cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
PRABANGKARA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 48 Documents
ILUSI Penyutradaraan Film Fiksi Fantasi Biosa, Sito Fossy
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.12 KB)

Abstract

Film berjudul “ILUSI” menceritakan tentang alam bawah sadar dalam dunia anak-anak, penciptaan karakter tokoh utama gadis kecil yang sering berfantasi serta berimajinasi — menjadi ciri yang ditonjolkan dalam film ini. Penekanan karya penyutradaraan fiksi fantasi diaplikasikan dengan teknik long take, yakni pada perpindahan dari satu scene ke scene lainnya saling berhubungan dan animasi. Tujuannya adalah untuk menguatkan kesan fantasi dan unsur imajinatifnya. Fantasi merupakan sarana melalui jiwa (psyche) yang menetapkan hubungannya kepada ‘kenikmatan’ (jouissance). Fantasi tidak bertentangan dengan ‘realitas’, namun justru sebaliknya, fantasi merupakan dasar untuk membangun struktur realitas dan menentukan garis bentuk sebuah hasrat (desire). Selanjutnya, realitas berperan sebagai jembatan menuju the real, maka fantasi didudukkan di dalam realitas, sedangkan mimpi berada pada wilayah yang the real. “ILUSI” dipilih karena menyesuaikan karakter tokoh yang selalu mengalami fantasi dan mimpi — anti logika. Fenomena mimpi dan fantasi dalam film ini dipaparkan dengan cara mengungkapkan pengalaman-pengalaman dan kebiasaan mimpi tokoh utama yang berangan-angan, dengan memvisualkan secara imajinatif pada perpindahan tiap scene. Premise dalam film ini adalah bahwa anak-anak yang dipandang polos justru akan mudah menerima segala hal, baik berwujud realita maupun tak kasat mata. Ilusi menjadi satu sudut sentral untuk mengungkap kebebasan, kepolosan, akan pengalaman mimpi dan fantasi bagi anak-anak. Ilusi pula yang menjadi dasar bahwa sesuatu yang berada di angan-angan dan terkadang justru memberikan “ekstase kebahagiaan” bagi anak-anak.Film entitled “ILLUSION” tells about the subconsciousness of children’s world. The existence of a little girl as the main character who is full of imagination and fantasy is being the dominant characteristic in this film. The emphasis of fiction fantasy directing applies long take technique which concerns from the movement of one scene to other related scenes and animations. The purpose is to strengthen the impression of fantasy and imaginative elements. Fantasy is a medium through psyche that determines its relationship to enjoyment (jouissance). Fantasy does not contradict with the ‘reality’, on the contrary, fantasy is a base to build reality structure and define the outline of desire. Moreover, reality has role as a bridge to the real, accordingly fantasy is placed in the reality, while the dream is positioned in the real zone. ILLUSION is chosen because it suits with the character who always has fantasy and dream-- anti logic. The phenomenon of dream and fantasy in this film is presented in the way of exploring experiences and the habit of the main character who likes to dream by doing imaginative vizualising from the movement of each scene. The premise of this film is that children who are being seen as innocent can easily accept many things, whether visible in reality or unvisible. Illusion is being a central to explore freedom, innocence of dream and fantasy experience for children. In addition, Illusion is being a base that something fantasy sometimes can provide ecstasy of happiness for children.
Konsep Dan Bentuk Ilustrasi Celuluk Sebagai Ikon Bali United Cartoon Yoga Adhi Dwi Guna, I Dewa Made
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.167 KB)

