Articles
239 Documents
PENERAPAN PENDEKATAN KELEKATAN SEJARAH PADA PUSAT PENELITIAN ARKEOLOGI DI TEMANGGUNG
Angel Palastri;
Ari Widyati Purwantiasning;
Lutfi Prayogi
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 3 (2019): Purwarupa Vol 3 No 3 Special Edition#2 Juli 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Situs Liyangan merupakan salah satu situs peninggalan Mataram kuno yang ditemukan tahun 2008 di Dusun Liyangan Desa Purbosari Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Bagi para arkeolog Situs Liyangan merupakan penemuan terbesar karena mereka menemukan situs ini sudah mengalami peradaban yang modern pada masa itu. Setelah penggalian, mereka membawa hasil temuan-temuan purbakala ke Balai Arkeologi Yogyakarta karena kurang mendukungnya fasilitas yang ada. Faktor tersebut memengaruhi munculnya gagasan untuk merencanakan dan merancang Pusat Penelitian Arkeologi di Temanggung dengan konsep kelekatan sejarah. Konsep kelekatan sejarah yang dimaksud berkaitan dengan ikatan emosional terhadap sesuatu yang bersejarah. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan analisis terhadap tapak, bangunan, dan konsep kelekatan sejarah. Tujuan penelitian ini untuk merencanakan dan merancang sebuah pusat penelitian arkeologi yang dapat menunjang kegiatan arkeolog dan peneliti dalam ekskavasi dan penelitian, serta memberikan edukasi bagi pengunjung. Pusat penelitian arkeologi adalah bangunan penelitian yang digunakan untuk meneliti benda peninggalan purbakala dengan berbagai fasilitas penunjang. Penerapan konsep kelekatan sejarah pada pusat penelitian arkeologi diharapkan dapat memunculkan memori dan suasana pada masa Mataram Kuno saat itu.
PENDEKATAN ARSITEKTUR TRADISIONAL PADA BANGUNAN PENDIDIKAN BERKONSEP MODERN “KAROL WOJTYLA” UNIVERSITAS KATOLIK ATMA JAYA
Erdiansyah Gigih Prayoga;
Anisa Anisa
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 3 (2019): Purwarupa Vol 3 No 3 Special Edition#2 Juli 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (21.266 KB)
Penelitian ini membahas tentang pendekatan arsitektur tradisional pada bangunan pendidikan yang berkonsep modern, dengan penekanan pembentukan pada fasad bangunan yang melalui pengetahuan nilai-nilai tradisional yang dimiliki oleh objek bangunan pendidikan. Pengetahuan arsitektur tradisional yang terdapat pada penelitian ini terdiri dari ciri budaya suatu kelompok manusia yang diberikan secara turun menurun, dengan tata nilai yang mereka anut membentuk suatu bentuk tersendiri pada sebuah bangunan. Penelitian ini menggunakan alat ukur yaitu elemen pembentukan fasad yang berperan dalam membantu peneliti untuk memahami dan menilai objek bangunan pendidikan yang menerapkan nilai arsitektur tradisional.Kata Kunci: Arsitektur Tradisional, Bangunan Pendidikan, Fasad.
PENERAPAN KONSEP METAFORA PADA MUSEUM SERANGGA DI JAKARTA
Fikri Dzulfikar;
Yeptadian Sari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 3 (2019): Purwarupa Vol 3 No 3 Special Edition#2 Juli 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (20.365 KB)
ABSTRAK. Metafora adalah salah satu dari lima konsep dasar dalam dunia arsitektur. Pada dasarnya konsep metáfora terbagi menjadi 3 kategori metafora, yaitu: 1. Metafora tak teraba (Intangible metaphor), 2. Metafora teraba (Tangible Metaphor), dan 3. Metafora kombinasi (Combained metaphor). Penerapan konsep metafora bertujuan untuk menunjukan keunikan dari konsep metafora, karena konsep metafora adalah sesuatu yang unik,. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami penerapan konsep arsitektur metáfora pada museum, dan mengetahui bagian-bagian museum yang menerapkan konsep arsitektur metafora. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Pada penelitia ini ditemukan bahwa museum serangga di TMII menerapkan konsep metafora teraba (Tangible).
