cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Metal Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 163 Documents
Optimasi Presipitasi Logam Tanah Jarang dari Campuran Konsentrat Logam Tanah Jarang dengan Metode ”Response Surface Methodology” Akbar Yulandra; Iga Trisnawati; I Made Bendiyasa; Wahyu Rachmi pusparini; Himawan Tri Bayu Murti Petrus
Jurnal Metal Indonesia Vol 42, No 1 (2020): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.025 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2020.v42.28-34

Abstract

Dua sumber LTJ berasal dari mineral seperti monasit dan senotim. Ketersediaan LTJ di kerak bumi relatif sedikit, tersebar dan jarang terjadi dalam bentuk bijih. Dalam penelitian ini bahan baku yang digunakan adalah campuran konsentrat LTJ yang berasal dari PT. Monokem Surya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi H2C2O4, kecepatan pengadukan dan suhu terhadap kemurnian dan pemungutan LTJ dari campuran konsentrat LTJ. Percobaan dilakukan dalam lima langkah: (1) Fusi alkali, proses dilakukan selama 3 jam pada suhu 450oC, dengan rasio padatan NaOH terhadap campuran konsentrat LTJ sebesar 1:1, untuk memutuskan ikatan fosfat; (2) ) Pelindian fosfat dalam produk fusi alkali menggunakan aquadest pada suhu 80oC; (3) Residu pelindian aquadest dilakukan proses perlindian menggunakan 6 M HCl selama 2 jam untuk melarutkan LTJ pada 90oC; (4) Menghilangkan kotoran seperti uranium dan thorium dengan mengendapkannya menggunakan NH4OH pada pH 1; (5) Presipitasi LTJ dari filtrat yang dihasilkan dari butir (4) menggunakan H2C2O4. Didapatkan hasil LTJ dengan kemurnian 96% dan pemungutan sebesar 95% pada konsentrasi H2C2O4 8,11%, kecepatan putar pengaduk 500 rpm, dan suhu 70oC.Two sources of REEs are from mineral monazite and xenotime. The availability of REEs is relatively abundant in the earth’s crust, typically dispersed, and rarely occur in ores. In this study as raw material was a mixed rare earth concentrate from Monokem Surya Ltd. The purposes of this research were to determine the effect of concentration H2C2O4, stirring speed, and temperature regarding to purity and recovery REEs from the mixed rare earth concentrate. The experiments were conducted in five steps:(1) Alkaline fusion, the process was performed about 3 hours at 450oC, with ratio of NaOH solid to the mixed rare earth concentrate sand was 1:1, in order to break phosphate bonds;(2) Leaching of phosphate in alkaline fusion product using aquadest at 80 oC; (3) Aquadest leaching residue was leached using 6 M HCl for 2 hours to dissolve REEs at 90 oC; (4) Removal of impurities such as uranium and thorium by precipitating them using NH4OH at pH 1; (5) Precipitation of REEs from filtrate produced from point (4) using H2C2O4. The results of REEs with 96% purity and 95% recovery was obtained at concentration H2C2O4 8,11%, stirring speed 500 rpm, and temperature 70oC.
Recovery of Rare Earth Elements and Yitrium from non-Magnetic Coal Fly Ash using Acetic Acid Solution Hotden Manurung; Widya Rosita; I Made Bendiyasa; Agus Prasetya; Ferian Anggara; Widi Astuti; Dagus Resmana Djuanda; Himawan Tri Bayu Murti Petrus
Jurnal Metal Indonesia Vol 42, No 1 (2020): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.591 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2020.v42.35-42

