cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
COMPARING SCORING METHOD AND MODIFIED USDA METHOD TO DETERMINE LAND USE FUNCTION IN SPATIAL PLANNING Wati, S. Eka; Sartohadi, J; Rossiter, D.G.
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.662 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.238

Abstract

Land use function is basic information in spatial planning process. Land use function describes the area division based on its capability. Usually, land use function can be divided into three categories which are protected area, buffer area, and cultivated area. Recently, land use function in spatial plan document is generated by applying scoring method. However, land use function can be also obtained from land capability assessment published by USDA (United States Department of Agriculture). Land use function in this research is determined by using scoring method (regarding to legal document of Ministry of Agriculture number 837/Kpts/UM/11/1980 and number 683/Kpts/UM/8/1981) and proposed method (developed by modifying USDA land capability assessment). Land capability itself is assessed by using landform approach. Landform is obtained through interpretation of satellite image, topographic map, and field survey. Based on scoring method, the obtained range score is 90-195. The study area can be classified into protected zone (51%), buffer zone (31%), and cultivated zone (18%).On the other hand, proposed method gives some results that study area consists of five land capability classes, i.e. IV, V, VI, VII, and VIII. The percentage for each class is 26%, 2%, 2%, 12%, and 58% respectively. Related to land use function, this result represents that 58% of total area is allocated as protected zone, 16% of total area is classified as buffer zone, and the rest area is provided as cultivated zone.Key Words: Scoring method, USDA land capability classification, land use functionABSTRAKFungsi kawasan merupakan informasi dasar yang diperlukan proses dalam penyusunan rencana tata ruang. Fungsi kawasan menggambarkan pembagian area berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. Pada umumnya, fungsi kawasan dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu kawasan lindung, kawasan penyangga, dan kawasan budidaya/penanaman. Saat ini, fungsi kawasan dalam dokumen rencana tata ruang ditentukan dengan menggunakan metode skor. Meskipun demikian, fungsi kawasan dapat juga ditentukan dengan memanfaatkan perkiraan kemampuan lahan yang diterbitkan oleh USDA (United States Department of Agriculture). Fungsi kawasan pada penelitian ini ditentukan berdasarkan metode skor yang bersumber dari SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/UM/11/1980 dan No. 683/Kpts/UM/8/1981, sedangkan metode yang diusulkan dikembangkan dengan memodifikasi penilaian kemampuan lahan yang diterbitkan oleh USDA. Kemampuan lahan tersebut dinilai dengan menggunakan pendekatan bentanglahan. Bentang lahan diperoleh melalui interpretasi foto satelit, peta topografi dan survei lapangan. Berdasarkan metode skor, range skor yang didapatkan adalah 90 – 195. Wilayah studi dapat diklasifikasikan menjadi kawasan lindung (51%), kawasan penyangga (31%) dan kawasan budidaya (18%). Di sisi lain, metode yang diusulkan menghasilkan lima kelas kemampuan lahan yaitu kelas IV, V, VI, VII, dan VIII. Prosentase setiap kelas secara berurutan adalah 26%, 2%, 2%, 12%, and 58%. Berkaitan dengan fungsi penggunaan lahan, hasil ini menunjukkan bahwa 58% dari seluruh wilayah studi dialokasikan sebagai kawasan lindung, 16% dari total wilayah studi diklasifikasikan sebagai kawasan penyangga, sedangkan sisanya sebagai kawasan budidaya.Kata Kunci : Metode skor, klasifikasi kemampuan lahan USDA, fungsi kawasan
FUSI CITRA LANDSAT 7 ETM+ DAN CITRA ASTER G-DEM UNTUK IDENTIFIKASI ZONA ALTERASI HYDROTHERMAL TERKAIT MINERAL DI SEBAGIAN KALIMANTAN BARAT Ananda, Irvan Nurrahman; Danoedoro, Projo
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.153

