cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
POLYGLOT
ISSN : 1907 6134     EISSN : 2549 1466     DOI : -
Core Subject : Education,
Started in 2006, Polyglot is a scientific journal of language, literature, culture, and education published biannually by the Faculty of Education at the Teachers College, Universitas Pelita Harapan. The journal aims to disseminate articles of research, literature study, reviews, or school practice experiences.
Arjuna Subject : -
Articles 231 Documents
MENGUKUR RASA INGIN TAHU SISWA [MEASURING STUDENTS' CURIOSITY] Steven Raharja; Martinus Ronny Wibhawa; Samuel Lukas
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.832

Abstract

One factor that influences students in becoming active learners and self developers is curiosity.  Curiosity is defined as an impulse within a person to gain new information without appreciation or extrinsic factors. A person's curiosity encourages him to devote more attention to an activity, to process information more deeply, to remember information better, and to fulfill tasks more accurately. This paper aims to create a valid and reliable instrument to measure students’ curiosity and to test it students in a grade 10 and 11 science class using cluster random sampling.  Results showed no correlation between students’ curiosity and their grades. It was also found that there was no significant mean difference in students’ curiosity between male and female students. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi siswa sebagai pembelajar yang aktif dan terus mengembangkan diri adalah rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu didefinisikan sebagai dorongan dalam diri seseorang untuk memperoleh informasi baru tanpa adanya penghargaan maupun faktor ekstrinsik. Rasa ingin tahu seseorang mendorong ia mencurahkan banyak perhatian kepada suatu aktivitas untuk memproses informasi lebih dalam, mengingat informasi lebih baik dan lebih cenderung mengerjakan tugas dengan tuntas. Penelitian ini bertujuan untuk membuat instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur rasa ingin tahu siswa, mengujikannya pada siswa kelas X dan XI disuatu sekolah dengan cluster random sampling. Hasil penelitian mendapatkan instrumen kuesioner yang valid dan reliabel serta pengujian hipotesa yang menyatakan tidak ada hubungan rata-rata rasa ingin tahu dengan tingkat pendidikan kelas X dengan kelas XI dan tidak ada perbedaan rata-rata rasa ingin tahu siswa perempuan dengan siswa pria.
PENERAPAN METODE GIVING QUESTIONS AND GETTING ANSWERS UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X-MIA DI SEKOLAH ‘FANÓS’ KUPANG [IMPLEMENTATION OF THE GIVING QUESTIONS AND GETTING ANSWERS METHOD TO IMPROVE CRITICAL THINKING SKILLS WITH GRADE 10-MIA STUDENTS AT 'FANÓS' KUPANG] Evanti Puspita Sari; Yohanes Edi Gunanto
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.846

