cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
CASTING RANGKA MANUSIA DI LEANG JARIE, MAROS : BENTUK PENGAWETAN DAN PENYELAMATAN DATA ARKEOLOGI Lenrawati lenrawati; Budianto Hakim
WalennaE Vol 20 No 1 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i1.420

Abstract

Temuan rangka manusia Leang Jarie, berada dalam wilayah Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Temuan rangka ini memperlihatkan kondisi yang sudah mulai rapuh. Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan untuk dilakukan dokumentasi dan penyelamatan. Dokumentasi yang dilakukan melalui pembuatan replika. Replika atau duplikasi dihasilkan melalui pembuatan casting pada rangka manusia tersebut. Tujuan pembuatan replika manusia untuk pelestarian nilai budaya serta untuk penyelamatan data arkeologi sebagai bahan pembelajaran atau pameran. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data, pengelompokan data dan pembuatan replika rangka manusia di Leang Jarie. Pembuatan replika rangka manusia secara insitu memiliki tahapan dan proses kerja yang cukup memerlukan tenaga dan waktu, karena sebelum dilakukan casting diperlukan penanganan temuan terlebih dahulu agar objek tidak rusak akibat pembuatan pola cetakan. Hal yang perlu diperhatikan adalah pembuatan adonan untuk menghasilkan replika rangka manusia Leang Jarie, yang sesuai dengan bentuk aslinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa replika yang dihasilkan tidak 100% terekam secara keseluruhan tetapi beberapa informasi sudah dapat diamati tanpa perlu ke situs. Casting rangka manusia di Leang Jarie merupakan benda replika yang sengaja dibuat untuk dapat di pamerkan ke publik dan sebagai bentuk pelestariannya.     The human skeleton of Leang Jarie was discovered in the Simbang District of Maros Regency. The discovery of this skeleton indicates that its condition has deteriorated. This became one of the causes for documenting and rescue later. The production of replicas is used to document the process. Castings of the human skeleton are used to create replicas or duplications. The goal of creating human replicas is to conserve cultural values while also preserving archaeological data for use as educational materials or displays. In Leang Jarie, the process is data collecting, data aggregation, and the creation of a human skeleton model. Making an in-situ copy of a human skeleton has steps and labor processes that require a lot of energy and time, because it's required to handle the object first so that it doesn't get harmed while the mold pattern is being made. The production of dough to create a copy of Leang Jarie's human skeleton that is accurate to the original form is something that must be considered. The result revealed that while the replicas produced were not 100% accurate but some information could be observed without having to visit the site. The human skeleton casting at Leang Jarie is a reproduction that was created with the intention of being displayed to the public and preserved.
PERMASALAHAN SHIPWRECK SISA PERANG DUNIA II DI PERAIRAN INDONESIA Dwi Kurnia Sandy; Salma Fitri Kusumastuti; Ade Wulan Fitriana; Fatom Ahmad
WalennaE Vol 20 No 1 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i1.495

Abstract

Indonesia has various kinds of underwater archaeology remains as well as from the outbreak of World War II. Most of them are shipwreck, and also several aircraft and tanks of Japan and the allies. The remains now left us some problems such as unclear regulation, the difference of inventory and database, many research which do not continue to the application, and excessive attention to the shipwreck than the other remains. The problems mentioned above, are chosen by the writers regarding the investigation news about the missing of World War II shipwrecks in the Java Sea reported by the online platform, Tirto.id. From that case, we try to find more resources from books, journals, news, and government regulations, then discuss them from the point of view of archaeology. We realized that these problems are not the responsibility of one institution only. Some of the suggestions mentioned in this paper, and we hope the sustainability of World War II underwater remains in Indonesia will be still safe.     Indonesia memiliki tinggalan arkeologi bawah air dan diantaranya berasal dari sisa-sisa Perang Dunia II. Sebagian besar temuan berupa kapal, baik milik Jepang maupun sekutu. Sisanya ditemukan pula bangkai pesawat dan juga tank. Saat ini, adanya tinggalan di bawah air tersebut tidak luput dari berbagai permasalahan. Masalah-masalah yang masih melekat pada tinggalan ini diantaranya peraturan yang saling tumpang tindih, perbedaan data inventarisasi shipwreck, penelitian yang tidak berlanjut pada pemanfaatan, dan beragamnya tinggalan bawah air Indonesia, namun baru shipwreck yang menjadi perhatian. Pembahasan beberapa masalah ini didasari oleh keresahan penulis atas hilangnya beberapa bangkai kapal tinggalan Perang Dunia II di Laut Jawa. Dari kasus tersebut penulis mengumpulkan berbagai data pustaka terkait, baik cetak maupun elektronik dan membahasnya dari sudut pandang arkeologi. Penulis menyadari bahwa keadaan ini bukan hanya tanggungjawab satu instansi semata. Beberapa saran juga kami cantumkan melalui tulisan ini dengan harapan keberadaan tinggalan dari masa Perang Dunia II di Indonesia dapat lestari dan tidak lagi jatuh ke tangan yang salah.
MASCULINITY VISUALIZATION IN TWO RAKSASA STATUES FROM CANDI TAPAN, BLITAR REGENCY, EAST JAVA Nainunis Aulia Izza
WalennaE Vol 20 No 1 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i1.521

