cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
Estetika Postmodernisme dalam Hijab style Linda Handayani; Gungun Gunardi; Nani Darmayanti
PANGGUNG Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.619 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v24i1.104

Abstract

ABSTRACT Hijab style is a new term in the fashion Muslim hijab that marked novelty shapes. Since the ap- pearance of Hijabers Community in 2010 , there were many changes in the form of veil that accom- panied the change of name became Hijab style hijab. Hijab is initially mandatory Muslim clothing to cover nakedness . Novelty Hijab style made it not only a practice of God command but also become part of fashion . Updates on the form that is often referred to as modernization pull analyzed in terms of aesthetics. Hijab which used by designers founder Hijabers Community becomes the object of this study. The method used in this study is a qualitative approach to the study of cultural and semiotic theory models Baudrillard. The signs were there in style hijab as an aesthetic representation of post- modernism will be described. As cultural products that spread through the mass media, Hijab style became popular and developed following the postmodern aesthetic principled form follows fun. Keywords: Hijab style, aestetics, postmodernism, consumerism, fashion  ABSTRAK Hijab style merupakan istilah baru dalam fashion muslimah yang menandai kebaruan bentuk jilbab. Sejak kemunculan Hijabers Community tahun 2010, terjadi banyak perubahan bentuk pada jilbab yang diiringi perubahan nama dari jilbab menjadi Hijab style. Jilbab pada awalnya adalah pakaian wajib muslimah untuk menutup aurat. Kebaruan Hijab style mem- buatnya tidak hanya menjadi praktik menutup aurat tapi juga menjadi bagian dari fashion. Pembaruan pada bentuk yang kerap disebut sebagai modernisasi menarik dianalisis dari sisi estetika. Hijab yang digunakan oleh desainer-desainer pendiri Hijabers Community menjadi objek penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan kajian budaya dan teori semiotik model Baudrillard. Tanda-tanda yang ter- dapat dalam Hijab style sebagai representasi dari estetika postmodernisme akan diuraikan. Sebagai produk budaya yang menyebar melalui media massa, Hijab style menjadi popular dan berkembang mengikuti estetika postmodernisme yang berprinsip form follows fun. Kata kunci: Hijab style, estetika, postmodernisme, konsumerisme, fashion 
Kreativitas Siswa Kelas X SMAK ST. Thomas Rasul Pangururan-Samosir pada Opera Batak “Anak Naburju II” Junita Batubara; Emmi Simangunsong
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.087 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.174

Abstract

ABSTRACT Opera  Batak  is a traditional  operetta from the Regional  Batak  Toba in Indonesia. This opera was created by Tilhang Gultom  around 1920. Opera Batak  function  rather  than as a forum for cultural expression  of traditional  opera of Regions  Batak  Toba.  At present very rare Opera  Batak  performances due to several factors  are: change  elements  of culture, lack  of work and  opera composers  who create  works of opera in Indonesia particularly  in the Batak  Toba. This study  based on script opera “Anak Naburju  II” performed by students SMAK St. Thomas Rasul in Pangururan  Samosir. The study was conducted  based on qualitative  research. Method in the opera based on the method Alma Hawkins  and ‘methods play a role’ of Hamalik.  Results of this research: to make students  able to act, know and understand  the local culture,  especially Opera Batak so it can be preserved  and continued by the next generation. Keywords: Opera Batak,  Naskah ‘Anak  Naburju  II’, Acting     ABSTRAK Opera Batak merupakan opera tradisional yang bersifat teater keliling yang berasal dari Daerah Batak Toba di Indonesia. Opera ini diciptakan oleh Tilhang Gultom sekitar tahun 1920-an. Fungsi Opera Batak adalah sebagai wadah ekspresi budaya opera tradisional dari Daerah Batak Toba. Pada masa kini sangat jarang ditemui pertunjukan Opera Batak disebabkan beberapa factor di antaranya: perubahan dalam unsur-unsur budaya, kurangnya karya opera dan juga kurangnya komposer yang mencipta karya opera di Indonesia khususnya di Daerah Batak Toba. Penelitian ini berdasarkan naskah opera berjudul “Anak Naburju II” dilaksanakan oleh siswa SMAK St. Thomas Rasul di Pangururan Samosir. Penelitian dilakukan berdasarkan penelitian kualitatif. Metode pembelajaran terhadap peran dalam naskah opera tersebut berdasarkan metode Alma Hawkins dan ‘metode bermain peran’ dari Hamalik. Hasil penelitian ini adalah membuat siswa dapat berakting dan lebih mengenal dan memahami budaya lokal khususnya op- era Batak sehingga opera Batak dapat dilestarikan dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Kata kunci: Opera Batak, Naskah ‘Anak Naburju II’, Akting/peran
Tari Rampoe Sebagai Cerminan Karakteristik Masyarakat Aceh Rika Restela; Tati Narawati
PANGGUNG Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.192 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i2.260

