cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 627 Documents
PENENTUAN KESESUAIAN LAHAN KONSERVASI HUTAN MANGROVE DI DESA GOTOWASI KECAMATAN MABA SELATAN MALUKU UTARA Sri Endah Widiyanti; Salim Abubakar; Mufti Abd Murhum
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.121 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.10

Abstract

Desa Gotowasi merupakan salah satu desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Maba Selatan Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Desa ini termasuk desa pesisir yang memiliki tiga ekosistem pesisir yakni ekosistem hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Ketiga ekosistem ini terancam tercemar akibat sumber polusi potensial melalui aktivitas pertambangan nikel di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis mangrove dan menganalisis kesesuaian lahan konservasi mangrove di wilayah pesisir Desa Gotowasi Kecamatan Maba Selatan dengan menggunakan parameter kesesuaian lahan berdasarkan parameter kondisi biofisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove di Desa Gotowasi  memiliki keanekaragaman jenis lebih tinggi dari semua wilayah di Kabupaten Halmahera Timur. Penyebaran hutan mangrove tersebar diseluruh wilayah desa dengan komposisi jenis sebanyak 9 famili dan 18 jenis mangrove. Pemetaan daerah konservasi dilakukan dengan menggunakan aplikasi pengindaraan jarak jauh dan system informasi geografis, selanjutnya dilanjutkan dengan indeks kesesuaian kawasan konservasi. Hasil analisis menunjukan kawasan hutan mangrove masuk dalam kategori sangat sesuai (S1). Dengan demikian, kontrol dan konservasi adalah langkah yang tepat yang harus segera dilakukan untuk melindungi ekosistem hutan mangrove yang ada di pesisir Desa Gotowasi.
Kelimpahan Invertebrata di Pulau Sempu sebagai Indeks Bioindikator, Ekonomis Penting Konsumsi, dan Komoditas Koleksi Akuarium Luthfi, Oktiyas Muzaky; Dewi, Citra Satrya; Sasmitha, Respati Dwi; Alim, Dimas Syarif; Putranto, Dimas Bagus Dwi; Yulianto, Firly
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.064 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.1

Abstract

Invertebrata (Hewan tak bertulang belakang) mempunyai beberapa peran penting untuk perairan dan ekosistem terumbu karang, baik sebagai bioindikator, ekonomis penting, atau diambil sebagai penghias akuarium. Sebagai contoh, Archasterplancii merupakan hewan yang terkenal akan kemampannya melakukan predasi pada jaringan karang, atau DiademaUrchin yang dapat melakukan grazing pada alga di ekosistem terumbu karang. Pengamatan dilakukan pulau sempu dibagi menjadi beberapa stasiun, diantaranya Teluk Semut 1, Teluk Semut 2 dan Watu Meja. Pendataan hewan invertebrata di lokasi pengambilan data menggunakan metode Reef Check dengan cara menggelar belt transect sepanjang 100m yang terbagi menjadi 4 segment sepanjang 20m. Pengamatan dan pengambilan data dilakukan secara zig-zag sehingga data yang dihasilkan lebih lengkap dan dapat mempresentasikan persebaran invertebrata yang ada di setiap stasiun di perairan pulau sempu.Hasil pendataan dari ketiga stasiun ini terdapat sebanyak 1 ekor Banded Coral Shrimp, 2 ekor Diadema Urchin, 1 ekor Pencil Urchin, 1 ekor Colector Urchin, dan 1 buah Giant Clam dengan besar 10-20 cm. Sedikitnya jumlah kelimpahan invertebrata berbanding lurus dengan kondisi terumbu karang yang ada di perairan selat sempu. Beberapa hewan invertebrata yang ditemukan dapat dikonsumsi atau dijual dan menjadi mata pencaharian alternatif selain menangkap dan budidaya ikan. Tidak semua hewan invertebrata dapat dijadikan sebagai bio-indikator kerusakan lingkungan, karena tingkat kepekaan setiap hewan invertebrata berbeda.
PENGGUNAAN BAHAN PENGEMULSI ALGINAT DAN SUBSTITUSI TEPUNG KENTANG PADA PEMBUATAN BAKSO IKAN GABUS (Channa striata) Hefti Salis Yufidasari; Happy Nursyam; Belinda Putri Ardianti
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.263 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.6

