cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 1 (2011)" : 9 Documents clear
BENTUK AKTIVITAS MANUSIA PENGHUNI GUA DI MUNA, SULAWESI TENGGARA BERDASARKAN DATA GAMBAR Bernadeta AKW
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4079.506 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.252

Abstract

Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara memiliki sejumlah gua (cave) dan ceruk (rockshelter) dengan berbagai gambar yang diterakan pada dinding atau langit-langit. Gambar-gambar cadas menunjukkan berbagai aktivitas manusia penghuni gua-gua tersebut. Sejumlah gambar cadas di dinding gua atau ceruk menyiratkan pengalaman dan harapan hidup (kehidupan sosial dan mata pencaharian) serta konsepsi religius mereka. Dalam aspek mata pencaharian terlihat pada gambar dengan motif perahu. Gambar tersebut dapat memberi petunjuk mengenai adanya sekelompok manusia yang telah memiliki kemampuan tentang navigasi. Pada umumnya sejumlah gambar memperlihatkan suatu kegiatan hidup sehari hari, seperti berburu dan bertani/berladang. Dengan mengamati bentuknya secara keseluruhan gambar perahu bukan sebagai perahu perang, melainkan lebih mengarah pada bentuk perahu niaga atau mungkin sebagai perahu nelayan. Aktivitas mata pencaharian ditunjukkan oleh gambar beberapa orang berkuda dan berjalan kaki sedang melakukan kegiatan di suatu tempat yang diduga perladangan, sebab dicirikan dengan motif tanaman berupa pohon. Dengan melihat motif seperti itu, maka dapat dimaknai sebagai suatu ciri kehidupan yang lebih mengarah pada kepentingan bernilai sosial ekonomis. Muna Regency of Southeast Sulawesi has a number of caves and rock-shelter with different images are given on a wall or ceiling. Rock paintings show various human activities of the caves. A number of rock paintings on the walls of caves or rock-shelter imply experience and life expectancy (social life and livelihood) as well as their religious conceptions. In the livelihood aspect, it is shown by the picture of a boat motif. The picture could provide clues about the existence of a group of people who already have the capability of navigation. In general, a number of images show an activity of daily living, such as hunting and farming. By observing the overall shape, the boat image is not a war boats, but more directed to commercial boat or maybe a fishing boat. Livelihood activity is shown by the images of men on horses and on foot that are conducting activities in a place that is allegedly agricultural field, because it is characterized by patterns of tree crops. By looking at such motives, it can be interpreted as a feature of life that is more directed at socio-economic valuable interests.
PERBANDINGAN PENGUBURAN KERANDA KAYU DI TANA TORAJA DENGAN KERANDA KAYU DI SABAH (BORNEO)-KALIMANTAN Akin Duli; Stephen Chia Ming Soon; Muhammad Husni
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3925.592 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.248

Abstract

Asal-usul tentang budaya keranda kayu di kawasan Tana Toraja belum diketahui dengan pasti. Namun berdasarkan studi perbandingan dengan kawasan lainnya di Asia Tenggara seperti kawasan Sabah di Borneo-Kalimantan, dapat memberikan gambaran tentang adanya persamaan bentuk dan bahkan asal-usul dari keranda kayu Toraja. Dengan menggunakan metode deskripsi dan perbandingan tipologi, dapat diketahui adanya persamaan bentuk maupun tata letak, sehingga dapat diasumsikan bahwa keranda kayu di kedua kawasan tersebut, berasal dari satu asal-usul budaya yang sama, atau kemungkinan besar keranda kayu Toraja berasal dari kawasan Sabah (Borneo)-Kalimantan pada masa lampau. The origins of culture in the wood coffins in Tana Toraja region is not known with certainty. However, based on comparative studies with other regions in Southeast Asia as the region of Sabah on Borneo-Kalimantan, can provide a snapshot of the similarities of form and even the origin of the wooden coffin Toraja. By using the method of description and comparison of typology, typology can be known the equation as well as the layout, so it can be assumed that the wooden coffin in both regions, derived from a single origin of the same culture, or is likely to Toraja wood coffin comes from the region Sabah (Borneo)-Kalimantan in the past.
PERENCANAAN TATA RUANG KAWASAN CAGAR BUDAYA BAWAH AIR GUA MOKO, DI KOTA BAUBAU SULAWESI TENGGARA Yadi Mulyadi
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4948.413 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.253

