cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
Published by Forum Ilmiah Kesehatan
ISSN : 20863098     EISSN : 25027778     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal of Health Research "Forikes Voice" is a medium for the publication of articles on research and review of the literature. We accept articles in the areas of health such as public health, medicine, nursing, midwifery, nutrition, pharmaceutical, environmental health, health technology, clinical laboratories, health education, and health popular.
Arjuna Subject : -
Articles 1,733 Documents
Peningkatan Pemberian ASI melalui One Cadre One Mom (OCOM) Ayesha Hendriana Ngestiningrum; Nuryani Nuryani
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v14i4.4325

Abstract

Masih terdapat kendala dalam mempraktekkan pemberian ASI eksklusif. Permasalahan seringkali muncul pada awal-awal menyusui. Kurangnya dukungan lingkungan sekitar/masyarakat dapat mempengaruhi ketidakberhasilan menyusui pada awal-awal masa menyusui. Pemberdayaan masyarakat diperlukan untuk meningkatkan ketercapaian pemberian ASI ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendampingi ibu sejak hamil hingga masa menyusui eksklusif. One Cadre One Mom (OCOM) merupakan kegiatan dimana seorang kader mendampingi ibu hamil hingga masa nifasnya selesai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas One Cadre One Mom (OCOM)  dalam meningkatkan pemberian ASI. Penelitian ini merupakan eksperimen semu dengan post-test dan desain kelompok kontrol. Populasinya terdiri dari ibu hamil trimester III normal di wilayah Puskesmas Lembeyan Magetan periode Mei-Septemer 2023 bersedia mengikuti penelitian. Jumlah sampel setiap kelompok adalah 25 orang yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Kelompok intervensi berpartisipasi dalam kegiatan One Cadre One Mom (OCOM) dimana ibu hamil Trimester III didampingi kader, diberikan edukasi mengenai laktasi. Pendampingan ini berlanjut hingga masa nifas selesai.  Pada masa nifas kunjungan 3 kali yaitu pada 3 hari pertama, hari ketujuh dan saat 1 bulan. Kader tidak hanya memberikan edukasi saja tapi juga menajari ibu perawatan payuda dan pijat oksitosin serta memberikan edukasi pada keluarga juga. Untuk kelompok kontrol diberikan perlauan sesuai SOP yang berlaku di Puskesmas Lembeyan. Pemberian ASI diukur dari pemberian ASI saja atau ASI dan sufor selama pendmapingan. . Pemberian ASI eksklusif pada bulan pertama dianalisis dengan menggunakan uji chi - square. Terdapat perbedaan pemberian ASI eksklusif antara kedua kelompok pada bulan pertama dengan nilai signifikansi 0,021. One Cadre One Mom (OCOM) efektif dalam meningkatkan pemberian ASI.kata kunci: kader, menyusui, ASI esklusif
Pelatihan Manajemen Diri Menggunakan Booklet untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi Agustina Boru Gultom; Arbani Batubara
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15220

Abstract

Hypertension is still a global problem, because this disease is one of the causes of premature death due to complications that occur such as heart and nerve disease. This is related to a decrease in the quality of life of patients, especially in hypertensive conditions. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of self-management training using booklets to improve the quality of life of hypertensive patients. This study was a quasi-experimental study with a pretest-posttest with control group design, involving 46 hypertensive patients selected using consecutive sampling techniques. Patients were divided into a control group and a treatment group that were trained in self-management using booklets. Before and after the intervention, quality of life measurements were carried out in both groups. Furthermore, an analysis of changes in quality of life was carried out in both groups, using a paired samples t-test. The results showed that for the treatment group, a p value of 0.001 was obtained, which means that there was a significant difference in quality of life between the phases before and after the intervention; while for the control group a p value of 0.572 was obtained, which means there was no significant difference. Furthermore, it was concluded that self-management training using booklets is effective in improving the quality of life of hypertensive patients.Keywords: self-management training; booklets; quality of life; hypertension ABSTRAK Hipertensi masih menjadi masalah global, karena penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian dini  akibat komplikasi yang terjadi seperti penyakit jantung dan saraf. Hal ini berkaitan dengan penurunan kualitas hidup pasien, terutama dalam kondisi hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektifitas pelatihan manajemen diri menggunakan booklet untuk meningkatkan kualitas hidup pasien hipertensi. Penelitian ini merupakan studi eksperimental kuasi dengan rancangan pretest-posttest with control group, yang melibatkan 46 pasien hipertensi yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Pasien dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok perlakuan yang dilatih manajemen diri menggunakan booklet. Sebelum dan sesudah intervensi, dilakukan pengukuran kualitas hidup pada kedua kelompok. Selanjutnya dilakukan analisis perubahan kualitas hidup pada kedua kelompok, menggunakan paired samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kelompok perlakuan, didapatkan nilai p = 0,001, yang berarti ada perbedaan kualitas hidup secara signifikan antara fase sebelum dan sesudah intervensi; sedangkan untuk kelompok kontrol didapatkan nilai p = 0,572, yang berarti tak ada perbedaan secara signifikan. Selanjutnya disimpulkan bahwa pelatihan manajemen diri menggunakan booklet efekiif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien hipertensi.Kata kunci:  pelatihan manajemen diri; booklet; kualitas hidup; hipertensi
Risk Behavior Assessment Jemaah Makassar dalam Pencegahan Travel Disease Saat Umroh Harpiana Rahman; Rizki Aulia Yusuf; Septiyanti Septiyanti
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15nk118

