cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Interpretasi Bawah Permukaan Gunung Merapi dengan Metode Magnetotellurik Ilham Nur Dien; Sulistyani Sulistyani; Anas Handaru; Dewi Sri Sayudi; Agus Budi Santoso
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.225

Abstract

ABSTRAKSurvei magnetotellurik (MT) telah dilakukan di Gunung Merapi dengan menggunakan alat Phoenix Geophysics MTU5 pada Oktober 2016 dan Mei 2017. Pengukuran dilakukan dengan jarak tiap titik sekitar 1 km, durasi pengukuran untuk satu titik ±12 jam, dan lebar dipole 50 s/d 80 meter utara-selatan dan timur barat. Sebanyak 8 titik sounding digunakan untuk menyusun profil resistivitas 2-D di lereng utara dan selatan. Hasil menunjukkan bahwa resistivitas bawah permukaan Merapi terdiri dari 2 (dua) karakteristik nilai resistivitas yaitu zona resistivitas tinggi dengan nilai 183-50.000 ohm.m dan zona resistivitas rendah dengan nilai 20-175 ohm.m. Zona resistivitas tinggi dapat diinterpretasikan sebagai zona produk erupsi sebelumnya yaitu aliran lava dan material piroklastik lainnya. Sedangkan zona resistivitas rendah diinterpretasikan sebagai kantong magma terbagi menjadi dua bagian, bagian atas berada pada kedalaman 0 s/d 2.000 meter dengan diameter mencapai 1.000 meter yang mengindikasikan sebuah kantong magma dangkal, sedangkan bagian bawah terlihat menerus dari kedalaman 3.000 s/d 11.000 meter sebagai kenampakan dapur magma yang cukup besar dengan diameter rata-rata sekitar 2.000 meter yang diindikasikan sebagai kantong magma dalam. Hasil zonasi ini senada dengan posisi hiposenter dari kejadian gempa vulkanik periode tahun 2010. Selain itu, terlihat adanya struktur yang diindikasikan sebagai sesar yang memotong lintasan di sekitar puncak.Kata kunci: Gunung Merapi, kantong magma, magnetotellurik, resistivitasABSTRACTMagnetotelluric (MT) survey has been carried out on Phoenix Geophysics MTU-5 in October 2016 and May 2017. The measurement has been done with the distance between them approximately 1 km, its duration of each sounding was 12 hours, and dipole length varied from 50-80 meters on North-South and East-West direction. Here we use the result from 8 MT sounding to construct a 2-D electrical resistivity image of the northern and southern flank of Merapi. The results show that the subsurface resistivity in Merapi consists of two types of resistivity features, i.e. the high resistivity zone which having resistivity value 183-50.000 ohm.m and the low one which varied from 20-175 ohm.m. The high resistivity zone are the lava flow and another pyroclastic material, while the low resistivity zone interpreted as magma chamber divided into two parts: upper part, at a depth of 0-2,000 meters with 1,000 meters diameter which is indicated as a shallow magma chamber, lower part, continuously from the depth of 3,000-11,000 meters as the large magma chamber with an average diameter of about 2,000 meters. The zone can be correlated to the hypocenter position taken from the volcanic earthquake event of 2010 period. In addition, there is a structure which indicated as a fault that cuts the trajectory around the summit. Keywords: Merapi Volcano, magma chamber, magnetotelluric, resistivity
Potensi Bahaya Gempa Bumi Berdasarkan Kondisi Tapak Lokal di Daerah Amlapura, Karangasem, Bali Rahayu Robiana; Athanasius Cipta
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 3 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i3.372

