cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
GIZI INDONESIA
Published by DPP PERSAGI Jakarta
ISSN : 04360265     EISSN : 25285874     DOI : -
Core Subject : Health,
Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of Sciences since 2004. Gizi Indonesia aims to disseminate the information about nutrition, therefore it is expected that it can improve insight and knowledge in nutrition to all communities and academics. Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the nutrition field among practitioners as well as academics in public health and researchers
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 37, No 2 (2014): September 2014" : 16 Documents clear
KONTRIBUSI MAKANAN JAJAN DAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA DI KOTA SEMARANG Pramono, Adriyan; Sulchan, Mohammad
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i2.158

Abstract

Kejadian obesitas pada remaja meningkat di Indonesia. Peningkatan derajat kemakmuran berkorelasi dengan perubahan gaya hidup. Remaja lebih gemar jajan diluar rumah dan tidak banyak melakukan aktivitas fisik rutin seperti olah raga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi makanan dan aktivitas fisik terhadap kejadian obesitas pada remaja di Semarang. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pendekatan kasus kontrol (1:1). Dengan teknik acak sederhana, sejumlah 148 remaja usia 12 – 15 tahun menjadi subjek penelitian setelah melalui screening status gizi. Penentuan obesitas didasarkan pada persentil IMT/U 95 persentil. Data asupan makanan jajanan dan aktivitas fisik diperoleh melalui wawancara kuesioner terstruktur. Uji hubungan dua variabel dilakukan dengan chi square. Uji regresi logistik dilakukan untuk mengetahui variabel paling berpengaruh terhadap kejadian obesitas Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kontribusi makanan western fast food, makanan jajanan lokal dan tingkat aktivitas fisik terhadap obesitas (P 0,05). Model akhir regresi logistic menunjukkan kontribusi makanan jajan lokal yang mengandung lebih dari  300 kkal dan aktivitas fisik ringan memberi risiko masing masing sebesar 3,2 kali dan 5,1 kali menyebabkan obesitas pada remaja. Dapat disimpulankan bahwa makanan jajan yang mengandung lebih dari  300 kkal dan aktivitas fisik ringan berkontribusi terhadap kejadian obesitas remaja ABSTRACT CONTRIBUTIONS OF STREET FOOD AND PHYSICAL ACTIVITY TO ADOLESCENT OBESITY IN SEMARANG CITY The prevalence of adolescents obesity increased from time to time in Indonesia. Increasing of prosperity is correlated with changes in lifestyle. The lifestyles adopted among adolescents are interested  to buy eating street foods outside home and lack of physical activity as a result of high techology and spend more time outside home. The objective of the study is to study the contribution of street foods and physical activity to adolescents obesity in Semarang. This study is an observational study with case-control design (1case and 1 control). Simple random sampling was applied  after screening of nutritional status. A number of 148 adolescents aged 12-15 years became subjects of the study. Determination of obesity based on BMI percentile by age 95 percentile. Dietary intake of western fast foods, street foods and physical activity was obtained through interviewed using a structured questionnaire. Chi square test was performed to analyzed association between dependent and independent variables. Logistic regression analysis was used to determine the most influential variables on adolescents obesity. The results showed that there is a significant association between dietary western fast foods, local street foods and physical activity levels to adolescents obesity (P 0.05). Logistic regression showed that local street foods 300 kcal and light physical activity contributed 3.2 times and 5.1 times  to adolescents obesity. In conclusion, street foods contained more than  300 kcal and light physical activity contributed to adolescent obesityKeywords:  street foods, adolescents obesity, physical activity
KECENDERUNGAN PERTUMBUHAN TINGGI BADAN ANAK USIA 5-18 TAHUN DI INDONESIA 1940 – 2010 Sandjaja, nFN; Soekatri, Moesijanti YE
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i2.153

