cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
MEMBANGUN SISTEM PEMETAAN DARI UDARA BERBIAYA RENDAH DENGAN WAHANA UDARA NIR-AWAK MINI Rokhmana, Catur Aries
GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-1.16

Abstract

The production for 1/1.000 -1/2.500 scale maps are still done by the aerial photography or survey methods terrestrial which are not cheap. This paper describes an alternative aerial mapping system which is relatively less expensive to produce large scale maps (1/1.000 - 1/5.000) using unmanned aerial vehicle (UAV). For keeping the lowest cost, the instrumentation build from the stuff that exist in the market such as aeromodeling and digital cameras. For supporting the operational of this system, the database of Indonesian territory was build also. This system consists of several modules namely (1) air vehicle, (2) imaging sensors and the stand, (3) data processing and visualization of results; (4) ground station, and (5) database. This system has been tested to produce the photomaps scale 1/2.500. Geometric quality improvements made possible by conducting the process of camera calibration with "in-flight calibration" technique. In the future is still required number of experiments to test the performance of this system from a practical aspect.Keywords: large scale mapping system, un-manned vehivles, photogrammetry.ABSTRAKKebutuhan produk Peta skala 1/1.000 –1/2.500 sampai saat ini masih dilakukan dengan metode foto udara atau survei terestris yang tidak murah. Tulisan ini menjelaskan suatu alternatif sistem pemetaan dari udara yang relatif lebih murah untuk produksi peta skala besar (1/1.000 – 1/5.000) dengan memanfaatkan wahana udara nir-awak. Biaya rendah diperoleh dari penggunaan instrumentasi yang banyak di pasaran seperti aeromodeling dan kamera digital. Guna mendukung keperluan operasional dari sistem ini, dibangun suatu basisdata spasial rupa bumi wilayah Indonesia. Sistem ini terdiri dari sejumlah modul yaitu (1) wahana udara; (2) sensor pencitraan dan dudukannya; (3) pemrosesan data dan visualisasi hasil; (4) ground station; dan (5) basidata rupabumi. Sistem ini telah dicobakan untuk produksi peta foto skala 1/2.500. Perbaikan kualitas geometrik dimungkinkan dengan melakukan proses kalibrasi kamera dengan teknik “in-flight calibration”. Dimasa mendatang masih diperlukan sejumlah percobaan untuk menguji kinerja sistem ini dari aspek praktis.Kata Kunci: sistem pemetaan skala besar, wahana nir-awak, fotogrametri
PENGEMBANGAN TEKNIK NORMALISASI DAN DENORMALISASI PADA METODE RPC UNTUK ORTHOREKTIFIKASI CITRA SATELIT PENGINDERAAN JAUH Candra, Danang Surya
GEOMATIKA Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.979 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-2.21

Abstract

Metode RPC tidak memerlukan informasi parameter orientasi dalam (IO) dan luar (EO) sehingga sangat prospektif digunakan untuk orthorektifikasi citra.Oleh sebab itu metode koreksi RPC digunakan untuk meningkatkan akurasi posisi pada saat parameter-parameter dari model sensor fisik tidak diketahui. Pada penelitian ini dibangun teknik normalisasi dan denormalisasi yang lebih sederhana dibandingkan teknik yang dibangun oleh Grodecki, Dial dan Lutes. Hasil dari eksperimen yang dilakukan adalah kedua teknik mempunyai pola dan RMSE yang hampir sama (RMSE Riset = 0,92 dan RMSE Grodecki = 0,91). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa teknik normalisasi dan denormalisasi yang dibangun pada penelitian ini mempunyai kemampuan yang sama apabila dibandingkan dengan metode normalisasi dan denormalisasi yang dibangun oleh Grodecki, Dial dan Lutes. Sehingga teknik normalisasi dan denormalisasi yang dibangun pada penelitian ini dapat digunakan pada proses orthorektifikasi dengan menggunakan metode RPC. Kelebihan teknik normalisasi dan denormalisasi yang dibangun pada penelitian ini adalah lebih sederhana dan mudah diterapkan.Kata Kunci:RPC, orthorektifikasi, penginderaan jauh, SPOT-4 ABSTRACTRPCmethodsdoes not requireinformationof interior orientation(IO) andexterior orientation (EO) parameters, so it is highly prospective used fororthorektification of image. Therefore, RPCmethodscan be usedtoimprove thepositioning accuracywhenthe parameters of thephysicalsensor modelare unknown. Inthis studybuiltnormalization and denormalization techniques which aresimpler and easier thanthe technique which are builtby Grodecki, DialandLutes. The resultsof the experiment arethe two techniqueshavealmost the samepatterns and RMSE(RMSE Riset =0.92andRMSEGrodecki=0.91). These resultsshowthat thenormalizationanddenormalizationtechniques which are builtin this studyhavethe same abilitywhencompared to thenormalizationanddenormalizationtechniques which arebuilt by Grodecki, Dial, andLutes. Thus thenormalization and denormalizationtechniques which are builtonthis researchcan be used onorthorektificationprocessusingRPC. The other advantage of normalizationdenormalizationtechniques which arebuilt inthis study is simplerandeasier to be applied.Keywords:RPC, orthorektification, remote sensing, SPOT-4
Preface GEOMATIKA Vol. 23 No. 1 geomatika, redaksi
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.77 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-1.737

