cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
CASTING: A METHOD OF ARCHAEOLOGICAL DATA RECORDING IN SAVING THE NATIONAL CULTURAL HERITAGE HISTORY VALUES lenrawati lanrawati
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.402

Abstract

Casting sebutan lain dari penggandaan dalam dunia arkeologi. Casting diartikan sebagai upaya untuk merekam data yang ada pada suatu benda arkeologi secara akurat dalam bentuk tiga dimensi sehingga seluruh ukuran dan permukaan akan sama dengan benda aslinya. Pembuatan casting ini, dilakukan secara manual dengan melalui tiga tahapan. Tahapan pertama dilakukan pembuatan cetakan pola negatif, tahapan kedua dilakukan pembuatan cetakan positif, dan tahapan ketiga pendinginan serta pewarnaan. Berbicara mengenai casting, maka akan berfikir bagaimana teknik casting pada benda cagar budaya yang berukuran 0-7 cm dan berukuran kurang lebih 1 meter. Pembuatan casting benda-benda arkeologi bertujuan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tindakan penyelamatan, bahan pameran atau sebagai alat peraga pendidikan. Metode yang dilakukan di antaranya, pengumpulan data, pengelompokan data dan bereksperimen terhadap benda yang akan di casting. Pembuatan casting benda cagar budaya memiliki tahapan yang berbeda, tergantung tingkat kesulitan benda tersebut. Pembuatan casting termasuk upaya pendokumentasian dalam pekerjaan penyelamatan terhadap benda meskipun fisik bendanya sudah mulai rapuh atau rusak.   Casting, a method of recreating an archaeological object, is intended to accurately record the existing data on that object from three-dimensional perspective. It allows the exactly same display as that of the original object. Generally speaking, casting consists of three manual stages: negative mold preparation, positive mold making and cooling and colorong. The current study focuses on objects measuring 0-7 cm and less than 1 meter. Making archaeological objects casting aims for the benefit of science, a heritage rescue, exhibition material or as educational aids. The methods employed in this research are data collection, data classification and actual experimenting on casting. The study indicates that casting has a wide range of processes, depending on the level of difficulty. Making casting is also an effort to recording in a work of saving objects even though the object has begun to become fragile or damaged.
MAHENDRADATTA: HER ROLES BASED ON ARCHEOLOGICAL INSCRIPTIONS VIEWED FROM FEMINISM APPROACH Muhamad Alnoza
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.419