Abstract

Bali United Cartoon adalah kartun yang dipublikasikan lewat media internet yaitu instagram. Dibuat oleh salah satu suporter sepak bola Bali, Dewa Gede Raka Jana Nuraga S.Ds., yang juga merupakan seorang desainer asal Tampaksiring, Gianyar. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan semangat persepakbolaan Bali, memperkenalkan persepakbolaan Bali secara luas, dan mendukung klub sepakbola Bali United melalui ilustrasi desain ikon berupa makhluk mitologi Bali yaitu Celuluk. Celuluk dipilih karena dapat menonjolkan ciri khas Bali dan memunculkan identitas budaya lokal. Secara tidak langsung, suporter Bali juga menyukainya, terlihat dari peningkatan pengikut di instagram setelah dibuatnya ilustrasi Celuluk sebagai ikon. Hingga April 2017 Bali United Cartoon memiliki 6840 pengikut di instagram dan masih terus bertambah. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah deskriptif kualitatif yang analisis. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses yang terjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan dari proses tersebut. Konsep ilustrasi Celuluk dibuat berdasarkan metode black box dan teori warna. Sedangkan bentuk ilustrasi dianalisis dengan teori desain grafis. Hasil penelitian dari wawancara dan analisis, konsep utama yang digunakan adalah kartunal terlihat dari adanya distorsi dan penyederhanaan bentuk ilustrasi. Konsep sunset untuk pewarnaan, terlihat dari penggunaan warna panas, yang cenderung menimbulkan kesan seperti saat melihat sunset. Bentuk ilustrasi memakai kombinasi elemen grafis garis lengkung, S, dan gelombang. Shape berupa bentuk nyata Celuluk dengan badan manusia, dan bentuk dasar dua dimensi, tekstur kuas dan kasar untuk memberi kesan tidak rata dan mengurangi kemenotonan. Ruang pada ilustrasi yang terlihat agak padat, Ruang juga memberi kesan jauh dan dekat pada ilustrasi.Bali United Cartoon is a cartoon published through internet media, that is on instagram. Made by one of Balinese soccer supporters, Dewa Gede Raka Jana Nuraga S.Ds., who is also a designer from Tampaksiring, Gianyar.  The goal is to cultivate Balinese football spirit, introduce Bali’s football widely, and support Balinese football club through the iconic design illustration of Balinese mythology creature, Celuluk. Celuluk was chosen because it can highlight the characteristics of Bali and bring the local cultural identity. Indirectly, Balinese supporters also love it, seen from the increase of followers in instagram after the creation of the Celuluk illustration as an icon. Until April 2017 Bali United Cartoon has 6840 followers on instagram and is still growing. The research method used by researchers is descriptive qualitative analysis. Researchers go into the field, learn a process that occurs naturally, record, analyze, interpret and report and draw conclusions from the process. The concept of Celuluk illustration is based on black box method and color theory. While the form of illustration is analyzed by graphic design theory. Result of research from interview and analysis, the main concept is cartoonal seen from existence of distortion and simplification form illustration. The concept of sunset for coloring, seen from the use of hot colors, which tends to create the impression as when viewing the sunset. The form of illustration uses a combination of graphic elements of curved lines, S, and waves. Shape in the form of a real Celuluk with the human body, and two dimensional base shapes, brush and coarse textures to give the impression of unevenness and reduce the quenching. the space in the illustration looks rather dense, Space also gives the impression of being far and near to the illustrations. 
Film Dokumenter “Nyama Selam” Dengan Gaya Expository Mubarik, Hanif Syahrul; Buda, I Ketut; Dwiyani, Ni Kadek
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.818 KB)

