cover
Contact Name
Indri Astrina Fitria Indrarani
Contact Email
risetarsitektur@unpar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
risetarsitektur@unpar.ac.id
Editorial Address
Gedung PPAG 1, Lantai 1A Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung, 40141, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal RISA
ISSN : 25488074     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.26593/risa
Core Subject : Engineering,
Jurnal RISA aims to contribute to scientific research, practice, and education by publishing national and international studies. The scope of this journal includes the dissemination of research findings, ideas, and reviews in the following subject areas: 1. History, Theory, and Philosophy of Architecture; 2. Housing and Settlements; 3. Architecture and Urban Design; and 4. Building Management Technology.
Articles 430 Documents
DESIGN THINKING YANG DILAKUKAN BUDI PRADONO DALAM PROSES DESAIN HOTEL U JANEVALLA Nadia Rahmalia Putri ; Jonathan Hans Yoas S.
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1204.101 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i1.3684.15-32

Abstract

Abstrak- Design thinking merupakan proses di mana arsitek melakukan pendekatan problem-solving untuk menyikapi masalah-masalah dalam proses desain. Proses problem-solving ini merupakan proses pencarian solusi yang paling tepat dari semua solusi-solusi yang diciptakan. Solusi-solusi yang diambil menjadi keputusan-keputusan desain, merupakan faktor pembentuk dari desain keseluruhan bangunan dan pengambilannya dipengaruhi oleh sikap normatif arsitek.Salah satu arsitek di Indonesia yang memiliki karakter kuat sehingga selalu menghasilkan desain arsitektur yang menarik adalah Budi Pradono. Firma arsiteknya bernama Budi Pradono Architects atau sering disingkat menjadi BPA.Salah satu bangunan karya BPA yang menarik adalah Hotel U Janevalla di Bandung. Melihat tampilan bangunan tersebut yang atraktif secara sekilas, tercermin kerumitan dalam proses perencanaannya karena bentukannya yang tidak biasa dan sangat iconic.Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui bagaimana design thinking yang dilakukan oleh Budi Pradono dalam proses desain Hotel U Janevalla Bandung.Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan langsung ke lapangan, gambar kerja, serta dari wawancara kepada arsitek utama dan arsitek in-charge Hotel U Janevalla.Kesimpulan yang diperoleh bahwa design thinking yang dilakukan Budi Pradono dalam proses problem-solving dari tahapan konsep hingga pengawasan berkala terlihat dengan jelas dipengaruhi oleh sikap normatifnya dan menjadi cerminan dari keatraktifan desain Hotel U Janevalla. Dalam design thinkingnya, arsitektur yang layak dengan sikap normatif arsiteknya adalah arsitektur yang memiliki inovasi karena didapatkan dari hasil pemetaan fenomena terkini dengan riset dan mengedepankan eksperimen dengan mempertanyakan produksi bangunan konvensional. Problem yang muncul dalam design thinking Budi Pradono adalah bagaimana agar ia dapat membuat desain hotel yang atraktif dan memenuhi arsitektur yang layak sesuai dengan sikap normatifnya. Tujuan Budi Pradono untuk menciptakan hotel dengan desain yang atraktif turut menambah sub-problem dalam desain. Hal ini membuat proses problem-solving yang dilakukan akan semakin banyak tetapi dapat menciptakan potensi inovasi yang semakin banyak pula. Selain itu, bertambahnya sub-problem juga diakibatkan oleh hal-hal yang tak terduga muncul dalam prosesnya dan membutuhkan penyikapan desain. Prosedur problem-solving yang digunakan dalam design thinking Budi Pradono adalah seluruh prosedur tetapi didominasi oleh penggunaan prosedur generate-and-test procedures. Rules yang digunakan pada beberapa kasus problem-solving adalah rules analogi dancing, rules relasi bangunan dengan lingkungan, rules operator, rules standar hotel bintang 4, dan rules desain industrial. Tipe Problem-solving yang paling sering dilakukan adalah problem-solving yang terus berkembang dengan penyesuaian atau rules yang masuk dan akhirnya menemukan keputusan solusi.
PENGARUH ELEMEN DESAIN BANGUNAN TERHADAP PERFORMA PENCAHAYAAN ALAMI PADA LAPANGAN BULUTANGKIS INDOOR BUMI PANCASONA KBP BANDUNG Safira Ali ; Ariani Mandala
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.3 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i1.3685.33-49

