cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
Kajian Sosiologis Terhadap Tema Lakon ‘Domba-domba Revolusi’ Karya Bambang Soelarto Nur Sahid
PANGGUNG Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.658 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v24i1.100

Abstract

ABSTRACTRevolutionary struggle in order to compete for the independence of Indonesia has been a source of inspiration Indonesian artists, including Bambang Soelarto who wrote drama Domba-domba Re- volusi (DDR). DDR studied drama is quite interesting because it tries to criticize the freedom fight- ers. This study aims to: first to know the theme and the problem plays DDR; second to determine the relationship of the socio - historical struggle in 1948 with the sociological elements of drama DDR themes and issues. This study uses sociological theory of art. The basic principles of the sociology of art is the fact that the creation of works of art influenced by the historical social conditions where the work was created. Research using content analysis of Krippendorf, the methods used to examine the symbolic phenomena with the aim to explore and express the observed phenomenon which is the content, meaning, and an essential element of the literary work. Based results of this research is that Bambang Soelarto as the author tries to capture di?erence between fighters during the struggle for the political aspirations for 1948 are expressed in a work of drama. Historical events inspired the creation of drama DDR. Soelarto want to respond to the political aspirations of the di?erence between historical figures and wanted to provide an assessment and outlook through DDR.Keywords: themes, drama, sociology of art, social historical ABSTRAKRevolusi perjuangan dalam rangka memperebutkan kemerdekaan Indonesia telah men- jadi sumber inspirasi para seniman Indonesia, termasuk Bambang Soelarto yang menulis drama Domba-domba Revolusi (DDR). Drama DDR cukup menarik diteliti karena mencoba mengkritisi para pejuang kemerdekaan. Penelitian ini bertujuan untuk: pertama, mengeta- hui tema dan permasalah drama DDR; kedua, mengetahui hubungan kondisi sosio-histo- ris perjuangan pada tahun 1948 dengan unsur-unsur sosiologis terimplisir pada unsur tema dan masalah drama DDR. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi seni. Prinsip dasar dari sosiologi seni adalah adanya fakta bahwa penciptaan karya seni dipengaruhi oleh kon- disi sosial historis tempat karya itu diciptakan. Penelitian ini menggunakan metode con- tent analysis dari Krippendorf, yakni metode yang dipergunakan untuk meneliti fenome- na-fenomena simbolik dengan tujuan untuk menggali dan mengungkapkan fenomena yang teramati yang merupakan isi, makna, dan unsur esensial karya sastra. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Bambang Soelarto sebagai penulis mencoba un- tuk menangkap perbedaan antara pejuang aspirasi politik selama perjuangan tahun 1948 untuk diekspresikan dalam sebuah karya drama. Peristiwa sejarah mengilhami penciptaan drama DDR. Soelarto ingin menanggapi aspirasi politik perbedaan antara tokoh-tokoh se- jarah dan ingin memberikan penilaian dan pandangan pandangannnya melalui DDR.Kata kunci: tema, drama, sosiologi seni, sosial historis
Mural sebagai Tanda dan Identitas Kontemporer Kota Bramantijo Bramantijo
PANGGUNG Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1582.432 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v21i1.737

Abstract

Representasi Mitos dalam Film Dokumenter Apip Apip
PANGGUNG Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8376.456 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v21i1.850

Abstract

ABSTRACTThis research studies the representation form of myth in Ray Bachtiar Drajat’s film, “Ngalaksa” (2004). This research is using qualitative method to understand the representation form of myth in documentary film. The data analysis uses the methodof Charles Sanders Peirce’s semiotics. This research shows that, Ray Bachtiar sees ngalaksa ritual which is full symbol and ritual offerings as concrete examples of collage, montage, and assembling concepts which have been embraced by in the field of photography. This reality inspires Ray to actualize representation of ngalaksa in the form of documentary film when photography and multimedia arts are not satisfying enough for his expression, especially, for revealing facts into a discourse narratively. The dissolve of drawing, photo, video, and audio smoothen the representation of ngalaksa ritual which is closed to the thought background of myth, cosmology and agricultural life.Key words: ngalaksa, documentary film, representation of myth
Visualisasi Rumah Gadang dalam Ekspresi Seni Lukis Harissman Harissman; Suryanti Suryanti
PANGGUNG Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.088 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i1.813