Abstract

Critical thinking is one of the higher order thinking skills that high school students must have. Grade 10-MIA students in ‘FANÓS’ School Kupang had difficulties improving their critical thinking skills. The researcher used the Giving Questions and Getting Answers method to help these students improve their critical thinking skills. The purpose of this research was to find out whether there was any improvement in students’ critical thinking skills when the Giving Questions and Getting Answerss method was implemented in their school. This research method used Classroom Action Research (CAR) by Kemmis and McTaggart’s model in two cycles. The subjects consisted of 30 Grade 10-MIA students. The research instruments were check-list observation sheet, students’ questionnaire, mentor’s interview sheet, post-test sheet with its rubric, mentor’s observation sheet and open observation sheet. The result was analyzed using descriptive statistics and qualitative. The results showed that Giving Questions and Getting Answers could improve Grade 10-MIA students’ critical thinking skills when explaining the functions of the two papers, explaining the lesson, group discussion, asking questions from the 1st paper, giving conclusions from the 2nd paper and giving a post-test.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Berpikir kritis adalah salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dimiliki siswa SMA. Siswa kelas X-MIA di Sekolah 'FANÓS' Kupang mengalami kesulitan dalam memperbaiki kemampuan berpikir kritis mereka. Peneliti menggunakan metode Pemberian Pertanyaan dan Mendapatkan Jawaban untuk membantu siswa kelas X-MIA untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbaikan kemampuan berpikir kritis siswa atau tidak dan untuk mengetahui bagaimana cara memberikan pertanyaan dan mendapatkan jawaban diimplementasikan di Sekolah FANÓS Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-MIA yang terdiri dari 30 siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus. Instrumen penelitiannya adalah lembar observasi daftar periksa, kuesioner siswa, lembar wawancara mentor, lembar post-test dengan rubriknya, lembar observasi mentor dan lembar observasi terbuka. Hasilnya dianalisis dengan statistik deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah Memberikan Pertanyaan dan Mendapatkan Jawaban dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-MIA dan diimplementasikan dengan menjelaskan fungsi kedua makalah tersebut, menjelaskan pelajaran, diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan dari makalah pertama, pemberian kesimpulan dari kertas ke-2 dan memberikan post-test.
PEMBENTUKAN KONSEP MANAJEMEN PERILAKU SISWA DALAM PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN PERTAMA MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA [SHAPING THE CONCEPT OF STUDENTS’ BEHAVIOR MANAGEMENT IN THE FIRST FIELD EXPERIENCE PROGRAM FOR MATHEMATICS EDUCATION STUDENTS] Melda Jaya Saragih
Polyglot Vol 15, No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v15i2.1716

Abstract

The Field Experience Program (PPL) is a holistic learning activity related to developing the competency of prospective Christian teachers based on the profile of a graduate of the mathematics education program at Universitas Pelita Harapan. The First Field Experience Program 1 (PPL 1) is the student's initial experience in school, namely the introduction and adaptation of prospective teachers with classes and the role of the teacher in the classroom. The purpose of this study was to explore the benefits of student teachers after the First Field Experince Program to students’ behaviour management through observation and reflection techniques. This study used qualitative descriptive methods, where data is collected through documentation (portfolios), open questionnaires and student reflections. There were 30 UPH mathematics education students as participants who spread across several Christian schools around the greater Jakarta area. The results of this study show that PPL 1 activities bring great benefits in forming the concept of correct behavior management where student teachers can view students as individuals who need to be guided in the right direction with love and realizing God loves them so much, students teacher know and recognize forms negative behavior of students in the classroom, and students teacher learn how to handle student behavior wisely. Student teachers also have clear commitments when they become teachers later.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Program Pengalaman Lapangan (PPL) adalah kegiatan pembelajaran holistis yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi seorang calon guru Kristen sesuai dengan profil lulusan pendidikan matematika, UPH.  Program Pengalaman Lapangan 1 (PPL 1) merupakan tahap awal pengalaman mahasiswa di sekolah, yaitu tahap pengenalan dan penyesuaian Mahasiswa guru dengan ruang kelas dan peranan guru dalam kelas. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk melihat seberapa besar manfaat yang didapatkan mahasiswa guru setelah kegiatan PPL 1 mengenai konsep manajemen perilaku siswa dalam kelas melalui teknik observasi dan refleksi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana data dikumpulkan melalui dokumentasi (portfolio), angket terbuka dan refleksi mahasiswa. Partisipan terdiri dari 30 mahasiswa pendidikan matematika-UPH yang tersebar di beberapa sekolah Kristen di sekitar Jabodetabek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan PPL 1 ini membawa manfaat yang besar dalam pembentukan konsep manajemen perilaku yang benar dimana mahasiswa dapat memandang siswa sebagai pribadi perlu dituntun ke arah yang benar dengan penuh kasih serta Tuhan sangat mengasihi mereka, mahasiswa mengetahui dan mengenal bentuk-bentuk perilaku negatif siswa di dalam kelas, serta mahasiswa belajar cara menangani perilaku siswa dengan bijaksana. Mahasiswa guru juga memiliki komitmen yang jelas ketika mereka menjadi guru nantinya.
MODEL KEPEMIMPINAN CARE GROUP DALAM PENDIDIKAN HOLISTIS [A LEADERSHIP MODEL OF CARE GROUPS IN HOLISTIC EDUCATION] Nico Tanles Tjhin; Dylmoon Hidayat
Polyglot Vol 15, No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v15i2.1078