Abstract

The increasing need of REY has been observed in industries such as catalyst industry, metallurgy, military, health and renewable energy resources. REY such as Ce, Nd, Y, and Eu has a prominent evidence to improve material properties such as high electropositive, good conductivity and renewable energy. Due to this increasing need of REY, exploration of alternative source has been conducted. One of the promising alternative sources is coal fly ash. The conventional method to recover REY from coal fly ash using inorganic acids is harmful to the environment. Thus, the exploration of REY extraction from coal fly ash using organic acid has been proposed in this study. The leaching agent was acetic acid applied for all operating condition. Regarding to the mineralization of REY in the form of siliceous minerals (non-magnetic coal fly ash). Silicate digestion was conducted using sodium hydroxide 8 M with solid-to-liquid of 25% to decompose the siliceous mineral. Further, the REY bound siliceous mineral will change to REY(OH)3. Temperature as one of the operating conditions was varied. The maximum recovery of leaching 20.58 %, 43.53 %, 17.38%, 40.96 %, 18.45 % and 32.74 % were achieved for Ce, Dy, La, Nd, Y and Yb respectively at temperature of 90 0C pH 1.74 and 120 minutes. For some metals, increasing the temperature higher than 70 0C does not provide any significant effect for REY recovery such as La and Ce.
Kajian Literatur Parameter Proses Reduksi Selektif Bijih Nikel Laterit Fajar Nurjaman; Fathan Bahfie; Ulin Herlina; Widi Astuti; Bambang Suharno
Jurnal Metal Indonesia Vol 42, No 2 (2020): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2020.v42.63-71

Abstract

Proses reduksi selektif bijih nikel laterit merupakan salah satu metode pirometalurgi yang dilakukan dengan mereduksi senyawa besi dan nikel oksida dalam bijih nikel laterit pada temperatur 1100-1200°C menjadi logam ferronikel dengan membatasi metalisasi besi melalui penambahan aditif dan penggunaan jumlah reduktan yang terbatas. Kandungan dan perolehan  nikel dalam konsentrat semakin meningkat dengan semakin banyaknya aditif yang ditambahkan. Namun penambahan aditif dalam jumlah banyak akan meningkatkan biaya produksi proses reduksi selektif tersebut. Penggunaan reduktan batubara dengan kandungan sulfur tinggi memungkinkan untuk mensubstitusi penggunaan aditif. Proses reduksi selektif tidak hanya melibatkan reaksi solid-state melainkan juga melibatkan reaksi solid-liquid state. Oleh karena itu biaya produksi proses reduksi selektif juga dapat diminimalkan  melalui penggunaan basisitas yang optimal sehingga diperoleh kondisi proses dengan titik lebur fasa metalik dan non-metalik yang rendah. Dengan konsumsi energi/temperatur reduksi yang lebih rendah, diharapkan teknologi reduksi selektif bijih nikel laterit mampu menggantikan teknologi pirometalurgi konvensional (blast furnace dan rotary kiln electric arc furnace). Teknologi ini juga diharapkan mampu menjadi solusi permasalahan terkait pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah (<1,7% Ni) yang ketersediaannya sangat berlimpah di dunia, dimana nilai keekonomisan yang diperoleh akan sangat rendah jika menggunakan teknologi pirometalurgi konvensional.
Perlakuan Panas Komposit berbasis Aluminium/ Zirconium Hasil Equal Channel Angular Pressing (ECAP) - Paralel Channel Agus Pramono; Suryana Suryana; Alfirano Alfirano; A. Ali Alhamidi; Adhitya Trenggono; Anistasia Milandia
Jurnal Metal Indonesia Vol 43, No 1 (2021): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2021.v43.1-8