Abstract

This study discussed the archaeological remains, Two Raksasa Statues of Candi Tapan from a gender perspective, especially the masculinity concept. Two Raksasa Statues of Candi Tapan is giant shapes with hair carvings on the head, face and body. The presence of hair, especially on the face and body, is an element of the statue that is rarely found and that is important to discuss. The method used is the archaeological method, consisting of stages of description, iconographic analysis, and interpretation with masculinity theory. The results show that the depiction of hair in ancient civilizations has a function as an indication of the masculinity concept from people from that period. The visualization of masculinity through the carving of facial and body hair in the Two Raksasa Statues of Candi Tapan related to the concept of masculinity and fertility, as well as the function of the giant statue as a guardian and danger repellent of sacred buildings.     Kajian ini menelaah tinggalan Arkeologi berupa Dua Arca Raksasa dari Candi Tapan dari perspektif gender khususnya maskulinitas. Dua Arca Raksasa dari Candi Tapan digambarkan dalam bentuk raksasa yang dilengkapi dengan pahatan rambut pada bagian kepala, wajah, serta tubuh. Keberadaam rambut, khususnya pada bagian wajah dan tubuh merupakan unsur arca yang jarang ditemui dan penting untuk dibahas. Metode yang digunakan adalah metode arkeologi, terdiri dari tahapan deskripsi, analisis ikonografi, dan interpretasi dengan teori maskulinitas yang berkaitan erat dengan teori gender. Hasilnya menunjukkan bahwa penggambaran rambut pada tinggalan peradaban-peradaban kuno memiliki fungsi sebagai petunjuk tentang konsep maskulinitas yang dianut oleh masyarakatnya. Visualisasi maskulinitas melalui pemahatan rambut wajah dan tubuh pada dua Arca Raksasa Candi Tapan dapat dikaitkan dengan konsep maskulinitas dan kesuburan serta fungsi Arca Raksasa sebagai makhluk penjaga bangunan suci dan penolak bahaya.
GAMBAR CADAS MOTIF MANUSIA DI SITUS BUKIT BULAN, SAROLANGUN, JAMBI Eric Pradana Putra; Karina Arifin
WalennaE Vol 20 No 1 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i1.525

