cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni
ISSN : 23547154     EISSN : 27988678     DOI : -
Core Subject : Art,
The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches.
Articles 227 Documents
Sejarah Sosial Seni: Transformasi Kesenian Komunitas Sanggar Paripurna dalam Industri Pertunjukan Bali Agung: Sejarah Sosial Seni: Transformasi Kesenian Komunitas Sanggar Paripurna dalam Industri Pertunjukan Bali Agung Ni Wayan Yuliani Ayu
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v14i1.3469

Abstract

Pertunjukan Bali Agung di Taman Safari Bali, Gianyar, menjadi salah satu contoh konkret bagaimana kesenian komunitas mengalami transformasi dalam kerangka industri pertunjukan dan pariwisata budaya. Sanggar Paripurna, sebagai pelaku utama dalam produksi pertunjukan tersebut, menunjukkan pergeseran praktik artistik dari basis ritual dan sosial komunitas menuju sistem representasi yang dikurasi dan dikomodifikasi. Melalui pendekatan sejarah sosial seni, kajian ini menelaah bagaimana relasi kuasa, kepentingan ekonomi, dan narasi budaya membentuk posisi dan peran Sanggar Paripurna dalam Bali Agung. Analisis ini didasarkan pada studi pustaka, observasi lapangan, dan dokumentasi pertunjukan untuk membaca kesenian komunitas sebagai bagian dari dinamika sosial yang kompleks. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesenian yang semula berakar pada nilai-nilai lokal kini beroperasi dalam medan sosial baru yang sarat dengan tuntutan komersial, identitas kultural yang dikonstruksi, dan ekspektasi global. Transformasi ini menjadi refleksi dari bagaimana seni komunitas dinegosiasikan dalam lanskap industri hiburan dan pariwisata kontemporer.
Identitas Lokal Rajut Pada Visual Mural di Binong Jati, Kota Bandung: Tinjauan Komunikasi Visual nadia alisa; Agisti; Muhammad Adriansyah; Haydell Koptery Munandar
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v14i1.3665

Abstract

Mural adalah media komunikasi visual yang dapat mendukung ekonomi kreatif di Kampung Rajut Binong Jati, terutama dalam keterbatasan media ke ruang publik untuk merepresentasikan identitas rajut secara luas.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi identitas lokal berbasis ekonomi kreatif melalui elemen visual mural di daerah tersebut dan peran media seni mural dalam memperkenalkan berbagai karya seni rajut kepada masyarakat luas. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara dengan seniman mural dan konten kreator UMKM Merakit, observasi, dan analisis konten visual berdasarkan teori komunikasi visual (Kress & Leeuwen 2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi, interaktif, dan komposisional pada mural menegaskan identitas rajut, meningkatkan interaksi sosial, dan memperkuat ekonomi kreatif warga. Dengan demikian, mural berfungsi sebagai jembatan yang memperkuat dan memperluas identitas dan menjadi pilar pelestarian budaya rajut sekaligus daya tarik ekonomi kreatif di daerah khususnya di daerah Binong Jati.
Kecerdasan Buatan dan Seni dalam Perspektif Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa: Media Kreatif atau Akhir Orisinalitas? Siti Masna Padilah; Keizatalita Yovinda; Nisrina Rayya Muazah; Muhammad Luthfi Yasin; Muhammad Hilmi Azhar Shiddiq
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v14i1.3677

Abstract

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam proses kreatif menjadi fenomena yang semakin berkembang di kalangan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa, khususnya dalam kaitannya dengan aspek etika, orisinalitas, inklusivitas artistik, dan kesadaran hukum. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan skala Likert yang ditujukkan kepada 53 mahasiswa Pendidikan Seni Rupa. Temuan menunjukkan bahwa kesadaran etika dan hukum berada pada kategori tinggi, mengindikasikan pemahaman kuat terkait tanggung jawab moral dan batasan regulatif dalam pemanfaatan AI untuk produksi karya. Sementara itu, aspek orisinalitas dan inklusivitas berada pada kategori sedang, menandakan bahwa mahasiswa masih berupaya menyeimbangkan eksplorasi kreatif berbasis AI dengan identitas artistik pribadi serta mempertimbangkan keberagaman akses dan potensi bias budaya. Secara keseluruhan, mahasiswa memandang AI sebagai media kolaboratif yang dapat meningkatkan efisiensi, mempermudah proses kreatif, serta membuka peluang eksplorasi visual yang lebih luas. Namun demikian, penggunaan AI dipandang harus tetap dibingkai oleh prinsip etis, tanggung jawab akademik, dan pemahaman hukum yang memadai agar tidak mengancam autentisitas ekspresi artistik maupun hak cipta.
Koreografi Bedhaya Gandrungmanis oleh Naufal Anggito Yudhistira: Suatu Catatan Penggalian Tari Berdasarkan Naskah Kuno Naufal Anggito Yudhistira
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v14i1.3716