Abstract

Film dokumenter “Nyama Selam” merupakan karya audio visual yang menampilkan tentang kehidupan masyarakat asli Bali yang beragama Islam. Kata “Nyama Selam” berarti saudara yang beragama Islam. Film ini menggambarkan toleransi dan kerukunan beragama yang terjadi di Bali, khusunya di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, kabupaten tabanan. Film dokumenter “Nyama Selam” juga berfungsi sebagai media informasi untuk masyarakat tentang toleransi dan kerukunan beragama di Bali. Film dokumenter “Nyama Selam” diharapkan bisa mengubah paradigma masyarakat awam yang menganggap semua umat Islam di Bali sebagai kaum pendatang. Pembuatan film dokumenter “Nyama Selam” dengan gaya expository menitik beratkan pada informasi sejarah, toleransi, dan makna kata “Nyama Selam” sendiri bagi masyarakat Candikuning. Bahasan tersebut didapat dari hasil riset dan wawancara dengan sepuluh narasumber, yaitu Kepala Dusun Kampung Islam Candikuning, Bendesa Adat Kampung Islam Candikuning, Ketua BPD Desa Candikuning, Tokoh Sesepuh Kampung Islam Candikuning, Sejarawan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali, Tokoh Pemuda Kampung Islam Candikuning, Seniman Rudat dari Kampung Islam Candikuning, Juru Kunci Makam Keramat Gunung, dan Imam Masjid di Kampung Islam Candikuning. Hasil riset wawancara tersebut menjadi sebuah film dokumenter “Nyama Selam” sebagai media informasi kerukunan beragama di Bali. Film dokumenter “Nyama Selam” memiliki struktur tiga babak yaitu awal, tengah, dan akhir. Pada babak awal dalam film dokumenter “Nyama Selam” menampilkan tentang sejarah Islam di Bali dan di Candikuning. Pada bagian isi, film dokumenter “Nyama Selam” menampilkan tentang tradisi, toleransi dan makna kata “Nyama Selam” sendiri bagi warga Kampung Islam Candikuning. Pada bagian akhir film ini menjelaskan tentang harapan-harapan narasumber untuk toleransi dan kerukunan beragama di Bali. Film ini juga menampilkan budaya tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW serta keindahan panorama alam yang ada di Kampung Islam Candikuning. The “Nyama Selam” documentary film is an audio visual work it displays the life of Balinese Muslims. “Nyama Selam” means Muslims families. It illustrates tolerance and religious harmony occurred in Bali, especially in Candikuning Village, Baturiti District, Tabanan Regency. “Nyama Selam” documentary also serves as an information media for community about tolerance and religious harmony in Bali. The documentary is expected to change the paradigm of ordinary people who regard All Muslims in Bali as immigrants. The making of “Nyama Selam” documentary film using expository style emphasizes the historical information, tolerance, and meaning of the word “Nyama Selam” for the Candikuning community. The discussion was obtained from the results of research and interviews with ten informants, namely Village Chief of Candikuning Islamic Village, Bendesa Adat of Candikuning Islamic Village, Chairman of BPD Candikuning Village, Elder of Candikuning Islamic Village, Historian, Chairman of Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali, Youth Figure of Candikuning Islamic Village, Rudat Artist from Candikuning Islamic Village, Interpreter of the Sacred Mountain Tomb, and Imam Masjid in Candikuning Islamic Village. The results of the interview are collaborated as a medium of information on religious harmony in Bali. “Nyama Selam” documentary has three round structures, such as beginning, middle, and end. In the early stages of the documentary “Nyama Selam” showcases the history of Islam in Bali and in Candikuning. In the contents, the documentary film “Nyama Selam” presents about the tradition, tolerance and meaning of the word “Nyama Selam” for the citizens of Kampung Islam Candikuning. At the end of this film explains the expectations of resource persons for religious tolerance and harmony in Bali. The film also features a cultural tradition of the Maulid of the Prophet Muhammad SAW and the beauty of natural panorama in the Islamic Village of Candikuning. 
Gerak Fire Dance Dalam Karya Fotografi Ekspresi Angga Aditya, I Kadek; Raharjo, Anis; Candra Yana, Ida Bagus
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.986 KB)

