cover
Contact Name
Indri Astrina Fitria Indrarani
Contact Email
risetarsitektur@unpar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
risetarsitektur@unpar.ac.id
Editorial Address
Gedung PPAG 1, Lantai 1A Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung, 40141, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal RISA
ISSN : 25488074     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.26593/risa
Core Subject : Engineering,
Jurnal RISA aims to contribute to scientific research, practice, and education by publishing national and international studies. The scope of this journal includes the dissemination of research findings, ideas, and reviews in the following subject areas: 1. History, Theory, and Philosophy of Architecture; 2. Housing and Settlements; 3. Architecture and Urban Design; and 4. Building Management Technology.
Articles 430 Documents
KAJIAN PERSEPSI TERHADAP RUANG ARSITEKTUR MELALUI MEDIA FOTOGRAFI STUDI KASUS: KAMPUNG KOREA BANDUNG Haruka Fauzia Primandita ; Roni Sugiarto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.884 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3937.339-349

Abstract

Abstrak- Arsitektur, dianggap sebagai salah satu instrumen utama untuk menghubungkan seorang individu  dengan dimensi ruang dan waktu. Namun, seriring dengan berkembangnya budaya dan teknologi, seorang  individu tidak harus berada di sebuah ruang untuk dapat merasakan ruangnya, melainkan hanya dengan melihat  gambar atau foto dari ruang tersebut. Dengan menggunakan media fotografi arsitektur, seorang arsitek dapat  mengkomunikasikan ide, konsep, dan fungsi melalui komunikasi visual kepada masyarakat umum. Namun,  bentukan gambar sebagai media komunikasi nonverbal yang tidak memiliki deskripsi khusus dan terarah seperti  halnya bentuk komunikasi verbal/tulisan, tentu akan memiliki proses penerimaan yang berbeda pada tiap individu.  Objek visual yang terbentuk sedemikian rupa akan mengarahkan persepsi yang kemudian memiliki hasil  penerimaan berbeda pada setiap individu karena proses pembentukan persepsi sangat bergantung pada  pengetahuan atau memori yang dimiliki oleh setiap orang. Oleh sebab itu, muncul pertanyaan apakah fotografi  arsitektur dapat mengkomunikasikan informasi yang efektif dan bersifat sama antara pengamat ruang langsung  dan pengamat ruang melalui media fotografi. Berdasarkan isu dan teori yang digunakan adalah teori yang mempengaruhi persepsi dan teori elemen ruang  luar. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian mix-method, yaitu gabungan antara penelitian kuantitatif  dan kualitatif. Karena proses dan makna (perspektif subjek) menjadi poin utama dalam penelitian namun harus  dimasukkan variabel-variabel yang sesuai sehingga data dapat diambil seoptimal mungkin. Setelah melakukan  penelitian, penulis kemudian memanfaatkan teori yang ada sebagai penjelas dan mencocokan teori dengan data  kemudian menganalisis data dan membuat kesimpulan akhir. Kesimpulan yang kemudian didapat dari penelitian ini adalah penjelasan bahwa seperti apa persepsi yang  dirasakan oleh responden pengamat langsung dan pengamat tidak langsung terhadap ruang-ruang di Kampung  Korea Bandung. Dari hasil data tersebut, faktor pembentuk persepsi dan emosi akan diidentifikasikan, hasil  dominan kemudian dari persepsi dominan pada objek seperti persepsi ‘buatan’, ‘sangat terang’, dan ‘bersih’ akan  dianalisa hubungannya dengan faktor pembentuk serta perbandingan persepsi pengaamat langsung dan pengamat  tidak langsung. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menambah pengetahuan tentang pengaruh faktor elemen  fisik ruang terhadap pembentukan persepsi yang dapat digunakan dalam proses pembuatan desain arsitektur atau  fotografi arsitektur.
EVALUASI DAN EKSPERIMEN DESAIN MODUL BATA INTERLOCKING UNTUK VARIASI LUAS BUKAAN VENTILASI PADA DINDING Ansheila Gabriela Budiyani ; Budianastas Prastyatama
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.897 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3932.269-287