Abstract

A study program at a private higher education institution, namely CT, a transformational holistic education organization, implements an academic and non-academic guidance program through small groups called CARE Groups (CG). However, regardless of there being a CG program, there are still many cases of CT students breaking rules. These range from general cases to more severe ones that result in warning letters. The discrepancy found in the range of cases is the topic of this study, which focuses on the perspective of the CG leadership. The qualitative method of case study was utilized so that the data may be accurate and in-depth for analysis, in order for there to be further discussion. The three main findings that answered the problem formulated in this study were the description of strategies and CT efforts in equipping CG Leader (CGL), an explanation of the reasons for the emergence of cases among students, and the formulation of an ideal profile for a CGL.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Sebuah program studi di suatu perguruan tinggi swasta, sebut saja CT, suatu lembaga pendidikan holistis yang transformasional menerapkan suatu program bimbingan akademik dan non-akademik berbentuk kelompok kecil bernama CARE Group (CG). Namun, terlepas dari adanya instrumen CG, kasus pelanggaran peraturan di kalangan mahasiswa CT kerap kali muncul, mulai dari kasus umum sampai kasus berat yang memiliki konsekuensi Surat Peringatan (SP). Kesenjangan tersebut menjadi topik pembahasan dalam studi ini, berfokus pada segi pandangan kepemimpinan CG. Metode penelitian kualitatif studi kasus digunakan agar mendapatkan data yang akurat dan mendalam untuk dianalisis dan dibahas lebih lanjut. Diperoleh tiga temuan utama yang menjawab rumusan masalah dari penelitian ini, yaitu deskripsi strategi dan upaya CT dalam memperlengkapi CG Leader (CGL), penjelasan akan alasan masih munculnya kasus di kalangan mahasiswa, dan rumusan sebuah profil ideal bagi seorang CGL.
A GUIDE TO CHRISTIAN SPIRITUAL FORMATION: HOW SCRIPTURE, SPIRIT, COMMUNITY, AND MISSION SHAPE OUR SOULS. BY EVAN B. HOWARD. Novel Priyatna
Polyglot Vol 16, No 1 (2020): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v16i1.1915

Abstract

Although interest in Christian spiritual formation among evangelicals, especially in Western society, has been at a critical stage, Howard stresses the importance of Christian spiritual formation. Christian spiritual formation helps individuals and Christian communities grow deeper in their relationship with the Triune God because in it the Holy Spirit, Scripture, community, and mission are interconnected with one another. Furthermore, without Christian spiritual formation, Christian institutions find it  difficult to perform their roles well. Therefore, this book challenges Christian leaders such as educators, pastors, spiritual directors, and other church leaders to become God’s instruments in transforming believers to have Christlike character in their lives.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Meskipun minat dalam formasi rohani Kristen di kalangan kaum Injili, khususnya di masyarakat Barat, telah berada pada tahap kritis, Howard menegaskan pentingnya formasi rohani Kristen. Formasi rohani Kristen membantu individu-individu dan komunitas-komunitas Kristen untuk bertumbuh lebih dalam terkait hubungan mereka dengan Allah Tritunggal karena didalamnya Roh Kudus, Alkitab, komunitas, dan misi saling berhubungan satu sama lain. Lebih jauh lagi, tanpa formasi rohani Kristen, lembaga-lembaga Kristen sulit melakukan perannya dengan baik. Oleh karena itu, buku ini menantang para pemimpin Kristen seperti pendidik, pendeta, direktur spiritual, dan pemimpin-pemimpin gereja lainnya untuk menjadi alat Tuhan dalam mengubah orang-orang Kristen agar dapat memiliki karakter seperti Kristus dalam kehidupan mereka.
PEMBENTUKAN KARAKTER MAHASISWA CALON GURU SEBAGAI PENUNJANG KOMPETENSI KEPRIBADIAN [THE FORMATION OF CHARACTER OF TEACHER CANDIDATES IN ACHIEVING PERSONALITY COMPETENCE] Meiva Marthaulina Lestari Siahaan; Melda J Saragih; Riny Oktora Purba
Polyglot Vol 16, No 1 (2020): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v16i1.2249