Abstract

Berkaitan dengan penelitian yang kerap dilakukan dalam kajian epigrafi, masa Hindu-Buddha menjadi masa yang seringkali dijadikan bahan kajian para ahli epigrafi. Salah satu masa dalam Hindu-Buddha yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah masa Dinasti Isana di Jawa Timur. Selama kekuasaan Dinasti Isana, raja-raja yang berkuasa banyak melakukan inisiasi hubungan diplomasi dengan kerajaan asing. Pembinaan hubungan dengan bangsa asing yang dilakukukan Dinasti Isana sebelum Airlangga berkuasa juga rupanya diikuti pula dengan pembinaan hubungan politik dengan kerajaan Nusantara, yaitu Kerajaan Bali yang dikuasai oleh Dinasti Warmadewa. Mahendradatt? sebagai perempuan berkuasa yang hidup dalam pusaran politik kerajaan Isana (Jawa) dan Bali, telah meninggalkan beberapa tinggalan berupa prasasti-prasasti baik di Jawa maupun di Bali. Prasasti yang ditinggalkan memunculkan suatu pertanyaan mengenai apa peranan dari seorang perempuan berkuasa seperti Mahendradatt? dalam menjalankan hubungan politik antara Jawa dan Bali berdasarkan data prasasti? Metode yang digunakan dalam  menjawab pertanyaan tersebut terdiri dari beberapa tahapan, antara lain tahap formulasi, pengumpulan data, analisis dan interpretasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa prasasti, diantaranya Prasasti Pucangan Sansekerta (Jawa), Buahan  A, Serai A II, Batur Abang A, Sading A dan Bebetin A2. Kesemuanya kemudian di analisis melalui deskripsi isi prasasti. Isi prasasti kemudian diinterpretasi dengan landasan teori arkeologi feminisme.   Inscription is a source of writing that is often used by archaeologist to reconstruct past cultures. The study of inscriptions is called epigraphy. The Hindu-Budhist period is one of the periods in which epigraphy is practiced. The current study is focused on the 10th and 11th centuries Isana Kingdom of East Java. In the 10th and 11th centuries, the kingdom had diplomatic relations with several other kingdoms, one of which was with Bali. Mahedradatta as a powerful woman who lived in the political vortex of the Isana Kingdom (Java) was a figure who helped foster diplomatic relations through marriage to King Udayana. The inscription issued by Mahedradatta begs the question of how powerful this woman was in the context of Javanese and Balinese ties. The method used is the archaeological observations, including data collection, analysis and interpretation. The data used in this study include Sanskrit Pucangan Inscription (Java), Bwahan A, Batur Pura Abang A, Sading A and Bebetin A2. The contents of the inscription were the interpreted based on feminism approach. The variables employed cover gender and ethnicity of Mahendratta.
PENERAPAN MANASARA-SILPASASTRA SEBAGAI FAKTOR YANG MEMENGARUHI PEMILIHAN LETAK PETIRTAAN DEREKAN DALAM KOMPLEKS CANDI NGEMPON, SEMARANG, JAWA TENGAH Abednego Andhana Prakosajaya; Hot Marangkup Tumpal Sianipar; Rizal Hendra Pratama
WalennaE Vol 19 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v19i1.424

Abstract

Terdapat beberapa petirtaan di Jawa Tengah yang merupakan bagian integral dari sebuah candi. Fenomena ini dapat dilihat pada tata ruang Candi Ngempon yang terletak tidak jauh dari Petirtaan Derekan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kitab Manasara-Silpasastra yang memengaruhi tata letak petirtaan dengan suatu candi sebagai satu bagian integral. Penelitian ini dilakukan dengan analisis data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka dan wawancara. Data sekunder tersebut kemudian menjadi dasar dilakukannya crosscheck dengan melakukan pengamatan lapangan. Dari metode tersebut diperoleh kesimpulan bahwa tata ruang Pechaka dalam Manasara[1]Silpasastra diduga menjadi dasar pemilihan letak Candi Ngempon yang berada di sisi timur laut Petirtaan Derekan sehingga menunjukan adanya penerapan kitab Manasara-Silpasastra dalam kasus ini   There are several petirtaans or bathing structures in Central Java that become an integral part of a temple complex. Such a phenomenon can be seen in the layout of Ngempon Temple and Petirtaan Derekan which are located close to each other. This research aims to analyze the implementation of the book of Manasara-Silpasastra in the layout of Petirtaan Derekan and Ngempon Temple as an integrated whole. The research was carried out by analyzing secondary data obtained from a literature review and interviews. The secondary data were corroborated with data obtained from field observations. Results of the analysis indicate that the layout of Pechaka in Manasara-Silpasastra might become the basis for the positioning of Ngempon Temple at the northeast of Petirtaan Derekan. This shows that the book of Manasara-Silpasastra might be implemented in the layout of the complex of Ngempon temple.
EKSISTENSI CANDI BOJONGMENJE: RUNTUHNYA KERAJAAN TARUMANEGARA DAN BERDIRINYA KERAJAAN SUNDA (ABAD VIII-X M) Anas Anwar Nasirin; Dade Mahzuni
WalennaE Vol 19 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v19i1.426

