cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
The Effect Of Rainfall Relationship periode 2003 – 2013 Of Groundwater South Jakarta Region Arini Dian; Nana Sulaksana; A. Asseggaf
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.301

Abstract

ABSTRAKKebutuhan air bersih di Jakarta sangat meningkat sehingga pemerintah daerah mulai melakukan pengamatan muka airtanah. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis fluktuasi muka airtanah pada AWLR, intensitas curah hujan, dan penampang bawah permukaan pada beberapa buah titik logbor selama tahun 2003 - 2013 di wilayah Jakarta Selatan. Jumlah curah hujan di daerah penelitian berkisar antara 0,2 - 831,4 mm/bulan. Dari data AWLR dapat diketahui ketinggian muka airtanah berkisar antara 9,29 - 13,97 m aml, terdangkal terjadi pada bulan Oktober - Febuari (ketika musim penghujan) dan ketinggian muka airtanah terdalam berkisar antara14,60 - 20,41 m aml terjadi pada bulan Maret - September (ketika musim kemarau). Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya pengaruh hubungan curah hujan dan muka airtanah dengan karakteristik sistem akuifer yang berada pada daerah penelitian sekitarnya khususnya di Jakarta Selatan. Berdasarkan analisis tenggang waktu dan fluktuasi muka airtanah yang dipengaruhi oleh intensitas curah hujan.Serta adanya lapisan akuitar pada penampang geologi dan posisi muka airtanah yang terdapat dibagian atas lapisan akuifer, maka dapat dikatakan bahwa sistem akuifer yang terdapat di daerah penelitian bersifat semi tertekan. Sistem akuifer tersebut pada bagian atasnya merupakan material berbutir halus (akuitar) sehingga airtanah masih memungkinkan untuk bergerak di dalamnya.Kata kunci: airtanah, AWLR, curah hujan, fluktuasi, JakartaABSTRACTThe need for clean water in Jakarta has increased significantly, so the groundwater levels of Jakarta Groundwater Basin need to be researched. This research was conducted by analyzing the fluctuation of the groundwater level using the AWLR data, rainfall intensity, and subsurface sections to several logbor during the year of 2003 - 2013 in South Jakarta area. Rainfall event in the area is in range of 0.2 mm/year up to 831.4 mm/year. From the AWLR data, the highest groundwater level were at 9.29 - 13.97 masl in October - Febuari (during rainy season) and the deepest groundwater level were at 14.60 - 20.41 masl) in March - September (during dry season). Based on the analysis of the timescale and the groundwater level fluctuations that influenced by rainfall, and the aquitard layer in the geology section, and groundwater level exist above the aquifer, so that the aquifer system in this regions is classified as semi depressed aquifer. In this aquifer system, the underlying material is fine grained (aquitard) that allows groundwater moving inside the layer.Keywords: groundwater, AWLR, rainfall, fluctuation, Jakarta
Zonasi Intrusi Air Laut pada Sistem Akuifer Tertekan Atas Cekungan Air Tanah Jakarta Mafira Yuwandari; Teuku Yan Waliana Muda Iskandarsyah; Mochamad Nursiyam Barkah; Taat Setiawan; Janner Rahmat Sudianto Nababan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i2.310

