cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
POLYGLOT
ISSN : 1907 6134     EISSN : 2549 1466     DOI : -
Core Subject : Education,
Started in 2006, Polyglot is a scientific journal of language, literature, culture, and education published biannually by the Faculty of Education at the Teachers College, Universitas Pelita Harapan. The journal aims to disseminate articles of research, literature study, reviews, or school practice experiences.
Arjuna Subject : -
Articles 231 Documents
INTELEKTUALITAS, GAIRAH & KERENDAHAN HATI: SIKAP TERHADAP SAINS DAN TEKNOLOGI [INTELLECTUALITY, PASSION & HUMILITY: ATTITUDES TOWARDS SCIENCE AND TECHNOLOGY] Ihan Martoyo; Eric Jobiliong; Wiryanto Dewobroto; Ukur Sembiring; Setiawan Sutanto; Rudy Hartono
Polyglot Vol 15, No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v15i2.1085

Abstract

Some would claim that science and technology contradict the life of faith, or that the one is more important or higher than the other. Such dualism/dichotomy may result from the pressure of atheism or the friction between various convictions in which scientists work. This writing suggests a healthier attitude towards science and technology for people of faith, where science, technology, and faith are approached without the crippling sacred/secular dichotomy. The concept of cultural mandate (Kuyper) provides a model for cultivating intellectuality, passion and humility as a divine mandate in faithful stewardship towards nature. A well-rounded scientist or engineer must be also aware of the ethical challenges in his or her field.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Ada yang mengklaim bahwa sains dan teknologi berkontradiksi dengan kehidupan iman, atau bahwa yang satu lebih penting atau lebih tinggi dari yang lain. Dualisme/dikotomi demikian dapat muncul dari tekanan paham ateisme atau gesekan dari berbagai keyakinan tempat ilmuwan beraktivitas. Tulisan ini mengusulkan suatu sikap yang lebih sehat terhadap sains dan teknologi untuk orang percaya, di mana sains, teknologi dan iman didekati tanpa dikotomi sakral/sekuler yang melumpuhkan. Konsep mandat budaya (Kuyper) menyediakan model untuk mengusahakan intelektualitas, gairah & kerendahan hati sebagai mandat ilahi dalam penatalayanan yang setia kepada alam. Seorang ilmuwan atau insinyur yang lengkap juga harus peka pada berbagai tantangan etika dalam bidangnya.
PENERAPAN MODEL SECI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN PROFESIONAL UNTUK MENINGKATKAN MODAL INTELEKTUAL GURU [IMPLEMENTATION OF SECI MODELS IN PROFESSIONAL DEVELOPMENT PROGRAMS TO IMPROVE TEACHERS' INTELLECTUAL CAPITAL] Susandi Wu
Polyglot Vol 15, No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v15i2.1652

Abstract

Schools are an important key for a nation because schools play a role in preparing the nation's next generation. Schools are organizations that require good knowledge management. The knowledge that schools have  is the work of their members, the teachers. The knowledge possessed by teachers varies. For this reason, schools must create a system so that knowledge can be shared and learned by all the teachers in the school. One way that can be done is by implementing a professional development program. Through this program, there will be a process of knowledge transfer according to the SECI model. This program is effective in increasing the knowledge of teachers and thus their intellectual capital. If the intellectual capital of the teachers increases, their competence in teaching will also develop and they can create a better generation for the nation.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Sekolah adalah kunci penting suatu bangsa, karena sekolah berperan dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Sekolah merupakan sebuah organisasi yang memerlukan pengelolaan pengetahuan yang baik. Pengetahuan yang dimiliki sekolah adalah hasil kreasi para anggotanya, yaitu para guru. Pengetahuan yang dimiliki oleh para guru, tidaklah sama antara satu dan yang lainnya. Untuk itu, sekolah harus menciptakan suatu sistem agar pengetahun tersebut dapat dibagikan dan dipelajari oleh semua guru di dalamnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengadakan program pengembangan professional. Melalui program ini, maka akan terjadi proses perpindahan pengetahuan menurut model SECI. Program ini efektif untuk meningkatkan pengetahuan para guru yang merupakan modal intelektual mereka. Jika modal intelektual para guru bertambah, maka kompetensi mereka juga akan berkembang terutama dalam pengajaran. Hal ini diharapkan dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang berkompetensi tinggi di kemudian hari.
RAGAM BAHASA DALAM PERSPEKTIF ALKITAB [LANGUAGE VARIETY FROM A BIBLICAL PERSPECTIVE] Jonter Pandapotan Sitorus
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.809