Abstract

AbstrakProses produksi dengan menggunakan metode pengerjaan logam konvensional seringkali sulit terutama untuk produk masif, dimana peralatan dan produk seperti gaya dan tekanan tinggi diperlukan. Keterbatasan ini bisa diatasi dengan menggunakan teknologi terbaru yaitu severe plastic deformation (SPD), dengan metode spesifiknya yaitu equal channel angulatr pressing (ECAP). Perkembangan ECAP sudah mencapai tahap aplikasi produk, salah satu pengembangan metodenya yaitu model parallel channel, atau disebut ECAP-PC. Dalam aplikasi pembuatan komponen, diperlukan proses perlakuan panas material, bertujuan untuk mengubah sifat material. Perlakuan panas yang sesuai diantaranya adalah proses pelunakan anealling untuk pengerjaan komponen dan perlakuan panas jenis T6; artificial aging/age-hardening sebagai proses akhir, untuk penerapan aplikasi tertentu. Serbuk aluminium (Al) dengan campuran zirconium (Zr) diaktivasi secara mekanis menggunakan ball milling. Pencampuran menggunakan cairan etanol dan heptane untuk memudahkan pengeringan. Fraksi volume yang digunakan dalam komposit Al sebagai matriks dan Zr yaitu 97:3%. Serbuk komposit dilakukan penggilingan dengan proses ball milling menggunakan putaran 60 rpm selama 24 jam. Hasil perlakuan panas age-hardening menghasilkan sifat mekanik tertinggi sebesar 144-222 HV/1406-2177 MPa dibanding dengan jenis annealing yaitu 31-46 HV/301-449 MPa. Hal ini sesuai dengan tujuan dari perlakuan panas yaitu untuk menurunkan sifat mekanik agar material mudah diproses. AbstractThe production of conventional metalworking methods is often difficult especially for massive products, where equipment and products such as high force and pressure are required. This limitation can be overcome by using the latest technology, namely severe plastic deformation (SPD). By specific method, namely Equal Channel Angular Pressing (ECAP). The development of ECAP has reached the product application stage, one of the methods development is parallel channel model, or called ECAP-PC. Application of component manufacturing requires a material heat treatment process, aims to change the properties of the material. Suitable heat treatments include the annealing softening process for component work and the T6 type heat treatment; artificial aging/age-hardening as a finishing process for the application of certain applications. Aluminum (Al) powder and zirconium (Zr), mixture were activated mechanically by ball milling. Mixing processed using liquid ethanol and heptane for easy drying. The volume fraction used in the Al composite as a matrix and Zr is 97: 3%. The composites powder was milled by ball milling used a 60 rpm rotation for 24 hours. The results of age-hardening heat treatment produced the highest mechanical properties of 144-222 HV / 1406-2177 MPa compared to the type of annealing, namely 31-46 HV / 301-449 MPa. This is in accordance with the purpose of heat treatment, namely to reduce mechanical properties so that the material is easy to process.
Analisis Kegagalan Pembentukan Ellipsoidal Head Pressure Vessel dari Dua Pelat Dilas ASME SA516 Grade 70N dengan menggunakan Metode Fabrikasi Cold Forming Khairmen Suardi; Faris Fadli
Jurnal Metal Indonesia Vol 43, No 1 (2021): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2021.v43.48-54