Abstract

Situs arkeologi bawah air Gua Moko terletak di Pantai Nirwana di Betoambari, Baubau, Provinsi Sulawesi Seiatan. Situs Gua Moko merupakan satu-satunya situs arkeologi bawah air berupa gua yang terdapat di Indonesia. Fakta ini, semakin memperlihatkan bukti bahwa kajian arkeologi bawah air tidak hanya difokuskan pada kapal karam di laut semata. Dalam konteks pengelolaan berbasis komunitas tinggalan arkeologi bawah air, berdasarkan pada sumberdaya lokal berupa sumberdaya budaya termasuk ruang, lansekap dan ekosistem di sekitarnya. Terkait dengan pernyataan tersebut, salah satu yang penting dalam mewujudkan pengelolaan berbasis komunitas adalah perencanaan tata ruang. Hasil kajian memperlihatkan bahwa perencanaan tata ruang yang melibatkan masyarakat dalam konteks kekinian tidak mudah dilakukan. Terdapat banyak nilai, kepentingan, dan aspek lain yang harus diakomodasi. Setidaknya kajian ini menjadi langkah awal dalam perencanaan tata ruang area situs arkeologi bawah air, semoga langkah kecil ini menjadi sesuatu yang besar di masa yang akan datang. The Underwater archaeology sites, named Moko cave located in Nirwana beach which is administratively belonged to Betoambari, Baubau Southeast Sulawesi province. Moko is the only underwater archaeology cave sites in Indonesia. This fact brings us to realize that underwater archaeology study not only focused on the shipwreck at sea. In the context of community-based management of the underwater archeological remains which intended, according to the local resource is in form of cultural resources, including space and landscape and the ecosystem around it. Related to previous statement, one thing that is important in creating community-based management is a spatial region plans. Study conducted shows that the spatial arrangement of a site involving society in the present context is not an easy thing to do. There are a lot of values, interests, sectors and other aspects must be considered and accommodated. However this study expected to at least be a first step in arranging the spatial underwater archaeology heritage area, hopefully, this small step, will be greater someday future.
DARI HAND STENCIL KE HAND PRINT, BUKTI KONTAK BUDAYA TOALA DENGAN LELUHUR ORANG BUGIS Muhammad Nur
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2733.359 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.249

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan transformasi budaya dari penduduk asli (Toala) dengan leluhur orang Bugis yang berbahasa Austronesia di Sulawesi Selatan. Data yang diajukan adalah tradisi cap tangan yang masih lestari sampai sekarang dalam ritus orang Bugis. Berdasarkan absolut dating, proses pertemuan dua komunitas tersebut berlangsung 2500 BC. Walaupun Tradisi cap tangan orang Bugis diadopsi dari budaya orang Toala, tradisi tersebut telah menjadi bagian terintegrasi dengan budaya Bugis dalam segala aspek termasuk kepercayaan. Tradisi ini telah dimodifikasi dan menjadi salah satu identitas budaya Bugis. This paper discusses about the transformation of indigenous cultures (Toala) with the ancestors of Bugineese with Austronesian-speaking in South Sulawesi. The data presented is hand-print tradition that still preserved until today in the rites of the Bugineese. Based on the absolute dating, the meeting of the two communities took place in 2500 BC. Although the Bugineese tradition of hand-stamp was adopted from Toala culture, the tradition has become an integrated part of the Bugineese culture in all aspects, including belief. This tradition has been modified and become one of the Bugineese cultural identities
BENTUK DAN RAGAM HIAS MAKAM ISLAM KUNO DI KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN nfn Hasanuddin; Basran Burhan
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6356.794 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.254

