JURNAL WALENNAE
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi.
Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Articles
252 Documents
CANDI CETA: REPOSISI LINGGA DULU DAN KINI (TINJAUAN ASPEK FUNGSI KEKINIAN)
Agustijanto Indradjaja
WalennaE Vol 6 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2609.611 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v6i2.169
Kawasan di sekitar lereng sampai puncak Gunung Lawu memiliki potensi sumberdaya arkeologi yang cukup potensial bagi sejarah perkembangan kebudayaan. Daerah Gunung Lawu memiliki perbedaan nuansa atau sifat keagamaan. Tinggalan arkeologinya bersifat keagamaan hindu, yaitu empat buah candi dari periode Majapahit akhir diantaranya Candi Sukuh, Ceta, Menggung dan Planggatan. Keempat candi ini berada diketinggian 700-1300 mdpl. Melihat situasi tersebut terlihat nuansa prasejarah yang berbentuk punden berundak. Hal ini menimbulkan suatu interpretasi bahwa pada masa akhir Hindu-Budha di Jawa, kepercayaan lokal kembali menguat ditandai dengan bangunan berciri tradisi masa prasejarah. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat reposisi lingga dari dulu sampai sekarang. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data pustaka dan pendokumentasian serta menganalisis data. Hasil yang diperoleh bahwa masyarakat Hindu Dharma di Lereng gunung Lawu dapat dikatakan telah mengalami proses sinkretisme, terlihat dari tata upacara mereka seperti satu suro dan modosio. Secara konseptual, mereka masih mengenal dewa siwa sebagai dewa tertinggi tetapi dalam upacara telah mengalami transformasi nilai.
PENGELOLAAN SUMBERDAYA BUDAYA DI GANTARANG KEKE KABUPATEN BANTAENG (STUDI KASUS PESTA ADAT PAJJUKUKANG)
nfn Suryatman
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4710.744 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v13i1.255
Upacara adat Pajjukukang yang dilaksanakan setiap tahunnya merupakan salah satu bentuk pemanfaatan yang dilakukan terhadap sumberdaya budaya tersebut. Keterlibatan Pemerintah daerah adalah sebagai fasilitator dengan menyiapkan sarana pendukung lainnya untuk membantu kelancaran dari pelaksanaan upacara adat tersebut. Namun dalam kenyataannya kegiatan upacara adat Pajjukukang ternyata berjalan kurang efektif. Salah satu kekurangannya adalah kepentingan masyarakat setempat yang tidak diakomodasi secara maksimal. Untuk memaksimalkan pengelolaan upacara adat pajjukukang, pemerintah daerah perlu berkoordinasi dengan lembaga adat Gantarang Keke serta mengevaluasi dan memperbaiki manajemen pengelolaan pesta adat Pajjukukang yang berlangsung sebelumnya. Pajjukukang traditional ceremony that held annually is one form of utilization committed against the culture resources. Local government involvement is as a facilitator to prepare other supporting facilities to help smooth the implementation of these ceremonies. But in reality, Pajjukukang ceremonial activities were running less effective. One of the drawbacks is the interest of local people who are not accommodated maximally. In order to maximize the management of Pajjukukang traditional ceremony, local governments need to coordinate with customary institutions Gantarang Keke as well as evaluate and improve management of Pajjukukang traditional feast that lasts previously.
