cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
PRABANGKARA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 22 No 1 (2018): Juni" : 9 Documents clear
Komodifikasi Hijab dalam Budaya Visual di Indonesia Anggrian, Mayang
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.816 KB)

Abstract

Hijab telah mengalami perkembangan pesat di seluruh dunia, pesatnya perkembangan tersebut bahkan juga telah merambah di dunia seni visual maupun entertainment seperti layar lebar, sinetron, reality show dan sebagainya. Ketika kehadiran hijab memasuki ruang-ruang penunjang budaya visual, maka berdampak pada bagaimana hijab direpresentaikan dalam budaya visual. Sebagai contoh dalam perfilman nasional tren hijab mempengaruhi kuantitas film-film religi bernafas Islami secara signifikan. Tingginya respon masyarakat Indonesia terhadap film bernafas religi Islami  kemudian memberi ruang bagi hadirnya komodifikasi hijab. Akibatnya timbulah pergeseran atribut dan nilai keagamaan Islam dalam proses komodifikasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, sedangkan   sumber data yang dianalisa pada penelitian ini berasal dari dokumen pustaka, beberapa video rekaman film religi Islami terakhir tahun 2007 sampai dengan tahun 2017, didukung dengan observasi, wawancara dan studi pustaka terhadap para pelaku perfilman religi Islami dan pemilik bisnis produk hijab. Lebih lanjut penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana eksistensi hijab dalam ruang-ruang budaya visual untuk memahami pola komodifikasi hijab. Sebagai hasilnya, pengaruh hijab dalam seni rupa murni nampak pada ide dan gagasan para perupa untuk mengangkat tema-tema identitas dan pluralitas. Sementara dalam seni media aplikatif seperti film, posisi hijab banyak terekspos dalam film layar lebar religi Islami. Hijab dalam film religi Islamik tidak hanya sekedar atribut muslimah untuk memenuhi tuntutan syariat agama Islam dan sarana propaganda ajaran agama Islam, tetapi juga merupakan komoditas usaha yang menguntungkan, baik bagi produser, sutradara, artis pemeran dalam film dan pemilik bisnis fashion hijab. Lebih lanjut  bentuk komodifikasi hijab dalam perfilman Indonesia adalah komodifikasi khalayak. Khalayak disini tentu saja para hijabers atau muslimah, sementara perusahaan diwakili oleh rumah produksi dan pelaku perfilman seperti produser,sutradara dan aktris, sedangkan pengiklan adalah owner atau pebisnis produk hijab. Produser film,sutradara,aktris dan pebisnis fashion hijab memiliki posisi strategis sebagai agen komodifikasi hijab dalam budaya visual karena memiliki akses untuk melakukan proses komodifikasi  hijab melalui segmen masyarakat tertentu yang dalam hal ini adalah muslimah.Hijab as an identity attribute has experienced rapid development all over the world. This phenomenon is also found in the worlds of visual arts, entertainment such as movie, sinetron (Indonesian drama), reality show and so forth. When the presence of hijab enters the spaces of the visual cultural support, this phenomenon affects how hijab is represented in the visual culture. For example, in the national film industry, the hijab trend affects the quantity of Islamic religious films significantly. The high response and interest of the Indonesian people to the Islamic religious films gives space for the presence of hijab commodification. As a result, there is a shift in religious attributes and values of Islam in the commodification process.This research used qualitative descriptive method. The data source analyzed in this research comes from literature document, some of Islamic religious film recording in 2007 until 2017, supported by observation, interview and literature study to the actors of Islamic religious film and the owner of hijab business. Furthermore, this study described and analyzed how existence of hijab in the spaces of visual culture to understand the patterns of hijab commodification. As a result, the effects of hijab in fine art appears to the ideas of artists to raise the themes of identity and plurality. Meanwhile, in the art of applicative media such as film, hijab position is exposed in many Islamic religious movies. Hijab in Islamic religious films is not only as a Muslim attribute to meet the demands of Islamic Shari’ah and means of propaganda of Islamic teachings, but also a profitable business commodity, both for producers, directors, film artists and business owners of hijab. Furthermore, the form of commodification of hijab in Indonesian cinema is commodification of audiences. The audiences here are of course the hijabers or muslims, while the company is represented by production houses and filmmakers such as producers, directors and actresses, while advertisers are the owner or businessman of hijab products. Film producers, directors, actresses and hijab fashion have strategic positions as hijab commodity agent in visual culture because they have access to commodify the hijab through certain segments of society, which is women Muslims.
Konsep Dan Prinsip Focal Point Pada Desain Game D’kala Adi Putra Yasa, I Wayan; Artayasa, I Nyoman; Mugi Raharja, I Gede
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.334 KB)