Abstract

Qualitative study through interviews with congregants from Makassar who had symptoms of illness such as sore throat, fever, cough, flu, and congregants who did not have symptoms of illness admitted that they were not intensive in using masks even though they were in a crowd of congregants. Healthy behavior is an important and effective practice that the congregation can carry out in controlling travel disease pathogens when performing the Umrah pilgrimage. So research is needed that aims to examine the behavior of tourists or Umrah pilgrims during their pilgrimage and assess behavior at risk of contracting travel disease. This research was conducted using quantitative methods. The research subjects were 66 respondents who had just returned from the Umrah pilgrimage, who were selected using a simple random sampling technique. Measurement of risk behavior was measured using the Preventive Measures for Hajj-Associated Health Risks instrument with modifications. Data were analyzed using descriptive statistical methods. The results showed that high level risk behavior = 32.4%, medium level = 64.7% and low level = 2.9%. It was concluded that the majority of Umrah pilgrims behaved at a moderate level of risk.Keywords: risk behavior; Umrah congregation; travel sickness ABSTRAK Studi kualitatif melalui wawancara dengan jemaah dari Makassar yang mendapatkan gejala penyakit seperti sakit tenggorokan, demam, batuk, flu, dan kepada jemaah  yang tidak mendapatkan gejala sakit mengakui tidak intens dalam menggunakan masker meski berada dalam kerumunan jemaah. Perilaku sehat menjadi amalan penting dan efektif yang bisa dilakukan jemaah dalam mengendalikan patogen travel disease saat melakukan ibadah umroh. Sehingga diperlukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji perilaku wisatawan atau jemaah umroh selama melaksanakan ibadah dan menilai perilaku beresiko tertular travel disease. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif. Subyek penelitian adalah 66 responden yang baru saja pulang dari ibadah umroh, yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Pengukuran perilaku beresiko diukur dengan instrumen Preventive Measures for Hajj-Associated Health Risks dengan modifikasi. Data dianalisis dengan metode statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku berisiko tingkat tinggi = 32,4%, tingkat sedang = 64,7% dan tingkat rendah = 2,9%. Disimpulkan bahwa sebagian besar jemaah umroh berperilaku berisiko dalam tingkat sedang.Kata kunci: perilaku berisiko; jemaah umroh; travel disease
Intervensi Komplementer Sujok Warna untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan Pasien dengan Infark Miokard Akut Agni Jayanti; Mardiyono Mardiyono; Sudirman Sudirman; Suharyo Hadisaputro; Ta'adi Ta'adi
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15327