Abstract

Abstrak - Ventilasi alami merupakan desain pasif dalam arsitektur untuk menanggapi negara dengan iklim tropis seperti Indonesia, sehingga dalam perancangan dinding perlu dipertimbangkan material-material bangunan yang dapat menghasilkan bukaan ventilasi. Bata interlocking merupakan salah satu contoh material bangunan dalam arsitektur. Kelebihan dari bata interlocking dibandingkan dengan bata merah yang umum terdapat di pasaran adalah adanya sistem pengunci yang memungkinkan pemasangan bata interlocking lebih efektif, efisien, dan mudah.Pada praktiknya, bata interlocking belum populer digunakan di Indonesia. Untuk menghasilkan dinding yang mempunyai bukaan ventilasi, bata merah yang umum di pasaran lebih diminati daripada bata interlocking. Hal ini dikarenakan desain bata interlocking untuk menghasilkan ventilasi pada dinding masih terbatas dan kurang di eksplorasi. Seringkali sistem pengunci pada bata interlocking membatasi jenis susunan yang dapat digunakan sehingga ventilasi yang dihasilkan juga kurang variatif. Bata interlocking sebenarnya mempunyai potensi untuk menjadi alternatif material untuk menghasilkan ventilasi pada dinding karena sifat-sifatnya yang menyerupai bata merah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan variasi luas bukaan ventilasi yang dihasilkan dari susunan bata dengan cara mengeksplorasi desain bata interlocking melalui eksperimen. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, yaitu dengan mengevaluasi desain preseden bata interlocking dalam kemampuannya menghasilkan bukaan ventilasi yang didasari pada studi literatur. Dari hasil studi literatur dan hasil evaluasi maka dilakukan eksperimen terhadap desain bata interlocking untuk mendapat variasi luas bukaan ventilasi.Hasil eksperimen yaitu desain modul diharapkan bata interlocking dapat menjadi alternatif pilihan material untuk menciptakan bukaan ventilasi pada dinding yang dapat disesuaikan dengan luas ruangan yang ditanggungnya. Oleh karena itu, dinding dari susunan bata interlocking dapat menghasilkan variasi luas bukaan ventilasi yang memenuhi standar yang berlaku sehinggga dapat digunakan pada dinding-dinding yang ingin menghasilkan ventilasi alami.
PERAN TATANAN ELEMEN ARSITEKTURAL TERHADAP PEMBENTUKAN SOUNDSCAPE PADA RUANG TERBUKA PUBLIK BALAI KOTA BANDUNG Hana Eka Hidayati ; Roni Sugiarto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1573.198 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3938.350-362

Abstract

Abstrak- Setiap ruang berperan untuk mewadahi aktivitas yang identik dengan budaya masyarakat dan memiliki  karakter estetikanya masing – masing. Terletak di pusat kota, ruang terbuka publik Balai Kota Bandung berperan  penting dalam pengendalian kualitas lingkungan ekologis dan sosial dalam kawasannya, sehingga membutuhkan  pengalaman soundscape yang berkualitas baik. Dengan tujuan revitalisasi taman dalam meningkatkan konteks  ruang sehingga mendukung kultur kegiatan, pengalaman audial di ruang terbuka publik Balai Kota Bandung  adalah hal yang esensial. Upaya mengendalikan pembentukkan soundscape dalam suatu ruang menghidupkan  hubungan harmonis antara keragaman aktivitas.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran tatanan elemen arsitektural ruang terbuka publik Balai  Kota Bandung terhadap pembentukan kualitas dan pengalaman soundscape. Metoda penelitaian yang dilakukan  adalah secara kualitatif, data diperoleh dari studi lteratur, pengamatan langsung ke lapangan, serta dari kuesioner  dan wawancara. Pengukuran kuantitatif dilakukan untuk melengkapi data kualitatif. Analisa deskriptif dilakukan  berdasarkan teori yang berkaitan dengan ruang terbuka publik, intentions in architecture, persepsi, soundscape,  dan akustik dalam arsitektur. Pada ruang terbuka publik Balai Kota Bandung terdapat beberapa suara yang membentuk soundscape ruang, diantaranya adalah kendaraan melintas, suara klaskson/ sirine, dan suara pesawat melintas sebagai  unwanted sound lingkungan. Suara kereta api melintas, suara speaker Masjid Al -Ukhuwwah, suara lonceng  gereja sebagai soundmark lingkungan. Suara anak-anak, suara komunitas, suara burung, dan suara air sebagai  soundmark dan wanted sound dalam. Tatanan elemen arsitektural pada Taman Dewi Sartika membentuk ruang  terbuka publik yang radial. Tatanan elemen arsitektural pada Taman Badak membentuk ruang terbuka publik yang  linier. Tatanan elemen arsitektural pada Taman Merpati membentuk ruang terbuka publik yang grid. Tatanan  elemen arsitektural pada Plaza Balai Kota membentuk ruang terbuka publik yang memusat. Tatanan elemen  arsitektural pada Taman Sejarah membentuk ruang terbuka yang klaster. Ruang terbuka publik di Balai Kota  Bandung telah cukup baik dalam menciptakan soundscape yang mewadahi kegiatan masyarakat. Namun, masih  membutuhkkan penangganan unwanted sounds agar kualitas pengalaman soundscape menjadi lebih optimal. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan bagi perancangan tatanan elemen  arsitektural ruang terbuka publik kota dalam pembentukan suasana, melalui aspek pengamanan multi-indra  khususnya dalam auditory experience.
PENERAPAN KONSEP MAHĀYĀNA, VAJRAYĀNA, MĀNASĀRA PADA KUIL BUDDHA MATARAM ŚAILENDRA Clarissa Clarissa ; Rahadhian P. Herwindo
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4414.1-17

