cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 2 (2010)" : 10 Documents clear
PEMANFAATAN GIS UNTUK REKONTRUKSI KAWASAN STRATEGIS NASIONAL TROWULAN Subagio, Habib; Poniman, Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.754 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.121

Abstract

Penelitian ini mengintegrasikan beberapa hasil kegiatan dan penelitian terkait surveiarkeologis di Trowulan dengan GIS. Metode yang digunakan adalah melakukan set up datadata tersebut kedalam format spasial yang memiliki referensi geografis yang sama. Berbagai aplikasi analisis baik 2D maupun 3D dilakukan untuk menunjukkan representasi keadaan Trowulan dari awal penelitian sampai saat ini, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai input bagi pengambil kebijakan dalam mengambil langkah kedepan, terkait dengan rencana usulan wilayah Trowulan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) ataupun nominasi ’world heritage’. Upaya perlindungan dan konservasi kawasan ini menjadi prioritas utama untuk mengawal Trowulan dalam rangka penetapan kawasan tersebut sebagai KSN ataupun warisan budaya nasional dan dunia. GIS dapat digunakan sebagai instrumen dalam pengelolaan data dan informasi, sekaligus sistem pemantauan terkait dengan keseluruhan properti arkeologi yang ada di kawasan tersebut.Kata Kunci: Pemetaan, GIS, Kawasan Strategis Nasional, Arkeologi.ABSTRACTThis research integrating several related research activities and results of archaeological survey in Trowulan with GIS. The method used is to set up these data into a spatial format that has the same geographic references. Various applications both 2D and 3D analysis done to show a representation of the initial state Trowulan research to date, which is expected to be used as input for policy makers in taking the next step, is associated with the proposed plan area as a National Strategic Area Trowulan (KSN) or nominee the world heritage. The protection and conservation of this region a top priority in order to escort Trowulan determination as KSN region or national and world cultural heritage. GIS can be used as an instrument in the management of data and information, as well as the overall monitoring system associated with the existing archaeological properties in the area.Key Words: Mapping, GIS, National Strategic Area, Archeology
PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR YANG BERKELANJUTAN DENGAN MEMPERHATIKAN POTENSI DAERAH Rahadiati, Ati; Munajati, Sri Lestari; Sudarmadji, Bambang Wahyu
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.205 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.126

Abstract

Pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir dan laut di Indonesia masih bersifat “open access” dimana setiap warga negara bebas mengeksploitasi dan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Kondisi ini menyebabkan penurunan produksi ikan di beberapa wilayah perairan nusantara. Di lain pihak, bagi nelayan tradisional sarana dan prasarana yang kurang memadai serta musim yang kurang bersahabat karena faktor perubahan iklim menjadi kendala utama dalam penangkapan ikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian wilayah yang berpotensi untuk dikembangkan usaha budidaya dengan menggunakan rulebase (aturan dasar) tertentu untuk komoditi tertentu. Dengan usaha budidaya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ekonomi nelayan tradisional di luar musim tangkap. Sementara itu perkembangan rulebase yang beragam menyebabkan perlu diketahuinya rulebase yang tepat dan menghasilkan data yang akurat untuk pembangunan kelautan yang berkelanjutan. Untuk mendukung hal tersebut di atas maka dilakukan kajian potensi wilayah pesisir untuk usaha budidaya komoditi kelautan bernilai ekonomis tinggi seperti budidaya rumput laut di Kab. Konawe Selatan, Prov. Sulawesi Tenggara.Kata Kunci : Wilayah Pesisir, Aturan Dasar, Budidaya Rumput Laut, Konawe SelatanABSTRACTUtilization of coastal and marine resources in Indonesia is still "open access" whereby every citizen free to exploit and utilize existing resources. This condition causes a decrease in fish production in some of the territorial waters of the archipelago. On the other hand, for traditional fishermen infrastructure is less adequate and less friendly seasons because of climate change become the main obstacle in catching fish. Therefore, it is the assessment of potential areas for cultivation are developed using a specific rulebase for a particular commodity. With the cultivation is expected to meet the economic needs of traditional fishermen fishing out of season. Meanwhile, the development of a diverse rulebase cause rulebase need to know the right time and produce accurate data for sustainable marine development. To support the above activities then carried study the potential of coastal areas for the cultivation of marine commodities of high economic value such as seaweed maricultur in South Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province.Keywords : Coastal Area, Rulebase, Seaweed Maricultur, South Konawe
METODA KLASIFIKASI TETANGGA TERDEKAT UNTUK INVENTARISASI TUTUPAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA ALOS Arief, Muchlisin; Susanto, Susanto; Atriyon, Atriyon; Hawariyyah, Siti
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.755 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.122