Abstract

Language variety is considered an integral part of human beings as the rightful owners of the language. However, due to scientfic developments, it seems that our understanding of language variety is only focused on the ability to create language varieties. Man forgets his nature as a creature and that there is a Creator who created all things on earth, including languages and their varieties. Therefore, the scientific view of language variety must be corrected using the Biblical perspective so that we as believers, created in God's image (imago dei), do not misunderstand that language variety occurs not because of man's creativity but because of God's grace and prophecy set forth in the writings and genres of the Bible long before language variety was a term used by science.  BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Ragam bahasa menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dengan manusia sebagai pemilik sah dari bahasa tersebut. Namun, akibat perkembangan ilmu pengetahuan, tampaknya pemahaman ragam bahasa sering sekali dititikberatkan pada kemampuan manusia itu menciptakan ragam bahasa. Manusia melupakan kodratnya sebagai ciptaan bahwa masih ada pencipta yang mengakibatkan segala sesuatu yang ada di dunia ini termasuk juga dengan bahasa dan ragam bahasa dapat terjadi. Oleh karena itu, pandangan ilmu pengetahuan akan ragam bahasa harus diluruskan melalui pandangan ragam bahasa dalam perspektif Alkitab agar kita sebagai orang yang percaya dan sebagai gambar dan rupa Allah (imago dei) tidak salah memahami bahwa ragam bahasa dapat terjadi bukan karena hasil kreativitas manusia, melainkan karena anugerah Tuhan dan nubutan Tuhan yang telah termaktub di dalam Alkitab jauh sebelum kita mengenal istilah ragam bahasa menurut ilmu pengetahuan dengan segudang penulisan  ragam bahasa dan genre yang ada di dalam Alkitab.
PENGARUH PENERAPAN METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PENGAJARAN KOSAKATA BAHASA INGGRIS SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 33 JAKARTA [THE EFFECT OF IMPLEMENTING CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ON TEACHING ENGLISH VOCABULARY IN GRADE 11 AT SENIOR HIGH SCHOOL 33 JAKARTA] Tito Dimas Atmawijaya
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.1045

Abstract

This study aimed at investigating the effect of vocabulary teaching in procedure texts using Contextual Teaching and Learning (CTL). The research was carried out with the English classes in the Social Sciences program which was taught vocabulary using the Contextual Teaching and Learning (CTL) method while another class used a traditional method in teaching vocabulary.  The study used the quantitative data collected through the Post-Test after the treatment, questionnaires, and interviews. The data collected from the Post-Test were analyzed by implementing a t-test using SPSS 22 and counting average scores of both groups. The findings of the study indicate that teaching vocabulary using Contextual Teaching and Learning (CTL) method brings significant results. Furthermore, the results gathered from interviews and questionnaires confirmed that learners had a positive attitude towards CTL, as this method provided the students with a lot of activities which created a learning environment that was fun, enjoyable, and effective for improving the students’ vocabulary. Moreover, CTL also increased learners’ participation, scores, and collaboration.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Artikel jurnal ini membahas efek pengajaran kosakata bahasa Inggris teks prosedur dengan menggunakan metode Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian ini dilakukan pada suatu kelas IPS yang menggunakan CTL, sedangkan kelas lain menggunaan metode pengajaran tradisional. Metode penelitian ini adalah kuantiatif dengan jenis Post-Test Only. Data penelitian diambil dengan menggunakan Post-Test yang diberikan sehari dan tiga minggu setelah perlakuan kepada kedua kelas partisipan. Analisis hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan rerata dan uji t dependen dan independen menggunakan SPSS 22. Analisis tersebut  menunjukkan peningkatan hasil yang signifikan pada kelas XI IPS 1 yang menerapkan metode CTL. Selain itu,  hasil temuan penelitian dari wawancara dan kuesioner menunjukkan bahwa metode Contextual Teaching and Learning (CTL) memberikan pengaruh positif dalam pembelajaran kosakata di kelas, yaitu meningkatnya partisipasi pemelajar, kemampuan kosakata reseptif dan produktif, dan kolaborasi di antara pembelajar.
PENERAPAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS I PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR XYZ GUNUNGSITOLI, NIAS [IMPLEMENTATION OF THE ROLE PLAYING METHOD TO IMPROVE GRADE 1 STUDENTS’ SPEAKING SKILLS IN AN INDONESIAN LANGUAGE LESSON AT PRIMARY SCHOOL XYZ GUNUNGSITOLI, NIAS] Oktaria Mbeni Haba Kolnel; Juniriang Zendrato
Polyglot Vol 15, No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v15i2.1058