Abstract

Abstrak- Berbagai prinsip dan tradisi arsitektur klasik India telah dikumpulkan dan dilestarikan dalam kajian yang dikenal sebagai Vāstuśāstra. Cabang keilmuan klasik India ini merupakan perwujudan arsitektural dari nilai-nilai Hindu ideal, dan karena itulah ide-ide di dalamnya memiliki pengaruh signifikan terhadap arsitektur keagamaan dalam wilayah budaya India Raya yang mencapai Pulau Jawa kuno. Pengaruh India dapat dikenali dalam desain candi Hindu di Jawa era Dinasti Śailendra meskipun terdapat sejumlah elemen arsitektural yang tidak ditemukan dalam vāstuśāstra. Namun, berbeda dengan agama Hindu yang memiliki kajian vāstuśāstra, agama Buddha tidak memiliki kajian seperti vāstuśāstra ataupun kuil Buddha yang berdiri sendiri sehingga, sumber yang dipakai sebagai panduan dalam membangun bangunan arsitektur Buddha dipertanyakan dalam Candi Buddha di Indonesia, khususnya Candi Buddha di Jawa Tengah era Mataram Kuno Dinasti Śailendra. Meskipun ajaran Buddha dan beberapa bagian dalam kajian vāstuśāstra diketahui turut berperan dalam pembangunan Candi Buddha di Indonesia, seberapa jauh aliran Buddha dan vāstuśāstra India diterapkan dalam candi sulit untuk diamati, mengingat tidak adanya kajian khusus dan referensi kuil Buddha yang berdiri sendiri untuk membangun Candi Buddha, dan narasumbernya yang sudah tidak ada. Dengan mencari informasi mengenai teori arsitektur ajaran-ajaran Buddha yang masuk ke Indonesia dan mengidentifikasi serta membandingkan bagian-bagian vāstuśāstra yang relevan, maka dapat terlihat elemen arsitektural apa saja yang merupakan bagian dari konsep ajaran Buddha tertentu serta yang merupakan bagian dari kajian vāstuśāstra. Dalam penelitian, metode deskriptif dan pendekatan kualitatif digunakan oleh penulis. Penulis berfokus pada sosok dan ornamen serta tata massa dan ruang. Penelitian ini mengumpulkan dan membandingkan berbagai bagian vāstuśāstra yang relevan serta beberapa konsep ajaran Buddha untuk dibandingkan dengan data dari duabelas sampel candi era Mataram Kuno Dinasti Śailendra. Perbandingan oleh penulis menunjukkan sejumlah hasil. Pertama, terdapat penerapan konsep mahāyāna, vajrayāna, dan kitab mānasāra pada elemen sosok, ornamen, tata massa, dan ruang candi Buddha di Jawa Tengah. Namun begitu, sejumlah detil arsitektural dari elemen-elemen tersebut memiliki perbedaan yang kentara dengan penuturan dalam vāstuśāstra. Sebagai contoh, beberapa penempatan Kala-Makara yang tidak mengikuti kitab mānasāra. Kedua, dengan adanya penerapan konsep mānasāra pada candi Buddha di Jawa Tengah membuktikan bahwa adanya pengaruh Hindu dikarenakan hubungan harmonis antara Buddha dan Hindu pada jaman tersebut. Ketiga, kuil Buddha free-standing pertama adalah Candi Batujaya 5/Blandongan (abad 2-3 M dan 7-10 M) karena kuil Mahabodhi di India baru dibangun seperti yang kita lihat sekarang pada restorasi fase 6 (tahun 700-800 M/abad 8 M).
UPAYA PENURUNAN NILAI OTTV UNTUK PENGHEMATAN ENERGI PADA HOTEL EMERSIA LAMPUNG SESUAI KRITERIA GREENSHIP Agung Pyawi Rahmanda ; Yasmin Suriansyah
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4415.18-35

