cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
Published by Forum Ilmiah Kesehatan
ISSN : 20863098     EISSN : 25027778     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal of Health Research "Forikes Voice" is a medium for the publication of articles on research and review of the literature. We accept articles in the areas of health such as public health, medicine, nursing, midwifery, nutrition, pharmaceutical, environmental health, health technology, clinical laboratories, health education, and health popular.
Arjuna Subject : -
Articles 1,733 Documents
Faktor Penyebab Ketidaklengkapan Pengisian Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Rumah Sakit Azis, Anisya; Alfiansyah, Gamasiano; Wijayanti, Rossalina Adi; Selviyanti, Erna
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v13i0.2177

Abstract

The standard for completing medical record documents is 100%, but in some hospitals it is still common to find incomplete filling of medical record documents. So a study is needed that aims to analyze the factors that cause incomplete filling of medical record documents for inpatients at the hospital by using the 5M management elements, namely Man, Materials, Method, Machine, and Money. This study is a literature review of 14 articles obtained from Google Scholar, Garuda, and Crossref. Of the 14 articles reviewed, the causes of incomplete filling in medical record documents for inpatients at the hospital are the lack of discipline of doctors in completing medical records, lack of facilities and infrastructure to support medical record filling, lack of socialization regarding filling out medical record documents, lack of reward and punishment, and limited funds.Keywords: incompleteness; medical records; inpatient; hospital ABSTRAK Standar kelengkapan pengisian dokumen rekam medis adalah 100%, namun pada di beberapa rumah sakit masih sering ditemukan ketidaklengkapan pengisian dokumen rekam medis. Maka diperlukan studi yang bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab ketidaklengkapan pengisian dokumen rekam medis pasien rawat inap di rumah sakit dengan menggunakan unsur manajemen 5M, yaitu Man, Materials, Method, Machine, dan Money. Studi ini merupakan literature review terhadap 14 artikel yang didapatkan dari Google Scholar, Garuda, dan Crossref. Dari 14 artikel yang ditelaah, penyebab ketidaklengkapan pengisian dokumen rekam medis pasien rawat inap di rumah sakit adalah kurangnya kedisiplinan dokter dalam melengkapi rekam medis, kurangnya sarana dan prasarana pendukung pengisian rekam medis, kurangnya sosialisasi mengenai pengisian dokumen rekam medis, belum adanya reward dan punishment, dan terbatasnya dana.Kata kunci: ketidaklengkapan; rekam medis; rawat inap; rumah sakit
Peningkatan Pencegahan Catheter Associated Urinary Tractus Infection Melalui Penerapan Hasil Pengembangan Bundle CAUTI Berbasis Proses Keperawatan Waluyo Waluyo; Kusnanto Kusnanto; Yanis Kartini
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13nk334

