines and 1 east-west line. The resistivity models present the distribution of resistivity below the surface. Above this clay layer, there is a higher resistivity layer, which is related to sandy tuff and breccia. The condition might cause the previous creeping type of ground movement. The type of layering is not found in the other lines. Therefore we do not expect a similar ground movement would occur in those lines.Keywords: dipole-dipole configuration, geoelectrical, landslide, resistivity, slip surface
Analisis Guncangan Gempa Bumi Lombok dan Palu Tahun 2018 Indriati Retno Palupi; Wiji Raharjo; Oktavia Dewi Alfiani
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i2.283

Abstract

Gempa bumi Lombok dan Palu di Sulawesi Tengah pada tahun 2018 mengakibatkan banyaknya kerusakan pada bangunan yang ada di wilayah sekitar gempa bumi. Kedua gempa tersebut sama-sama bersumber dari patahan tetapi memiliki karaekteristik yang berbeda. Gempa bumi di Lombok didahului oleh foreshock dengan jarak tujuh hari dari mainshock sementara gempa bumi Palu mengakibatkan timbulnya fenomena tsunami dan likuefaksi. Salah satu efek yang ditimbulkan akibat gempa bumi dan dirasakan langsung oleh masyarakat adalah guncangan tanah. Guncangan tersebut dapat dirasakan sampai dengan ratusan kilometer dari pusat lokasi gempa bumi dengan berbagai variasi kekuatan yang berbeda-beda, tergantung pada mekanisme fokus, besaran magnitudo gempa bumi itu sendiri dan jarak lokasi dari sumber gempa bumi serta faktor geologi. Atenuasi percepatan tanah merupakan salah satu metode untuk memperkirakan seberapa besar kekuatan guncangan tanah akibat gempa bumi. Dalam penelitian ini digunakan persamaan menurut Campbell (1981), Idriss (2002) dan Fukushima. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa daerah di bagian sisi barat dan timur Pulau Lombok serta hampir semua daerah di Sulawesi Tengah memiliki percepatan tanah yang cukup besar akibat gempa bumi.Kata kunci: atenuasi percepatan tanah, jarak, gempa Lombok, gempa Palu, magnitudo, mekanisme fokus Lombok and Palu earthquake (Central Sulawesi) in 2018 caused such damage to buildings in area around earthquake location. Both of them came from fault but they had their own chacacteristic. Lombok earthquake started with foreshock seven days before mainshock, while Palu earthquake its cause tsunami and liquifaction phenomena. One effect caused by earthquake and felt by peoples is ground shaking. Ground shaking can be felt by people untill hundred kilometers from earthquake location, depended on its focal mechanism, magnitude, the distance of the location and geological factors. Attenuation of Ground Acceleration is one methode to calculate the energy of ground shaking. In this research, we use ground acceleration equation from Campbell (1981), Idriss (2002) and Fukushima. The result showed that in west and east part of Lombok island and most of the area of Central Sulawesi have high ground shaking caused by the earthquake. Keywords: ground acceleration, distance, Lombok earthquake, Palu earthquake, magnitude, focal mechanism
Karakteristik Keteknikan Sedimen Kuarter Kaitannya dengan Potensi Bahaya Geologi di Kawasan DAS Cimanuk Bagian Hilir Rifki Asrul Sani; Eko Soebowo; Armein M. Fikri; Imam A. Sadisun
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.294