Abstract

Tinggi badan merupakan cermin dari pertumbuhan linier tubuh. Potensi pertumbuhan tinggi badan dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi, kesehatan, status gizi, konsumsi makanan, lingkungan hidup, dan genetik. Studi di banyak negara maju membuktikan bahwa tinggi badan yang semakin tinggi dan optimal pada umur yang sama sejalan dengan perbaikan tingkat kesejahteraan, disebut sebagai secular trend. Studi ini membandingkan tinggi badan anak Indonesia umur 5 – 18 tahun antar generasi sejak 1942 sampai 2010 dengan melakukan analisis data sekunder yaitu data dari Gorter tahun 1942 ( 30,000 anak), Yayah pada tahun 1984 (10,000 anak) dan dari RKD (Riset Kesehatan Dasar) tingkat nasional 2010 ( 60.000 anak). Hasil studi menunjukkan bahwa tinggi badan anak lebih rendah antara 7,0-13,8  cm pada laki-laki dan 6,0-10,7 cm pada perempuan dibanding dengan standar WHO. Tinggi badan anak lebih rendah di perdesaan dibanding di perkotaan, dan pada kuintil-1 pengeluaran per kapita dibanding kuintil-5. Selama kurun waktu sekitar 70 tahun (1940-an – 2010) tinggi badan anak hanya bertambah 0,8-3,5 cm untuk laki laki dan 0,3-1,9 cm pada perempuan.Tinggi anak di RKD 2010 bervariasi berdasarkan tempat tinggal dan status sosial ekonomi. Anak di Jakarta lebih tinggi 2,5-6,0 Cm pada laki laki dan 0,9-6.7 Cm pada perempuan dibandingkan dengan anak dari 32 provinsi di luar Jakarta. Status sosial ekonomi juga berhubungan dengan pertumbuhan linier yang mana mereka dengan tingkat sosial ekonomi  tertinggi (kuintil-5) paling tinggi sedangkan pada kuintil-1 mempunyai tinggi badan yang terendah. Disimpulkan bahwa tinggi badan anak Indonesia usia 5-18 tahun tahun 2010 lebih rendah dari standrar WHO, dan pertumbuhan linier tahun 2010 bertambah dibandingkan dengan tahun 1940-an. ABSTRACT SECULAR GROWTH OF BODY HEIGHT AMONG CHILDREN 5-18 YEAR OF AGEIN INDONESIA SINCE 1940 TO 2010 Other studies from industrialized countries shows that improvement of height and achievement of potential  growth is in accordance with better level of welfare, called secular growth. This paper aimed to provide evidence of secular growth of Indonesian children aged 5-18 year-old since 1940’s up to 2010 using secondary data. The study reviewed scientific articles or studies in former Netherland Indies and Indonesia from 1942 to 2010, with large sample size, covered most areas of Indonesia, sound scientific method, aged 5 year old above. Three studies available by Gorter in 1940’s ( 30,000 children), Yayah in 1984 (10,000 children) and secondary anthropometry data of RKD (Riset Kesehatan Dasar or Baseline Health Research) conducted nationwide in 2010 ( 60.000 children). This paper uses two older articles and analyze raw data of RKD 2010. The result shows that compared to WHO child growth standard height of Indonesian boys and girls is shorter 7.0-13.8 cm and 6.0-10.7 cm, respectively. There is only 0.8-3.5 cm in boys and 0.3-1.9 cm in girls increase of linear growth over 70 years since 1940’s. Child height in RKD 2010 varied according to residence and socio-economic status. Children in Jakarta were taller 2.5-6.0 Cm in boys and 0.9-6.7 Cm in girls compared to the rest of the country. Children from highest socio-economic status (quintile-5) is the tallest, and quintile-1 is the shortest. The difference of height is between 3.1-4.2 cm in boys and 1.6-3.7 in girls. It is concluded that height of Indonesian children 5-18 year-old in 2010 is lower than WHO standard and an increase of linear growth found in 2010 compared to in 1940’s. Keywords: secular trend, linear growth, body height
THE ROLE OF FUNCTIONAL FRUITS AND VEGETABLES ON HEALTH nFN Siswanto
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i2.159