Abstract

CAUTI can be prevented by implementing proven evidence-based practices such as the CAUTI bundle. The research objective was to develop a nursing process-based CAUTI bundle for CAUTI prevention. The research design is a mixed method. The first stage was the observation of 50 nurses carrying out the CAUTI bundle on 53 patients for 1 month. Data were analyzed descriptively, continued with literature studies, conducted FGDs with 31 participants, consulted with 7 experts, compiled the nursing process-based CAUTI module bundle, and compiled the CAUTI SPO bundle. The second stage was a module trial with a one-group pre-post test design, which involved 51 nurses and 116 patients who had urinary catheters attached. Data were analyzed using the Wilcoxon signed rank test. The results of phase 1 research showed that the implementation of the CAUTI bundle before development was included in the sufficient category at 63.24%. The results of the second phase of the study, namely the implementation of the CAUTI bundle as a result of the development before socialization, were included in the sufficient category (60.12%), and after socialization, it was included in the good category (78.71%). The results of the development module trial showed a significant difference between before and after treatment with a p = 0.000. Each component of the CAUTI bundle is explained briefly about the concept, proper assessment, problems encountered, action plans, efforts to improve compliance, how to ensure the right actions are taken and how to take the right actions. The implementation of the CAUTI bundle as a result of this development involves nurses, PPI committee and management.Keywords: CAUTI bundles; nursing process; CAUTI prevention ABSTRAK CAUTI dapat dicegah dengan menerapkan praktik berbasis bukti yang sudah teruji seperti bundle CAUTI. Tujuan penelitian adalah mengembangkan bundle CAUTI berbasis proses keperawatan terhadap pencegahan CAUTI. Desain penelitian ini adalah mixed method. Tahap pertama adalah observasi 50 perawat dalam melaksanakan bundle CAUTI  pada 53 pasien selama 1 bulan.  Data dianalisis secara deskriptif, dilanjutkan studi literatur, melaksanakan FGD dengan 31 partisipan, konsultasi dengan 7 pakar, menyusun modul bundle CAUTI berbasis proses keperawatan, dan menyusun SPO bundle CAUTI. Tahap kedua adalah uji coba modul dengan rancangan one-group pre-post test design, yang melibatkan 51 perawat dan 116 pasien yang terpasang kateter urin. Data dianalisis menggunakan Wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian tahap 1 menunjukkan bahwa pelaksanaan bundle CAUTI sebelum pengembangan termasuk dalam kategori cukup 63,24%. Hasil penelitian tahap kedua yaitu pelaksanaan bundle CAUTI hasil pengembangan sebelum sosialisasi termasuk dalam kategori cukup (60,12%), dan sesudah sosialisasi termasuk dalam kategori baik (78,71%). Hasil uji coba modul hasil pengembangan menunjukkan perbedaan yang signifikan antara sebelum dengan setelah perlakuan dengan nilai p = 0,000. Setiap komponen bundle CAUTI dijelaskan tentang konsep secara singkat, pengkajian yang tepat, masalah yang dihadapi, rencana tindakan, upaya meningkatkan kepatuhan, cara memastikan tindakan yang tepat tetap dilakukan dan bagaimana cara melakukan tindakan yang tepat. Pelaksanaan bundle CAUTI hasil pengembangan ini melibatkan perawat, komite PPI dan pihak manajemen.Kata kunci: bundle CAUTI; proses keperawatan; pencegahan CAUTI
Kombinasi Infrared dan William Flexion Exercise Efektif Menurunkan Nyeri dan Meningkakan Fleksibilitas Otot Pada Kasus Low Back Pain Miogenik Nurul Halimah; Angria Pradita; Mokhtar Jamil
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 13, No 4 (2022): Oktober 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v13i4.2663

Abstract

Low back pain is a contemporary neurophysiological pain that distorts pain perception and causes limitation of physical activity. So research is needed which aims to determine the effect of a combination of infrared and William flexion exercises on changes in pain intensity and muscle flexibility. The research design was one group pretest–posttest, involving 40 patients with low back pain who were selected using a purposive sampling technique. The intervention given was physiotherapy in the form of infrared combined with William flexion exercises for a month. Pain level was measured using a visual analogue scale (VAS) and Modified Schober Test (MST) which were measured before and after 8 times of physiotherapy. The hypothesis was tested with the Wilcoxon test. The median VAS value before the intervention was 6.00 and after the intervention was 2.00 with a p value of 0.00. The median MST value pre-intervention was 18.00 and post-intervention was 25.00 with a p-value of 0.00. It was concluded that the combination of infrared and william flexion exercise can reduce pain and increase muscle flexibility in cases of myogenic low back pain.Keywords: low back pain; infrared; William flexion exercise ABSTRAK Low back pain merupakan nyeri neurofisiologis kontemporer yang mendistorsi persepsi nyeri dan menyebabkan keterbatasn aktivitas fisik. Maka diperlukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi infrared dan latihan William flexion terhadap perubahan intensitas nyeri dan fleksibilitas otot. Rancangan penelitian ini one group pretest–posttest, yang melibatkan 40 penderita low back pain yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Intervensi yang diberikan adalah fisioterapi berupa infrared yang dikombinasikan dengan latihan William flexion selama sebulan. Tingkat nyeri diukur menggunakan visual analogue scale (VAS) dan Modified Schober Test (MST) yang diukur sebelum dan setelah 8 kali fisioterapi. Hipotesis diuji dengan Wilcoxon test.  Nilai VAS median pra intervensi adalah 6,00 dan pasca intervensi adalah 2,00 dengan nilai p 0,00. Nilai median MST pra intervensi adalah 18,00 dan pasca intervensi adalah 25,00 dengan nilai p 0,00. Disimpulkan bahwa kombinasi infrared dan william flexion exercise dapat menurunkan nyeri dan meningkatkan fleksibilitas otot pada kasus low back pain miogenik.Kata kunci: low back pain; infrared; William flexion exercise
Mutu Pengelolaan Obat di Puskesmas Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat Almahera Almahera; Titik Sunarni; Ika Purwidyaningrum
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13nk320