Abstract

Research on complementary intervention Sujok Warna is important to reduce anxiety levels in patients with acute myocardial infarction in the Intensive Care Unit, because this method has the potential to support medical treatment with a holistic and non-invasive approach. Acute myocardial infarction is one manifestation of coronary heart disease. In addition to pain, patients with also experience high anxiety due to their illness. Complementary intervention Sujok Warna is an alternative that can be used to assist primary therapy in the healing process. The purpose of this study was to prove the effectiveness of complementary intervention Sujok Warna on anxiety levels in patients with acute myocardial infarction in the Intensive Care Unit. The design of this study was a randomized pretest-posttest with control group, involving 30 patients with acute myocardial infarction selected using stratified random sampling techniques. The sample was divided into intervention and control groups. Complementary intervention Sujok Warna was given once every 12 hours, 24 hours, 36 hours, and 48 hours since the patient was admitted. Data were analyzed using repeated measurement ANOVA and independent samples t-test. The results showed that the intervention group that received Sujok Warna therapy accompanied by pain medication experienced a more significant decrease in anxiety compared to the control group that only received pain medication therapy, with an average decrease in anxiety of 2.10 points in the intervention group and 1.03 points in the control group, with a p value = 0.000. In addition, the results of repeated measurement ANOVA showed a significant difference in the decrease in anxiety between the two groups at various measurement times, especially at the final measurement after 48 hours. Furthermore, it was concluded that the complementary intervention of Sujok Warna was effective in reducing anxiety in patients with acute myocardial infarction in the Intensive Care Unit.Keywords: acute myocardial infarction; anxiety; Sujok Warna; complementary therapy ABSTRAK Penelitian tentang intervensi komplementer Sujok Warna penting dilakukan untuk menurunkan tingkat kecemasan pada pasien dengan infark miokard akut di Intensive Care Unit, karena metode ini berpotensi mendukung penanganan medis dengan pendekatan holistik dan non-invasif. Infark miokard akut merupakan salah satu manifestasi dari penyakit jantung koroner. Selain nyeri, pasien dengan juga mengalami kecemasan yang tinggi karena penyakitnya. Intervensi komplementer Sujok Warna merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk membantu terapi utama dalam proses penyembuhan. Tujuan penelitian adalah untuk membuktikan efektifitas intervensi komplementer Sujok Warna terhadap tingkat kecemasan pada pasien dengan infark miokard akut di Intensive Care Unit. Desan penelitian ini adalah randomized pretest-posttest with control group, yang melibatkan 30 pasien dengan infark miokard akut yang dipilih dengan teknik stratified random sampling. Sampel dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Intervensi komplementer Sujok Warna diberikan sekali pada setiap waktu 12 jam, 24 jam, 36 jam, dan 48 jam sejak pasien dirawat. Data dianalisis menggunakan repeated measurement ANOVA dan independent samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi yang menerima terapi Sujok Warna disertai obat nyeri mengalami penurunan kecemasan yang lebih signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya menerima terapi obat nyeri, dengan rerata penurunan kecemasan sebesar 2,10 poin pada kelompok intervensi dan 1,03 poin pada kelompok kontrol, dengan nilai p = 0,000. Selain itu, hasil repeated measurement ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam penurunan kecemasan di antara kedua kelompok pada berbagai waktu pengukuran, terutama pada pengukuran akhir setelah 48 jam. Selanjutnya disimpulkan bahwa intervensi komplementer Sujok Warna efektif untuk menurunkan kecemasan pasien dengan infark miokard akut di Intensive Care Unit.Kata kunci: infark miokard akut; kecemasan; Sujok Warna; terapi komplementer
Analisis Pengaruh Model ACHIEVE pada Kinerja Pegawai di Puskesmas Bojonegoro Ferrina, Lucy; Sillehu, Sahrir; Damayanti, Nyoman Anita
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 1 (2024): Januari-Maret 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15110