Abstract

Eksplorasi yang telah dilakukan di Jeneponto diperoleh sebaran makam Islam kuno pada sepuluh situs dengan variabilitas temuan makam yang sangat kompleks. Hubungan yang tampak jelas antara bentuk jirat, nisan dan ragam hias menunjukkan bahwa semakin besar dan tinggi ukuran jirat dan semakin variatif ragam hias suatu makam, maka tokoh yang dimakamkan memiliki strata yang tinggi pula. Bentuk jirat dengan varian ragam hias tidak berkorelasi positif terhadap bentuk jirat untuk melihat strata sosial orang yang dimakamkan. Hubungan bentuk jirat dengan bentuk nisan memperlihatkan bahwa pemakaian bentuk nisan paling banyak pada jirat monolit bersusun dua disusul dengan jirat bersusun tiga. Khusus untuk nisan menhir hanya digunakan pada makam tanpa jirat atau jirat yang tersusun dari batu-batu alam. Tampaknya tidak ada pola yang jelas mengenai penggunaan bentuk-bentuk nisan terhadap bentuk-bentuk jirat. Demikian pula dengan sistem ideologi, terlihat bahwa di daerah Jeaeponto, walaupun kepercayaan yang dianut sebelum adanya Islam, namun masih terlihat adanya unsur-unsur pra-Islam yang teraktualisasi pada bentuk makam, nisan dan ragam hias sebagai akibat adanya proses akulturasi dua unsur budaya. Exploration has been done in Jeneponto was obtained distributions of moslem ancient tombs at ten sites with variability of the tomb findings are very complex. The apparent relationship between the form of sepulcher, tombstones and ornaments show that the larger and height and the more varied decoration of a tomb, then the figures are buried have a higher strata as well. Sepulcher with a variant form of ornamentation is not positively correlated with the form of sepulcher to see the social strata of people are buried. Relationship of sepulcher and tombstone shows that the use of tombstones are most on a monolithic with composition of two, followed with a three one. Especially for menhir, it is used only for tombs without sepulcher or sepulcher that is composed of natural stones. It seems there is no clear pattern regarding the use of grave forms on sepulcher forms. Similarly with ideological system, shows that in Jeneponto area, although the beliefs held prior to Islam, but still visible presence of elements of pre-Islamic which actualized in the form of graves, tombstones and various ornaments as a result of the acculturation process of the two elements of culture.
MUNGKINKAH DI KABUPATEN BUTON MEMILIKI TEMUAN PRASEJARAH Bernadeta AKW
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7076.357 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.245

Abstract

Selama ini Kabupaten Buton dijuluki sebagai "kota seribu benteng". Hal itu dapat dimengerti karena Buton memiliki sebaran benteng, dan selama ini menjadi topik pembahasan di kalangan sejarawan maupun arkeolog. Dalam perspektif arkeologi, penelitian situs-situs yang berindikasi prasejarah di Sulawesi bagian Tenggara terbilang masih jarang ditemukan. Penelitian berupa eksplorasi gua-gua yang dilakukan 2011 belum ditemukan adanya temuan prasejarah baik di beberapa situs gua maupun situs terbuka. Sejumlah gua yang disurvei hanya memperlihatkan bekas aktivitas ritual. Padahal, kondisi topografi Sulawesi Tenggara yang tidak jauh berbeda dengan kondisi topografi wilayah Sulawesi Selatan dan memungkinkan adanya keterkaitan budaya antara dua wilayah hunian prasejarah. Selain tindak ritual, tradisi pembuatan tembikar juga ditemukan di Buton, merupakan lahan studi etnoarkeologi yang menjanjikan harapan kajian yang akurat, guna melahirkan berbagai model penelitian etnoarkeologi di Indonesia. Dengan melihat kondisi topografi, mungkinkah Buton memiliki temuan prasejarah yang dapat memberi gambaran mengenai awal peradaban manusia? All this time Buton Regency is titled as the "city of a thousand fortresses ". This is understandable because Buton has spread fortress, and has been a topic of discussion among historians and archaeologists. In archaeological perspective, the sites studies that are indicated prehistoric in Southeast Sulawesi are still fairly rare. The study of caves exploration conducted in 2011 has not found any prehistoric findings in several cave sites and open sites. A number of caves surveyed showed only former ritual activity. In fact, Southeast Sulawesi topographic conditions are not much different from the topography of South Sulawesi and it allow for cultural linkages between the two prehistoric residential areas. In addition to acts of ritual, tradition of making pottery is also found in Buton, which is a promising area of accurate assessment expectations of etnoarcheology study, gave birth to a variety of models etnoarcheology study in Indonesia. By looking at the topography, is it possible that Buton has prehistoric findings may give an idea of the beginning of human civilization
POLA PIKIR DAN TINGKAH LAKU MANUSIA PRASEJARAH (TOALA?) DI SITUS GUA BATTI, BONTOCANI: BERDASARKAN VARIABILITAS TEMUAN ARKEOLOGIS Budianto Hakim
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5895.568 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.250