Abstract

The community health center is one of the basic health service facilities that is responsible for organizing public health efforts, but in practice it is still constrained in realizing standardized pharmaceutical services. So research is needed that aims to determine the quality of drug administration. This descriptive research was conducted in thirteen community health centers in Central Lombok District. Data taken from primary and secondary sources. There were 28 indicators of drug management and 9 indicators had met predetermined standards. Required item accuracy = 195.40%, item suitability with disease pattern = 76.56%, planning accuracy = 230.26%, psychotropic storage = 85.71%, precursor storage = 66.67%, OOT = 50%, high -alert = 82.36% and drug availability rate = 28.67%. It was concluded that the drug management indicators at the Central Lombok District Health Center did not meet the established standards and improvements needed to be made starting from the planning stage to the control stage.Keywords: community health center; drug management; quality ABSTRAK Pusat kesehatan masyarakat merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, tetapi dalam pelaksanaanya masih terkendala dalam mewujudkan pelayanan kefarmasian yang terstandar. Maka diperlukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui mutu pengelolaan obat. Penelitian deskriptif ini dilakukan di tiga belas puskesmas di Kabupaten Lombok Tengah. Data diambil dari sumber primer dan sekunder. Ada 28 indikator pengelolaan obat dan 9 indikator sudah memenuhi standar yang telah ditentukan. Ketepatan item permintaan = 195,40%, kesesuaian item dengan pola penyakit = 76,56%, ketepatan perencanaan = 230,26%, penyimpanan psikotropik = 85,71%, penyimpanan prekursor = 66,67%, OOT = 50%, high-alert = 82,36% dan tingkat ketersediaan obat = 28,67%. Disimpulkan bahwa indikator pengelolaan obat di puskesmas Kabupaten Lombok Tengah belum memenuhi standar yang telah ditetapkan dan perlu dilakukan perbaikan mulai dari tahapan perencanaan sampai dengan pengendalian.Kata kunci: pusat kesehatan masyarakat; pengelolaan obat; mutu
Penerapan Manajemen Risiko di Ruang Filing Rumah Sakit Almira Kusumaningrum; Maya Weka Santi; Indah Muflihatin; Sabran Sabran
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v0i0.2379