Abstract

A teacher's personality competence plays an important role in achieving educational goals. Personality is formed through every experience a teacher has. These experiences then govern a teacher's perspectives and thoughts and are reflected in behavior that shapes personality. Therefore, it is important for teacher candidates to do field experiences or observations in schools. This study will look at how the character of teacher candidates, such as caring, responsibility, and sensitivity to the needs of students, is enhanced during field experiences. The particpants of this study were 30 teacher candidates from several schools around Jakarta. Data taken from portfolios, reflection sheets, and mentors' observation sheets about the teacher candidates were analyzed in-depth. The reflections sheet included students’ explanations about 1) teacher management regarding student behavior and classroom environment, 2) teacher teaching strategies and instructional media, 3) teacher interaction in learning and communication skills, and 4) teacher assessment. The teacher candidates’ perspective after the field experience ended included 1) making a commitment to build communication and relationships with students as a form of a caring attitude, 2) making a commitment to share responsibility related to the assessment process, and 3) realizing that teachers need to be sensitive to diverse students during the learning process.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Kompetensi kepribadian guru berperan penting dalam tercapainya tujuan pendidikan. Kepribadian ini terbentuk dari setiap pengalaman yang didapat oleh seseorang. Pengalaman ini akan mengatur cara pandang dan pikir seseorang dan dicerminkan dalam bentuk tingkah laku dan terakumulasi menjadi sebuah kepribadian. Oleh karena itu penting bagi MCG melakukan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah. Penelitian ini akan melihat bagaimana karakter MCG, ditinjau dari perspektif mereka, seperti kepedulian, kesediaan berbagi tanggung jawab, dan kepekaan akan kebutuhan siswa selama melakukan PPL. Data diambil dari refleksi mahasiswa yang dianalisis secara mendalam mengenai 1) manajemen guru mengenai perilaku siswa dan lingkungan kelas, 2) strategi mengajar guru dan media pembelajaran yang digunakan, interaksi guru dalam pembelajaran dan keterampilan berkomunikasi, dan 3) penilaian yang dilakukan guru dan didukung oleh observasi guru mentor terhadap MCG. Pertumbuhan karakter MCG setelah pelaksanaan PPL: perspektif yang ditimbulkan oleh MCG setelah pelaksanaan PPL: 1) memiliki komitmen untuk membangun komunikasi yang clear dengan siswa sebagai wujud sikap peduli seorang guru, 2) memiliki komitmen untuk berbagi tanggung jawab. MCG menjurus pada tanggung jawab guru dalam melaksanakan peniliaian pada siswa. MCG melihat bahwa instrument untuk proses penilaian harus dipersiapkan dengan baik oleh guru dan siswa mempersiapkan diri dalam proses tersebut sebagai bentuk tanggung jawab mereka setelah menerima materi, dan 3) menyadari bahwa dibutuhkan perilaku guru dalam kepekaan tentang kebutuhan siswa yang beragam. MCG memusatkan pada perilaku memberikan kontribusi selama proses pembelajaran untuk menolong siswa dalam memenuhi kebutuhan belajarnya.
ANALISIS TEORI PENDEKATAN SITUASIONAL UNTUK GURU WALI KELAS BAGI TRANSFORMASI KEBERHASILAN PEMBELAJARAN SISWA [ANALYSIS OF THE SITUATIONAL APPROACH THEORY FOR HOMEROOM TEACHERS FOR TRANSFORMING ACHIEVEMENT OF STUDENT LEARNING] Tikno Iensufiie
Polyglot Vol 16, No 1 (2020): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v16i1.1756

