cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
KARAKTERISTIK SPASIAL TEMPORAL KONDISI OSEANOGRAFI LAUT BANDA DAN HUBUNGANNYA DENGAN POTENSI SUMBERDAYA PERIKANAN Adi Wijaya; Bayu Priyono; Nadya Christa Mahdalena
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 2 (2018): JFMR VOL 2 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2492.174 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.02.4

Abstract

The Banda Sea is an area of water with a high potential in the field of fisheries. The condition is indicated by high fishing season. This paper aims to examine the relationship between physical oceanographic conditions with tuna, tuna and skipjack catch landed at the Ambon Fishing Port (PPN) of Ambon in 2015. The data used are monthly average monthly data of INDESO model of the model which includes temperature, salinity and current with 1/12-degree spatial resolution. Based on data of tuna fish caught at temperature range 16-18 0C, salinity 34-34,5 PSU, current 0,1-0,05 m/s at >200 m deep; tuna fish caught at temperature range 20-22 0C, salinity 34-34,5 PSU, current 0,1-0,05 m/s at depth <100 m; and skipjack caught at temperature range 29,5-31 0C, salinity 31-33 PSU, current 0,15-0,30 m/s at depth <100 m. The results showed that the conditions of temperature, salinity and current vertically in the Banda Sea at depths of <100 and >200 m, showed an increase in a catch during the transition period II (September-November) and the west season, while in the transition season I (March-May) and the east has decreased.
DISTRIBUSI HABITAT PAKAN DUGONG, DAN ANCAMANNYA DI PULAU – PULAU KECIL INDONESIA Citra Satrya Utama Dewi; Mr. Sukandar; Beginer Subhan; Dondy Arafat
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 2 (2018): JFMR VOL 2 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.423 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.02.9

Abstract

Dugong merupakan mamalia laut yang termasuk dalam ordo Sirenia, dan tergolong organisme langka yang tercatat dalam IUCN.  Rendahnya populasi dugong disebabkan oleh faktor biologi reproduksinya, perburuan oleh manusia, dan kerusakan habitatnya.  Dugong diketahui memiliki pola makan sebagai herbivora, dan menghabiskan waktu untuk aktivitas makan di padang lamun.  Penelitian terdahulu terhadap isi perut dugong di Indonesia menyebutkan bahwa, 90% perut dugong berisi daun lamun jenis Thalassia hemprichii, Halodule sp., Halophila sp., dan Cymodocea sp., sementara sisanya adalah rumput laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi padang lamun sebagai habitat pakan dugong, dan ancamannya di Indonesia.  Penelitian ini dilakukan sepanjang Tahun 2012, di 15 pulau kecil wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi transek garis (Line Intercept Transect-LIT) dan transek kuadrat di setiap stasiun ditemukannya padang lamun.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamun jenis Thalassia hemprichii, Halodule sp., Halophila sp., dan Cymodocea sp. ditemukan di seluruh stasiun pengamatan.  Keempat jenis lamun tersebut ditemukan membentuk padang lamun monospesies maupun heterospesies, dengan kondisi kualitas perairan yang relatif baik untuk tumbuh dan berkembang biak.  Padang lamun sebagai habitat pakan dugong yang ditemukan  selama penelitian di 15 pulau kecil diketahui memiliki ancaman lingkungan beragam, antara lain proses sedimentasi dan konversi lahan oleh manusia. 
KARAKTERISTIK HABITAT DAN KELIMPAHAN UNDUR-UNDUR LAUT (HIPPOIDEA) DI PANTAI PURWOREJO oki trian Nugraha; Miss Suryanti; Siti Rudyanti
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 2 (2018): JFMR VOL 2 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.02.2

Abstract

Undur-undur laut atau kepiting pasir merupakan hewan bentik dari superfamili Hippoidea yang hidup di pantai berpasir. Persebaran Undur-undur laut di Indonesia terutama di pantai selatan Jawa berpotensi ditemukan di pantai pesisir Purworejo. Undur-undur laut memiliki manfaat ekonomis dan peranan ekologis pada ekosistem pantai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik habitat dan kelimpahan Undur-undur laut di pantai Purworejo serta untuk mengetahui hubungan variabel karakteristik habitat dengan kelimpahan Undur-undur laut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2017 di pantai Jatimalang, pantai Malang dan pantai Ketawang kabupaten Purworejo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat deskriptif. Pengambilan data karakteristik habitat (kemiringan pantai,lebar swash zone, warna sedimen, bahan organik sedimen, ukuran butir sedimen, variabel umum) dan kelimpahan Undur-undur laut dilakukan dengan menggunakan tiga line transek sepanjang 10x10 meter ke arah laut. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik pantai yang dihuni Undur-undur laut di pantai Purworejo memiliki tipe landai, lebar swash zone sebesar 12 – 23 meter, warna substrat pasir berwarna hitam sampai hitam keabu-abuan, bahan organik sedimen tergolong sangat rendah dan memiliki ukuran rerata butir sedimen  di dominasi oleh pasir halus dan pasir sedang (0,5 – 1mm). Jenis Undur-undur laut yang ditemukan di pantai Purworejo yaitu Emerita emeritus, Hippa adactyla dan Albunea symmysta, dengan kelimpahan 32 - 51 ekor/100 . Hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa ukuran rerata butir sedimen memiliki hubungan linier negatif dengan kelimpahan Undur-undur laut, artinya semakin bertambahnya ukuran rerata butir sedimen akan berbanding terbalik dengan kelimpahan Undur-undur laut.
Comparison of interpolation methods for sea surface temperature data Denny Wijaya Kusuma; Ari Murdimanto; Bambang Sukresno; Dinarika Jatisworo
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 2 (2018): JFMR VOL 2 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1560.952 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.02.7