Abstract

Abstrak- Desain lubang cahaya yang baik pada bangunan bisa dilakukan untuk memaksimalkan potensi pencahayaan alami pada negara tropis. Bangunan olahraga bulutangkis merupakan salah satu fungsi bangunan bentang lebar yang sensitif terhadap pencahayaan alami dan membutuhkan teknik khusus dalam memasukan cahaya alami ke dalamnya karena bentangnya yang lebar. Terdapat tiga aspek kenyamanan visual yang harus dipenuhi oleh desain pencahayaan pada bangunan olahraga bulu tangkis yaitu daylight factor 2%, persebaran illuminasi dan efek silau. Ketiga aspek kenyamanan visual tersebut akan menjadi titik berangkat penelitian ini sebagai variabel penelitian.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh elemen desain terhadap performa pencahayaan alami pada objek studi Bumi Pancasona sport center dengan cara eksplorasi elemen desain. Penelitian dilakukan dengan cara mengevaluasi performa objek studi, dan menganalisa pengaruh elemen tapak dan bangunan terhadap performa pencahayaan alami pada bangunan. Dari evaluasi performa pencahayaan alami pada objek studi, akan diketahui elemen desain yang paling berpengaruh terhadap pencahayaan alami pada lapangan bulutangkis. Elemen desain yang berpotensi meningkatkan performa pencahayaan alami pada objek studi akan di eksplorasi. Eksplorasi dilakukan dengan simulasi program komputer Velux untuk menciptakan keadaan terkontrol.Berdasarkan hasil evaluasi, objek studi belum mencapai standar kenyamanan visual yang berlaku dengan nilai daylight factor 0.1%, persebaran illuminasi yang kurang merata, dan tidak terjadi silau. Elemen desain yang berpotensi meningkatkan kenyamanan visual pada bangunan adalah posisi jaring pada interior bangunan, luas bukaan dan posisi bukaan pada bangunan, tiga elemen tersebut akan dieksplorasi lebih lanjut sebagai upaya meningkatkan kenyamanan visual. Hasil eksplorasi yang memberikan nilai paling mendekati standar adalah eksplorasi desain jenis saw tooth, dengan nilai daylight factor 1.1%, persebaran illuminasi paling merata di antara semua eksplorasi dan tidak terjadi silau pada lapangan sepanjang tahun. Berdasarkan hasil eksplorasi, setiap elemen desain yang di eksplorasi akan meningkatkan performa pencahayaan alami yang berbeda tergantung kebutuhan pada bangunan dan aktivitas ruang.sarana yang ada.
KOMPARASI TATA MASSA DAN RUANG PADA MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON DAN MASJID GEDHE KAUMAN YOGYAKARTA Muhammad Rifki Meidianto ; Indri Astrina
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.291 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i1.3686.50-65

