cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Mengukur Peluang Kejadian Gempa Bumi dengan Lompatan Magnitudo di Wilayah Pulau Sumatera Samsul Anwar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 3 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.849 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i3.263

Abstract

Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah yang rawan terjadinya gempa bumi di Indonesia. Gempa bumi dengan magnitudo (M) yang besar dapat terjadi tanpa didahului oleh gempa bumi dengan magnitudo yang lebih kecil. Dalam penelitian ini kejadian tersebut diistilahkan sebagai gempa bumi dengan lompatan magnitudo. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur peluang terjadinya gempa bumi di wilayah Pulau Sumatera dengan lompatan magnitudo pada interval tertentu. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini didasari pada konsep probabilitas kejadian saling bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peluang terjadinya gempa bumi di wilayah Pulau Sumatera dengan lompatan magnitudo pada interval tertentu cenderung menjadi semakin kecil seiring bertambah besarnya lompatan magnitudo yang dianalisis terutama pada interval 5,6 – 6,7. Sedangkan untuk gempa bumi dengan M ≥ 7,6; analisis probabilitas menunjukkan adanya peningkatan peluang terjadinya gempa bumi di wilayah Pulau Sumatera dengan lompatan magnitudo pada interval tersebut meskipun dengan peluang yang cukup kecil.
Pemodelan 2D dan 3D Metode Geomagnet untuk Interpretasi Litologi dan Analisis Patahan di Jalur Sesar Oyo Heningtyas Heningtyas; Nugroho Budi Wibowo; Denny Darmawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 3 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3570.083 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i3.157

Abstract

Gempa susulan setelah gempabumi Yogyakarta Tahun 2006 memiliki hiposenter bukan di sepanjang Sesar Opak tapi cenderung di sekitar unidentified fault yang berjarak 10 – 15 km sebelah timur pegunungan Gunung Kidul. Unidentified fault tersebut berkorelasi dengan keberadaan jalur Sesar Oyo. Metode geofisika yang dapat diterapkan untuk mengidentifikasi keberadaan jalur sesar adalah metode geomagnet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran anomali medan magnet di sekitar jalur Sesar Oyo, mengetahui susunan formasi dan jalur Sesar Oyo berdasarkan pemodelan geomagnet. Pengambilan data dilakukan menggunakan PPM dengan 35 titik pengamatan dan spasi antar titik pengamatan 1,5 km. Pengolahan data dilakukan dengan koreksi variasi harian, koreksi IGRF(International Geomagnetics Reference Field), RTP (Reduction to Pole) dan Upward Continuation. Pemodelan dilakukan dengan menganalisis anomali medan magnet yang telah direduksi ke kutub dan kontinuasi ke atas dengan ketinggian 2500 m. Hasil analisa menunjukkan rentang nilai anomali medan magnet di kawasan penelitian adalah 180 nT – 660 nT, yang menunjukkan kontras keberadaan blok sesar. Hasil pemodelan 2D menunjukkan kawasan penelitian didominasi oleh 3 formasi batuan utama yaitu batubasalt-andesitik Formasi Nglanggran, batupasir Formasi Sambipitu, dan batugamping Formasi Wonosari. Hasil pemodelan 3D menunjukkan Sesar Oyo merupakan sesar geser dengan kedalaman 150 – 300 m, jalur sesar tersebut terbagi menjadi 2 segmen yaitu dengan arah N120°E sepanjang 5,8 km dan N160°E dengan panjang 2,5 km.
Ancaman Kekeringan Meteorologis di Pulau Kecil Tropis akibat Pengaruh El-Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif, studi kasus: Pulau Bintan Ida Narulita; Rahmawati Rahayu; Eko Kusratmoko; Supriatna Supriatna; Muhamad Djuwansah
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 3 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1685.117 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i3.252