Abstract

Candi Bojongmenje merupakan salah satu artefak sejarah Jawa Barat. Publikasi seputar Candi Bojongmenje tidak banyak dibandingkan candi-candi lainnya di Pulau Jawa karena literatur yang membahas candi ini masih sedikit. Candi Bojongmenje ditemukan pada 2002 di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Rancaekek, Kabupaten Bandung. Keberadaan candi ini diketahui sejak abad VIII M terkait erat dengan keruntuhan Kerajaan Tarumanegara dan berdirinya Kerajaan Sunda. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji eksistensi Candi Bojongmenje sejak abad VIII M pasca runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pada abad VII M dan berdirinya Kerajaan Sunda Abad X M. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, dimana penulis melakukan proses Heuristik, Kritik, Interpretasi dan menyajikan hasil penelitian dalam bentuk Historiografi. Hasil penelitian membuktikan, keberadaan Candi Batujaya sejak abad VII M menjadi bukti runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pasca penyerbuan Jayasana dari Kerajaan Sriwijaya dan sempat eksisnya kebudayaan Budha di tanah Sunda. Keberadaan Candi Bojongmenje sejak abad VIII M menjadi bukti masih eksisnya kebudayaan Tarumanegara di daerah pedalaman pasca penyerbuan Sriwijaya yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Sunda pada abad X M.   Bojongmenje Temple is one of the artefacts of west Java history. The publication of Bojongmenje Temple is not much compared to other temples in Java Island because the literature that discusses this temple is still small. Bojongmenje Temple was found in 2002 in Kampung Bojongmenje Cangkuang Village, Rancaekek, Bandung Regency. The existence of this temple is closely related to the collapse of tarumanegara kingdom in the VIIth century AD and the establishment of sunda kingdom in the X century M. The purpose of this research is to examine the cause of the construction of Bojongmenje Temple in the 8th century AD after the collapse of tarumanegara kingdom in the VII century AD and then the establishment of sunda kingdom in century X M. This research uses historical methods, where the author conducts heuristic process, criticism, interpretation and presents the results of this study in the form of Historiography. The results prove, the existence of Batujaya Temple in the 7th century AD became the cause of the collapse of tarumanegara kingdom after the invasion of Jayasana from Srivijaya Kingdom and the existence of Buddhist culture in sundanese land. Keberadaan Bojongmenje Temple in the 8th century AD became evidence of the existence of Tarumanegara culture in the hinterland after the invasion of Srivijaya which became the forerunner of the establishment of the Sunda Kingdom in the X century AD.
Laporan Ekskavasi Terhadap Situs Bomboro: Situs Tambang Rijang di Lembah Bomboro, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan Yinika Lotus Perston; Adam Brumm; Sandy Suseno; Budianto Hakim; Suryatman
WalennaE Vol 19 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v19i1.428

Abstract

Wilayah karst Maros-Pangkep berisi banyak situs arkeologi Holosen dan Late-Pleistocene, banyak di antaranya berisi kumpulan artefak yang didominasi oleh artefak rijang. Namun dimikian, belum ada sumber untuk bahan baku yang telah diidentifikasi. Sementara batuan dasar kapur yang melimpah kadang-kadang berisi kantong dan lapisan nodul rijang, singkapan ini menunjukkan sedikit bukti untuk eksploitasi atau tambangan prasejarah, dan kecil kemungkinan rijang diperoleh dari anak sungai atau sungai. Situs Bomboro dipilih untuk penggalian karena permukaan tanahnya yang kaya dengan artefak batu termasuk serpihan, batu inti, dan tatal. Rijangnya mungkin telah ditambang dari nodul yang keluar dari batu gamping lokal di Lembah Bomboro. Sampai sekarang, situs ini merupakan tambang batu kuno pertama yang diidentifikasi di wilayah tersebut. Sementara tambang terbuka tidak ada duanya, itu mungkin berfungsi sebagai sumber rijang selama periode Toalean, sekitar 2-8 ribu tahun yang lalu.   The Maros-Pangkep region contains numerous archaeological sites dating from the Holocene and Late-Pleistocene, many of which contain artefact assemblages dominated by flaked chert artefacts. However, no sources for this raw material have yet been identified. While the abundant limestone bedrock contains occasional pockets and seams of chert nodules, these outcrops show little evidence for prehistoric exploitation or quarrying, and it is unlikely the chert was acquired from streambeds. The Bomboro site was selected for excavation as the ground surface is rich in chert stone artefacts including flakes, cores, and debris. Theis chert was likely quarried from the local nodules outcropping from the surrounding limestone bedrock in the Bomboro Valley, and this report describes the excavation of the first ancient stone quarry site to be identified in the region. While the open quarry was undateable, it may have served as a chert source during the Toalean period, around 2-8 thousand years ago.
KONTRIBUSI DATA BARU PULAU-PULAU KECIL PERAIRAN UTARA JAWA DALAM ARKEOLOGI PRASEJARAH INDONESIA Alifah Alifah
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.430