Abstract

Speaking skills need to be taught to students from an early age. These skills affect students’ ability to communicate in society. The purpose of this study is to improve students’ speaking skills by using the role playing method. Hopefully, through this learning method, students can improve their speaking skills according to aspects in oral communication. The research method used was Classroom Action Research (CAR) which was conducted in two cycles. The subjects of this research were 33 students in grade 1 XYZ Elementary School Gunungsitoli, Nias. The research was carried out from August until November 2017.  The instruments used in the research were the following: class teacher and peer teacher observation sheets, speaking skills rubric sheets, students’ questionnaire sheets, and researcher’s reflection journal. The collected data was analyzed quantitatively and qualitatively. The conclusion is that the role playing method can improve students’ speaking skills including aspects of pronunciation (87.87%), tone/intonation (87.12%), fluency (87.87%), and self-confidence (80.30%). The steps of the role playing method that can improve students’ speaking skills are as follows: 1) preparing the scenario, 2) explaining the targeted competency, 3) providing the place, time, and tools to be used, 4) dividing participants into groups, 5) assigning the roles, 6) practicing the role playing, 7) doing the assessment, and 8) evaluating.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Keterampilan berbicara perlu dilatihkan kepada siswa sejak usia dini.  Keterampilan ini berdampak pada komunikasi siswa dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan berbicara siswa dengan menggunakan metode bermain peran. Harapannya, melalui metode pembelajaran ini, siswa dapat memaksimalkan keterampilan berbicaranya sesuai aspek-aspek dalam komunikasi lisan. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian ini adalah 33 siswa kelas I Sekolah Dasar XYZ Gunungsitoli, Nias. Penelitian ini diadakan pada Agustus sampai dengan November 2017. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi guru kelas dan guru sejawat, rubrik keterampilan berbicara, lembar angket siswa, dan jurnal refleksi peneliti. Data yang didapat kemudian diolah secara kualitatif dan kuantitatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa yang meliputi aspek pelafalan (87,87%), nada/intonasi (87,12%), kelancaran (87,87%), dan rasa percaya diri (80,30%). Adapun langkah-langkah metode berperan yang dapat meningkatkan keterampilan berbicara adalah sebagai berikut: 1) menyiapkan skenario, 2) menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai, 3) menyediakan tempat, waktu, dan alat yang akan digunakan, 4) membagi peserta dalam kelompok, 5) menetapkan peran, 6) berlatih bermain peran, 7) melakukan penilaian, dan 8) mengevaluasi.
THE EFFECTS OF AN EFL TEXTBOOK ON LEARNERS’ IDENTITY CONSTRUCTION Neng Priyanti
Polyglot Vol 15, No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v15i2.1661

Abstract

It has been generally accepted that language learning, to some extent, affects identity construction and such a complex relationship has generated a considerable amount of research papers and literature. Few studies, however, have looked into and discussed how teaching media (e.g., language textbooks) contributes to learners’ identity construction particularly in the context of Indonesia. This study attempts to address this gap by analyzing an EFL textbook and then, grafting on several theoretical frameworks, discussing its contribution to the formation of learners’ identity. Its pedagogical implications are also discussed.
PENDIDIKAN TENTANG MULTIKULTURALISME DALAM CERITA PENDEK KARYA PENULIS PRIBUMI AMERIKA [EDUCATING ABOUT MULTICULTURALISM USING A SHORT STORY BY A NATIVE AMERICAN AUTHOR] Lestari Manggong
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.851