Abstract

Sumberdaya air Pulau Bintan sangat tergantung pada curah hujan, informasi ancaman kekeringan meteorologis sangat diperlukan dalam pengelolaan sumberdaya air di masa mendatang. Faktor kekeringan meteorologi merupakan faktor utama yang berpotensi menurunkan daya dukung sumberdaya air pulau. Pulau Bintan adalah pulau kecil dengan batuan penyusunnya granit dan batupasir Tuf, mempunyai daya-simpan dan berkelulusan air rendah. Aktifitas perekonomian dan tingkat pertumbuhan penduduknya yang tinggi, berpotensi menurunkan daya dukung sumberdaya air. Studi ini melakukan analisis curah hujan yang menghasilkan informasi ancaman kekeringan di pulau Bintan karena fenomena iklim El-Nino dan IOD+. Data dasar yang digunakan adalah data curah hujan observasi Kijang periode 1980 – 2017 serta data curah hujan satelit CHIRPS, dengan resolusi spasialnya 0,05 ° x 0,05 ° periode 1981 – 2017. Hubungan antara hujan dan fenomena iklim dianalisis dengan metode statistik fungsi waktu. Ancaman kekeringan dianalisis dengan Standardized Precipitation Indeks (SPI) periode defisit 3, 6 dan 12 bulan. Hasil analisis menunjukkan curah hujan di pulau Bintan sangat sensitif terhadap fenomena iklim, korelasi sangat kuat antara curah hujan dengan ENSO dengan nilai R= - 0,75 dan dengan IOD dengan nilai R=-0,75. Hal ini menyebabkan musim kemarau yang cukup panjang saat terjadi El-Nino di tahun 1982, 1997 dan 2015. Hasil analisis SPI menunjukkan fenomena El-Nino 1997 menyebabkan kekeringan dengan intensitas yang sangat tinggi (ekstrim kering), El-Nino 2015 menyebabkan kekeringan dengan intensitas tinggi, durasi panjang. El-Nino lemah tahun 2002, sedikit mempengaruhi curah hujan. Adanya ancaman kekeringan di Pulau Bintan apabila terjadi fenomena iklim El-Nino dan IOD (+). Ancaman semakin tinggi bila kedua moda fenomena terjadi bersamaan. Pengelolaan sumberdaya air di pulau Bintan perlu mempertimbangkan fenomenaiklim (ENSO dan IOD), agar dampak negatif yang akan ditimbulkan dapat ditekan.
Rekonstruksi Model Bawah Permukaan Sesar Palu Berdasarkan Hasil Relokasi Hiposenter Mohamad Ramdhan; Priyobudi Priyobudi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1489.918 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v11i1.293

Abstract

Relokasi hiposenter merupakan teknik umum yang digunakan untuk memahami kondisi tektonik di suatu area. Studi ini menggunakan hasil relokasi hiposenter dari katalog gempabumi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hiposenter-hiposenter tersebut digunakan untuk merekontruksi kondisi bawah permukaan di bawah Sesar Palu-Koro (PK) pada segmen Palu-Donggala. Rekonstruksi bawah permukaan menunjukkan bahwa Sesar Palu terdiri dari satu sesar utama dan dua sesar sintetik. Sesar utama menempati sisi timur lembah Palu. Sesar ini berupa bidang lurus berarah utara-selatan dari utara Donggala hingga Kota Palu. Pada sesar utama inilah gempabumi dengan magnitudo 7,5 Mw terjadi. Sesar sintetik berupa bidang lengkung berarah barat laut-tenggara membentuk sudut terhadap sesar utama. Hasil rekonstruksi juga menunjukkan adanya beberapa flower structure yang umum terjadi dalam sebuah sistem sesar mendatar.
Analisis Potensi Likuifaksi di Daerah Cekungan Bandung Berdasarkan Data Standart Penetration Test (SPT) Rima Putri Febriana; Selly Feranie; Adrin Tohari
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2309.228 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v11i1.277

Abstract

Daerah Cekungan Bandung tersusun oleh endapan aluvial yang terdiri atas lapisan lempung dengan sisipan lapisan pasir yang belum mengalami pemadatan sehingga mempunyai potensi likuifaksi. Makalah ini menyajikan hasil analisis potensi likuifaksi di wilayah Cekungan Bandung berdasarkan data Standard Penetration Test (SPT) dengan mempertimbangkan percepatan tanah puncak akibat gempa bumi Sesar Lembang (Mw 6,5) dan akibat gempa bumi subduksi (Mw 7,0).  Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi likuifaksi terjadi pada lapisan pasir di kedalaman yang bervariasi dan pengaruh percepatan tanah puncak terhadap potensi likuifaksi akibat gempa bumi Sesar Lembang lebih besar daripada gempa bumi subduksi. Mempertimbangkan ketebalan lapisan pasir, penurunan tanah total akibat likuifaksi dapat mencapai 40,66 cm akibat gempa bumi Sesar Lembang dan penurunan tanah total hingga 26,08 cm akibat gempa bumi di zona subduksi.
Groundwater Fluctuation Simulation in Pagelaran Landslide, Cianjur, Indonesia Twin Hosea Widodo Kristyanto; Asriza Asriza; R. Syahputra; Join Wan C. Sigalingging; Tito L. Indra
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.977 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v11i1.218