Abstract

ABSTRAKKabupaten Indramayu yang akan dikembangkan sebagai kawasan industri didominasi oleh endapan Kuarter yang terdiri atas endapan fluvial, dataran banjir, pematang pantai, dan delta. Daerah tersebut terletak pada area dekat sesar aktif, yakni segmen sesar Baribis-Subang dengan besaran magnitudo 6,5 Mw. Penelitian di wilayah DAS Cimanuk bagian hilir Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan mekanik serta kaitannya dengan potensi bahaya geologi yang bisa terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan 4 inti bor teknik dan pola kurva sondir (10 CPTu dan 13 CPT) serta analisis laboratorium yakni ukuran butir, hydrometer, batas-batas Atterberg, dan klasifikasi sedimen. Berdasarkan pengamatan inti bor, pola kurva sondir, dan analisis laboratorium, jenis sedimen yang berkembang di daerah penelitian adalah lempung, lanau, lanau pasiran, pasir lanauan dan pasir dengan karakteristik yang spesifik. Tingkat kepadatan sedimen pasir serta tingkat konsistensi sedimen lempung bagian utara penelitian menunjukkan karakteristik yang relatif lebih lepas dan lunak dibandingkan dengan bagian selatan. Berdasarkan karakteristik keteknikan menunjukkan bahwa nilai N-SPT < 10 atau CPT/CPTu < 6.000 kPa pada sedimen pasir dan pasiran berpotensi terhadap likuefaksi dan nilai N-SPT < 4 atau CPT/CPTu < 5.000 kPa pada sedimen lempung dan lanau berpotensi terhadap amblesan. Kata kunci: bahaya geologi, Cimanuk, sedimen kuarterABSTRACTAs a future industrial area, Indramayu Regency is dominated by Quaternary sediment of fluvial, flood plain, beach ridge and deltaic sediments. The area is close to active faults, The Baribis-Subang fault segment with 6.5 Mw. This research is conducted around the lower Cimanuk catchment of Indramayu. Its aims to determine mechanical and physical characteristics related to potential geological hazards. The methods used in this research are 4 core observation, cone penetration patterns (10 CPTu and 13 CPT) and laboratory analysis such as grain size, hydrometer, Atterberg limits and sediment classification. Based on its methods, sediments that develop at the research area are clay, silt, sandy silt, silty sand and sand with specific character. Level consistency and density of clay and sand at the northern area is relatively soft and loose than the southern one. Based on engineering characteristics, the results show that NSPT < 10 or CPT/CPTu < 6,000 kPa value of sandy and sand sediment are potential against liquefaction and N-SPT < 4 or CPT/CPTu < 5,000 kPa value of silt and clay sediment are potential against subsidence. Keywords: geological hazards, Cimanuk, quarternary sediment
Tritium: Implies Young Groundwater Age? Insight from the Isotope and Hydrochemical Data of Mud Volcano and Hydrocarbon Well in East Java Lambok M. Hutasoit, Ph.D.; Agus M. Ramdhan; Irwan Iskandar; Arifin Arifin
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.388

Abstract

ABSTRACT The use of tritium isotope is one of the methods for determining groundwater age. It can be used to determine the age of groundwater classified as young. However, if it is the only method used, the results may not be valid. In this study, tritium application in determining groundwater age was evaluated based on deuterium and oxygen-18 isotopes and hydrochemical data from seven mud volcanoes and one hydrocarbon production well in East Java Basin. The tritium analysis shows that the age of groundwater samples is young, 1.75 to 9 years. However, deuterium, oxygen-18, and hydrochemical analysis indicate that the groundwater age is relatively old. It shows that the results of groundwater age analysis using tritium are not valid in this study. It is because tritium is not only from the atmosphere but also from tritium enrichment below the surface through water and rock interaction. The shifting of oxygen-18 isotope, which becomes heavier, indicates that isotope enrichment occurred in the subsurface. Based on the composition of the major cations and anions, the groundwater samples in this study have Na-Cl type with high TDS values as saline water. The shifting of oxygen-18 isotope, the water type, and the high TDS value also indicate that water and rock interaction occurs beneath the surface and can increase the tritium content in groundwater.Keywords: deuterium, groundwater age, hydrochemical data, mud volcano, oxygen-18, tritiumABSTRAK Salah satu metode untuk menentukan umur airtanah adalah dengan menggunakan isotop tritium. Tritium dapat digunakan untuk menentukan umur airtanah yang tergolong muda. Namun, jika hanya menggunakan metode ini, maka hasil yang diperoleh mungkin tidak valid. Dalam studi ini, penggunaan tritium untuk menentukan umur airtanah dievaluasi berdasarkan data isotop deuterium dan oksigen-18, serta data hidrokimia dari tujuh gunung lumpur dan satu sumur produksi hidrokarbon di Cekungan Jawa Timur. Analisis tritium menunjukkan umur sampel airtanah yang tergolong muda, yaitu 1,75 hingga 9 tahun. Namun, analisis deuterium, oksigen-18, dan analisis hidrokimia menunjukkan bahwa umur airtanah tergolong tua. Hal tersebut memperlihatkan bahwa hasil analisis umur airtanah berdasarkan tritium pada studi ini tidak valid. Hal ini disebabkan karena tritium tidak hanya berasal dari atmosfer, tetapi dapat juga berasal dari pengayaan tritium di bawah permukaan melalui reaksi air dan batuan. Pergeseran nilai oksigen-18 yang menjadi semakin berat mengindikasikan bahwa terjadi pengayaan isotop tersebut di bawah permukaan. Berdasarkan komposisi kation dan anion utama, sampel airtanah dalam studi ini memiliki tipe Na-Cl dengan nilai TDS yang tinggi dan air yang tergolong asin. Pergeseran oksigen-18, tipe air dan nilai TDS yang tinggi tersebut juga menunjukkan bahwa terjadi interaksi air dan batuan di bawah permukaan yang dapat meningkatkan nilai tritium pada airtanah.Kata kunci: deuterium, umur airtanah, data hidrokimia, mud volcano, oksigen-18, tritium
Karakteristik Perubahan Lingkungan Akhir Plistosen - Holosen di Dataran Rendah Aluvial dan Pantai Wilayah Demak, Kudus, Jepara, Pati dan Sekitaranya Rio A.T. Moechtar; Subiyanto Subiyanto; R.I.H Sulistyawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i1.262