Abstract

Abstrak- Penyebaran Islam di Indonesia meninggalkan keberagaman budaya akibat adanya akulturasi khususnya di Pulau Jawa. Di antaranya adalah ritual-ritual atau aktivitas asli Jawa kuno yang disesuaikan dan dipadukan dengan budaya Islam. Aktivitas ritual budaya ataupun ritual religius Islam tersebut tentunya memerlukan ruang. Masjid pun menjadi wadah untuk aktivitas tersebut dengan ruang-ruang di dalamnya yang menunjang aktivitas-aktivitasnya. Aktivitas-aktivitas tersebut tentunya memengaruhi tata ruang dan massa pada masjid sebagai sarana penyebaran agama Islam saat itu. Cirebon dan Yogyakarta yang merupakan dua kerajaan Islam atau kesultanan di Pulau Jawa pada saat itu tentunya memiliki masjid utama sebagai sarana ibadah maupun sarana penyebaran agama, masjid tersebut adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Kedua masjid tersebut memiliki lokasi dengan keadaan berbeda, hal ini menarik untuk diteliti karena tentunya dua wilayah ini memiliki budaya yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari perbedaan dan persamaan tata ruang dan massa berdasarkan aktivitas pada Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Gedhe Kauman.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan keadaan tata ruang dan massa kedua masjid dan membandingkannya dengan teori tata ruang dan massa berdasarkan aktivitasnya untuk mengetahui perbedaannya. Data kedua masjid dikumpulkan dengan cara observasi lapangan dan studi pustaka. Data dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu tata massa pada lingkup lingkungan sekitar, dan tata ruang dan massa pada lingkup tapak kedua masjid. Analisis aktivitas dan budaya di kedua masjid dikaitkan dengan teori tata ruang dan massa, dan juga kebutuhan ruangnya yang kemudian membandingkan tata ruang dan massa kedua masjid tersebut.Melalui penelitian ini ditemukan bahwa terdapat perbedaan tata massa pada kedua masjid di mana Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di pesisir memiliki orientasi ke arah kiblat sesuai ajaran Islam dan Masjid Gedhe Kauman yang berada di pedalaman Jawa berorientasi tepat ke arah matahari terbenam atau barat mengikuti konsep kosmologi Jawa yang digunakan keraton. Selain itu, ritual budaya setempat Yogyakarta dilakukan di kompleks Masjid Gedhe Kauman yang memengaruhi tata massanya sedangkan di Cirebon, ritual budaya setempat dilakukan di kompleks Keraton Kasepuhan ataupun alun-alun. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada tata ruang dari kebutuhan aktivitas ritual Islam, namun hanya saja pada Masjid Gedhe Kauman, terdapat pembatasan yang jelas antara ruang shalat atau bersuci pada pria dan wanita di mana adanya pawestren atau ruang shalat wanita pada masjid tersebut dan ruang tersebut tidak terdapat pada Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
SENSE OF PLACE PADA ATMOSPHERE RESORT CAFÉ SEBAGAI OASE DI PUSAT KOTA BANDUNG, JL. LENGKONG BESAR Janice Janice ; Tito Gunawan W.
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.197 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i1.3687.66-80

Abstract

Abstrak- Bentuk fasilitas rekreasi, relaksasi dan hiburan berupa restoran dan café terus berkembang pesat dengan inovasi tanpa henti. Aspek ini terus berkembang untuk memenuhi permintaan gaya hidup masyarakat yang semakin konsumtif sebagai akibat dari perkembangan zaman tanpa henti ke arah yang semakin modern. Era globalisasi ini pun menggiring masyarakat pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Gaya hidup kemudian menjadi identitas dari masing-masing individu yang dianggap sebagai kunci dari kehidupan sosial mereka melalui media sosial. Maka dari itu arsitektur didalam dunia kuliner diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung agar kemudian dapat diunggah dalam media sosial mereka.Inovasi yang dihadirkan oleh Atmosphere Resort Café adalah adanya pensuasanaan resort pada café-nya yang berlokasi di kawasan pusat Kota Bandung, Jalan Lengkong Besar. Kawasan ini merupakan kawasan perdagangan dan perumahan padat, dan merupakan jalan utama dengan satu arah pada kawasan setempat. Pihak Atmosphere Resort Café berharap dapat menghadirkan pensuasanaan yang berbeda di kawasan pusat kota ini melalui konsep resort café-nya, juga untuk menjadi berbeda dari café-café lain.Lokasinya yang berada di pusat kota menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk dapat menghadirkan pensuasanaan resort yang pada umumnya ditemukan di kawasan pinggiran kota, jauh dari pusat kota itu sendiri. Maka bagaimana sense of place dengan karakter resort dapat diterapkan di kawasan pusat Kota Bandung sehingga menjadi sebuah oase menjadi menarik untuk dibahas. Tujuan penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui karakter tempat seperti apakah yang dimiliki Atmosphere Resort Café melalui analisis sense of place dengan karakter resort, serta dampaknya bagi para pengunjung atau pengguna.Metode yang digunakan berupa pendekatan kualitatif dengan cara menguraikan konteks kawasan dan karakter resor, serta menguraikan komponen sense of place yaitu setting pada tatanan fisiknya dan pengguna untuk memahami reaksi psikologis yang terjadi. Setting pada tatanan fisiknya mencakup identitas dan faktor fisik, sedangkan pengguna mencakup kualitas yang dirasakan terhadap setting yang ada. Pengambilan data dilakukan melalui peninajuan lapangan, studi pustaka, wawancara, pengumpulan kuesioner sebagai respon pengunjung dan dokumentasi.Diperoleh kesimpulan bahwa karakter resort pada kawasan pusat kota ini diperkuat dengan adanya arsitektur lanskap sebagai salah satu elemen utama Atmosphere Resort Café. Selain itu tatanan massa dan spasialitas ruang yang ada, ditunjang dengan penggunaan materialnya yang memperkuat cerminan alam, membuat pensuasanaan resort semakin terasa dan pensuasanaan pusat kota yang hiruk pikuk dimatikan melalui kontrol ruang yang diciptakan. Setting yang ada pun berhasil merangsang kesadaran dan persepsi pengunjung. Pengunjung pun merasa senang dan relaks saat berada di Atmosphere Resort Café dengan adanya pensuasanaan yang demikian. Maka didapati karakter tempat Atmosphere Resort Café sebagai sebuah resort café yang memperkuat identitasnya sebagai oase di pusat kota Bandung.
UPAYA PELESTARIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA PADA KAWASAN OBSERVATORIUM BOSSCHA, LEMBANG, JAWA BARAT Widyana Wiza Kesuma Rangkuti ; Harastoeti D. Hartono
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.296 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i1.3683.1-14