Abstract

Recent research in Sumatra has succeeded in finding rock art in several caves and niches in the Bukit Bulan karst area, Sarolangun, Jambi. In this region, rock art with human motifs is present in many shapes and styles. This research discusses the variation of human motifs found in nine caves at the Bukit Bulan region through an analysis of the inherent attributes. Furthermore, the human motif were compared with similar motifs from West Sumatra and Lenggong Valley, Malaysia. The comparisons are made based on the consideration of the proximity of the locations and cultural backgrounds. In addition, the shape and color of the motifs of these three regions are relatively similar, leading to the supposition that the chronology of rock art with specific motifs of humans comes from the same period. This research concludes that the shape of human motifs in Bukit Bulan is more varied than human motifs in West Sumatra and Lenggong Valley. The relative chronologu based on the existence of motifs that are thought to have come from a younger period such as Arabic and Latin makes the assumption that the rock art in Bukit Bulan is not older. This condition is also found at sites in West Sumatra which are associated with Arabic and in the Lenggong Valley which have depictions of motifs from the modern period.      Penelitian terbaru di wilayah Sumatra berhasil menemukan gambar cadas pada beberapa gua dan ceruk di wilayah karst Bukit Bulan, Sarolangun, Jambi. Pada wilayah ini gambar cadas bermotif manusia cukup banyak ditemukan dalam bentuk dan gaya yang beragam. Penelitian ini membahas variasi motif manusia yang ditemukan pada sembilan gua di Situs Bukit Bulan melalui analisis atribut-atribut yang melekat. Selanjutnya, motif manusia dibandingkan dengan motif sejenis dari situs-situs di Sumatra Barat dan Lembah Lenggong, Malaysia. Perbandingan tersebut dilakukan atas pertimbangan kedekatan lokasi dan latar belakang budaya pada ketiga wilayah tersebut. Selain itu, bentuk dan warna motif juga relatif serupa, sehingga memunculkan dugaan bahwa kronologi gambar cadas dengan motif spesifik berupa manusia berasal dari masa yang sama. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa secara bentuk motif manusia di Bukit Bulan lebih variatif dibandingkan dengan di Sumatra Barat dan Lembah Lenggong. Kronologi relatif berdasarkan keberadaan motif yang diduga berasal dari masa yang lebih muda seperti tulisan arab dan latin menjadikan dugaan waktu pembuatan gambar cadas di Bukit Bulan tidak lebih tua. Kondisi tersebut ditemukan juga pada situs di Sumatra Barat yang berasosiasi dengan tulisan-tulisan arab serta situs di Lembah Lenggong yang memiliki penggambaran motif dari masa modern.
SIMBOL DAN MAKNA ADEGAN BERDERMA (DÂNA) PADA RELIEF KARMAWIBHANGGA CANDI BOROBUDUR Tsanaa Khenresta; Rani Chandra Oktaviani; Yonaz Salasa
WalennaE Vol 20 No 1 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i1.530

Abstract

This research focus on how to interpretate symbols & meanings of depiction the act of charity that appear on Candi Borobudur’s feets, called as relief of Karmawibhangga. Charity is one of the steps of useful actions, punnakiriyavatthu. Charity originated from Pali’s language, dana. Charity is one of basic positive activity that can be done by everyone, everywhere. This charity acts drawn at candi’s relief. The depiction of this charity acts shown major at the Karmawibhangga’s relief, at least 40 acts of this charity been carved. The distribution of this relief rely on the relief of Karmawibhangga, most widely shown at west – north’s side. The most of depiction the act of charity is food, then a container, something that is unidentified, clothes, jewelry, flower, and umbrella and charity is done by the nobleman, religionist, and common people     Penelitian ini berfokus kepada bagaimana intrepretasi simbol dan makna penggambaran adegan berderma yang ada pada kaki Candi Borobudur, relief Karmawibhangga. Analisis yang digunakan adalah teori semiotika dari Roland Barthes. Derma merupakan dasar tingkatan dalam tahapan tindakan bermanfaat, punnakiriyavatthu. Derma merupakan arti kata dana yang berasal dari bahasa Pali. Derma merupakan kegiatan mendasar positif yang bisa dilakukan oleh siapa dan dimana saja. Derma merupakan salah satu adegan yang digambarkan pada relief candi. Penggambaran adegan derma paling banyak ditemui pada relief Karmawibhangga, sebanyak 40 adegan derma dipahatkan. Sebaran relief derma pada relief Karmawibhangga paling banyak dijumpai pada sisi barat –utara. Derma yang paling banyak adalah derma pangan, wadah, sesuatu yang tidak teridentifikasi, sandang, perhiasan, bunga, dan payung. Pemberian derma ini dilakukan oleh ketiga golongan masyarakat yaitu para bangsawan, agamawan, juga orang biasa.
STASIUN KERETA API CIREBON PRUJAKAN DALAM TATA RUANG KOTA CIREBON PADA MASA KOLONIAL BELANDA (1897-1942) IWAN HERMAWAN
WalennaE Vol 20 No 1 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i1.695