Abstract

Sejauh ini penelitian arkeologi prasejarah di pulau kecil banyak dilakukan di wilayah Wallacea. Penelitian tersebut menghasilkan banyak pengetahuan yang berkaitan dengan tema migrasi dan perkembangan budaya. Sementara penelitian sejenis di wilayah lain seperti pulau-pulau kecil di utara Jawa belum banyak dilakukan. Secara geokronologis pulau-pulau di perairan utara Jawa telah terpisah dengan Jawa setidaknya sejak awal Holosen dan secara budaya memiliki keragaman yang berbeda pula. Tulisan ini berupaya menyajikan hasil penelitian terbaru di Pulau Madura, Bawean dan Kangean serta berupaya untuk menempatkan data tersebut dalam konteks arkeologi prasejarah di Indonesia. Data yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan tahun 2018 dan 2019 (data primer) dan studi pustaka (data sekunder) untuk memperoleh gambaran arkeologi prasejarah Indonesia di pulau tersebut. Temuan sisa manusia dan budayanya di Pulau Kangean secara kronologis dan teknologis dapat dimasukkan dalam konteks budaya preneolitik. Demikian juga temuan budaya lainya di Pulau Madura dan Bawean. Informasi ini membuka perpektif baru mengenai sebaran tinggalan bukti kehidupan masa prasejarah di perairan utara Jawa baik sebagai tempat transit maupun sebagai lokasi tujuan utama dalam proses migrasi   So far prehistoric archeological research on small islands has exclusively been carried out in the Wallacea region. The research yielded a lot of knowledge related migration and cultural development. While similar research in other areas such as small islands in northern Java has not been explored much yet. This is because of the view that the condition of the islands is considered to be the same as that of Java. The islands were geochronologically separated from Java at least since the beginning of the Holocene and culturally different. This paper attempts to present the results of the latest research on Kangean Island as one of the small islands in northern Java and seeks to position the data in the context of prehistoric archaeology in Indonesia. The data used in this paper come from the results of a recent research conducted in 2018 and 2019 (primary data) and literature studies (secondary data) to obtain an archaeological picture of Indonesian prehistory. The chronological and technological findings of human remains and culture at the Kangean Arca Cave site can be included in the pre-Neolithic cultural context, as well as the remains at Madura and Bawean Island. The new information adds to the picture of prehistoric life in Indonesia.
MENGIDENTIFIKASI JEJAK HINDU KUNO DI KAWASAN MENARA KUDUS JAWA TENGAH Moh Rosyid
WalennaE Vol 19 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v19i1.432