Abstract

ABSTRAK Bahaya gempa bumi dapat dievaluasi setidaknya dari dua sudut pandang, yaitu sumber dan area yang berpotensi terdampak. Dari sudut pandang area berpotensi terdampak, kondisi geologi lokal memegang peranan penting dalam memperbesar dampak kerusakan akibat guncangan gempa bumi. Kecepatan gelombang geser merupakan parameter penting untuk mengevaluasi perilaku dinamis tanah di bawah permukaan. Pemodelan profil kecepatan menggambarkan kedalaman batuan sedimen dan batuan dasar di Amlapura yang menunjukkan ketebalan sedimen lunak yang bervariasi mulai dari 50 m hingga 150 m. Indeks kerentanan terhadap gempa bumi yang dihitung berdasarkan parameter faktor amplifikasi, frekuensi dominan, serta percepatan tanah puncak (pga) pada batuan dasar digunakan untuk menilai potensi dampak guncangan gempa bumi seperti likuefaksi/ gerakan tanah/ kerusakan berat pada bangunan di Amlapura, sehingga diketahui pada pga 0,3 g atau lebih besar, potensi longsor, bangunan runtuh dan likuefaksi meluas terutama di bagian timur kota Amlapura dimana morfologi pedataran bertemu morfologi pebukitan bergelombang.Kata kunci: Amlapura, bahaya gempa bumi, kecepatan gelombang geser, kondisi tapak lokal, percepatan tanah puncakABSTRACT Earthquake hazard can be evaluated at least from two point of views, the source and area which potentialy affected. From the perspective of the potential affected area, local geological conditions play an important role in magnifying the impact of damage due to earthquake shocks. Shear wave velocity is an important parameter for evaluating the dynamic behavior of subsurface soils. Shear wave profile modelling illustrates the depth of sedimentary rocks and bedrock in Amlapura which shows the thickness of soft sediments that vary from 50 m to 150 m. An earthquake susceptibility index calculated based on parameters of amplification factors, dominant frequency, and peak soil acceleration (pga) on bedrock is used to assess potential impacts of earthquake shocks such as liquefaction / ground motion / heavy damage to buildings in Amlapura, so that it is known at the pga 0.3 g and 0.4 g potential for landslides, buildings collapse and liquefaction extends mainly in the eastern part of the city of Amlapura where the flat meets the the surging hills morphology.Keywords: Amlapura, earthquake hazard, shear-wave velocity, site class, peak ground acceleration
Bencana Kekeringan di Wilayah Taman Bumi Nasional Karangsambung-Karangbolong: Pengontrol, Dampak, dan Ketahanan Sugeng Purwo Saputro; Dwi Ratih Purwaningsih; Rahmi Mulyasari
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v12i1.323

Abstract

ABSTRAKKaranggayam dan Karangsambung di Kabupaten Kebumen termasuk ke dalam zona bahaya tinggi terdampak bencana kekeringan. Kedua daerah tersebut memiliki variasi batuan yang lengkap mulai dari batuan beku, batuan sedimen, hingga batuan metamorf, dan termasuk ke dalam wilayah Taman Bumi Nasional Karangsambung-Karangbolong. Prediksi dan penentuan area yang masih memiliki cadangan air tanah menjadi hal yang vital untuk segera dilakukan guna mengurangi dampak dari bencana tersebut, ditunjang dengan pengetahuan mengenai pengontrol utama dari parameter penyebab bencana kekeringan di daerah Karanggayam dan Karangsambung. Observasi lapangan dan analisis geospasial dipilih menjadi metode karena dinilai lebih efisien untuk penelitian ini, serta didukung dengan hasil analisis statistik dari data sekunder. Fisiognomi tanah, kondisi geologi, dan angka infiltrasi yang merupakan bagian dari delapan karakteristik geografi dan geomorfologi, dinilai menjadi pengontrol utama dari parameter penyebab bencana kekeringan yang terjadi di Karanggayam dan Karangsambung. Ketiga karakteristik tersebut berperan dalam mempersempit kemungkinan area cadangan air tanah menjadi hanya berada di sekitar lembah antiklin dan lereng sayap antiklin bagian selatan-tenggara (S-SE). Seluruh hasil penelitian ini dapat berfungsi untuk membantu pemerintah daerah dan pengelola taman bumi dalam membuat berbagai macam perencanaan dan kebijakan terkait Taman Bumi Nasional Karangsambung-Karangbolong.Kata kunci: bencana, cadangan air tanah, Kebumen, kekeringan, taman bumiABSTRACTKaranggayam and Karangsambung in Kebumen Regency included in the high danger zone affected by drought. Both areas have complete rock variations ranging from igneous, sedimentary, to metamorphic rocks, and are included in the Karangsambung-Karangbolong National Geopark. Prediction and determination of areas that still have groundwater reserves are vital to be carried out immediately to reduce the disaster’s impact, supported by the knowledge of the main controllers of drought-causing parameters in both areas. Field observations and geospatial analysis were chosen because they were considered more efficient and supported by the results of statistical analysis from secondary data. Soil physiognomy, geological conditions, and infiltration rates are considered the main controllers causing drought disasters in Karanggayam and Karangsambung areas. These three characteristics narrow down the possibility that the groundwater reserve area is only around the anticline valley and the south-southeast (S-SE) side of the anticline wing. All of the results of this study can help local governments and geopark management to make various plans and policies related to the Karangsambung-Karangbolong National Geopark.Keywords: disaster, groundwater reserves, Kebumen, drought, geopark
Pengaruh Airlaut Terhadap Parameter Kuat Geser Endapan Aluvial di Kota Semarang dan Dampaknya terhadap Daya Dukung Wilayah Kota Dian Agus Widiarso
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i1.389

