cover
Contact Name
Indri Astrina Fitria Indrarani
Contact Email
risetarsitektur@unpar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
risetarsitektur@unpar.ac.id
Editorial Address
Gedung PPAG 1, Lantai 1A Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung, 40141, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal RISA
ISSN : 25488074     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.26593/risa
Core Subject : Engineering,
Jurnal RISA aims to contribute to scientific research, practice, and education by publishing national and international studies. The scope of this journal includes the dissemination of research findings, ideas, and reviews in the following subject areas: 1. History, Theory, and Philosophy of Architecture; 2. Housing and Settlements; 3. Architecture and Urban Design; and 4. Building Management Technology.
Articles 430 Documents
KETERHUBUNGAN SENSOR INDRA ANAK DENGAN ELEMEN ARSITEKTURAL TAMAN LALU LINTAS ADE IRMA SURYANI NASUTION Hera Octavia Koestantijo ; Roni Sugiarto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1794.275 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3804.173-189

Abstract

Abstrak- Ruang publik memegang peranan penting bagi suatu wilayah. Sebagai wadah aktivitas komunal, ruang publik perlu diintegrasikan pada perancangan kota secara menyeluruh. Sayangnya, para arsitek dan perancang kota sering melupakan bahwa subjek pengguna ruang publik tidak hanya orang dewasa. Anak-anak juga memerlukan adanya ruang publik sebagai tempat mereka untuk tumbuh dan berkembang. Proses perkembangan awal manusia atau lebih dikenal sebagai fase kanak-kanak perlu diakomodasi oleh wadah yang memadai, salah satu caranya adalah dengan perancangan area publik yang ramah anak. Area publik anak perlu menumbuhkan minat anak dalam mengenal lingkungan tanpa melupakan pengalaman yang menyenangkan selama berkegiatan di dalamnya. Area bermain dianggap sebagai bentuk ruang publik yang baik untuk anak-anak, terutama dalam tahapan pengenalan interaksi sosial serta stimulasi sensor indra. Tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh peran sensor indra, terutama indra peraba dan penglihatan. Dua hal ini menjadi titik fokus penelitian penyesuaian anak dengan elemen arsitektural ruang publik ramah anak.Pada lingkup Bandung, Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution merupakan salah satu ruang publik ramah anak yang terletak di tengah kota dan kerap kali ramai dikunjungi keluarga serta anak-anak. Pada tahun 2017 silam, taman ini mengalami revitalisasi besar oleh Labo+ Architecture and Design yang menajamkan kembali visi Yayasan Taman Lalu Lintas mengenai edukasi pejalan kaki dan pengendara. Ruang publik ramah anak ini menjadi elemen kota yang penting untuk dibahas dan diteliti lebih lanjut. Penelitian dilakukan dengan mendata karakteristik material area bermain anak, kemudian dilanjutkan dengan analisis perilaku dan preferensi anak-anak. Teknik observasi dipilih dalam proses penelitian, dengan jumlah sampel 30 balita dan atau anak-anak.Proses pembelajaran anak berlangsung pada area bermain. Pengalaman anak dalam mempelajari lingkungannya sangat dipengaruhi oleh penampilan visual serta bentuk dan tekstur material sarana bermain yang tersedia. Stimulus lingkungan fisik baik alami maupun buatan rupanya sangat berpengaruh pada respon anak-anak yang terlihat dari ekspresi wajah. Rupanya, pengalaman bermain pada Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution meninggalkan kesan yang positif pada anak-anak yang datang.
ATMOSFER RUANG DI STUDIO AIR PUTIH @BATUBATA, TANGERANG Rionaldi Rionaldi ; Yenny Gunawan
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.545 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3933.288-305