Abstract

ABSTRAKWilayah dataran aluvial hingga pantai daerah Demak, Kudus, Jepara, Pati dan sekitarnya ditutupi endapan sedimen Holosen yang terdiri atas kerikil, pasir, lempung, lanau, dan bongkah batuan gunungapi. Penelitian dilakukan dengan analisis sedimentologi dan stratigrafi terhadap 37 pemboran berskala 1 : 100 dengan ketebalan sedimen antara 0,8 - 18 meter. Berdasarkan korelasi data hasil pemboran diketahui bahwa sedimen Holosen di wilayah ini dapat dibedakan dalam tiga interval proses pengendapan (IPP A- C). Perubahan sedimen secara vertikal dapat diwakili oleh setiap sub-IPP yang merupakan hasil dari proses eksternal sesuai perubahan iklim, fluktuasi muka laut, tektonik dan aktivitas gunungapi. Dari hasil analisis stratigrafi diketahui bahwa perubahan lingkungan pengendapan pada daerah penelitian berhubungan dengan aktivitas proses eksternal di cekungan ini. Peranan proses eksternal ini diharapkan menjadi variabel dalam perumusan kebijakan pengelolaan lingkungan di wilayah Demak, Kudus, Jepara, Pati, dan sekitarnya.Kata kunci: fluktuasi muka air laut, Holosen, lingkungan, tektonik, perubahan iklimABSTRACTThe alluvial plain to the coast of Demak, Kudus, Jepara, Pati, and its surroundings is covered with sedimentary Holocene deposits consisting of gravel, sand, clay, silt, and volcanic rock boulders. The study used sedimentology and stratigraphic analysis of 37 drilling points with sediment thicknesses between 0.8-18 meters. Based on the correlation of drilling results, the Holocene sediments in the area of research can be distinguished in three deposition process (IPP) intervals. Vertically, sediment changes can be represented by each sub-IPP which are the result of external processes according to climate change, sea-level fluctuations, tectonics, and volcanic activity. From the results of the stratigraphic analysis, the changes in the depositional environment in the study area are related to external process activities in the basin. The effects of this external process are expected to be a recommendation in the future environmental development in the Demak, Kudus, Jepara, Pati, and its surroundings.Keywords: sea-level fluctuation, Holocene, environment, tectonic, climate change
Tingkat Konsolidasi Penurunan Lahan Berdasarkan Metode Asaoka di Lahan Area 1B Blok J di Lokasi JIIPE, Manyar, Gresik, Jawa Timur Anto Kadyanto
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i2.305

Abstract

Tingkat konsolidasi pada lahan lunak dapat ditentukan dengan menggunakan Metode Asaoka (1978). Metode ini dipilih karena penerapannya yang sederhana dan memiliki tingkat akurasi yang dapat diandalkan, merujuk kepada hasil penelitian-penelitian lain. Observasi penurunan lahan dilakukan di Area 1B Blok J, di lokasi JIIPE, Manyar, Gresik Jawa Timur. Metode Asaoka merupakan suatu teknik untuk memperkirakan penurunan tanah dengan menggunakan grafik curve fitting, yaitu proses data-smoothing, pendekatan terhadap kecenderungan data dalam bentuk persamaan model matematika; biasanya digunakan untuk keperluan interpolasi. Dengan cara ini, kebutuhan akan data lapangan dan data pendukung seperti: data laboratorium berupa tekanan air pori, panjang aliran air, koefisien konsolidasi dan regangan maksimum tanah, tidak diperlukan. Validasi data dilakukan dengan memperbandingkan tingkat konsolidasi yang dihasilkan berdasarkan pengamatan dari metode Asaoka dengan desain teknis engineering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsolidasi yang dihitung dari observasi data menggunakan metode Asaoka adalah 96.93% yang terbukti lebih besar daripada desain teknis engineering (95%).Kata kunci: kawasan industri,metode Asaoka, tanah lunak, tingkat pemadatanConsolidation rate on soft soil can be determined using the Asaoka Method (1978). In this study, the method was chosen because of its simple application and has a reliable level of accuracy, referring to the results from other studies. Observation of ground settlement was taken from Area 1B Block J located in JIIPE, Manyar, Gresik, East Java. The Asaoka method is a technique for estimating ground settlement using curve-fitting graph: a process of data-smoothing, approach of data trends in the form of mathematical equations; usually used for interpolation purposes. With this technique, the needs for field data and supporting data such as laboratory data in the form of pore pressure, water flow length, consolidations coefficient, and maximum soil strain, are not required. Data validation is done by comparing the degree of consolidations results based on Asaoka Method observation with the technical design of engineering. The result shows that the consolidation degree calculated from Asaoka Method observational data was 96.93%, which is proven greater than the technical engineering design (95%). Keywords: industrial estate,Asaoka method, soft soil, consolidation degree
Penentuan Ketebalan Sedimen pada Segmen Kumering, Sesar Sumatra di Daerah Liwa Lampung Barat dengan Menggunakan Metode Seismik Aktif MASW Ashar Muda Lubis; Angga Saputra; Suhendra Suhendra; Rio Saputra; Rida Samdara
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.334