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan potensi sumber daya mineral yang melimpah. Salah satunya adalah mengindikasikan terdapat batuan teralterasi hydrothermal. Batuan teralterasi hydrothermal dapat digunakan sebagai indikator berbagai macam mineral. Data penginderaan jauh dengan teknik pengolahan citra banyak digunakan untuk melihat potensi mineral melalui pendekatan fisik medan. Pada penelitian ini, aspek fisik medan diperoleh melalui interpretasi visual LANDSAT 7 ETM+ dan ASTER G-DEM yang telah diolah menggunakan tiga metode fusi yaitu Principal Component (PC), Intensity Hue and Saturation (IHS), dan fusi hasil Band Ratioing. Selain itu, dilakukan juga proses pemfilteran spasial. Analisis yang digunakan adalah petrografi untuk mengetahui kandungan mineral pada batuan terkait zona alterasi hydrothermal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Principal Component memiliki akurasi bentuklahan tertinggi sebesar 71,15%. Akurasi tertinggi untuk parameter batuan (litologi) sebesar 70,98% yang diperoleh dari Intensity, Hue, and Saturation. Pemetaan zona alterasi hydrothermal  ini menghasilkan empat zona yaitu Argilik 1399,42 km2, Potasik 2913,46 km2, Propilitik 1160,54 km2, dan Serisitik 946,38 km2.Kata Kunci: mineral, fusi, pemfilteran spasial, alterasi hydrothermal, interpretasi visual, petrografiABSTRACTIndonesia as an archipelagic country has huge potentials of mineral resources. One of them is an indication of hydrothermal alteration rocks. Hydrothermal alteration rocks can be used for indicating various type of minerals. Remote sensing data with image processing techniques have been frequently used to determine the mineral potentials through terrain analysis approach. In this study, physical aspects of terrain parameters were obtained using visual interpretation of LANDSAT 7 ETM+ and ASTER G-DEM imagery, which have been processed using three fusion methods, i.e. Principal Component (PC), Intensity, Hue, and Saturation (IHS), and image fusion from Band Ratioing techniques. In addition spatial filtering was also applied. Laboratory analysis of rock petrographic analysis was conducted to identity the mineral content of the rocks in order to determine the hydrothermal alteration zones. Results of this study showed that Principal Component (PC) fusion techniques have the highest accuracy for landform identification with 71.15%. Highest accuracy for rocks (lithology) is 70.98%, which was obtained from Intensity, Hue, and Saturation fusion techniques. Mapping of hydrothermal alteration zones showed four hydrothermal alterated zones, i.e. Argilic alteration zone with an area of 1399,42 km2, 2913,46 km2 zone of potassic alteration, Propilitic alteration zone 1160,54 km2, and 946,38 km2 zone of Serisitic alteration.Keyword: mineral, image fusion, spatial filtering, hydrothermal alteration, visual interpretation, petrographic
PADDY CROP COVERAGE IDENTIFICATION USING COMBINATION OF GREENNESS AND WETNESS FOR AGRICULTURAL CROPPING PATTERN CHANGE DETECTION Shofyati, Rizatus; G.P, Dwi Kuncoro
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.245