Abstract

Abstrak - Suasana atmosfer ruang yang berbeda antara ruang luar yang dinamis dan beragam, secara gradual menjadi singular dan statis ditemukan pada @Batubata. Hal ini berbeda dengan ruang arsitektur yang hanya dipahami sebagai sebuah hegemoni occulocentrism, yang berfokus hanya pada kajian visual.Studi dilakukan untuk memahami pembentukan atmosfer ruang, dengan memahami elemen fisik-spasial-material yang membentuknya dan sensasi periferal yang tidak sadar, dialami subjek penggunanya. Atmosfer ruang bersifat abstrak dan intangible yang suasananya bisa dirasakan melalui medium ruang pada lingkungan binaan yang sifatnya perlahan (slowness) dan mendorong kesendirian (secluded).  Pembelajaran dilakukan melalui dua tahap studi. Tahap pertama untuk memaparkan elemen fisik-spasial-material melalui pembahasan layering dan transparansi, dimensi dan proporsi, density dan emptiness, serta material berdasarkan teori desain spasial Bert Bielefelt. Tahap kedua dilakukan pemaparan sensasi periferal yang dirasakan pengamat saat mengalami ruang- ruang di @Batubata. Sensasi periferal dirasakan simultan menggugah emosi dan imajinasi penggunanya. Pemaparan dilakukan berdasarkan teori yang disampaikan oleh Juhanni Pallasmaa. Pembentukan atmosfer ruang dipahami berdasarkan hasil kesimpulan pada kedua tahap ini.Studi ini merupakan studi terhadap fenomena yang terjadi di dalam ruang arsitektur. Metoda yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan lapangan, wawancara dengan arsitek perencana dan kuisioner kepada subjek pengguna. Penelitian dilakukan dengan meninjau elemen fisik spasial dan material melalui observasi awal, yang diperkaya dengan wawancara dan kuisioner terbuka kepada pengguna ruang.Dari hasil analisis tahap 1 didapat kesimpulan karakter ruang yang secluded, statis dan rapat. Pada analisis tahap 2, dihasilkan pengalaman ruang yang sunyi dan tenang.Dari kedua tahap tersebut, bisa disimpulkan bahwa @Batubata mampu memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan kesendirian (solitude) dan keperlahanan (slowness) untuk mengalami atmosfer melalui sensasi periferal mereka. Perasaan dan suasana hati subjek pengguna selalu memengaruhi pembentukan atmosfer ruang yang bersifat abstrak.
SENSORY DESIGN PADA ARSITEKTUR SEKOLAH PLAYGROUP – TK JAGAD ALIT WALDORF, BANDUNG Kezia Angelina Anugrah ; Aldyfra L. Lukman
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.598 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3939.363-379

Abstract

Abstrak- Manusia adalah subjek utama arsitektur, dan arsitektur hadir sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan  akan ruang untuk beraktivitas. Dalam hal ini, manusia sebagai subjek arsitektur tidak hanya mencakup orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak. Pada usia 3-5 tahun, anak-anak sedang dalam masa yang aktif dan  berkembang. Mereka sedang dalam masa di mana rasa ingin tahu mereka besar, dan imajinasi mereka juga sedang  berkembang. Karenanya, pengalaman multisensori merupakan sesuatu yang penting bagi mereka untuk  berkembang baik secara fisik maupun mental. Pengalaman multisensori dapat dihadirkan melalui interaksi anak-anak dengan lingkungannya, baik di dalam maupun di luar ruangan didukung oleh desain sensorik. Salah satu  lingkungan di mana anak-anak dapat berinteraksi dengan lingkungannya adalah sekolah. Sekolah Playgroup – TK  Jagad Alit Waldorf Bandung adalah sekolah yang berbasis pendidikan multisensori yang didirikan sejak tahun  2015. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi aspek arsitektural apa saja yang dapat menghadirkan  pengalaman multisensori bagi anak dan apakah pengalaman multisensori anak sudah terpenuhi atau belum. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, data diperoleh dari studi  literatur, pengamatan langsung ke lapangan, serta dari wawancara terhadap guru-guru sekolah playgroup – TK  Jagad Alit Waldorf Bandung.  Diperoleh kesimpulan bahwa aspek arsitektural sekolah playgroup – TK Jagad Alit Waldorf Bandung  memenuhi pengalaman multisensori anak, dengan sensori yang paling banyak terwadahi adalah sensori sentuhan.  Terdapat empat sensori utama yang menjadi fokus pada kurikulum Waldorf, yaitu sentuhan, gerakan,  keseimbangan, dan kehidupan. Pengalaman sensori itu dipenuhi lewat bentuk alat permainan yang menarik, serta  penggunaan material yang cukup beragam. Penggunaan material tersebut tidak hanya menarik bagi indera peraba,  tetapi juga bagi indera penglihatan. Tekstur material menjadi sesuatu yang menarik bagi anak-anak usia dini.  Sensori lain yang berada dalam bagian empat sensori utama yang menjadi fokus anak-anak 0-7 tahun  adalah gerakan anak-anak. Penyusunan furnitur membuat yang menciptakan ruang yang lapang menyediakan  ruang yang cukup bagi anak-anak untuk bergerak dengan bebas. 
EKSPLORASI KONSTRUKSI BAMBU RECIPROCAL-DEPLOYABLE GRIDSHELL Charnele Charnele ; Anastasia Maurina
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1915.28 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3929.205-233