Abstract

Sejalan dengan tugas studi arkeologi, yaitu merekonstruksi kehidupan manusia pada masa lampau melalui hasil budaya yang ditinggalkan yang sampai pada kita. Untuk merekonstruksi pola hidup manusia prasejarah, belum ada keterangan tertulis yang dapat menuntun kita, yang tersedia hanyalah budaya yang berbentuk materi, seperti artefak (alat batu, gerabah, alat logam, alat tulang dll) makanan (tulang binatang, kerang, biji-bijian dll). Dari tinggalan budaya inilah sehingga dapat diketahui tahap-tahap perkembangan yang telah dicapai manusia. Artefak sebagai sarana yang digunakan masa lalu untuk memenuhi kebutuhan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Selain itu, artefak juga dapat memberikan gambaran tentang kegiatan sosial dan aktivitas masa lampau. Jadi melalui kegiatan penelitian, artefak maupun non-artefak yang kita temukan dapat memberikan gambaran tentang proses perkembangan budaya (cultur change) dari masa ke masa sebagai bahan perbandingan kebudayaan kita pada dewasa ini. In line with the task of archaeological studies, namely reconstructing the past human life through the cultural left that up to us. To reconstruct patterns of prehistoric human life, there is no written statement can lead us, which is available only in the form of remnants of material culture, such as artifacts (stone tools, pottery, metal tools, bone tools, etc.) and food waste (animal bones, shells, seeds grains, etc.). Of cultural relics is so knowable stages of human development has been achieved. Artifacts as a means by which humans use the past to meet the needs of continued survival. In addition, artifacts can also give an overview of social activities and activities of the past. So through research activities, artefacts and non-artifacts that we found can provide a snapshot of the process of cultural development (Cultur change) from time to time as a comparison of our culture at present.
PENGELOLAAN SUMBERDAYA BUDAYA DI GANTARANG KEKE KABUPATEN BANTAENG (STUDI KASUS PESTA ADAT PAJJUKUKANG) nfn Suryatman
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4710.744 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.255

Abstract

Upacara adat Pajjukukang yang dilaksanakan setiap tahunnya merupakan salah satu bentuk pemanfaatan yang dilakukan terhadap sumberdaya budaya tersebut. Keterlibatan Pemerintah daerah adalah sebagai fasilitator dengan menyiapkan sarana pendukung lainnya untuk membantu kelancaran dari pelaksanaan upacara adat tersebut. Namun dalam kenyataannya kegiatan upacara adat Pajjukukang ternyata berjalan kurang efektif. Salah satu kekurangannya adalah kepentingan masyarakat setempat yang tidak diakomodasi secara maksimal. Untuk memaksimalkan pengelolaan upacara adat pajjukukang, pemerintah daerah perlu berkoordinasi dengan lembaga adat Gantarang Keke serta mengevaluasi dan memperbaiki manajemen pengelolaan pesta adat Pajjukukang yang berlangsung sebelumnya. Pajjukukang traditional ceremony that held annually is one form of utilization committed against the culture resources. Local government involvement is as a facilitator to prepare other supporting facilities to help smooth the implementation of these ceremonies. But in reality, Pajjukukang ceremonial activities were running less effective. One of the drawbacks is the interest of local people who are not accommodated maximally. In order to maximize the management of Pajjukukang traditional ceremony, local governments need to coordinate with customary institutions Gantarang Keke as well as evaluate and improve management of Pajjukukang traditional feast that lasts previously.
SEBARAN LUKISAN GUA DI WILAYAH SULAWESI SELATAN DAN TENGGARA SERTA FAKTOR KERUSAKANNYA Nani Somba
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3145.188 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.246

Abstract

Berdasaran hasil penelitian arkeologi yang telah dilakukan oleh berbagai pihak baik oleh peneliti dari Indonesia maupun peneliti asing telah memperlihatkan hasil yang sangat signifikan terutama tentang lukisan gua. Balai Arkeologi Makassar telah mengidentifikasi berbagai situs gua yang mempunyai lukisan/gambar pada gua dan ceruk, persebarannya mencakup dua provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari hasil identifikasi ini pula ditemukan adanya kerusakan-kerusakan lukisan/gambar pada gua-ceruk yang cukup memprihatinkan disebabkan berbagai faktor antara lain faktor lingkungan, manusia, dan faktor alam. Based on the results of archaeological research has been done by various parties, both from researchers from the Indonesian and foreign researchers has shown very significant results, especially about the cave paintings. Institute for Archaeology Makassar has identified various sites that have cave paintings/drawings on caves and niches, spreading includes two provinces namely South Sulawesi province and the province of Southeast Sulawesi. From the results of this identification also found the existence of defects in lukisam/pictures on cave-niches that are quite apprehensive due to various factors including environmental factors, human and natural factors.

Page 1 of 1 | Total Record : 9