Abstract

Pagelaran is one of area in Southern Part of Cianjur. This area has high susceptibility of landslide. One of landslide in Pagelaran, which happened on December 2014, has destroyed 13 houses and damaged vital road along 200 m. A year later, it started to conduct observation regarding the slope. The research aimed to know the role of groundwater level fluctuation in Pagelaran Landslide. The geometry of slope and its slip surface were determined using Electrical Resistivity Tomography. The actual groundwater level was determined by measuring it from surrounding artesian wells. Parameters angle of friction, cohesion, and unit weight were obtained from laboratory tests toward undisturbed soil samples. These data were used for analyzing the actual slope stability condition. Then it was conducted the simulation of slope stability in accordance with fluctuations of groundwater level. The simulation was done by raising the groundwater level with range of 0.5 m. The results showed that the actual slope stability was in critical condition with the value of safety factor 1.044. It also showed that slope stability waned as rising of groundwater level. The value of safety factor was reduced by an average of 0.034 in each 0.5 m up of groundwater level until it became failure (FS<1) when the groundwater level was 0.95 m above the actual position. Therefore, it can be concluded that the position of groundwater level played a role toward the stability of slope in Pagelaran. The rising 0.5 m of groundwater level position will reduce the slope safety factor by 0.034. The slope will become failure if the position of groundwater level rises by 0.95 meter from the actual position. To prevent the rising of groundwater level in rainy season, which can trigger landslide, it can be attached pipes along the slope body to flow the groundwater through them.
Pemodelan Aliran Bahan Rombakan (Debris Flow) di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat Yohandi Kristiawan; Sumaryono Sumaryono
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5948.455 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v11i1.220

Abstract

Aliran bahan rombakan (debris flow) adalah fenomena di mana percampuran air, lumpur, dan kerikil sampai bongkah mengalir dengan kecepatan tinggi. Karena aliran debris flow memiliki viskositas dan kecepatan yang tinggi, maka bersifat sangat merusak karena mengangkut material yang dilalui di sepanjang sungai sehingga volume dan energinya semakin meningkat dan dapat merusak rumah, jembatan, dan infrastruktur, dan mengakibatkan korban jiwa. Aliran bahan rombakan atau sering disebut banjir bandang merupakan jenis gerakan tanah yang sering terjadi di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kejadian banjir bandang sering terjadi selama kurun 10 tahun terakhir yaitu pada tahun 2006, 2012, 2014, dan 2017. Dampak banjir bandang menyebabkan banyak korban jiwa dan beberapa jembatan utama roboh sehingga jalur transportasi terputus serta sebagian masyarakat terpaksa mengungsi. Topografi di daerah Sambelia yang berupa perbukitan terjal dengan hulu sungai yang sempit menjadikan beberapa daerah aliran sungai di wilayah ini rentan terjadi bendungan alam penyebab aliran bahan rombakan. Berdasarkan interpretasi citra menunjukan bahwa daerah sambelia merupakan kipas alluvial. Upaya mitigasi terhadap ancaman gerakan tanah salah satunya dilakukan dengan melakukan pemodelan. Rapid Mass Movement Simulation (RAMSS) merupakan salah satu program untuk mensimulasikan aliran debris. Pemodelan dilakukan dengan memasukkan parameter-parameter tertentu seperti volume, friksi, DEM, dll. Hasil pemodelan ini berupa zonasi daerah bahaya aliran debris/banjir bandang. Sehingga hasil pemodelan diharapkan dapat menjadi salah satu kajian atau rujukan dalam mitigasi bencana gerakan tanah di Kecamatan Sambelia, Nusa Tenggara Barat.Kata kunci : pemodelan, banjir bandang, aliran bahan rombakan, sambelia, ramms
Vulnerability of The Garut District Region in Tarogong Kalam, Tarogong Kidul, Garut Kota, And Karang Pawitan Sub-District Based on Microtremor Measurement Rahmat Setyo Yuliatmoko; Telly Kurniawan; Thomas Hardy; Yusuf Hadi Permana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4826.264 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v11i1.280