Abstract

In the last three decades, there has been an evolution of nutrition science from classical nutrition science covering macro and micro nutrients into current nutrition science that elaborate not only basic nutrients (macro and micro nutrients) but also functional foods and omic science of nutrition (nutrigenomics and nutrigenetics). There are 7 categories of bioactive compounds in fruits and vegetables considered as functional foods, i.e. carotenoids, dietary fibre, fatty acids, phenolics (flavonoids), plant sterols, prebiotics/probiotics, and soy phytoestrogens. One category of functional foods which is believed to be important for degenerative disease prevention is phenolic compounds, considered as antioxidants. In principle, antioxidants will neutralise free radicals (radical oxygen species and radical nitrogen species) by donating their electron. Free radical is believed to cause inflammation and destruction of cell structure which in turn would cause the occurrence of degenerative diseases. Therefore, antioxidants are claimed as physiologically active compounds that can prevent a number of degenerative diseases, like cancer, cardiovascular disease, cataract, macular degeneration, chronic lung diseases, immune deficiency diseases, Diabetes Melitus, in facts, HIV/AIDS.ABSTRAKPERAN BUAH DAN SAYUR FUNGSIONAL TERHADAP KESEHATAN Dalam tiga dekade terakhir terjadi evolusi pada perkembangan ilmu Gizi, dari ilmu gizi klasik yang mencakup gizi makro dan mikro ke arah ilmu gizi masa kini yang menggali tidak saja ilmu gizi dasar tetapi juga pangan fungsional dan ilmu Omic dalam Gizi. (nutrigenomic dan nutrigenetik). Terdapat 7 jenis komponen bioaktif dalam buah dan sayuran yang disebut pangan fungsional, seperti karotenoid, serat, asam lemak, phenol (flavonoids), sterol dari tanaman, prebiotik dan probiotik, dan kedelai phytoestrogens. Satu jenis pangan fungsional yang dipercaya sangat penting dalam mencegah penyakit degenerative adalah senyawa phenol, termasuk dalam golongan antioksidan. Prinsipnya, antioksidan akan menetralisir radikal bebas(radical oxygen species dan radical nitrogen species) dengan memeberikan elektronnya. Radikal bebeas dipercaya dapat menyebabkan inflamasi dan penghancuran struktur sel yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penyakit degeneratif. Karena itu, oksidan diakui sebagai senyawa aktif secara physiologik yang dapat mencegah sejumlah penyakit degeneratif, seperti kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, katarak, degenerasi makular, penyakit kronis paru, penyakit kekurangan imun, kencing manis, dan termasuk HIV/AIDS.Kata kunci: pangan fungsional, senyawa bioaktif, penyakit degeneratif
BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERURISEMIA PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RS DUSTIRA CIMAHI Nelly Olifa Ilyas; Fred Agung Suprihartono; Maryati Dewi
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i2.154