Abstract

Abstrak - Adanya keterbutuhan akan naungan semi-permanen atau sementara yang mudah dan cepat dibangun untuk sesuatu peristiwa tertentu. Pada penelitian ini menggali potensi struktur bentang lebar transformatif dengan menggabungkan dan mengembangkan sistem struktur konstruksi deployable dan reciprocal dalam bentuk struktur atap bidang gridshell bambu, menjadi sebuah konfigurasi mandiri tersusun dari variasi komposisi modul dengan bantuan komputasional mengikuti kebutuhan desain arsitektur. Hal ini dilakukan dengan mengetahui potensi sistem struktur, pola desain, dan sistem sambungan pada beberapa objek studi yang dievaluasi secara kualitatif dengan metode komparasi pada sistem struktur, sambungan, karakter batang, penyaluran beban, sistem penguncian struktur, dan deployability.Manfaat penelitian berfokus pada penelitian struktur bambu untuk menjadi inovasi baru dalam keteknikan material bambu yang dapat meningkatkan nilai lokalitas Indonesia dengan dapat digunakan masyarakat terutama dalam menggunakan material bambu untuk pengembangan naungan sementara maupun permanen.Pembahasan mengenai kriteria sistem struktur sesuai tujuan penelitian merupakan hasil dari analisa objek studi dimana struktur transformasi berdasarkan karakter struktur deployable sedangkan struktur reciprocal merupakan sistem yang menyokong untuk memberikan kestabilan dan sistem penguncian mandiri. Kedua struktur ini merupakan sistem struktur yang fleksible dan mudah diduplikasi sehingga untuk memenuhi fungsi sebagai struktur bentang lebar, sistem struktur didesain membentuk gridshell. Bentuk gridshell ini yang diolah dengan bantuan komputasional untuk membentuk sistem struktur reciprocal-deployable secara efektif.Penelitian yang bersifat eksplorasi, eksperimen dilakukan pada pola reciprocal hingga menemukan pola paling stabil dan mengubah karakter batang lurus pada reciprocal menjadi batang deployable berupa scissor-like element, lalu mengembangkan jenis sambungan dengan analisa potensi dan kendala tiap sambungan. Eksperimen menghasilkan sistem struktur baru dengan menggabungkan kedua sistem struktur didapatkan struktur yang dapat bertransformasi, memiliki sistem penguncian mandiri, dan dapat membentang lebar dengan bentuk gridshell.
KOMPARASI BENTUK DAN TEKTONIKA CANDI HINDU ERA KLASIK TUA DI JAWA DENGAN KUIL HINDU ERA PALLAVA DI INDIA SELATAN Laurentius Nicholas Rodriques ; Rahadhian P. Herwindo
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1125.71 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3934.306-323