Abstract

The Tasikmalaya M 7.3 earthquake on September 2, 2009 had an impact on Garut, damaged infrastructure and claimed many lives. From the search results there were five areas that were severely damaged by tectonic earthquake shocks, which included Pemeungpeuk, Cisompet, Cikelet, Peundeuy and Banjarwangi Subdistricts, so that earthquake mitigation measures were needed. One of the mitigations that can research how the impact is if the potential for earthquake disasters occur below the southern surface of Java. The final objective of this research is to map disaster-prone zones in Tarogong Kaler, Tarogong Kidul, Garut City, and Karang Pawitan, Garut Subdistrict, based on dominant frequency values, Vs30, seismic vulnerability indexes, and GSS (Ground Shear Strains) so that they can know the land movement that is. Retrieval of data in this study by measuring geophysicaly methods in the field. Processing data using HVSR (Horizontal to Vertical Spectra Ratio) method, then mapped with ArcGis to interpret the zoning of the study area. Based on the research, we known that the dominant frequency distribution value is between 1-5.2 Hz. The seismic vulnerability index values calculated the study area are between 3 – 45, GSS values in the study area between 3 ×10-4 - 42×10-4. By looking at the spatial distribution of the values of f0, Kg and GSS the areas of Karangmulya, Jatiasih, Sidanggalih and Godog villages are types of young volcanic sediments classified as soft soils that are easily to wave amplification and earthquake vibrations, so that they are easily damaged during large earthquakes. in this region qualify as earthquake resistant buildings to minimize damage and losses, while Sukabakti, Kersamenak, Sukajaya, and Mekargalih villages in the west with the geological conditions of the surrounding area which is hard land so that it will be safer when an earthquake occurs.
Identifikasi Situs Geologi Cekungan Soa - Flores, Sebagai Salah Satu Warisan Geologi Agustina Djafar; Ifan Yoga Pratama Suharyogi; Unggul Prasetyo Wibowo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i2.260

Abstract

ABSTRAK Cekungan Soa secara geografis terletak pada koordinat 80 39’ 00” LS - 80 46’ 00” LS dan 1210 03’ 00” BT - 1210 13’ 00” BT dan secara administratif terletak di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Cekungan Soa memiliki keragaman geologi yang unik dan dapat dikembangkan menjadi destinasi geowisata yang menarik. Tujuan studi ini adalah untuk menginvetariasi keragaman geologi di Cekungan Soa, mengklasifikasikan peringkat nilai keragaman geologinya berdasarkan manfaatnya untuk selanjutnya dilakukan penilaian secara kuantitatif sebagai situs warisan geologi (geoheritage), dan merekomendasikan potensi situs warisan geologi tersebut untuk dikonservasi dalam bentuk Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG). Metode yang digunakan dalam studi ini berdasarkan “Standar teknis inventarisasi keragaman geologi dan Petunjuk Teknis Asesmen Sumberdaya Geologi” yang dikeluarkan oleh Pusat Survei Geologi pada tahun 2017. Ada 24 situs keragaman geologi di Cekungan Soa, yang memiliki peringkat nilai keragaman geologi menengah hingga terkemuka berdasarkan rekaman ilmiah dan fenomena geologi khusus untuk tujuan pendidikan maupun penelitian, sehingga pantas dijadikan sebagai geoheritage. Salah satunya adalah Situs Mata Menge yang memiliki nilai scientific sangat tinggi (91,25%). Dari hasil studi, kawasan Cekungan Soa direkomendasikan untuk dikonservasi menjadi KCAG.Kata kunci: Cekungan Soa, geowisata, keragaman geologi, warisan geologi, Kawasan Cagar Alam GeologiABSTRACT Soa Basin geographically situated at 80 39’ 00” S - 80 46’ 00” S and 1210 03’ 00” E - 1210 13’ 00” E in Ngada and Nagekeo District, Flores Island, East Nusa Tenggara. Soa Basin has unique geodiversity and can be developed into an interesting geotourism destination. This study aims to inventory the geological sites in the Soa Basin, to classify them as the geoheritage and to recommend them to be conserved in the form of Geoconservation Area (GCA). The method used in this study is based on the “Technical Standard of Geological Diversity Inventory and Technical Guidelines for Geological Resource Assessment” issued by the Geological Survey Center in 2017. There are 24 sites of geodiversities in the Soa Basin, which rank intermediate to prominent geological diversity values based on its scientific records and geological phenomena specifically for educational and research purposes, so the Soa Basin deserve to become as a geoheritage. Mata Menge, one of the site, has a very high scientific value of 91.25%. From the results of the assessment, it is recommended that the Soa Basin area be conserved as a GCA.Keywords: Soa Basin, geotourism, geodiversity, geoheritage, Geoconservation Are
Analisis Kerentanan Seismik dan Model Vs30 Berdasarkan Survei Mikrotremor HVSR dan SPAC (Studi Kasus: Kota Banda Aceh) Andrean Vesalius Hasiholan Simanjuntak; Yusran Yusran; Muksin Umar; Rahmati Rahmati
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i2.324