Abstract

Cirebon Prujakan Station is one of the cultural heritage buildings in Cirebon City. This station was built NV. SCS to facilitate the Semarang – Cirebon train journey. This station has an important value in the economy of Cirebon and its surroundings, because it is part of the sugar trade traffic in Cirebon. The problem raised in this paper relates to the placement of the Cirebon Prujakan station as part of the Dutch colonial government's strategic policy in the field of rail transportation, especially in Cirebon. The method used in writing is descriptive analysis with a spatial approach. Data was collected through field surveys and literature review. Cirebon Prujakan Station was built by NV. SCS to facilitate the Semarang – Cirebon train journey. This station has a branch to the Port of Cirebon to facilitate the transportation of commodities to be sent by ship. Geographically, Cirebon Prujakan Station is in a strategic location because it is close to the center of government and is located at the rail transportation node that connects the northern route of Java Island.     Stasiun Cirebon Prujakan merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Cirebon. Stasiun ini dibangun NV. SCS untuk memfasilitasi perjalanan kereta api Semarang – Cirebon. Stasiun ini memiliki nilai penting dalam perekonomian Cirebon dan sekitarnya, karena menjadi bagian dari lalu lintas perdagangan Gula di Cirebon. Permasalahan yang diangkat pada tulisan ini berkenaan dengan penempatan stasiun Cirebon Prujakan sebagai bagian dari kebijakan stretegis pemerintah Kolonial Belanda di bidang angkutan kereta api, khususnya di Cirebon. Metode yang digunakan pada tulisan adalah deskriptif analisis dengan pendekatan keruangan. Pengumpulan data dilakukan melalui survey lapangan dan kajian pustaka. Stasiun Cirebon Prujakan dibangun oleh NV. SCS untuk memfasilitasi perjalanan kereta api Semarang – Cirebon. Stasiun ini memiliki percabangan ke Pelabuhan Cirebon untuk memfasilitasi pengangkutan komoditas yang akan dikirim melalui kapal laut. Secara geografis, Stasiun Cirebon Prujakan berada di lokasi strategis karena dekat dengan pusat pemerintahan dan berlokasi pada simpul transportasi kereta api yang menghubungkan jalur utara Pulau Jawa.  
IDENTIFIKASI TEMUAN FOSIL FAUNA DARI DESA TANJUNGAN, KECAMATAN KEMLAGI, KABUPATEN MOJOKERTO Firdaus Dimitra Arsyrahman; Delta Bayu Murti; Toetik Koesbardiati
WalennaE Vol 20 No 2 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i2.710

Abstract

Mojokerto is one of the important areas for paleoanthropological-archaeological studies in Indonesia. In the Mojokerto area, specifically in Perning Village, Homo erectus fossils were found, as well as vertebrate fauna fossils. In another area, namely in Sumberdadi Hamlet, Sumbersari Village, Dawar Blandong District, vertebrate fauna fossils were also found. In addition to these two areas, vertebrate fossils are also known to be found in Tanjungan Village, Kemlagi District, Mojokerto Regency. The purpose of this study is to identify the findings of fauna fossils from Tanjungan Village, Kemlagi District, Mojokerto, and then describe the habitat of the types of fauna fossils remains. The identification of the findings is based on the morphological characteristics seen in the fossil fragments. Five fauna species were obtained from the identification results, namely Bovidae, Stegodon sp., Carcharhinidae, Ostreidae, and Potamididae. These results provide an overview of the ancient environment of Tanjungan Village, in the forms of an original marine environment, a brackish-water environment, and ultimately a continental environment.   Mojokerto adalah salah satu wilayah penting untuk studi paleoantropologi-arkeologi di Indonesia. Di wilayah Mojokerto, tepatnya di Desa Perning, ditemukan fosil Homo erectus, selain juga fosil fauna vertebrata. Di area lain, yaitu di Dusun Sumberdadi, Desa Sumbersari, Kecamatan Dawar Blandong juga ditemukan fosil fauna vertebrata. Selain dua area tersebut, fosil vertebrata juga diketahui ditemukan di Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi temuan fosil fauna dari Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto, dan kemudian mendeskripsikan habitat dari jenis temuan fosil fauna tersebut. Identifikasi temuan didasarkan pada ciri morfologis yang tampak pada fragmen fosilnya. Hasil identifikasi memperoleh lima jenis fauna, yaitu Bovidae, Stegodon sp., Carcharhinidae, Ostreidae, dan Potamididae. Hasil tersebut tersebut memberikan gambaran lingkungan purba Desa Tanjungan berupa lingkungan laut, lingkungan air payau, dan lingkungan darat.
TOMBSTONES OF BUGIS BONE: THE ENCOUNTERING BETWEEN LOCAL CULTURE AND ISLAM Makmur Makmur; Nurul Adliyah Purnamasari; Hasanuddin; Muhammad Ramli; Muhlis Hadrawi; Bernadeta Apriastuti Kuswarini Wardaninggar; Ade Sahroni
WalennaE Vol 20 No 2 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i2.713