Abstract

Artikel ini menjadi suatu dokumentasi proses koreografi karya Bedhaya Gandrungmanis oleh Naufal Anggito Yudhistira. Bedhaya Gandrungmanis merupakan tari yang diciptakan raja di Keraton Surakarta, yaitu Sinuhun Pakubuwana VIII ketika beliau belum bertahta. Tari Bedhaya Gandrungmanis mengangkat kisah Panji Mbedhah Bali. Tari ini telah hilang namun masih terdokumentasi dalam naskah kuno dan sumber-sumber lisan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan proses kreatif penggalian koreografi Bedhaya Gandrungmanis, Metode penggarapan karya dilakukan dengan merujuk pada proses kreatif K. P. Sulistyo Sukmadi Tirtokusumo dalam penciptaan Bedhaya Suryasumirat. Secara wujud, tari Bedhaya Gandrungmanis hasil rekonstruksi-revitalisasi terdiri atas dua babak utama dengan tambahan maju beksan dan mundur beksan. Koreografinya merujuk pada pola Bedhaya klasik gaya Keraton Kasunanan Surakarta. Kekhasan tari ini terletak pada adanya koreografi batak moncol sebagai klimaks. Secara maknawi, Bedhaya Gandrungmanis merupakai simbol suksesi tahta. Lebih jauh lagi, cerita Panji di dalamnya dapat pula dimaknai sebagai proses pencarian kesejatian diri.
EKSISTENSI TARI REJANG TITI MAHMAH PADA UPACARA PITRA YADNYA DI JERO GEDE PETANGAN DENPASAR Ni Ketut Angelyka savitri; I Wayan Budiarsa; Kadek Diah Pramanasari
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v14i1.3734

Abstract

Tari Rejang Titi Mahmah merupakan tari wali yang memiliki kedudukan sakral dalam pelaksanaan upacara yadnya di Bali, khususnya pada rangkaian Pitra Yadnya dan Dewa Yadnya. Tarian ini lahir dari kebutuhan spiritual masyarakat dalam prosesi Metiti Mahmah yang dimaknai sebagai jembatan penyucian menuju alam niskala. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan fungsi Tari Rejang Titi Mahmah dalam konteks upacara keagamaan Hindu di Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data meliputi observasi terhadap pelaksanaan upacara, wawancara dengan tokoh adat, sulinggih, dan pelaku seni, serta studi dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk Tari Rejang Titi Mahmah tersusun atas empat bagian utama, yaitu papeson, pangawak, pangecet, dan pakaad, dengan karakter gerak yang sederhana, lembut, dan simbolik yang menyatu dengan prosesi ritual. Dari segi fungsi, Tari Rejang Titi Mahmah berperan sebagai media persembahan suci, sarana penyucian roh leluhur dalam Pitra Yadnya, serta media pemujaan dalam Dewa Yadnya. Selain itu, tarian ini juga memiliki fungsi sosial dan kultural sebagai sarana pewarisan nilai-nilai spiritual dan pelestarian budaya sakral masyarakat Bali. Dengan demikian, Tari Rejang Titi Mahmah merupakan elemen integral dalam sistem ritual yadnya yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, leluhur, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Perancangan Animasi 2 Dimensi sebagai Media Pengenalan Alat Musik Tradisional Jawa Barat bagi Siswa Kelas IV SDN Neglasari Silvana Anggraeni; Endah Riana Endarini
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v14i1.3789

Abstract

Penelitian ini bertujuan merancang dan menguji efektivitas media animasi dua dimensi sebagai media pendukung pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) pada materi pengenalan alat musik tradisional Jawa Barat bagi siswa kelas IV sekolah dasar. Penelitian menggunakan model ADDIE yang meliputi tahap Analyze, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, wawancara, observasi, dan triangulasi data yang melibatkan peneliti, budayawan, guru, serta siswa. Subjek penelitian berjumlah 26 siswa kelas IV SDN Neglasari, Kecamatan Jatinangor. Wawancara awal menunjukkan bahwa dari 26 siswa, hanya 1 siswa mengenal karinding, 3 siswa mengenal calung, serta 0 siswa mengenal jentreng dan tarawangsa. Media animasi dirancang dengan alur maju, visual berwarna cerah, karakter representatif budaya lokal, serta narasi sederhana yang menjelaskan nama, bahan, bunyi, dan cara memainkan alat musik. Hasil uji coba setelah penayangan animasi menunjukkan peningkatan pemahaman pada ranah kognitif C1 (mengingat). Sebanyak 19 siswa mampu menyebutkan nama karinding, 23 siswa menyebutkan calung, 20 siswa menyebutkan jentreng, dan 15 siswa menyebutkan tarawangsa. Pada aspek cara memainkan, 24 siswa memahami cara memainkan karinding, 25 siswa memahami calung, 25 siswa memahami jentreng, dan 26 siswa memahami tarawangsa melalui respons verbal maupun peragaan gerak. Temuan ini menunjukkan bahwa media animasi dua dimensi efektif dalam meningkatkan kemampuan mengingat dan memahami cara memainkan alat musik tradisional Jawa Barat pada siswa sekolah dasar serta mendukung proses pembelajaran SBdP secara terstruktur.
ANALISIS TATA KELOLA DIGITAL PADA SISTEM PENGARSIPAN KOMUNITAS SENI: STUDI KASUS KOMUNITAS BUMI BAJRA Ni Putu Suci Pramesti; Arya Pageh Wibawa
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v14i1.3857

Abstract

Komunitas Bumi Bajra merupakan komunitas seni pertunjukan di Bali yang aktif dalam produksi karya dan kolaborasi lintas disiplin. Aktivitas tersebut menghasilkan arsip administratif dan artistik yang berfungsi sebagai dokumentasi, memori kolektif, dan sumber pengembangan karya. Namun, praktik pengarsipan yang masih bersifat informal menimbulkan tantangan dalam aspek pengelolaan, akses, dan keberlanjutan arsip. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pengarsipan yang berlangsung serta mengidentifikasi kesenjangan dalam perspektif tata kelola digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, studi dokumen, dan wawancara. Analisis mengacu pada kerangka tata kelola digital, records management (ISO 15489), dan digital curation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarsipan masih bergantung pada individu, belum memiliki standar dan sistem terintegrasi, serta minim metadata, digitalisasi, dan backup. Kondisi ini menunjukkan perlunya sistem pengelolaan arsip yang lebih terstruktur untuk mendukung keberlanjutan praktik seni.