Abstract

ABSTRAKArtikel ini adalah kajian Etnokoreologi yang dipadudengansosiologidan folkloreyang digunakanuntukmenganalisistariRampoeyang merupakan tariankolektif dari lima tarian Aceh, yaitu Seudati, Pho, Laweut, Ratoh Duek dan Saman. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan karakteristik masyarakat Aceh serta keterkaitannyaantara struktur pemerintahan adat dankepemimpinan dalam tari, serta keterkaitan antara pola tatanan masyarakat danesensi syair maupun gerak tari Rampoe. Untuk itudibutuhkan analisis yang tajam terhadap teks dan konteks pada tarinya.Penelitiankualitatifini, membuktikan hasil, bahwa: (1) bentuk kepemimpinan tari diadopsi dari pemerintahan adat, (2) sifat masyarakat Aceh yang tegas, memilikihargadiri yang tinggi, kompak, setia kawan, menjunjung nilai-nilai persaudaraan, dan pantang menyerah, tercermin dalam esensi gerak dan syair pada tari Rampoe.Kata kunci: Tari Rampoe, Etnokoreologi, karakteristik masyarakat AcehABSTRACT This article is a study of ethnochoreology wich combined with sociology and folklore, and used to analyze ‘Rampoe’ dance that consists of five Aceh dances such as namely ‘Suedati, Pho,Laweut, RatohDuek and Saman’. The objective of this study is to reveal the characteristics of the Acehnese and its associations between traditional governance structure (sultan, ulama,ulleebalang), andleadership in the dance (syekh, aneuksyahi, apiet), as well as the relation pattern of social order with the essence of poetry and movements of ‘Rampoe’ dance. So it needs a sharp analysis of the text and the contexts of dance. Theresult of thequalitative research that related to the essence of movement and poetry, are: (1) The form of leadership in the dance adopted from traditional administration:, (2) The nature of Acehnese attitudesarefirm, having high self concept, compact, loyal, uphold the brotherhood values, and never give up.Keywords: ‘Rampoe’ dance, Etnochoreology, Acehnese characteristics. 
Pergeseran Fungsi dan Bentuk Ronggeng di Jawa Barat Anis Sujana
PANGGUNG Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5329.365 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v22i1.39

Abstract

Generally the term ronggeng is used to call female performer, ‘being paid’, and is usually i- maged badly. However, in the other side, ronggeng also performs in fecundity rituals and becomes the source of blessing. It can be seen here that ronggeng has double function and role.This writing is aimed at seeking for functions and types of ronggeng arts in western Java. The result shows that in many cases socio-culturally ronggeng is on profane functions, that is, as enter- tainers. Related to their performance techniques, there are several functions: 1) as audience partners in social intercourse dance; 2) as actors in some traditional theatres; 3) as dance performers and‘single’ singer as well as jester; 3) as song performers (sinden) in wooden puppet; 5) as performers in magic performance; and 6) as performers in helaran performance. On the other side, ronggeng also has sacred function, that is as the rites performers, especially on fecundity ones; in this case, ronggeng has ambiguous functions, that is as rites performers in one side, and on the other side as entertainers. Keywords: ronggeng, function and type, entertainment, rites.
Penanaman Nilai-Nilai Kasundaan Berbasis Pembelajaran Tari Pakujajar di SMP Negeri 5 Sukabumi Ayu Vinlandari Wahyudi; Tati Narawati; Trianti Nugraheni
PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.096 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i2.462