Abstract

Tujuan ditulisnya artikel ini untuk mengidentifikasi jejak Hindu Kuno di Kawasan Menara Kudus Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah deskriptif analitik yakni cara mendeskripsikan dan menganalisa data berupa bangunan kuno berupa Menara Masjid Al-Aqsha, Makara/Kalla, dan dua gapura (kori) di Masjid al-Aqsha. Riset ini mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasi data berdasarkan observasi danliteratur. Hasilnya,kondisi benda cagar budaya yang menyerupai peninggalan Hindu di Kawasan Menara Kudus(1) Menara hasil renovasi erakolonial tahun 1880, 1913, 1933, dan oleh BPCB Jawa Tengah tahun 1980, 2011, 2013, dan 2014.Kondisinya kini tidak lagi asli karya masa lalu tapi bentuknya tetap utuh, 80 persen hasil renovasi BPCB Jawa Tengah akibat Menara mengalami kerusakan diterpa hujan, cuaca/iklim/angin, dan getaran akibat pengguna jalan di depan Menara yakni mobil dan sepeda motor.Rekomendasi BPCB Jawa Tengah sejak tahun 2018 mobil umum dilarang melintas jalan di depan Menara oleh Pemda Kudus hingga kini, (2) dua gapura (kori) di serambi dan di dalam Masjid Menara Kudus kondisinya baik dan utuh, dan (3) kala/makara posisinya ada di tempat wudlu.Untuk merawat kesinambungan Kawasan Kauman Menara Kudus agar lestari, Pemda Kudus perlu mencanangkannya sebagai kota pusaka.   This article identifying the Kuno Hindu Trail in Region Kudus Minaret Central Java. This research data were descriptive analysis a by interview, participatory observation, and literature review. Data collection was analyzed using a qualitative descriptive approach. Data collection was observationand literature. Research result, condition culture reserve relic Hindu in Kudus Minaret (1) minaret, renovation colonial era in the year of 1880, 1913, 1933 and BPCB Central Java 0f 1980, 2911, 2013, and 2014. The condition is now not original after renovation although the shape is still intact. The minaret is damaged because get rained on, weather, vibration due to the car. The recomanded BPCB until 2018 the car prohibited from passing in front of minaret, (2) two gate (kori) in the masque al-Aqsha good condition and intact, (3) kala/makara in ablution place. To preserve holy government Kudus need to schedule the city heritage.
GEOLOGI DAN SUMBER BAHAN BATUAN SITUS CANDI SIRIH, KABUPATEN SUKOHARJO, PROVINSI JAWA TENGAH Fadhlan Syuaib Intan
WalennaE Vol 19 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v19i1.436

Abstract

Candi Sirih merupakan tinggalan budaya dari masa Hindu-Buddha, yang masih cukup lengkap yang terbuat dari batuan tufa, sehingga dianggap sebagai candi yang tidak umum di Pulau Jawa karena menggunakan batuan yang bukan andesit. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan pada penelitian ini, yang mencakup bahan batuan candi dan kondisi geologi secara umum. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah pemetaan geologi untuk mengetahui gambaran keadaan lingkungan alam yang mencakup morfologi, litologi, struktur geologi, dan menentukan lokasi pengambilan sumber bahan batuan untuk pembangunan candi. Metode penelitian diawali dengan kajian pustaka, survei, dan dilanjutkan dengan analisis petrologi, dan interpretasi data. Hasil pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang bentang alam yang termasuk pada satuan morfologi dataran, dan satuan morfologi bergelombang lemah. Pola pengeringan permukaan dendritik, radial, dan rektangular, stadia sungai dewasa-tua, dan sungai periodik/permanen. Batuan penyusun adalah aluvial, dan satuan batuan tufa serta struktur geologi berupa sesar normal. Penentuan lokasi bahan batuan tufa (kasar. halus, berlapis) dan serpih untuk pembangungan Candi Sirih berasal dari lingkungan sekitarnya dalam radius 3,5 kilometer bujursangkar.   Sirih Temple is a cultural heritage from the Hindu-Buddhist era, which is still quite complete, made of tufa rock, so it is considered an unusual temple in Java because it uses non-andesite rocks. This is the main problem in this study, which includes the material of the temple rock and geological conditions in general. The purpose and objective of this research is geological mapping to determine the description of the state of the natural environment which includes morphology, lithology, geological structure, and determining the location of the source of rock material for the construction of the temple. The research method begins with a literature review, survey, and is followed by petrological analysis and data interpretation. The results of environmental observations provide information about the landscape that is included in the morphological units of the plains, and the weak wavy morphological units. Drying patterns of dendritic, radial, and rectangular surfaces, mature-old river stage, and periodic/permanent river. The constituent rocks are alluvial, and the tuff rock units and the geological structure are normal faults. The location of the tuff (coarse, fine, layered) and shale materials for the Sirih Temple construction came from the surrounding environment in a radius of 3.5 square kilometers.
Biografi Lanskap Pusat Kerajaan Bone Muhammad Irfan Mahmud; Nur Ihsan Djindar; Fardi Ali Syahdar; Nasihin; Budianto Hakim; Syahruddin Mansyur; Andi Muhammad Saiful; Ade Sahroni
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.437