Abstract

Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia yang terus berkembang pesat seiring dengan pertumbuhan industri, permukiman, perdagangan, dan jasa. Perkembangan daerah yang seiring dengan pertumbuhan penduduk mengakibatkan kebutuhan air bersih juga semakin meningkat. PDAM masih belum mampu mencukupi kebutuhan air masyarakat sehingga air tanah menjadi sumber air utama untuk kebutuhan harian dan komersil. Pemanfaatan air tanah yang tidak terkendali dapat mempengaruhi kondisi air tanah di Jakarta. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi air tanah di bagian utara CAT Jakarta khususnya pada sistem akuifer tertekan atas (40-140 mbmt) berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan analisis laboratorium melalui 27 (dua puluh tujuh) sumur terpilih. Aliran air tanah daerah penelitian mengarah dari selatan ke utara. Hasil analisis Diagram Piper menunjukkan fasies air tanah daerah penelitian terbagi menjadi empat yaitu Na-HCO3 , Ca-HCO3 , Na-Cl, dan mixed (Ca-Na-HCO3 , Na-Ca-HCO3 , Ca-Na-HCO3 -Cl). Tingkat keasinan air tanah daerah penelitian terbagi menjadi dua zona yaitu tawar dan tawar-payau. Analisis rasio γNa/γCl, TDS terhadap elevasi MAT, DHL terhadap Cl, dan γCl/(γCO3 +γHCO3 ) menghasilkan lima zona intrusi yang mengalami perubahan dari tahun 2015 - 2018 yaitu zona air tawar, zona intrusi air laut sedikit, zona intrusi air laut sedang, zona intrusi air laut agak tinggi, dan zona intrusi air laut tinggi.Kata kunci: cekungan air tanah Jakarta, fasies air tanah, hidrokimia, intrusi air laut Special Capital Region of Jakarta, the capital city of Indonesia, is a rapidly developing city with a rapid growth in industry, population, business, and service. The rapid growth of population in the city has escalated the need for clean usable water. Groundwater has been the main source of water used by the people for daily needs and activities, since PDAM has failed to meet the needs effectively. Groundwater condition in Jakarta is likely to be affected by unauthorized misuses. Therefore, this research was conducted in order to examine the groundwater condition in northern part of Jakarta Groundwater Basin based on field observation and laboratory analysis of 27 selected wells. Groundwater flow in the northern part of Jakarta Groundwater Basin flowed from the south toward the north. Based on Piper Diagram analysis, groundwater facies were divided into four facies: Na-HCO3 , Ca-HCO3 , Na-Cl, and mixed (Ca-Na-HCO3 , Na-Ca-HCO3 , Ca-Na-HCO3 -Cl). Based on the salinity, the groundwater was divided into two zones: fresh water and fresh-brackish water. Based on the ratio of γNa/γCl, TDS to groundwater elevation, EC to Cl, and γCl/(γCO3 +γHCO3 ); there were five intrusion zones in the observed area: fresh water zone, slight seawater intrusion zone, medium seawater intrusion zone, slightly high seawater intrusion zone, and high seawater intrusion zone.Keywords: Jakarta groundwater basin, groundwater facies, hydrochemistry, seawater intrusion
Prospeksi dan Masalah Lingkungan Akibat Penambangan Timah di Pulau Karimun Ronaldo Irzon
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.367

Abstract

ABSTRAK Penambangan timah di Asia Tenggara yang kaitannya dengan sabuk timah telah dimulai sejak abad ke-19. Eksploitasi tersebut tentu telah meninggalkan beberapa lokasi pembuangan limbah timah yang dapat membahayakan lingkungan. Namun demikian, limbah pertambangan juga memungkinan masih mengandung bahan-bahan yang bernilai ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari komposisi bahan sisa dari beberapa lokasi pembuangan tailing timah di Pulau Karimun agar dapat mengetahui potensi maupun dampaknya terhadap lingkungan. Hasil analisis XRF dan ICP-MS menunjukkan bahwa kandungan Al2 O3 dan Ce pada beberapa lokasi cukup prospektif. Kedua oksida tersebut menarik untuk dipisahkan karena merupakan bahan buangan, berada tidak jauh dari permukaan, lunak, dan memiliki luas permukaan yang besar. Limbah penambangan timah di Karimun terbukti telah menyebabkan polusi aluminium, magnesium, dan potasium pada tingkat beragam. Program reboisasi, penggunaan bakteri pengurai, dan penambahan beberapa bahan kimia sesuai dosis dapat diadaptasi dalam perbaikan kondisi lingkungan pasca penambangan timah.Kata kunci: geokimia, Karimun, limbah timah, prospeksi, polusiABSTRACT Tin mining in Southeast Asia, which is closely associated with the tin belt, was initiated in the 19th century. The exploitation certainly created tin waste disposal locations which may endanger the environment. On the other hand, mining waste might also contain valuable materials. This study aims to analyse the composition of the residual materials from several tin tailings disposal sites on Karimun Island for any potential prospects and environmental impacts The results of XRF and ICP-MS measurements show that Al2 O3 and Ce in some sites are prospective and interesting to be beneficiated on behalf of their condition as waste material, located near the surface, soft, and a large surface area. On the other hand, the tin mining wastes of Karimun lead to aluminium, magnesium and potassium pollutants at various degrees. The revegetation program, the use of decomposing bacteria, and the addition of several environmentally friendly chemicals with certain dosage could be adapted to improve environmental conditions after tin mining.Keywords: geochemistry, Karimun, pollution, prospecting, tin tailings
Perbandingan Nilai Hazard Kejadian Tsunami di Indonesia Berdasarkan Posisi Garis Khatulistiwa (Katalog Tsunami Indonesia 1802 - 2018) Samsul Anwar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i1.303