Abstract

ABSTRAK Dampak energi yang dilepas oleh gempa bumi Liwa Mw 7.0 tahun 1994 pada segmen Kumering daerah selatan Sesar Sumatra mengakitbatkan hilangnya nyawa manusia dan kerusakan berat pada infrastuktur. Tingkat kerusakan gempa bumi selain dipengaruhi oleh besarnya magnitudo gempa bumi, juga dikontrol oleh struktur bawah permukaan dan ketebalan sedimen pada daerah itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur lapisan bawah permukaan di daerah Liwa melalui pengamatan kecepatan gelombang sekunder (Vs) dan ketebalan sedimen dengan menggunakan metode seismik aktif Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). Survei seismik dengan panjang lintasan total 192 m menggunakan seismograf digital PASI 16S24 dan 24 geophone. Pengolahan data seismik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak seismik komersial ParkSeis. Hasil penelitan menunjukkan bahwa struktur lapisan di daerah Liwa terdiri dari 3 lapisan ketebalan sedimen 15-20 m, nilai Vs sekitar 250-300 m/s dan densitas sekitar 1,7-2,2 gr/cm3 . Lapisan kedua merupakan lapisan transisi antara lapisan sedimen dan lapisan batuan dasar dengan ketebalan rata-rata 5 m dan nilai Vs 600-800 m/s. Selanjutnya lapisan ketiga berada pada kedalaman 25-50 m yang ditandai dengan nilai Vs antara 800-1000 m/s. Lapisan pertama diduga berupa pasir padat menengah/tuff pasiran, dilluvial lunak yang bercampur dengan kerikil dan sisipan lempung yang dipengaruhi oleh keberadaan air bawah tanah dan pergerakan aktif segmen Kumering. Kondisi ini akan memudahkan terjadi amplifikasi atau penguatan terhadap getaran gempa bumi. Oleh karena itu upaya adaptasi dan mitigasi terhadap bencana gempa bumi di daerah Liwa sangat mendesak untuk dilakukan terutama dalam perencanaan.Kata kunci: Gempa bumi, Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW), ketebalan sedimen, struktur lapisanABSTRACT The impact of the energy released by the 1994 Liwa Mw earthquake in 1994 in the Kumering region south of Sumatra Fault, were not only human loss, but also severely damaged infrastructures. The level of earthquake damage is influenced by the size of the earthquake and controlled by the subsurface structure and the sediment thickness. This study aims to determine the local subsurface structure in the Liwa area by observing shear wave velocity (Vs) and sediment thickness using the active seismic method of Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). A seismic survey with a total track seismic length of 192 m has been carried out using digital seismographs PASI 16S24 and 24 geophones, and the seismic data were processed by using ParkSeis commercial seismic software. The results show that the local subsurface structure in the Liwa area consists of 3 layers. Estimated sediment thickness is 15-20 m with Vs value of 250-300 m/s and the density of 1.7-2.2 gr/cm3 . The second layer is a transition layer between the sedimentary layer and the hard bedrock with an average thickness of 5 m and a Vs value of 600-800 m / s. Furthermore, the third layer is at a depth of 25-50 m which is characterized by Vs value between 800-1000 m/s. The first layer is assumed to be a medium dense sand, soft dilluvial sand mixed with gravel/ rigid clay which is influenced by the presence of underground water and the active tectonic movement of the Kumering segment. Hence, this condition will facilitate the amplification or strengthening of earthquake vibrations. Therefore, adaptation and mitigation efforts associated with the earthquake disaster prevention in the Liwa area are very urgent to establish for urban planning.Keywords: earthquake, Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW), sediment’s thickness, structure layer