Abstract

Game merupakan salah satu produk hasil integrasi antara seni dengan teknologi ditengah berkembangnya industri kreatif saat ini. Dibutuhkan berbagai macam disiplin ilmu untuk menciptakan sebuah game. Pemikiran yang kreatif menjadi suatu konsep dasar untuk mengembangkan sebuah game. Mulai dari merancang ide, menentukan jenis permainan, alur permainan dan visual game. Salah satu game kreatif tersebut ialah game D’Kala yang mengangkatbudayamenjadisebuahgamepuzzle.GameD’Kalahinggasaatinisudahdiunduh lebih dari 10.000 pengguna android sejak awal perilisannya. Hal ini tidak terlepas dari desain game D’Kala sebagai elemen penting untuk menarik minat pemain. Perlu dilakukan pengamatan menganai konsep desain yang digunakan pada desain game D’Kala. Begitu juga dengan fokus utama yang ditonjolkan game D’Kala dalam setiap halaman desain game menggunakan prinsip focal point. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan menggunakan teknik deskriptif kualitatif dan interpretatif dalam analisis data. Data didapat dengan melakukanwawancaradenganinforman,observasisertadidukungolehdokumenterkait.Data yang berhasil dikumpulkan, dianalisis secara desktriptif kemudian diinterpretasikan. Untuk mengetahui konsep desain pada desain game D’Kala digunakan pendekatan menggunakan teori represerentasi dan teori simulasi. Sedangkan pada focal point pada desain game D’Kala digunakan pendekatan teori desain game. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) konsep desain game D’Kala yang terdiri dari desain background, karakter, user interface dan aset desainpendukungialahkonseppenyederhanaan.Halinitercermindaridesainyangdigunakan mengalami penyederhanaan dari objek yang dimaksud sesungguhnya. Diperkuat juga dari adanya proses produksi yang merupakan proses simulasi desain menggunakan teknologi digital. (2) Focal point atau pusat perhatian digunakan pada game D’Kala untuk menonjolkan budaya ogoh-ogoh kepada pemain. Mulai proses pembuatan , menggotong dan membakar ogoh-ogoh. Hal ini dilakukan melalui menonjolkan objek dengan cara yang berbeda, yaitu berupa siluet dan animasi.Game is one of the result of integration between art with technology amid the development of creativeindustrytoday.Ittakesawholerangeofdisciplinestocreateagame.Creativethinking becomes a basic concept for developing a game. Starting from designing ideas, determining gametypes,gameplaysandvisualgames.OnesuchcreativegameistheD’Kalagamethatlifts the culture into a puzzle game. Game D’Kala to date has been downloaded more than 10,000 android users since the beginning of its release. This is not apart from D’Kala game design as animportantelementtoattractplayers. It isnecessarytoobservetheconceptofdesignusedin D’Kala game design. So also with the main focus that highlighted D’Kala game in every page gamedesignusingtheprincipleoffocalpoint.Thisresearchisafieldresearchusingdescriptive qualitative and interpretative techniques in data analysis. Data obtained by conducting interviews with informants, observations and supported by related documents. Thedata collected,analyzeddescriptivelyandtheninterpreted.Toknowtheconceptofdesignongame design D’Kala used approach using the theory of represerentasi and simulation theory. While the focal point on game design D’Kala used game design theory approach. The results show that, (1) D’Kala game design concept which consists of background design, character, user interface and supporting design asset is simplification concept. This is reflected in the design used to experience the simplification of the object in question actually. Reinforced also from theproductionprocesswhichisadesignsimulationprocessusingdigitaltechnology.(2)Focal point or center of attention is used in the game D’Kala to highlight ogoh-ogoh culture to the players. Start the process of making, carrying and burning ogoh-ogoh. This is done through highlighting the object in different ways, namely in the form of silhouette and animation. 
“Ulam Asu”: Media Pergerakan Melawan Perdagangan Daging Anjing Di Bali Dalam Film Dokumenter Pandet, Putu Raditya; Arba Wirawan, I Komang; Lia Susanthi, Nyoman
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.756 KB)