Abstract

ABSTRACTThis research aims to inculcate kasundaan values that is cageur, bageur, bener, pinter, singer that have been disappeared from students life. The decline of local cultural values creates problems, as well as moral degradation following the decrease of ethics and aesthetics values. This research consist of two steps include an analysis to the dance by using etnochoreology, etnopedagogy  and folklore. Meanwhile, the implementation of dance learning uses a Lickona and Gardner theory. The results of studies show that the values contained in the dance pertains to cageur, bageur, bener, pinter, tur singer and these values are implemented through an ethnic dance learning that is Pakujajar Dance by using a sinectic learning model. This research employ an action research method with a qualitative approach. Based on the processes that have been done, there is a significant increase shown by improvement in imagination  and understanding of the students to the subject materials,as well as student’s attitudes of caring and mutual respects both to their teachers and their peers. This research produces the ethnic dance learning model.Keywords: kasundaan values, Pakujajar dance, implementation of dance learning ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kasundaan, yaitu cageur, bageur, bener, pinter,  singer yang telah luput dari kehidupan para siswa. Terkikisnya nilai-nilai budaya lokal menimbulkan permasalahan, yaitu degradasi karakter yang dipengaruhi oleh lemahnya etika dan estetika. Penelitian ini terdiri atas dua tahapan, yaitu mengkaji tari dengan menggunakan teori etnokoreologi yang dibantu dengan pendekatan etnopedagogik dan folklor, serta implementasi pembelajaran dengan menggunakan teori Lickona dan Gardner. Hasil kajian diperoleh bahwa nilai-nilai yang berkenaan dengan nilai cageur, bageur, bener, pinter, tur singer yang kemudian diimplementasikan melalui sebuah pembelajaran tari etnis, yaitu tari pakujajar dengan menggunakan model pembelajaran sinektik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian action research dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan proses yang telah dilakukan, terjadi peningkatan yang signifikan yang dibuktikan dengan meningkatnya daya imajinasi serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan sikap siswa yang peduli serta saling menghormati baik pada guru maupun antarsesama. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan model pembelajaran tari etnis. Kata Kunci: Nilai-nilai kasundaan, tari pakujajar, implementasi pembelajaran tari  
PERANAN R. A. A. WIRANATAKUSUMAH V DALAM PENYEBARAN TEMBANG SUNDA CIANJURAN Mohamad Yusuf Wiradiredja
PANGGUNG Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.573 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v22i3.77

Abstract

The main problems studied in this article is how the creation process of the art of cianjuran music and how far the role of R. A. A. Wiranatakusumah V in spreading the art of cianjuran music in Priangan in the 20th century. To get the answers to those problems, the historical research has been done with the method of research which consists of four phases: heuristik, criticism, interpretation, and historiography. The application of historical method is then ellaborated with social science theories, among of those is the theory of change and continuity of K. J. Veeger.The result of the research indicates that the art of cianjuran music was born as a creativity result of Cianjur aristocratics adopting from some vocal arts among Sundanese society such as: poetry, degung, and kawih. In its growth, the art of cianjuran adapts with the change of epoch so that its existence can be kept well. In this case, R. A. A. Wiranatakusumah V had an important role in spreading the art of cianjuran music in Priangan. Keywords: Cianjuran Music, R. A. A. Wiranatakusumah V 
Pelestarian dan Pengembangan Seni Ajeng Sinar Pusaka pada Penyambutan Pengantin Khas Karawang Rosikin Wikandia
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.197 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.162