Abstract

Interpolation methods have been used in many applications to produce continuous surface data based on point data. The common interpolation methods for Sea Surface Temperature (SST) data are Inverse Distance Weighted (IDW), Kriging, Natural Neighbor Interpolation (NNI), and Spline. In this study, those four interpolation methods will be reviewed and compared to find the satisfactory method. The Argo float data was chosen as SST point data and Aqua MODIS image as validation data. Each method will be reviewed and compared to Aqua MODIS data to find the best performance. The assessment for testing the best interpolation model is smooth performance, Maximum and Minimum comparison, mean comparison, Root Mean Square Error (RMSE) and Standard Deviation Difference. The result shows that IDW interpolation is the best way to make spatial interpolation for SST.
POLA PERTUMBUHAN, NISBAH KELAMIN, FAKTOR KONDISI, DAN STRUKTUR UKURAN IKAN SELAR, Selar boops (Cuvier, 1833) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN SEKITAR BITUNG Rudi Saranga; Daduk Setyohadi; Muh Zainul Arifin; Dewa G.R. Wiadnya; Endang Y Herawati
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 2 (2018): JFMR VOL 2 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.766 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.02.5

Abstract

Abstrak  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan, nisbah kelamin, faktor kondisi, dan struktur ukuran ikan S. boops yang tertangkap di perairan sekitar Bitung. Penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung pada bulan Februari-Juli 2016. Sampling ikan S. boops yang dianalisis berjumlah 846 ekor terdiri dari 430 ekor (50,83%) jantan, 357 ekor (42,20%) betina serta 59 ekor (6,97%) yang tidak teridentifikasi. Kisaran panjang cagak (FL) antara 8,60-23,60 cm (rerata 16,45 ± 3,34 cm) dan bobot tubuh berkisar 10,00-257,50 g (rerata 91,71 ± 56,07 g). Hubungan panjang bobot ikan S. boops keseluruhan W=0,0115 FL3,1596 (R2 = 0,9902) dengan pola pertumbuhan allometrik positif (b>3). Persamaan hubungan panjang bobot ikan S. boops jantan dan betina masing-masing adalah W=0,0105 FL3,1922 dan W=0,0107 FL3,1816 dengan pola pertumbuhan yang sama, yakni allometrik positif (b>3). Rasio kelamin S. boops jantan dan betina dalam kondisi seimbang. Kisaran faktor kondisi relatif (Kn) ikan jantan 0,7549-1,1782 (rerata 1,0018 ± 0,0596) dan ikan betina 0,6353-1,2529 (rerata 1,0024 + 0,0692) yang menunjukkan tubuh ikan kurang pipih. Sebaran frekuensi panjang ikan S. boops jantan didominasi pada interval kelas panjang 20,0–21,0 cm dan ikan betina pada interval kelas panjang 14,0-15,0 cm..Keywords: faktor kondisi, nisbah kelamin, pola pertumbuhan, Selar boops, struktur ukuran ikan Abstract   This research aims to find the growth pattern, sex ratio, condition factor and size structure of S. boops caught from Bitung waters area. This research was conducted between February 2016 and July 2016, sampling location at Bitung Oceanic Fishing  Port. 846 of S. boops samples fish were analised consist 430 of male (50,83%), 357 of female (42,205) and 59 un-identified (6,97%) with 8,60-23,60 cm ranges of fork length (mean 16,45 ± 3,34 cm) and 10,00-257,50 g ranges of body weight (mean 91,71 ± 56,07 g). Common equation of length-weight relationship was W=0,0115 FL3,1596 (R2 = 0,9902) with positive allometric (b>3). Equations of length-weight relationship was W=0,0105 FL3,1922 for male, while female was W=0,0107 FL3,1816 with positive allometric (b>3). Sex ratio of male and female were constant. Relative condition factor (Kn) of male was 0,7549-1,1782 (rerata 1,0018 ± 0,0596), while female was 0,6353-1,2529 (rerata 1,0024 + 0,0692), in other words that the body of S. boops was fusiform. The length frequency distribution for male S. boops was 20,0–21,0 cm and female was 14,0-15,0. Keywords: condition factor, sex ratio, growth pattern, Selar boops, fish size structure 
THE EFFECTIVITY OF RAW EXTRACT GUAVA LEAF IMMUNOSTIMULANT (Psidium guajava) ON LIVER HISTOPATHOLOGY OF PATIN (Pangasius sp.) TESTED THE CHALLENGE Aeromonas hydrophila BACTERIA Ihsan Sanggar Rahman; Mr. Maftuch; Ellana Sanoesi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 2 (2018): JFMR VOL 2 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8433.607 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.02.1