Abstract

Gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi, gerak yang dimaksud dalam judul karya ini merupakan salah satu alasan utama penciptaan karya fotografi ini, gerak api yang fleksibel bisa dikreasikan menjadi sebuah pola-pola cahaya berupa garis ataupun membentuk dimensi berbeda pada objek penari api (fire dancer). Pemilihan komponen api juga didasari karena api bersifat alami yang akan memberikan pencahayaan pada gestur penari api. Penari api memiliki gerakan dinamis yang menyimbolkan sebuah keindahan, sedangkan api disimbolkan sebagai hal yang berbahaya dan bersifat panas, maka diciptakan karya fotografi ekspresi ini sebagai suatu hal yang indah tetapi terdapat unsur yang berbahaya dan juga memiliki kerumitan didalamnya. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya fotografi ekspresi ini adalah metode ekplorasi, eksperimen dan visualisasi. Eksplorasi yaitu metode untuk menemukan ide dalam menciptakan pola-pola unik gerak fire dance dengan memperkaya referensi dari berbagai sumber seperti majalah, media elektronik seperti televisi dan internet. Tahap selanjutnya menggunakan metode eksperimen yaitu eksperimen dalam penggunaan alat-alat penunjang dalam penciptaan karya foto ini, menggunakan triger secara manual atau tidak dipasang pada kamera, hal ini bertujuan untuk dapat memicu nyala flash sesuai dengan kehendak pencipta, baik nyalanya diawal, ditengah, maupun diakhir pengambilan gambar. Metode yang selanjutnya yaitu visualisasi, metode visualisasi merupakan proses pengubahan dari konsep menjadi gambaran dalam bentuk nyata disajikan dalam bentuk karya seni. Teknik-teknik fotografi ekspresi yang lebih banyak gunakan yaitu teknik slow speed seperti bulb, strobo, dan multiple eksposure. Sebelum menerapkan teknik tersebut pencipta harus memahami dan mempelajari lebih dalam tentang teknik tersebut. penerapan teknik yang tepat tentu akan menghasilkan sebuah karya fotografi yang menarik. Teknik komposisi seperti rule of third, sudut pengambilan atau angle, warna, garis, bentuk, dan juga foto editing adalah unsur-unsur yang penting dalam penciptaaan karya gerak fire dance dalam karya fotografi ekspresi.The motion of fire dance in the expression photography work, the motion referred to in the title of this work is one of the main reasons for the creation of this photography work, flexible motion can be created into a pattern of light in the form of lines or forming different dimensions on the object of fire dancer. The selection of fire components is also based on fire because it is natural that will provide lighting on the gestures of fire dancers. Fire dancers have a dynamic movement that symbolizes a beauty, while fire is symbolized as a dangerous thing and hot, then created this photographic expression as a beautiful thing but there are elements that are dangerous and has a complexity in it. The method used in the creation of this expression photographic work is the exploration method, experimentation and visualization. Exploration is a method for finding ideas in creating unique patterns of fire dance motion by enriching references from various sources such as magazines, electronic media such as television and internet. The next stage is using the experimental method of experimenting in the use of supporting tools in the creation of this photo work, using the trigger manually or not installed on the camera, it aims to be able to trigger flash flashing in accordance with the will of the creator, either at the beginning, shooting. The next method is visualization, visualization method is a process of converting from concept to picture in real form presented in the form of artwork. The techniques of expression photography that mostly used are slow speed techniques such as bulb, strobe, and multiple exposure. Before applying the techniques, the creator should understand and learn more about the technique. The application of appropriate techniques will certainly produce an interesting photography work. Compositional techniques such as rule of third, angle of taking or angle, color, line, shape, and also photo editing are important elements in the creation of fire dance motion in expression photography works. 
Analisis Semiotika Pada Karya Fotografi Khususnya Karya Foto Seni Dengan Tema Perceraian Faiz B, Muhammad
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.01 KB)

Abstract

Dalam fotografi seni, umumnya, ada sebuah gagasan yang ingin disampaikan oleh seniman kepada publik. Karena fotografi merekam kenyataan, untuk menyampaikan gagasan yang spesifik tidak jarang dibutuhkan penggunaan simbol dari objek nyata yang tepat agar penikmat foto bisa terarahkan pikirannya ke tempat yang seniman inginkan. Simbol tentu akan berbeda bentuk dan maknanya, tergantung dimana foto itu dihadirkan. Simbol erat kaitannya dengan budaya sebuah wilayah. Contoh di pulau Jawa menggunakan bendera kuning untuk menandakan kematian, sedangkan di China, warna putih yang mewakilkan kematian. Dari gagasan inilah peneliti ingin membuat sebuah metode berkarya khususnya pada fotografi seni yang menggunakan simbol untuk merepresentasikan sebuah narasi dengan cara menelaah kembali karya-karya seniman fotografi yang telah terekognisi di dunia. Dengan penelitian ini diharapkan akan terbaca mengapa karya mereka berhasil membawa publik ke arah yang seniman inginkan dengan menggunakan simbol-simbol visual yang tepat. Lalu dari metode yang telah terbaca, para seniman fotografi pemula bisa mengikuti metode yang mereka gunakan sehingga karya bisa menjadi lebih tepat visualnya.In art photography, generally, there is an idea that artists want to convey to the public. In which photography recording reality, to convey a specific idea it takes the use of the right symbol so the audience’s mind can be directed the place that artists want. Symbols will certainly has different shapes and meanings, depend on where the image was presented. Symbols are closely related to the culture of a region. For example, in Java people use yellow flags to signify death, whereas in China, the white color represents death. From this idea, researchers want to create a method of work, especially on art photography that uses symbols to represent a narrative by way of reviewing the works of renowned artists in the world of photography. With this research, it is expected to be known why their work is successful in bringing the public’s mind in the direction that artists want by using the right visual symbols. Then from a readable method that beginner photography artists can follow, so that their work can be more visual appropriately.
Kole Nak Nusa Dalam Film Pendek Aryadi, I Gusti Made; Suteja, I Kt; Suardina, I Nyoman
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.723 KB)