Abstract

VALIDASI HOTSPOT MODIS INDOFIRE DI PROVINSI RIAU Vetrita, Yenni; Haryani, Nanik Suryo
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.84 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-1.198

Abstract

Dalam penelitian ini telah diuji akurasi hotspot MODIS Indofire di Provinsi Riau pada tahun 2011 menggunakan penggabungan 3 metode, yaitu survei lapangan, buffering 2 km dari hotspot, dan deteksi asap secara visual. Nilai akurasi diperoleh sebesar 43%, dengan commission error 53%, dan omission error 4%. Nilai tersebut hampir menyerupai nilai yang diperoleh dari hasil pengujian akurasi hotspot MODIS di wilayah Brazil yang juga merupakan wilayah tropis. Faktor utama penyebab rendahnya nilai tersebut salah satunya diduga dari kabut tebal yang tidak bisa dideteksi oleh algoritma MODIS saat ini, disamping kendala awan, luas kebakaran, maupun faktor waktu lintasan satelit dengan waktu terjadinya kebakaran. Hasil pengujian hotspot masih banyak didukung oleh pengujian secara visual dan buffering. Hasil pengecekan lapangan yang lebih banyak, diharapkan dapat lebih menunjang pengujian akurasi ini, mengingat pengujian visual pun memiliki banyak keterbatasan terutama kendala awan. Kerjasama dengan pemerintah daerah setempat dalam mendapatkan lokasi pemadaman kebakaran hutan/lahan dan luas kebakaran diharapkan dapat mempertajam hasil pengujian akurasi hotspot MODIS Indofire.Kata Kunci: Validasi Hotspot/titik panas, MODIS Indofire, Kebakaran hutan/lahan ABSTRACTThis study is aimed to examine the accuracy of MODIS Indofirehotspots in Riau Province for 2011 using three methods, i.e. the field survey, 2 km hotspot buffering, and visually smoke detection. The accuracy values was43%, with 53% commission error and 4% omission error. This is almost similar to the value obtained from hotspot validation in Brazil which is also a tropical region. We infer that the main factor for the low value is a thick fog that cannot be detected by current MODIS algorithm. Besides that, there are cloud constraints, widespread fires,  and the time factor of satellite trajectory andfire  that become caused factors. The hotspot test results were much supported by visualcheck and buffering methods. more ground checking  is expected to provide better accuracy result since the visual method has limitation, particularly due to cloud constraint. Therefore, a cooperation with local government to obtain fire fighting location in the forest/land fires is expected can improve MODIS hotspotIndofire accuracy.Keywords: Hotspot Validation, MODIS Indofire, Forest/land fire
PERANAN INFORMASI GEOSPASIAL DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL Karsidi, Asep
GEOMATIKA Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-2.26