Abstract

Rice, as a staple food for Indonesian, should be continuously available and at the purchasable level of price. It is of great significance to obtain the paddy crop condition information at early stages in the paddy growing season. Along with the development of remote sensing applications, satellite data have become the uppermost data source to monitor large-scale crop condition. In the last twenty years, more than a dozen of methods based on remote sensing data were developed to monitor crop condition. Time series of NDVI and Wetness of Tasseled Cap Transformation derived from Landsat TM during the crop season (June to October 2004) have been used for analyzing the cropping pattern. The logical inference analysis based on knowledge of paddy growing stage can produce the crop calendar matrix. This study is attempted to describe alternative methods of remote sensing techniques to monitor agricultural condition. Further analysis on such data and information would be useful for considering a reasonable planning of agricultural management.Keywords: agricultural copping pattern, wetness, greenness, logical inference analysis.ABSTRAKBeras, sebagai makanan pokok untuk bangsa Indonesia, harus terus menerus tersedia dan dapat dibeli dengan harga terjangkau. Sehingga sangatlah penting untuk mendapatkan informasi kondisi tanaman padi pada tahap awal musim tanam padi. Seiring dengan perkembangan aplikasi penginderaan jauh, data satelit telah menjadi sumber data penting untuk memantau kondisi tanaman pada skala besar. Dalam dua puluh tahun terakhir, telah banyak metode menggunakan data penginderaan jauh yang dikembangkan untuk memantau kondisi tanaman. NDVI dan kelembaban berdasarkan analisis Tasseled Cap Transformation dari Landsat TM selama musim tanam (Juni sampai dengan Oktober 2004) telah digunakan untuk menganalisis pola tanam. Analisis logical inference berdasarkan pengetahuan dan pengalaman dari tahap pertumbuhan padi dapat menghasilkan matriks kalender tanam. Studi ini dilakukan untuk menjelaskan alternatif metode atau teknik penginderaan jauh untuk memantau kondisi pertanian. Analisis lebih lanjut pada data dan informasi akan berguna untuk mempertimbangkan perencanaan pengelolaan pertanian yang lebih proporsional. Kata Kunci: pola tanam pertanian, kelembaban, kehijauan, analisis logical inference.
PENGUKURAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN METODE RTK (GPS TRACKING) DAN METODE TONGKAT PENDUGA Oktaviani, Nadya; Nursugi, Nursugi; Saputra, Lufti Rangga
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.25 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.159

Abstract

Kajian ini menyajikan hasil analisis perbandingan pengukuran garis pantai dengan menggunakan metode RTK (GPS tracking) dan metode tongkat penduga. Area kajian dilaksanakan di wilayah Pantai Marina, Ancol, Jakarta Utara. Tujuan utama kajian ini adalah untuk melakukan penilaian metode yang lebih efisien dalam melakukan pengukuran garis pantai, mengingat tugas pokok mengenai garis pantai telah tertulis dalam UU no. 4 tentang Informasi Geospasial Tahun 2011. Ketelitian pengukuran dipengaruhi oleh metode serta alat yang digunakan. Hasil dari kajian ini menunjukan bahwa pengukuran dengan menggunakan metode RTK (GPS tracking) menghasilkan nilai pengukuran dengan tingkat ketelitian dan efisiensi waktu yang lebih baik.Kata kunci: Garis pantai, metode RTK, GPS          ABSTRACTThis study presents a comparative analysis of the results of measurements of the shoreline by using RTK (GPS tracking) and conventional method. Area studies conducted in the area of Marina Beach, Ancol, North Jakarta. This study purpose to conduct a more efficient method of assessment in measuring shoreline, given the fundamental duty of the coastline has been written in the Act no. 4 on Geospatial Information year 2011. Accuracy of measurement is influenced by the methods and tools. The Result of this study showed that measurement using RTK (GPS tracking) generate value measurements by level of accuracy and time efficiency.Keywords: Coastline, RTK, GPS
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENGARUH FRAGMENTASI LAHAN PERTANIAN Suprajaka, Suprajaka
GEOMATIKA Vol 15, No 2 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.618 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-2.250