Abstract

Nusa Penida memiliki dialek yang beragam yang merupakan sebuah keunikan yang tak ternilai harganya. Namun, bagaimana dialek tersebut dapat menjadi kebanggaan bila di sisi lain keunikan dialek tersebut dijadikan guyonan atau bahkan menjadi bahan pem-bully-an. Berdasarkan uraian di atas, muncul ketertarikan penggarap untuk menciptakan karya seni dalam bentuk film pendek berjudul “Kole Nak Nusa”. Karya ini mencoba menjawab pertanyaan (1) nilai kebangsaan apakah yang diangkat, (2) teknis dan bentuk pengggarapan, serta (3) apa makna film yang dapat disampaikan. Tujuan penciptaan karya film ini adalah menciptakan karya seni berdasarkan atas fenomena yang terjadi di masyarakat, khususnya terkait dengan perbedaan dialek antar daerah di Bali. Karya Film pendek “Kole Nak Nusa” mengangkat nilai kebangsaan yang bangga akan identitas diri bangsa. Proses penggarapan Karya Film pendek “Kole Nak Nusa” dimulai dari (1) mencari dan menemukan fenomena di Nusa Penida, (2) melakukan riset dan mengumpulkan bukti-bukti visual, (3) proses mengkhayal dan berimajinasi, dan bereksplorasi, (4) proses kreatif penciptaan karya, dan (5) estimasi karya. Karya Film pendek “Kole Nak Nusa” digarap dengan teknis visual neorealis dan dalam bentuk film pendek berdurasi 20 menit. Makna atau pesan yang disampaikan melalui film pendek “Kole Nak Nusa” adalah mencintai kebudayaan bangsa sendiri tanpa harus malu dikritik oleh oranglain.
Transformasi Bunga Tunjung Dalam Busana Wanita Romantik Dramatik Darmara Pradnya Paramita, Ni Putu; Ratna Cora Sudharsana, Tjok Istri; Wimba Ruspawati, Ida Ayu
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.345 KB)

Abstract

Bunga tunjung memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Bali terutama dalam proses ritual agama Hindu. Penciptaan ini ditujukan untuk mewujudkan transformasi penciptaan busana wanita romantik dramatik, mengetahui dan memahami proses mewujudkan busana wanita romantik dramatik, mewujudkan bentuk karya busana wanita romantik dengan bunga tunjung sebagai ide dalam penciptaan. Metode penciptaan yang digunakan yaitu delapan tahapan desain fashion terdiri dari tahapan yaitu design brief, research and sourching, design development, prototypes, samples and construction, the final collection, promotion, marketing, branding, sales, production and the business. Busana wanita romantik dramatik dalam koleksi menerapkan konsep warna Dewata Nawa Sanga yang dilambangkan atau dilukiskan dengan bunga tunjung. Bentuk pada karya busana wanita romantik dramatik menghasilkan dua jenis busana wanita yaitu busana ready to wear deluxe dan haute couture terdiri dari empat busana ready to wear deluxe dan lima busana haute couture. Pemilihan material dan bahan dalam proses proses penciptaan, dikembangkan dengan pengolahan proses kreatif monumental tekstil dan teknik makrame. Pada busana wanita elemen seni yang dominan yaitu garis, bentuk, ukuran, tekstur,  warna dan motif.Sedangkan prinsip desain terdiri dari kesatuan, irama, harmoni, pusat perhatian (point of interest), keseimbangan.
Ekspresi Emosi Dalam Seni Patung Endra Kurniawan, I Wayan; Udiana Nindhia Pemayun, Tjokorda; Suardana, I Wayan
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.69 KB)