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil-hasil penelitian dalam upaya meningkatkan kualitas informasi geospasial untuk mendukung ketahanan pangan nasional.Untuk mewujudkan upaya tersebut, penafsiran data penginderaan jauh satelit dan analisis SIG sebagai perangkat utama kegiatan survei dan pemetaan perlu dilakukan pengkajiaan untuk pengembangan kualitas  informasi geospasial.Dalam makalah ini, hasil penelitian-penelitian tentang ketahanan  pangan yang telah ada di beberapa provinsi di kaji berdasarkan kebutuhan informasi geospasial untuk mendukung pembangunan nasional, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Informasi Geospasial.  Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan dapat disimpulkan  bahwa sinergi kelembagaan dalam penyelengaraan survei dan pemetaan untuk mendukung ketahanan pangan nasional yang dikembangkan dapat menghasilkan informasi geospasial yang lebih berkualitas, lebih efektif dan efisien,serta  dapat dipertanggungjawabkan sesuai tugas dan fungsi serta kewenangannya.  Kata kunci: informasi geospasial, penginderaan jauh, SIG, ketahanan panganABSTRACTThe objective of this paper is to evaluate the results of researches in improving the quality of geospatial information for supporting the national food security. To achieve this effort, the interpretation of remote sensing data and GIS analysis as main tools for survey and mapping need to be evaluated for the development of geospatial information quality.  In this paper, the results of the existing researches in food security in some provinces were evaluated on the basis of geospatial information need for supporting the national development, as stated in Geospatial Information Act.  From this evaluation, it is concluded that institutional synergy in conducting  survey and mapping for supporting the national food security  is important for producing the geospatial information which have better quality, more effective and efficient, and more accountable in relation with the tasks, functions, and mandates of each institution.Key words: geospatial information, remote sensing, GIS, food security
PEMANTAUAN AREA GENANGAN AIR PADA RAWA LEBAK MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH Trinugroho, Muchamad Wahyu
GEOMATIKA Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.513 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-2.716

Abstract

Karakteristik hidrologis lahan rawa lebak yang dinamis menuntut penyajian data secara spasial secara luas dan cepat. Sedangkan melakukan survey terestris akan membutuhkan waktu yang lama dengan biaya yang tinggi. Tujuan kajian ini adalah menyajikan teknik penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk memantau area genangan secara temporal selama 4 tahun dari tahun 2010-2013. Citra satelit Landsat digunakan untuk mendapatkan gambaran lokasi secara on top. Teknik interpretasi secara visual dilakukan untuk mendelineasi genangan air. Koreksi sensor SLC – off pada citra dilakukan untuk mendapatkan tampilan secara visual yang optimal tanpa ada gangguan gap. Delineasi area genangan berdasarkan interpretasi  secara visual di kombinasikan dengan teknik Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil yang diperoleh menunjukkan kondisi maksimum area genangan sebesar 45,053 ha pada tahun 2011, sedang trend yang terjadi penurunan luas genangan dalam periode tersebut. Disamping itu genangan air maximum mencapai 27% dari total tutupan lahan yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sedangkan genangan minimum pada tahun 2013 dengan prosentase sebesar 0,04%. Faktor curah hujan mempunyai hubungan linear dengan luas genangan yang terjadi. Info tersebut berguna bagi pemangku kepentingan terutama ketika genangan surut untuk budidaya lahan pertanian
PEMETAAN RAWAN BENCANA GEMPA BUMI DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI Mulya, Setyardi Pratika; Suwarno, Yatin
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.203