Abstract

Anjing merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bali, sebagai hewan peliharaan serta hewan penjaga rumah. Anjing dalam budaya masyarakat Bali juga digunakan sebagai caru (sarana persembahan saat upacara yadnya), yang memiliki fungsi sebagai sarana pembersihan areal upacara. Fenomena perdagangan daging anjing di Bali belakangan ini kian marak. Dalam data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dikatakan bahwa daging anjing bukanlah kategori pangan karena tidak termasuk dalam kategori peternakan maupun kehutanan. Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa perlu untuk membuka semua cerita terkait dengan perdagangan daging anjing di Bali dalam bentuk film dokumenter berjenis observasi partisipan sehingga nantinya dapat digunakan sebagai media pergerakan untuk melawan konsumsi daging anjing. Film dokumenter “Ulam Asu” memilih menggunakan metode observasi partisipan dengan genre investigasi karena penulis ingin penonton merasa memiliki kedekatan dengan filmmaker. Sehingga membuat dampak psikologis dan emosional yang didapat penonton menjadi lebih kuat. Penulis mengharapkan dampak yang beragam dapat dirasakan penonton sesuai dengan subjektivitas dan pengalaman dari setiap individu. Film ini mampu secara langsung maupun tidak langsung menjadi media pergerakan melawan perdagangan daging anjing di Bali. Secara langsung, film ini dapat dipergunakan oleh aktivis dan organisasi pecinta hewan untuk melakukan perlawanan terhadap perdagangan daging anjing di Bali. Secara tidak langsung, film ini memancing emosi dan imajinasi penonton untuk melakukan perlawanan terhadap perdagangan daging anjing di Bali. Penonton diajak untuk berpikir ulang tentang apa yang sedang terjadi di Bali saat ini terkait dengan isu perdagangan daging anjing dengan berpijak terhadap kearifan lokal budaya Bali.Dogs are part of the life of Balinese people, as pets as well as animals of house keepers. Dogs in Balinese culture are also used as caru (offerings during yadnya ceremonies), which has a function as a means of cleansing ceremonial area. The phenomenon of dog meat trade in Bali has recently become more widespread. In the data of the Directorate General of Animal Husbandry and Health said that dog meat is not a category of food because it is not included in the category of animal husbandry or forestry. Based on this, the writer felt the need to open all the stories related to the dog meat trade in Bali in the form of documentary type of participant observation so that later can be used as a medium of movement to fight the consumption of dog meat. The documentary film “Ulam Asu” chose to use participant observation methods with the investigative genre because the author wants the audience to feel closer to the filmmaker. So as to make the psychological and emotional impact for the audience gets stronger. The authors expect the diverse impact audience can feel in accordance with the subjectivity and experience of each individual. This film is able to directly or indirectly become a media movement against dog meat trade in Bali. Directly, the film can be used by animal activists and organizations to fight against the dog meat trade in Bali. Indirectly, this film provoked the emotions and imagination of the audience to fight against the dog meat trade in Bali. Spectators are invited to re-think about what is happening in Bali at this time related to the issue of dog meat trade based on local wisdom of Balinese culture.
Inovasi Dekorasi dan Fungsi Kerajinan Anyaman Besek di Desa Sidetapa Buleleng Adiputra, Komang; Mudra, I Wayan; Muliawati, Ni Putu
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.689 KB)

Abstract

Industri kerajinan anyaman yang telah melakukan inovasi dalam pembuatan industri ini adalah di Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan inovasi dekorasi dan fungsi kerajinan anyaman besek di Desa Sidetapa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan diskriptif kualitatif yang dilandasi teori inovasi dari Schumpeter. Hasil penelitian menunjukkan inovasi dekorasi dilakukan dengan memberikan penambahan ornamen dengan teknik lukis pada badan besek atau sokasi, sehingga terlihat lebih menarik. Inovasi fungsi dilakukan dengan mengalihkan fungsi besek yang awalnya sebagai pembungkus tape menjadi tatakan banten yang sebelumnya dibuat dari daun kelapa yang disebut tamas. Selain itu besek dengan dekorasi ini juga dimanfaatkan sebagai wadah cinderamata dalam pernikahan atau acara lainnya di Bali.The woven craft industry that has been innovating making this industry at Sidetapa Village, Banjar District, Buleleng Regency, Bali. The purpose this research is to describe decoration and function innovation of the besek handicraft at Sidetapa Village. The technique of data collection by observation, interview and documentation. The data analysis was done by qualitative descriptive approach based on innovation theory from Schumpeter. The research results ware that decoration innovation done by adding ornaments with painting techniques on the body of besek or sokasi, and so more interesting. The innovation function was done by transferring the function of besek as a tape wrapper to banten container, that previously made by the coconut leaves and the crafters called tamas. The besekwith this decoration ware also used as a souvenirs container in the wedding or other events in Bali. 
ILUSI Penyutradaraan Film Fiksi Fantasi Biosa, Sito Fossy
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.12 KB)