Abstract

Dalam perencanaan sebuah kawasan perkotaan, sangatlah penting memperhatikan sifat keteknikan tanah. Hal ini disebabkan karena infrastruktur penting memerlukan kestabilan tanah sehingga bangunan diatasnya kuat berdiri. Salah satu sifat fisik tanah yang perlu dilakukan kajian adalah Sudut Gesek Dalam dan Kohesi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan nilai Sudut Gesek Dalam dan Kohesi antara daerah yang terkena pengaruh airlaut dan tidak terpengaruh airlaut. Metode yang dilakukan dengan uji ANOVA dan hasil uji metode LSD (Least Significance Different). Hasil uji ANOVA nilai Sudut Gesek Dalam diketahui nilai Fhitung sebesar 19,379 dengan signifikansi 0,000, dan hasil LSD (Least Significance Different) diketahui selisih 11,1414 dengan signifikansi perbedaan 0,000. Terdapat perbedaan antara  Sudut Gesek Dalam area terkena pengaruh airlaut dan tidak terpengaruh airlaut. Hasil uji ANOVA nilai Kohesi diketahui nilai Fhitung sebesar 1,003 dengan signifikansi 0,381. Hasil metode LSD (Least Significance Different) menunjukkan selisih 0,08986 dengan signifikansi perbedaan 0,246. Adanya signifikansi selisih yang lebih besar dari 0,025. Tidak terdapat perbedaan nilai Kohesi antara area terkena pengaruh airlaut dan tidak terpengaruh airlaut. Perbedaan nilai Sudut Gesek Dalam dalam sebuah litologi di daerah terkena airlaut dan tidak terkena airlaut perlu mendapatkan perhatian dalam sebuah perencanaan infrastruktur bangunan karena berpengaruh terhadap adanya dukung tanah di daerah tersebut
Kontrol Struktur Geologi Terhadap Pola Lorong Gua Karst Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat Selasian Gussyak; Dicky Muslim; Euis Tintin Yuningsih
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i1.399