Abstract

Abstrak- Krisis energi disebabkan oleh konsumsi energi yang tidak terkendali serta meningkat melebihi ketersedian yang ada. Konsumsi energi terbesar pada bangunan adalah energi untuk mendinginkan ruangan menggunakan Air Conditioning (AC). Hal ini terjadi karena desain selubung bangunan yang tidak dapat secara efektif mengurangi transfer panas dari luar menuju kedalam bangunan. GBCI (Green Building Council Indonesia) menentukan standar desain selubung bangunan yang yang tepat dalam mengkonservasi energi dinyatakan dalam OTTV (Overall Thermal Transfer Value) tidak boleh lebih dari 35 Watt/m2.Hotel Emersia Lampung  merupakan hotel bintang 4 yang melakukan renovasi pada tahun 2012. Dilihat dari desain bangunannya, arsitek hotel ini berusaha membuat hotel yang berkonsep ramah lingkungan. Mulai dari orientasi bangunan yang utara-selatan, peneduh eksternal di setiap bukaan, hingga penambahan secondary skin pada sisi bangunan sebelah barat. Tetapi setelah dilakukan perhitungan OTTVnya, selubung bangunan Hotel Emersia masih memiliki permasalahan pada selubung bangunannya dalam mengurangi transfer panas yang terjadi. Nilai OTTV hotel ini masih berada diatas kriteria yaitu sebesar 40,19 W/m2, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap elemen-elemen selubung bangunan agar dapat menurunkan nilai OTTV bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetehaui penyebab permasalahan panas yang terjadi dan memberikan saran perbaikan yang dapat menurunkan transfer panas pada selubung bangunan Hotel Emersia Lampung sehingga memenuhi standar nilai OTTV yang dikeluarkan GBCI (Green Building Council Indonesia).Metode penelitian yang digunakan adalah dekriptif-evaluatif. Penelitian dilakukan dengan cara menganalisis elemen selubung bangunan Hotel Emersia. Kemudian menganalisis bagaimana upaya untuk mereduksi transfer panas pada selubung bangunan. Hasil penelitian berupa rekomendasi perbaikan pada selubung bangunan yang dapat menurunkan nilai OTTV pada Hotel Emersia.Hasil penelitian menunjukan bahwa penyebab utama tingginya transfer panas yang yang terjadi pada selubung bangunan Hotel Emersia Lampung adalah nilai WWR yang besar di ketiga sisi bangunannya serta peneduh matahari yang kurang terutama di sisi timur menyebabkan nilai radiasi dan konduksi jendela menjadi besar. Selain kedua hal tersebut , pepohanan dan vegetasi yang ada disekitar tapak masih sedikit sehingga area tapak minim pembayangan dan menyebabkan suhu ditapak tinggi. Upaya seperti penurunan nilai WWR hingga pergantian material kaca dengan nilai Uf yang kecil dapat menurunkan nilai OTTV bangunan sampai sebesar 24,05 W/m2. Upaya lain seperti perbesaran rasio peneduh hingga perubahan orientasi bukaan juga dapat menurunkan nilai OTTV, namun penurunan yang terjadi tidak sampai dengan standar OTTV yang ditetapkan.
KONFIGURASI SPASIAL RUMAH TRADISIONAL TEPAL DALAM KAITANNYA DENGAN ASPEK SOSIO BUDAYA (OBJEK STUDI: DESA TEPAL, KECAMATAN BATULANTEH, KABUPATEN SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT) Ametha Safa ; Yohanes Basuki Dwisusanto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4416.36-51