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara yang rawan terjadinya tsunami. Berdasarkan Katalog Tsunami BMKG, sepanjang tahun 1802 hingga 2018 telah terjadi 219 tsunami di Indonesia. Dengan mempelajari kejadian tsunami pada masa lalu berarti merupakan salah satu langkah mitigasi bencana dalam upaya meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh tsunami pada masa yang akan datang. Tujuan penelitian ini adalah menghitung nilai hazard rasio kejadian tsunami berdasarkan lokasi kejadiannya relatif terhadap garis khatulistiwa. Model Cox Proportional Hazard (Cox PH) menunjukkan bahwa tsunami di wilayah selatan garis khatulistiwa cenderung 50,5% lebih cepat terjadi dibandingkan dengan wilayah utara. Hal ini disebabkan karena wilayah selatan berpotensi lebih besar akan terjadinya kejadian tsunamigenik termasuk gempa bumi, erupsi gunungapi dan penyebab lainnya dari pada wilayah utara. Adanya zona subduksi aktif akibat pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia di wilayah selatan meningkatkan potensi terjadinya tsunamigenik di wilayah tersebut. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan hubungan antara garis khatulistiwa dengan kejadian tsunamigenik di Indonesia.Kata kunci: garis khatulistiwa, hazard rasio, Indonesia, model cox ph, tsunami, tsunamigenikABSTRACTIndonesia is a tsunami-prone country. Based on the BMKG Tsunami Catalog, from 1802 to 2018 there were 219 tsunamis in Indonesia. By studying tsunami events in the past means one disaster mitigation measure in an effort to minimize losses caused by tsunamis in the future. The objective of the study is to measure the tsunami hazard ratio based on its location relative to the equator position. Cox Proportional Hazard Model (Cox PH) showed that tsunamis in the southern area tended to happen 50.5% faster compared to the northern area. This is because the southern region has greater potential for tsunamigenic events including earthquakes, volcanic eruptions, and other causes than the northern region. The existence of an active subduction zone due to the confluence of Indo-Australian and Eurasian tectonic plates in the southern region increases the potential for tsunamigenic events in the region. Further research is necessarily needed to explain the relationship between the equator and tsunamigenic events in Indonesia.Keywords: equator, hazard ratio, Indonesia, cox ph model, tsunami, tsunamigenic
Korelasi Peningkatan Temperatur Permukaan Tanah dan Aktivitas Seismik di Gunung Anak Krakatau pada tahun 2018 Cholisina Anik Perwita; Sukir Maryanto; Muhammad Ghufron; Mudo Prakoso; Stevany Abigail; Usna Zainun Nasrulloh Zamhar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.315

Abstract

ABSTRAKPemantauan gunungapi merupakan hal yang krusial terutama bagi negara yang mempunyai banyak gunungapi seperti Indonesia. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pemantauan gunungapi aktif adalah biaya yang cukup besar dan lokasi gunungapi yang sulit diakses. Pemantauan jarak jauh (remote sensing) sudah mulai diaplikasikan untuk kebutuhan ini. Dalam penelitian ini kami mencoba menggabungkan remote sensing pemantauan Gunungapi Anak Krakatau (GAK) dengan pemantauan seismik untuk memberikan gambaran mengenai aktivitas vulkanik yang terjadi. Korelasi yang kuat didapatkan antara kenaikan jumlah gempa tremor terhadap kenaikan suhu permukaan dengan nilai korelasi Pearson sebesar 0,53 untuk gempa tremor da 0,47 untuk gempa letusan. Temperatur maksimal yang tercatat pada bagian puncak, naik dari 300 Cmenjadi 700 C. Selain itu, leleran lava yang terjadi di lereng GAK dapat tercitrakan dengan baik pada LST (Land Surface Temperature).Kata kunci: Gunung Anak Krakatau, monitoring, remote sensing, temperaturABSTRACT Volcanic monitoring is one of the crucial things for the country which has rich of volcanoes such as Indonesia. High-cost ground base for monitoring is a problem that should be overcome, moreover if the volcanic area is difficult to access. Remote monitoring has begun to be applied to respond the need. In this study, land surface temperature (LST) from remote sensing method and seismic method combined to know volcanic activity of Anak Krakatau Volcano (GAK). A strong correlation is obtained from an increase in the number of tremor events to an increase in surface temperature with Pearson Correlation value 0,53 for tremor event and 0,47 for eruption earthquake. The maximum temperature in summit was increase from 300 Cto 700 C. In addition, the melting lava that came out from eruption on the slopes of GAK can be wel- imaged on LST. Keywords: Gunung Anak Krakatau, volcanic monitoring, remote sensing, temperature
Pola Kejadian Tsunami dan Perkembangan Manajemen Bencana di Indonesia setelah Tsunami Samudra Hindia Tahun 2004: Sebuah Tinjauan Bachtiar W. Mutaqin; Ikhwan Amri; Bagas Aditya
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i2.302