Abstract

In an effort to improve performance achievements, organizations need to analyze factors that influence performance so that they can determine effective strategies. One theory of performance factors that can be used is the ACHIEVE model, which stands for ability, clarity, help, incentive, evaluation, validity and environment. This study aimed to analyze the ACHIEVE factor on the performance of Bojonegoro Community Health Center employees. This research design was cross-sectional, involving 27 employees selected using total sampling technique. Data collection was carried out using a questionnaire in the form of a Google form. Descriptive data analysis was carried out to get an overview of each variable and multiple linear regression tests to test the significance of the influence of each factor. The results of the analysis showed that ability, clarity, help and validity have a p value <0.05; while incentive, evaluation and environment have a p value >0.05. It was concluded that employee performance at the Bojonegoro Community Health Center was influenced by the factors of ability, clarity, help and validity.Keywords: health center; employee; performance; abilities; clarity; help; incentives, evaluation; validity; environment ABSTRAK Dalam upaya meningkatkan capaian kinerja, organisasi perlu melakukan analisis faktor yang berpengaruh terhadap kinerja sehingga dapat menentukan strategi yang efektif. Salah satu teori faktor kinerja yang dapat digunakan adalah model ACHIEVE yaitu singkatan dari ability, clarity, help, incentive, evaluation, validity, dan environment. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor ACHIEVE pada kinerja pegawai Puskesmas Bojonegoro. Rancangan penelitian ini adalah cross-sectional, yang melibatkan 27 pegawai yang dipilih dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dalam bentuk Google form. Analisis data secara deskriptif dilakukan untuk mendapatkan gambaran masing-masing variabel dan uji regresi linier berganda untuk menguji signifikansi pengaruh dari masing-masing faktor. Hasil analisis menunjukkan bahwa ability, clarity, help dan validity memiliki nilai p <0,05; sedangkan incentive, evaluation dan environment memiliki nilai p >0,05. Disimpulkan bahwa kinerja pegawai di Puskesmas Bojonegoro dipengaruhi oleh faktor ability, clarity, help dan validity.Kata kunci: puskesmas; pegawai; kinerja; ability; clarity; help; incentive, evaluation; validity; environment
Komorbid, Usia, dan Jenis Fraktur Ekstremitas Bawah Berhubungan dengan Lama Rawat Inap pada Pasien Post Open Reduction Internal Fixation (ORIF) Aida Nuriyanti Putri; Rudi Hamarno; Tri Johan Agus Agus Yuswanto
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf14403

Abstract

Fractures of the lower extremities are often associated with morbidity that can lead to prolonged hospital stays. Fractures can affect activity resistance and impaired mobility so that the wound healing process is prolonged. The aim of this study was to determine the relationship between comorbidities, age, location and type of lower extremity fracture with length of stay in post-ORIF patients. The research method was carried out with a retrospective design involving 73 patients selected using a purposive sampling technique. The collected data was then analyzed using the Spearman Rank and Chi-square correlation tests. The p value of the Spearman Rank test between comorbidities and length of stay for post-ORIF patients is 0.000. The p value of the Spearman Rank test between age and length of stay in post-ORIF patients is 0.000. The p value of the Chi-square test between the fracture location and the patient's length of stay after ORIF was 0.972. The p value of the Chi-square test between the type of fracture and the length of stay for post-ORIF patients was 0.031. It was concluded that there was a relationship between comorbidities, age, and type of fracture and length of stay in post-ORIF patients.Keywords: comorbid; age; fracture location; fracture type; length of hospitalization; post ORIF ABSTRAK Fraktur pada ekstremitas bawah sering dikaitkan dengan morbiditas yang dapat menyebabkan lama rawat inap di rumah sakit memanjang. Fraktur dapat mempengaruhi resistensi aktivitas dan gangguan mobilisasi sehingga proses penyembuhan luka memanjang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara komorbid, usia, lokasi, dan jenis fraktur ekstremitas bawah dengan lama rawat inap pada pasien post ORIF. Metode penelitian dilaksanakan dengan rancangan restrospektif yang melibatkan 73 pasien yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis dengan uji korelasi Spearman Rank dan Chi-square. Nilai p uji Spearman Rank antara komorbid dengan lama rawat inap pasien post ORIF adalah 0,000. Nilai p uji Spearman Rank antara usia dengan lama rawat inap pasien post ORIF adalah 0,000. Nilai p uji Chi-square antara lokasi fraktur dengan lama rawat inap pasien post ORIF adalah 0,972. Nilai p uji Chi-square antara jenis fraktur dengan lama rawat inap pasien post ORIF adalah 0,031. Disimpulkan bahwa ada hubungan antara komorbid, usia, dan jenis fraktur dengan lama rawat pada pasien post ORIF.Kata kunci: komorbid; usia; lokasi fraktur; jenis fraktur; lama rawat inap; post ORIF
Stunting sebagai Prioritas Masalah Kesehatan Bayi dan Balita di Provinsi Maluku Joina Stella Ruhulessin; Ascobat Gani; Sahrir Sillehu
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15209