Abstract

Abstrak- Rumah adalah sebuah konsekuensi fenomena budaya, dimana bentuk dan organisasinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya tempatnya berada. Sosio-budaya sendiri merupakan hasil pikiran dan akal budi, yang ada untuk kehidupan bermasyarakat. Hasil dari proses berbudaya ini menghasilkan berbagai perwujudan, seperti kesenian, kepercayaan, hingga karya arsitektur.Desa Tepal di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, merupakan satu dari sedikit desa terpencil di Pulau Sumbawa yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat yang diturunkan oleh para leluhurnya. Wujud fisik arsitekturalnya masih melekat dengan nilai-nilai dan tradisi yang berlaku. Hal ini dapat dilihat pada wujud fisik, sistem pengukuran, serta elemen lain pada rumah huniannya.Rumusan masalah yang menjadi landasan penelitian ini mencakup bagaimana aspek sosio budaya mempengaruhi konfigurasi spasial dan elemen pembentuk ruang Tepal. Tujuannya untuk menjelaskan kekuatan-kekuatan dalam kaitan aspek sosiobudaya yang mempengaruhi konfigurasi spasial dan elemen pembentuk ruang pada hunian.Metode yang digunakan pada penelitian ini merupakan metode kualitatif deskriptif dengan melakukan pengamatan terhadap wujud fisik hunian yang dipengaruhi oleh aspek sosiobudaya dari adat istiadat yang berlaku. Diperoleh kesimpulan bahwa terdapat aspek filosofis serta nilai-nilai seperti nilai kepercayaan, peran gender, usia, kebiasaan, dan ekonomi mempengaruhi penataan ruang pada bagian dalam, luar, serta elemen pembentuk rumah.
KESESUAIAN KONSEP RUANG RITUAL IBADAH BERJAMAAH DENGAN BENTUK ARSITEKTUR MASJID AL-AHDHAR Aysha Saffana Mazaya Reza ; Purnama Salura
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4417.52-68

Abstract

Abstrak- Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi penganut agama Islam terbesar di dunia. Tingginya jumlah penduduk yang menganut agama Islam menyebabkan tingginya kebutuhan untuk mendirikan masjid yang memiliki fungsi utama sebagai sarana untuk menjalankan kegiatan ibadah di berbagai daerah. Masjid sebagai tempat pertemuan manusia dengan Tuhan-nya idealnya memiliki aspek spasial yang sesuai dengan karakter kegiatan yang dilakukan didalamnya. Kegiatan ritual ibadah shalat berjamaah memiliki persyaratan dan alur gerak tertentu, sehingga memiliki penataan dan karakter yang berbeda dengan arsitektur bangunan lainnya.Seiring dengan berkembangnya zaman, arsitektur masjid semakin beragam. Inovasi struktur dan kemajuan teknologi memungkinkan munculnya variasi bentuk arsitektur masjid yang menarik. Berkenaan dengan hal tersebut, Masjid Al-Ahdhar merupakan salah satu masjid dengan bentuk arsitektur yang unik. Hal ini terlihat dari bentuk bangunan yang memanjang ke arah samping dan tidak berkubah, sehingga tidak seperti arsitektur masjid pada umumnya. Walaupun memiliki bentuk arsitektur yang menarik, perlu diketahui apakah hasil rancangan bentuk dan ruang dalam pada masjid dapat mewadahi fungsi dengan baik. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan konsep ruang ritual ibadah berjamaah pada arsitektur masjid.Tujuan penelitian ini adalah mengungkap kesesuaian konsep ruang ritual ibadah berjamaah pada objek studi terpilih, yaitu Masjid Al-Ahdhar. Penelitian dilakukan dengan melakukan penelusuran terhadap aspek-aspek konsep ruang ritual ibadah berjamaah, lalu kemudian menentukan aspek properti dan komposisi bangunan yang sesuai dengan konsep tersebut. Setelah itu, dilakukan evaluasi konsep ruang ritual pada hasil rancangan arsitektur Masjid Al-Ahdhar yang dibagi lingkup pembahasannya berdasarkan teori anatomi bangunan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi kontribusi mengenai aspek spasial dalam masjid. Sehingga, walapun arsitektur masjid memiliki bentuk yang beragam tetap memenuhi persyaratan kegiatan ibadah.
PENGARUH MULTI-ENTRANCE PADA PUSAT PERBELANJAAN TERHADAP SIRKULASI PENGUNJUNG STUDI KASUS: PASKAL 23 SHOPPING CENTER, BANDUNG Michelle Fiona Sutrisno ; Alexander Sastrawan
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4418.69-85