Abstract

Film berjudul “ILUSI” menceritakan tentang alam bawah sadar dalam dunia anak-anak, penciptaan karakter tokoh utama gadis kecil yang sering berfantasi serta berimajinasi — menjadi ciri yang ditonjolkan dalam film ini. Penekanan karya penyutradaraan fiksi fantasi diaplikasikan dengan teknik long take, yakni pada perpindahan dari satu scene ke scene lainnya saling berhubungan dan animasi. Tujuannya adalah untuk menguatkan kesan fantasi dan unsur imajinatifnya. Fantasi merupakan sarana melalui jiwa (psyche) yang menetapkan hubungannya kepada ‘kenikmatan’ (jouissance). Fantasi tidak bertentangan dengan ‘realitas’, namun justru sebaliknya, fantasi merupakan dasar untuk membangun struktur realitas dan menentukan garis bentuk sebuah hasrat (desire). Selanjutnya, realitas berperan sebagai jembatan menuju the real, maka fantasi didudukkan di dalam realitas, sedangkan mimpi berada pada wilayah yang the real. “ILUSI” dipilih karena menyesuaikan karakter tokoh yang selalu mengalami fantasi dan mimpi — anti logika. Fenomena mimpi dan fantasi dalam film ini dipaparkan dengan cara mengungkapkan pengalaman-pengalaman dan kebiasaan mimpi tokoh utama yang berangan-angan, dengan memvisualkan secara imajinatif pada perpindahan tiap scene. Premise dalam film ini adalah bahwa anak-anak yang dipandang polos justru akan mudah menerima segala hal, baik berwujud realita maupun tak kasat mata. Ilusi menjadi satu sudut sentral untuk mengungkap kebebasan, kepolosan, akan pengalaman mimpi dan fantasi bagi anak-anak. Ilusi pula yang menjadi dasar bahwa sesuatu yang berada di angan-angan dan terkadang justru memberikan “ekstase kebahagiaan” bagi anak-anak.Film entitled “ILLUSION” tells about the subconsciousness of children’s world. The existence of a little girl as the main character who is full of imagination and fantasy is being the dominant characteristic in this film. The emphasis of fiction fantasy directing applies long take technique which concerns from the movement of one scene to other related scenes and animations. The purpose is to strengthen the impression of fantasy and imaginative elements. Fantasy is a medium through psyche that determines its relationship to enjoyment (jouissance). Fantasy does not contradict with the ‘reality’, on the contrary, fantasy is a base to build reality structure and define the outline of desire. Moreover, reality has role as a bridge to the real, accordingly fantasy is placed in the reality, while the dream is positioned in the real zone. ILLUSION is chosen because it suits with the character who always has fantasy and dream-- anti logic. The phenomenon of dream and fantasy in this film is presented in the way of exploring experiences and the habit of the main character who likes to dream by doing imaginative vizualising from the movement of each scene. The premise of this film is that children who are being seen as innocent can easily accept many things, whether visible in reality or unvisible. Illusion is being a central to explore freedom, innocence of dream and fantasy experience for children. In addition, Illusion is being a base that something fantasy sometimes can provide ecstasy of happiness for children.
Konsep Dan Bentuk Ilustrasi Celuluk Sebagai Ikon Bali United Cartoon Yoga Adhi Dwi Guna, I Dewa Made
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.167 KB)