Abstract

Kepulauan Mentawai termasuk dalam kawasan rawan bencana, diantaranya gempa bumi, tsunami, abrasi pantai dan tanah longsor. Daerah rawan bencana tersebut khususnya gempa bumi dapat dipetakan, sehingga dapat diketahui daerahdaerah mana yang memiliki kerawanan tinggi, sedang atau rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui daerah-daerah mana di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang memiliki kerawanan bencana gempa bumi tinggi, sedang dan rendah. Teknologi GIS dapat digunakan dalam penelitian ini, yaitu dengan melakukan “superimpose” dari beberapa parameter atau sub faktor setelah dilakukan skoring dan pembobotan. Dari hasil pemetaan ini diketahui bahwa wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terdiri dari Pulau Siberut, Pulau Sipora, dan Pulau Pagai Utara dan Selatan, sebagian besar merupakan wilayah dengan kerawanan sedang. Daerah dengan kerawanan rendah terdapat di wilayah pantai barat dan utara bagian barat Pulau Siberut. Adapun wilayah dengan kerawanan tinggi terdapat di sepanjang pantai timur Pulau Pagai Utara dan Selatan, sebagian kecil pantai timur bagian utara Pulau Sipora, dan sebagian kecil pantai timur bagian utara Pulau Siberut.Kata Kunci: pemetaan, rawan bencana, gempa bumi, Kepulauan MentawaiABSTRACTMentawai Archipelago is among the disaster-prone areas, either in the form of tectonic earthquakes, tsunamis, coastal erosion and landslides. The disaster-prone areas, especially earthquakes can be mapped to know the region with high, medium or low susceptibility level. The purpose of this study was to determine the level of susceptibility areas to earthquake in Mentawai Archipelago. GIS technology was used in this research by doing superimpose of some parameters or subfactors after scoring and weighting. The results of this mapping showed that the region of the Mentawai Archipelago which consists of Siberut Island, Sipora Island, and Pagai Island (North and South) were largely fall in medium class of susceptibility. Areas with low susceptibility were at the west coast and north western part of Siberut Island. The areas with high susceptibility were found along the east coast of Pagai Island (North and South), some part at the east coast of northern Sipora Island and a small part at the east coast of north Siberut Island.Keywords: mapping, disaster, earthquake, Mentawai Archipelago
ASPEK KARTOGRAFI PETA JOINT BORDER MAPPING (JBM) REPUBLIK INDONESIA-MALAYSIA Susetyo, Danang Budi; Hakim, Yofri Furqani; Arimjaya, I wayan Krisna; Ainiyah, Rofiatul
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.151 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.31

Abstract

Kartografi merupakan salah satu tahapan dalam proses pembuatan peta. Kartografi memperhatikan aspek estetika peta, sehingga peta yang dihasilkan menjadi mudah dipahami terutama ketika disajikan dalam format cetak (hardcopy). Peta Joint Border Mapping (JBM) antara Indonesia dan Malaysia juga tidak lepas dari proses kartografi dan menjadi bagian penting dalam tahap pengecekan di level Field Verification Plot. Peta JBM adalah peta bersama sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Kalimantan dengan koridor 5 km ke sisi Indonesia dan Malaysia yang disajikan dalam skala 1:50.000. Peta JBM menggunakan peta dasar dari masing-masing negara dengan spesifikasi yang disesuaikan agar mampu menjadi peta yang dapat digunakan bersama. Spesifikasi yang dimaksud adalah aspek spasial yang berbeda antara Indonesia dan Malaysia, seperti interval kontur atau sistem koordinat. Penyesuaian tersebut ditentukan berdasarkan kesepakatan yang dicapai oleh kedua belah pihak. Secara umum simbolisasi dalam tahap kartografi peta JBM tidak berbeda dengan penyajian peta Rupabumi Indonesia (RBI) skala 1:50.000, karena peta JBM menggunakan peta dasar untuk masing-masing negara. Tulisan ini membahas teknik kartografi pada peta JBM RI-Malaysia yang secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua tahap: simbolisasi dan layout. Simbolisasi terkait dengan penyajian simbol unsur berdasarkan aturan yang sudah ditetapkan, sedangkan layout terkait dengan penyajian muka peta dan informasi tepi. Proses kartografi yang baik akan membantu dalam pengecekan peta cetak pada tahap Field Verification Plot agar peta yang dihasilkan tidak hanya benar dan akurat, tapi juga logis dan memenuhi kaidah estetika peta.Kata Kunci: JBM, Kartografi, Indonesia, MalaysiaABSTRACTCartography is one of the step in the process of making a map. Cartography is not about science but also art so the maps are produced to be easily understood by common people, especially when presented in hardcopy. Joint Border Mapping (JBM) between Indonesia and Malaysia also did not escape the process of cartography and an important part in checking the level of the Field Verification Plot. JBM map is Indonesia - Malaysia border map in Kalimantan Island with a buffering 5 km to the side of Indonesia and Malaysia that plotted in the scale of 1:50.000. JBM map use base map from each country with adapted specification, so it can be used together. That specification is different spatial aspect between Indonesia and Malaysia, as contour interval and coordinate system. That adaptation decided by agreement from both side. In general, symbol in the JBM map cartographyis not different with the Rupabumi Indonesia (RBI) map with scale of 1:50.000, because JBM map using base map for each country. This paper discusses the techniques of cartography on JBM map between RI- Malaysia that can be classified into two stages: symbol and layout. Symbol associated with the presentation of the element symbols according to the rules that have been set, the layout associated with the presentation of the face side of the map and side information. Good cartographic process will help in checking the map printed on the Field Verification plot so maps produced not only true and accurate, but also logical and meet the rules of esthetics map.Keyword: JBM, cartography, Indonesia, Malaysia
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENILAIAN PROPORSI LUAS LAUT INDONESIA Arifin, Taslim; Ramdhan, Muhammad
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.208