Abstract

Abstrak- Candi Hindu di Jawa dan Kuil Hindu di India Selatan, kerap mendapat perhatian di dunia arsitektur dikarenakan adanya kemiripan langgam Dravida pada arsitektur bangunan kuil di kedua belah tempat. Kemiripan yang ditandai dengan bentuk atap piramidal berlapis ini tidak bisa dibilang mirip begitu saja tanpa melihat seluruh elemennya terlebih dahulu. Penulis mencoba menyederhanakan perbandingan bentuk dan tektonika dilihat dari pembagian umum tektonika sebuah bangunan yakni kaki, badan dan kepala. Dari hasil temuan penulis, bisa disimpulkan bahwa terdapat kesamaan pada ‘ide dasar’ atau ‘citra awal’ bangunan kuil Hindu di kedua tempat. Namun, setelah ditinjau secara seksama bentuk serta tektonika di kedua tempat mempunyai ciri khas masing-masing yang tidak saling berkaitan.Penelitian ini menunjukkan hubungan yang unik antar arsitektur Candi Hindu Jawa dengan India Selatan dimana relasi yang terjadi tidak bisa dibilang salah satu pihak memengaruhi pihak lain atau sebaliknya. Temuan dari penelitian ini justru menunjukkan ciri khas yang kental dari masing-masing tempat. Faktor yang membedakan bisa dikarenakan adanya perbedaan alam, preferensi, budaya ataupun teknologi pada dua lokasi itu di zaman tersebut. Walaupun Hindu adalah agama yang berasal dari India, nampaknya dari segi arsitekturnya tidak bisa dikatan Jawa memimik arsitektur Hindu India. Penelitian ini menunjukkan bahwa arsitektur Kuil Hindu memiliki benang merah yang mengikat pada prinsip dasarnya, namun hasil dari pengolahan desain akan berbeda tergantung konteks dan perancangnya.
KOMPARASI TATA MASSA, RUANG, ORNAMEN KUIL HINDU INDIA SELATAN DENGAN CANDI JAWA Finna Laurentia ; Yuswadi Saliya
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1231.145 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3940.380-398

Abstract

Abstrak- Agama Hindu pertama kali muncul di India yang kemudian masuk ke Indonesia. Salah satu buktinya  dapat terlihat dari ditemukannya prasasti yang bertuliskan huruf Pallawa. Pallawa sendiri merupakan salah satu  kerajaan yang pernah berkuasa di India Selatan. Hubungan antara India dengan Indonesia ini melebar hingga ke bidang arsitektur. Apabila dilihat secara sosok sekilas, bentuk kuil pada era Kerajaan Pallawa di abad ke 7  memiliki kemiripan dengan candi era klasik tua di Jawa. Dari adanya kemiripian ini, kuil di India Selatan menarik untuk dibandingkan dengan candi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan dan  persamaan apa saja yang dapat ditemukan dari kuil di India Selatan dan candi di Indonesia apabila dilihat dari  tata massa, ruang dan ornamennya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pertama, data tentang objek  dikumpulkan dari literatur dan kunjungan langsung ke lapangan. Setelah itu, data dideskripsikan untuk kemudian  dianalisis menggunakan teori yang relevan. Tata massa dan ruang pada masing-masing objek dianalisis  menggunakan teori organisasi ruang dan prinsip penyusunan. Sedangkan ornamen pada masing-masing objek dianalisis sesuai dengan teori pembagian elemen dalam sebuah kuil. Baru kemudian data tersebut dibandingkan  antara kuil di India dengan candi di Indonesia. Hasilnya ditemukan kesamaan pola tatanan massa pada kuil di India Selatan dan candi di Indonesia. Ada  dua pola tatanan massa yang ditemukan yaitu, pola tata massa berjejer dan pola tata massa berhadapan satu-satu.  Apabila dilihat dari kronologis waktu didirikannya kuil atau candi, pola tata massa berjejer sudah ada terlebih  dahulu pada kuil di India, sedangkan pola tata massa berhadapan satu-satu terlebih dahulu ditemukan di Indonesia.  Kedua pola ini sama-sama bisa ditemukan di India maupun di Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya relasi atau  hubungan timbal balik antara arsitektur India dengan Indonesia. Sedangkan dari tata ruang, hasil analisis  menunjukkan perbedaan antara kuil di India dengan candi di Indonesia. Ruang yang digunakan untuk aktivitas  beribadah di India bentuknya ternaungi maupun terlingkupi, sedangkan di Indonesia berupa ruangan terbuka. Hal  ini kemungkinan ada kaitannya dengan perbedaan iklim antara Indonesia dengan India. Dari sisi ornamen yang  digunakan, ditemukan lebih banyak perbedaan dibandingkan persamaan antara kuil di India dengan candi di  Indonesia. 
KAJIAN RELASI ARSITEKTURAL CANDI HINDU ERA MATARAM KUNO DALAM KAITANNYA DENGAN VĀSTUŚĀSTRA Aditya Bayu Perdana ; Rahadhian P. Herwindo
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2236.534 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3930.234-251