Abstract

Bali United Cartoon adalah kartun yang dipublikasikan lewat media internet yaitu instagram. Dibuat oleh salah satu suporter sepak bola Bali, Dewa Gede Raka Jana Nuraga S.Ds., yang juga merupakan seorang desainer asal Tampaksiring, Gianyar. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan semangat persepakbolaan Bali, memperkenalkan persepakbolaan Bali secara luas, dan mendukung klub sepakbola Bali United melalui ilustrasi desain ikon berupa makhluk mitologi Bali yaitu Celuluk. Celuluk dipilih karena dapat menonjolkan ciri khas Bali dan memunculkan identitas budaya lokal. Secara tidak langsung, suporter Bali juga menyukainya, terlihat dari peningkatan pengikut di instagram setelah dibuatnya ilustrasi Celuluk sebagai ikon. Hingga April 2017 Bali United Cartoon memiliki 6840 pengikut di instagram dan masih terus bertambah. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah deskriptif kualitatif yang analisis. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses yang terjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan dari proses tersebut. Konsep ilustrasi Celuluk dibuat berdasarkan metode black box dan teori warna. Sedangkan bentuk ilustrasi dianalisis dengan teori desain grafis. Hasil penelitian dari wawancara dan analisis, konsep utama yang digunakan adalah kartunal terlihat dari adanya distorsi dan penyederhanaan bentuk ilustrasi. Konsep sunset untuk pewarnaan, terlihat dari penggunaan warna panas, yang cenderung menimbulkan kesan seperti saat melihat sunset. Bentuk ilustrasi memakai kombinasi elemen grafis garis lengkung, S, dan gelombang. Shape berupa bentuk nyata Celuluk dengan badan manusia, dan bentuk dasar dua dimensi, tekstur kuas dan kasar untuk memberi kesan tidak rata dan mengurangi kemenotonan. Ruang pada ilustrasi yang terlihat agak padat, Ruang juga memberi kesan jauh dan dekat pada ilustrasi.Bali United Cartoon is a cartoon published through internet media, that is on instagram. Made by one of Balinese soccer supporters, Dewa Gede Raka Jana Nuraga S.Ds., who is also a designer from Tampaksiring, Gianyar.  The goal is to cultivate Balinese football spirit, introduce Bali’s football widely, and support Balinese football club through the iconic design illustration of Balinese mythology creature, Celuluk. Celuluk was chosen because it can highlight the characteristics of Bali and bring the local cultural identity. Indirectly, Balinese supporters also love it, seen from the increase of followers in instagram after the creation of the Celuluk illustration as an icon. Until April 2017 Bali United Cartoon has 6840 followers on instagram and is still growing. The research method used by researchers is descriptive qualitative analysis. Researchers go into the field, learn a process that occurs naturally, record, analyze, interpret and report and draw conclusions from the process. The concept of Celuluk illustration is based on black box method and color theory. While the form of illustration is analyzed by graphic design theory. Result of research from interview and analysis, the main concept is cartoonal seen from existence of distortion and simplification form illustration. The concept of sunset for coloring, seen from the use of hot colors, which tends to create the impression as when viewing the sunset. The form of illustration uses a combination of graphic elements of curved lines, S, and waves. Shape in the form of a real Celuluk with the human body, and two dimensional base shapes, brush and coarse textures to give the impression of unevenness and reduce the quenching. the space in the illustration looks rather dense, Space also gives the impression of being far and near to the illustrations. 
Film Dokumenter “Nyama Selam” Dengan Gaya Expository Mubarik, Hanif Syahrul; Buda, I Ketut; Dwiyani, Ni Kadek
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.818 KB)