Abstract

AbstrakHead pada pressure vessel yang berbentuk melengkung, seperti: hemispherical, torispherical, dan ellipsoidal dapat dibuat dari pelat dengan lebar 2.5 m yang mengalami proses metal forming. Namun, pelat yang tersedia di pasaran pada umumnya memiliki lebar 1,6 m. Kondisi ini menjadi batasan apabila ingin menggunakan satu material pelat secara integral sehingga dibutuhkan pelat untuk membuat head dengan lebar yang lebih besar. Oleh karena itu, untuk membuat head dengan lebar 2,5 m dilakukan proses cold forming pada dua pelat yang dilas. Namun setelah proses dilakukan, terjadi kegagalan berupa timbulnya retakan di sekitar area las. Pada paper ini akan dibahas analisis kegagalan proses cold forming yang terjadi pada dua pelat ASME SA516 grade 70N yang digunakan sebagai base metal. Untuk menganalisis penyebab kegagalan, maka dilakukan pengujian kekerasan, tarik, metalografi, dan komposisi kimia. Selain itu juga dilakukan perhitungan untuk mengetahui nilai crack consists of hot (UCS), cold cracking (Pcm), dan carbon equivalent (CE). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa material tersebut memiliki nilai UCS di bawah 30, nilai Pcm berada di antara 0,23-0,35%, serta berada di zona II pada diagram Graville dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa material memiliki kemampulasan  yang baik. Sementara dari hasil pengujian mekanis didapatkan nilai kekerasan dan kekuatan tarik yang lebih besar dari standar, yaitu masing-masing sebesar 300 HBW dan 621 Mpa dengan nilai elongasi yang masih tinggi, yaitu  sebesar 21,8%. Hasil pengamatan metalografi menunjukkan terbentuk fase martensit namun dalam jumlah yang sedikit pada area heat affected zone (HAZ) dengan bentuk butir seperti jarum. Fase martensit ini berperan sebagai stress concentration yang menjadi titik awal retak ketika proses cold forming dilakukan. Terbentuknya fasa martensit ini disebabkan oleh proses preheat yang tidak sesuai serta heat input yang terlalu besar. Abstract             The head on a pressure vessel with curved shapes such as hemispherical, torispherical, and ellipsoidal is derived from the formed plate. Generally the plates available in the market have a width of 1.6 m, this condition becomes a limitation if you want to use one plate material integrally so that a plate is needed to make a head with a larger width. Therefore, to make a head with a width of 2.5 m, a cold forming process is carried out on two welded plates. However, after the process is carried out, failure occurs in the form of cracks around the weld area. In this paper, we will discuss the failure analysis of the cold forming process that occurred on two ASME SA516 grade 70N plates used as base metal. In order to analyze the causes of failure, hardness, tensile, metallographic, and chemical composition tests were carried out. In addition, calculations were also carried out to determine the value of crack consists of hot (UCS), cold cracking (Pcm), and carbon equivalent (CE). From the calculation results it is evident that the material has a UCS value below 30, the PCm value is between 0.23-0.35%, and is in zone II on the Graville diagram where this value indicates that the material has good weldability. Meanwhile, from the results of mechanical testing, the hardness and tensile strength values are greater than the standard, which are 300 HBW and 621 Mpa, respectively, with a high elongation value, which is 21.8%. The results of metallographic observations showed that the martensite phase was formed but in small amounts in the heat affected zone (HAZ) area with needle-like grain shapes. This martensite phase acts as a stress concentration which is the starting point for cracks when the cold forming process is carried out. The formation of the martensite phase is caused by an inappropriate preheat process and the heat input is too large.
An Electric DC Motor Control System with Geckodrive320x Driver Module Agus Hananto; Rachmad Hartono; Ahid Nuristinah
Jurnal Metal Indonesia Vol 42, No 2 (2020): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2020.v42.72-76

Abstract

This research shows an example to make a servo motor which consists of three main components, a DC motor, a control circuit, and a closed feedback system. A rotary encoder is used as a closed feedback system by using Geckodrive320X as a control circuit for controlling DC electric motors as the main components. The results showed that Geckodrive320X can be used to control a DC electric motor as a servo motor. The number of turns of the DC motor shaft depends on the condition of switches SW2 and SW3, achieved by giving four pulses to the Geckodrive320X. The maximum speed able to be controlled by Geckodrive320X is 540 rpm, and the deviation maximum of the slider positioning is 0.01 mm under the conditions of multipliers of 5 and 10.
Pengaruh Karakteristik Bijih pada Ekstraksi Nikel dari Bijih Limonit Indonesia menggunakan Pelindian Atmosferik Widi Astuti; Fika Rofiek Mufakhir; Fajar Nurjaman; Slamet Sumardi; Ulin Herlina; Fathan Bahfie; Himawan Tri Bayu Murti Petrus
Jurnal Metal Indonesia Vol 43, No 1 (2021): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2021.v43.9-16