Abstract

Health during infancy and toddlerhood can contribute to the physical and mental health that will be felt when a person becomes an adult. Therefore, prioritizing improving the quality of life of infants and toddlers is an important factor in achieving empowered human development in the future. This research aimed to describe health problems in infants and toddlers, determine priority problems and analyze the causes of these priority problems. This research was descriptive research with an assessment method. The data sources used were primary data in the form of in-depth interviews to determine problem priorities and secondary data from various sources, namely health profile reports, health program reports, Regional Medium Term Development Plan documents, Indonesian Nutrition Status Survey data, National Socioeconomic Survey and Susenas Module. Culture and Education. Determining problem priorities was carried out using the Pan American Health Organization method, while assessing the causes of problems uses the World Health Organization framework. The results of the research showed that there were 8 (eight) health problems in infants under five in sequence, namely: stunting, tuberculosis, neonatal death, diarrhea, wasting, infant death, low birth weight, and pneumonia. Furthermore, it was concluded that stunting was the main priority health problem for infants and toddlers in Maluku Province.Keywords: infant and toddler health; priority issues; stunting ABSTRAK Kesehatan pada masa bayi dan balita dapat berkontribusi terhadap kesehatan fisik dan mental yang akan dirasakan ketika seseorang sudah menjadi dewasa. Oleh karena itu, prioritas untuk meningkatkan kualitas hidup bayi dan balita merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai pembangunan manusia yang berdaya di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan masalah kesehatan pada bayi dan balita, menentukan prioritas masalah serta menganalisis penyebab masalah prioritas tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode assesment. Sumber data yang digunakan adalah data primer berupa hasil wawancara mendalam untuk penentuan prioritas masalah dan data sekunder dari berbagai sumber yaitu laporan profil kesehatan, laporan program kesehatan, dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah, data Survei Status Gizi Indonesia, Survei Sosial Ekonomi Nasional dan Susenas Modul Budaya dan Pendidikan. Penentuan prioritas masalah dilakukan menggunakan metode Pan American Helath Organization, sedangkan penilaian penyebab masalah menggunakan kerangka kerja World Health Organization. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 8 (delapan) masalah kesehatan pada bayi  balita secara beurutan yaitu: stunting, tuberkulosis, kematian neonatal, diare, wasting, kematian bayi, berat badan lahir rendah, dan pneumonia. Selanjutnya disimpulkan bahwa stunting merupakan prioritas utama masalah kesehatan bayi dan balita di Provinsi Maluku.    Kata kunci: kesehatan bayi dan balita; masalah prioritas; stunting
Static Stretching, Dynamic Stretching dan Self Mulligan Mobilization untuk Meningkatkan ROM Sendi Leher Faisal Isra Maulana; Indasah Indasah; Novita Anna
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15338