Abstract

Rice fields or ponds are one form of "Cultural Landscape" or in terms of the Ramsar Convention as "Artificial Wetland" which has become a form of ecosystem. These ecosystems are increasingly hard pressed due to land conversion. Conversion of agricultural land in general occur in fertile agricultural land and irrigation channels have a good technical converted to residential, industrial and infrastructure. This condition will continue if the government policy to maintain the productive land as a place for the national food production becomes a serious problem. In addition the extent of wetland ecosystems for only 21% of Indonesia land area will be disrupted ecological functions. Therefore, research is needed to study the development of the wetland ecosystem fragmentation in Indonesia, through the development framework of analysis based multi-temporal satellite imagery. Therefore, researchers conducted a study of residential development on ecosystems "Cultural Landscape" with a case study area of Sidoarjo, East Java Province and Kabupaten Serang, Banten Province. This study covers the techniques of spatial analysis, integrated with geographic information system that can give a picture of the level and pattern of farmland conversion in the period of the last two decades between 1985-2005. At this stage of research more emphasis on spatial data analysis has been available which AMS data, JOG, RBI94, and Land Cover Map 2003. In this study also analyzes the factors that influence the process of land fragmentation on agricultural buffer descriptive analytic study.Key words: Conversion of Land, and Land Fragmengatsi Agricultural Buffer.ABSTRAKSawah atau tambak merupakan salah satu bentuk “Cultural Landscape” atau dalam istilah konvensi Ramsar sebagai “Artificial Wetland” yang telah menjadi suatu bentuk ekosistem. Ekosistem ini sudah semakin terdesak akibat konversi lahan. Konversi lahan pertanian pada umumnya terjadi di lahan pertanian subur dan memiliki saluran irigasi teknis yang baik dirubah menjadi permukiman, industri dan infrastruktur. Kondisi ini apabila terus berlangsung maka kebijakan pemerintah untuk mempertahankan lahan produktif sebagai tempat untuk produksi pangan nasional menjadi masalah yang serius. Selain itu ekosistem lahan basah luasnya hanya sebesar 21 % dari luas daratan Indonesia akan terganggu fungsi ekologisnya. Oleh karena itu diperlukan pengembangan penelitian untuk mempelajari tingkat fragmentasi ekosistem lahan basah di Indonesia, melalui pengembangan framework berbasis analisis citra satelit multi temporal. Oleh karena itu, peneliti melakukan kajian tentang perkembangan permukiman pada ekosistem “Cultural Landscape” dengan studi kasus kawasan Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Kajian ini meliputi teknik-teknik analisis spasial yang terintegrasi dengan sistem informasi geografis yang dapat memberikan gambaran mengenai tingkat dan pola konversi lahan pertanian pada periode dua dasawarsa terakhir yaitu antara tahun 1985-2005. Pada tahap ini penelitian lebih ditekankan pada analisis data spasial yang telah tersedia yaitu data AMS, JOG, RBI94, dan Peta Penutup Lahan tahun 2003. Dalam penelitian ini juga melakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses fragmentasi lahan penyangga pertanian berdasarkan kajian deskriptif analitik.Kata kuci: Konversi Lahan, Fragmengatsi dan Lahan Penyangga Pertanian.
PERBANDINGAN DUA METODE PEMROGRAMAN PARALEL UNTUK MENINGKATKAN KECEPATAN PEMROSESAN CITRA LANDSAT L1T Budiono, Marendra Eko
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.15 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.164

Abstract

ABSTRAK Pengembangan metode komputasi untuk meningkatkan kecepatan pemrosesan citra satelit selalu merupakan tantangan. Dalam penelitian ini telah dibuat 2 (dua) metode pembagian komputasi dalam pembuatan perangkat lunak berbasis pemrograman paralel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji 2 buah metode komputasi pemrograman paralel untuk meningkatkan kecepatan pengolahan citra satelit Landsat-7 level L1T. Metode pertama adalah pembagian komputasi berdasarkan citra secara paralel sedangkan metode kedua adalah pembagian komputasi berdasarkan kanal citra secara paralel. Pada tahap pertama dibuat perangkat lunak yang bekerja secara sequensial untuk memperhitungkan peningkatan kecepatan yang dapat dicapai. Selanjutnya dibuat perangkat lunak berbasis paralel dengan memanfaatkan library Message Parsing Interface (MPI). Setelah diujikan pada PC cluster dengan 136 inti prosesor dengan 12 citra data Landsat, didapatkan hasil bahwa metode pembagian komputasi berdasarkan citra memberikan peningkatan performa yang lebih tinggi. Kata Kunci: Pemrograman Paralel, MPI, Komputasi Berdasarkan Citra, PC Cluster, Landsat-7 Level L1T. ABSTRACT Developing computation method to speed up a processing performance on satellite image processing is challenging. In this research,2 computation methods have been developed in order to create image processing software based on parallel programming. The purpose of this research is to compare the 2 computational method of parallel programming to speed up the processing of Landsat-7  level L1T satellite imageries. The first method was to divide the computation process based on image in a parallel way, and the second method was by dividing the computation process based on images band in parallel way. At the beginning of this research, those methods were applied on 2 softwares which work sequentially to calculate the value of maximum increasing performance that can be achieved. After that, a software based on parallel programming based was developed by using Message Parsing Interface (MPI) library. After running a test on a cluster PC which consisted of 136 cores on 12 data Landsat L1T, the result showed that the method which divided the computation process based on image on parallel data processing yielded higher speed increase. Keywords:  Parallel Programming, MPI, Image Based Computation, PC Cluster, Landsat-7 L1T Level.
PENGARUH JUMLAH SALURAN SPEKTRAL, KORELASI ANTAR SALURAN SPEKTRAL DAN JUMLAH KELAS OBJEK TERHADAP AKURASI KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN Nugroho, Ferman Setia
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.383 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.461

