cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
POLYGLOT
ISSN : 1907 6134     EISSN : 2549 1466     DOI : -
Core Subject : Education,
Started in 2006, Polyglot is a scientific journal of language, literature, culture, and education published biannually by the Faculty of Education at the Teachers College, Universitas Pelita Harapan. The journal aims to disseminate articles of research, literature study, reviews, or school practice experiences.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 22 No 1 (2026): January" : 9 Documents clear
THE EFFECT OF TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) MODIFIED SCHEMA BASED INSTRUCTION (SBI) ON MATHEMATICS PROBLEM SOLVING ABILITY OF GRADE V STUDENTS [PENGARUH TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) MODIFIKASI SCHEMA BASED INSTRUCTION (SBI) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS V] Abolla, Monica; Yurniwati
Polyglot Vol 22 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i1.10195

Abstract

Mathematical problem-solving skills are important to develop in learning mathematics in elementary schools. However, the fact that occurs is that students' ability in this competency is still lacking. This study aims to determine whether there is a difference in the mathematical problem-solving ability of students who learn using the Teams Games Tournament method modified by Schema-Based Instruction with students who learn using the expository method. This study used experimental research methods on fifth grade students of SDN Beumopu and was conducted from January to June 2025. The sampling technique used was cluster random sampling. The samples in the experimental class and control class amounted to 32 students each. Data collection utilized mathematical problem-solving ability test instruments in the form of essay questions. Indicators of mathematical problem-solving ability include understanding the problem, planning problem-solving strategies, and implementing problem-solving plans. The results showed that the problem-solving ability of fifth-grade students who learned with the SBI modified TGT method was higher than that of students who learned with the expository method. Abstrak Bahasa Indonesia Kemampuan pemecahan masalah matematika penting untuk dikembangkan pada pembelajaran matematika di sekolah dasar. Namun, fakta yang terjadi adalah kemampuan siswa pada kemampuan pemecahan masalah siswa masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang belajar menggunakan metode Teams Games Tournament modifikasi Schema Based Instruction dengan siswa yang belajar menggunakan metode ekspositori. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen pada siswa kelas V SDN Beumopu dan dilaksanakan dari bulan Januari sampai bulan Juni 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling. Sampel pada kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing berjumlah 32 siswa. Pengumpulan data menggunakan instrumen tes kemampuan pemecahan masalah matematika berupa soal esai. Indikator kemampuan pemecahan masalah matematika adalah memahami masalah, merencanakan strategi penyelesaian masalah dan melaksanakan rencana penyelesaian masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa kelas V yang belajar dengan metode TGT modifikasi SBI lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan metode ekspositori.
LANGUAGE ACQUISITION STRATEGY INVENTORY FOR AUTONOMOUS LEARNERS: DISPLAYING STUDENTS' ACADEMIC WRITING SKILLS THROUGH BLENDED LEARNING [INVENTARIS STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA UNTUK PEMBELAJAR MANDIRI: MENUNJUKKAN KEMAMPUAN MENULIS AKADEMIK SISWA MELALUI PEMBELAJARAN BLENDED] Yundayani, Audi; Sundari, Hanna; Alghadari, Fiki
Polyglot Vol 22 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i1.10225

Abstract

The pedagogical implementation of blended learning, which advances students' autonomous learning and mastery, shapes academic writing performance in higher education. Nevertheless, more study is needed to examine how autonomous learning and language acquisition strategies affect college students' academic writing products in blended learning settings. The current study examines the academic writing performance of students in language learning and autonomous learning strategies they employed through blended learning. This is a mixed-method research design which twenty-seven students in higher education participated in this study. They were evaluated using questionnaires on autonomous learning and strategy inventory language learning and writing tests. The study found that the academic writing scores of the participants ranged from 50.5 to 96, which was indicative of low autonomy. A range of 51 to 94.5 scores suggests that learners are highly autonomous. In addition, 39.51% of participants preferred memory strategies, 14.81% preferred compensatory strategies, and 2.47% preferred cognitive strategies. In the study, 11.11% of participants implemented affective strategies, 4.94% employed social strategies, and 27.16% employed metacognitive strategies. Moreover, the study found the preferred strategies employed by participants to develop their academic writing skills through varying engagement and retention strategies related to language knowledge, which, in turn, influence their academic writing performance. It is essential to take these preferences into account when creating a language learning strategy inventory for English academic writing courses in higher education, as this will foster autonomous learning. Additionally, the development of engaging blended learning activities is expected to enhance students’ academic writing skills. Abstrak Bahasa Indonesia Implementasi pedagogis pembelajaran campuran, yang mendorong pembelajaran mandiri dan kemampuan mahasiswa, memengaruhi kinerja penulisan akademik di perguruan tinggi. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji bagaimana pembelajaran mandiri dan strategi akuisisi bahasa memengaruhi produk penulisan akademik mahasiswa dalam lingkungan pembelajaran campuran. Penelitian ini mengkaji kinerja penulisan akademik mahasiswa dalam pembelajaran bahasa dan strategi pembelajaran mandiri yang mereka terapkan melalui pembelajaran campuran. Metode penelitian campuran dilakukan dengan melibatkan 27 mahasiswa dengan menggunakan kuesioner tentang pembelajaran mandiri, inventaris strategi pembelajaran bahasa, dan tes menulis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa peserta umumnya menunjukkan tingkat otonomi belajar yang rendah dalam proses penulisan artikel akademik mereka. Selain itu, ditemukan preferensi yang bervariasi terhadap strategi pembelajaran bahasa, dengan kecenderungan yang jelas terhadap penggunaan strategi berbasis memori dibandingkan dengan strategi kognitif, sosial, atau afektif. Pola ini menunjukkan bahwa peserta lebih mengandalkan strategi yang melibatkan retensi informasi daripada strategi yang mendorong interaksi, refleksi, atau regulasi emosional dalam proses penulisan. Selain itu, penelitian ini menemukan strategi yang disukai oleh peserta dalam mengembangkan keterampilan menulis akademik mereka melalui berbagai strategi keterlibatan dan retensi yang berkaitan dengan pengetahuan bahasa, yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja menulis akademik mereka. Penting untuk mempertimbangkan preferensi belajar mahasiswa saat mengembangkan rencana pembelajaran menulis akademik bahasa Inggris di perguruan tinggi, karena hal ini akan mendorong pembelajaran mandiri. Selain itu, pengembangan aktivitas pembelajaran campuran yang menarik diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menulis akademik mahasiswa.
PENGAYAAN BELAJAR DENGAN PERSONAL AI PEER DALAM KULIAH TEKNIK ELEKTRO [ENRICHING LEARNING WITH PERSONAL AI PEERS IN ELECTRICAL ENGINEERING LECTURES] Martoyo, S.T., M.Sc., M.T.S., Dr.-Ing. Ihan
Polyglot Vol 22 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i1.10230

Abstract

A disruptive potential of AI in enriching learning experiences is to provide a personalized learning pathway by functioning as a personal peer for learners. However, this requires a learning activity plan that goes beyond just submitting essays for final grading, which is automated easily by AI and can be detrimental for the learning processes. This article describes the experiences of using AI as part of a lecture activity in the Electrical Engineering Department, Universitas Pelita Harapan as a personalized peer for the students’ understanding and critical thinking in the Data Science and Tech-Business classes. As part of the assignments, after summarizing a lecture in short paragraphs, the students were engaged in a dialog with AI with their own questions, then posted and analyzed the results in the Learning Management System (LMS) forum to be debated by the other students. The grades were given by the quality of the interactions or by follow-up debate sessions. Some positive correlations have been found between the student accesses in the LMS and the class scores/grades (r = 0.49 & r = 0.39). The qualitative comments of the courses have also indicated some positive and constructive learning experiences, despite the rather high difficulty levels of the courses. The benefits, drawbacks and dilemmas of such a lesson planning strategy are also discussed in this paper. Abstrak Bahasa Indonesia Potensi disruptif AI dalam memperkaya pengalaman belajar adalah dengan menyediakan jalur pembelajaran sesuai kebutuhan personal dengan berfungsi sebagai peer pribadi bagi peserta didik. Namun, ini memerlukan rencana aktivitas pembelajaran yang lebih dari sekadar menyerahkan esai untuk penilaian akhir, yang diotomatisasi dengan mudah oleh AI dan dapat merugikan proses pembelajaran. Makalah ini menjelaskan pengalaman penggunaan AI sebagai bagian dari aktivitas perkuliahan di program studi Teknik Elektro, Universitas Pelita Harapan sebagai alat untuk meningkatkan pemahaman dan pemikiran kritis mahasiswa dalam kelas Sains Data dan Teknologi-Bisnis. Sebagai bagian dari tugas, setelah meringkas kuliah dalam paragraf pendek, mahasiswa harus terlibat dalam dialog dengan AI dengan pertanyaan mereka sendiri, dan memposting serta menganalisis hasilnya di forum Learning Management System (LMS) agar dapat direspons oleh mahasiswa lain. Nilai akan diberikan berdasarkan kualitas interaksi atau sesi debat lanjutan. Korelasi positif ditemukan antara akses mahasiswa di LMS dan score/nilai kelas (r = 0,49 & r = 0,39).  Komentar kualitatif terhadap kelas-kelas tersebut juga menunjukkan pengalaman belajar yang positif dan konstruktif, meskipun tingkat kesulitan cukup tinggi. Manfaat, kerugian dan dilema dari strategi rencana pembelajaran seperti itu dibahas di artikel ini.
REVITALISASI PENDIDIKAN VOKASI DI INDONESIA: TRANSISI SEKOLAH KE DUNIA KERJA MELALUI FILOSOFI PENDIDIKAN MOH. SJAFEI [REVITALIZING VOCATIONAL EDUCATION IN INDONESIA: THE SCHOOL-TO-WORK TRANSITION THROUGH MOH. SJAFEI’S EDUCATIONAL PHILOSOPHY] Gunawan, Tri; Hadi Pratiwi, Poerwanti
Polyglot Vol 22 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i1.10514

Abstract

Indonesia's vocational education system faces ongoing challenges in facilitating the school-to-work transition. Despite various reform efforts, the high unemployment rate among vocational high school (SMK) graduates indicates a mismatch between educational outcomes and labor market needs. This study uses a Systematic Literature Review (SLR) of 60 primary source articles from Google Scholar to identify key themes affecting vocational education performance: school-to-work transition gaps, policy and implementation issues, curriculum and pedagogical transformation, institutional barriers, and limited integration of local wisdom and character education. These findings are analyzed through the philosophical lens of Moh. Sjafei, a pioneering Indonesian educator who emphasizes holistic, community-based, and practice-oriented learning. The results demonstrate that Sjafei's "head, heart, hand" framework offers a culturally grounded alternative to address structural inefficiencies and human development gaps in current vocational education. The study concludes with a series of policy recommendations aligned with Sjafei's educational ideals, which advocate for reforms that balance technical skills with character building and contextual relevance. This integrated approach provides a meaningful pathway to revitalize vocational education and improve the employability of young people in Indonesia. Abstrak Bahasa Indonesia Sistem pendidikan vokasi di Indonesia menghadapi tantangan berkelanjutan dalam memfasilitasi transisi sekolah ke dunia kerja. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya reformasi, tingginya angka pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara hasil pendidikan dan kebutuhan pasar tenaga kerja. Studi ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR) terhadap 60 artikel sumber utama dari Google Scholar untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang memengaruhi kinerja pendidikan vokasi: kesenjangan transisi dari sekolah ke dunia kerja, isu kebijakan dan implementasi, transformasi kurikulum dan pedagogi, hambatan kelembagaan, serta terbatasnya integrasi kearifan lokal dan pendidikan karakter. Temuan-temuan ini dianalisis melalui sudut pandang filosofi Moh. Sjafei, seorang pendidik perintis Indonesia yang menekankan pembelajaran holistik, berbasis komunitas, dan berorientasi praksis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerangka kerja “otak, hati, tangan” Sjafei menawarkan alternatif yang berlandaskan budaya untuk mengatasi inefisiensi struktural dan kesenjangan pembangunan manusia dalam pendidikan vokasi saat ini. Studi ini diakhiri dengan serangkaian rekomendasi kebijakan yang selaras dengan cita-cita pendidikan Sjafei, yang mengadvokasi reformasi yang menyeimbangkan keterampilan teknis dengan pembentukan karakter dan relevansi kontekstual. Pendekatan terpadu ini menyediakan jalur yang berarti untuk merevitalisasi pendidikan kejuruan dan meningkatkan kemampuan kerja kaum muda di Indonesia.
STUDENTS’ PERSPECTIVES ON READING CIRCLES WITH LOCAL CULTURAL NARRATIVES: EVIDENCE FROM JUNIOR HIGH SCHOOLS IN BELU [PERSPEKTIF SISWA TERHADAP LINGKARAN MEMBACA DENGAN NARASI BUDAYA LOKAL: KAJIAN PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI BELU] Djehatu, Maria Goreti; Assis Hornay, Priscilla Maria; Bin Toni, Elvis Albertus; Pinto, Maria Agustina Maia
Polyglot Vol 22 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i1.10534

Abstract

This study investigates junior high school students’ perceptions of reading circles using local cultural texts in Belu, Indonesia. Drawing on culturally responsive pedagogy and collaborative learning principles, the intervention involved 110 eighth-grade students who participated in a reading circle activity using translated Belu folk stories. After the activity, students completed a Likert-scale survey measuring enjoyment, cultural relevance, comprehension support, confidence, and motivation to continue reading. The results show consistently positive perceptions across all indicators. A total of 85% of students agreed or strongly agreed that reading circles were enjoyable, while 80% reported that the local stories felt culturally familiar and engaging. Similarly, 85% indicated that the cultural familiarity of the stories helped them understand the English text more easily. Increased confidence was also reported, with 80% of students feeling more capable of reading English texts after the activity. Although motivation to read more English stories was slightly lower, 80% of students still expressed willingness to continue reading similar texts. While the findings are based on self-reported perceptions, the current study highlights that integrating reading circles with local narratives can strengthen students’ motivation, comprehension, and confidence while affirming cultural identity. The approach is therefore recommended as an effective and culturally responsive strategy for EFL instruction in Indonesian junior secondary schools and other multilingual learning environments. Abstrak Bahasa Indonesia Studi ini menyelidiki persepsi siswa SMP terhadap penggunaan reading circles dengan teks budaya lokal di Belu, Indonesia. Berlandaskan pedagogi responsif budaya dan prinsip pembelajaran kolaboratif, intervensi ini melibatkan 110 siswa kelas VIII yang mengikuti kegiatan reading circle menggunakan cerita rakyat Belu yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Setelah kegiatan, siswa mengisi kuesioner skala Likert yang mengukur aspek kesenangan membaca, relevansi budaya, dukungan pemahaman, kepercayaan diri, serta motivasi untuk terus membaca. Hasil penelitian menunjukkan persepsi positif secara konsisten pada seluruh indikator. Sebanyak 85% siswa menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa kegiatan reading circle menyenangkan, sementara 80% merasa bahwa cerita lokal tersebut akrab secara budaya dan menarik. Selain itu, 85% siswa mengakui bahwa keakraban budaya membantu mereka memahami teks bahasa Inggris dengan lebih mudah. Peningkatan kepercayaan diri juga terlihat, dengan 80% siswa merasa lebih mampu membaca teks berbahasa Inggris setelah kegiatan. Meskipun motivasi untuk membaca lebih banyak cerita berbahasa Inggris sedikit lebih rendah, 80% siswa tetap menyatakan kesediaan untuk melanjutkan membaca teks serupa. Meskipun temuan ini didasarkan pada persepsi yang dilaporkan oleh siswa sendiri, studi ini menegaskan bahwa mengintegrasikan reading circles dengan narasi lokal dapat meningkatkan motivasi, pemahaman, dan kepercayaan diri siswa sekaligus menguatkan identitas budaya. Pendekatan ini direkomendasikan sebagai strategi yang efektif dan responsif budaya dalam pengajaran EFL di SMP Indonesia serta konteks pembelajaran multilingual lainnya.
THE GROUPING METHOD AS A PEDAGOGICAL STRATEGY TO ENHANCE JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS' PROFICIENCY IN CONSTRUCTING SIMPLE PRESENT TENSE SENTENCES [METODE PENGELOMPOKKAN SEBAGAI STRATEGI PEDAGOGIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA SMP DALAM MENYUSUN KALIMAT SINGKAT DALAM BENTUK PRESENT TENSE] Suseno, Edy; Novita, Dian; Megawati, Fika
Polyglot Vol 22 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i1.10583

Abstract

The simple present tense is a fundamental grammar structure in English as a Foreign Language (EFL) learning, yet it remains a source of difficulty for many junior high school students, particularly in relation to subject-verb agreement and sentence construction. This study investigates the effectiveness of the grouping method as a pedagogical strategy to improve students' proficiency in constructing simple present tense sentences. A mixed-methods research design was employed with 60 Grade 7 students from a junior high school in Indonesia. The intervention involved implementing the grouping method in three phases: teaching verbal sentences (Group A: plural/subjects other than third-person singular; Group B: third-person singular), teaching nominal sentences (Group C: to be constructions), and integrating both types of sentences. Data were collected through pre- and post-tests, classroom observations, student questionnaires, and semi-structured interviews. Results indicated a significant improvement in students' accuracy in constructing simple present tense sentences, a reduction in cognitive load, and an increase in motivation and confidence. The findings suggest that the grouping method is a valuable strategy for EFL teachers to enhance students' grammar proficiency and engagement. Abstrak Bahasa Indonesia  Simple Present Tense merupakan struktur tata bahasa fundamental dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL), namun tetap menjadi sumber kesulitan bagi banyak siswa SMP, khususnya terkait dengan kesesuaian subjek-predikat dan konstruksi kalimat. Studi ini menyelidiki efektivitas metode pengelompokan sebagai strategi pedagogis untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat Simple Present Tense. Desain penelitian metode campuran digunakan dengan 60 siswa kelas 7 dari sebuah SMP di Indonesia. Intervensi melibatkan penerapan metode pengelompokan dalam tiga fase: pengajaran kalimat verbal (Kelompok A: jamak/subjek selain orang ketiga tunggal; Kelompok B: orang ketiga tunggal), pengajaran kalimat nominal (Kelompok C: konstruksi "to be"), dan pengintegrasian kedua jenis kalimat tersebut. Data dikumpulkan melalui tes pra dan pasca, observasi kelas, kuesioner siswa, dan wawancara semi-terstruktur. Hasil menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam akurasi siswa dalam menyusun kalimat Simple Present Tense, pengurangan beban kognitif, dan peningkatan motivasi serta kepercayaan diri. Temuan ini menunjukkan bahwa metode pengelompokan merupakan strategi yang berharga bagi guru EFL untuk meningkatkan kemampuan tata bahasa dan keterlibatan siswa.
EFEKTIVITAS STORY ACTING DALAM MENGAJARKAN MAGIC WORDS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN [THE EFFECTIVENESS OF STORY ACTING IN TEACHING THE MAGIC WORDS TO CHILDREN AGED 5-6 YEARS] Krista, Philio Angeline; Septiana, Eva
Polyglot Vol 22 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i1.10734

Abstract

Children aged 5-6 were found to show impolite behavior, such as using harsh words because they are confused and yet accustomed to speaking politely. Difficulties in teaching polite expressions arose due to children’s limited focus, low interest, and tendency to forget the material. This study examined the effectiveness of story acting in teaching magic words to children aged 5-6. The aim was to improve children’s knowledge of magic words so they could communicate more polite with others. This study used one group pre-test post-test design, involving 11 children. The results showed significant improvements in the use of the words “sorry” (p=.008), “thank you” (p=.034), and “excuse me” (p=.018). However, no significant improvement occurred for “please” (p=.079). Furthermore, overall knowledge of magic words was not retained after a seven-days delay. These results indicate that story acting effectively enhances children’s understanding of “sorry”, “thank you”, and “excuse” though consistent reinforcement is essential to support understanding. Abstrak Bahasa Indonesia Ditemukan bahwa anak usia 5-6 tahun belum menunjukkan sikap sopan santun seperti berkata kasar karena anak bingung dan belum terbiasa mengucapkan bahasa sopan. Kesulitan dalam mengajarkan anak yaitu, anak tidak fokus, tidak tertarik, dan mudah lupa. Penelitian ini mengkaji efektivitas story acting dalam mengajarkan magic words untuk anak usia 5-6 tahun. Penelitian bertujuan meningkatkan pengetahuan anak mengenai magic words sehingga anak dapat bertutur kata sopan dengan orang lain. Penelitian ini menggunakan desain one group pre-test post-test. Sampel terdiri dari 11 anak usia 5-6 tahun. Hasil uji menunjukkan adanya peningkatan signifikansi pada kata “maaf” (p=.008), “terima kasih” (p=.034), dan “permisi” (p=.018) setelah intervensi. Sedangkan tidak adanya signifikansi pada kata “tolong” (p=.079) setelah intervensi. Namun, magic words menunjukkan data yang tidak signifikan setelah pemberian jeda tujuh hari dari intervensi. Temuan ini menekankan bahwa story acting meningkatkan pengetahuan anak mengenai kata “maaf”, “terima kasih”, dan “permisi”, serta membutuhkan dorongan pembelajaran untuk memahami materi magic words.
THE DEVELOPMENT OF SURVEYS FOR BINTANG HARAPAN HOMESCHOOLING BANDUNG INTERNAL QUALITY ASSURANCE [PENGEMBANGAN SURVEI-SURVEI BAGI PENJAMINAN MUTU INTERNAL HOMESCHOOLING BINTANG HARAPAN BANDUNG] Yohanita Kristin; Winardi, Yonathan
Polyglot Vol 22 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i1.10819

Abstract

Quality management, which is commonly manifested in the form of internal and external quality assurance, is an important aspect in both formal and nonformal education for continuous improvement. However, many informal education institutions have no structured quality management system yet, and this condition is also found in Homeschooling Bintang Harapan Bandung that has no systematic internal quality assurance instruments. Therefore, this research is aimed at developing survey instruments for internal quality assurance, limited to elementary schools, particularly grades 4-6. This research uses the 4D method (Define, Design, Develop, and Disseminate). In the Define stage, problems and needs of developing the survey instruments identification were done through interviews, observation, and document analysis with the leaders and staff administration as the research subjects. In the Design stage, survey instruments are designed considering Bintang Harapan’s characteristics, which are heterogeny and inclusive, while referring to the national education standard and accreditation components. The development stage then applied experts’ validation and pilot tests to the teachers, students, parents, alumni, and alumni’s parents to produce the final survey instruments using Google Forms. The Disseminate stage was marked by socialization and instruments handover to the homeschooling stakeholders to be utilized systematically as structured and data-driven internal quality assurance tools. Finally, three surveys are developed, named SPARK, SAFE, and GLOW. It is recommended to integrate the survey into the routine IQA cycle to support decision-making based on the data collected and improve quality, with future studies applying it longitudinally and developing automated analysis or audit systems. Abstrak Bahasa Indonesia  Manajemen mutu (quality management) yang pada umumnya diwujudkan dengan penjaminan mutu internal dan eksternal merupakan aspek penting dalam pendidikan, baik formal maupun nonformal untuk perbaikan berkelanjutan. Namun, banyak institusi pendidikan nonformal belum memiliki sistem manajemen mutu yang terstruktur. Kondisi ini juga ditemukan di Homeschooling Bintang Harapan Bandung yang belum memiliki instrumen penjaminan mutu internal yang sistematis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen survei untuk penjaminan mutu internal yang terbatas pada jenjang Sekolah Dasar, khususnya kelas 4–6. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model 4D (Define, Design, Develop, dan Disseminate). Pada tahap Define, identifikasi permasalahan dan kebutuhan akan pengembangan instrumen dilakukan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen dengan pimpinan dan staf administrasi sebagai subjek penelitian. Pada tahap Design, instrumen survei dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik Bintang Harapan yang heterogen dan inklusif, serta mengacu pada standar nasional pendidikan dan komponen akreditasi. Tahap Develop kemudian dilakukan melalui validasi ahli dan uji coba terbatas kepada guru, siswa, orang tua, alumni, dan orang tua alumni untuk memperoleh instrumen final menggunakan media Google Forms. Tahap Disseminate ditandai dengan sosialisasi dan penyerahan instrumen kepada pihak Homeschooling untuk digunakan sebagai alat penjaminan mutu internal yang terstruktur dan berbasis data. Akhirnya, tiga jenis survei berhasil dikembangkan dalam penelitian ini yang diberi nama SPARK, SAFE, dan GLOW. Direkomendasikan untuk mengintegrasikan survei ke dalam siklus penjaminan mutu internal untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam peningkatan mutu, dengan penelitian lanjutan yaitu menerapkannya secara berkelanjutan dan mengembangkan sistem analisis otomatis atau sistem audit.
UNDERSTANDING TEACHING THROUGH EXPERIENCE: A STUDENT’S REFLECTIVE APPROACH TO BECOMING A CHRISTIAN TEACHER IN PSAL (PLANNING, STRATEGY, ASSESSMENT AND LEARNING) [MEMAHAMI MENGAJAR MELALUI PENGALAMAN: PENDEKATAN REFLEKTIF MAHASISWA DALAM MENJADI GURU KRISTEN MELALUI MATA KULIAH PSAP (PERENCANAAN, STRATEGI, ASESMEN, DAN PEMBELAJARAN)] Yanti
Polyglot Vol 22 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i1.10844

Abstract

This research explores the transformative process of student teachers as they transition into educators through reflective practices. Focusing on the personal experiences and reflections of student teachers, the study aims to understand how their experiences shape their development of calling, teaching competencies and pedagogy through the course PSAL (Planning, Strategy, Assessment and Learning). Using qualitative methods, the research highlights the role of self-reflection in enhancing how to make teaching plans, deciding on teaching strategies, assessment and conducting micro teaching in the classroom. By analyzing reflections report, the study investigates how student teachers reconcile theory with practice, identify areas of growth, and ultimately construct their professional identity as Christian educators. This reflective approach not only contributes to their understanding of teaching but also fosters a deeper connection to their future students and teaching practices. The findings underscore the importance of reflective practice as a foundational tool for developing Christian educators. Abstrak Bahasa Indonesia  Penelitian ini mengeksplorasi proses transformatif calon guru saat mereka menjalani proses transisi menjadi pendidik melalui praktik reflektif. Dengan berfokus pada pengalaman pribadi dan refleksi calon guru, penulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana pengalaman mereka membentuk perkembangan panggilan, kompetensi mengajar, dan pedagogi mereka melalui mata kuliah PSAP (Perencanaan, Strategi, Asesmen, dan Pembelajaran). Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini berusaha menyoroti peran refleksi diri dalam meningkatkan kemampuan merancang rencana pelaksanaan pembelajaran, menentukan strategi mengajar, penilaian, dan melaksanakan micro teaching di kelas. Dengan menganalisis laporan refleksi, penelitian ini menyelidiki bagaimana calon guru menyatukan teori dengan praktik, mengidentifikasi area pengembangan, dan pada akhirnya membangun identitas profesional mereka sebagai pendidik Kristen. Pendekatan reflektif ini tidak hanya berkontribusi pada pemahaman mereka tentang pengajaran tetapi juga memperkuat koneksi yang lebih dalam dengan siswa mereka di masa depan dan praktik pengajaran mereka. Temuan ini menyoroti pentingnya praktik reflektif sebagai alat dasar untuk mengembangkan calon-calon pendidik Kristen.  

Page 1 of 1 | Total Record : 9