Abstract

Bakso ikan merupakan salah satu produk olahan yang menggunakan daging ikan sebagai bahan baku utama produk. Bahan baku yang dapat digunakan adalah ikan gabus (Channa striata). Ikan gabus memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, akan tetapi memiliki kandungan air yang tinggi pula, sehingga jika diolah menjadi bakso, dibutuhkan bahan tambahan lain yang dapat memperbaiki tekstrur dari bakso ikan tersebut. Penggunaan Alginat dapat berperan sebagai emulsifier, sedangkan tepung kentang dapat berperan untuk memperbaki tekstur bakso yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bakso ikan gabus (Channa striata) yang ditambahkan alginat dan substitusi tepung kentang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan rancangan percobaan 2 faktor, yaitu faktor pertama penambahan alginate (0%; 0.75%; 1%) dan faktor kedua substitusi tepung kentang (0%; 5%; 7.5%; 10%; 12.5%) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian terbaik ditunjukkan pada bakso ikan gabus dengan penambahan 1% alginat dan 7,5% tepung kentang; dengan hasil analisis karakteristik yaitu kekerasan 1,28 N, kekenyalan sebesar 0,005 kg/mm2, kadar protein 20,24%; kadar air 61,01%, kadar lemak 1,22%, kadar abu 1,43%, kadar karbohidrat 16,10%, aw 0,84. Dan untuk nilai karakteristik organoleptik yaitu rasa 6,3 warna 6,77 tekstur 6,3 dan aroma 6,3. Selanjutnya, perlu diketahui berapa lama masa simpan dari bakso tersebut.Keywords: Alginat, Bakso ikan, ikan gabus (Channa striata), Tepung Kentang.
In-Vivo Test of Spirulina sp as Inducer of β-Actin In Cantang Grouper (Epinephelus fuscoguttatus-lanceolatus) Infected by Viral Nervous Necrosis Yovan Endik Irawanto; Uun Yanuhar; Andi Kurniawan
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.566 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.11

Abstract

Cantang grouper fish (Epinephelus fuscoguttatus-lanceolatus) is a result of hybridized fish between a female of tiger grouper fish (Epinephelus fuscoguttatus) and male of kertang grouper (Ephinephelus lanceolatus). In the development of cultivation, there are many problems, one of them infected with the class of virus Nodaviridae, namely Viral Nervous Necrosis (VNN). Fish had a defense against cellular immunity against the VNN virus by β-actin. The aims of this research to explore the crude extract of Spirulina sp as a β-actin inducer for the anti-inflammatory immune system in grouper fish against VNN attack. The method used in this research is experiment methods.  Crude extracts of Spirulina sp (33 μg/ml) were conducted by feeding orally to groupers, and VNN infections were conducted by feeding the already positive VNN meat. Detection of VNN using RT-PCR, however β-actin detection using PCR, and IHC in the organ of Cantang grouper fish. The results showed that the percentage of DAB value of control fish (14.0%), fish treated with Spirulina sp (25.7%), fish treated with VNN (31.9%), and fish treated with Spirulina sp extract and VNN infection (32.4%). The percentage of DAB values were indicated by the detection of the target gene β-actin. Immunity in fish increases with the addition of Spirulina sp. The increased β-actin expression may also be used as an indicator of a grouper's body defense against VNN infection.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KASAR KULIT BUAH NAGA (Hylocereus costaricensis) TERHADAP HISTOPATOLOGI HATI IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG TERINFEKSI Aeromonas hydrophila Ifatul Masfiah; Sri Andayani; Heny Suprastyani
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.979 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.2