Abstract

ABSTRAK Banda Aceh dikategorikan sebagai kota besar yang rentan akan bahaya gempa bumi karena terletak pada sistem tektonik aktif yaitu Patahan Sumatra yang tersegmentasi yaitu Seulimeum di bagian timur dan Aceh di bagian barat. Aktivitas kedua segmen yang membangkitkan kegempaan lokal dapat memberikan potensi kerusakan besar pada masa mendatang. Potensi tersebut dapat dipelajari dengan analisis kerentanan seismik berdasarkan parameter mikrotremor seperti nilai frekuensi (f0), amplifikasi (A), kerentanan seismik (Kg) dan kecepatan geser (Vs30). Dalam studi ini, kami melakukan survei mikrotremor Horizontal Vertical Spectral Ratio (HVSR) dan SPatial AutoCorrelation (SPAC) pada daerah Peukan Bada yang menjadi bagian Kota Banda Aceh. Sebanyak 19 titik HVSR dianalisis dengan perbandingan spektrum H/V dan 3 titik SPAC dianalisis dengan F-K analisis pada kurva dispersi gelombang rayleigh untuk mendaptkan nilai kecepatan geser pada kedalaman 30m (Vs 30). Hasil parameter yang diperoleh yaitu frekuensi 2.5 – 4 Hz dan periode 0 – 0.5 detik berasal dari formasi sedimen aluvial muda (Qh) yang terbentuk sejak Kenozoik. Amplifikasi tertinggi berada bagian barat dengan nilai > 1, sedangkan bagian barat nilai kecil < 1 karena dekat dengan formasi batuan gamping tersier (Murl). Sekitar 63% wilayah studi area sangat rentan terhadap gempabumi karena nilai indeks kerentanan yang tinggi dari formasi batuan lunak atau tidak kompak. Selain itu, Vs30 yang diperoleh berkisar pada nilai 200-250 m/s yang berasal dari formasi peralihan batuan lunak-keras. Kondisi tersebut membuat indeks kerentanan seismik bernilai cukup tinggi dan gelombang gempa bumi berpotensi dikuatkan karena melewati formasi batuan-batuan lunak. Hasil yang diperoleh dari studi ini diharapkan bisa menjadi pendukung mitigasi dan memahami kondisi geologi Banda Aceh dari segi kerentanan seismik.Kata kunci: mikrotremor, kerentanan seismik, Banda AcehABSTRACT Banda Aceh is categorized as a city that is prone to earthquake as it is located in an active tectonic system, named the Sumatran Fault, stretched from Seulimeum in the east and Aceh in the west. The activities of the two segments with its local seismicity can potentially caused major damage in the future. This potential can be studied by seismic susceptibility analysis based on microtremor parameters such as frequency (f0), amplification (A), seismic susceptibility (Kg) and shear velocity (Vs30). In this study, we conducted a HVSR and SPAC microtremor survey in the Peukan Bada at the outskirt of Banda Aceh. A total of 19 HVSR points were analyzed with a comparison of the H/V spectrum and 3 SPAC points analyzed by F-K analysis on the Rayleigh wave dispersion curve to obtain the value of shear velocity at a depth of 30m (Vs 30). The parameter results obtained are a frequency of 2.5 - 4 Hz and a period of 0 - 0.5 seconds derived from the formation of young aluvial sediments (Qh) formed since Cenozoic. The highest amplification is in the western part with a value of> 1, whereas the western part has a small value <1 because it is close to the tertiary limestone (Murl) rock formation. About 63% of the study area is highly vulnerable to earthquakes due to the high susceptibility index values of soft or non-compact rock formations. In addition, the value of Vs 30 obtained is in the range of 200-250 m / s which is derived from the intermediate soft-hard rock formation. These conditions make the seismic vulnerability index is recorded as high enough and earthquake waves have the potential to be amplified as they pass through soft rock formations. The results from this study are expected to be a supporting for mitigation measurement and for having greater understanding to the geological conditions of Banda Aceh in terms of seismic vulnerability. Keywords: microtremor, seismic susceptibility, Banda Aceh