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this art creation is to transform the values of Rumah Gadang into painting. Rumah Gadang (Big House) is a traditional house of Minangkabau ethnic in West Sumatera Province of Indonesia. Rumah Gadang is built on the pillars made from the wood. It has a high and big hollow on the ground, and its taper roof is a special characteristic that makes it different from other ethnic houses in the areas across the equator. Rumah Gadang has various types and names based on its shape and size, which depend on the community or ethnic group that builds the house. Rumah Gadang Batingkek (a big attic house) accommodates the system of Koto Piliang group, while Gajah Maharam (Incubated Elephants) is an identity of Rumah Gadang of Bodi Caniago community. Both models of the traditional houses above have been known as the identity of a Minangkabau traditional house. Methods used for this artwork are exploration, planning, and implementation of the artwork. Before practising these methods, the data has been explored through library research, empirical research, and field research. Idioms of the traditional houses expressed in the language of painting as an expression of the Painters in communicating their concern of changing the functions and values of Rumah Gadang in Minangkabau society today. By expressing through painting, it is hoped it can give awareness to the people to preserve the traditional values of Rumah Gadang, and also the continuity of appreciation to the house.Keywords: Rumah Gadang, art painting, traditional values, expression of the artABSTRAKPenelitian dalam penciptaan ini bertujuan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Rumah Gadang ke dalam karya seni lukis. Rumah gadang merupakan rumah tradisional suku Minangkabau di Sumatera Barat. Rumah Gadang dibangun di atas tiang (panggung), mempunyai kolong yang tinggi, serta atapnya yang lancip, merupakan arsitektur yang khas yang berbeda dengan bangunan suku bangsa lain di daerah garis khatulistiwa. Rumah Gadang mempunyai nama dan jenis yang beraneka ragam menurut bentuk dan ukurannya, sesuai kaum atau suku yang membuatnya. Rumah Gadang Batingkek (rumah besar bertingkat) mengakomodasi sistem kelarasan Koto piliang, yang Rumah Gadangnya beranjuang, Gajah Maharam (gajah mengeram) mengidentitaskan Rumah Gadang kelarasan Bodi Caniago. Kedua model Rumah Gadang tersebut merupakan identitas bangunan etnis Minangkabau. Metode penelitian dilakukan dengan eksplorasi, perancangan, dan eksekusi dari perwujudan karya seni. Pada tahap sebelumnya, dilakukan beberapa tahapan, yaitu studi pustaka, studi empirik dan studi lapangan. Dari penelitian didapatkan kesimpulan bahwa Idiom-idiom tradisi Rumah Gadang yang diungkapkan dengan bahasa seni lukis merupakan media ekspresi pencipta untuk mengomunikasikan kegelisahannya mengenai perubahan dan pengikisan nilai yang terjadi di Rumah Gadang sesuai perubahan zaman. Dengan media ungkap bahasa visual ini diharapkan dapat memberi penyadaran akan pentingnya nilai tradisi dalam konteks Rumah Gadang, serta terus diapresiasi. Kata kunci: Rumah Gadang, seni lukis, nilai-nilai tradisi, ekspresi seni 
MENIMBANG CATATAN MEDELLKOOP (1809) TENTANG REGLEMENT VAN DE TANDAK OF RONGGENG INHOLEN TE CHERIBON (SEKOLAH RONGGENG DI KERATON CIREBON) LALAN RAMLAN
PANGGUNG Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7065.894 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v15i36.851

Abstract

MENIMBANG CATATAN MEDELLKOOP (1809) TENTANG REGLEMENT VAN DE TANDAK OF RONGGENG INHOLEN TE CHERIBON (SEKOLAH RONGGENG DI KERATON CIREBON)AbstraksiDunia ronggeng dalam masyarakat Sunda memiliki kedudukan dan nilai tersendiri, di samping unik juga penyajiannya memiliki keragaman yang khas.Oleh karena itu, ditemukannya sebuah manu skrip dengan tebal 15 halaman koleksi Museum Arsip Nasional Indonesia di Jakarta, berisi tentang Sekolah Ronggeng di Keraton Cirebon judul “Reglement van de Tandak of Ronggeng Inholen te Chirebon (1809)”, menjadi sangat penting untuk segera dikaji dan diinformasikan kepada masyarakat Jawa Barat padau mumnya, dan kalangan akademisi pada khususnya. Apalagi bila dicermati secara seksama, manuskrip tersebut memiliki kadar informasi yang multi dimensi. Tidak saja tergambarkan aktivitasp endidikannya, yaitu melalu isebuah kurikulum yang khusus, tetapi di dalamnya juga tersirat situasi dan kondisi kehidupan masyarakat Cirebon di masa yang menyertainya.Hal ini juga menarik untuk disimak, karena kehidupan dunia ronggeng di Tatar Sunda yang sudah sedemikian merata di berbagai daerah tersebut, hingga saat ini masih ramai dibicarakan/diwacanakan.Kata kunci :Ronggeng, Sejarah, Sunda, politik.
Transformasi Musik Arumba: Wujud Hibriditas Yang Meng-global Hinhin Agung Daryana; Dyah Murwaningrum
PANGGUNG Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.788 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i1.814