Abstract

Penutup lahan merupakan salah satu informasi penting yang dapat diperoleh dari data penginderaan jauh. Penutup lahan diperlukan sebagai landasan bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan pembangunan, perencanaan pengembangan wilayah, dan pengelolaan sumber daya alam. Oleh sebab itu, inventarisasi dan pemetaan lahan perlu dilaksanakan secara kesinambungan, cepat, tepat dan tinggi akurasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tingkat akurasi hasil klasifikasi penutup lahan dari citra penginderaan jauh seiring penambahan jumlah saluran spektral yang dilibatkan, semakin tingginya korelasi antar saluran yang dilibatkan, dan seiring penambahan jumlah kelas objek. Penelitian ini menggunakan 2 saluran spektral sampai dengan 9 saluran spektral pada citra ASTER VNIR+SWIR dengan area penelitian meliputi Surabaya dan sekitarnya. Hasil penelitianini menunjukkan bahwa penambahan jumlah saluran yang dilibatkan dapat meningkatkan akurasi, semakin tinggi korelasi antar saluran maka akurasi yang didapatkan menurun, semakin banyak jumlah kelas objek maka akurasi yang didapatkan menurun.Kata kunci:penutup lahan, saluran spektral, kelas objekABSTRACTLand cover is one of the most important information that can be obtained from remote sensing data. It were needed as a basis data for government to determine the direction of development policy, regional development planning, and management of natural resources. Therefore, inventory and mapping of land need to be implemented in a sustainable, rapid, precise, and also accurate. The purposes of this study is to determine changes of the accuracy level from land cover classification of remote sensing image as the increased number of spectral bands that are involved, the higher the correlation between spectral bands involved, and as the addition of the number of class objects. The results of this study showed that the increasing number of spectral bands that are involved can improve accuracy, the higher correlation between spectral bands make the accuracy obtained decreased, classification using more number of object classes the accuracy obtained decreasedKeywords: land cover, spectral band, object class
PERENCANAAN SPASIAL PEMANFAATAN LAHAN UNTUK KOMODITAS PERKEBUNAN RAKYAT DI KABUPATEN PIDIE JAYA, PROVINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM Widiatmaka, Widiatmaka; Zulfikar, Zulfikar; Anwar, Syaiful; Ambarwulan, Wiwin
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.621 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.169

