JURNAL WALENNAE
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi.
Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Articles
252 Documents
ALAT BATU BERGERIGI DARI SITUS WESSAE, BARRU, SULAWESI SELATAN
Danang Wahju Utomo
WalennaE Vol 6 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3941 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v6i2.170
Situs Wessae merupakan lokasi yang memiliki temuan artefak perkakas batu yang sangat padat. Perkakas batu sangat berkaitan dengan sistem mata pencaharian manusia, yang umumnya mengarah pada kehidupan berburu binatang. Perkakas batu di situs Wessae sangat variatif yang terlihat dari beberapa tipologi. Pembahasan kali ini masih sebatas pada masalah teknologi dan tipologi serta apakah memiliki kesamaan dengan alat batu bergerigi dari situs-situs hunian dan ceruk di Sulawesi Selatan. Tujuan dari penelitian, untuk melihat kehidupan manusia prasejarah di situs Wessae. Metode yang digunakan diantaranya pengumpulan data, pengelompokan data dan analisis data. Hasil yang diperoleh bahwa penemuan alat batu bergerigi menambah data persebaran alat batu di Sulawesi Selatan. Budaya Toala tidak hanya terdapat di situs-situs hunian gia tetapi juga di situs terbuka, seperti di situs Wessae. Kehidupan mengenai manusia pendukungnya sebenarnya masih banyak terungkap, kemungkinan situs Wessae sebagai situs perbengkelan.
MAKAM-MAKAM KUNA DI PESISIR SULAWESI SELATAN: TANDA KUBUR ISLAM TRADISIONAL
nfn Muhaeminah
WalennaE Vol 1 No 2 (1998)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2462.867 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v1i2.55
Nisan-nisan kuno termasuk tinggalan arkeologi islam yang banyak terdapat pada kompleks makam raja-raha di sulawesi selatan. Tulisan ini menyajikan gambaran singkat tentang bentuk-bentuk nisan pada makam kuno di pesisir sulawesi selatan yang pernah di teliti oleh balai arkeololi ujung pandang sejak tahun 1994-1995. Bentuk-bentuk nisan kubur dapat memberi gambaran mengenai arti simbolis beberapa unsur budaya masa lalu yang kini masih dapat kita saksisan melalui tinggalannya.
EKSISTENSI BENTENG WABULA SEBAGAI BENTUK PERTAHANAN BERLAPIS KERAJAAN BUTON, SULAWESI TENGGARA
nfn Hasanuddin
WalennaE Vol 12 No 1 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4972.109 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v12i1.224
This research is a methodological and theoretical application in the context of the fortress kingdom Wabula Buton. Wabula research coverage consists of two main components, namely building the fortren with several cultural components that are involved and the geographic position of Buton keletakannya is an island-shaped country with strategic location on the sea route connecting the producing islands in eastern spices. To strengthen the defense system in maintaining the sovereignty of the kingdom, then the Sultan of Buton built several fortresses scattered layered in some areas, one of whom Wabula castle. Position Wabula fortress overlooking the sea is the political strategy were taken into account, because the position on a hill overlooking the beach make the attackers participated in the defense through the region. Penelitian ini adalah aplikasi metodologis dan teoritis dalam konteks kerajaan benteng Wabula Buton. Cakupan penelitian Wabula terdiri dari dua komponen utama, yaitu membangun fortren dengan beberapa komponen budaya yang terlibat dan posisi geografis Buton keletakannya adalah negara berbentuk pulau dengan lokasi yang strategis di jalur laut yang menghubungkan pulau-pulau penghasil rempah-rempah di timur. Untuk memperkuat sistem pertahanan dalam menjaga kedaulatan kerajaan, maka Sultan Buton membangun beberapa benteng yang tersebar di beberapa daerah, salah satunya benteng Wabula. Posisi benteng Wabula yang menghadap ke laut adalah strategi politik yang diperhitungkan, karena posisi di atas bukit yang menghadap ke pantai membuat para penyerang berpartisipasi dalam pertahanan melalui wilayah tersebut.