Abstract

ABSTRACT Ajeng art preservation Hamlet  origin  Bambu  Duri, Karangpawitan.  Karawang,  many obstacles.  Passive  role of the local artist community,  the lack of regeneration  culture  of origin, not pro-active  good relations  between relevant  agencies as well as the entry  of modern art, the art of Ajeng  undeveloped and eroded extinction.  Ajeng art is a kind of art that has its peculiari- ties such as art pangajeng-ngajeng  (Pangwilujeng)  accompanied by Soja dances that were held at the welcoming  ceremony  the bride or the guest  of honor.  Through  research  with qualitative descriptive approach to the socio-cultural  aspects in a systematic, empirical, and cultural  theory is expected to  be the  presentation  of Ajeng  art Maya art aesthetic  tradition  and loved young people in the conservation and development  of the  art of Ajeng. Keywords: Ajeng,  Dance Soja     ABSTRAK Pelestarian seni Ajeng asal Dusun Bambu Duri, Karang Pawitan. Kabupaten Karawang, banyak mengalami hambatan. Pasifnya peran komunitas seniman setempat, kurang adanya regenerasi budaya asal, tidak pro aktifnya hubungan baik antara dinas terkait serta masuknya kesenian modern, maka seni Ajeng tidak berkembang dan tergerus kepunahan. Seni Ajeng merupakan jenis seni yang memiliki kekhasan seperti seni pangajeng-ngajeng (Pangwilujeng) dengan diiringi tarian Soja yang biasanya dilaksanakan pada acara upacara pengantin atau penyambutan tamu kehormatan. Melalui penelitian dengan pendekatan deskriftif kualitatif pada aspek sosial budaya secara sistematis, empiris, dan teori budaya diharapkan seni Ajeng menjadi penyajian seni Ajeng yang estetik tradisi dan dicintai generasi muda dalam rangka pelestarian dan pengembangan seni Ajeng. Kata kunci: Ajeng, Tari Soja
Menggali Filsafat Wayang Beber untuk Mendukung Perkembangan Industri Kreatif Batik Pacitan Suyanto Suyanto
PANGGUNG Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.95 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.237

Abstract

AbstractThis article entitled "Digging the Wayang Beber Philosophy to Encourage the Development of Creative Industries of Batik in Pacitan Regency”. It is the juice from the results of our research in the second year. This research was conducted to look at the extent to which the condition of the Wayang Beber Pacitan its relationship with growth and development of industrial and economic aspects, as well as her role as media strengthening local wisdom and efforts increase the economy of communities in Pacitan Regency.This research uses the theory of action research approach through four stages; first determine the focus of the second, the third data collection, analysis and interpretation of data, and a fourth action field. The method is carried out in several stages: the stage of the Assessment, the design stages, the stages of socialization, mentoring and training stages, the stages of production, and the stages of launching. Results of the study in the second year it has also become the third year research reference i.e. dissemination draft corporate identity branding guide ecotourism village of batik and a draft training module design motifs reserved for industrial cluster batik craftsmen so able to improve the economy of Pacitan Regency society.Keywords: Philosophy of Wayang Beber, Batik Motif Pacitan, and Improving the Economy of the Community.Abstrak Artikel ini berjudul “Menggali Filsafat Wayang Beber Untuk Mendorong Perkembangan Industri Kreatif Batik di Kabupaten Pacitan” Ini merupakan perasan dari hasil penelitian kami pada tahun kedua. Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana kondisi Wayang Beber Pacitan hubungannya dengan pertumbuhan dan perkembangan aspek ekonomi dan industri, serta perannya sebagai media penguatan kearifan lokal dan upaya peningkatan perekonomian masyarakat di Kabupaten Pacitan. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori action research melalui empat tahapan; pertama menentukan fokus, kedua pengumpulan data, ketiga analisis dan interpretasi data, dan keempat tindakan lapangan. Metode yang dilakukan dalam beberapa tahapan : Tahapan Pengkajian, Tahapan Perancangan, Tahapan Sosialisasi, Tahapan Pendampingan dan Pelatihan, Tahapan Produksi, dan Tahapan Launching. Hasil penelitian pada tahun kedua ini juga menjadi acuan penelitian tahun ketiga yaitu desiminasi draft corporate identity branding panduan ekowisata kampung batik dan draft modul pelatihan perancangan desain motif batik yang diperuntukkan bagi pengrajin klaster industri batik Pacitan sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten Pacitan.Kata Kunci: Filsafat Wayang Beber, Motif Batik Pacitan, dan Peningkatan Perekonomian Masyarakat
Pencugan Ibing Penca Topeng Pendul Kabupaten Karawang Dedi Rosala; Agus Supriyatna; Ace Iwan Suryawan
PANGGUNG Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.373 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i1.411