Abstract

This paper discusses the contribution that reading a short story written by Native American author Sherman Alexie makes in the multicultural education. The story discussed is “This is What it Means to Say Phoenix, Arizona,” which displays cultural conflicts between Native Americans and Americans within the two main characters. In the discussion, the way such cultural conflicts are presented will be highlighted in terms of representing similar situations which can be reflected by students as individuals with multicultural identities. Cultural perceptions on the story will be discussed using the concept of multiculturalism as proposed by Menand (1995) and Native American literature by Parker (2004). Students’ perceptions on multiculturalism shown in this paper are taken from the students’ papers discussing multiculturalism, which are a required final assignment for the FSIP course.  This paper will then have its proposed final conclusion that in compromising multicultural identities, a strategy of tug and let loose is needed.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Makalah ini membahas tentang kontribusi pembacaan cerita pendek (cerpen) karya penulis pribumi Amerika, Sherman Alexie, dalam pendidikan tentang multikulturalisme bagi mahasiswa di Program Studi Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dalam Mata Kuliah Further Studies in Prose (FSIP). Cerpen yang dibahas berjudul “This is What it Means to Say Phoenix, Arizona,” yang di dalamnya terdapat konflik kultural antara Pribumi Amerika dan Amerika dalam diri dua karakter utamanya. Dalam pembahasan akan diperlihatkan bagaimana konflik kultural tersebut merepresentasi situasi sejenis yang dapat direfleksikan oleh mahasiswa, sebagai individu yang memiliki identitas kultural yang beragam. Pandangan-pandangan kultural yang beragam dalam cerpennya akan dibahas menggunakan konsep multikulturalisme Menand (1995) dan kesusastraan pribumi Amerika oleh Parker (2004). Pandangan-pandangan mahasiswa tentang multikulturalisme yang disampaikan dalam makalah ini bersumber dari makalah mahasiswa, yang merupakan tugas akhir untuk Mata Kuliah FSIP, yang membahas cerpen tersebut. Pembahasan pada makalah ini kemudian akan mengerucut pada suatu pandangan bahwa pada akhirnya diperlukan strategi tarik-ulur dalam upaya mengompromikan keragaman identitas kultural.
METAFUNCTION PATTERNS OF THE TOBA BATAK LANGUAGE Hepnyi Samosir
Polyglot Vol 14, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v14i2.1028

Abstract

This study aims at finding out the metafunction patterns of clauses of the Toba Batak Language. The data was gained from the speech of tulang (the mother’s brother) in delivering ulos saput at the Bataknese sari matua (an old person who died but he/she still has children who are unmarried) ceremony. The result shows that 74% of the clauses are patterned with Predicator, Complement, and Adjunct followed by Mood, whereas 26% of them are patterned with Mood followed by Predicator, Complement, and Adjunct.  The majority of the clause pattern is Predicator followed by Mood.  The most dominant theme is the Marked Topical Theme that reached 73% whereas 26% of them have Unmarked Topical Themes; the rest clause is imperative that has no theme. It can be concluded that  clauses in the Toba Batak Language are dominantly patterned by Predicator followed by Mood. The Mood consists of Finite preceding the Subject.  Residue itself mostly precedes Mood. The most dominant theme is the Marked Topical Theme in which the theme is not the Subject.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola metafunction dalam bahasa Batak Toba.  Data peneltian ini adalah klausa-klausa yang disampaikan oleh tulang (saudara laki-laki dari ibu) ketika menyerahkan ulos saput dalam acara saur matua (orang Batak yang meninggal dalam kondisi sudah lanjut usia akan tetapi masih memiliki anak yang belum menikah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 74% klausa terdiri dari Mood yang  didahului oleh Predicator, Complement dan Adjunct, dan hanya 26% Mood mendahului Predicator, Complement, dan Adjunct.  Kebanyakan klausa dalam bahasa Batak Toba dibentuk dengan pola Predicator yang kemudian diikuti oleh Mood.  Theme yang paling dominan adalah Marked Topical Theme yang mencapai 73% sementara 26% merupakan Unmarked Topical Theme;  selebihnya merupakan kalimat perintah  yang tidak memiliki theme. Dapat disimpulkan bahwa  pola klausa dalam bahasa Batak Toba  adalah Predicator diikuti oleh Mood. Mood terdiri dari Finite yang mendahului Subjek.  Kebanyakan Residue mendahului Mood. Theme yang paling dominan adalah Marked Topical Theme dimana Theme bukan merupakan  Subjek.
IMPLIKASI PENEBUSAN KRISTUS DALAM PENDIDIKAN KRISTEN [THE IMPLICATION OF CHRIST’S REDEMPTION ON CHRISTIAN EDUCATION] Musa Sinar Tarigan
Polyglot Vol 15, No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v15i2.1409