Abstract

Abstrak- Menurut UU No.11 tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan melalui proses penetapan. Seluruh elemen atau hal yang patut disematkan status Cagar Budaya tentu memiliki beberapa kriteria dan batasan tersendiri untuk kemudian dijadikan salah satu upaya pelestarian yang dilakukan untuk elemen tersebut.Sejak rampungnya pembangunan sebagai salah satu pusat penelitian benda langit pada masa itu, fungsi utama dari Observatorium Bosscha hingga saat ini masih berjalan sesuai fungsi awal dirancangnya bangunan tersebut. Sehingga dengan adanya fakta ini membuat Observatorium Bosscha memiliki seluruh kriteria yang dibutuhkan oleh baik segubah maupun kawasan untuk memiliki status sebagai Bangunan/Kawasan Cagar Budaya.Penetapan lokasi berdirinya Observatorium Bosscha jelas beralasan, di mana ketika awal perencanaan pada tahun 1920an, Kota Lembang menjadi lokasi yang strategis dalam pembangunan sebuah Observatorium. Tetapi dewasa ini, Observatorium Bosscha memiliki kendala, di mana kendala yang di hadapi adalah pembangunan permukiman di Kota Lembang yang pesat dan tidak bisa dihindari. Hal ini membuat fungsi utama dari Observatorium Bosscha terganggu oleh beberapa aspek yang di antaranya adalah beberapa fungsi yang dimiliki oleh Kawasan Observatorium Bosscha dan fungsi utama yang terganggu oleh faktor lingkungan. Dengan terjadinya beberapa gangguan yang jelas cukup mengganggu fungsi utama dari Observatorium Bosscha membuat beberapa pihak yang tekait melakukan sejumlah upaya dalam rangka melestarikan Observatorium Bosscha sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional. Seluruh upaya pelestarian yang telah dilakukan memiliki acuan yaitu tinjauan hukum yang berlaku.Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui apakah upaya pelestarian yang telah dilakukan baik tertulis maupun fisik dapat mempertahankan fungsi utama Observatorium Bosscha sebagai pusat pengamatan benda langit.Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan langung ke lapangan, serta wawancara terhadap pihak Observatorium Bosscha. Akan diperoleh kesimpulan bahwa beberapa upaya pelestarian yang dilakukan masih ada yang belum optimal dilakukan mengingat dasar hukum sebagai acuan untuk segala tindakan yang dilakukan belum memiliki batasan yang jelas dalam perlindungan fungsi utama dari Observatorium Bosscha.
KAJIAN TERITORIALITAS KERATON KANOMAN Pandu Adikara Hidayat Nugrahadi ; Franseno Pujianto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2197.302 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3806.190-204