Abstract

Abstrak- Pusat perbelanjaan sebagai salah satu bangunan komersial menjadi bangunan yang mewadahi berbagai kalangan masyarakat. Pada zaman sekarang ini, terkhususnya di wilayah perkotaan, pergi ke sebuah pusat perbelanjaan sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat sehingga kegiatan dalam sebuah pusat perbelanjaan juga harus dapat mengikuti perkembangan zaman yang menjadikan pusat perbelanjaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja saja namun juga harus dapat berfungsi sebagai tempat berekreasi dan bersosialisasi bagi masyarakat. Perpaduan kegiatan berbelanja, berekreasi, dan bersosialisasi telah menjadi suatu gaya hidup bagi masyarakat perkotaan untuk menurunkan tingkat depresi.Kenyamanan yang ditawarkan dalam sebuah pusat perbelanjaan adalah poin penting untuk mencapai kesuksesan sebuah pusat perbelanjaan. Sirkulasi pengunjung yang membingungkan tentu akan mengganggu kenyamanan pengunjung ketika berada dalam sebuah pusat perbelanjaan. Kemungkinan yang menyebabkan pengunjung merasa bingung adalah sirkulasi itu sendiri atau dengan adanya multi-entrance pada sebuah pusat perbelanjaan. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui apakah multi-entrance yang terdapat pada Paskal 23 Shopping Center ini menyebabkan pengunjung merasa kebingungan ketika berada di dalam bangunan dan bagaimana pengaruhnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan langung ke lapangan, serta wawancara terhadap pengunjung Paskal 23 Shopping Center. Diperoleh kesimpulan bahwa walaupun keberadaan multi-entrance pada Paskal 23 Shopping Center dapat memudahkan pencapaian pengunjung ke dalam bangunan. Namun Sistem multi-entrance ini harus memiliki elemen-elemen tersendiri dan memiliki karakter yang kuat untuk dapat menggambarkan lokasi setiap entrance. Keberadaan elemen ini tidak terlihat pada multientrance Paskal 23 Shopping Center yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan bagi pengunjung dalam bersirkulasi.
KLASIFIKASI ADAPTASI RUANG, DAN BENTUK PADA RUMAH MASYARAKAT DESA NGLEPEN Winega Sutoko ; Franseno Pujianto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4419.86-101