PENERAPAN TEORI ARSITEKTUR SEMIOTIK PADA CREATIVE AND PERFORMING ARTS CENTER YOGYAKARTA
Muhammad Alwan Rosyadi;
Ashadi Ashadi;
Wafirul Aqli
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 2 (2019): Purwarupa Vol 3 No 2 Special Edition #1 Mei 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.821 KB)
Pendekatan Arsitektur Semiotik yang merupakan teori arsitektur yang digunakan untuk mengetahui makna yang ingin disampaikan dalam hasil karya arsitektur. Makna dalam arsitektur sendiri dibagai menjadi makna konotasi dan makna denotasi. Dapat diartikan bahwa sebuah karya arsitektur sama dengan sebuah karya seni yang didalamnya mengandung makna yang disampaikan. Sehingga teori Arsitektur Semiotik sangat cocok untuk digunakan sebagai pendekatan yang digunakan dalam merancang bangunan yang mewadahi kegiatan kesenian dan kreativitas. Makna Kreatif artinya memiliki daya cipta, merupakan sifat alami manusia yang mendorong manusia untuk menemukan hal-hal baru. Kreativitas bersumber dari ide dan gagasan yang tidak berwujud dikembangkan dan diproduksi menjadi sesuatu yang dapat kita rasa, raba, lihat serta nikmati pada tahap ini kreatif telah menjadi sebuah produk. Ekonomi Kreatif adalah kegiatan dalam mengkomersilkan produk kreatif. Indonesia saat ini mulai fokus untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang dibuktikan dengan dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif. Secara sadar potensi Ekonomi Kreatif Indonesia sangat besar tetapi belum dimaksimalkan. Dibangunnya Creative and Performing Arts Center merupakan salah satu cara untuk memaksimalkan potensi ekonomi kreatif. Yogyakarta yang dikenal sebagai daerah seni dan budaya serta kreativitas masyarakat yang tinggi populasi anak muda yang banyak dan dikenal sebagai kota tujuan pelajar seluruh Indonesia, menjadi alasan yang kuat untuk merancang Creative and Performing Arts Center di Yogyakarta dan digunakannya teori Arsitektur Semiotik diharapkan bangunan yang akan dirancang dapat mencirikan bangunan kreatif dan mengedepankan identitas lokal Yogyakarta.
PUSAT PENANGKARAN HEWAN LANGKA OWA JAWA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI DI BOGOR
Erick Handiana;
Lily Mauliani;
Anggana Fitri Satwikasari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 3 (2019): Purwarupa Vol 3 No 3 Special Edition#2 Juli 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (306.638 KB)
Javan Gibbons or “Owa Jawa” are one of the endemic animals of the Java island which are included in one of the 25 most endangered primate species in the world. The rise of poaching and long-term reproductive capacity of Javan Gibbon make the population decline. One way to see Javan Gibbons is to visit a breeding place because it is hard to find in its natural habitat. Natural breeding in Indonesia is very rare and breeding that has the concept of 5 animal welfare is free from hunger and thirst, freedom from displeasure, freedom from pain is also still rare, freedom to act normally, and freedom from fear and stress. Therefore, to achieve this, there is a need for captivity that has 5 concepts of animal welfare so that the Javan gibbon population can increase. The planning and design of the rare Javan gibbon animal breeding center was designed using the concept of ecological architecture as a concept most suited to the harmony between buildings and the environment. The method of drafting the concepts used is by collecting data from related theoretical foundations and field observations, data processing, and data analysis to formulate the concepts of planning and design "Center for Breeding Ecological Architecture with the Ecological Architecture Approaches"
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR HYBRID PADA BANGUNAN GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT BANDUNG
Siti Annisa;
Anisa Anisa
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 2 (2019): Purwarupa Vol 3 No 2 Special Edition #1 Mei 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (364.767 KB)
Penggunaan konsep Hybrid ini sering ditemukan pada bangunan publik. Konsep ini tidak jarang ditemukan di bangunan yang dapat diakses oleh masyarakat secara umum. Pada zaman kini muncul beberapa tipologi bangunan yang dianggap penting akan kehadirannya di sebuah kota atau kawasan yang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi. Persaingan yang semakin ketat antar individu atau kelompok, menuntut seseorang untuk lebih kreatif dalam bertindak dan berfikir. Sehingga lahirlah kelompok atau komunitas industri kreatif yang membutuhkan wadah atau tempat berkreatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bangunan dengan tipologi Creative Hub memang menggunakan konsep arsitektur Hybrid dalam elemen fungsi maupun bentuk.Kata Kunci: Arsitektur, Arsitektur Hibrid, Pusat Kreatif
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR HIJAU PADA PUSAT KONSERVASI EKOLOGI KAWASAN PESISIR DI JAKARTA UTARA
Ridwan Arifin;
Ashadi Ashadi;
Lutfi Prayogi
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 3 (2019): Purwarupa Vol 3 No 3 Special Edition#2 Juli 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (235.645 KB)
Secara geograis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.508 pulau dan didominasi oleh wilayah laut, yaitu mencapai 81.7 % (5.8 juta kilometer persegi) dari luas total wilayah indonesia. Indonesia memiliki banyak kawasan pesisir yang berfungsi sebagai penyedia sumber daya alam, seperti muara, bakau, rumput laut dan terumbu karang yang produktif. Pada saat ini penanganan ekologi kawasan pesisir masih sangat kurang diperhatikan terutama dalam penanganannya yang masih diabaikan seperti tidak mempunyai peran penting terhadap kawasan pesisir. Untuk menjawab issu tersebut, maka dirancanglah sebuah pusat konservasi ekologi kawasan pesisir dengan pendekatan arsitektur hijau. Dengan adanya pusat konservasi ekologi kawasan pesisir ini diharapkan menjadi pusat penelitian, konservasi dan edukasi berwawasan wisata alam bagi masyarakat luas.