Abstract

The purpose of this study described the influence and the dose of guava leaf raw extract (P. guajava) as an immunostimulant towards liver histotapologi Patin (Pangasius sp.) Challenge tested A. hydrophila bacteria. This study uses a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. The treatments used was of guava leaf extract doses A dose of 2% (2.4 g / 120 g), and 4% (4.8 g / 120 g), C 6% (7.2 g / 120 g) and K without a guava leaf extract and tested bacteria A. hydrophila challenge. Based on the results obtained in the study of liver histopathology Patin (Pangasius sp.), there was damage Inflammation and necrosis of the liver tissue in order from the most severe damage to the least obtained at treatment K (0%) 3,07, A ( 2%) 2.53, B (4%) of 2.33, and the best treatment is C (6%) with an average damage of 1.67. Necrosis of liver tissue damage in a sequence of severe damage to the least, namely the treatment of K (0%) 2,67, A (2%) 2.33, B (4%) 2.20, and C (6%) 1,53. Lowest average gained in treatment C (6%). The results showed that the dose can reduce the level of tissue damage that was at a dose of 6% (7.2 g / 120 g). The best dose is 6% (7.2 g / 120 g), which can reduce the level of damage indicate the level of tissue damage smaller percentage of damage 6-25%.
Distribution of anchovy length size using puring net in Pulolampes Waters, Brebes Regency of Central Java suparman sasmita; Neneng Pebruwanti; Ika Fitriani
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 2 (2018): JFMR VOL 2 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.547 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.02.6

Abstract

Penangkapan Ikan Teri (Stolephorus sp.) di Perairan Pulolampes, Brebes umumnya ditangkap menggunakan jaring puring, dimana jaring lingkar berbahan utama waring.  Distribusi ukuran ikan teri berguna untuk mengetahui sebaran ukuran ikan teri dan estimasi laju pertumbuhan spesies dari ikan teri. Hal ini berguna untuk manajemen populasi dan sebagai informasi tentang stok atau kondisi organisme. Disamping itu, sebagai dasar dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan ikan teri di masa akan datang. Penelitian ini bertujuan menganalisa komposisi sumber daya yang ditekankan pada keragaan struktur hasil tangkapan dan ukuran dan pola pertumbuhan ikan teri hasil tangkapan jaring lingkar teri. Data ikan teri didapatkan pada bulan Maret hingga April dan Juli hingga Agustus 2017. Hasil penelitian diperoleh ikan teri yang terpanjang adalah 91 mcm, dengan beratnya adalah 6,5 g, sedangkan ukuran yang terpendek adalah 29,8 mm, dengan beratnya adalah 2 gram dan modus ukuran 62,9 mm.Penangkapan ikan teri pada bulan Agustus 2017 lebih layak tangkap dibandingkan pada bulan April dan Mei 2017. Hasil perhitungan panjang dan berat tubuh ikan dengan menggunakan rumus maka diperoleh hasil di lokasi Perairan Pulolampes diperoleh b = 1,041. Dari hasil perhitungan menunjukan nilai b berada dibawah 3 menunjukkan pola pertumbuhan ikan teri di Perairan Pulolampes, Brebes bersifat allometrik negatif. Pertumbuhan ikan teri allometrik negatif, dimana pertumbuhan panjang tubuh lebih dominan dibanding pertambahan bobot. Keadaan ini mengindikasikan bahwa kondisi lingkungan Perairan Pulolampes Brebes cocok untuk pertumbuhan ikan teri dan masih aman dari tekanan aktivitas penangkapan
PENERAPAN MODEL REGRESI KUANTIL UNTUK MENGANALISIS HUBUNGAN PANJANG-BERAT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI KOLAM IBAT PUNTEN, BATU Evellin Dewi Lusiana; Muhammad Musa; Syahril Ramadhan
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.719 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.4