Abstract

Keberadaan penyakit di dalam lingkungan perairan merupakan salah satu kendala di dalam pengembangan subsektor budidaya perikanan. Bakteri A. hydrophila merupakan salah satu bakteri yang menyebabkan penyakit pada ikan. Untuk mengatasi hal tersebut pembudidaya seringkali menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik secara terus-menerus dapat memberikan dapat negatif salah satunya membuat bakteri resisten dan mencemari lingkungan perairan. Sehingga dibutuhkan alternatif yang ramah lingkungan. Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan adalah kulit buah naga (H. costaricensis). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak kasar kulit buah naga (H. costaricensis) terhadap histopatologi hati ikan nila (O. niloticus) yang terinfeksi bakteri A. hydrophila. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pada penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan, 2 kontrol dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah ekstrak kasar kulit buah naga (H. costaricensis) dengan dosis 6 ppm, 26 ppm, 46 ppm dan 66 ppm. Pengambilan jaringan hati dilakukan pada hari ke 5 setelah perlakuan. Analisa data menggunakan skoring. Hasil perlakuan pemberian ekstrak kasar kulit buah naga (H. costaricensis) memberikan pengaruh terhadap jaringan hati ikan nila (O. niloticus). Kelainan jaringan hati yang terjadi pada saat penelitian adalah Kongesti dan Hemoragi. Hasil penelitian menunjukkan kerusakan jaringan hati yang terendah adalah perlakuan D dengan dosis 66 ppm.Keberadaan penyakit di dalam lingkungan perairan merupakan salah satu kendala di dalam pengembangan subsektor budidaya perikanan. Bakteri A. hydrophila merupakan salah satu bakteri yang menyebabkan penyakit pada ikan. Untuk mengatasi hal tersebut pembudidaya seringkali menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik secara terus-menerus dapat memberikan dapat negatif salah satunya membuat bakteri resisten dan mencemari lingkungan perairan. Sehingga dibutuhkan alternatif yang ramah lingkungan. Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan adalah kulit buah naga (H. costaricensis). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak kasar kulit buah naga (H. costaricensis) terhadap histopatologi hati ikan nila (O. niloticus) yang terinfeksi bakteri A. hydrophila. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pada penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan, 2 kontrol dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah ekstrak kasar kulit buah naga (H. costaricensis) dengan dosis 6 ppm, 26 ppm, 46 ppm dan 66 ppm. Pengambilan jaringan hati dilakukan pada hari ke 5 setelah perlakuan. Analisa data menggunakan skoring. Hasil perlakuan pemberian ekstrak kasar kulit buah naga (H. costaricensis) memberikan pengaruh terhadap jaringan hati ikan nila (O. niloticus). Kelainan jaringan hati yang terjadi pada saat penelitian adalah Kongesti dan Hemoragi. Hasil penelitian menunjukkan kerusakan jaringan hati yang terendah adalah perlakuan D dengan dosis 66 ppm.
TUTUPAN LAMUN Thalassia hemprichii DI PERAIRAN DUSUN KARANG UTARA, PULAU LEMUKUTAN, KABUPATEN BENGKAYANG, KALIMANTAN BARAT Dwi Gusmalawati; Aulia Seto Sandhi Sanova
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.446 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.7

Abstract

Ekosistem padang lamun merupakan habitat bagi ikan dan biota perairan lainnya.  Berbagai jenis penyu juga menjadikan daerah padang lamun sebagai daerah mencari makan, khususnya di perairan Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Tutupan lamun, khususnya jenis Thalassia hempricii di perairan Dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan belum diketahui. Data mengenai tutupan lamun ini akan dijadikan sebagai acuan dalam pengelolaan wilayah perairan tersebut. Penelitian dilakukan pada 4 stasiun di perairan Dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Stasiun pengamatan memiliki panjang 50 m tegak lurus terhadap garis pantai. Setiap stasiun dibagi menjadi 5 plot transek. Pemilihan plot transek dilakukan dengan metode purposive random sampling. Transek kuadrat yang digunakan adalah berukuran 1 x 1 m dengan setiap pixelnya berukuran 20 cm x 20 cm. Hasil nilai rata-rata persentase tutupan lamun pada stasiun 1, 2, 3 dan 4 adalah 2,68%; 2,34%, 11,4% dan 9,8% secara berurutan. Kondisi persentase tutupan lamun Thalassia hempricii di Perairan dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan ini termasuk dalam kategori sedikit. Parameter fisika-kimia air laut di Perairan Dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan adalah arus 0,2 m/s, suhu 30,5oC, salinitas 32o/oo , kedalaman 0,5-1 m, dan pH 8,5.
Kajian Potensi Ekowisata berbasis Perairan di Kecamatan Glagah dan Licin, Kabupaten Banyuwawi, Jawa Timur Bayu Kusuma; Maheno Sri Widodo; Fani Fariedah
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.127 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.3

Abstract

Kecamatan licin dan Kecamtan Glagah merupakan dua kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang terletak pada jalur menuju wisata kawah ijen. Kedua kecamatan tersebut mempunyai tiga desa yang tergolong masih tertinggal menurut data dari Indeks Desa Membangun tahun 2015. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan potensi ekowisata berbasis perairan pada desa tertinggal di kedua kecamatan tersebut berdasarkan metode analisis SWOT (Strength, Weak, Opportunities, Threat) yang dimodifikasi secara kualitatif dan kuantitatif guna pengembangan potensi desa. Analisis SWOT menghasilkan pengembangan potensi pariwisata desa Kenjo (Kecamatan Glagah) di bidang pertanian, Desa Gumuk (Kecamatan Licin) di bidang perairan dan Desa Banjar (Kecamatan Licin) di bidang kuliner.
The Marine Carbonate System at Maluku and Sulawesi Seas iis triyulianti; I Nyoman Radiarta; Agung Yunanto; Novia Arinda Pradistya; Fikhrul Islami; Mutiara R Putri
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.187 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.8