TRADISI MEGALITIK DALAM RANAH PEMAHAMAN SAKRAL DAN PROFAN DI SITUS LAWO, SOPPENG
Bernadeta AKW;
Muhammad Husni
WalennaE Vol 12 No 1 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2942.478 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v12i1.223
Lawo megaliihic site located in Ompo village, Lalabata Soppeng District is to identify data to produce a number of findings such as a stone mortar, dakon, ornamental stone in a settlement system that the distance from water sources (river). Various forms of the findings indicate the development of more advanced technology in the form of sculptures produced a number of images such as chakra, and others. In addition, Megalithic objects beside have a function as a means of ritual, also used in connection with the fulfillment of needs that are profane. Situs megalitik Lawo yang terletak di desa Ompo, Lalabata Kabupaten Soppeng adalah untuk mengidentifikasi data sejumlah temuan seperti lesung batu, dakon, batu bergores dalam sistem pemukiman yang jaraknya dekat dari sumber air (sungai). Berbagai bentuk temuan menunjukkan perkembangan teknologi yang lebih maju dalam bentuk figur yang menghasilkan sejumlah gambar seperti chakra, dan lainnya. Selain itu, benda-benda megalitik selain memiliki fungsi sebagai sarana ritual, juga digunakan sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan yang bersifat profan.
LUKISAN DINDING GUA DI PULAU MUNA, SULAWESI TENGGARA : IDENTIFIKASI JENIS HEWAN
Rokus Due Awe
WalennaE Vol 3 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4309.802 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v3i1.77
Penelitian ini memberikan gambaran tentang lukisan yang ada di dinding Gua Pulau Muna. Berdasarkan hasil observasi, penelitian data pustaka serta analisis kualitatif, kuantitatif dan analogi. Diketahui bahwa terdapat beberapa jenis hewan yang di lukis di dinding gua-gua Pulau Muna, seperti musang, rusa, anjing, kuda, kucing, ular, lipan, buaya, babi. Kemudian berdasarkan kajian yang dilakukan dengan terhadap data sejarah diperkirakan bahwa usia relatif lukisan dinding gua di Pulau Muna di buat sekitar abad XIII M dan mungkin lebih muda lagi.
PESTA ADAT MAPPANRE TASI: OBJEK WISATA LAUT DI KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN
Andi Nuralang
WalennaE Vol 5 No 2 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2446.934 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v5i2.160
Upacara tradisional kaya akan nilai budaya positif yang patut mendapat perhatian, karena banyak kemungkinan yang menjadi penyebab tergesernya upacara tradisional, diantaranya melalui kontak sosial. Salah satu upacara tradisional yang menjadi perhatian berada di Kotabaru, Kalimantan Selatan, yaitu Pesta Adat Mappanre tasi sehingga menarik untuk dikaji. Tujuannya untuk memaparkan transformasi nilai yang terjadi, dipandang dari sudut perubahan sosial budaya dan ekonomi. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data pustaka dan lapangan menyangkut prosesi upacara tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan hipotesa. Hasil yang diperoleh bahwa pelaksanaan pesta adat mappanre tasi bertujuan untuk mengucap rasa syukur kepada tuhan akan rahmat yang diterima berupa ikan laut. Transformasi nilai yang terjadi memiliki dua dampak yaitu positif dan negatif.
FRAGMEN WADAH TEMBIKAR DARI SITUS MALLAWA: BEBERAPA TIPE TEKNOLOGIS
nfn Najemain
WalennaE Vol 1 No 2 (1998)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2540.003 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v1i2.48
Situs Mallawa terletak di desa Sabila Kecamatan Mallawa kabupaten Maros. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe-tipe teknologi wadah tembikar di Situs Mallawa. Dengan melakukan survei permukaan berhasil dikumpulkan 290 fragmen yang terdiri atas berabagai bentuk dan ukuran. Melalui hasil analisis morfologis yang dilakukan diketahui bahwa tembikar di Situs Mallawa memiliki dua tipe yaitu wadah berhias dan wadah polos. Selain itu berdasarkan hasil analisis komposisi bahan dasar dan campuran tembikar dari situs mallawa terdiri dari wadah-wadah halus dan kasar. Selain itu berdasarkan hasil analisis laboratorium dapat di simpulakan bahwa tembikar dari Situs Mallawa merupakan barang impor yang berasal dari luar Situs Mallawa