Abstract

Risk management is important to prevent and avoid occupational health and safety hazards, so a study is needed to analyze the application of management in the filing room. This study is a literature review. The results of the study show that 3 articles (17.6%) have implemented and have safety risk management procedures; 11 articles (64.7%) have implemented it but it is still not optimal, and 3 articles (17.6%) have not implemented it and there are no procedures. The cause of the risk that most often occurs in the filing room is the ergonomic factor, which is 41.17%. The risk that often occurs in the filing room is respiratory problems (52.94%) which is included in the moderate risk level. The highest risk control is requiring officers to use personal protective equipment (52.94%). It was concluded that most hospitals have implemented risk management but it is not optimal, ergonomics is the main cause, respiratory disorders are the main risk.Keywords: risk management; occupational health and safety; filing room ABSTRAK Manajemen risiko penting untuk mencegah dan menghindari risiko bahaya kesehatan dan keselamatan kerja, sehingga diperlukan studi untuk menganalisis penerapan manajemen di ruang filing. Studi ini merupakan literature review. Hasil studi menunjukkan bahwa 3 artikel (17,6%) sudah menerapkan dan ada prosedur manajemen risiko keselamatan; 11 artikel (64,7%) sudah menerapkan namun masih belum optimal, dan 3 artikel (17,6%) belum menerapkan dan belum ada prosedur. Penyebab risiko yang paling sering terjadi di ruang filing adalah faktor ergonomi yaitu 41,17%. Risiko yang sering terjadi di ruang filing adalah gangguan pernapasan (52,94%) yang termasuk dalam tingkat risiko moderate. Pengendalian risiko tertinggi yaitu mewajibkan petugas menggunaan alat pelindung diri (52,94%). Disimpulkan bahwa sebagian besar rumah sakit sudah menerapkan manajemen risiko namun belum optimal, ergonomi merupakan penyebab utama, gangguan pernapasan merupakan risiko utama. Kata kunci: manajemen risiko; keselamatan dan kesehatan kerja; ruang filing
Efektivitas Handrub Berbasis Alkohol Sama dengan Hypochlorous Acid dengan Waktu Kontak yang Berbeda Masfiyah, Masfiyah; Rahayu, Rahayu; Bellarinatasari, Nika
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13nk424

Abstract

HAIs (Healthcare-Associated Infections) cause mortality, morbidity, prolonged hospitalization, and economic losses. HAIs can be prevented by good hand washing. Washing hands with alcohol has been shown to be effective in killing microorganisms. Alcohol as a halal handrub is used, but some are still concerned about its halalness. This study aims to compare the killing ability of hypochlorous acid-based handrub for 60 seconds compared to alcohol for 20 seconds. This research was an experimental study with a pretest-posttest design with a control group. The research was conducted at the Integrated Biomedical Laboratory of FK Unissula. The study population consisted of 7 janitors and security officers who had previously been trained in washing hands using WHO's 6 steps (20 seconds). The alcohol used was made based on the WHO formulation, while the hypochlorous acid used was at a concentration of 110 ppm. Preliminary research was conducted to determine the contact time of hypochlorous acid, the result was 60 seconds. Tests were carried out on the number of bacteria on the hands before and after washing hands using hypochlorous acid and alcohol. The percentage decrease in the number of colonies between pre and post between the two groups was analyzed using the Mann-Whitney U test. The result of the percentage reduction of colonies that grew on nutrient agar medium, alcohol compared to hypochlorous acid was p = 0.084. Most of the microorganisms are gram positive, dominated by Bacillus sp and Coagulase negative Staphylococcus. Hypochlorous acid-based handrub has the same effectiveness as alcohol in killing microorganisms.Keywords: alcohol; hypochlorous acid; effectiveness ABSTRAK HAIs (Healthcare-Associated Infections) menyebabkan mortalitas, morbiditas, rawat inap memanjang, dan kerugian ekonomi. HAIs dapat dicegah dengan cuci tangan yang baik. Cuci tangan menggunakan alkohol terbukti efektif membunuh mikroorganisme. Alkohol sebagai handrub halal digunakan, tetapi beberapa masih khawatir tentang kehalalanmya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kemampuan membunuh handrub berbahan dasar hypochlorous acid selama 60 detik dibandingkan alkohol selama 20 detik. Penelitian ini adalah penelitian experimental dengan rancangan pretest-posttest with control group. Penelitian dilakukan di laboratorium Biomedik Terintegrasi FK Unissula. Populasi penelitian adalah petugas kebersihan dan petugas keamanan sebanyak 7 orang, yang sebelumnya sudah dilatih cuci tangan menggunakan 6 langkah WHO (20 detik). Alkohol yang digunakan dibuat berdasarkan formulasi WHO, sedangkan hipochlorous acid yang digunakan dengan konsentrasi sebesar 110 ppm.  Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui waktu kontak hipochlorous acid, didapatkan hasil 60 detik. Dilakukan pengujian tentang jumlah bakteri pada tangan sebelum dan sesudah cuci tangan menggunakan hypochlorous acid dan alkohol. Persentase penurunan jumlah koloni antara pre dan post antara kedua kelompok dianalisis dengan menggunakan Mann-Whitney U test. Hasil persentase penurunan koloni yang tumbuh pada medium nutrient agar, alkohol dibandingkan hypochlorous acid adalah p = 0,084. Sebagian besar mikroorganisme adalah gram positif, didominasi oleh Bacillus sp dan Coagulase negative Staphylococcus. Handrub berbasis hypochlorous acid mempunyai efektivitas yang sama dengan alkohol dalam membunuh mikroorganisme. Kata kunci: alkohol; hypochlorous acid; efektivitas
Pemanfaatan Terapi Herbal sebagai Tatalaksana Batuk pada Balita Arum Meiranny; Is Susiloningtyas; Umi Hanik Makmuroh
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13nk310