Abstract

Abstrak - Berbagai prinsip dan tradisi arsitektur klasik India telah dikumpulkan dan dilestarikan dalam kajian yang dikenal sebagai Vāstuśāstra. Cabang keilmuan klasik India ini merupakan perwujudan arsitektural dari nilai-nilai Hindu ideal, dan karena itulah ide-ide di dalamnya memiliki pengaruh signifikan terhadap arsitektur keagamaan dalam wilayah budaya India Raya yang mencapai Pulau Jawa kuno. Meskipun pengaruh India dapat dikenali dalam desain candi Hindu Jawa era Mataram Kuno, seberapa jauh vāstuśāstra India dijadikan panutan lebih sulit untuk diamati, mengingat bahwa candi Jawa memiliki sejumlah elemen arsitektural yang tidak ditemukan dalam vāstuśāstra maupun kuil India. Dengan mengidentifikasi dan membandingkan bagian-bagian vāstuśāstra yang relevan serta purwarupa India kuno dengan peninggalan candi Jawa, maka dapat terlihat elemen arsitektural yang merupakan bagian dari kontinuitas lingkup budaya India serta bagian yang merupakan local genius. Penelitian ini menggunakan metode komparasi kualitatif dengan pendekatan historis dan tekstual. Penulis berfokus pada sosok serta penataan sosok dan rupa. Penelitian ini mengumpulkan dan membandingkan berbagai bagian vāstuśāstra yang relevan serta contoh-contoh India dari studi pustaka untuk dibandingkan dengan data dari enam sampel candi era Mataram Kuno, tiga dari masa tua dan tiga dari masa tengah.Perbandingan oleh penulis menunjukkan sejumlah hasil. Pertama, sosok candi Hindu Jawa era Mataram Kuno sesuai dengan bentuk dasar kuil Hindu India sebagaimana yang dituturkan dalam vāstuśāstra, dengan tujuh bagian vertikal yang disebut Upapīṭha, Adhiṣṭhāna, Pada, Prastara, Gala, Śikhara, dan Stūpi. Namun begitu, sejumlah detil arsitektural dari elemen-elemen tersebut memiliki perbedaan yang kentara dengan desain tipikal India serta penuturan dalam vāstuśāstra. Sebagai contoh, Kala-Makara Jawa tidak mengikuti Toraṇa-Makara India sebagaimana yang dituturkan dalam Mānasāra. Beberapa elemen Jawa bahkan tidak memiliki purwarupa India sama sekali. Kedua, tata massa dan tata ruang candi Jawa memiliki perbedaan yang lebih kentara lagi dengan kuil India. Pada kasus orientasi, candi Jawa dapat menghadap barat atau timur sementara sebagian besar kuil India menghadap timur. Sementara itu dalam perihal penataan massa, penataan tipikal Jawa dengan satu candi utama yang berhadapan dengan jejeran tiga candi sekunder sama sekali tidak ditemukan di India. Sebaliknya, penataan India yang memiliki Maṇḍapa di depan menara kuil utama juga sama sekali tidak terlihat pada candi Jawa.Penelitian ini menunjukkan bahwa relasi antar candi Jawa dan vāstuśāstra tampaknya renggang dan fleksibel; kitab vāstu  pada tataran tertentu digunakan pada aspek bentuk dasar, namun tidak diikuti dalam detil pengolahan. Para perancang candi Jawa mengikuti dan mengabaikan berbagai bagian vāstuśāstra sesuai kondisi. Kondisi ini bisa jadi disebabkan oleh perbedaan material maupun perbedaan selera yang membentuk local genius. Perancang Jawa tidak pernah sekedar membangun imitasi akurat kuil India di pulau Jawa, rancangan candi Jawa menunjukkan adanya kreativitas dan sifat selektif dalam meyikapi pengaruh asing sehingga tercipta rancangan inovatif yang unik. Pada fase klasik tua, pengaruh India masih dapat terlihat sedemikian rupa sehingga candi dapat dianggap sebagai suatu fenomena India yang dilokalkan. Namun seiring waktu dari masa pembangunan Candi Prambanan hingga seterusnya, purwarupa India menjadi semakin sulit dideteksi sehingga candi menjadi produk arsitektur yang sepenuhnya lokal. 
KOMPARASI KUIL MEENAKSHI AMMAN DI INDIA SELATAN DENGAN PURA BESAKIH DI INDONESIA DITINJAU DARI TATA MASSA, TATA RUANG, SOSOK, DAN ORNAMEN Cista Dibya Anuttama ; Rahadhian P. Herwindo
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1189.353 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3936.324-338