Abstract

Homeroom teachers have many other tasks besides teaching such as guiding their students in an organized manner as a group towards the same goal of a successful learning process. The homeroom teacher has a mandate from God to have a positive influence as "Salt and Light" which enlightens students to become better people. The purpose of this paper is to analyze the function of the Situational Approach Theory with indicators of student competence and commitment. This activity can be run through classroom observations as can be practiced by the homeroom teacher in order to provide a better learning process.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Guru wali kelas memiliki tugas selain mengajar, yaitu memimpin murid-muridnya secara terorganisasi, sebagai kelompok menuju tujuan yang sama, yaitu kesuksesan proses belajar & mengajar. Guru wali kelas memiliki amanat agung dari Tuhan dalam memberikan pengaruh positif sebagai "Garam dan Terang" dan memberikan pencerahan pada muridnya untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis penggunaan Teori Pendekatan Situasional menggunakan indikator kompetensi dan komitmen siswa. Kegiatan ini dapat dipraktekkan oleh guru wali kelas melalui pengamatan kelas, dengan tujuan agar dapat memberikan proses pembelajaran yang lebih baik.
DECENTRALISATION AND EDUCATION FOR ALL IN INDONESIA Richard Richy Kuhon
Polyglot Vol 16, No 1 (2020): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v16i1.1996

Abstract

The discourse on decentralisation in developing countries is seen as a strategy in restructuring and improving economic, social and public welfare including the education sector. This idea is fundamentally in line with the goals of Education for All (EFA). The experience of Indonesia that had shifted from a strongly centralised system to a decentralised one in the early 2000s provides an interesting case. This article argues that the current decentralised system in education has seen an insignificant effect in achieving EFA. Through an extensive literature study, this article draws attention to the  particular concerns of human resources, curriculum, corruption and poverty issues as contributing factors to the seemingly failing efforts in the decentralised settings, all in the light of Indonesia's historical development.
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN PENGENALAN HURUF PADA SISWA K3 DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH KRISTEN MANADO [THE USE OF PICTURE MEDIA TO IMPROVE RECOGNITION IN K3 STUDENTS IN INDONESIAN LESSONS AT A CHRISTIAN SCHOOL IN MANADO] Oktavia Resty Anggraeni; Imanuel Adhitya Wulanata; Abednego Tri Gumono
Polyglot Vol 16, No 1 (2020): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v16i1.1403