Abstract

Wilayah perairan Indonesia meliputi laut teritorial Indonesia, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman. Laut sebagai komponen wilayah yang utama dari negara kepulauan perlu mendapat perhatian khusus. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografis, termasuk di dalamnya penilaian proporsi laut. Penelitian ini menyajikan aplikasi pengolahan peta digital untuk menghitung luasan suatu wilayah, dengan tujuan memperoleh angka proporsi laut Indonesia. Hasil yang diperoleh adalah proporsi wilayah laut terhadap luas keseluruhan NKRI adalah 76,94 %. Dari keseluruhan laut tersebut yang menjadi kewenangan pusat adalah 78,86 % dan kewenangan daerah adalah 21,14 %.Kata Kunci: SIG, luas laut, proporsi, wilayah NKRIABSTRACTIndonesian waters area includes the Indonesian territorial sea, archipelagic waters, and inland waters. Sea as a major component of the area of the archipelagic nation needs special attention. Geographic Information Systems (GIS) is a system (computer-based) that are used to store and manipulate geographic information, including the proportion of marine assessment. This study presented the application of digital map processing to calculate the area of a region, with the aim of obtaining the proportion of Indonesian sea figures. The result showed the proportion of sea area to the total area of the Republic of Indonesia was 76.94 %. Of the whole sea under the authority of the cental government was 78.86 % and 21.14 % was in the regional government authority.Keywords: GIS, sea area, proportion, Indonesia region
KARAKTERISTIK PASANG SURUT LAUT DI INDONESIA Widyantoro, Bayu Triyogo
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.36

Abstract

Pasang surut laut merupakan fenomena alam yang terjadi akibat gaya tarik bumi terhadap benda angkasa terutama Bulan dan Matahari. Air laut di permukaan bergerak sangat dinamis sehingga di setiap daerah akan memiliki karakteristik pasang surut laut yang berbeda. Penentuan karakteristik pasang surut laut di Indonesia menggunakan formula Formzahl yang didapat dari beberapa nilai konstanta harmonik hasil dari pengolahan data pasang surut. Pengolahan data pasang surut ini menggunakan data pasang surut permanen milik Badan Informasi Geospasial di 114 lokasi pengamatan dengan interval pengamatan satu menit dan rentang waktu pengamatan satu tahun yaitu di tahun 2012 untuk beberapa stasiun pasang surut permanen serta beberapa di data tahun 2013. Dari hasil penulisan didapatkan bahwa mayoritas perairan laut nusantara memiliki karakteristik pasang surut campuran condong harian ganda. Hal ini menunjukkan bahwa pasang surut di perairan Indonesia sangat kompleks dan sangat dipengaruhi oleh bathimetri dan sebaran pulau.Kata Kunci: gaya tarik bumi, pasang surut laut, formula Formzahl, konstanta harmonik.ABSTRACTOcean Tides is the natural processes of the ocean that caused by the gravitational forces of the Sun, Moon, and the Earth. The ocean surface water moves dynamically, hence the tidal characteristics are different depend on the geographical location. The Formzahl Formulae is used to determine the tidal characteristics based on the tidal harmonic constituents obtained from tidal analysis results. The tidal analysis using 114 tide gauge stations owned by Badan Informasi Geospasial with the observation interval of one minute in 2012 and 2013 for the several stations. The research’s results show that the majority of Indonesian tidal characteristics are mixed tides prevailing semi diurnal. Therefore these results also indicate that the Indonesian ocean tidal characteristics are complex due to the complex bathymetry and the spreading of islands.Keywords: earth gravitation, ocean tides, Formzahl formulae, harmonic constituents.

Page 10 of 26 | Total Record : 251