Abstract

Abstrak- Agama Hindu Bali merupakan perkembangan dari agama Hindu India, pada awalnya diduga bahwa  semua ajaran agama Hindu bermula pada negara India dan menyebar ke dalam pulau Jawa terlebih dahulu  setelah itu ajaran Hindu India menyebar dan masuk ke dalam pulau Bali. Arsitektur Hindu India juga ikut masuk  bersamaan dengan ajaran Agama Hindu India, terdapat aturan – aturan yang harus di ikuti dalam merancang  sebuah bangunan, dan kuil termasuk salah satunya. Arsitektur Hindu Bali mendapatkan banyak pengaruh budaya  dari luar India dan Bali, seperti pengaruh dari Jawa dan Belanda yang membuat arsitektur Hindu Bali menjadi  seperti sekarang. Penelitian ini bersifat analisis kualitatif, dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan komparatif.  Penelitian dilakukan pada 23 Juni 2019 telah dilakukan survey lapangan Kuil Meenakshi Amman di India dengan  mendatangi objek – objek penelitian secara langsung dan melakukan wawancara kepada ahli – ahli di India.  Sedangkan waktu penelitian objek di Indonesia yaitu Pura Besakih di Bali, telah dilakukan pada tanggal 31 Juli  2019 dengan cara mendatangi objek penelitian dan mewawancarai ahli yang berada di objek penelitian. Dalam ajaran agama Hindu India dan Hindu Bali terdapat pembagian tiga dunia, yaitu dunia bawah,  dunia tengah, dan dunia atas. Ketiga bagian dunia ini dipresentasikan pada gubahan bangunan kuil dan pura.  Pada Kuil India gubahan bangunan tentang dunia bawah, tengah, dan atas dibagi menjadi tujuh bagian.  Sedangkan di Bali persis dibagi menjadi tiga bagian yaitu dunia atas (utama), dunia tengah (madya), dan dunia  bawah (nista). Selain itu pada penggunaan ornamen terdapat perbedaan pada detail sosok dan ornamen.  Penelitian ini mengomparasikan tata massa, tata ruang, sosok, dan ornamen pada kuil Meenakshi dan pura  Penataran Agung Besakih dan dilihat persamaan dan perbedaan yang dimilikinya. Dengan adanya  perkembangan kepercayaan agama Hindu , baik dari cara sembahyang maupun perspektif sosial pemaknaan  terhadap tata massa, tata ruang, sosok, dan ornamen yang diturunkan / diwariskan oleh ajaran Hindu India  dalam merancang kuil ikut berkembang dan memiliki detail yang berbeda dengan kuil Hindu di India sendiri. 
PENGARUH MULTI-ENTRANCE PADA PUSAT PERBELANJAAN TERHADAP SIRKULASI PENGUNJUNG STUDI KASUS: PASKAL 23 SHOPPING CENTER, BANDUNG Michelle Fiona Sutrisno ; Alexander Sastrawan
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.189 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3941.399-416