Abstract

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang banyak digemari dan bersifat potensial dalam proses budidaya. Permintaan terhadap komoditas ini selalu meningkat, sehingga menjadi kesempatan bagi para pembudidaya untuk meningkatkan hasil produksi. Kondisi lingkungan perairan berperan penting dalam kelancaran proses budidaya ikan. Adapun salah satu cara yang bisa digunakan untuk menilai kondisi lingkungan perairan adalah melalui analisis hubungan panjang-berat. Hasil dari analisis hubungan tersebut yakni berupa faktor kondisi allometris dapat digunakan untuk menilai karakteristik fisiologis ikan, siklus hidup, kondisi lingkungan sekitar dan ketersediaan makanan. Umumnya, hubungan panjang berat dianalisis dengan pendekatan regresi linier sederhana di mana memiliki kelemahan yaitu sangat dipengaruhi oleh nilai ekstrim/outlier sehingga tidak mampu menggambarkan distribusi data secara keseluruhan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan alternatif metode lain yaitu regresi kuantil yang mampu menjelaskan hubungan panjang-berat ikan secara lebih menyeluruh. Data sampel ikan yang digunakan berasal dari kolam IBAT Punten, Batu yang merupakan salah satu sentra pembenihan dan budidaya Ikan Nila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum faktor kondisi allometris Ikan Nila di IBAT Punten bersifat allometris negatif, artinya pertambahan berat lebih kecil dibandingkan pertambahan panjang ikan atau dengan kata lain ikan cenderung kurus. Selain itu, dari analisis regresi kuantil didapatkan kecenderungan bahwa semakin besar ukuran ikan Nila maka nilai faktor kondisi allometris semakin kecil. Hal ini dikarenakan ikan Nila dewasa lebih rentan terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan ikan Nila yang lebih kecil.
RESPON LINTAH LAUT (Zeylanicobdella arugamensis) TERHADAP SALINITAS BERBEDA SECARA LABORATORIUM Ketut - Mahardika; Indah Mastuti; Mr Zafran
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.518 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.9

Abstract

Infeksi lintah laut (hirudinea, Zeylanicobdella arugamensis) pada ikan kerapu dapat menimbulkan luka di bekas tempat menempelnya. Infeksi lintah juga dapat menurunkan daya tahan ikan terhadap infeksi mikroorganisme lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon lintah laut dan telurnya untuk hidup pada media dengan salinitas berbeda. Penelitian dilakukan secara laboratorium dengan menempatkan lintah laut pada cawan petri (diameter 8 mm). Sekitar 10-67 ekor lintah laut hidup ditempatkan dalam setiap satu cawan petri yang telah diisi air laut (salinitas 32 ppt). Lintah laut tersebut diinkubasi pada suhu ruang (29-31° C) selama 2 hari agar lintah bertelur dalam cawan petri. Selanjutnya, masing-masing cawan petri diganti airnya dengan air laut yang telah di saring (kertas saring 1µm) dengan salinitas: 30, 25, 20, 15, 10, 5 dan 0 ppt. Air pemeliharaan lintah laut diganti setiap dua hari sekali dengan air baru dengan salinitas yang sama. Lintah laut dan telunya diinkubasi pada suhu ruang selama 11 hari, Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lintah laut dapat bertahan hidup pada salinitas 5 sampai 30 ppt selama 11 hari, walaupun jumlahnya menurun (3,9-73,1%). Demikian pula dengan telur lintah, dapat berkembang dan menetas pada hari ke 9 – 11 (2,6-47,4%) setelah diinkubasi di salinitas 5-30 ppt. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lintah laut dan telurnya dapat hidup dan menetas pada media pemeliharaan air laut sampai air payau.
EFFECT OF CHITOSAN COATINGS ON PRESERVATION OF RED SNAPPER (Lutjanus argentimaculatus Forsskal, 1775 ) DURING LOW TEMPERATURE STORAGE Heru Pramono; Tri Wahyuni; Faris Abidin; Wahyu Ardianto; Fareza Ferdyna Nanda Sumartono
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.091 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.5

Abstract

The effect of three different concentration of chitosan (0, 1.5 and  2 % w/v) on microbiological (aerobic plate count), chemicals (pH and total volatile basic nitrogen, TVB-N), and sensory properties of red snapper (Lutjanus argentimaculatus Forsskal, 1775) during cold storage (4-7oC) was evaluated periodically. The microbiological quality of red snapper coated with chitosan was lower compared to control, whereas pH and TVB-N were lower when treated with chitosan. The overall score of sensory evaluation of chitosan with concentration of 1% (w/v) was higher compared to remaining treatments. This study indicates that coating of chitosan prior to storage and distribution of red snapper prolong the shelf life of the fish but the microbial quality during storage is depend on initial quality of the fish. 

Page 3 of 64 | Total Record : 640