Abstract

Indonesia memiliki catatan sejarah yang panjang dengan bencana tsunami. Dari sejumlah kejadian tsunami yang ada, tsunami Samudra Hindia tahun 2004 dinilai sebagai bencana alam yang paling mematikan sepanjang abad dan paling berperan dalam mengubah paradigma manajemen kebencanaan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau pola kejadian tsunami dan perkembangan manajemen bencana di Indonesia setelah tsunami tahun 2004 dengan memanfaatkan database tsunami dan tinjauan literatur. Sebanyak 22 kejadian tsunami telah tercatat di Indonesia selama 2005-2018, di mana sebagian besar lokasi tsunami terkonsentrasi di Pulau Sumatera bagian barat dan bersumber dari Samudra Hindia. Tujuh kejadian diantaranya menimbulkan dampak signifikan, termasuk dua tsunami terakhir yang dipicu oleh faktor non seismik. Sistem manajemen bencana sebenarnya telah mengalami perubahan secara besar-besaran setelah tsunami tahun 2004, mulai dari berlakunya peraturan perundang-undangan tentang penanggulangan bencana, pembentukan institusi baru untuk penanggulangan bencana, hingga konstuksi sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS). Meskipun telah berfokus pada upaya preventif, dampak tsunami dalam beberapa tahun terakhir masih cukup besar. Hal ini dipengaruhi oleh 4 faktor utama: (1) konsentrasi penduduk yang tinggi di area bahaya tsunami, (2) terbatasnya infrastruktur diseminasi peringatan dini, (3) kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan evakuasi mandiri tanpa menunggu peringatan, dan (4) sistem peringatan dini tsunami belum mempertimbangkan faktor non seismik.Kata kunci: manajemen bencana, peringatan dini, pola spasial, tsunami, IndonesiaIndonesia has a long history with the tsunami. From numerous tsunami events in the world, the 2004 Indian Ocean tsunami was considered as the deadliest natural disaster of the century and had the most role in changing the paradigm of disaster management in Indonesia. This study aims to review the spatial pattern of tsunami events and the development of disaster management in Indonesia following the 2004 tsunami through the tsunami database and literature review. At least there are 22 tsunami events were recorded in Indonesia in the period of 2005-2018, where most of its locations were concentrated on the western part of Sumatra Island and sourced from the Indian Ocean. We had identified that seven of these events have significant impacts, including the last two tsunamis triggered by non-seismic factors. The disaster management system has actually improved drastically following the 2004 tsunami, such as the enactment of laws and regulations on disaster management, the establishment of special institutions for disaster management, and the construction of a tsunami early warning system (InaTEWS). Although it has focused on preventive measures, tsunami impacts in recent years are still quite large. This situation is affected by four factors: (1) high and dense population in the tsunami hazard area, (2) limited infrastructure for early warning dissemination, (3) lack of public awareness to conduct evacuations following the disaster events, and (4) early warning systems for tsunami has not considered yet the non-seismic factors.Keywords: disaster management, early warning, spatial pattern, tsunami, Indonesia
Analisis Pentingnya Gempa Bumi sebagai Faktor Pemicu Kejadian Gerakan Tanah di Lampung Barat Satrio Muhammad Alif; Annisa Nurul Hidayah; Adam Irwansyah Fauzi; Redho Surya Perdana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.356