Abstract

Abstrak - Keraton Kanoman merupakan salah satu bangunan yang penting dalam sejarah terbentuknya Kota Cirebon. Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1678, keraton berfungsi sebagai bangunan pemerintah serta penyebar agama Islam pada Tanah Sunda. Teritori Keraton Kanoman diperkuat dengan keberadaan Masjid Kanoman pada sisi Barat keraton, serta Pasar Kanoman pada sisi Timur, sementara pada sisi Utara terdapat alun-alun keraton. Terdapat area permukiman pada sektiar bangunan Keraton Kanoman. Permukiman sekitar keraton dihuni oleh keluarga dan abdi dalem keraton, permukiman tersebut dinamakan magersari. Magersari berfungsi sebagai pagar yang menandakan teritori kawasan keraton, serta melindungi keraton dari serangan pihak luar. Magersari terletak dalam radius 100 meter dari bangunan Keraton Kanoman.Area Keraton Kanoman mengalami perkembangan pesat pada sekitar tahun 1900. Pada  tahun 1924 pemerintah belanda membangun Pasar Kanoman pada sisi Utara keraton, sehingga area komersil berkembang pesat bersama dengan area pecinan. Pada tahun 1970 area permukiman mengalami perkembangan yang besar dan tidak terencana, perkembangan permukiman diisi dengan pendatang baru. Perkembangan besar yang terjadi sepenuhnya menutupi bangunan keraton dari jalan utama. Meskipun terjadi perkembangan area yang menutupi bangunan keraton, Keraton Kanoman masih dapat berdiri dan mempertahankan eksistensinya sebagai bangunan sejarah dan kebudayaan.Bangunan Pasar Kanoman serta perkembangan area permukiman keraton menyebabkan bangunan Keraton Kanoman menjadi tersembunyi dan tidak terlihat dari jalan utama. Perkembangan pembangunan menyebabkan terjadinya invasi terhadap area teritori keraton, invasi yang terjadi berupa peralihan fungsi lahan dan aktivitas.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk teritorialitas Keraton Kanoman pada tatanan fisik eksisting didalam lokasi penelitian. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik place centered mapping. Data yang dikumpulkan untuk menunjang penelitian berasal dari observasi pada tatanan fisik dan aktivitas penghuni kawasan Keraton Kanoman.Bentuk teritori bangunan dikaji melalui tipe teritori yang ada pada kawsan keraton serta perilaku teritorial yang terjadi didalamnya. Hasil penelitian menunjukan teritori keraton terbagi kedalam empat tipe yaitu teritori central, supporting, attached, serta peripheral. Teritori central keraton terletak pada komplek bangunan keraton. Teritori supporting dan attached terletak pada area sekitar keraton yang ditandai dengan personalisasi ruang keraton serta perilaku teritorial penghuni Keraton Kanoman. Teritori peripheral terletak pada jursidiksi area kawasan Keraton Kanoman.
EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI LUASAN, PENZONAAN, SIRKULASI INTERNAL, DAN RUANG GERAK PADA UNIT APARTEMEN TIPE 2 KAMAR TIDUR Steffi Averina Prajogo ; Alexander Sastrawan
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.621 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3801.120-137

Abstract

Abstrak- Penelitian ini membahas bagaimana efektivitas dan efisiensi luasan, penzonaan, sirkulasi internal, dan ruang gerak pada unit apartemen tipe 2 kamar tidur dalam rentang 5 tahun sejak 1994-2018 karena berdasarkan data yang didapat, angka pertumbuhan dan harga apartemen meningkat pesat sehingga keberadaan apartemen di masa depan diperkirakan akan terus meningkat. Pertumbuhan apartemen seharusnya menghasilkan unit yang efektif dan efisien pula untuk menarik peminat. Karena itulah dibutuhkan penelitian ini untuk menghasilkan unit yang lebih efektif dan efisien lagi di masa mendatang. Berdasarkan literatur dan data perolehan berbagai apartemen, unit 2 kamar adalah unit yang paling banyak dirancang dan selalu ada pada apartemen.Untuk menentukan efektivitas dan efisiensi pada unit 2 kamar apartemen tersebut maka digunakan metode perhitungaan floor efficiency ratio dan perhitungan netto–bruto. Selain itu digunakan juga standard-standard minimum yang ada untuk menunjang persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah unit 2 kamar tidur pada apartemen. Pada penelitian ini dilihat perubahan faktor-faktor luasan, zoning, tata letak, sirkulasi internal, dan juga ruang gerak terhadap lembar kerja unit 2 kamar tidur objek penelitian dengan membandingkan apartemen tersebut dari tahun ke tahun hingga didapatkan pola yang terjadi. Objek penelitian yang dipilih adalah Apartemen Taman Rasuna yang merupakan pelopor bertumbuhnya apartemen Indonesia, lalu apartemen Wisma Gading Permai, The Majesty, The Summit, Galeri Ciumbuleuit 2, Scientia Residences, M Town Residences dan Branz BSD.Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor luasan, zoning dan tata letak, sirkulasi internal, dan juga ruang gerak sangat memengaruhi efektivitas dan efisiensi sebuah unit 2 kamar tidur pada apartemen. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa angka tertinggi pemenuhan efektif maupun efisien luasan, penzonaan, sirkulasi internal, dan ruang gerak adalah 75% yang berada pada tahun 1998-2012 dan terendah 50% di 1994 dan 2018. Dari 8 apartemen tidak ada unit yang mencapai 100% efektif maupun efisien karena berdasarkan faktor pun tidak ada yang mencapai keefektifan dan efisiensi tersebut.
VISIBILITY MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT SEBAGAI LANDMARK KOTA BANDUNG Ludowikus Panduhadi Pangestu ; Yasmin Suriansyah
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2757.976 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3807.99-119

