cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
Info Arkeologi Tim Editor
WalennaE Vol 1 No 2 (1998)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1306.817 KB) | DOI: 10.24832/wln.v1i2.59

Abstract

PEMANFAATAN DATA BIOLOGI BAGI KEPENTINGAN ARKEOLOGI nfn Vita
WalennaE Vol 5 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1796.623 KB) | DOI: 10.24832/wln.v5i1.142

Abstract

Dalam sepanjang sejarah di depannya terdpat interaksi yang terjalin terus-menerus antara manusia dan lingkungannya. Tulisan ini memberikan pemahaman kepada kita terkait pemanfaatan data biologi bagi kepentingan penjelasan terkait budaya masalalu. Dalam perkembangannya data arkeologi menjadi sangat luas tidak hanya terbatas pada perkakas-perkakas hidup sehari-hari yang di tinggalkan oleh manusia pada masa itu. Dengan menggunakan data dari disiplin ilmu biologi seperti vegetasi, iklim, dan jenis-jenis hewan dapat dijelaskan berbagai aspek lingkungan yang bisa mempengaruhi perjalanan sejarah kebudayaan masyarakat.
TELAAH AWAL TEMUAN MERIAM KUNA DI SURABAYA Danang Wahju Utomo
WalennaE Vol 12 No 1 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3364.765 KB) | DOI: 10.24832/wln.v12i1.228

Abstract

A cannon is any tubular piece of artillery that uses gunpowder or other usually explosive based propellants to launch a projectile. Cannon vary in caliber, range, mobility, rate of fire, angle of fire, and firepower; different forms of cannon combine and balance these attributes: varying degrees, depending on their intended use on the battlefield. The word cannon is derived from several languages, in which the original definition can usually be translated as tube, cane, or reed. In modern times, cannon has fallen out of common usage, usually replaced by "guns" or "artillery", if not a more specific term, such as "mortar" or "howit­zer". By the 1500s, cannon were made in a great variety of lengths and bore diameters, but the general rule was that the longer the barrel, the longer the range. Some cannon made during this time had barrels exceeding 10 ft (3.0 m) in length, and could weigh up to 20,000 pounds (9,100 kg). Consequently, large amounts of gunpowder were needed, to allow them to fire stone balls several hundred yards. Meriam adalah bagian dari tabung artileri yang menggunakan bubuk mesiu atau propelan berbasis bahan peledak lainnya untuk meluncurkan proyektil. Meriam bervariasi dalam kaliber, jangkauan, mobilitas, laju api, sudut api, dan daya tembak; berbagai bentuk meriam menggabungkan dan menyeimbangkan atribut-atribut ini: derajat yang berbeda-beda, tergantung pada tujuan penggunaannya di medan perang. Kata meriam berasal dari beberapa bahasa, di mana definisi aslinya biasanya dapat diterjemahkan sebagai tabung, tongkat, atau buluh. Di zaman modern, meriam telah jatuh dari penggunaan umum, biasanya digantikan oleh "senjata" atau "artileri", jika bukan istilah yang lebih spesifik, seperti "mortar" atau "howit¬zer". Pada tahun 1500-an, meriam dibuat dalam berbagai variasi panjang dan diameter lubang, tetapi aturan umumnya adalah semakin panjang laras, semakin panjang jaraknya. Beberapa meriam yang dibuat selama ini memiliki barel melebihi 10 kaki (3,0 m) panjangnya, dan bisa berbobot hingga 20.000 pound (9.100 kg). Akibatnya, dibutuhkan bubuk mesiu dalam jumlah besar, untuk memungkinkan mereka menembakkan bola batu beberapa ratus meter.
SITUS LAKUKANG, BONE SELATAN: INDIKASI PEMUKIMAN MEGALITIK Abd. Salam
WalennaE Vol 3 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4038.653 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i1.82

Abstract

Tulisan ini mencoba menampilkan karakteristik data bercorak megalitik dalam hubungannya dengan konteks permukiman. Penelitian ini dilakukan di Situs Lakukang Desa Lakukang, Kecamatan Mare Kabupaten Bone. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan ditemukan beberapa data arkeologis berupa lumpang batu, batu dakon, susunan batu temu gelang, umpak batu, keramik serta makam kuno. Kemudian melalui analisis yang dilakukan disimpulkan bahwa, pertama Situs Lakukang selain merefleksikan lokus pemujaan juga sebagia ruang pemukiman. Kedua terdapat pengaturan ruang skala mikro yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan situs Lakukang.
POTENSI SUMBERDAYA AIR SEBAGAI PENDUKUNG SITUS SURAWANA DI KABUPATEN KEDIRI JAWA TIMUR Ni Komang Ayu Astiti
WalennaE Vol 6 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3116.102 KB) | DOI: 10.24832/wln.v6i2.165

Abstract

Jaman dahulu manusia telah mempunyai pengetahuan atau teknologi dalam hal pengelolaan lingkungan untuk mendapatkan sumberdaya air. Pengetahuan ini juga berlaku pada masyarakat pendukung situs Surawana, mereka peroleh melalui pengalaman hidup yang sering mereka alami. Sejauhmana masyarakat pendukung memanfaatkan sumberdaya air untuk menunjang kelangsungan hidup mereka. Tujuan dari penelitian ini untuk dapat menjadi pengetahuan masyarakat masa sekarang sekitar situs dalam memanfaatkan sumberdaya air tersebut. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data melalui pendokumentasian dan pengelompokan data yang akhirnya diinterpretasikan. Hasil dari penelitian ini, masyarakat pendukung situs Surawana telah mampu menjaga kelestarian lingkungan terutama vegetasi. Selain itu, terdapat terowongan yang menjadi pendistribusian sehingga air dapat tersediadibadian hulu sampai hilir dengan kualitas dan kuantitas yang diharapkan.
ANALISIS LABORATORIUM TEKNOLOGI PEMBUATAN GERABAH SITUS GEDUNGKARYA, MUARA JAMBI, PROVINSI JAMBI Ni Komang Ayu Astiti
WalennaE Vol 4 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3126.283 KB) | DOI: 10.24832/wln.v4i2.133