Abstract

Konsep klasifikasi terbimbing konvensional adalah terjadinya relasi antara informasiterlatih (training area) dengan hasil klasifikasi dalam mengkelaskan satu pixel ke dalam satu kelas. Salah satu kelemahan dari penentuan training area adalah akan menurunkan tingkat ketelitian citra, ketika proses penentuan pixel menjadi anggota kelas. Pada tulisan ini diterangkan algorithma klasifikasi dengan menggunakan software definiens yang didasarkan pada metoda pengambilan keputusan tetangga terdekat. Metode ini telah digunakan untuk menginventarisir objek dari citra ALOS tertanggal 10 Mei 2007 wilayah Provinsi Jawa Barat. Hasil analisa dan perhitungan objek yang dapat dikelaskan dengan metoda ini antara lain: man made object seluas 38.077,46 ha, lahan terbuka seluas 29.236,06 ha, tubuh air seluas 13.985,47 ha, sedangkan vegetasi jarang dan rapat berturut-turut seluas 42.988,47 ha dan 70.821,76 ha.Kata-Kunci : Klasifikasi Terbimbing, Segmentasi, Citra ALOS, Tetangga TerdekatABSTRACTIn the concept of conventional remote sensing supervised classification, the relationship between trained information and the classification result is one pixel belongs to one class. Once of limitation of training area process is decreasing the accuracy of image, caused The existence of mixed class can not accepted due to the assumption that had been taken during the classification and during the determination of pixel membership. In this paper explained the Algorithm of classification using Definiens software based on nearest neighbourhood method. This method has been applied to inventorying object using ALOS image at at Mei 10st, 2007 in the West Jawa Province. Based on calculation, the object can be classified by this method content : man made object area,38.077,46 ha, the open field area, 29.236,06 ha, water body area 13.985,47 ha, Beside that, the high and low density of vegetation area are 42.988,47 ha and 70.821,76 ha respectively.Key Words : Classification Supervised, Segmentation, ALOS Image, NearestNeighbourhood
PROYEKSI KENAIKAN TINGGI MUKA LAUT DENGAN MENGGUNAKAN DATA ALTIMETER DAN MODEL IPCC-AR4 Sofian, Ibnu; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.352 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.127

Abstract

Estimasi kenaikan tinggi muka laut (TML) dilakukan dengan menggunakan data altimeter dan model. Hasil analisa dengan menggunakan tren analysis menunjukkan bahwa kenaikan TML di Indonesia berkisar antara 0.2 cm/tahun sampai 1 cm/tahun, dengan kenaikan TML tertinggi terjadi di Samudera Pasifik, sebeah utara Pulau Papua. Pola arus musiman dan Indonesian Through Flow (ITF) mungkin akan terpengaruh dengan adanya kenaikan TML yang tidak seragam, dengan kenaikan TML di Samudera Pasifik lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan TML di Samudera Hindia. Sebagai akibatnya, pola arus geostrofik akan lebih mendominasi dibandingkan dengan kondisi sekarang. Sementara itu, kenaikan TML tidak hanya merubah pola arus, tetapi juga dapat mengakibatkan peningkatan bahaya erosi, perubahan garis pantai dan mereduksi daerah wetland (lahan basah) di sepanjang pantai. Pada akhirnya, ekosistem lahan basah di daerah pantai mungkin akan mengalami kerusakan jika tingkat kenaikan tinggi dan suhu muka air laut melebihi batas maksimal dari kapasitas adaptasi biota pantai.Kata Kunci : Proyeksi, Altimeter, Tinggi Muka Laut, IPCC. ABSTRACTThe sea level rise has been estimated by using the trend analysis. The analysis results show that the sea level rise within the Indonesian Seas are ranging from 0.2cm/yr to 1cm/yr, with the highest sea level rise is occurred at Pacific Ocean, the north of Papua Island. The inhomogeneous sea level rise may be influences to the seasonal surface current and ITF (Indonesian Through Flow), in which the sea level rise in the Pacific Ocean is higher than the one in the Indian Ocean. As the results, it will be projected that the geostrophic currents will be more dominant than the present condition. On the other hand, sea level rises not only change the characteristics of surface current but also heighten the risk of erosions, coastal line changes and reduction of the wetland area. Eventually, the wetland ecosystem in the coastal region is likely to be destructed if the sea level and sea surface temperature rises are higher than the maximum adaptation capacity of the coastal biota.Keywords : Projection, Altimeter, Sea Level, IPCC
DINAMIKA PENGGUNAAN LAHAN PESISIR TIMUR PROVINSI LAMPUNG Suwarno, Yatin; Susanti, Rahmatia
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.968 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.123