Abstract

ABSTRAKGempa bumi merupakan faktor pemicu utama pada kejadian gerakan tanah dan kaitannya dapat diteliti di lokasi dengan intensitas baik gempa bumi dan gerakan tanah yang tinggi seperti di Lampung Barat. Tidak hanya gempa bumi dengan kekuatan besar yang dapat mengakibatkan gerakan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kaitan antara kejadian gerakan tanah dan gempa bumi di Lampung Barat dengan menggunakan data kemiringan lereng, curah hujan, jenis batuan, dan tutupan lahan. Data yang digunakan bersumber dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Lampung, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Informasi Geospasial, dan citra Landsat 8. Setiap titik kejadian gerakan tanah yang telah terjadi dari 2015 hingga 2019 dilakukan skoring, pembobotan, dan klasifikasi dari empat parameter untuk menentukan potensi bencana gerakan tanah. Hal ini dilakukan untuk melihat kesesuaian kejadian gerakan tanah yang sudah terjadi di suatu wilayah dengan potensi bencana gerakan tanah di wilayah tersebut. Kejadian gerakan tanah yang terjadi di wilayah dengan kelas rendah dikaitkan dengan keberadaan gempa bumi sebelum setiap kejadian gerakan tanah. Terdapat 24% dari gerakan tanah di Lampung Barat terjadi setelah gempa bumi. Dua kejadian gerakan tanah terjadi setelah gempa bumi dengan magnitudo di atas 6. Gempa bumi dengan magnitudo di atas 4 dapat memicu gerakan tanah terutama di wilayah dengan radius 50 km dari sesar. Gempa bumi sebaiknya digunakan dalam penentuan wilayah yang berpotensi terjadi gerakan tanah untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat ketika telah terjadi gempa bumi.Kata kunci: bencana, curah hujan, gempa bumi, gerakan tanah, skoringABSTRACT Earthquakes are a major factor for the occurrence of ground motion and its relation can be investigated in locations with high intensity of both earthquakes and ground movements such as in West Lampung. It is not only earthquakes of great strength that can cause ground motion. This study aims to analyze the relationship between ground motion and earthquakes in West Lampung using slope data, rainfall, rock types, and land cover. The data used were obtained from the Lampung Provincial Disaster Management Agency, Meteorology Climatology and Geophysics Agency, Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation, Geospatial Information Agency, and Landsat 8 imagery. weighting, and classification of the four parameters to determine the potential for landslides to occur. This is done to see the suitability of ground motion events that have occurred in an area with the potential for landslide disasters in that area. Earth movement events that occur in low-class areas are associated with the presence of an earthquake before each ground motion event. There are 24% of the ground motion in West Lampung occurred after the earthquake. Two ground motion events occur after an earthquake with a magnitude above 6. An earthquake with a magnitude above 4 can trigger ground motion, especially in areas with a radius of 50 km from the fault. Earthquakes should be used in determining areas that have the potential for landslides to occur to increase community preparedness when an earthquake has occurred.Keywords: disaster, rainfall, earthquake, landslide, scoring 
Analisis Pengaruh Perubahan Lahan terhadap Debit Banjir pada Sub Das Cibeureum, Kawasan Bandung Utara Fauziyah Hani; Mohamad Sapari Dwi Hadian; Hendarmawan -
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i1.330