Abstract

Tombstone as a grave sign in acculturation between Islam dan Bugis Ethnic, is not only function as grave sign, but is also a medium for expressing culture. This research was carried out in Kabupaten Bone in 2021 with the aim of Bugis’ tombstone and cross-cultural on aspects of tombstone remains, in order to strengthen the value of diversity and pluralism of the Nation. The method used is qualitative research with the primary data source, namely archaeological data of ancient tombs. Archaeological data collection techniques are carried out by field surveys, which include the process of observing, classifying, describing in detail, measuring and shooting the findings in the form of Islamic tomb buildings. The results of the study found that the flattened tombstones typical of Bone which are conical / tapered consist of various shapes, there are mountains, trees, swords, and spearheads. The successful penetration of Islam was able to divert various local rituals and traditions into the Islamic burial system. Islam did not immediately blame various animistic practices and dynamism on the local Bugis Bone community, but was gently transferred in the form of a symbol system on the tombstones.     Nisan sebagai tanda kubur dalam Islam pada saat bertemu dengan etnis Bugis, tidak hanya sebatas sebagai tanda kubur, tetapi juga merupakan media untuk mengekspresikan kebudayaan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bone pada Tahun 2021 dengan tujuan untuk menemukan nisan khas Bugis dan silang budaya pada aspek tinggalan batu nisan, guna memperkukuh nilai kebinekaan dan pluralisme Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data primer yang digunakan yakni data arkeologi berupa nisan kuno. Teknik pengumpulan data arkeologi dilakukan dengan survei lapangan, yang didalamnya meliputi proses pengamatan, pengklasifikasian, pengambaran secara detail, pengukuran dan proses pemotretan temuan berupa bangunan makam Islam. Hasil penelitian menemukan bahwa nisan tipe pipih khas Bone yang berbentuk mengerucut/meruncing terdiri atas berbagai variasi bentuk, ada yang berupa gunung, pohon, pedang dan mata tombak. Keberhasilan penetrasi agama Islam mampu mengalihkan berbagai ritual dan tradisi lokal ke dalam sistem pemakaman Islam. Islam hadir tidak langsung menghilangkan berbagai praktek animisme dan dinamisme pada masyarakat lokal Bugis Bone, tetapi secara lembut dialihkan dalam bentuk sistem simbol pada nisan-nisan.
IDENTIFIKASI DAN INTERPRETASI LANJUTAN TEMUAN RANGKA MANUSIA SITUS LEANG JARIE (LJ-1), MAROS, SULAWESI SELATAN Fakhri; Delta Bayu Murti; David Bulbeck; Budianto Hakim; Khadijah Thahir Muda
WalennaE Vol 20 No 2 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i2.715