Abstract

Abstrak- Pada tahun 2007 masyarakat Desa Nglepen Yogyakarta di relokasi ke kawasan permukiman bantuan yang dibangun oleh lembaga Dome For The World Foundation. Relokasi ini dilakukan karena rumah masyarakat Desa Nglepen hancur setelah insiden gempa pada tahun 2006. Kondisi hunian bantuan yang memiliki karakteristik fisik sangat berbeda dengan rumah pada umumnya memicu masyarakat Desa Nglepen untuk melakukan adaptasi. Penelitian ini membahas mengenai klasifikasi berdasarkan latar belakang pemicu adaptasi terhadap klasifikasi adaptasi berdasarkan ruang, dan bentuk masyarakat Desa Nglepen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana karakteristik hasil produk adaptasi yang dihasilkan berdasarkan latar belakang pendorong adaptasi dalam upaya mengakomodasi aktivitas sehari-hari.Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan kondisi eksisting rumah dome beserta dengan latar belakang perubahannya. Sampel penelitian pada klasifikasi adaptasi ini ditentukan pada masyarakat Desa Nglepen yang ingin menetap dengan huniannya. Pengumpulan data dilakukan melalui proses observasi dan wawancara terhadap penghuni rumah dome dan studi literatur. Analisis dilakukan berdasarkan teori strategi adaptasi dan faktor yang mempengaruhi perilaku adaptasi untuk mencari klasifikasi adaptasi berdasarkan latar belakang faktor yang mempengaruhi.Hasil dari klasifikasi berdasarkan latar belakang dan klasifikasi berdasarkan ruang, dan bentuk adalah karakteristik dari setiap adaptasi berdasarkan latar belakang pemicu adaptasi. Karakteristik adaptasi meliputi sifat ruang antara tertutup atau terbuka, kemudian penambahan massa yang mempengaruhi bentuk meliputi penambahan kearah depan, belakang, dan terpisah, pada rumah dome.
RELASI TIPO-MORFOLOGI CANDI HINDU DAN BUDDHA PADA ERA MATARAM KUNO Marcell Andrew Tuyu ; Rahadhian P. Herwindo
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i02.4727.102-116

Abstract

Abstrak Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan tertua di pulau Jawa. Pada era ini, pembangunan candi berkembang pesat. Kerajaan Mataram Kuno berdiri dibawah dua kekuasaaan wangsa. Pertama, oleh wangsa Sanjaya yang menganut ajaran Hindu. Kedua, oleh wangsa Sailendra yang menganut ajaran Buddha, namun pada pertengahan wangsa ini ajaran Hindu kembali masuk dan eksis dalam kehidupan rakyatnya. Wangsa atau dinasti yang ada melahirkan arsitektur candi yang dapat dibagi menjadi dua aliran, yaitu aliran Hindu dan aliran Buddha. Walaupun memiliki dua aliran yang berbeda, terdapat beberapa kejanggalan dari identitas arsitektur yang ada pada kedua candi tersebut. Hal yang pertama terlihat jelas adalah dari tata letak candi-candi tersebut, dimana kita dapat melihat beberapa candi Hindu dan Buddha yang letaknya berdekatan bahkan dalam satu kompleks percandian yang sama. Selain itu, diduga terdapat juga kesamaan beberapa elemen pada candi yang bercorak Hindu maupun Buddha pada masa itu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui relasi antara kedua aliran tersebut dalam pembangunan candi satu sama lain. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan kajian tipo-morfologi candi Hindu dan candi Buddha pada era Mataram Kuno, lalu membandingkan keduanya. Data dikumpulkan dengan cara observasi lapangan dan studi pustaka. Hasilnya ditemukannya persamaan dan perbedaan yang terdapat dalam kajian tipo-morfologi arsitektur candi Hindu dan Buddha pada masa itu. Berdasarkan persamaan dan perbedaan tersebut, penulis menyimpulkan beberapa relasi yang terjadi antara ajaran Hindu dan ajaran Buddha terhadap perancangan candi Hindu dan Buddha pada era Mataram Kuno. Penulis menyimpulkan bahwa relasi dapat ditemukan pada aspek sosok dan ornamentasi, sedangkan perbedaan dapat ditemukan pada aspek tata massa dan tata ruang. Namun perlu ditegaskan bahwa ada kasus khusus dimana dapat ditemukan relasi antara kedua ajaran tersebut, yaitu pada candi Prambanan. Pada kasus ini, dapat dilihat bahwa terjadi pencampuran kedua ajaran tersebut dalam perancangan arsitekturnya. Hal ini dapat dilihat sebagai titik mulainya akulturasi arsitektur candi di Nusantara. Kata Kunci: tipo-morofologi, candi, Hindu, Buddha, Mataram Kuno

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 02 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 01 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 3 (2025): Jurnal RISA (Riset Arsitektur) Vol 8 No 04 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 03 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 02 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 01 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 04 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 03 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 02 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 01 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 04 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 03 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 02 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 01 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 04 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 03 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 02 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 01 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 04 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 03 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 02 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 01 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 04 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 03 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 02 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 1 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" More Issue