Abstract

Penciptaan ini dilatarbelakangi ketertarikan pencipta terhadap ekspresi emosi.Emosi dapat dilihat melalui ekspresi yang muncul pada wajah manusia.Emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu.Ketertarikan ini muncul karena di masyarakat muncul anggapan bahwa emosi semata-mata merupakan perasaan marah, padahal emosi tidak hanya tentang perasaan marah atau hal-hal yang negatif. Emosi dapat juga berupa hal yang positif.Pada tulisan ini dirumuskan dua masalah yakni, bagaimana memvisualisasikan ekspresi emosi ke dalam penciptaan karya seni patung?dan Bagaimana bentuk/ wujud karya pada penciptaan karya seni patung ekspresi emosi ini? Tujuan dari penciptaan ini yaitu memvisualisasikan ekspresi emosi ke dalam karya seni patung untuk dapat menyampaikan pesan dan menyadarkan masyarakat bahwa emosi bukan hanya tentang rasa marah melalui karya seni patung.Sasaran dari seluruh penikmat seni khususnya karya seni patung serta masyarakat awam. Pada penciptaan ini melalui tiga tahapan yakni eksplorasi, eksperimentasi/ perancangan dan proses pembentukan. Adapun teori yang digunakan pada penciptaan ini meliputi teori estetika, semiotika, dan kreativitas. Hasil Cipta pada penciptaan ini terdiri dari enam karya berupa patung berbahan logam yang dibuat dengan teknik assembling  disertai dengan teknik las dan solder. Selain logam, bahan tembaga juga digunakan untuk menambah nilai estetis pada karya.Objek-objek yang ditampilkan merupakan figur-figur wajah manusia dengan berbagai ekspresi emosi yang biasa muncul dalam kehidupan manusia.Figur-figur dan ekspresi emosi tersebut merupakan hasil pengamatan dan lihatan pribadi pencipta terhadap kehidupan manusia di sekitar.Selain itu banyak pesan yang terkandung di dalamnya untuk dapat membuat masyarakat awam mulai menyadari tentang lingkup emosi yang tidak hanya berkisar pada rasa marah saja.
Inovasi Kerajinan Gerabah I Wayan Kuturan Di Desa Pejaten Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan Provinsi Bali Adiputra, Komang; Suardina, I Nyoman; Mudra, I Wayan
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.516 KB)

Abstract

Inovasi gerabah Pejaten dikembangkan pertama kali oleh I Wayan Kuturan pada  tahun 1960-an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kerajinan gerabah hasil inovasi I Wayan Kuturan ditinjau dari segi bentuk, fungsi dan estetika. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan secara deskriftif kualitatif. Teori yang digunakan untuk membedah permasalahan ini adalah Teori Bentuk menggunakan teori Wong dan Sanyoto mengenai bentuk matra, Ratna mengenai wujud konkret, Sanyoto mengenai wujud kenyataan dan wujud batas/dimensi, Teori Fungsional mengunakan teori Enmud Burke Feldman mengenai fungsi seni dan Soegondho mengenai fungsi gerabah, serta Teori Estetika Parker dan teori Beardsley. Hasil penelitian menunjukkan Gerabah Kuturan dari segi bentuk merupakan gerabah yang diwujudkan untuk menghindari kemonotonan, dengan cara menerapkan macam-macam tema pada produknya. Penerapan unsur rupa seperti  garis lengkung dan lurus dapat dilihat pada bentuk maupun dekorasi produk patung, celengan, relief  terakota dan lampu taman, bentuk/shapeyang diterapkan berupa bentuk bulat pada bentuk dasar patung taman, celengan dan lampu taman (burung hantu), serta bentuk persegi pada relief terakota dan lampu taman yang meniru bentuk bagian atas sebuah pura atau pelinggih, warna dan bidang atau ruang yang disusun berdasarkan asas desain, yakni kesatuan (unity), keseimbangan (balance), kesederhanaan (simplicity), aksentuasi (emphasis) dan proporsi. Produk inovasi I Wayan Kuturan sebagian besar memiliki fungsi sebagai benda pakai dan benda hias, fungsi ini berbeda dengan fungsi gerabah Desa Pejaten sebelumnya, yaitu sebagai perlengkapan upacara serta peralatan dapur. Produk gerabah Kuturan yang berfungsi sebagai benda pakai adalah celengan, sedangkan gerabah yang berfungsi sebagai benda hias adalah patung taman, lampu taman, dan relief terakota. Gerabah I Wayan Kuturan ditinjau dari teori estetika Parker maupun Beardsley adalah produk yang memiliki nilai estetis. 
Metafora Wanita Bali Pada Era Modern Dalam Seni Patung Putrayasa, I Ketut; Gede Arimbawa, I Made; Suardina, I Nyoman
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.699 KB)