Abstract

Pottery is one of human attempts to meet their basic needs and make used the lands surrounds them. Despite the clay as pottery compositions, a mixture material was added which strongly affected substance that it contained. Therefore, despite the physical analysis to understand the pottery nature, a substance analysis must take place in order to identify the clay composition or its contents used. These analyses were applied at Gedungkarya site showed that kaolinit clay used by the potters was using different chemical composition. It was also recognized that pottery materials came from the same area, even within different times.
Berita Penelitian Tim Editor
WalennaE Vol 4 No 1 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.877 KB) | DOI: 10.24832/wln.v4i1.124

Abstract

INDIKASI PERMUKIMAN SITUS-SITUS BERCIRI AUSTRONESIA DI PANTAI TIMUR DAN SELATAN PULAU SELAYAR nfn Hasanuddin
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5033.896 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.210

Abstract

The arrival of Austronesian communities in South and Southeast Sulawesi did not occur at the same time. Allegedly the coast of South and Southeast Sulawesi mainland inhabited earlier than the small islands to the south. The strategy used is a survey primarily on sites along the east coast and southern Selayar Island. The entire site is the coast with a discovery of a corpse coffin was left of human bones are stored in a cave, bronze bracelets, and artifacts of stone tools and fragments of pottery. Utilization of caves and niches shows a multi-resi­dential space that functions as a dwelling (with indication of shellfish), industrial (with indication of stone tools and chips/waste rock), and the burial place (which proved the dis­covery of human bones and container tomb called duni placed in the cave).Kedatangan masyarakat Austronesia di Sulawesi Selatan dan Tenggara tidak terjadi pada saat yang bersamaan. Diduga pantai daratan Sulawesi Selatan dan Tenggara dihuni lebih awal dari pulau-pulau kecil di selatan. Strategi yang digunakan adalah survei terutama pada situs di sepanjang pantai timur dan Pulau Selayar selatan. Seluruh situs adalah pantai dengan penemuan peti kubur yang tersisa dari tulang manusia yang disimpan di gua, gelang perunggu, dan artefak alat-alat batu dan pecahan tembikar. Pemanfaatan gua dan ceruk menunjukkan ruang multi-residen yang berfungsi sebagai tempat tinggal (dengan indikasi kerang), industri (dengan indikasi alat-alat batu dan keripik / batuan sisa), dan tempat pemakaman (yang membuktikan adanya penemuan tulang manusia dan wadah makam yang disebut duni ditempatkan di gua).
POLA FORMULA DALAM TOLOQ RUMPAQNA BONE Andi Muhammad Akhmar
WalennaE Vol 3 No 2 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2032.758 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i2.108

Abstract

Tulisan ini mengangkat Toloq Rumpakna Bone, sebuah sastra bugis yang ditulis sekitar awal abad ke-20. Karya sastra ini berupa manuskrip yang  ditulis oleh I Mallaq Arung Manajeng dan memuat kisah peperangan anta kerajaan bone dengan hindia Belanda pada tahun 1905. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menetapkan teks suntingan Toloq Rumpakna Bone dan telaah pola formula. Berdasarkan telaah pola formula, maka formula dalam Tolok Rumpakna Bone dapat dikategorikan dalam formula satu baris dan setengah baris. 
TEMUAN ALAT SERPIH DARI SITUS TINCO Nani Somba
WalennaE Vol 10 No 2 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3777.453 KB) | DOI: 10.24832/wln.v10i2.189

Abstract

Masa prasejarah, umumnya manusia menghasilkan alat litik untuk mempertahankan hidupnya. Perkakas batu yang mereka buat masih memiliki bentuk sederhana, tetapi disini juga tumbuh ide-ide yang berkembang dalam kehidupan mereka. Pada penelitian ini, penulis mencoba menjelaskan peristiwa arkeologis yang pernah terjadi di situs Tinco, khususnya dengan ditemukannya artefak perkakas serpih bilah, yang sebenarnya merupakan ciri khas masa mesolitik sedangkan situs Tinco merupakan situs megalitik. Tulisan ini bertujuan untuk menjabarkan temuan alat serpih yang ditemukan dalam satu lapisan budaya yang masih insitu dan berkorelasi dengan temuan lainnya seperti beliung persegi, fragmen gerabah, fragmen keramik, tulang dan gigi binatang serta tinggalan batu besar (megalitik). Metode yang digunakan, yaitu pengumpulan data, pengelompokan data dan interpretasi data. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa kesamaan tipologi dan teknologi alat serpih di situs Tinco dengan alat serpih dari gua hunian prasejarah bukan berarti berasal dari masa yang sejaman melainkan karena adanya dorongan akan kebutuhan hidup dan kondisi lingkungan yang sama. Keberadaan alat serpih di situs Tinco yang berasosiasi dengan berbagai tinggalan budaya lain tidak dapat dikatakan memiliki kronologi tua, tetapi diperkirakan sejaman dengan munculnya tradisi megalitik di Tinco.