Abstract

Based on observations, the researcher found that letter recognition for K3 students at ABC school Manado in their Bahasa Indonesia lessons was low. Students' understanding of letters had not reached the 75% standard assessment given by the teacher. To overcome the problem, the researcher implemented the use of pictures as a media to increase K3 students’ letter recognition. The method used in this research was Classroom Action Research (CAR) using Kemmis and McTaggart model through two cycles. The research was conducted between October 4 and November 3, 2017, using 18 students. The research instruments used to collect the data were the researcher’s observation checklist, the mentor’s observation checklist, another teacher’s observation checklist, students’ worksheets, and an interview with the mentor. Research findings indicated an increase of K3 students’ letter recognition in their Bahasa Indonesia lessons at ABC School Manado with the indicator of achievement of letter recognition reaching 100% and the indicator of letter sound recognition also reaching 100%. The steps of using the drawing media during learning were also consistently performed by showing 100% assessment results through observations by mentors and peers. Therefore, it can be concluded that the use of pictures as a media can increase K3 students’ letter recognition in Bahasa Indonesia lessons at ABC School Manado.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Berdasarkan hasil observasi ditemukan bahwa pengenalan huruf pada siswa K3 pada sekolah swasta di Manado pada mata pelajaran bahasa Indonesia masih rendah, yaitu ditunjukkan dengan pemahaman terhadap huruf belum mencapai angka 75% standar penilaian yang diberikan oleh guru. Adapun tujuan penelitian ini adalah menerapkan penggunaan media gambar untuk meningkatkan pengenalan huruf siswa K3. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart melalui dua siklus. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober sampai dengan 3 November 2017 terhadap 18 siswa di Sekolah ABC Manado. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi ceklispeneliti, lembar ceklismentor, lembar observasi ceklisrekan sejawat, lembar kerja siswa, dan lembar wawancara mentor. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pada pengenalan huruf siswa kelas K3-A Sekolah ABC Manado pada mata pelajaran bahasa Indonesia dengan pencapaian kriteria indikator mengenal huruf adalah 100%, indikator pengenalan bunyi huruf adalah 100%. Langkah-langkah penggunaan media gambar pada saat pembelajaran juga konsisten dilakukan dengan menunjukkan hasil penilaian 100% melalui observasi dari mentor dan rekan sejawat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar dapat meningkatkan pengenalan huruf siswa K3-A di sekolah ABC Manado dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
MENJADI GURU YANG REFLEKTIF MELALUI PROSES BERPIKIR REFLEKTIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA [BECOMING A REFLECTIVE TEACHER THROUGH THE REFLECTIVE THINKING PROCESS IN MATHEMATICS LEARNING] Santy Yesica Manurung; Tanti Listiani
Polyglot Vol 16, No 1 (2020): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v16i1.2262

Abstract

This research is based on problems found during the Field Experience Program (PPL 2) when more than 50% of the students scored below the minimal completeness criteria (KKM) on the first daily test and some students were impolite to the teacher.  The author sees these problems being caused by the teacher's lack of ability to manage the classroom, especially in the realm of classroom interaction. One of the expected competencies of a teacher is that he or she is able to become a reflective person. Indeed, God condemns the attitude of a person who always defends himself because it makes him always justify his actions without wanting to reflect upon those actions. Being a reflective person will help a teacher examine his strengths and weaknesses in teaching to improve the quality of his teaching. The purpose of this study is to describe the importance of repeated reflection by a teacher through the reflective thinking process in mathematics learning. The results of the reflection process can help a teacher solve problems in class. The author suggests that the teacher focuses on observing the characteristics of the students in class so that, through the introduction of each individual student, the teacher can prepare what is needed to carry out learning in accordance with the characteristics of students.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Penelitian ini didasari oleh permasalahan yang ditemukan saat menjalankan Program Pengalaman Lapangan (PPL) 2 yang mana pada saat ulangan harian pertama terdapat lebih dari 50% siswa mendapat nilai dibawah KKM dan beberapa siswa yang berlaku tidak sopan kepada guru. Penulis melihat permasalahan ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan guru dalam memanajemen kelas khususnya dalam ranah interaksi di dalam kelas. Salah satu kompetensi yang diharapkan adalah guru mampu menjadi pribadi yang reflektif. Sejatinya, Allah mengutuk sikap orang-orang yang selalu membela diri karena hal tersebut akan membuat manusia selalu membenarkan tindakannya tanpa mau merefleksikan tindakannya. Menjadi pribadi yang reflektif, akan membantu guru untuk memeriksa kelebihan dan kekurangannya dalam mengajar untuk memperbaiki kualitas pengajarannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan pentingnya melakukan refleksi berulangkali oleh guru melalui proses berpikir reflektif dalam pembelajaran matematika. Dengan demikian, dari hasil proses refleksi tersebut dapat membantu guru untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di kelas. Penulis menyarankan untuk guru fokus mengobservasi karakteristik siswa dalam satu kelas. Supaya, melalui pengenalan akan setiap pribadi siswa, guru dapat mempersiapkan hal apa saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.

Page 8 of 24 | Total Record : 231