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika penggunaan lahan pesisir timur Provinsi Lampung dari tahun 1975 sampai tahun 2009. Sumber data yang digunakan adalah citra ALOS AVNIR-2 (resolusi 10m x 10m) tahun 2009, citra Landsat ETM+ (resolusi 60m x 60m) tahun 2000, Peta Penggunaan Lahan Bakosurtanal skala 1:250.000 tahun 1986, dan Peta Topografi JANTOP skala 1:50.000 tahun 1975. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 34 tahun (1975-2009) terjadi dinamika yang berbeda untuk setiap jenis penggunaan lahan. Lahan hutan mengalami penurunan terus dari tahun 1975 sampai tahun 2009, yang diduga karena alih fungsi untuk penggunaan lahan yang lebih ekonomis (perkebunan, tambak, sawah, dan ladang). Penggunaan lahan permukiman dan perkebunan mengalami kenaikan terus, hal ini seiring dengan peningkatan populasi penduduk dan mulai dibukanya berbagai jenis komoditi perkebunan. Adapun lahan sawah dan tambak yang semula naik sampai tahun 2000kemudian turun hingga tahun 2009, ini diduga lebih bersifat pertimbangan ekonomi yaitu pemanfaatan yang lebih menguntungkan pada saat tertentu.Kata Kunci: Dinamika, Penggunaan Lahan, Lahan PesisirABSTRACTThis study examines the dynamics of land use in east coast of Lampung Province from 1975 until 2009. Data sources used were image of ALOS AVNIR-2 (resolution 10m x 10m) in 2009, Landsat ETM+ (60m x 60m resolution) in 2000, Land use map, scale of 1:250.000 from Bakosurtanal in 1986, and Topographic Maps, scale of 1:50.000 from Jawatan Topografi in 1975. The results of this research showed that during 34 years (1975 – 1986) there has been different dynamic for each type of land use. Forest land continues to decrease from 1975 until 2009, indicating the functional transfer for more economical uses (plantations, ponds and rice paddies). The land uses for settlement and plantations have continued to rise, in line with the increase in population and start opening various types of plantation commodities. As for paddy fields and ponds, which initially rose until 2000 andthen fell until 2009, was thought to be more profitable consideration at a given time.Keywords: Dynamics, Land Use, Land Coast.
HYPERSPECTRAL OBSERVATION FOR OPTICAL PROPERTIES OF COASTAL BENTHIC COMMUNITIES IN THE SMALL ISLAND Nurdin, Nurjannah; Komatsu, Teruhisa; Yamano, Hiroya; Arafat, Gulam; Rani, Chair; Awaludinnoer, Awaludinnoer
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.681 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.128