SEBARAN LUKISAN GUA DI WILAYAH SULAWESI SELATAN DAN TENGGARA SERTA FAKTOR KERUSAKANNYA
Nani Somba
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3145.188 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v13i1.246
Berdasaran hasil penelitian arkeologi yang telah dilakukan oleh berbagai pihak baik oleh peneliti dari Indonesia maupun peneliti asing telah memperlihatkan hasil yang sangat signifikan terutama tentang lukisan gua. Balai Arkeologi Makassar telah mengidentifikasi berbagai situs gua yang mempunyai lukisan/gambar pada gua dan ceruk, persebarannya mencakup dua provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari hasil identifikasi ini pula ditemukan adanya kerusakan-kerusakan lukisan/gambar pada gua-ceruk yang cukup memprihatinkan disebabkan berbagai faktor antara lain faktor lingkungan, manusia, dan faktor alam. Based on the results of archaeological research has been done by various parties, both from researchers from the Indonesian and foreign researchers has shown very significant results, especially about the cave paintings. Institute for Archaeology Makassar has identified various sites that have cave paintings/drawings on caves and niches, spreading includes two provinces namely South Sulawesi province and the province of Southeast Sulawesi. From the results of this identification also found the existence of defects in lukisam/pictures on cave-niches that are quite apprehensive due to various factors including environmental factors, human and natural factors.
POLA PEMUKIMAN DALAM ARKEOLOGI: REKONSTRUKSI EKOLOGI, KEBUDAYAAN, DAN STRUKTUR MASYARAKAT
nfn Hasanuddin
WalennaE Vol 4 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2638.504 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v4i2.128
Settlement pattern concept appears in 1940s in America, and in these last few years has already been implemented in many researches in Indonesia. What is the real settlement pattern in archaeology and how does it scope? Willey, Vogt, Rouse and Mundardjito's concepts which are emphasizing in pattern, distribution, and its relations are interesting to be attended to understand and to reconstruct the past ecology, culture and social structure.
PUSAT PERDABAN ABAD XV-XVIII KERAJAAN BUKI SELAYAR SULAWESI SELATAN
nfn Muhaeminah;
M. Irfan Mahmud
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6575.599 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v11i2.214
The center of Kingdom of Buki was known as a teritory of a powerfull dinasty and reaches their golden age in XV to XVI century based on the foreign ceramics population found. In the next centuries, Buki was still became a powerful dinasty when the Islamic influence spread stronger in XVIII century. At the top of Islamic influence's glory, there was a control to the Silolo site's area that located in the east side of the Kingdom of Buki. But the site of Buki was a still a center for the elite of the kingdom. Buki, Selayar is quite interesting for a research to get a more accurate data. There is several finds like, Maros point (serration arrow point) that found in Batang Mata Sappo area, human skull from Batu Tumpa cave at Bonto Sikuyu, and many other finds. These kinds of finds commonly found in South Sulawesi but Selayar is placing an important position based on the quantity and the quality of its finds.Pusat Kerajaan Buki dikenal sebagai wilayah dinasti yang kuat dan mencapai zaman keemasan mereka di abad XV - XVI berdasarkan populasi keramik asing yang ditemukan. Pada abad-abad berikutnya, Buki masih menjadi kerajaan yang kuat ketika pengaruh Islam menyebar lebih luas di abad XVIII. Pada puncak kejayaan pengaruh Islam, ada kontrol terhadap area situs Silolo yang terletak di sisi timur Kerajaan Buki. Tapi situs Buki masih menjadi pusat elit kerajaan. Buki, Selayar cukup menarik untuk sebuah penelitian untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Ada beberapa temuan seperti, maros poin (mata panah bergerig) yang ditemukan di daerah Batang Mata Sappo, tengkorak manusia dari gua Batu Tumpa di Bonto Sikuyu, dan banyak temuan lainnya. Temuan semacam ini umumnya ditemukan di Sulawesi Selatan tetapi Selayar menempatkan posisi penting berdasarkan kuantitas dan kualitas temuannya.