Abstract

The challenge of Christian education today is how to implement biblical principles in the context of education properly to distinguish Christian education from other educational concepts. Christian education will have no true meaning without the work of Christ. This principle is important for answering various educational challenges that are incompatible with biblical truth. The role of Christian education is very important in the effort to implement God's truth in a world of creation that longs for freedom from slavery of sin. That's why Christian education must be holistic, rooted, grow, and bear fruit in Christ. This article aims to show that biblical truth must be the foundation of a holistic Christian education. This article uses literature research by examining the biblical concept of Christ's atonement and its implementation in the practice of Christian education. This research was carried out from 2018 until 2019, and concluded that Christ's atonement has very strong implications in the practice of biblical Christian education in realizing God's love for humans and restoring God's creation to His original purpose.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Tantangan pendidikan Kristen dewasa ini adalah bagaimana mengimplementasikan prinsip Alkitab dalam konteks pendidikan dengan benar untuk membedakan pendidikan Kristen dengan konsep pendidikan lainnya. Pendidikan Kristen tidak akan memiliki makna tanpa karya Kristus. Prinsip ini penting untuk menjawab berbagai tantangan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Peran pendidikan Kristen sangat penting dalam upaya mengimplementasikan kehendak Allah dalam dunia ciptaan yang merindukan kemerdekaan dari perbudakan dosa. Itu sebabnya pendidikan Kristen harus holistis, berakar, bertumbuh, dan berbuah di dalam Kristus. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kebenaran Alkitab harus menjadi landasan pendidikan Kristen yang holistis. Artikel ini menggunakan riset literatur dengan meneliti konsep Alkitab tentang penebusan Kristus dan implementasinya dalam praktek pendidikan Kristen. Riset ini dilaksanakan pada tahun 2018 hingga 2019, dan menyimpulkan bahwa karya penebusan Kristus memiliki implikasi yang sangat kokoh dalam praktek pendidikan Kristen yang alkitabiah dalam mewujudkan kasih Allah kepada manusia dan memulihkan ciptaan Allah kepada tujuan semula.
KNOWLEDGE SHARING BEHAVIOR GURU DITINJAU DARI TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP DAN SELF-EFFICACY [TEACHERS’ KNOWLEDGE SHARING BEHAVIOR FROM TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP AND SELF-EFFICACY’S PERSPECTIVE] Judha Semal Irianto; Niko Sudibjo
Polyglot Vol 15, No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v15i2.1720

Abstract

The changing context of the age and the characteristics of today's generation demand that the role of the teacher be more creative and innovative. A way to answer this need is to cultivate a knowledge sharing behavior in the school environment. There are many factors that can support the establishment of this knowledge sharing behavior, including transformational leadership and self-efficacy. This study aims to determine the effect of transformational leadership and self-efficacy on the knowledge sharing behavior of teachers. The research subjects were 112 teachers who teach in two locations of XYZ Private High School in West Jakarta which have the potential to develop knowledge sharing behavior. The design used in this study was correlational, using surveys to collect the data and then analyze using the PLS-SEM method. The results of this study showed that transformational leadership and self-efficacy affected knowledge sharing behavior positively.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Perubahan konteks zaman dan karakteristik generasi zaman sekarang menuntut peran guru yang semakin kreatif dan inovatif. Salah satu upaya untuk menjawab hal ini adalah dengan membudayakan perilaku knowledge sharing behavior di lingkungan sekolah. Ada banyak faktor yang dapat mendukung terbangunnya perilaku knowledge sharing behavior ini, di antaranya transformational leadership dan self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh transformational leadership dan self-efficacy terhadap knowledge sharing behavior guru. Subjek penelitian adalah 112 guru yang mengajar di dua lokasi Sekolah Menengah Atas Swasta XYZ di Jakarta Barat yang memiliki potensi untuk membangun perilaku knowledge sharing behavior. Desain penelitian bersifat korelational, data diambil berdasarkan survey yang dianalisi dengan metode PLS-SEM. Hasil penelitian yang diperoleh memperlihatkan bahwa transformational leadership dan self-efficacy mempengaruhi knowledge sharing behavior secara positif.

Page 7 of 24 | Total Record : 231