Abstract

Maluku and Sulawesi Seas are parts of Indonesian Large Marine Ecosystem in the east area which has an important role for Indonesian fisheries activities.  Those areas are facing the climate change phenomena that could change their marine ecosystem quality.  Marine carbonate system is very important for controlling the circulation of CO2 between the atmosphere and the ocean as well as regulating the pH value of waters. We conducted in situ measurement of marine carbonate system parameters (pH, Total Alkalinity, Total CO2 (TCO2) and pCO2) during IJEP cruise on September 2016 to analyses spatial variations of the marine carbonate system in the Northwest Monsoon period.  The results of marine carbonate system showed that in general Maluku and Sulawesi Seas are under super saturation of CO2 or acts as source of CO2 which have range value of sea surface partial of CO2(pCO2) between 280 – 500 µatm.  Spatial distribution of sea surface pH values measured with optical sensor at study sites showed varied between 8,03 – 8,15.  Measurement results of Total alkalinity (TA) by using titration method varied between 2300 – 2400 µmol/Kg meanwhile range value of TCO2 was 2300 – 2500 µmol/Kg at surface waterand it’s increased through the deep water with the range value of TCO2 was 2500 – 2800 µmol/Kg at deeper layer of water.Characteristic of marine carbonate system between Maluku  and Sulawesi Seas was different in the Southeast monsoon period indicates complex marine biogeochemistry processes influences those system.
Pertumbuhan rumput laut lokal dan rumput laut hasil kultur jaringan Performance growth of local and tissue culture Seaweed Kappaphycus alvarezii Nunik Cokrowati; Nanda Diniarti; Dewi Nur'aeni Setyowati; Alis Mukhlis
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.9

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezi bibit lokal dan bibit hasil kultur jaringan. Penelitian dilakukan di perairan Seriweh Jerowaru Kabupaten Lombok Timur West Nusa Tenggara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental di perairan laut Seriweh. Budidaya rumput laut dilakukan dengan menggunakan metode longline. Budidaya dan pemeliharaan dilakukan selama 45 hari. Parameter yang digunakan adalah laju pertumbuhan mutlak dan kadar karaginan. Data dianalisa menggunakan statistik dan Uji-T. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan mutlak tertinggi sebesar 451,429 gram pada rumput laut hasil kultur jaringan dengan kadar karaginan sebesar 14,44 gram. Lokasi penanaman Semirang memiliki pergerakan air yang lebih kontinyu dengan kisaran nilai parameter kualitas air sesuai dengan kisaran kriteria habitat yang dikehendaki rumput laut. Kesimpulan penelitian ini adalah pertumbuhan rumput laut tertinggi dan kadar karaginan tertinggi diperolah pada rumput laut hasil kultur jaringan.
STATUS BIOTA PENEMPEL PASCA PENANAMAN MANGROVE Rhizophora spp. DI KEPULAUAN SERIBU: STUDI KASUS FILUM MOLUSKA Mr. Syahrial; Nur Rahma Putri
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 2 (2019): JFMR VOL 3 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.95 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.02.7

Abstract

Reboisasi mangrove telah banyak dilakukan di berbagai wilayah. Hal ini bermaksud untuk mempertahankan kelestarian mangrove agar tetap menjaga keseimbangan iklim global, melindungi pantai, bermanfaat bagi nelayan, tempat tumbuh, mencari makan dan berkembang biak bagi biota laut maupun pesisir. Kajian status biota penempel di kawasan reboisasi mangrove Rhizophora spp. Kepulauan Seribu telah dilakukan pada bulan Maret 2014. Hal ini bertujuan untuk mengeksplorasi hasil dari kegiatan rehabilitasi mangrove Kepulauan Seribu dengan spesies tanam Rhizophora spp. terhadap komunitas biota penempel khususnya filum moluska. Data biota penempel di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan seribu dikumpulkan dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan (tegakan mangrove terluar) dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan. Kemudian transek garis dibuat petak-petak contoh (plot) dengan ukuran 10 x 10 m2 dan di dalam ukuran 10 x 10 m2 tersebut dibuat plot kecil (sub plot) yang berukuran 1 x 1 m2. Selanjutnya pengukuran kualitas perairan dilakukan dengan cara insitu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa biota penempel dari filum moluska ditemukan sebanyak 3 spesies gastropoda dan 1 spesies bivalva, dimana gastropoda L. scabra merupakan komposisi yang paling tinggi (92.23%). Kemudian, kepadatan biota tertingginya berada di Stasiun 2 (03.62 ind/m2), keanekaragaman dan dominansi spesiesnya tergolong rendah (kecuali L. scabra), kondisi keseragamannya dalam keadaan tertekan, pola penyebarannya tergolong seragam (gastropoda) dan mengelompok (bivalva) serta karakteristik lingkungannya bukan sebagai faktor pembatas.

Page 4 of 63 | Total Record : 627