Abstract

Self mulligan mobilization is a special technique for the spine to increase range of motion and reduce pain by correcting positional errors that occur in the spinal joints. Static stretching is a technique that is useful for increasing flexibility, preventing injury, improving performance, reducing the risk of injury in runners and accelerating muscle recovery. Dynamic stretching is used before doing sports activities because it is effective in increasing muscle strength before exercising. This study aimed to analyze the effectiveness of the combination of static stretching and self mulligan mobilization; and the combination of dynamic stretching and self mulligan mobilization to increase the range of motion of the neck joints. The research design used in this study was pretest and post test with control group. This study involved 27 administrative employees, who were then divided into 3 groups, namely: 1) a combination of static stretching and self mulligan mobilization, 2) a combination of dynamic stretching and self mulligan mobilization, 3) a control group. In each group, range of motion measurements were carried out in the form of a cervical spine functional test using a goniometer, both in the phases before and after the intervention. Furthermore, a paired samples t-test and Anova test were carried out. The results of the analysis showed that in the six types of range of motion, there was a significant change after the intervention (p value = 0.000), except for the control group. In the six types of range of motion, the p value for the comparison test between the three groups was 0.000, so it was concluded that there was a difference between the three groups. Based on the post hoc test, the first and second treatment groups produced better range of motion. It was concluded that the combination of static stretching and self mulligan mobilization and the combination of dynamic stretching and self mulligan mobilization were effective in increasing the range of motion of the neck joint.Keywords: neck joint; range of motion; static stretching; dynamic stretching; selfmulligan mobilization ABSTRAK Self mulligan mobilization adalah teknik khusus bagi tulang belakang untuk meningkatkan range of motion dan mengurangi nyeri dengan cara mengoreksi kesalahan posisi yang terjadi pada sendi tulang belakang. Static stretching merupakan teknik yang bermanfaat untuk meningkatkan fleksibilitas, mencegah cedera, meningkatkan performa, menurunkan resiko cedera pada pelari dan mempercepat pemulihan otot. Dynamic stretching digunkan sebelum melakukan aktivitas olahraga karna efektif dalam meningkatkan kekuatan otot saat sebelum berolahraga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kombinasi static stretching dan self mulligan mobilization; serta kombinasi dynamic stretching dan self mulligan mobilization untuk meningkatkan range of motion sendi leher. Desain penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah pretest and post test with control group. Penelitian ini melibatkan 27 karyawan administrasi, yang selanjutnya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: 1) kombinasi static stretching dan self mulligan mobilization, 2) kombinasi dynamic stretching dan self mulligan mobilization, 3) kelompok kontrol. Pada setiap setiap kelompok dilakukan pengukuran range of motion berupa cervical spine functional test dengan menggunakan goniometer, baik pada fase sebelum dan sesudah intervensi. Selanjutnya dilakukan paired samples t-test dan Anova. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada keenam macam range of motion, terjadi perubahan signifikan setelah dilakukan intervensi (nilai p = 0,000), kecuali kelompok kontrol. Pada keenam macam range of motion, nilai p untuk uji perbandingan antara ketiga kelompok adalah 0,000, sehingga disimpulkan bahwa ada perbedaan di antara ketiga kelompok. Berdasarkan uji post hoc, kelompok perlakuan pertama dan kedua menghasil range of motion yang lebih baik. Disimpulkan bahwa kombinasi static stretching dan self mulligan mobilization dan kombinasi dynamic stretching dan self mulligan mobilization efektif untuk meningkatkan range of motion sendi leher.Kata kunci: sendi leher; range of motion; static strethcing; dynamic stretching; selfmulligan mobilization
Jarum Suntik Terbalik sebagai Teknik Paling Populer untuk Mengatasi Nipple Inverted pada Ibu Menyusui Dwi Suryanti Wahyuningsih; Marsum Marsum; Melyana Nurul Widyawati
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15238

Abstract

Nipple inverted is a condition when the nipple is sunken inward, which makes it difficult for the baby to breastfeed, so innovation is needed that can help mothers to continue breastfeeding. Thus, a study is needed that aims to identify effective and innovative techniques to treat nipple inverted in breastfeeding mothers. This study applied a systematic review with the PICO strategy including: population was breastfeeding mothers; intervention was the reverse needle technique; comparison was none; outcome was nipple protruding. The database used in this study was Google Scholar. Inclusion criteria were full-text articles, Indonesian or English articles, breastfeeding mothers with nipple inverted as research subjects; while the exclusion criteria were articles published more than 10 years ago. This study obtained 8 articles and the results of the synthesis of the eight literatures showed several efforts that can be made to manage nipple inverted including vacuum therapy, injection syringe modification, reverse needle injection technique, breast care, pulling the nipple using the thumb, index finger and nipple retractor method made from the hollow end of a disposable syringe, continuous traction, and surgical treatments. It was concluded that the most widely used method for the effective management of nipple inverted is the reverse syringe technique.Keywords: nipple inverted; breastfeeding mothers; reverse syringe technique ABSTRAK Nipple inverted adalah kondisi ketika puting susu cekung ke dalam, yang membuat bayi sulit untuk menyusu, sehingga dibutuhkan inovasi yang dapat membantu ibu untuk tetap bisa menyusui. Dengan demikian diperlukan studi yang bertujuan untuk mengidentifikasi teknik-teknik yang efektif dan inovatif untuk menangani nipple inverted i\pada ibu menyusui. Studi ini menerapkan tinjauan sistematis dengan strategi PICO meliputi: population adalah ibu menyusui; intervention adalah teknik jarum terbalik; comparation adalah tidak ada; outcome puting menonjol. Database yang digunakan dalam studi ini adalah Google Scholar. Kriteria inklusi meliputi artikel teks penuh, artikel Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, ibu menyusui dengan nipple inverted sebagai subyek penelitian; sementara itu kriteria eksklusi adalah artikel publikasi lebih dari 10 tahun terakhir. Studi ini mendapatkan 8 artikel dan hasil sintesis dari kedelapan literatur tersebut menunjukkan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk penatalaksanaan nipple inverted antara lain terapi vakum, modifikasi spuit injeksi, teknik jarum suntik terbalik, perawatan payudara, menarik puting susu menggunakan ibu jari, telunjuk dan metode retraktor puting dibuat dari ujung berongga jarum suntik sekali pakai, traksi kontinyu, dan surgical treatments. Disimpulkan bahwa metode yang paling banyak digunakan untuk penatalakasaan nipple inverted  secara efektif adalah teknik jarum suntik terbalik.Kata kunci: nipple inverted; ibu menyusui; teknik jarum suntik terbalik
Faktor Risiko Penyakit Tuberkulosis Paru (Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukomoro Kecamatan Sukomoro Kabupaten Magetan Tahun 2022) Wahyu Annas Prima; Vincentius Supriyono; Sujangi Sujangi; Aries Prasetyo
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v14i3.3643