Abstract

Abstrak- Pusat perbelanjaan sebagai salah satu bangunan komersial menjadi bangunan yang mewadahi berbagai  kalangan masyarakat. Pada zaman sekarang ini, terkhususnya di wilayah perkotaan, pergi ke sebuah pusat  perbelanjaan sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat sehingga kegiatan dalam sebuah pusat perbelanjaan juga  harus dapat mengikuti perkembangan zaman yang menjadikan pusat perbelanjaan tidak hanya berfungsi sebagai  tempat berbelanja saja namun juga harus dapat berfungsi sebagai tempat berekreasi dan bersosialisasi bagi masyarakat. Perpaduan kegiatan berbelanja, berekreasi, dan bersosialisasi telah menjadi suatu gaya hidup bagi  masyarakat perkotaan untuk menurunkan tingkat depresi.  Kenyamanan yang ditawarkan dalam sebuah pusat perbelanjaan adalah poin penting untuk mencapai  kesuksesan sebuah pusat perbelanjaan. Sirkulasi pengunjung yang membingungkan tentu akan mengganggu  kenyamanan pengunjung ketika berada dalam sebuah pusat perbelanjaan. Kemungkinan yang menyebabkan  pengunjung merasa bingung adalah sirkulasi itu sendiri atau dengan adanya multi-entrance pada sebuah pusat  perbelanjaan.  Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui apakah multi-entrance yang terdapat pada Paskal 23 Shopping  Center ini menyebabkan pengunjung merasa kebingungan ketika berada di dalam bangunan dan bagaimana  pengaruhnya.  Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan langung  ke lapangan, serta wawancara terhadap pengunjung Paskal 23 Shopping Center. Diperoleh kesimpulan bahwa  walaupun keberadaan multi-entrance pada Paskal 23 Shopping Center dapat memudahkan pencapaian pengunjung  ke dalam bangunan. Namun Sistem multi-entrance ini harus memiliki elemen-elemen tersendiri dan memiliki  karakter yang kuat untuk dapat menggambarkan lokasi setiap entrance. Keberadaan elemen ini tidak terlihat pada  multientrance Paskal 23 Shopping Center yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan bagi pengunjung dalam  bersirkulasi.
PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN ELEMEN FISIK PERMUKIMAN KAWASAN KERATON KANOMAN PADA 1695-2019 Gani Wiratama ; Franseno Pujianto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1623.105 KB) | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3931.252-268

Abstract

Abstrak - Cirebon merupakan salah satu kota yang telah berdiri sejak lama di Nusantara. Kota Cirebon telah ada sebelum Belanda datang. Kota yang ada sejak lama ini mengalami proses perubahan lebih panjang dari kota-kota lain yang relatif lebih baru. Cirebon pada awal pertumbuhannya, merupakan kota yang berpusat pada Kerajaan dan termasuk dalam kota kosmis menurut S. Kostof (1991). Permukiman di Kota Cirebon awalnya berorientasi pada Keraton-Keraton Cirebon salah satunya adalah Keraton Kanoman . Permukiman sekitar Keraton Kanoman awalnya merupakan permukiman yang mengeilingi dan berpusat kepada Keraton Kanoman (E.P.Hendro,2014). Permukiman ini mengalami pertumbuhan dan perubahan hingga menjadi bentuk seperti sekarang.Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan dan perkembangan (morfologi) sebuah permukiman serta elemen permukiman apa saja yang hilang atau dipertahankan oleh warga sekitar dan Keraton Kanoman. Elemen permukiman yang dilihat perubahannya adalah jalan, nodes, kelompok bangunan (district), landmark, dan edge.Untuk mengetahui pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan perlu membandingkan elemen-elemen fisik itu berdasarkan peta terlama yang dapat ditemukan yaitu peta tahun 1695 hingga peta tahun 2019. Selain dengan data arsip, data lain bersumber dari observasi langsung ke permukiman kawassan Keraton Kanoman, wawancara dengan sesepuh maupun keluarga Keraton Kanoman, Diperoleh kesimpulan bahwa massa perumahan bertumbuh secara pesat dan masih mempertahankan Keraton Kanoman dan Alun-Alun sebagai landmark kawasan yang memiliki nilai historis dan religius simbolis.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 02 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 01 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 3 (2025): Jurnal RISA (Riset Arsitektur) Vol 8 No 04 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 03 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 02 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 01 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 04 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 03 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 02 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 01 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 04 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 03 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 02 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 01 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 04 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 03 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 02 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 01 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 04 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 03 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 02 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 01 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 04 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 03 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 02 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 1 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" More Issue