Abstract

Common health problems in toddlerhood are fever, diarrhea, sore throat, runny nose and cough. Furthermore, it is important to conduct a study to examine the management of cough in toddlers. This study is a literature review that comes from databases of health journals, namely Pubmed, Elsevier, and Google Scholar. Articles that are appropriate to the topic of discussion are then reviewed and used as a reference in writing this literature review. Proper cough management can relieve cough symptoms and will not exacerbate existing symptoms. It was concluded that Sambiloto, honey, lime and ginger can be an alternative to reduce cough symptoms.Keywords: toddler; cough; herbal therapyABSTRAK Masalah kesehatan yang umum terjadi pada masa balita adalah demam, diare, radang tenggorokan, pilek dan batuk. Selanjutnya penting dilakukan studi untuk menelaah penatalaksanaan batuk pada balita. Studi ini merupakan tinjauan literatur yang berasal dari database jurnal kesehatan yaitu Pubmed, Elsevier, dan Google Scholar. Artikel yang sesuai dengan topik bahasan, selanjutnya ditelaah dan dijadikan acuan dalam penulisan literature review ini. Penatalaksanaan batuk yang tepat dapat meringankan gejala batuk dan tidak akan memperpaah gejala yang ada. Disimpulkan bahwa sambiloto, madu, jeruk nipis, dan jahe dapat menjadi alternatif untuk mengurangi gejala batuk.Kata kunci: balita; batuk; terapi herbal
Jahe Sebagai Evidence Based Nursing untuk Mengurangi Mual pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa Nanda Tia Adila; Beti Kristinawati; Muhtarul Anam
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13nk328

Abstract

Hemodialysis is one of the actions as a kidney function aid to remove metabolic waste by using high technology, with nausea as one of the complications. Therefore, an Evidence Based Nursing study is needed regarding the implementation of extra ginger to reduce nausea in chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis. The results of data collection were analyzed to examine differences between groups with the Mann-Whitney test. The test results show a p-value of less than 0.001 (there is a significant difference). It was concluded that giving extra ginger was effective in relieving nausea in patients undergoing hemodialysis.Keywords: ginger; nauseous; hemodialysisABSTRAK Hemodialisa merupakan salah satu tindakan sebagai pembantu fungsi ginjal untuk pengeluaran sisa metabolisme tubuh dengan menggunakan teknologi tinggi, dengan mual sebagai salah satu komplikasi. Maka diperlukan studi Evidence Based Nursing tentang penerapan implementasi ekstra ginger untuk mengurangi mual terhadap pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa. Hasil pengumpulan data dianalisis untuk menguji perbedaan antar kelompok dengan uji Mann-Whitney. Hasil pengujian menunjukkan nilai p kurang dari 0,001 (ada perbedaan bermakna). Disimpulkan bahwa pemberian ekstra ginger efektif untuk meredakan mual pada pasien yang menjalani hemodialisa.Kata kunci: jahe; mual; hemodialisa
Perbandingan Efek Mengunyah Permen Karet Probiotik dan Yogurt Probiotik dalam Mengurangi Risiko Karies Anak Kirana Patrolina Sihombing; Irma Syafriani
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 13, No 3 (2022): Juli 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v13i3.2045