Abstract

Hiperurisemia menjadi faktor independen terjadinya stroke dan penyakit kardiovaskuler. Cairan yang kurang menimbulkan terhambatnya ekskresi asam urat melalui urin sehingga menimbulkan hiperurisemia. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini secara umum adalah menganalisis besarnya risiko asupan cairan dan faktor determinan lain seperti kegemukan, asupan purin yang tinggi, asupan karbohidrat yang kurang, asupan lemak yang tinggi, riwayat keluarga dan aktifitas fisik pada kejadian hiperurisemia. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan edukasi dalam memperbaiki pola makan dan pola minum agar terhindar dari penyakit gout (artritis). Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol tanpa matching dengan jumlah sampel 78 orang, 39 orang kasus dan 39 orang kontrol. Pengumpulan data dilakukan di RS Dustira Cimahi dengan usia sampel 30-60 tahun. Analisis data yang digunakan adalah analisis odds ratio dan analisis multivariat dengan uji stratifikasi. Kasus dalam penelitian ini adalah memiliki kadar asam urat darah lebih dari normal, tidak hamil, tidak menderita penyakit ginjal dan hipertensi grade II,. Kontrol memiliki kadar asam urat darah normal, tidak hipertensi grade II, tidak menderita sakit ginjal dan tidak hamil. Data yang dikumpulkan meliputi data umum, asupan cairan, asupan karbohidrat, asupan lemak total, antropometri, aktivitas fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan cairan yang kurang meningkatkan risiko 6,92 kali terkena hiperurisemia, asupan purin yang tinggi meningkatkan risiko 3,889 kali terkena hiperurisemia, asupan lemak yang tinggi meningkatkan risiko 3,383 kali terkena hiperurisemia, riwayat hiperurisemia dalam keluarga meningkatkan risiko 6,379 kali terkena hiperurisemia. Disarankan penderita hiperurisemia cukup mengasup cairan, memilih makanan sumber purin rendah, membatasi asupan makanan sumber lemak jenuh, penderita dengan riwayat keluarga hiperurisemia harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman sumber purin.ABSTRACT RISK FACTORS OF HYPERURECEMIA IN OUTPATIENTS IN DUSTIRA CIMAHI HOSPITAL                Hyperuricemia is an independent factor to stroke and cardiovascular diseases. Low fluid intake prevents uric acid excretion through urine waste thus causing hyperuricemia. The aim of this research is to analyze the risk of fluid intake and other determinant factors of hyperuricemia. Outcome of this research can be used to educate people in relation to eating and drinking patternsfor preventing gout arthritis. This research used case control study design without matching, with 78 subjects (39 cases and 39 control). Control group had a normal uric acid concentration, no renal disease and no hypertention grade II, and not pregnant. While for case group, they had a higher uric acid concentration, no renal disease and no hypertention grade II, and not pregnant The data are taken at Dustira Hospital with the age range of 30 – 60 years old. Data taken are general data, fluid intake, carbohydrate intake, total fat intake, anthropometry, physical activities and family history of disease. Stastitical analysis used in this study was Odd Ratio (OR) and stratification analysis. The conclusion of this research is low intake of fluid has a risk of 6.92 times to be hyperuricemia, high intake of purin has a risk of 6.55 times to be hyperuricemia, high fat intake is 3,38 times and the history of hyperuricemia in family is 6.38 times risk to be hyperuricemia. High intake of purin and the history of hyperuricemia in the family were the confounding factors in the relationship between fluid intake and hyperuricemia. This research recommends that patients with hyperuricemia need adequate fluid intake, and need to lower their purin and fat intakes.Keywords: risk factors, hyperuricemia, fluid intake
FAKTOR RISIKO HIPERTENSI PADA ORANG UMUR 45-74 TAHUN DI PULAU SULAWESI Fatimah Amaliah; Sudikno Sudikno
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i2.160

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama baik di negara maju maupun negara berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan hipertensi pada orang dewasa umur 45-74 tahun di Sulawesi. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2007. Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian adalah orang dewasa berumur 45-74 tahun di Sulawesi. Jumlah sampel yang dianalisis 13.859. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi ditemukan sebesar 14,8 persen. Rata-rata umur responden 54,9±7,9 tahun. Dari hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan hipertensi adalah umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan status ekonomi. Pada penelitian ini belum dapat membuktikan adanya hubungan antara kebiasaan makan, aktivitas fisik dengan hipertensi. Program pencegahan terhadap hipertensi perlu dilakukan terutama yang tinggal di perkotaan yang penuh stres dan dengan pekerjaan yang lebih komplek. Disamping itu perbaikan sosial ekonomi dapat merubah gaya hidup seseorang, termasuk dalam makanan dan aktifitas fisik. Disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan berisiko (makanan berlemak, jeroan, makanan diawetkan, makanan berpenyedap), dan peningkatan aktivitas fisik secara teratur setiap hari.ABSTRACT RISK FACTORS OF HYPERTENSION IN PEOPLE AGED 45-74 YEARS IN SULAWESI Hypertension is a major health problem in both the developed and developing countries. The objective of this study was to identify risk factors associated with hypertension in adults aged 45-74 years in Sulawesi. This study uses data Riskesdas (Baseline Health Research) 2007. The study design was cross-sectional. Samples were adults aged 45-74 years in Sulawesi. The number of samples analyzed 13,859. The results showed that the prevalence of hypertension was found to be 14.8 percent. The result showed that the average age of the respondents were 54.9 ± 7.9 years. The logistic regression analysis showed that the risk factors associated with hypertension were age, gender, occupation/works, and economic status. In this study, it has not been proved yet a link between eating habits, physical activity with hypertension. However, prevention programs for hypertension needs to be done especially in urban area where people live in stress and with the more complex works . In addition, improvement in socio-economy status may lead to change in life style including meals and physical activity. It is suggested, people should reduce eating risk foods (fatty foods, offal, preserved foods, spicy food), and do physical activity regularly every day.Keywords: risk factors, hypertension, socio-economy status
ASUPAN ENERGI DAN PENGGUNAAN ENERGI (ENERGY EXPENDITURE) SELAMA KEHAMILAN: STUDI LONGITUDINAL Yuniar Rosmalina; Amalia Safitri; Fitrah Ernawati
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i2.155