Abstract

ABSTRACT This study focused on the transformation of Arumba music caused by the urge of want to be more acceptable and acknowledged its existence by the current environment. It is influenced by it popularity among Bandung Society. It needs to be observed because there are still limited numbers of research that illustrate the journey of arumba music and it role in Bandung society. This research employed descriptive method and qualitative approach. The result shows the cultural space and personal interpretation take effect on the transformation of arumba music into an interesting music. It build up Jorgensen theory on musical transformation sketch. It can be concluded that the arumba music transformation is reaction for seeking authenticity. Moreover, this phenomenon caused a significant effect, especially in determiining the position, image, and role of arumba music in the popular music repertoire in West Java.Keywords: Arumba, transformation, bamboo musicABSTRAKPenelitian ini difokuskan pada transformasi musik Arumba yang disebabkan oleh adanya dorongan keinginan untuk lebih dapat diterima dan diakui keberadaannya oleh lingkungan baru. Hal ini dipengaruhi oleh popularitasnya di kalangan masyarakat Bandung. Sejak kelahirannya musik Arumba dijadikan hiburan dan kemudian bergeser menjadi alat pendidikan di perguruan tinggi. Penelitian ini menjadi penting karena kondisi jumlah penelitian yang membahas perjalanan musik arumba dan perannya dalam masyarakat Bandung sangat terbatas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ruang budaya dan interpretasi pribadi mempengaruhi transformasi yang terjadi pada musik arumba. Studi ini akan dibicarakan dalam sketsa transformasi musik Jorgensen. Dapat disimpulkan bahwa transformasi musik arumba adalah reaksi pelakunya dalam upaya mencari otentisitas musiknya. Selain itu, fenomena ini menyebabkan dampak yang cukup signifikan, terutama dalam menentukan posisi, citra, dan peran musik arumba dalam repertoar musik populer di Jawa Barat.Kata kunci: Arumba, transformasi, Bandung, musik bambu
Wayang Orang Bharata jakarta di Era Globalisasi Hersapandi - -
PANGGUNG Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6645.285 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v21i2.285

Abstract

Tradisi Upacara Adat Buang Jong dalam Konteks Budaya Masa Kini Aep Saepuloh
PANGGUNG Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.277 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i1.810

Abstract

ABSTRACTThis paper aims to find out the history, processes, functions and forms of Buang Jong traditional ceremonies in the contemporary context. This research was conducted using qualitative methods. Buang Jong is a traditional ceremony conducted by the Sawang tribe community on Belitung Island. Buang Jong's ceremony is done to deliver offerings to the sea gods, so that they are given sea products and beg for them to avoid all kinds of calamities and destitution. This ceremony is a reflection of the desire of the Sawang Tribe to live in harmony with nature. They believe that they will expose the sea to those who will confront them in their social-cultural life will be disturbed. But after they lived on the mainland, there was a negative change in the traditional ceremony of Buang Jong, that is, there was a show that was not in harmony with the traditional provisions which caused a reduction in the sacred value of the traditional ceremony. Government protocol rules are a priority over traditional ceremonies as the main event. This goes beyond the shifting time and the ceremony is no longer in accordance with customary provisions, thereby reducing the meaning and sacredness of the traditional ceremony.Keywords: Traditional ceremony, Buang Jong ritual, cultural changes.ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui sejarah, proses, fungsi dan bentuk tradisi upacara adat Buang Jong dalam konteks budaya masa kini. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Buang Jong merupakan upacara adat yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung. Upacara Buang Jong dilakukan untuk menyampaikan persembahan kepada dewa laut, agar mereka diberikan hasil laut dan memohon agar mereka terhindar dari segala macam malapetaka dan kemelaratan. Upacara ini merupakan refleksi dari keinginan Suku Sawang untuk hidup harmonis dengan alam. Mereka percaya bahwa jika mereka memperlakukan laut dengan tidak baik maka laut akan marah kepada mereka sehingga kehidupan sosial-budaya mereka akan terganggu. Namun setelah mereka tinggal di daratan, terjadi perubahan negatif dalam unsur upacara adat Buang Jong yaitu adanya penambahan acara yang tidak selaras dengan ketentuan adat yang menyebabkan berkurangnya nilai kesakralan dari upacara adat tersebut. Aturan protokol pemerintah menjadi prioritas di atas upacara adat sebagai acara utama. Hal ini mengakibatkan bergesernya waktu dan susunan upacara tidak lagi sesuai dengan ketentuan adat, sehingga mengurangi makna dan kesakralan dari upacara adat tersebut.Kata Kunci: Upacara adat, ritual Buang Jong, pergeseran budaya.
Keramik Takalar 1981-2010: Ragam Bentuk dan Perubahan Irfan Irfan; Dharsono Dharsono; SP. Gustami SP. Gustami; Guntur Guntur
PANGGUNG Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.12 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i1.815