Abstract

Film dokumenter “Nyama Selam” merupakan karya audio visual yang menampilkan tentang kehidupan masyarakat asli Bali yang beragama Islam. Kata “Nyama Selam” berarti saudara yang beragama Islam. Film ini menggambarkan toleransi dan kerukunan beragama yang terjadi di Bali, khusunya di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, kabupaten tabanan. Film dokumenter “Nyama Selam” juga berfungsi sebagai media informasi untuk masyarakat tentang toleransi dan kerukunan beragama di Bali. Film dokumenter “Nyama Selam” diharapkan bisa mengubah paradigma masyarakat awam yang menganggap semua umat Islam di Bali sebagai kaum pendatang. Pembuatan film dokumenter “Nyama Selam” dengan gaya expository menitik beratkan pada informasi sejarah, toleransi, dan makna kata “Nyama Selam” sendiri bagi masyarakat Candikuning. Bahasan tersebut didapat dari hasil riset dan wawancara dengan sepuluh narasumber, yaitu Kepala Dusun Kampung Islam Candikuning, Bendesa Adat Kampung Islam Candikuning, Ketua BPD Desa Candikuning, Tokoh Sesepuh Kampung Islam Candikuning, Sejarawan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali, Tokoh Pemuda Kampung Islam Candikuning, Seniman Rudat dari Kampung Islam Candikuning, Juru Kunci Makam Keramat Gunung, dan Imam Masjid di Kampung Islam Candikuning. Hasil riset wawancara tersebut menjadi sebuah film dokumenter “Nyama Selam” sebagai media informasi kerukunan beragama di Bali. Film dokumenter “Nyama Selam” memiliki struktur tiga babak yaitu awal, tengah, dan akhir. Pada babak awal dalam film dokumenter “Nyama Selam” menampilkan tentang sejarah Islam di Bali dan di Candikuning. Pada bagian isi, film dokumenter “Nyama Selam” menampilkan tentang tradisi, toleransi dan makna kata “Nyama Selam” sendiri bagi warga Kampung Islam Candikuning. Pada bagian akhir film ini menjelaskan tentang harapan-harapan narasumber untuk toleransi dan kerukunan beragama di Bali. Film ini juga menampilkan budaya tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW serta keindahan panorama alam yang ada di Kampung Islam Candikuning. The “Nyama Selam” documentary film is an audio visual work it displays the life of Balinese Muslims. “Nyama Selam” means Muslims families. It illustrates tolerance and religious harmony occurred in Bali, especially in Candikuning Village, Baturiti District, Tabanan Regency. “Nyama Selam” documentary also serves as an information media for community about tolerance and religious harmony in Bali. The documentary is expected to change the paradigm of ordinary people who regard All Muslims in Bali as immigrants. The making of “Nyama Selam” documentary film using expository style emphasizes the historical information, tolerance, and meaning of the word “Nyama Selam” for the Candikuning community. The discussion was obtained from the results of research and interviews with ten informants, namely Village Chief of Candikuning Islamic Village, Bendesa Adat of Candikuning Islamic Village, Chairman of BPD Candikuning Village, Elder of Candikuning Islamic Village, Historian, Chairman of Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali, Youth Figure of Candikuning Islamic Village, Rudat Artist from Candikuning Islamic Village, Interpreter of the Sacred Mountain Tomb, and Imam Masjid in Candikuning Islamic Village. The results of the interview are collaborated as a medium of information on religious harmony in Bali. “Nyama Selam” documentary has three round structures, such as beginning, middle, and end. In the early stages of the documentary “Nyama Selam” showcases the history of Islam in Bali and in Candikuning. In the contents, the documentary film “Nyama Selam” presents about the tradition, tolerance and meaning of the word “Nyama Selam” for the citizens of Kampung Islam Candikuning. At the end of this film explains the expectations of resource persons for religious tolerance and harmony in Bali. The film also features a cultural tradition of the Maulid of the Prophet Muhammad SAW and the beauty of natural panorama in the Islamic Village of Candikuning. 
Gerak Fire Dance Dalam Karya Fotografi Ekspresi Angga Aditya, I Kadek; Raharjo, Anis; Candra Yana, Ida Bagus
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.986 KB)