Abstract

Selama kehamilan, asupan gizi seharusnya datang dari makanan yang baik dalam jumlah dan kualitas karena sangat penting untuk perkembangan kehamilan yang sehat. Selain itu keadaan kesehatan ibu selama kehamilan sangat mempengaruhi perkembangan janin, Tujuan tulisan ini adalah membandingkan energi yang masuk dengan energi yang dikeluarkan dalam melakukan kegiatan sehari. Penelitian ini adalah longitudinal yang mengikuti respondents dalam kaitannya dengan asupan energi dan pengeluaran energi dari usia kehamilan 3 bulan sampai usia 8 bulan dengan melakukan. Jumlah responden pada awal studi di trimester pertama (awal rekruitment) adalah 334 ibu dan pada akhir studi adalah 262 ibu. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik , berat badan,aktifitas fisik dan konsumsi makanan (melalui recall 1 x 24 jam). Berat badan, aktifitas fisik dan konsumsi makanan dikumpulkan setiap 2 minggu. Hasil menunjukkan bahwa asupan energi dan energi yang dikeluarkan relatif sama. Juga didapat rerata berat badan ibu pada kehamilan yang ke 3 bulan adalah 48,7 kg dan kemudian bertambah sesuai dengan perkembangan kehamilan. Rerata kenaikan berat badan dari usia 3 bulan ke 8 bulan kehamilan asupan energi, adalah 7,5 kg. Asupan energite rendah saat kehamilan 3 bulan yaitu 2000 Kal sehari kemudian meningkat pada kehamilan yang ke 7 bulan dan menurun kembali pada umur kehamilan ke 8 bulan.ABSTRACT ENERY INTAKE AND ENERGY EXPENDITURE DURING PREGNANCY:A LONGITUDINAL STUDY During pregnancy, nutrient intakes should come from both good quality and quantity foods because they are very important for developing healthy pregnancy. In addition to nutrient intake, health status during pregnancy greatly affects fetal development. This paper aims to study a comparison of the energy intake of pregnant women with energy expenditure in performing daily activities . This is a longitudinal study which followed respondents in relation to energy intake and energy expenditure from the age of 3 months until the age of 8 months of pregnancy. The number of respondents at the beginning of the first trimester of pregnancy/initial recruitment) was 334 mothers and the end of the study became262 mothers. Data collected included respondent characteristics (age, education, occupation), body weight, physical activity, nutrient intake using a 24-hour recall method. Body weight, physical activity and food consumption were collected every 2 weeks. The results indicated that energy intake and energy expenditure were at the average per month. Also showed an average maternal weight at the age of 3 months (initial recruitment) was 48.7 kg and the weight increased with increasing gestational age. The average increase in weight in the initial recruitment at the age of 8 months of pregnancy was on 7.5 kg. The lowest energy intake at 3 month pregnancy was 982 kcal per day, then increasing energy intake with increasing gestational age, but the average energy intake was only 50 percent compared to energy expenditure for their daily activities. The average energy expenditure was low at the age of 3 months of pregnancy, about 2000 kcal and increased until the age of 7 months of pregnancy then declined at the age of 8 months of pregnancy.Keywords: energy intake, energy expenditure, pregnant women
ANTROPOMETRI WANITA PRA HAMIL DAN PENGARUHNYA PADA PERTAMBAHAN BERAT BADAN SELAMA KEHAMILAN DI KECAMATAN BOGOR TENGAH, KOTA BOGOR Anies Irawati; Andi Susilowati
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i2.156