RAGAM SENJATA PADA LUKISAN DINDING GUA DI PULAU MUNA: TINJAUAN JENIS DAN FUNGSINYA
Nenggih Susilowati
WalennaE Vol 3 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1440.578 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v3i1.78
Tulisan ini mengkaji lukisan senjata pada dinding gua-gua yang ada di Pulau Muna. Beberapa hal yang ingin di bahas adalah bagaimana peranan senjata pada kondisi sosial ekonomi masyarakat pendukung kebudayaan gua-gua di pulau muna. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan hasil identifikasi terhadap gambar jenis-jenis senjata yang ada, disimpulkan bahwa pemanfatan senjata secara praktis digunakan pada kegiatan berburu dan berperang namun lebih banyak digunakan untuk kegiatan berburu. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih bergantung pada subsistensi berburu dan meramu.
WADAH KUBUR ERONG DI TANAH TORAJA: TRADISI TEKNO-RELIGI MEGALITIK
Bernadeta AKW
WalennaE Vol 1 No 2 (1998)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2128.882 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v1i2.49
Erong yang di kenal luas di tanah toraja merupakan kuburan keluarga, oleh sebab itu dalam satu erong dapat di tempatkan beberapa mayat yang berasal dari satu keluarga atau marga. Erong dalam kedudukannya sebagai wadah kubur, secara artefaktual dapat dianalisis dari erbagai aspek, yaitu fungsi, tipologi, teknologi dan simbol. Berikut ini akan dijelaskan menegnai gambaran singkat tentang tipologi erong di Tana Toraja.
KRONOLOGI HUNIAN PRASEJARAH DI GUA BRAHOLO DAN SONG KEPLEK, GUNUNG SEWU
Harry Truman Simanjuntak
WalennaE Vol 4 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4468.471 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v4i2.129
Gua Braholo and Song Keplek are two of the some caves, which have been intensively excavated since 1990's. The research result shows that both caves were occupied by the prehistorically human before the Pleistocene was over. The chronology of occupancy in this area was started from the eldest (Paleolithic) to the youngest one (Paleometallic) which were separated into six periods: Baksosa, Terus, Tabuhan, Keplek, Gupuh, and Klepu. In the Gunung Sewu context, the occupancy in Gua Braholo and Song Keplek were went on from Tabuhan period, continued to Keplek period, and Gupuh period as the occupancy in the early Neolithic. The expansion from period to period be tend to gradual, there was no "repture" to be seen.
PERAN SELAT MAKASSAR SEBAGAI JALUR MARITIM ANTARA KALIMANTAN TIMUR DAN SULAWESI SELATAN
Gunadi Kasnowihardjo
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2376.833 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v11i2.215
This paper examined the relationship between South Sulawesi in eastern Kalimantan through archaeological heritage. Integration of the existing archaeological remains of the East Kalimantan and is found in South Sulawesi West Sulawesi or, in fact has an interesting cultural similarity to be studied in an integrated manner. The emergence of the kingdom of Kutai in IV-V century AD in East Kalimantan, shows that the role of the Makassar Strait is very large in delivering the merchants and Brahmins (propagator of religion) who came from outside Indonesia and along the Mahakam River to the interior of Borneo. Similarly, the lines of rivers in South Sulawesi and West Sulawesi is very important since prehistoric times to show a connection between the two regions bridged by the Makassar strait.Tulisan ini membahas hubungan antara Sulawesi Selatan di Kalimantan Timur melalui warisan arkeologi. Integrasi sisa-sisa arkeologi Kalimantan Timur yang ada dan ditemukan di Sulawesi Selatan atau Sulawesi Barat ternyata memiliki kesamaan budaya yang menarik untuk dipelajari secara terintegrasi. Munculnya kerajaan Kutai pada abad IV-V M di Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa peran Selat Makassar sangat besar dalam mengantarkan para pedagang dan Brahmana (penyebar agama) yang datang dari luar Indonesia dan menyusuri Sungai Mahakam ke pedalaman Kalimantan. Demikian pula, garis-garis sungai di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sangat penting sejak zaman prasejarah untuk menunjukkan hubungan antara dua wilayah yang dijembatani oleh selat Makassar.