Abstract

This article aims to provide further interpretation of human skeleton from the Leang Jarie site (LJ-1), Maros, South Sulawesi. The context of this human skeleton comes from Neolithic period that associate with bone remains, faunal bones artefacts, lithic artefact, mollusk shells, pottery and ochre. Anatomical description, analysis and interpretation of individuals are a priority for comparisons with previous explorations. The updated biological aspects are based on sex, age at death, estimated height and the affiliation the of the individual. The method used physical anthropology and bioarchaeology to obtain more detailed observations of the osteology and biological aspects of the LJ-1 skeleton. The size of the LJ-1 mandible was compared with the average size of other modern humans in the Southeast Asian Archipelago and the Pacific region. The results show some changes to the initial distinctions that had been made. The individual’s height was between 157–166 cm, and he was a male with the estimated age at death of 30–49 years. Also relevant to the individual’s affiliation, the extant mandibular sockets reveal loss of the teeth before death (alveoloclasia). It is concluded that the LJ-1 individual belonged to a Neolithic society whose subsistence economy was characterized by the consumption of carbohydrates.     Artikel ini bertujuan memberikan interpretasi lanjutan terhadap rangka manusia dari situs Leang Jarie (LJ-1), Maros, Sulawesi Selatan. Konteks temuan rangka berasal dari masa Neolitik dengan asosiasi temuan berupa tulang sisa makanan, artefak tulang fauna, artefak batu, cangkang moluska, tembikar dan oker. Deskripsi anatomis, analisis dan interpretasi individu menjadi prioritas pembahasan dibandingkan penelitian identifikasi sebelumnya. Aspek biologis yang terbarukan antara lain peninjauan terhadap penentuan jenis kelamin, usia kematian, estimasi tinggi badan dan afiliasi individu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan osteologi dan aspek biologis temuan rangka LJ-1 secara detail dengan pendekatan antropologi ragawi dan bioarkeologi. Untuk ukuran mandibula LJ-1, dilakukan perbandingan dengan ukuran rata-rata mandibula manusia modern di kepulauan Asia Tenggara dan Wilayah Pasifik. Hasil identifikasi menunjukkan beberapa perbedaan dibandingkan dengan identifikasi awal yang telah dilakukan. Ukuran tinggi individu yaitu antara 157– 166 cm, berjenis kelamin laki-laki dengan estimasi kematian pada usia 30 – 49 tahun. Berhubungan dengan kondisi patologis LJ-1, soket mandibula yang tersisa menunjukkan hilangnya gigi sebelum kematian (alveoloklasia). Demikian juga disimpulkan bahwa LJ-1 adalah bagian dari masyarakat Neolitik yang ekonomi subsistensinya ditandai dengan pengkonsumsian kaya karbohidrat.
PEMUKIMAN SITUS BULO-BULO DI KABUPATEN SINJAI Hasliana; Muhammad Ikram; Muh. Awal Ramadhan; Masdar Rafiuddin; Khairun Al Anshari; Reski Wike Astria
WalennaE Vol 20 No 2 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i2.717

Abstract

The Bulo-Bulo Kingdom in Sinjai Regency is part of an alliance of three kingdoms called Tellu Limpoe including the Tondong, Lamatti and Bulo-Bulo Kingdoms. Archaeological remains of the Bulo-Bulo Kingdom are stone wells, mortars, dakon stones, pottery fragments, as well as porcelain and stoneware fragments, those can be found at the Bulo-Bulo Site, in the Area of Benteng, Alewanuae District, Sinjai Regency. This study aims to describe the history and the spatial arrangement of settlements, and also the factors that support the formation of residential areas in Situ Bulo-Bulo. Based on the results of surveys, interviews, literature studies and the approach of ecological and historical determinants used, it is known that the factors that influence the formation of settlements in Bulo-Bulo are the carrying capacity of the environment, religious, and political factors. The Bulo-Bulo site can be divided into several activity spaces: residential, religious, and agricultural.     Kerajaan Bulo-Bulo di Kabupaten Sinjai merupakan bagian dari persekutuan tiga kerajaan yang di sebut Tellu Limpoe meliputi Kerajaan Tondong, Lamatti dan Bulo-Bulo. Peninggalan arkeologis dari Kerajaan Bulo-Bulo berupa sebaran sumur batu, lumpang, batu dakon, fragmen tembikar, serta fragmen porselin dan stoneware, dapat kita temukan di Situs Bulo-Bulo, lingkungan Benteng, Kecamatan Alewanuae, Kabupaten Sinjai. Penelitian ini bertujuan menggambarkan latar historis, pengaturan ruang pemukiman beserta faktor- faktor yang mendukung terbentuknya wilayah pemukiman di Situ Bulo-Bulo. Berdasarkan hasil survei, wawancara, studi literatur serta pendekatan determinan ekologi dan historis yang digunakan diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya pemukiman di Bulo-Bulo yaitu adanya daya dukung lingkungan, faktor religi dan politik. Situs Bulo-Bulo dapat dibagi ke dalam beberapa ruang aktivitas yaitu ruang hunian, ruang religi, dan ruang pertanian.