Abstract

Penelitian ini membahas pola pembentukan lorong rongga/gua yang memiliki sungai bawah tanah berdasarkan pengaruh struktur geologi yang berkembang pada Karst Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. 2 fitur gua yang memiliki sungai bawah tanah ditemukan terdiri dari Gua Sangiran - Gua Cipariuk dan Gua Cilutung - Gua Bojong, selanjutnya dilakukan pemetaan susur gua terhadap gua-gua tersebut. Berdasarkan hasil analisis pola kelurusan morfologi menunjukkan dominan arah orientasi timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara. Berdasarkan analisis pola kekar pada area mulut gua Cipariuk terindikasi adanya sesar normal yang berarah baratlaut-tenggara dan analisis pola kekar area mulut Gua Cilutung dan Gua Bojong terindikasi adanya sesar mendatar berarah timurlaut-baratdaya. Arah-arah orientasi ini apabila disandingkan dengan arah orientasi pola lorong gua hasil pemetaan susur gua berarah sama yaitu berarah timurlaut-baratdaya dan sesekali berarah baratlaut-tenggara
Evaluasi Model SWAT-MODFLOW Dalam Simulasi Air tanah- Air Permukaan DAS Cisangkuy Abdullah Husna; Rusmawan Suwarman; Agus Mochamad Ramdhan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i1.341

Abstract

Pemahaman komprehensif interaksi hidrologi–hidrogeologi dapat dilakukan dengan pendekatan pemodelan numerik. Salah satu perangkat coupled model interaksi hidrologi-hidrogeologi adalah SWAT-MODFLOW. Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi kemampuan SWAT-MODFLOW dan memahami interaksi hidrologi dan hidrogeologi dengan studi kasus wilayah Daerah Aliran Sungai Cisangkuy, Kabupaten Bandung. Hasil dari simulasi SWAT-MODFLOW dapat memperlihatkan pengaruh air permukaan pada kondisi air tanah di daerah penelitian dengan cukup baik. Hasil ini ditunjukkan dengan nilai  = 0.52 hingga 0.67 dan fluktuasi muka air tanah sebesar 1 hingga 2 m sesuai dengan observasi di lapangan.
Analisis Isotop Alam 18O dan 2H Air Tanah di Cekungan Air Tanah Ketapang Madura Erik Febriarta S.Si, M.Sc.
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i1.314

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi asal usul air tanah di Cekungan Air Tanah (CAT)  Ketapang yang berada di sepanjang pesisir dari utara pulau Madura berdasarkan analisis isotop stabil (18O dan 2H). CAT Ketapang juga berada di Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Madura, dimana memiliki komponen geologi yang unik serta berfungsi sebagai pengatur alami tata air. Sumber sampel air tanah yang digunakan adalah air sumur dangkal dan sumur dalam. Sampel yang gunakan sebanyak 11 sampel air tanah. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan beberapa karakter sistem imbuhan air tanah di CAT Ketapang. Komposisi isotop 18O dan 2H masih mengikuti garis air hujan lokal akan tetapi nilai δ18O dan δ2H telah mengalami proses pengkayaan (enrichment) atau telah mengalami percampuran antara air segar (hujan) dengan air tanah. Air tanah pada dataran alluvial hingga pesisir utara Madura menunjukkan keterkaitan dengan sistem imbuhan air tanah yang bersifat regional dari perbukitan batugamping. Air tanah pada perbukitan karst menunjukkan keteraitan dengan sistem imbuhan yang bersifat lokal dari sistem imbuhan perbukitan batugamping bagian tengah pulau Madura yang mengalir seragam kearah utara.
Pengaruh Struktur Kekar Terhadap Stabilitas Bangunan Jembatan Di Daerah Kokap-Yogyakarta Asmoro Widagdo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i1.319