Abstract

Kehidupan janin dalam kandungan merupakan tahap peratama 1000 hari kehidupan yang menentukan kualitas manusia dimasa depan. Pertambahan berat badan ibu selama kehamilan merupakan indikator status gizi ibu hamil dan janin, yang tergantung pada status gizi ibu sebelum hamil. Ukuran antropometri ibu pra mil merupakan indikator yang mudah dan valid untuk prediksi status gizi ibu hamil. Tujuan penelitian ini adalah menilai perbedaan pertambahan berat badan ibu selama kehamilan menurut ukuran antropometri berisiko (tinggi badan 150 cm, berat badan sebelum hamil 45 kg, indeks massa tubuh sebelum hamil 18,5 kg/m2 dan lingkar lengan atas 23,5 cm). Penelitian kohor prospektif dilakukan pada 401 ibu sejak sebelum ibu hamil sampai anak dilahirkan dan berumur sedikitnya 23 bulan di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor yang dilakukan sejak tahun 2012 sampai sekarang. Berat badan dan lingkar lengan atas ibu di ukur setiap bulan, dan tinggi badan di ukur ketika responden dinyatakan hamil oleh bidan. Perbedaan pertambahan berat badan menurut ukuran antropometri berisiko dianalisis menggunakan uji T. Hasil menunjukkan bahwapertambahan berat badan ibu selama kehamilan lebih rendah secara bermakna pada ibu dengan ukuran antropometri berisiko (berat badan sebelum hamil 45 kg, tinggi badan 150 cm, IMT sebelum hamil 18,5 kg/m2, LiLA 23,5 cm). Selisih terbesar adalah pada ibu dengan berat badan sebelum hamil 45 kg (3,5 kg dari standar IOM 2009). Dapat disimpulkan bahwa berat badan ibu sebelum hamil merupakan indikator untuk pertambahan berat badan ibu selama kehamilan. Disarankan pada ibu yang memulai kehamilan dengan berat badan 45 kg perlu pemantauan berkala lebih ketat agar pertambahan berat badan selama kehamilan sesuai anjuran dapat terpenuhi. ABSTRACT  THE MEASUREMENT OF ANTROPOMETRY IN PREGNANT WOMEN AND ITS IMPACT TO THE INCREASE OF BODY WEIGHT DURING PREGNANCY IN CENTRAL BOGOR SUBDISTRICT, BOGOR CITY Maternal anthropometry measurement is a valid indicator for predicting pregnancy weight gain. The objective of the study is to evaluate the difference in weight gain during pregnancy according to maternal anthropometric measurement Prospective cohort study was applied tof 401 pregnant women from pre pregnancy until giving birth in the District Central Bogor, Bogor City since 2012 until now. Weight and mid arm circumference measured every month, and the height is measured one time. The difference in weight gain according maternal anthropometry measurement analyzed using T-test. The results showed that maternal weight gain during pregnancy was significantly lower in women with pre pregnancy body weight 45 kg, height 150 cm, BMI before pregnancy 18.5 kg / m2, MUAC 23.5 cm. In conclusion, maternal antropometry measurement before pregnancy is an indicator of maternal weight gain during pregnancy. It is suggested that Women who start pregnancy with anthropometry measurement less than 45 kg need regular monitoring more frequent in order to achieve weight gain as recommended.Keywords: anthropometry, body weight, pregnancy
PENGARUH KONSUMSI MINYAK GORENG YANG DIFORTIFIKASI VITAMIN A TERHADAP KADAR RETINOL AIR SUSU IBU Permaesih, Dewi; Rosmalina, Yuniar; Tanumiharjo, Sherry A
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i2.157