Abstract

ABSTRAKSub DAS Cibeureum merupakan bagian dari Kawasan Bandung Utara. Pertumbuhan jumlah penduduk mengakibatkan pembangunan terus meningkat dan karena kondisi udaranya sejuk serta pemandangannya indah, Kawasan Bandung Utara menyebabkan lokasi ini banyak diminati. Akibat pemanfaatan lahan untuk pembangunan villa dan kawasan wisata adalah terjadinya perubahan lahan setiap tahunnya. Kawasan Bandung Utara berada di kawasan perbukitan, tersusun oleh batuan vulkanik dan memiliki curah hujan yang cukup tinggi (±1500 - 2500 mm/tahun), sehingga lokasi ini sebagai kawasan resapan air yang baik sehingga memiliki potensi airtanah yang besar. Namun, perubahan lahan yang terus menerus terjadi mengakibatkan kawasan resapan tidak berfungsi dengan baik dan memperbesar debit limpasan permukaan. Akibatnya dapat terjadi krisis sumber daya air dan menyebabkan permasalahan baru salah satunya adalah banjir di hilir sungai. Oleh karena itu, perlu diketahui seberapa besar perubahan tata guna lahan di Sub DAS Cibeureum dan dampaknya terhadap besar debit limpasan di hilir Sub DAS. Dalam penelitian ini penulis menganalisis perubahan lahan dan besar koefisien run-off di Sub DAS Cibeureum pada tahun 2006, 2009, 2011, 2015, 2016, dan 2017. Selanjutnya penulis mengitung besar debit banjir rencana periode ulang 2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun dengan menggunakan metode rasional. Dari hasil perhitungan didapat bahwa nilai koefisien run-off meningkat setiap tahunnya yang mengakibatkan perhitungan debit banjir rencana berubah dan meningkat. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam perencanaan infrastruktur bangunan air atau saluran drainase untuk pengelolaan air perlu dilakukan evaluasi setiap tahunnya dikarenakan tutupan lahan dan nilai koefisien run-off dapat berubah setiap tahunnya.Kata kunci: debit banjir, Kawasan Bandung Utara, koefisien limpasan, perubahan tutupan lahanABSTRACTCibeureum sub-watershed is part of the North Bandung area. The growth in population has resulted in development continuing to increase and due to the cool air conditions and beautiful scenery, the North Bandung area has made much in demand. The result of land use for the construction of villas and tourist areas is that the land changes every year. The North Bandung area is located in a hilly area, composed of volcanic rocks, and has a fairly high rainfall (± 1500 - 2500 mm / year), so this is a good water catchment area meaning has great groundwater potential. However, land changes that continue to occur have resulted in the infiltration area not functioning properly and increasing the discharge of surface run-off. As a result, a water resource crisis can occur and cause new problems, one of which is flooding downstream of the river. Therefore, it is necessary to know the extent of land-use change in the Cibeureum Sub-watershed and its impact on the amount of run-off discharge downstream of the Subwatershed. In this study, we analyzed land changes and the run-off coefficient in the Cibeureum sub-watershed in 2006, 2009, 2011, 2015, 2016, and 2017. Next, we calculated the flood discharge plans for the return period of 2, 5, 10, 20, 50, and 100 years using the rational method. From the results, it was found that the run-off coefficient value increases every year and it causes the design flood discharge to changes and increases as well. Therefore, it can be concluded that in planning water infrastructure or drainage channels for water management it is necessary to evaluate every year because the land cover and run-off coefficient values can change every year.Keywords: flood discharges, North Bandung Area, run-off coefficient, land-use change
Analisis Potensi Gempa di Selatan Pulau Jawa Berdasarkan Pengamatan GPS Irwan Meilano; Agidia L. Tiaratama; Dudy D. Wijaya; Putra Maulida; S. Susilo; Intan H Fitri
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.352