Abstract

ABSTRACT The purpose of the article is to  understand pencugan ibing penca style in the Topeng Pendul group leaded by Syahrul in Karawang regency, West Java. The aim of this research is to reveal the richness  of dance styles in West Java, and as materials for pencak silat lessons, which are sourced from traditional arts,  and are only limited to ibing penca tepak dua and tepak tilu paleredan. The research method uses a qualitative, descriptive method, and valitades data with triangulation techniques. The research findings are: (1) a staging is performed in early scene of a drama containing a historical story; (2) patterns and motions of pencugan ibing penca cannot be separated from the influence of pencak silat styles in West Java; (3) a staging has some elements include time, places, plays, characters, music, song lyrics, and costumes; (4) the function of staging is for an entertainment, respects and pride of the perpetrators of ceremonies to their ancestors, and as the character’s amplifier of the main role in the play of a historical story.Keywords:  Pencugan ibing penca, pendul mask, pencak silat ABSTRAK Tujuan artikel ini adalah untuk memahami pencugan ibing penca pada kelompok kesenian Topeng Pendul pimpinan Syahrul di Kabupaten Karawang,  Jawa Barat. Alasan penting penelitian ini sebagai upaya pengayaan khasanah seni tari di Jawa Barat, dan sebagai bahan bagi pengembangan bahan ajar Pencak silat yang bersumber seni tradisional, yang selama ini terbatas pada ibing penca tepak dua dan tepak tilu paleredan. Metode penelitian yang digunakan, yaitu  penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, dan validasi data dengan cara triangulasi. Temuan penelitian dapat disampaikan sebagai berikut, (1) pementasan dilakukan pada awal adegan, babak lakon bermuatan roman sejarah; (2) pola dan ragam gerak  pencugan ibing penca tidak dapat lepas dari pengaruh jurus-jurus aliran pencak silat yang ada di Jawa Barat; (3) pementasan memiliki unsur waktu, tempat, lakon, seni peran, musik, syair lagu, dan rias busana; dan (4) fungsi pementasan sebagai media hiburan estetis, rasa hormat dan bangga bagi yang punya hajat terhadap leluhurnya, dan penguat karakter peran utama dalam lakon roman sejarah. Kata kunci: Pencugan ibing penca, topeng pendul, pencak silat
Makna Mendidik pada Kriya Songket Silungkang Sumatera Barat Budiwirman Budiwirman
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.564 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.68

Abstract

ABSTRACTOne of the handicraft products related to Silungkang ceremony in West Sumatra is woven songket. This study is aimed at documenting the indigenous culture of Minangkabau which is closely linked to the existence of weaving/songket Silungkang, and reviewing the various motives of songket in the same way as the language which is used as a tool of communication. This type of research is closely linked with the methods of ethnography, then it is processed through a qualitative description. The result of the research shows that songket attire is a symbol of the livelihood of indigenous people in the value of educating people and is used for all forms of ceremonial pomp (ceremonial). Therefore, the motives of songket have a strong position as a means of communication, for a variety of motives with their meanings are part of the indigenous institutions that must be obeyed.Keywords: Symbol, Songket, CultureABSTRAKSalah satu produk kerajinan yang terkait dengan upacara Silungkang di Sumatera Barat adalah tenunan songket. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan budaya asli Minangkabau yang terkait erat dengan keberadaan tenun/songket Silungkang, dan mengkaji berbagai motif songket dengan cara yang sama sebagaimana bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi. Jenis penelitian ini berhubungan erat dengan metode etnografi, maka penelitiannya diproses melalui deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakaian songket merupakan simbol dari kehidupan masyarakat adat dalam hal mendidik masyarakat dan digunakan untuk semua bentuk kemegahan upacara (seremonial). Oleh karena itu, motif songket memiliki posisi yang sangat kuat sebagai sarana komunikasi karena berbagai motif dengan maknanya masing-masing merupakan bagian dari adat istiadat yang harus dipatuhi.Kata kunci: simbol, songket, budaya

Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue