cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
POLYGLOT
ISSN : 1907 6134     EISSN : 2549 1466     DOI : -
Core Subject : Education,
Started in 2006, Polyglot is a scientific journal of language, literature, culture, and education published biannually by the Faculty of Education at the Teachers College, Universitas Pelita Harapan. The journal aims to disseminate articles of research, literature study, reviews, or school practice experiences.
Arjuna Subject : -
Articles 231 Documents
EFEKTIVITAS SITUS KEJARCITA: MEDIA DAN ASESMEN BELAJAR GRATIS UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR [THE EFFECTIVENESS OF KEJARCITA WEBSITE: FREE LEARNING MEDIA AND ASSESSMENT FOR ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS] Samsoedin, Susiana; Suciati, Suciati
Polyglot Vol 19, No 1 (2023): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v1i19.5880

Abstract

AbstractThis research and development study aims to increase the use of websites in learning for elementary school students through free features of video media and learning assessments in the form of question banks and quizzes. The variables studied were the appearance, effectiveness, practicality, and satisfaction of using the features on Kejarcita website. Website revisions were conducted after validation from experts and field trials that involved 349 students and 12 teachers of SD Mahabodhi Vidya and SD Muhammadiyah 6. The expert validation result showed that the website as a learning resource is sufficient. Literacy and numeracy assessments as the indicator of effectiveness are considered quite effective with a percentage of 60% on literacy and 56% on numeracy. The website shows 82% effectiveness from the teacher's side and 81% from the students’ side. The practical results of the website are 77% from the students’ side and 79% from the teachers’ side. The satisfaction shows 79% from the teacher's side. It is concluded Kejarcita website after revision is considered effective, practical and provides user satisfaction.Bahasa Indonesia AbstrakPenelitian pengembangan ini bertujuan untuk meningkatkan penggunaan website untuk pembelajaran anak-anak sekolah dasar dengan menggunakan fitur gratis berupa video dan asesmen dalam bentuk bank soal dan kuis. Variabel yang diteliti adalah tampilan, efektivitas, kepraktisan, dan kepuasan penggunaan fitur pada website Kejarcita. Revisi website dilakukan setelah divalidasi oleh pakar, dan uji coba lapangan melibatkan 349 siswa dan 12 guru SD Mahabodhi Vidya dan SD Muhammadiyah 6. Hasil validasi pakar menunjukkan revisi website sebagai sumber belajar sudah memadai.   Asesmen belajar literasi dan numerasi siswa sebagai indikator efektivitas dinilai cukup efektif dengan persentase sebesar 60% pada asesmen literasi dan 56% pada asesmen numerasi. Efektivitas website dari sisi guru sebesar 82% sedangkan dari sisi siswa sebesar 81%. Sedangkan, kepraktisan website sebesar 77% dari sisi siswa dan 79% dari sisi guru. Kepuasan penggunaan website dari sisi guru sebesar 79%. Dapat disimpulkan website Kejarcita pasca revisi dinilai efektif, praktis dan memberikan kepuasan pada pengguna.
Cognitive Engagement during Emergency Remote Teaching: How Students Struggle Audi Yundayani; Fiki Alghadari
Polyglot Vol 19, No 2 (2023): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v19i2.6005

Abstract

AbstractThe COVID-19 pandemic situation has had an impact on the higher education system in Indonesia. It created an online learning ecosystem to enact the essential role of cognitive engagement by students. This qualitative research utilized multimodal data collection to examine students' voices to assess how they perceived the cognitive engagement dimension during emergency remote teaching (ERT). Data were gathered from 60 students from three higher education institutions in Indonesia's urban areas. The findings revealed that the ERT environment requires students to self-regulate their learning by employing their preferred strategies to comprehend the material. Moreover, they engage in meaningful learning by relating content to their prior experiences and knowledge. Students also believe that teachers play a vital role in ERT as authoritative figures and focal learning points. They view teachers as ­the main agents for fostering and enhancing their cognitive engagement. This study draws attention to the need for continuous teacher professional development in ERT by concentrating on students' needs. Bahasa Indonesia Abstrak: Situasi pandemi COVID-19 berdampak pada sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Ini menciptakan ekosistem pembelajaran online untuk memberlakukan peran penting keterlibatan kognitif oleh siswa. Penelitian kualitatif ini menggunakan pengumpulan data multimodal untuk memeriksa suara siswa untuk menilai bagaimana mereka merasakan dimensi keterlibatan kognitif dalam fenomena pengajaran jarak jauh darurat. Data dari 60 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi yang berada di perkotaan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan pengajaran darurat mengharuskan siswa untuk menerapkan proses belajar mandiri dengan mengatur preferensi metode pembelajaran mereka untuk memahami isi materi. Bahkan, mereka melakukan pembelajaran yang bermakna dengan menghubungkan konten dengan pengalaman dan pengetahuan mereka sebelumnya. Mereka juga percaya bahwa guru, serta siswa, memainkan peran penting dalam lingkungan pengajaran darurat. Selain itu, karena keyakinan mereka bahwa guru masih menjadi pusat pembelajaran sebagai sosok otoriter, mereka menggambarkan guru sebagai agen utama untuk mempromosikan dan meningkatkan keterlibatan kognitif mereka. Studi ini lebih menarik perhatian pada perlunya pengembangan profesional guru yang berkelanjutan dalam situasi pengajaran darurat dengan berkonsentrasi pada kebutuhan siswa.
PENGARUH AKTIVITAS MEDIA SOSIAL TERHADAP KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN GURU DALAM MODEL EFFORT REWARD IMBALANCE (ERI) [THE EFFECTS OF SOCIAL MEDIA ACTIVITIES ON TEACHERS’ HEALTH AND WELL-BEING IN THE EFFORT REWARD IMBALANCE (ERI) MODEL] Robby Prissly; Ardi Kho
Polyglot Vol 19, No 2 (2023): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v19i2.6906

Abstract

Abstract Past research reveals the positive effect of social media in reducing stress and providing social support to promote health and wellbeing. However, research in the teacher’s context is still limited and thus requires further investigation. This research is aimed at measuring the effect of social media activities on the health and wellbeing of active teachers currently teaching grades 7-12 in a Christian school in Indonesia. The Effort Reward Imbalance (ERI) model is used to measure the stress level while the Teacher Subjective Wellbeing Questionnaire (TSWQ) is used to measure the health and well-being of 68 targetted teachers. Data is analyzed and processed using the PLS-SEM method. The results show that social media activities have a positive effect on the health and well-being of teachers when mediated by teacher reward while teacher effort has a negative effect on the health and well-being of teachers.Bahasa Indonesia AbstrakBeberapa penelitian mengungkapkan pengaruh positif media sosial dalam mengurangi stres dan menjadi sumber social support yang meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Namun demikian penelitian dalam konteks guru masih terbatas sehingga membutuhkan penggalian lebih jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh aktivitas media sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan guru yang aktif mengajar di sekolah Kristen di Indonesia pada jenjang SMP/SMA. Model Effort Reward Imbalance (ERI) digunakan untuk mengukur tingkat stres yang dihadapi sementara Teacher Subjective Wellbeing Questionnaire (TSWQ) digunakan untuk mengukur kesehatan dan kesejahteraan dari 68 guru yang menjadi target penelitian. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan metode PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas media sosial berpengaruh positif terhadap kesehatan dan kesejahteraan guru ketika dimediasi oleh teacher reward sementara teacher effort berpengaruh negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan guru.
SCIENCE TEACHING AND LEARNING THROUGH KATH MURDOCH’S INQUIRY CYCLE: A CASE STUDY ON PRESERVICE PRIMARY TEACHERS Bertha Natalina Silitonga; Wiyun Tangkin
Polyglot Vol 19, No 2 (2023): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v19i2.6939

Abstract

Abstract Many studies on inquiry focus on the effect of inquiry learning on students' learning abilities and science skills. However, research focusing on the learning experience and teaching skills of preservice teachers based on inquiry is still lacking. The practices that a preservice teacher undertakes in his/her teaching years are strongly influenced by his/her learning experience in teacher education. The inquiry learning experienced by preservice teachers while in college will later affect inquiry-based teaching practiced in schools. This qualitative research aims to describe inquiry practices conducted by pre-service teachers. The sample of the study was 33 preservice primary teachers who took the second-year science content course named Integrated Science for Primary.  There are two questions that will be the focus of this research: 1) How does Kath Murdoch’s Inquiry Cycle help preservice teachers experience significant learning? 2) How does an inquiry cycle help preservice teachers design Inquiry-based Science Lesson Plan? This study shows that learning through Kath Murdoch’s inquiry cycle is found as an interesting and useful approach for preservice teachers to understand how scientific processes are integrated into their experiment designs. Also, an inquiry cycle used in guided practices (including metacognitive prompts, reflections, and group discussion) could provide preservice teachers with the necessary skills to develop an inquiry-based teaching plan. Yet, this does not guarantee that preservice teachers would successfully facilitate inquiry in a real classroom setting. Bahasa Indonesia AbstrakBanyak penelitian tentang inkuiri berfokus pada pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan belajar siswa dan keterampilan sains. Namun, penelitian yang berfokus pada pengalaman belajar dan keterampilan mengajar calon guru yang berbasis inkuiri masih sedikit. Praktik yang dilakukan seorang calon guru di tahun-tahun mengajarnya sangat dipengaruhi oleh pengalaman belajarnya selama di pendidikan keguruan. Pembelajaran inkuiri yang dialami oleh calon guru selama di bangku kuliah nantinya akan mempengaruhi pengajaran berbasis inkuiri yang dipraktikkan di sekolah. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik inkuiri yang dilakukan oleh calon guru. Sampel penelitian adalah 33 calon guru SD yang mengambil mata kuliah konten sains tahun kedua yaitu IPA Terpadu untuk Sekolah Dasar. Ada dua pertanyaan yang akan menjadi fokus penelitian ini: 1) Bagaimana Siklus Inkuiri Kath Murdoch membantu calon guru mengalami pembelajaran yang signifikan?; 2) Bagaimana siklus inkuiri membantu calon guru merancang Rencana Pembelajaran IPA berbasis Inkuiri? Studi ini menunjukkan bahwa pembelajaran melalui siklus Kath Murdoch adalah pendekatan yang menarik dan berguna bagi calon guru untuk memahami bagaimana proses ilmiah diintegrasikan ke dalam rancangan eksperimen. Juga, siklus inkuiri yang digunakan dalam praktik terbimbing (termasuk petunjuk metakognitif, refleksi, dan diskusi kelompok) dapat memperlengkapi calon guru dengan keterampilan yang diperlukan untuk mengembangkan rencana pengajaran berbasis inkuiri. Namun, ini tidak menjamin bahwa kelak calon guru tersebut akan berhasil memfasilitasi praktik inkuiri di kelas nyata.
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION) DALAM MENGUPAYAKAN TANGGUNG JAWAB SISWA [STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) COOPERATIVE LEARNING MODEL FOR STUDENT RESPONSIBILITY] Sherly Yunia Taloen; Asih Enggar Susanti
Polyglot Vol 19, No 2 (2023): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v19i2.6562

Abstract

AbstractThe learning process that takes place in the classroom demands the responsibility of each student for learning to be active not passive so that the learning objectives can be achieved. However, students often lack this responsibility when they are learning in the classroom. This can be seen when some students focus on their activities and not all students contribute to discussions. One of the things that is done to strive for student responsibility is to apply a cooperative learning model of the Student Team Achievement Division (STAD) type. The present study aims to explain the steps of the STAD (Student Teams Achievement Division) cooperative learning model to seek student responsibility in the classroom. The research method used is descriptive qualitative. The conclusion of this research is that the STAD (Student Teams Achievement Division) type cooperative learning model is carried out with the following steps, explaining the material and learning objectives, dividing and directing students to work together in groups, and finally providing evaluation and appreciation of student work. Thus, the Student Teams Achievement Division type of cooperative learning model can strive for student responsibility.Bahasa Indonesia AbstrakProses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas, menuntut  tanggung jawab setiap siswa agar pembelajaran tidak pasif melainkan aktif sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Fakta yang ditemukan adalah kurangnya tanggung jawab siswa saat melakukan pembelajaran di dalam kelas. Hal ini terlihat dari sebagian siswa yang masih sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing dan tidak semua anak berkontribusi untuk melakukan diskusi. Salah satu hal yang dilakukan untuk mengupayakan tanggung jawab siswa adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement division. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) untuk mengupayakan tanggung jawab siswa di kelas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Kesimpulan dari penulisan penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut, menjelaskan materi dan tujuan pembelajaran, membagi dan mengarahkan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok, dan yang terakhir memberikan evaluasi serta penghargaan terhadap hasil kerja siswa. Sehingga, model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division dapat mengupayakan tanggung jawab siswa.
PEMBENTUKAN SIKAP TANGGUNG JAWAB SISWA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING DI SEKOLAH DASAR [SHAPING STUDENTS’ RESPONSIBILITY THROUGH THE PROBLEM-BASED LEARNING METHOD IN ELEMENTARY SCHOOL] Rurianti Hanifah; Dudung Amir Soleh; Yustia Suntari
Polyglot Vol 19, No 2 (2023): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v19i2.6111

Abstract

AbstractA school is an official institution that is trusted by students' parents to help developing character values in students. It is pretty normal for a country to have curriculum changes in response to present and future challenges  The 2013 curriculum in Indonesia focuses on developing student character values, one of which is responsibility and the recommended learning model is the problem-based learning model. The purpose of this study is to describe the problem-based learning model in developing students' responsibility. The approach used in this research is qualitative descriptive approach. The data collection technique used was a literature study. The result showed that the use of problem-based learning models could develop students' social attitudes, one of which is responsibility.Bahasa Indonesia AbstrakSekolah sebagai suatu lembaga resmi yang dipercayai oleh orang tua siswa untuk membantu mereka dalam mengembangkan nilai karakter pada siswa. Perubahan kurikulum yang terjadi di suatu negara merupakan hal yang wajar, karena kurikulum dibuat untuk menjawab segala tantangan yang dibutuhkan oleh masyarakat di masa kini dan masa depan. Fokus pada kurikulum 2013 di Indonesia adalah mengembangkan nilai sikap karakter siswa, salah satunya adalah sikap tanggung jawab dan salah satu model pembelajaran yang dianjurkan untuk diterapkan pada saat pembelajaran adalah model problembasedlearning. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan model problem-basedlearningsebagai salah satu model pembelajaran yang dapat mengembangkan sikap tanggung jawab siswa. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif dalam memaparkan hasil analisis. Teknik pengumpulan data dengan cara studi pustaka. Hasilnya didapati bahwa penggunaan model problem-basedlearning dapat mengembangkan sikap sosial siswa, salah satunya sikap tanggung jawab.
PENGARUH PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS HOTS (HIGHER ORDER THINKING SKILLS) TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SMA [THE IMPLEMENTATION OF HOTS-BASED LEARNING (HIGHER ORDER THINKING SKILLS) ON STUDENTS' CRITICAL THINKING SKILLS IN HIGH SCHOOL HISTORY SUBJECTS] Lia Hermawati; Sani Safitri
Polyglot Vol 19, No 2 (2023): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v19i2.6089

Abstract

AbstractTwenty-first century learning has various objectives, one of it is to form an understanding of students' critical thinking to solve various problems in learning. The purpose of this study is to see the impact of the application of HOTS (Higher Order Thinking Skills) based learning on students' critical thinking skills in history subjects. The study was conducted on 25 class XI students at SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya Utara using an experimental type of research. The data sources in this study are observation sheets on the behavior of students according to the indicators set by the researcher, and the test results after learning treatment is carried out. The results showed that the application of Higher Order Thinking Skills-based learning can help students to think critically.Bahasa Indonesia AbstrakPembelajaran abad 21 memiliki berbagai tujuan salah satunya yakni membentuk pemahaman berpikir kritis peserta didik untuk memecahkan berbagai masalah dalam pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dampak penerapan pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran sejarah. Penelitian dilakukan kepada 25 peserta didik kelas XI di SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya Utara dengan menggunakan jenis penelitian eksperimen. Sumber data dalam penelitian ini yaitu lembar observasi tingkah laku peserta didik sesuai indikator yang ditetapkan oleh peneliti, dan hasil tes setelah dilakukan perlakuan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills dapat membantu peserta didik untuk berpikir kritis.
IMPLIKASI IMAN SEJATI DALAM PENDIDIKAN KRISTEN [IMPLICATIONS OF TRUE FAITH IN CHRISTIAN EDUCATION] Musa Sinar Tarigan
Polyglot Vol 19, No 2 (2023): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v1i19.6308

Abstract

AbstractChristian faith plays a very important role in education. Faith in God must affect the whole life of Christians to know God properly. This article states that the principle of true faith according to the Heidelberg Catechism is one of the important and historic documents for Christianity and its role in the field of education. The writing of this article is also to answer the various problems of understanding faith and its correlation with the field of Christian education. The discussion of this article uses literature research methods including the Bible, and various documents such as books and theological journals that discuss true faith according to the Heidelberg Catechism. The results of the discussion in this article show that true faith in God must have a very significant role in the field of holistic Christian education. Suggestions for Christian educators include being faithful to the truth and applying it in Christian education.Bahasa Indonesia AbstrakIman Kristen memiliki peran yang sangat penting dalam Pendidikan. Beriman kepada Allah harus memengaruhi seluruh kehidupan orang Kristen untuk mengenal Allah dengan benar. Artikel ini menyatakan bahwa prinsip iman sejati (true faith) menurut katekismus Heidelberg sebagai salah satu dokumen penting dan bersejarah bagi kekristenan dan bagaimana perannya dalam bidang pendidikan. Penulisan artikelini juga sebagai jawaban atas berbagai persoalan pemahaman iman dan korelasinya dengan bidang Pendidikan Kristen. Pembahasan artikel ini menggunakan metode riset literatur antara lain Alkitab, dan berbagai dokumen seperti buku, jurnal teologis yang membahas iman sejati menurut Katekismus Heidelberg. Hasil pembahasan artikel ini menunjukkan bahwa iman sejati kepada Allah harus memiliki peran yang sangat signifikan dalam bidang pendidikan Kristen yang holistis. Saran untuk para pendidik Kristen adalah untuk setia kepada kebenaran dan menerapkannya dalam pendidikan Kristen.
PENGGUNAAN RUBRIK SEBAGAI INSTRUMEN PENILAIAN DALAM KEGIATAN MENULIS TEKS EDITORIAL SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS [THE USE OF RUBRICS AS AN ASSESSMENT INSTRUMENT IN HIGH SCHOOL STUDENTS' EDITORIAL TEXT WRITING ACTIVITIES] Mitra Jayanti Lase; Ernie Bertha Nababan
Polyglot Vol 19, No 2 (2023): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v19i2.6279

Abstract

AbstractThis research is motivated by the author's findings on the structure of student editorial text opinion writing that has differences in the completeness of the content. It refers to the assessment of student achievement that is not the same assessment standard. As a series of continuous learning, this requires assessment and evaluation from the teacher. However, the unavailability of assessment instruments causes the assessment to be biased and subjective. This research was conducted on 30 class XII students at a private school in Manado. The purpose of this study is to describe the use of rubrics as a teacher's assessment instrument in writing editorial text activities for high school students. This study used the descriptive qualitative method. Based on the research results, it was found that rubrics can help teachers to see students' abilities in writing editorial texts, provide evaluations of students' writing results based on the criteria that have not been achieved, and assess students fairly and accurately based on the criteria contained in the rubric. The use of rubrics helps teachers realize God's love and justice in assessing and supporting students' potential in writing. In addition, the beauty and meaning of student writing can reveal the Creator to others. Therefore, the authors suggest determining skills that need to be assessed using rubrics, communicating achievement criteria to students, and providing evaluations based on rubrics criteria to support student growth.Bahasa Indonesia AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh temuan penulis pada struktur tulisan opini teks editorial siswa yang memiliki perbedaan pada kelengkapan isi. Hal ini merujuk pada penilaian capaian siswa yang tidak berada pada standar penilaian yang sama. Sebagai suatu rangkaian pembelajaran yang berkelanjutan, hal ini membutuhkan penilaian dan evaluasi dari guru. Akan tetapi, tidak tersedianya instrumen penilaian menyebabkan penilaian menjadi bias dan subjektif. Penelitian ini dilakukan pada 30 siswa kelas XII di salah satu sekolah swasta di Manado. Tujuan dari penelitian ini untuk memaparkan penggunaan rubrik sebagai instrumen penilaian guru pada kegiatan menulis teks editorial siswa Sekolah Menengah Atas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa rubrik dapat membantu guru melihat kemampuan siswa dalam menulis teks editorial, pemberian evaluasi pada hasil tulisan siswa berdasarkan kriteria yang masih belum tercapai, dan menilai siswa secara adil dan akurat berdasarkan kriteria yang dimuat di dalam rubrik. Penggunaan rubrik membantu guru mewujudkan kasih dan keadilan Allah dalam melakukan penilaian dan mendukung potensi siswa dalam menulis. Selain itu, keindahan dan makna tulisan siswa dapat menyatakan Pencipta kepada orang lain. Oleh sebab itu, penulis menyarankan untuk menentukan keterampilan yang perlu dinilai dari penggunaan rubrik, mengomunikasikan capaian kriteria kepada siswa, serta memberikan evaluasi berdasarkan kriteria rubrik untuk mendukung pertumbuhan siswa.
A CHRISTIAN FEMALE LEADERSHIP FRAMEWORK: AN INSIGHT FROM CHRISTIAN HIGHER EDUCATION IN INDONESIA Elfi Elfi; Indrawan Indrawan; Patricia Patricia; Ade Andriani Renouw
Polyglot Vol 19, No 2 (2023): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v19i2.6120

Abstract

AbstractThere are only a few Christian- and Catholic-based universities in Indonesia that have females at the highest leadership. This may seem to be promoting the patriarchy concept as allegedly endorsed by Christianity, that woman was created to be a helper to man and because of that, woman is inferior to man. However, the Bible also mentions several female leaders and defends the inclusive culture where men and women are working together for God’ Kingdom. It is reflected by the many women at the middle management level in Christian higher education in Indonesia. Yet, studies about female in the middle management in Indonesia’s Christian universities are still limited. To further understand the issue, this study employs the phenomenology approach of the qualitative research method. In-depth interviews with six participants from two Christian universities in Indonesia were conducted in two weeks. From the findings, the authors propose a framework involving three elements that shape the Christian Female Leadership. Bahasa Indonesia AbstrakDi universitas berbasis Kristen dan Katolik di Indonesia, hanya terdapat sedikit wanita yang menduduki jabatan sebagai pimpinan tertinggi. Hal ini seakan mengesankan bahwa Kekristenan mendukung konsep patriarki di mana wanita di ciptakan sebagai penolong bagi pria yang karenanya, wanita dianggap berada di bawah pria. Namun, Alkitab sebenarnya juga menyebutkan beberapa pemimpin wanita dan membela budaya inklusif di mana wanita dan pria bekerja sama untuk Kerajaan Allah. Ini tercermin dari banyaknya wanita pada level manajemen menengah di pendidikan tinggi Kristen di Indonesia. Akan tetapi, studi tentang wanita sebagai pemimpin pada level madya pada kampus Kristen di Indonesia masih terbatas. Untuk memahami lebih lanjut tentang hal ini, penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dari metode kualitatif. Wawancara mendalam dilakukan dengan enam partisipan dari dua kampus Kristen di Indonesia dalam waktu dua minggu. Dari hasil penelitian, para peneliti mengusulkan kerangka pemikiran di mana terdapat tiga elemen yang membentuk Kepemimpinan Wanita Kristen.