Abstract

ABSTRAKPulau Jawa merupakan salah satu pulau yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dengan aktivitas tektonik yang sangat aktif. Hal ini dikarenakan Pulau Jawa terletak di zona konvergensi Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Aktivitas tektonik ini menghasilkan kegempaan di zona subduksi dan sesar di daratan Penelitian ini menganalisis pola vektor kecepatan yang dihasilkan melalui pengolahan data stasiun pengamatan GPS (Global Positioning System) CORS (Continuously Operating Reference Station) BIG (Badan Informasi Geospasial) di wilayah Pulau Jawa bagian selatan. Data koordinat harian dianalisis dengan metode PCA (Principal Component Analysis) untuk memisahkan sinyal tektonik berupa data deret waktu global dan non-tektonik berupa data deret waktu lokal dengan penerapan aturan pemilihan varian dominan nilai eigen dalam pembetukan PC (Principal Component) dan orthogonal vektor eigen sebagai bobot dalam meminimalkan korelasi. Hasil dari data deret waktu global dan lokal digunakan untuk menghitung besar kecepatan pergeseran dari tahun 2011 sampai 2018. Hasil pengolahan menunjukkan besar resultan vektor kecepatan pada data awal berselang 0,06 sampai 10,46 mm/tahun, pada data global antara 0,06 mm/ tahun sampai 10,39 mm/tahun, dan data lokal sebesar 0,0037 sampai 1,99 mm/tahun. Variasi spasial vektor kecepatan pengamatan GPS data domain PCA menunjukkan variasi pergeseran horizontal di wilayah Banten bergerak ke arah timur laut; Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah bergerak ke arah tenggara; dan Jawa Timur bergerak ke arah timur laut. Hasil dari inversi data pergeseran terhadap slip pada zona subduksi, menunjukkan terjadinya kekurangan slip atau terjadi coupling pada zona subduksi Jawa bagian timur dan barat, sementara terjadi kelebihan slip pada bagian tengah yang merupakan efek postseismic dari gempa Pangandaran 2006.Kata kunci: GPS, PCA, potensi gempa, vektor kecepatanABSTRACTJava is one of the island that has a high population density with very active tectonic activity. This is because Java Island is located in the convergence zone of the Indo-Australian Plate and the Eurasian Plate. This tectonic activity produces seismicity in subduction zones and inland faults. This study analyzes the velocity vector patterns generated through data processing of the GPS (Global Positioning System) CORS (Continuously Operating Reference Station) BIG (Geospatial Information Agency) observation station in the southern part of Java. Daily coordinate data were analyzed using PCA (Principal Component Analysis) method to separate time series of tectonic signals as global data and non-tectonic time series data as local data by applying the rules for selecting dominant variants of eigen values for PC formation and orthogonal eigen vectors as weights in minimizing correlations. The results from global and local time series data were used to calculate the magnitude of the displacement velocity from 2011 until 2018. The processing results show the resultant velocity vector in the initial data intermittent 0.06 to 10.46 mm/year, global data from 0.06 to 10.39 mm/year, and local data of 0.0037 to 1.99 mm/year. The spatial variation of the velocity vector in PCA domain data shows the horizontal displacement in the Banten region to the northeast; West Java, Yogyakarta Special Region, Central Java to southeast; and East Java moving to northeast. The results of the inversion of the surface displacement to slip data in the subduction zone show that there is a slip deficiency or coupling occurs in the subduction zones of Eastern and Western Java, while there is excess slip in the Central Java which is a post-seismic effect of the 2006 Pangandaran earthquake.Keywords: earthquake potential, GPS, PCA, velocity vector
Prediksi Tipe Longsor di Desa Clapar Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Dipol-dipol Muhardi Muhardi; Wahyudi Wahyudi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i2.290

Abstract

Desa Clapar merupakan salah satu desa di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, yang tergolong daerah rawan longsor. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi tipe longsor dengan menganalisis bidang gelincir berdasarkan sebaran nilai resistivitas secara lateral. Penelitian ini mengaplikasikan metode geolistrik resistivitas dengan konfigurasi dipol-dipol. Pengukuran dilakukan di dua lokasi, yaitu lereng bukit sebelah barat dan timur kawasan pemukiman, yang masing-masing terdiri dari 2 dan 3 lintasan pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bidang gelincir pada lokasi pertama mempunyai nilai resistivitas sebesar 2,93 - 47,43 Ωm, berupa lapisan lempung dengan bidang berbentuk relatif rata pada kedalaman 4,5 - 15,0 meter. Demikian juga dengan bidang gelincir pada lokasi kedua yang mempunyai nilai resistivitas sebesar 1,32 - 14,38 Ωm, berupa lapisan lempung dengan bidang berbentuk relatif rata pada kedalaman 1,5 - 7,0 meter. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tipe longsor di Desa Clapar diprediksi sebagai longsor translasi.Kata kunci: bidang gelincir, Clapar, konfigurasi dipol-dipol, metode geolistrik resistivitas, tipe longsor Clapar Village is one of the village in Banjarnegara Regency, Central Java, which is classified as landslides prone area. This study aims to predict the landslides type by analyzing the slip surface based on the distribution of resistivity values laterally. This study applied the geoelectrical resistivity method of dipole-dipole configuration. The measurements were conducted in twoareas, on the hill slope western and eastern of the settlement area, which was consist of 2 and 3 lines, respectively. Thestudy results show that the slide surface in the first area has resistivity value of 2.93 - 47.43 Ωm inferred as relatively flat clay layer at a depth of 4.5 - 15.0 meters. While The slip surfacein the second area has a similar case with resistivity value of 1.32 - 14.38 Ωm inferred as a clay layer at a depth of 1.5 - 7.0 m. In addition, the landslides type in Clapar Village is predicted as a translational landslides. Keywords: slip surface, Clapar, dipole-dipole configuration, geoelectrical resistivity method, landslides type