Penerapan Konsep Arsitektur Metafora pada bangunan Pusat Mode dan Kecantikan Anne Avantie
Helen Intan Sapitri;
Lily Mauliani;
Yeptadian Sari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 3 (2019): Purwarupa Vol 3 No 3 Special Edition#2 Juli 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (88.26 KB)
Anne avantie adalah seorang perancang busana yang berasal dan berdomisili di Kota Semarang, hasil karyanya selalu identik dengan karakteristik desain seorang Anne Avantie. Perancangan Pusat Mode dan Kecantikan Anne Avantie di Semarang dengan menerapkan konsep Arsitektur Metafora dibuat untuk menampung semua aktivitas yang berkaitan dengan Mode dan Kecantikan serta sebagai sarana Pendidikan unformal untuk mengembangkan minat dan bakat bagi para peminat Mode dan Kecantikan. Penerapan konsep Arsitektur Metafora pada bangunan dapat memperlihatkan karakteristik desain seorang Anne Avantie. Data-data dalam perancangan ini didapatkan dari survey tapak secara langsung, wawancara dan kajian literatur. Kota Semarang dipi;ih menjadi lokasi di bangunnya bangunan Pusat Mode dan Kecantikan Anne Avantie, selain Kota Semarang merupakan domisili Anne Avantie, Kota Semarang juga berupakan ibu kota terbesar ke lima di Indonesia yang tentunya memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat khususnya di bidang mode dan kecantikan. Batik parang di metaforakan kedalam bentuk gubahan massa serta pada selubung bangunan menerapkan bentuk bunga yang merupakan karakteristik desain dari Anne Avantie, Kata Kunci: Anne Avantie, Arsitektur Metafora, Penerapan, Pusat Kecantikan, Pusat Mode, Semarang
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR METAFORA PADA BOTANICAL CENTER DI SETU PENGASINAN DEPOK, JAWA BARAT
Lina Witdiya Wanti;
Anisa Anisa;
Anggana Fitri Satwikasari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 3 (2019): Purwarupa Vol 3 No 3 Special Edition#2 Juli 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (165.676 KB)
ABSTRAK. Peran botani sangat penting dalam kehidupan manusia dari aspek ekonomi, kesehatan dan budaya. Penyebab kepunahan botani di Indonesia pada umumnya yang disebabkan oleh adanya alih fungsi lahan, ekploitasi lahan, pencemaran lingkungan dan penebangan liar terhadap tanaman yang dilindungi sehingga Indonesia membutuhkan Botanical Center. Bangunan Botanical Center di Setu Pengasinan ini menggunakan konsep Arsitektur Metafora berfungsi sebagai visualisasi bentuk untuk menarik pengunjung. Dengan adanya botanical center di Setu Pengasinan Depok diharapkan mampu untuk menekan angka kepunahan tumbuhan di Indonesia serta memberikan kontribusi terhadap para ilmuan dan pengembang pelaku bisnis botani di Indonesia, sehingga kedepannya mampu memperbaiki perekonomian Indonesia dan dapat menciptakan inovasi-inovasi penelitian baru. Kata Kunci: botanical center, arsitektur metafora
KONSEP ARSITEKTUR PERILAKU PADA PUSAT AKTIVITAS SENI RUPA DAN SENI PERTUNJUKAN ANAK JALANAN DI JAKARTA
Dinda Wahyuning Hati;
Ari Widyati Purwantiasning;
Finta Lissimia
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 3, No 1 (2019): Purwarupa Vol 3 No 1 Maret 2019
Publisher : Arsitektur UMJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Fenomena anak jalanan merupakan salah satu masalah yang muncul seiring dengan permasalahan pembangunan yang dihadapi bangsa Indonesia. Latar belakang tersebut memicu para anak jalanan ini berkreasi di sembarang tempat tanpa bekal pengetahuan yang cukup. Untuk menanggapi hal tersebut perancangan ini menghasilkan konsep Pusat Aktivitas Kreasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Anak Jalanan dengan mengambil pendekatan arsitektur perilaku. Arsitektur perilaku bertujuan untuk menciptakan tempat yang sesuai dan optimal dengan perilaku pengguna. Konsep yang dihasilkan pada perencanaan dan perancangan Pusat Aktivitas Kreasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Anak Jalanan dengan konsep Arsitektur Perilaku di Jakarta berupa ruang yang mendukung kegiatan anak jalanan untuk berkreasi yang sebelumnya dilakukan analisis tapak, analisis konsep, dan analisis ruang.