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh basil atau Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh basil atau kuman Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2020 estimasi insiden di Indonesia sebesar 845.000 kasus atau 312 per 100.000 penduduk. Berlandaskan data penyakit tuberkulosis paru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan bahwa Kecamatan Sukomoro memiliki jumlah kasus TB Paru yang mengalami kenaikan dengan melihat data 1 tahun 6 bulan terakhir. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui hubungan faktor risiko penyakit tuberkulosis paru di lingkungan kerja Puskesmas Sukomoro Kabupaten Magetan tahun 2022. Penelitian ini berjenis analitik observasional expost facto dengan pendekatan case control. Sampel penelitian ini memakai metode fixed disease sampling, yaitu kriteria kasus ialah penderita tuberkulosis paru di lingkungan kerja Puskesmas Sukomoro. Total sampel pada penelitian ini yaitu 196 partisipan yang terdiri dari 98 kasus dan 98 kontrol. Hasil uji Chi-Square menunjukkan faktor risiko penyakit TB Paru yaitu kondisi cahaya matahari (p = 0,010 , OR = 2,469 , r = 0,195 , R2 = 3,8% ), kepadatan hunian  (p = 0,038 , OR = 2,213 , r = 0,160 , R2 = 2,6%), ventilasi rumah (p = 0,019 , OR = 2,371 , r = 0,179 , R2 = 3,2%), tingkat Pendidikan (p = 0,005 , r = 0,171 , R2 = 2,9%), dan peran tenaga kesehatan (p = 0,886 , OR = 0,921 , r = 0,072 , R2 = 0,5%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah hubungan faktor risiko penyakit TB Paru yaitu kondisi cahaya matahari (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 3,8%), kepadatan hunian (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 2,6%), ventilasi rumah (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 3,2%), tingkat pendidikan (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 2,9%), dan peran tenaga kesehatan (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 0,5%), serta pemodelan yang paling tepat yaitu model tiga. Saran bagi penderita tuberkulosis paru ialah melakukan pola hidup bersih dan sehat agar mengurangi angka kejadian penyakit tuberkulosis paru.Kata kunci: penyakit tuberkulosis paru

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 1 (2026): January 2026 (up coming) Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025 Vol 16, No 3 (2025): Juli-September 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 (up coming) Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025 Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024 Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024 Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024 Vol 15, No 1 (2024): Januari-Maret 2024 2024 Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023 Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023 Vol 14, No 2 (2023): April 2023 Vol 14, No 1 (2023): Januari 2023 2023 Vol 13, No 4 (2022): Oktober 2022 Vol 13, No 3 (2022): Juli 2022 Vol 13, No 2 (2022): April 2022 Vol 13, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Februari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Januari 2021 2022 Vol 12, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 12, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 12, No 2 (2021): April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus Januari 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus November 2021 Vol 12, No 1 (2021): Januari Vol 11, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 11, No 2 (2020): April 2020 Vol 11, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Januari-Februari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Mei-Juni 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Maret-April 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus November-Desember 2020 Vol 11, No 4 (2020): Oktober Vol 10, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 10, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 9, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 9, No 3 (2018): Juli 2018 Vol 9, No 2 (2018): April 2018 Vol 9, No 1 (2018): Januari 2018 Vol 8, No 4 (2017): Oktober 2017 Vol 8, No 3 (2017): Juli 2017 Vol 8, No 2 (2017): April 2017 Vol 8, No 1 (2017): Januari 2017 Vol 7, No 4 (2016): Oktober 2016 Vol 7, No 3 (2016): Juli 2016 Vol 7, No 2 (2016): April 2016 Vol 7, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 6 (2015): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional 2010: Template More Issue