Abstract

 Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber energi, zat gizi penting, air, faktor imun, dan komponen lain yang diperlukan bayi yang memberi perlindungan pada bayi agar tidak kekurangan zat gizi termasuk kekurangan vitamin A. Pada penelitian ini dilakukan pemberian minyak goreng yang difortifikasi vitamin A dan minyak goreng biasa pada ibu nifas di masyarakat. Ibu nifas dengan umur bayi 14-28 hari dipilih secara acak untuk menerima minyak goreng yang difortifikasi atau tidak difortikasi selama 80 hari dan diikuti periode “wash out” selama 10 hari. Setelah intervensi selesai, rerata kadar retinol dalam Air Susu Ibu pada kedua kelompok menurun, masing masing 3,6 µg/dL untuk kelompok fortifikasi dibandingkan dengan 5,3µg/dL pada kelompok tidak fortifikasi. Tidak ada perbedaan rerata kadar retinol yang nyata pada kedua kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok yang mendapat minyak goreng yang difortifikasi sedikit lebih menguntungkan dibandingkan dengan kelompok yang mendapat minyak yang tidak difortifikasi, karena penurunan kadar vitamin A-nya lebih kecil.ABSTRACT THE EFFECT OF VITAMIN A FORTIFIED COOKING OIL ON BREASTMILK RETINOL STATUS Breastmilk is a source of energy, essential nutrients including vitamin A, water, immune factors, and many other components that are beneficial for infants. Breastmilk protects babies against vitamin A deficiency. The efficacy of maternal postpartum intervention with Vitamin A Fortified Cooking Oil on breast milk retinol concentration were assessed based on double-blind community trial. At 14-28 days postpartum women were randomly assigned to receive either Vitamin A fortified cooking oil or non fortified cooking oil for 80 days followed by wash out period of 10 days. After intervention, the mean of breast milk retinol concentration in both groups decreased, 3,6 µg/dL compared with 5,3 µg/dL, however, they were not significantly different among two groups. This implied that the group received fortified cooking oil was more advantaged than other group who received non fortified cooking oilKeywords: breast milk retinol, postpartum women, fortification 
BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERURISEMIA PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RS DUSTIRA CIMAHI Ilyas, Nelly Olifa; Suprihartono, Fred Agung; Dewi, Maryati
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.18 KB)