Abstract

Various methods to control the risk of dental caries have been studied. Probiotics contain anti-bacterial reuterin which can inhibit the growth of cariogenic bacteria so that it can increase the pH of saliva. The purpose of this study was to compare the effectiveness of probiotic chewing gum and probiotic yogurt drink in reducing the risk of caries in children, by measuring the average salivary flow rate, salivary pH, and salivary buffering capacity before and after drinking probiotic yogurt and probiotic chewing gum. The study involved 60 students aged 10-12 years, consisting of a control group, a group given probiotic chewing gum, and a group given probiotic yogurt. The intervention was given for 7 days. Furthermore, the Kruskal Wallis test was used, to compare the salivary pH, salivary flow rate, and salivary buffering capacity. The results showed a p value <0.05 (there were differences in salivary pH, buffer capacity, and salivary flow rate between the control group and the intervention group. It was concluded that probiotic yogurt was stronger to increase buffer capacity, chewing gum was stronger in increasing salivary flow rate, while in increasing the pH of saliva, yogurt and chewing gum have the same effectiveness.Keywords: probiotic yogurt; probiotic gum; dental caries ABSTRAK Berbagai metode untuk mengendalikan risiko karies gigi telah dipelajari. Probiotik mengandung reuterin anti bakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri kariogenik sehingga dapat meningkatkan pH saliva. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas permen karet probiotik dan minuman yogurt probiotik dalam mengurangi risiko karies pada anak-anak, dengan mengukur rata-rata laju aliran saliva, pH saliva, dan kapasitas penyangga saliva sebelum dan sesudah pengobatan minum yogurt probiotik dan permen karet probiotik. Penelitian melibatkan 60 siswa berusia 10-12 tahun, terdiri dari kelompok kontrol, kelompok dengan pemberian permen karet probiotik, dan kelompok dengan pemberian yogurt probiotik. Intervensi diberikan selama 7 hari. Selanjutnya digunakan uji Kruskal Wallis, untuk membandingkan pH saliva, laju aliran saliva, dan kapasitas buffer saliva. Hasil penelitian menunjukkan nilai p <0,05 (ada perbedaan pH saliva, kapasitas buffer, dan laju aliran saliva antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Disimpulkan bahwa yogurt probiotik lebih kuat untuk meningkatkan kapasitas buffer, permen karet lebih kuat dalam meningkatkan laju aliran saliva, sedangkan dalam meningkatkan ph saliva, yogurt dan permen karet memiliki efektifitas yang sama. Kata kunci: yogurt probiotik; permen karet probiotik; karies gigi
Manfaat Penerapan Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) Pada Tatalaksana Perioperatif Kraniotomi Ahmad Abdul Ghofar Abdulloh; Rheyma Sinar Al Fitri; Hana Zumaedza Ulfa; Devi Rahma Sofia; Ika Yuni Widyawati
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13nk418