Abstract

Wacana tentang wanita selain tentang keindahan fisik juga diwarnai oleh persoalan kesetaraan gender yang dengan gigih diperjuangkan. Gerakan feminisme merupakan reaksi terhadap maskulinisme, semua itu menunjukkan persoalan wanita dalam  karya seni yang dapat ditelaah menjadi dua, yaitu persoalan fisik yang cenderung mengungkapkan keindahan tubuh (gestur) wanita, dan permasalahan sosial, diskriminasi gender, budaya, dan politik sebagai makna kontekstual terlebih pada era modern. Dalam kehidupan pada era modern permasalahan yang muncul menjadi lebih rumit dan kompleks. Kondisi ini membawa dampak positif sekaligus dampak negatif bagi kaum wanita Bali. Akibat modernisasi, kebudayaan Barat yang lebih mengedepankan rasionalitas melahirkan corak kehidupan yang berorientasi materialistik-kapitalis, kesenangan dan budaya hedonis yang berpengaruh terhadap budaya Bali yang menjunjung tinggi nilai kearifan lokal dan spiritualitas keagamaan. Dalam mewujudkan gagasan itu pencipta manbangun suatu metafora, yaitu melalui komparasi (pembandingan) untuk memperbesar makna; dan dengan membuat makna baru (jukstaposisi) yakni penggabungan objek yang awalnya tidak terhubung/tersambung menjadi bentuk baru. Hal ini dilakukan melalui serangkaian proses/tahapan-tahapan berkarya menyangkut langkah eksplorasi, eksperimen, dan perwujudan. Secara umum langkah-langkah tersebut dipraktekkan oleh pencipta namun dengan urutan yang tidak ketat. Aspek eksplorasi,eksperimen, dan forming terjadi saling susul-menyusul. Metode penciptaan yang digunakan adalah metode merangkai (assembling) telah dapat merangkul secara sistematis pendekatan karya yang diacu, hingga berhasil membangun keutuhan penciptaan secara keseluruhan. Metode ini telah menghasilkan elaborasi yang unik dari semua komponen ideoplastis dan aspek fisik yang meliputi teknik dan media, sehingga melahirkan gagasan dan metafora yang kreatif.Visualisasi metafora wanita Bali dalam karya-karyanya  menekankan unsur gagasan/ide dan keteknikannya, yang disertai spirit olah rasa yang dibangun untuk memberikan kesan estetik melaui sajian bentuk yang mengangkat karakter media logam, serta konsep yang dijadikan sebagai acuan dalam setiap karya.Kondisi inilah yang menggugah pencipta untuk mencermati betapa pentingnya memperhatikan kembali karakter wanita Bali yang bersumber pada nilai-nilai kebalian sebagai sumber ide penciptaan. Penciptaan karya seni patung ini berjudul “Metafora Wanita pada Era Moden dalam Seni Patung”, diciptakan dalam enam buah karya patung logam, dengan muatan maknainterpretasi terhadap etika, moral, dan spirit wanita Bali, dalam konteks fenomena wanita Bali masa kini.