Abstract

Collecting the spectral library of different bottom types is an important step in mapping shallow water bottom types with of remote sensing. Five small islands in the Spermonde archipelago, South Sulawesi, Indonesia, were selected to measure the reflectance spectral of benthic communities. The objectives of this study are to determine optical properties of the live corals, dead corals covered with algae, coral rubble, broken shell, sand, seagrass and to collect a spectral library of bottom types present around small islands in the Spermonde archipelago. Several benthic communities appear to be highly correlated with one another when the entire spectrum considered, which may lead to classification errors. Porites meyeri,dead corals and coral rubble (>3 months ago) share a high degree of similarity in reflectance. The other coastal benthic communities are readily distinguishable.Keywords : Spectral, Coral Rubble, Living Corals, Dead Corals, Broken Shell ABSTRAKPengumpulan pustaka spektral pada berbagai jenis dasar perairan merupakan langkah yang penting dalam memetakan karakteristik dasar perairan dangkal dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Pada penelitian ini, pengukuran reflektansi spektral pada komunitas bentik perairan dangkal dilakukan pada lima pulau-pulau kecil yang terdapat di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah selain menentukan karakteristik optik pada karang hidup, karang mati yang ditumbuhi alga, pecahan karang, pecahan cangkang, pasir dan lamun juga untuk membangun pustaka spektral berbagai jenis obyek dasar perairan dangkal yang terdapat di sekitar pulau-pulau kecil Kepulauan Spermonde. Beberapa komunitas dengan jenis komunitas bentik lainnya menunjukkan korelasi yang kuat yang akan menghasilkan kesalahan klasifikasi jika menggunakan julat spektrum yang lebar seperti antara karang Porites meyeri, karang mati yang ditumbuhi alga dan pecahan karang yang telah berumur lebih dari 3 bulan menunjukkan tingkat kesamaaan reflektansi spektral yang tinggi. Sedangkan pada obyek dasar perairan dangkal lainnya, nilai pantulan spektralnya dapat dipisahkan.Kata kuci : Spektral, Pecahan Karang, Karang Hidup, Karang Mati, Pecahan Cangkang.
STUDY ON THE ROLE OF URBAN FOREST TOWARD TEMPERATURE REDUCTION IN RESIDENTIAL AREA Wijanarto, Antonius B; Marlina, Etty; Jaya, I Nengah Surati
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.428 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.124

Abstract

Nowadays, the quality of urban environment is a challenging problem. Urban development indicated by the increase of population as well as development in all aspects, either positive or negative. But it can degrade the environment quality. This can be indicated by for example, air pollution, which can reduce the oxygen supply and overwhelms the production of carbon dioxide as well as the increase in temperature. From the foregoing problems, the “back to nature” concept is needed to solve environment problem in urban area, by introducing the urban forest. However, constraints in available space exists, therefore, alternative solution can be employed by increasing the effectiveness of existing urban forest. This research aims at analyzing the effectiveness of urban forest in reducing the air temperature based on two parameters: forest structures and forest forms. Keywords: Urban Forest, Temperature Reduction, Forest Structure, Forest Forms, GIS Analysis. ABSTRAKKualitas lingkungan perkotaan, akhir-akhir ini, merupakan masalah yang menantang. Perkembangan perkotaan selalu mengindikasikan dengan pencemaran udara dan perkembangan di segala bidang, yang berdampak positif maupun negatif. Namun demikian, perkembangan ini dapat menurunkan kualitas lingkungan. Hal ini dapat diindikasikan misalnya polusi udara, yang dapat menurunkan jumlah oksigen dan meningkatkan jumlah karbon dioksida yang juga terindikasikan dengan naiknya suhu udara perkotaan. Dari berbagai masalah lingkungan tersebut, konsep kembali ke alam dibutuhkan untuk mengatasi masalah lingkungan perkotaan, dengan mengenalkan konsep hutan kota. Namun, banyak pembatasan-pembatasan termasuk lahan yang tersedia, sehingga solusi yang dapat meningkatkan efektivitas hutan kota dibutuhkan. Penelitian ini menganalisa efektivitas hutan kota dalam menurunkan suhu udara perkotaan berdasarkan dua parameter: struktur hutan dan bentuk hutan.Kata Kunci: Hutan Kota, Penurunan Suhu Udara, Struktur Hutan, Bentuk Hutan, Analisa SIG.
PEMANFAATAN DATA INDERAJA UNTUK PENDUGAAN DEGRADASI SUMBERDAYA TERUMBU KARANG DI KABUPATEN POHUWATO, PROVINSI GORONTALO Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.815 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.129