Abstract

Abstrak - Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (MPRJB) adalah sebuah elemen kota yang dibangun untuk menjadi landmark kota. Elemen kota tersebut dibangun dengan tujuan memperingati perjuangan rakyat Jawa Barat melawan penjajah. Monumen ini merupakan salah satu Primary Element of Bandung dalam kawasan Gedung Sate – Lapangan Gasibu – MPRJB. Kawasan tersebut merupakan ruang kota yang sangat unik yang mampu mengarahkan orientasi menuju Gunung Tangkuban Parahu karena terbentuk axis imajiner yang ditarik dari Gedung Sate menuju MPRJB, sehingga Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat tidak bisa lepas dari kawasan ini dan berpotensi dalam menandakan kawasan tersebut atau sering disebut sebagai landmark.Seiring berkembangnya kota, terjadi perubahan fisik pada kawasan Gedung Sate – MPRJB seperti; tumbuhnya intensitas bangunan menjadi tinggi serta muncul infrastruktur seperti jembatan dan pelebaran jalan yang menyebabkan pergerakan dalam kota menjadi cepat. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap terhalangnya visual MPRJB akibat perkembangan fisik kota serta perubahan cara pengamat dalam mengamati kota dari diam menjadi bergerak. Isu tersebut menjadi menarik untuk diteliti seberapa jauh perkembangan fisik kota dan elemen di dalamnya dalam menghalangi visual MPRJB. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi seberapa besar visibility MPRJB sebagai landmark dan elemen kota apa saja yang mampu menghalangi atau mendukung visibility MPRJB.Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif terhadap visibility fisik massa MPRJB. Penelitian ini mendeskripsikan keadaan eksisting MPRJB melalui rekaman gambar titik-titik sekuensial (serial vision) lalu disegmentasikan untuk mendapatkan perbandingan siluet MPRJB dengan objek sekitarnya dalam scene tersebut. Setelah itu diberi skor dari tiap masing-masing titik dan dibandingkan dengan teori visibility suatu objek dalam berperan menjadi landmark. Data kawasan MPRJB dikumpulkan dengan cara observasi lapangan dan studi pustaka. Data yang dikumpulkan berupa foto dokumentasi pada titik sekuensial, data objek pelingkup yang berada di kawasan MPRJB, dan data kegiatan pengamat yang berpotensi dapat melihat MPRJB yang digunakan untuk mencari tahu seberapa besar visibility MPRJB dan objek apa saja yang menghalangi atau mendukung visibility MPRJB.Hasilnya adalah tingkat visibility MPRJB di titik-titik sekuensial mayoritas di rendah dalam perannya sebagai landmark Kota Bandung karena banyaknya objek yang menghalangi visual dari MPRJB. Semakin tinggi visibility suatu objek maka semakin tinggi peran suatu objek menjadi landmark untuk diingat dan dijadikan orientasi oleh pengamat kota. Temuan lain berupa daftar identifikasi objek penghalang dan pendukung visibility MPRJB yang dapat digunakan dalam penelitian selanjutnya untuk meningkatkan visibility MPRJB.
TRANSFORMASI TATA RUANG DALEM DI SEKITAR KAWASAN JERON BETENG, YOGYAKARTA Arvisista Arvisista ; Y. Basuki Dwisusanto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.091 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3802.138-154