PERIODE KOLONIAL DI PESISIR TIMUR PULAU SERAM (MALUKU): KONTAK AWAL HINGGA TERBENTUKNYA MORFOLOGI KOTA BULA
Syahruddin Mansyur
WalennaE Vol 15 No 1 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1488.223 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v15i1.1
Salah satu daerah di Maluku yaitu Bula (pesisir timur Pulau Seram) memiliki potensi tinggalan arkeologi industri pertambangan minyak yang telah dikembangkan sejak masa Hindia Belanda. Penelitian ini membahas tentang penemuan sumber minyak di wilayah tersebut, serta pembangunan prasarana dan sarana pertambangan minyak di Bula menjadi embrio terbentuknya morfologi Kota Bula. Metode yang digunakan dalam membahas topik tersebut adalah metode penelusuran pustaka, serta metode survey dan observasi arkeologi. Awalnya, daerah ini tidak banyak diokupasi oleh bangsa Eropa, hingga pada akhir abad ke-19, seiring dengan penemuan sumber minyak, daerah ini kemudian mulai berkembang. Berbagai prasarana dan sarana pertambangan dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda diantaranya: sumur-sumur minyak, tangki-tangki penampungan hingga sarana pendukung seperti perumahan karyawan, rumah sakit, jaringan jalan, pelabuhan, bandara, serta sarana rekreasi. Berbagai prasarana dan sarana pertambangan minyak yang dibangun saat itu kemudian menjadi awal terbentuknya morfologi kota Bula. Sebagai sebuah kota industri baru, daerah ini kemudian berkembang dan memiliki daya tarik bagi masyarakat dari luar.
MANAJEMEN SUMBERDAYA BUDAYA KOTA MAKASSAR “MENUJU STATUS KOTA DUNIA”
Budianto Hakim
WalennaE Vol 10 No 2 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2652.285 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v10i2.195
Era Millenium ditandai dengan dunia yang semakin bordeless. Kota-kota di dunia berlomba meraih World Status, dalam perjuangan merebut status kota dunia maka kota harus berdaya tarik kuat untuk membangun citra dirinya. Kota-kota tersebut bersaing adu pamor yang digali dari perjalanan sejarah kota, bangsa dan Negara. Kota yang melestarikan dan mendayagunakan peninggalan arkeologisnya, khususnya bangunan bersejarah sebagai sebuah ciri, citra dan lambang kebanggaan kotanya. Sejalan dengan itu, lalu apa dengan kota Makassar?. Tujuan dari tulisan ini, untuk mencari jatidiri Makassar di masa lalu. Metode yang digunakan diantaranya, pengumpulan data dan pengklasifikasian data yang kemudian diinterpretasi untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil dari penulisan ini bahwa kompleksitas konflik kepentingan yang terjadi di wilayah perkotaan bukanlah hal mudah untuk dijembatani. Perencanaan kota dalam hal ini pemerintah dan stekholdenta hendaknya duduk bersama untuk menciptakan sebuah kota yang memiliki suatu kesatuan sistem organisasi yang bersifat sosial, visual, maupun fisik yang terancang secara terpadu.
BENDE WUTA (BENTENG TANAH) DALAM KONTEKS SEJARAH BUDAYA MEKONGGA SULAWESI TENGGARA
nfn Hasanuddin
WalennaE Vol 12 No 2 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5462.302 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v12i2.238
This research was conducted in Wundulako, Kolaka, Southeast Sulawesi, which express the geographic location of the fort the ground, and it contains a number of artifacts through survei and excavation methods. Archaeological data in said Collaborate with tradition and geological data. Citadel Land (Bende Wuta) was established by Latoranga the XVII century (around 1676). Survei data to produce findings of a metal currency (coins), fragments of pottery and ceramics. Excavation data showed the existence of the artificial soil structure and modification of forms of material available in the vicinity. From the comparative aspect that shows the shape of the blockhouse and fortified the settlement as well as the king and his family. Besides, the position of land fort called Wuta Bende is 471 m from the river showed Lamekongga maintaining a strategic position in the kingdom's sovereignity Mekongga.Penelitian ini dilakukan di Wundulako, Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang mengungkapkan lokasi geografis benteng alam, dan berisi sejumlah artefak melalui metode survei dan ekskavasi. Data arkeologi di katakan Berkolaborasi dengan data tradisi dan geologi. Citadel Land (Bende Wuta) didirikan oleh Latoranga pada abad XVII (sekitar 1676). Survei data untuk menghasilkan temuan mata uang logam (koin), pecahan tembikar dan keramik. Data penggalian menunjukkan adanya struktur tanah buatan dan modifikasi bentuk bahan yang tersedia di sekitarnya. Dari aspek komparatif yang menunjukkan bentuk benteng yang melindungi raja dan keluarganya. Selain itu, posisi benteng tanah yang disebut Wuta Bende berjarak 471 m dari sungai menunjukkan Lamekongga mempertahankan posisi strategis dalam kedaulatan kerajaan Mekongga.