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Pidie Jaya merupakan kabupaten baru yang didirikan pada tahun 2007,di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Salah satupotensi yang dapat dikembangkan untuk peningkatan pendapatan masyarakat setempat adalah perkebunan rakyat.Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan pemanfaatan lahan untuk beberapa komoditas perkebunan rakyat. Komoditas basis dianalisis menggunakan metoda locationquotient(LQ). Kemampuan dan kesesuaian lahan dievaluasi menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan kriteria kebutuhan tanaman. Kelayakan financial dianalisis menggunakan metode Net Present Value (NPV) dan Break Even Point (BEP). Keunggulan komparatif dan kompetitif diestimasi menggunakan metode Policy Analysis Matrix(PAM). Metode Analytical Hierarchy Process(AHP) digunakan untuk analisis persepsi masyarakat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kakao merupakan komoditas basis di Pidie Jaya. Selain kakao,rencana pemerintah daerah untuk mengembangkan perkebunan rakyat kelapa sawit perlu diperhitungkan. Berdasarkan analisis kemampuan lahan,wilayah yang dapat digunakan untuk pengembangan perkebunan rakyat adalah 45.784,78 hektar.Kakao dan kelapa sawit merupakan komoditas yang sesuai dikembangkan di Kabupaten Pidie Jaya,kelas kesesuaian lahannya adalah S2 (cukup sesuai) dan S3 (sesuai marginal) untuk kedua komoditas. Secara finansial, kakao dan kelapa sawit layak diusahakan pada discount factor 17 %, dengan NPV sebesar Rp26.051,158 dengan BEP produksi 505 kg hektar dan harga Rp. 5.568/kg untuk kakao, dan NPV sebesar Rp. 45.547.405 dengan BEP produksi 7.423 kg/hektar dan harga Rp. 301/kg untuk kelapa sawit. Kedua komoditas memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dengan nilai koefisien PCR<1 dan DRC<1. Hasil analisis persepsi masyarakat menunjukkan bahwa kakao merupakan prioritas utama untuk dikembangkan. Wilayah yang direkomendasikan untuk pengembangan kakao dan kelapa sawit di Pidie Jaya adalah seluas 27.178,97 hektar.  Kata Kunci: Kesesuaian Lahan, Kakao, Kelapa Sawit, Kelayakan Ekonomi, Proses Hierarkhi Analitik. ABSTRACT Pidie Jaya Regency is new regency in Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Province that was established in 2007. One of potency to be developed for income generating of local community is smallholding plantation. The purpose of this research is to plan land utilization for several commodities of smallholding plantation. Basic sector was analyzed using location quotient (LQ). Land capability and land suitability were evaluated by using Geographic Information System (GIS) based on land requirement criteria. Financial feasibility was analyzed using Net Present Value (NPV) and Break Event Point (BEP) methods.The comparative and competitive advantages were estimated by using of Policy Analysis Matrix (PAM) method. Method of Analytical Hierarchy Process (AHP) was used to analysis the community perception. The results of the research showed that cocoa is the basic commodity in Pidie Jaya. In addition to cocoa, plan of local government to develop oil palm smallholding plantation in the area was taken into account. Based on land capability analysis,the area which is able to be used for agricultural plantation commodity is 45.784,78 hectares. Cocoa and oil palm crop are suitable in Pidie Jaya Regency with actual land suitability class of S2 (suitable) and S3 (marginally suitable) for both commodities. Financially, cocoa and oil palm are feasible at discount factorof 17 %, with NPV of Rp 26.051,158 with production BEP of 505 kg/hectares and price of Rp. 5.568 /kg for cocoa and NPV of Rp. 45.547.405 with production BEP of 7.423 kg/hectares and price of Rp. 301 /kg for oil palm. Both of commodity have comparative and competitive advantages with coefficient value of PCR <1 and DRC <1. Result of community perception analysis indicates that cocoa are the main priority commodities to be developed. The area which is able to be recommended for development of cocoa and oil palm crop in Pidie Jaya is 27.178,97 hectares. Keywords : Land Suitability, Cocoa, Oil Palm, Economic Feasibility, Analytical Hierarchy Process.
PENGGUNAAN FOTO UDARA FORMAT KECIL MENGGUNAKAN WAHANA UDARA NIR-AWAK DALAM PEMETAAN SKALA BESAR Gularso, Herjuno; Rianasari, Hayu; Silalahi, Florence Elfriede S
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.311 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.472