Abstract

Rekahan pada batuan atau kekar umum dijumpai di lapangan yang dapat terbentuk pada setiap jenis batuan. Kehadiran kekar dapat berpengaruh terhadap infrastruktur yang dibangun diatas batuan yang terkekarkan. Stabilitas tubuh jembatan di daerah kajian  yang berada diatas batuan beku andesit terkekarkan mengalami gangguan akibat gerusan batuan dasar yang terkekarkan.            Penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi jenis kekar dan mengukur kedudukan jurus serta kemiringan sejumlah kekar. Jenis kekar dikelompokan dalam kelompok kekar gerus dan kekar tarik. Kedua jenis kekar ini dianalisis secara terpisah. Terhadap hasil pengukuran kedudukan bidang kekar dilakukan analisis diagram bunga jurus kekar, diagram kipas kemiringan kekar, diagram kontur jurus kekar.            Kehadiran kekar tarik di daerah kajian dengan kemiringan umum yang relative tegak, telah menyebabkan terjadinya gerusan sungai secara vertical. Hal ini menyebabkan bagian tengah sungai yang menjadi dasar jembatan  menjadi semakin dalam. Kekar gerus dengan kemiringan lebih landai di sekitar kekar tarik menyebabkan erosi lateral ke kanan dan ke kiri juga intensif. Kombinasi gerusan ini menyebabkan menggantungnya pondasi jembatan yang dibangun di daerah kajian.
GEMPA BUMI MERUSAK MALUKU TENGAH TANGGAL 16 JUNI 2021 Supartoyo, ST., MT., Supartoyo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 3 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i3.410

Abstract

Sari Daerah Maluku Tengah merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Maluku yang rawan bencana geologi, khususnya gempa bumi dan tsunami karena terletak dekat sumber gempa bumi dan sumber pembangkit tsunami. Tanggal 16 Juni 2021, pukul 11:43:08 WIB telah terjadi gempa bumi merusak dengan magnitudo (M6,1) di daerah Tehoru mengakibatkan 59 rumah penduduk mengalami kerusakan, gerakan tanah/ longsoran, retakan tanah, penurunan tanah dan likuefaksi. Selain itu terjadi tsunami di Pelabuhan Tehoru dengan tinggi rendaman satu meter. Guncangan terkuat terjadi di daerah Tehoru pada skala intensitas gempa bumi VI MMI (Modified Mercally Intensity). Analisis morfotektonik dan parameter gempa bumi memperlihatkan bahwa kejadian gempa bumi merusak tersebut diakibatkan oleh sesar aktif di Teluk Taluti dengan mekanisme sesar normal yang berarah timur laut hingga barat daya (NE – SW). Berdasarkan data bathymetri sesar normal Teluk Taluti diperkirakan sepanjang 28 km dan mampu menghasilkan gempa bumi hingga magnitudo (M 6,8). Kata kunci : gempa bumi merusak, sesar normal Teluk Taluti, skala intensitas VI MMI
Characterization of Landsubsidence Based on Analysis Geotechnical Data and Groundwater Level North Semarang Area, Central Java Province Pramudyo, Tulus
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 3 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i3.435

Abstract

Land subsidence is a geological phenomenon caused by underground compression. This phenomenon develops slowly and not only causes damage to infrastructure but also causes environmental changes and geological disasters. The problem of subsidence in the city of Semarang has caused various damages. This phenomenon is influenced by, among others, the burden of infrastructure and changes in groundwater levels. Subsidence analysis was carried out at two drill points (BM-03 and BM-04). The calculation method based on the loading factor is carried out using the Terzaghi one-dimensional primary consolidation equation with the assumption of additional effective pressure from light structures (residential houses), apartments and runways. Analysis of the calculation of subsidence due to groundwater subsidence using the finite element numerical method with the help of Plaxis 2D 8.6 software. The results of the subsidence analysis based on the loading and subsidence of the groundwater table were then validated with the rate of land subsidence based on subsidence monitoring data using the Geodetic GPS tool for the period 2011 – 2018. Based on the calculation of subsidence in the period 2011 – 2018, the loading is assumed to be 18.4 kN/m2 will cause subsidence in BM-03 of 27.37 cm and BM-04 of 43.49 cm. The decrease in groundwater level for the 2011-2018 period will cause land subsidence in BM-03 of 62.20 cm and BM-04 of 28.90 cm. The results of monitoring the measurement of subsidence that occurred in BM-03 were 96.32 cm and BM-04 were 103.34 cm. The difference in the value of the results of measurements and calculations of subsidence due to loading and subsidence of groundwater is estimated to be caused by natural consolidation factors, with a contribution in BM-03 of 6.75 cm and BM-04 of 30.95 cm.