Abstract

Gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi, gerak yang dimaksud dalam judul karya ini merupakan salah satu alasan utama penciptaan karya fotografi ini, gerak api yang fleksibel bisa dikreasikan menjadi sebuah pola-pola cahaya berupa garis ataupun membentuk dimensi berbeda pada objek penari api (fire dancer). Pemilihan komponen api juga didasari karena api bersifat alami yang akan memberikan pencahayaan pada gestur penari api. Penari api memiliki gerakan dinamis yang menyimbolkan sebuah keindahan, sedangkan api disimbolkan sebagai hal yang berbahaya dan bersifat panas, maka diciptakan karya fotografi ekspresi ini sebagai suatu hal yang indah tetapi terdapat unsur yang berbahaya dan juga memiliki kerumitan didalamnya. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya fotografi ekspresi ini adalah metode ekplorasi, eksperimen dan visualisasi. Eksplorasi yaitu metode untuk menemukan ide dalam menciptakan pola-pola unik gerak fire dance dengan memperkaya referensi dari berbagai sumber seperti majalah, media elektronik seperti televisi dan internet. Tahap selanjutnya menggunakan metode eksperimen yaitu eksperimen dalam penggunaan alat-alat penunjang dalam penciptaan karya foto ini, menggunakan triger secara manual atau tidak dipasang pada kamera, hal ini bertujuan untuk dapat memicu nyala flash sesuai dengan kehendak pencipta, baik nyalanya diawal, ditengah, maupun diakhir pengambilan gambar. Metode yang selanjutnya yaitu visualisasi, metode visualisasi merupakan proses pengubahan dari konsep menjadi gambaran dalam bentuk nyata disajikan dalam bentuk karya seni. Teknik-teknik fotografi ekspresi yang lebih banyak gunakan yaitu teknik slow speed seperti bulb, strobo, dan multiple eksposure. Sebelum menerapkan teknik tersebut pencipta harus memahami dan mempelajari lebih dalam tentang teknik tersebut. penerapan teknik yang tepat tentu akan menghasilkan sebuah karya fotografi yang menarik. Teknik komposisi seperti rule of third, sudut pengambilan atau angle, warna, garis, bentuk, dan juga foto editing adalah unsur-unsur yang penting dalam penciptaaan karya gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi.The motion of fire dance in the expression photography work, the motion referred to in the title of this work is one of the main reasons for the creation of this photography work, flexible motion can be created into a pattern of light in the form of lines or forming different dimensions on the object of fire dancer. The selection of fire components is also based on fire because it is natural that will provide lighting on the gestures of fire dancers. Fire dancers have a dynamic movement that symbolizes a beauty, while fire is symbolized as a dangerous thing and hot, then created this photographic expression as a beautiful thing but there are elements that are dangerous and has a complexity in it. The method used in the creation of this expression photographic work is the exploration method, experimentation and visualization. Exploration is a method for finding ideas in creating unique patterns of fire dance motion by enriching references from various sources such as magazines, electronic media such as television and internet. The next stage is using the experimental method of experimenting in the use of supporting tools in the creation of this photo work, using the trigger manually or not installed on the camera, it aims to be able to trigger flash flashing in accordance with the will of the creator, either at the beginning, shooting. The next method is visualization, visualization method is a process of converting from concept to picture in real form presented in the form of artwork. The techniques of expression photography that mostly used are slow speed techniques such as bulb, strobe, and multiple exposure. Before applying the techniques, the creator should understand and learn more about the technique. The application of appropriate techniques will certainly produce an interesting photography work. Compositional techniques such as rule of third, angle of taking or angle, color, line, shape, and also photo editing are important elements in the creation of fire dance motion in expression photography works. 
Analisis Semiotika Pada Karya Fotografi Khususnya Karya Foto Seni Dengan Tema Perceraian Faiz B, Muhammad
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.01 KB)

Abstract

Dalam fotografi seni, umumnya, ada sebuah gagasan yang ingin disampaikan oleh seniman kepada publik. Karena fotografi merekam kenyataan, untuk menyampaikan gagasan yang spesifik tidak jarang dibutuhkan penggunaan simbol dari objek nyata yang tepat agar penikmat foto bisa terarahkan pikirannya ke tempat yang seniman inginkan. Simbol tentu akan berbeda bentuk dan maknanya, tergantung dimana foto itu dihadirkan. Simbol erat kaitannya dengan budaya sebuah wilayah. Contoh di pulau Jawa menggunakan bendera kuning untuk menandakan kematian, sedangkan di China, warna putih yang mewakilkan kematian. Dari gagasan inilah peneliti ingin membuat sebuah metode berkarya khususnya pada fotografi seni yang menggunakan simbol untuk merepresentasikan sebuah narasi dengan cara menelaah kembali karya-karya seniman fotografi yang telah terekognisi di dunia. Dengan penelitian ini diharapkan akan terbaca mengapa karya mereka berhasil membawa publik ke arah yang seniman inginkan dengan menggunakan simbol-simbol visual yang tepat. Lalu dari metode yang telah terbaca, para seniman fotografi pemula bisa mengikuti metode yang mereka gunakan sehingga karya bisa menjadi lebih tepat visualnya.In art photography, generally, there is an idea that artists want to convey to the public. In which photography recording reality, to convey a specific idea it takes the use of the right symbol so the audience’s mind can be directed the place that artists want. Symbols will certainly has different shapes and meanings, depend on where the image was presented. Symbols are closely related to the culture of a region. For example, in Java people use yellow flags to signify death, whereas in China, the white color represents death. From this idea, researchers want to create a method of work, especially on art photography that uses symbols to represent a narrative by way of reviewing the works of renowned artists in the world of photography. With this research, it is expected to be known why their work is successful in bringing the public’s mind in the direction that artists want by using the right visual symbols. Then from a readable method that beginner photography artists can follow, so that their work can be more visual appropriately.

Page 1 of 1 | Total Record : 9