Abstract

Abstrak- Dalem atau rumah bangsawan adalah rumah yang diberikan oleh Keraton Yogyakarta kepada saudara atau kerabat Sultan. Dalem berada di dalam dan sekitar kawasan Jeron Beteng, Yogyakarta. Saat ini dalem sudah mengalami banyak perubahan terutama dari tata ruang dalem. Perubahan tersebut dipengaruhi dari peningkatan kepadatan penduduk dan perubahan pola pikir masyarakat menjadi lebih modern di lingkungan kawasan Jeron Beteng. Perubahan-perubahan yang muncul pada dalem terutama dalam aspek tata ruanganya menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami perubahan yang terjadi pada tata ruang dalem dan aspek yang mendominasi terjadinya perubahan pada dalem.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan mengkaji dari aspek sejarah kawasan dan budaya masyarakat Jawa. Kedua aspek tersebut menjelaskan adanya adat atau ritual yang dilakukan secara terus menerus dan menjadi dasar pembentukkan tata ruang dengan ruang-ruang yang dibutuhkan pada rumah masayarakat Jawa. Data diperoleh dengan melakukan observasi ke lapangan dan wawancara serta studi literatur. Analisis dalem dikaji dengan mempelajari budaya dan sejarah Yogyakarta serta prinsip arsitektur Yogyakarta.Penelitian ini mencoba mengungkap bagaimana perubahan yang terjadi terhadap tata ruang dalem dengan membandingkan kondisi tata ruang berdasarkan prinsip arsitektur Yogyakarta dengan kondisi dalem saat ini. Aspek tata ruang yang dibahas adalah orientasi, fungsi, bentuk bangunan, zonasi ruang, dan susunan massa dalem. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa perubahan yang terjadi pada dalem diawali dari peningkatan kepadatan penduduk dan pola pikir modern sehingga terjadinya perubahan fungsi pada dalem untuk pemanfaatan ruang, perubahan bentuk bangunan, perubahan zonasi ruang pada kawasan, dan penambahan massa pada susunan massa.
PEMAKNAAN RUMAH BERDASARKAN ASPEK KOSMOLOGI DALAM KEBUDAYAAN SUMBA BARAT OBJEK STUDI: RUMAH TARA MANU DI KAMPUNG WEE LEWO Aurelius Aaron Rosimin ; Caecilia S. Wijayaputri
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1546.268 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3803.155-172

Abstract

Abstrak- Kampung adat Wee Lewo merupakan salah satu kawasan konservasi kebudayaan yang masih memegang erat tradisi dan budaya yang diterapkan secara turun-temurun. Di kampung adat Wee Lewo ditemukan adanya keunikan pada rumah adat tradisionalnya yang penggunaannya tidak dikhususkan untuk mencukupi kebutuhan penggunanya saja, namun juga melingkupi kebutuhan teologis dan kebutuhan tradisi yang melingkupi relasi manusia secara horizontal dan secara vertikal. Rumah adat Tara manu dipilih karena memiliki data yang lengkap dan memiliki tatanan ruang berbeda dari rumah adat lainnya yang ada di kampung adat Wee LewoMetode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan memaparkan analisa objek berdasarkan kosmologi yang ada di dalam budaya Sumba, yang kemudian dijelaskan melalui keberadaan elemen arsitektur yang ada di dalamnya. Data-data yang diambil sebagai bahan analisa merupakan data fisik dan data objek yang bisa didapatkan melalui survey lapangan dan wawancara narasumber yang berkaitan. Proses analisa dilakukan dengan cara meneliti seluruh aktifitas dan pemahaman lokal tentang rumah adat yang kemudian dikaji secara komprehensif menggunakan teori kosmologi dari budaya Sumba.Analisa kosmologi dalam budaya Sumba terhadap elemen-elemen arsitektur yang ada di dalam rumah adat Sumba dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa rumah adat merupakan tempat untuk berkumpul bagi penggunanya baik secara berkeluarga dan berkoloni; rumah adat juga merupakan perwujudan dari Marapu yang senantiasa hadir diantara pengguna rumah adat; di rumah adat juga terdapat keseimbangan yang saling berhubungan satu sama lain namun keduanya tidak bisa dipisahkan.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 02 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 01 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 3 (2025): Jurnal RISA (Riset Arsitektur) Vol 8 No 04 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 03 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 02 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 01 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 04 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 03 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 02 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 01 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 04 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 03 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 02 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 01 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 04 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 03 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 02 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 01 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 04 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 03 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 02 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 01 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 04 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 03 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 02 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 1 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" More Issue