Abstract

Hingga saat ini, teknologi fotogrametri terus berkembang, baik dari segi pengumpulan data dan pengolahan. Hal ini ditandai dengan adanya teknik pengumpulan data dengan wahana udara tak berawak sebagai wahana pembawa sensor fotogrametri. Keuntungan menggunakan teknologi ini adalah efektif dan efisien baik dari segi waktu serta biaya untuk pemetaan di daerah yang tidak terlalu besar. Keuntungan lainnya dapat menghasilkan foto yang lebih jelas, karena tinggi terbang UAV sekitar ± 200 meter di atas permukaan tanah menghasilkan foto dengan resolusi 0,5 cm. Saat ini perangkat lunak fotogrametri telah berkembang pesat, awalnya pengolahan data fotogrametri dilakukan secara manual tetapi saat ini proses pengolahan datanya dapat dilakukan secara otomatis, salah satunya dengan menggunakan perangkat lunakAgisoft PhotoScan. Perangkat lunak ini dapat mengidentifikasi kesesuain pixel antar foto, mosaik dan membangun DSM otomatis. Kalibrasi kamera dan orientasi luar kamera juga dapat dilakukan secara otomatis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan uji akurasi hasil pemotretan dengan UAV format kecil untuk dimanfaatkan pada pemetaan skala besar.Akuisisi data dan uji akurasi berlangsung di sekitar kantor Badan InformasiGeospasial. Kamera yang digunakan adalah kamera digital non-metrik (Sony NEX 7). Proses fotogrametri menggunakan perangkat lunakAgisoft PhotoScan. Untuk membuat stereo model yang nantinya akan digunakan untuk plotting 3D didapatkan dari pembetukan stereomate dari mosaik yang telah terbentuk dan DSM dengan menggunakan perangkat lunak summit evolution. Hasil penelitian didapat bahwa nilai akurasi horizontalsebesar 0,270319 meter dan akurasi vertikal sebesar 0,331021 meter. Berdasarkan NMAS nilai hasil akurasi mozaik dan DSM UAV pada penelitian ini memenuhi toleransi akurasi untuk pemetaan skala besar.Kata kunci: Wahana Udara Nir-awak, model stereo, summit evolution, pemetaan skala besarABSTRACTUntil now, photogrammetry technology continues to grow, both in terms of data collection and processing. It is characterized by the presence of data collection techniques by unmanned aerial vehicle as photogrammetric sensors carrier. The advantages of using the technology is effective and efficient in terms of both time and cost for mapping in not too large area, and can result in a clearer picture, because high of flying the UAV is ± 200 meter above ground level so the image have ground spatial distance 0,5 cm. In the development of photogrammetry software had been developed, initially photogrammetric data processing is done manually, in this time the process can be done automatically, one of them is Agisoft PhotoScan. The software can identify tie points, mosaics, and build DSM automatically. Calibration camera and exterior orientation is also done automatically. Data acquisition and the accuracy test take place in the area of Geospatial Information Agency. The camera used is a non-metric digital camera (Sony NEX7). Photogrametry process using software Agisoft PhotoScan. To make stereo model that will be used for 3D digitization is carried making stereomate from mosaics and DSM of the summit evolution software.The result is that the value of 0,270319 meter horizontal accuracy and vertical accuracy of 0,331021 meters. Based NMAS mosaic accuracy and value of the DSM UAV in this study meets the accuracy tolerances for large-scale mapping.Keywords: UAV, stereo model, summit evolution, large scale mapping
STUDY ON CLIMATE CHANGE ADAPTATION AND ITS CONNECTION WITH LOCAL WISDOM Helman, Helman; Handoyo, Sri
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.949 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.174