Abstract

Bone merupakan salah satu situs pusat kerajaan Bugis yang menarik diungkap biografi lanskapnya, dari unit-unit kampung kecil tradisional (abad ke-14 M) hingga mencapai bentuk kota kolonial pada awal abad ke-20. Penelitian ini secara spasial berfokus pada situs dalam wilayah keruangan Kota Watampone dengan menggunakan metode pendekatan biografi lanskap. Metode penelitian melalui tahapan: (1) rekonstruksi sejarah dan arkeologi; (2) dokumentasi ingatan kolektif; dan (3) narasi biografi lanskap. Hasil penelitian menemukan 9 lapisan biografis secara vertikal. Dari jumlah lapisan biografis tersebut, memori kolektif warga kota hanya terkait Bola Soba sebagai ikon arsitektur serta 4 lapisan biografi peradaban terkait legacy tokoh, yaitu Kawerang (situs Manurunge), Macege, serta Tanah Bangkala dan Taman Arung Palakka (periode lanskap tanpa istana). Perubahan lanskap sangat dipengaruhi perubahan lokasi istana, mengikuti ruang hunian penguasa terpilih. Lanskap tidak saja menunjukkan biografi periodic ruang, tetapi juga identitas dan ‘legacy’ tokoh pada setiap lapisan peradaban.
JARINGAN BUDAYA KERAJAAN SOPPENG PERIODE ISLAM BERDASARKAN DATA KUBUR JERA LOMPOE Muhammad Nur; Yusriana Yusriana; Akin Duli; Khadijah Tahir Muda; Rosmawati Rosmawati; Andi M. Akhmar; Syahruddin Mansyur; Chalid A.S.; Asmunandar Asmunandar
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.493

Abstract

Jaringan budaya kerajaan Soppeng pra-Islam telah dibahas oleh beberapa peneliti sehingga kita memiliki gambaran yang luas tentang periode tersebut. Pada periode Islam, pemahaman kita tentang jaringan budaya kerajaan Soppeng masih terbatas, terutama dalam perspektif arkeologi. Artikel ini akan fokus pada diskusi tentang jaringan budaya kerajaan Soppeng berdasarkan data kubur Jera Lompoe, dengan titik berat analisis pada nisan kubur. Data sekunder berupa hasil kajian sejarah akan mendukung analisis arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada lima informasi tentang jaringan budaya kerajaan Soppeng abad ke-17 hingga abad ke-19, yaitu: (a) nisan Aceh tipe K, (b) nisan tipe hulu keris dan mahkota, (c) nisan tipe pedang, (d) makam duta kerajaan Sidenreng dan Pajung Luwu, dan (e) makam We Adang, istri salah seorang Raja Bone. Luasnya jaringan budaya kerajaan Soppeng pada abad ke-17 hingga ke-19 menjadi petunjuk tentang peran pentingnya dalam historiografi Sulawesi Selatan dan keikutsertaannya dalam trend penggunaan nisan kubur se-Nusantara.