Abstract

Salah satu wilayah yang mempunyai jumlah pulau-pulau kecil dengan potensi yang cukup kaya adalah Perairan Teluk Tomini. Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo merupakan salahsatu wilayah yang termasuk dalam wilayah Perairan Teluk Tomini. Monitoring sumberdaya terumbu karang dilakukan dengan cara pemetaan neraca, yang pada dasarnya adalah memetakan kondisi awal dan akhir sehingga diketahui tingkat degradasi atau perubahannya. Pemetaan neraca ini dilakukan dengan analisa berdasarkan hasil interpretasi citra satelit menggunakan data 2 waktu (time series) yaitu Citra Landsat tahun 2000 dan Citra ALOS AVNIR 1-B tahun 2007 dengan cek lapangan tahun 2008. Berdasarkan degradasi sumberdaya terumbu karang maka prediksi nilai ekonominya dapat diproyeksikan. Nilai ekonomi yang digunakan adalah Total Economic Value (TEV). Berdasarkan analisa neraca maka dapat dilihat perubahan yang terjadi selama 8 tahun yaitu karang seluas 1.615,91 ha tidak mengalami perubahan, 396,65 ha berubah menjadi lamun, dan 185,23 ha berubah menjadi pasir. Sedangkan nilai ekonomi total dari ekosistem terumbu karang di wilayah Kabupaten Pohuwato sebesar Rp 164.217.923,33/ha/tahun.Kata kunci: Terumbu Karang, Neraca Sumberdaya Alam, Degradasi, Nilai Ekonomi ABSTRACTOne of regions that has a number of small islands with a rich enough potential is Tomini Bay. Pohuwato Regency, Gorontalo Province is one of the areas included in the Tomini Bay. Coral reef resources monitoring was held by mapping the balance sheet, which is basically to map the beginning and end of the condition to know the degradation rates or changes of the coral reef. Mapping the balance sheet based on analysis of satellite imagery interpretation results using two time data (time series), e.i. the year 2000 Landsat image and the image of ALOS AVNIR 1-B in the year 2007 with a field check in 2008. Based on the degradation of coral reef resources, the prediction of the economic value can be projected. Economic value used in this research is the Total Economic Value (TEV). Based on the analysis, the changes that occur during the 8 years are, an area of 1615.91 ha coral reef has not changed, changed to 396.65 ha seagrass, and 185.23 ha turned into sand. While the total economic value of coral reef ecosystems in the region Pohuwato District 164,217,923.33 Rp/ha/year.Keywords: Coral Reef, Natural Resources Accounting, Degradation, Economic Value
REVIEW ON A NATIONAL MANGROVE MAPPING Hartini, Sri; Saputro, Guridno Bintar; Suprajaka, Suprajaka; Niendyawati, Niendyawati
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.39 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.125