Abstract

Hiperurisemia menjadi faktor independen terjadinya stroke dan penyakit kardiovaskuler. Cairan yang kurang menimbulkan terhambatnya ekskresi asam urat melalui urin sehingga menimbulkan hiperurisemia. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini secara umum adalah menganalisis besarnya risiko asupan cairan dan faktor determinan lain seperti kegemukan, asupan purin yang tinggi, asupan karbohidrat yang kurang, asupan lemak yang tinggi, riwayat keluarga dan aktifitas fisik pada kejadian hiperurisemia. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan edukasi dalam memperbaiki pola makan dan pola minum agar terhindar dari penyakit gout (artritis). Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol tanpa matching dengan jumlah sampel 78 orang, 39 orang kasus dan 39 orang kontrol. Pengumpulan data dilakukan di RS Dustira Cimahi dengan usia sampel 30-60 tahun. Analisis data yang digunakan adalah analisis odds ratio dan analisis multivariat dengan uji stratifikasi. Kasus dalam penelitian ini adalah memiliki kadar asam urat darah lebih dari normal, tidak hamil, tidak menderita penyakit ginjal dan hipertensi grade II,. Kontrol memiliki kadar asam urat darah normal, tidak hipertensi grade II, tidak menderita sakit ginjal dan tidak hamil. Data yang dikumpulkan meliputi data umum, asupan cairan, asupan karbohidrat, asupan lemak total, antropometri, aktivitas fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan cairan yang kurang meningkatkan risiko 6,92 kali terkena hiperurisemia, asupan purin yang tinggi meningkatkan risiko 3,889 kali terkena hiperurisemia, asupan lemak yang tinggi meningkatkan risiko 3,383 kali terkena hiperurisemia, riwayat hiperurisemia dalam keluarga meningkatkan risiko 6,379 kali terkena hiperurisemia. Disarankan penderita hiperurisemia cukup mengasup cairan, memilih makanan sumber purin rendah, membatasi asupan makanan sumber lemak jenuh, penderita dengan riwayat keluarga hiperurisemia harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman sumber purin.ABSTRACT RISK FACTORS OF HYPERURECEMIA IN OUTPATIENTS IN DUSTIRA CIMAHI HOSPITAL                Hyperuricemia is an independent factor to stroke and cardiovascular diseases. Low fluid intake prevents uric acid excretion through urine waste thus causing hyperuricemia. The aim of this research is to analyze the risk of fluid intake and other determinant factors of hyperuricemia. Outcome of this research can be used to educate people in relation to eating and drinking patternsfor preventing gout arthritis. This research used case control study design without matching, with 78 subjects (39 cases and 39 control). Control group had a normal uric acid concentration, no renal disease and no hypertention grade II, and not pregnant. While for case group, they had a higher uric acid concentration, no renal disease and no hypertention grade II, and not pregnant The data are taken at Dustira Hospital with the age range of 30 – 60 years old. Data taken are general data, fluid intake, carbohydrate intake, total fat intake, anthropometry, physical activities and family history of disease. Stastitical analysis used in this study was Odd Ratio (OR) and stratification analysis. The conclusion of this research is low intake of fluid has a risk of 6.92 times to be hyperuricemia, high intake of purin has a risk of 6.55 times to be hyperuricemia, high fat intake is 3,38 times and the history of hyperuricemia in family is 6.38 times risk to be hyperuricemia. High intake of purin and the history of hyperuricemia in the family were the confounding factors in the relationship between fluid intake and hyperuricemia. This research recommends that patients with hyperuricemia need adequate fluid intake, and need to lower their purin and fat intakes.Keywords: risk factors, hyperuricemia, fluid intake
FAKTOR RISIKO HIPERTENSI PADA ORANG UMUR 45-74 TAHUN DI PULAU SULAWESI Amaliah, Fatimah; sudikno, nFN
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.542 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama baik di negara maju maupun negara berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan hipertensi pada orang dewasa umur 45-74 tahun di Sulawesi. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2007. Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian adalah orang dewasa berumur 45-74 tahun di Sulawesi. Jumlah sampel yang dianalisis 13.859. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi ditemukan sebesar 14,8 persen. Rata-rata umur responden 54,9±7,9 tahun. Dari hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan hipertensi adalah umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan status ekonomi. Pada penelitian ini belum dapat membuktikan adanya hubungan antara kebiasaan makan, aktivitas fisik dengan hipertensi. Program pencegahan terhadap hipertensi perlu dilakukan terutama yang tinggal di perkotaan yang penuh stres dan dengan pekerjaan yang lebih komplek. Disamping itu perbaikan sosial ekonomi dapat merubah gaya hidup seseorang, termasuk dalam makanan dan aktifitas fisik. Disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan berisiko (makanan berlemak, jeroan, makanan diawetkan, makanan berpenyedap), dan peningkatan aktivitas fisik secara teratur setiap hari.ABSTRACT RISK FACTORS OF HYPERTENSION IN PEOPLE AGED 45-74 YEARS IN SULAWESI Hypertension is a major health problem in both the developed and developing countries. The objective of this study was to identify risk factors associated with hypertension in adults aged 45-74 years in Sulawesi. This study uses data Riskesdas (Baseline Health Research) 2007. The study design was cross-sectional. Samples were adults aged 45-74 years in Sulawesi. The number of samples analyzed 13,859. The results showed that the prevalence of hypertension was found to be 14.8 percent. The result showed that the average age of the respondents were 54.9 ± 7.9 years. The logistic regression analysis showed that the risk factors associated with hypertension were age, gender, occupation/works, and economic status. In this study, it has not been proved yet a link between eating habits, physical activity with hypertension. However, prevention programs for hypertension needs to be done especially in urban area where people live in stress and with the more complex works . In addition, improvement in socio-economy status may lead to change in life style including meals and physical activity. It is suggested, people should reduce eating risk foods (fatty foods, offal, preserved foods, spicy food), and do physical activity regularly every day.Keywords: risk factors, hypertension, socio-economy status

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 46 No 2 (2023): September 2023 Vol 46, No 1 (2023): Maret 2023 Vol 45, No 2 (2022): September 2022 Vol 45, No 1 (2022): Maret 2022 Vol 44, No 2 (2021): September 2021 Vol 44, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 43, No 2 (2020): September 2020 Vol 43, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 42, No 2 (2019): September 2019 Vol 42, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 More Issue