Abstract

Climate changehas been occured around theworld. The causeof climate changeisglobalwarmingdue to the increasing concentrations of greenhouse gasesin the atmosphere. The concentration ofgreenhousegasesis caused by burningfossil fuelssuch as petroleumand coal, forest fires, deforestation, and emissions of motor vehicles. The impactofclimate changefor example ischanging ofrainfall patterns, risingtemperatures, and rising sea levels.Changes inrainfall patternscan causeplant diseases,changing incropping patterns, and reduction of crop production. Banten provincehas atraditional societywho still adheres tothe tradition oftheindigenousBedouintribes who lives in the village of Kanekes, LeuwidamarSubdistrict, Lebak Regency. The mainlivelihood of Bedouintribe is farming. They plantfield rice,maize, cassava, and sweet potatoes. Theyreside inmountainousareas. Theirfarmingactivitiesare carried out based oncroppingcalendar, on astronomy, and on observation of naturearound which iswisdom. The research objective is todetermine the effectof rainfalloncrop production, and adaptationof climate change oncropsof field rice,maize, cassava, andsweet potatoes. In addition it is also toknowhow toapplywisdomto address the impactsof climate change. The scope ofthe studyconsists ofrainfall,the production offield rice,maize, cassava, sweet potatoes, and the effectof rainfalloncrop production. The method used todetermine the effect ofrainfall on productionplants of field rice, maize, cassava, andsweet potatoes was the PearsonProduct Momentformulaand t test.To know the wisdomonagriculture andadaptationtoclimate changeinterviews were conducted with localBedouintribes.As aresult, climatechangethathasoccurreddoes notaffectproductionof rice,  maize, cassava, andsweet potatoesdue to theapplication oflocal wisdomthatadjustcropping calendarandastronomicalusein the processing ofagricultural land. Keywords:Globalwarming, Climate Change, Traditions, Farming, LocalWisdom. ABSTRAK Perubahan iklim telah terjadi di seluruh dunia. Penyebab perubahan iklim adalah terjadinya pemanasan global akibat meningkatnya konsentrasi gas rumahkaca di atmosfir.Konsentrasi gas rumah kaca disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara, kebakaran hutan, penebangan hutan, dan asap kendaraan bermotor. Dampak dari perubahan iklim adalah perubahan polacurah hujan, meningkatnya suhu bumi, kenaikan muka air laut. Perubahan polacurah hujan terhadap bidang pertanian dapat menyebabkan timbulnya penyakit tanaman, perubahan pola tanam, dan menurunnya produksi tanaman.Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisiya itu suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Mata pencaharian utama suku Baduy adalah bertani. Mereka menanam antara lain padi ladang, jagung, ubikayu dan  ubijalar. Tempat tinggal mereka di daerah bergunung. Dalam melakukan kegiatan pertanian mereka berpedoman pada kalender tanam, pada perbintangan, dan mengamati alam sekitar yang merupakan kearifan lokal. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh curahh ujan terhadap produktivitas tanaman, dan adaptasi perubahan iklim terhadap tanaman-tanaman padi ladang, jagung, ketela pohon, dan ketelarambat. Selain itu bagaimana kearifan local diterapkan untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Ruang lingkup penelitian terdiri atas curah hujan, produktivitas tanaman padi ladang, jagung, ketela pohon, ketelarambat, dan pengaruh curah hujan terhadap produksi tanaman. Metode yang digunakan untuk mengetahui pengaruh antara curah hujan dengan produktivitas tanaman-tanaman padi ladang, jagung, ketelapohon, dan ketelarambat menggunakan rumus Pearson Product Moment. Untuk mengetahui kearifan local pada bidang pertanian untuk adaptasi perubahan iklim dilakukan dengan cara wawancara dengan penduduk local suku Baduy. Sebagai hasil, perubahan iklim yang telah terjadi tidak mempengaruhi hasil produksi padi, jagung, ketela pohon, dan ketela rambat karena adanya penerapan kearifan lokal yaitu menyesuaikan penggunaan kalender tanam dan astronomi dalam pengolahan lahan pertanian.  Kata Kunci: Pemanasan Global, PerubahanIklim, Tradisi, Pertanian, KearifanLokal.

Page 11 of 26 | Total Record : 251