Abstract

Indonesia is the largest archipelagic country in the world with coastline span about 95,181 km. With such long coastline, coastal resources continuously support to the live of most Indonesian people. Mangroves are among the important coastal resources in terms of its economical and ecological functions. The mangroves have been severely deteriorated mostly due to the increasing exploitation as a result from the growing number of the population. Moreover, mangroves considered as a fragile ecosystem since it only grows in a unique area, which is in the tidal plain area. These problems have been discussed widely particularly to address how to preserve the functions of the mangroves. Planners and decision makers that concern on coastal resources and developments want to evaluate their changes overtime. Therefore, current data of the status of the mangroves nationally is highly demanded. This paper describes and evaluates the experience of the Center for Marine Resources Survey, Bakosurtanal in mapping mangroves Indonesia in 2009. Remote sensing approach had been used on the mangroves mapping. Remote sensing technique was considered as the most useful approach particularly due to the area that should be covered was very large. Besides that, mangroves can be easily recognized and delineated from most of satellite imageries. However, there are also some limitations on the application of remote sensing technology for mangroves mapping.Keywords: Mangrove, Remote Sensing, Mapping, Indonesia ABSTRAKIndonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia, dengan panjang garis pantai mencapai lebih dari 95.181 km. Dengan garis pantai sepanjang itu, sumberdaya pesisir secara terus menerus menyokong kehidupan sebagian besar penduduk Indonesia. Mangrove merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang penting baik dinilai secara ekonomi maupun secara ekologi. Sebagian dari mangrove tersebut mengalami kerusakan karena eksploitasi yang berlebihan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Disamping itu, mangrove juga merupakan ekosistem yang rapuh karena mangrove hanya bisa tumbuh di lingkungan yang khusus, yaitu sepanjang area pasang surut saja. Permasalahan ini telah banyak dibahas, khususnya untuk mencari solusi guna melindunginya. Para perencana dan pengambil keputusan selalu ingin mengevaluasi perubahannya dari waktu ke waktu. Dengan demikian, data mengenai keberadaan mangrove terkini selalu diharapkan ketersediaannya. Tulisan ini memaparkan dan mengulas tentang pemetaan mangrove Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Survei Sumber Daya Alam Laut, Bakosurtanal pada tahun 2009. Teknik penginderaan jauh telah digunakan sebagai pendekatan dalam pemetaan mangrove tersebut. Pendekatan ini dianggap sebagai alat yang sangat berguna karena mangrove dapat dengan mudah dikenali dan didelineasi dari citra satelit penginderaan jauh. Namun demikian, dalam aplikasi teknologi penginderaan jauh untuk pemetaan mangrove ini juga terdapat keterbatasan atau kekurangan.Kata kunci: Mangrove, Penginderaan Jauh, Pemetaan, Indonesia
PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN REGULASI PENGELOLAAN LAHAN BARU DI DELTA CIPUNAGARA, SUBANG, JAWA BARAT Munibah, Khursatul; Iswati, Asdar; Tjahjono, Boedi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.37 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.130

Abstract

Perubahan garis pantai dapat terjadi karena faktor alam atau campur tangan manusia seperti perkembangan delta atau reklamasi pantai, Dalam beberapa kasus, perubahan garis pantai dapat membentuk lahan baru yang disebut delta atau lahan timbul. Lahan baru yang terjadi di Delta Cipunagara terus mengalami penambahan seluas 138,9 ha (1962-1972); 757,3 ha (1972-1990) dan 623,0 ha (1990-2008) dengan laju masing-masing sebesar 13,9 ha/tahun, 42,1 ha/tahun dan 34,6 ha/tahun. Penggunaan lahan di lahan baru didominasi oleh tambak sebesar 26,0% (1972); 50,0% (1990) dan 67,8% (2008). Saat ini, lahan baru di Delta Cipunegara dikelola oleh masyarakat setempat dengan seijin kepala desa, yang diujudkan dalam bentuk Surat Izin Mengelola (SIM). Kenyataan menunjukkan bahwa penguasaan lahan baru belum jelas secara yuridis, sehingga dapat menjadi pemicu konflik. Oleh karena itu, kepastian kepemilikan lahan baru perlu segera ditangani oleh pemerintah untuk meminimumkan konflik sosial di masa datang.Kata kunci: Lahan Baru, Garis Pantai, Konflik Sosial ABTRACTCoastline change occurred by natural or anthropogenic processes such as delta development or land coastal reclamation. In some cases, coastline change can create the new land that called delta or emergence land. The new land in Delta Cipunagara has enlarged about 138,9 ha (1962-1972); 757,3 ha (1972-1990) dan 623,0 ha (1990-2008) with rate 13,9 ha/year; 42,1 ha/year and 34,6 ha/year, respectively. Land use in the emergence land are dominated by pound about 26,0 % (1972); 50,0% (1990) and 67,8% (2008). Now, the new lands in Delta Cipunagara are occupied by the local people based on Chief of Village Certificate. In reality, the owner of the new land is unknown judicially so that canprovoke a social conflict. This situation should be clarified judicially by government in order to minimize a social conflict in the future.Keywords: Emergence Land, Coastline, Social Conflict

Page 1 of 1 | Total Record : 10