Abstract

AbstrakKebutuhan ekstraksi nikel dari bijih nikel laterit khususnya jenis bijih limonit dengan kadar nikel yang rendah sangat diperlukan karena kebutuhan nikel yang terus meningkat dengan adanya pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Jenis dan karakteristik bijih laterit yang berbeda akan memberikan pengaruh pada hasil ekstraksi nikel. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi nikel dari bijih laterit jenis limonit yang berasal dari Pulau Halmahera (LH)) dan Pulau Sulawesi (LS) menggunakan pelindian atmosferik. Asam sulfat digunakan sebagai agen pelindian. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh karakteristik bijih limonit (LH dan LS) pada berbagai variabel pelindian yaitu suhu (30oC, 50oC dan 80oC), konsentrasi asam sulfat (0,5M; 1M; dan 2M), waktu pelindian (15, 30, 60, 120, dan 240 menit), serta rasio bijih terhadap reagen pelindian (5, 10, dan 20% w/v) terhadap ekstraksi nikel dari bijih limonit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik bijih laterit sangat berpengaruh pada hasil pelindian dan persen rekoveri nikel. Nikel dari bijih LH yaitu jenis limonit dari Pulau Halmahera dapat diekstrak secara maksimal (100%) pada konsentrasi asam sulfat 0,5M, suhu 80oC, rasio bijih/larutan asam sulfat 10%, dan waktu pelindian 2 jam. Sedangkan persen ekstraksi nikel dari bijih LS yang terbesar adalah 95% yang diperoleh pada konsentrasi asam sulfat 2M, suhu 80oC, rasio bijih/larutan asam sulfat 5%, dan waktu pelindian 4 jam. AbstractNickel extraction from nickel laterite ores particularly low-grade limonite ore is needed along with the increase of nickel consumption on the development of battery electric vehicle. Types and characteristics of nickel laterite ores affect greatly on the nickel extraction from these ores. This research conducted the extraction of nickel from limonite ore from different areas i.e. Halmahera Island (LH) and Sulawesi Island (LS) using atmosferic leaching. Sulfuric acid (1M) was used as leaching reagent. Leaching processes were carried out for investigating the effects of limonite ore characteristics (LH and LS), leaching temperatures (30oC, 50oC dan 80oC), concentration of sulfuric acid (0.5M; 1M; 2M), leaching time (15, 30, 60, 120, and 240 minutes), and ratio of ore amount to volume of leaching reagent on the nickel extraction from limonite ores. Experimental results showed that ore characteristic affected greatly on the leaching result and nickel leaching recovery. Nickel from LH ore could be extracted maximum (100%) using sulfuric acid 0.5M, temperature of 80oC, and leaching time 120 minutes (2 hours). Whereas, the highest nickel extraction percentage from LS ore is 95% using sulfuric acid 2M, temperature of 80oC, and leaching time 240 minutes (4 hours).
Front Cover Metal Indonesia Vol.43 No.1 2021 Admin Jurnal Metal
Jurnal Metal Indonesia Vol 43, No 1 (2021): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2021.v43.%p

Abstract

Pengaruh Variasi Holding Time dan Media Pendingin pada Proses Solution Treatment terhadap Kekerasan dan Ketangguhan Paduan Baja Fe12Mn1,5Mo Faried Miftahur Ridlo; Permana Andi Paristiawan; Mukhlis Agung Prasetyo
Jurnal Metal Indonesia Vol 42, No 2 (2020): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2020.v42.77-85