Abstract

The application of the ERAS protocol perioperatively is considered to be able to improve the quality of perioperative care by reducing the problems caused by surgical procedures. The aim of this systematic review was to synthesize the evidence for the use of ERAS in craniotomy surgery patients. Five databases spanning 2017-2022 were used in this review, namely SAGE, Science Direct, Web of Science, PubMed and Scopus. Only articles using the RCT and CT designs were included in the review, the quality assessment of the articles used the JBI critical appraisal tools, the selection and extraction of articles were visualized using the PRISMA guidelines. There were 99 articles found, but only 8 articles met the inclusion criteria with a total of 1146 respondents. The main result of this review is to report the benefits of implementing the ERAS protocol on length of stay, cost of care, pain, patient satisfaction and perioperative complications. This review concludes that the implementation of the ERAS protocol can significantly help improve the recovery process of post-operative craniotomy patients. The results of studies regarding indicators of patient satisfaction in the pre-operative to post-operative process are still minimal, so that it can be considered to conduct studies on this matter in the future.Keywords: enhanced recovery after surgery; ERAS; length of stay; perioperative craniotomy ABSTRAK Penerapan protokol ERAS pada perioperatif dinilai dapat meningkatkan kualitas perawatan perioperatif dengan mereduksi masalah yang ditimbulkan oleh prosedur operasi. Tujuan dari systematic review ini adalah untuk mensintesis bukti-bukti penggunaan ERAS pada pasien bedah kraniotomi. Lima database dengan rentang tahun 2017-2022 digunakan dalam tinjauan ini, yakni SAGE, Science Direct, Web of Science, PubMed dan Scopus. Hanya artikel yang menggunakan desain RCT dan CT saja yang diikutkan ke dalam tinjauan, penilaian kualitas artikel menggunakan tools critical appraisal JBI, seleksi dan ekstraksi artikel divisualisasikan menggunakan pedoman PRISMA. Ditemukan 99 artikel, namun hanya terdapat 8 artikel yang memenuhi kiteria inklusi dengan jumlah total responden 1146. Hasil utama dari tinjauan ini adalah melaporkan manfaat penerapan protokol ERAS terhadap length of stay, biaya perawatan, nyeri, kepuasan pasien dan komplikasi perioperatif. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa penerapan protokol ERAS secara signifikan dapat membantu meningkatkan proses pemulihan pasien post-operatif kraniotomi. Hasil studi mengenai indikator kepuasan pasien pada proses pre-operatif sampai post-operatif masih minimal, sehingga dapat dipertimbangkan untuk melakukan studi akan hal ini di masa mendatang.Kata kunci: enhanced recovery after surgery; ERAS; lama rawat inap; perioperatif kraniotomi

Page 94 of 174 | Total Record : 1733


Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 1 (2026): January 2026 (up coming) Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025 Vol 16, No 3 (2025): Juli-September 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 (up coming) Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025 Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024 Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024 Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024 Vol 15, No 1 (2024): Januari-Maret 2024 2024 Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023 Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023 Vol 14, No 2 (2023): April 2023 Vol 14, No 1 (2023): Januari 2023 2023 Vol 13, No 4 (2022): Oktober 2022 Vol 13, No 3 (2022): Juli 2022 Vol 13, No 2 (2022): April 2022 Vol 13, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Februari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Januari 2021 2022 Vol 12, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 12, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 12, No 2 (2021): April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus November 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus Januari 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus April 2021 Vol 12, No 1 (2021): Januari Vol 11, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 11, No 2 (2020): April 2020 Vol 11, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Maret-April 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus November-Desember 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Januari-Februari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Mei-Juni 2020 Vol 11, No 4 (2020): Oktober Vol 10, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 10, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 9, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 9, No 3 (2018): Juli 2018 Vol 9, No 2 (2018): April 2018 Vol 9, No 1 (2018): Januari 2018 Vol 8, No 4 (2017): Oktober 2017 Vol 8, No 3 (2017): Juli 2017 Vol 8, No 2 (2017): April 2017 Vol 8, No 1 (2017): Januari 2017 Vol 7, No 4 (2016): Oktober 2016 Vol 7, No 3 (2016): Juli 2016 Vol 7, No 2 (2016): April 2016 Vol 7, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 6 (2015): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional 2010: Template More Issue