Abstract

ABSTRACTThe pottery in Takalar regency, South Sulawesi province, has been existed for hundreds of years and has become part of a community cultural life. The study aims to identify the changes ofvarious ceramic forms and design from 1981 to 2010. This periodisation is chosen because in the 1980s the Department of Industry and Trade had supervised craftsmen in Takalar, which has given significant changes in the development of ceramics in the area. The method employed is a qualitative method with a multidisciplinary approach, including history and ethnography. To analysis the data, the research uses interactive techniques (Miles dan Hubermen, 1992). The research site covers three districts: Sandi, Pabbatangan, and Pakalli. The study shows there are significant changes in ceramic forms and design from 1980 to 2010. Based on the classification used, the changes are divided into three periods: traditional forms (1981-1990), transition forms (1991-2000), and modern forms (2001-2000). These changes are caused by the open attitude of the craftsman to outside agencies, such as Disperindag (government), universities, and consumers. These outside parties have influenced artisans to develop ceramic designs by introducing new shapes and values, including foreign cultures.Keywords: ceramic development, design and form changes, and craftsmentABSTRAKKeberadaan keramik di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ragam bentuk dan perubahan desain keramik sejak tahun 1981 hingga tahun 2010. Periodisasi ini dipilih sebab sejak tahun 1980-an Disperindag telah membina perajin keramik di Takalar yang telah memberi dampak perubahan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan multidisiplin, yakni sejarah dan etnografi. Lokasi penelitian terbagi ke dalam tiga kecamatan, dengan lokasi sentra di Sandi, Pabbatangan, dan Pakalli. Adapun analisis data menggunakan teknik interaktif (Miles dan Hubermen, 1992). Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi perubahan bentuk sejak tahun 1981 hingga tahun 2010. Klasifikasi berdasarkan perubahan bentuk terbagi pada tiga periode, yakni tradisional (1981-1990), transisi (1991-2000), dan modern (2001-2010). Perubahan desain disebabkan para perajin bersikap terbuka terhadap pihak eksternal seperti Disperindag, perguruan tinggi, dan konsumen. Pihak eksternal memperkenalkan bentuk dan nilai baru, termasuk unsur budaya luar, membimbing, dan mempengaruhi para perajin agar mengembangkan desain keramik.Kata kunci: perkembangan keramik, perubahan bentuk dan desain, perajin 
Pemaknaan dan Nilai dalam Upacara Adat Maras Taun di Kabupaten Belitung Asep Dadan Wildan; Moh. Dulkiah; Irwandi Irwandi
PANGGUNG Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.012 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i1.811

Abstract

ABSTRACT This paper aims to find out the meaning and values of the tradition of the Maras Taun ceremony in Belitung Regency. This research is conducted using a qualitative method with sociology and cultural anthropology approaches. Maras Taun is one of the traditional ceremonies that has been carried out for generations in Belitung Regency. It is not just a routine activity in Belitung Island, but at least there are three dimensions contained in the ceremony including tradition, symbolism, and values. Maras Taun is a thanksgiving ceremony for rice harvest which is carried out once a year after the harvest because most of the people earn a living in the fields. The next development of the Maras Taun ceremony is transformed into village salvation as people were not farmed in the fields anymore because of social changes. But, this did not reduce the sacredness of the traditional ceremony of Maras Taun itself. The results of this study found that in each stage of the ceremony contained the symbols and values of cultural practices of the community.Keywords: Tradition of Maras Taun, meaning and values, Belitung RegencyABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui makna dan nilai tradisi upacara adat Maras Taun di Kabupaten Belitung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologi dan antropologi budaya. Maras Taun merupakan salah satu upacara adat yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat di Kabupaten Belitung. Maras Taun tidak hanya sekadar sebuah perayaan rutin yang setiap tahun oleh setiap desa di Pulau Belitung, namun dalam perayaan tersebut setidaknya terdapat tiga dimensi, yakni tradisi, simbolisme, dan nilai. Maras Taun merupakan upacara syukuran panen padi yang dilaksanakan setahun sekali pasca panen padi, karena sebagian besar masyarakat bermata pencaharian petani ladang. Pada perkembangan selanjutnya. upacara ini bertransformasi menjadi selamatan kampung karena masyarakat sudah jarang yang bertani di ladang disebabkan adanya perubahan sosial. Namun hal tersebut tidak mengurangi kesakralan dari upacara adat tersebut. Hasil kajian ini menemukan bahwasanya setiap tahapan dalam upacara perayaan Maras Taun kaya akan simbol-simbol dan nilai yang terkandung di dalamnya.Kata Kunci: Tradisi Maras Taun, makna dan nilai, Kabupaten Belitung  

Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional More Issue