Abstract

Baja mangan austenitik merupakan baja yang digunakan secara luas pada industri tambang dan mineral karena memiliki ketahanan aus dan ketangguhan yang tinggi. Secara umum, baja mangan austenitik yang dibuat melalui proses pengecoran memiliki kecenderungan getas dengan ketangguhan yang rendah karena terbentuknya formasi karbida. Proses solution treatment diikuti dengan pendinginan cepat menjadi hal penting untuk melarutkan karbida sehingga menjamin terbentuknya  struktur full austenit pada temperatur kamar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi holding time dan media pendingin pada proses solution treatment terhadap kekerasan dan ketangguhan paduan baja Fe12Mn1.5Mo. Pada penelitian ini, karakteristik baja Fe12Mn1.5Mo hasil cor diinvestigasi lebih lanjut setelah dilakukan proses solution treatment dalam dua tahap, yaitu memanaskan dari temperatur ruang sampai 700oC dengan holding time 3 jam, kemudian dinaikkan sampai temperatur 1000 oC dengan variasi holding time selama 1 jam, 2 jam dan 3 jam diikuti dengan quenching menggunakan 3 media pendingin berbeda (air, larutan garam 1.5% dan 3%). Pada pendinginan menggunakan larutan garam 1.5% dan 3% menunjukkan bahwa semakin lama holding time, maka nilai kekerasan dan nilai impak juga semakin meningkat. Sementara itu, spesimen yang didinginkan menggunakan air menghasilkan nilai yang berfluktuasi untuk kedua sifat mekanik. Nilai kekerasan tertinggi sebesar 344 BHN pada variasi holding time 2 jam diikuti dengan pendinginan air, sementara nilai impak tertinggi sebesar 73.7 J/cm2 dihasilkan pada variasi holding time 1 jam dengan pendinginan air.  Nilai impak terendah sebesar 48.8 J/cm2 dihasilkan pada variasi holding time 1 jam dengan pendinginan larutan garam 3%. Hasil metalografi menunjukkan bahwa struktur mikro matriks austenit yang mengakibatkan nilai kekerasan yang rendah sedangkan karbida tak terlarut yang terdispersi di batas butir dan di dalam butir yang mengakibatkan nilai kekerasan yang tinggi. Di sisi lain, Proses solution treatment yang berlangsung kurang sempurna berakibat pada menurunnya ketangguhan karena terbentuknya presipitasi karbida.
Analisis Kekuatan Mekanis A304 menggunakan Logam Pengisi E308 pada Pengelasan GTAW dengan Variasi Parameter Apang Djafar Shiedieque; Amri Abdulah; Dede Ardi Rajab; Jefri Jafarudin
Jurnal Metal Indonesia Vol 43, No 1 (2021): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32423/jmi.2021.v43.17-26

Abstract

AbstrakTeknologi pengelasan adalah metode penyambungan material yang umum digunakan di industri, konstruksi, dan manufaktur. Makalah ini membahas Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) menggunakan logam pengisi ER308 untuk menyambung logam dasar A304. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kekuatan tarik dan  lentur dari bahan dengan variasi tipe v-groove dan arus pengelasan sebagai parameter pengelasan. Jenis sambungan yaitu butt-welds dengan 45° v-groove, 60° v-groove, dan 60 ° double v-grooves, sedangkan arus pengelasan bervariasi antara 75A, 100A dan 125A. Uji kuat tarik menggunakan HUNG TA-520 dengan kapasitas mesin 500 kN. Hasil kekuatan puncak masing-masing capaian berada pada 645,70 N / mm2, 633,16 N / mm2, dan 613,89 N / mm2. Kemudian pada hasil uji tekuk retakan terbesar pada sampel terjadi pada arus 75A. Dari hasil ini lebih baik menggunakan arus 100A. AbstractWelding technology is a method of joining materials commonly used in industry, construction, and manufacturing. This paper discusses Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) using ER308 filler metal to join the A304 base metal. This study aims to examine the strength and bending test of the variation of the v-groove type and welding current as welding parameters. Types of joints are butt-welds with 45 ° v-grooves, 60 ° v-grooves, and 60 ° double v-grooves, while the welding current varies between 75A, 100A, and 125A. Tensile strength test using HUNG TA-520 with an engine capacity of 500 kN. The peak strength results of each achievement are at 645.70 N / mm2, 633.16 N / mm2, and 613.89 N / mm2. Then the bending test results, the largest cracks in the sample, occurred at a current of 75A. From these results it is better to use a current of 100A.