cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
MODEL SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU DAN DAERAH PENYANGGANYA Alkaf, Muhamad; Munibah, Khursatul; Rusdiana, Omo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.56 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.49

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Gunung Merbabu adalah salah satu kawasan konservasi yang mencapai kondisi ecological-overstress disebabkan oleh tekanan penduduk. Penutupan lahan hutan hanya tersisa 30% dari keseluruhan kawasan Taman Nasional dengan laju deforestasi mencapai 3% per tahun. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi mengindikasikan adanya perubahan ekosistem yang dapat mengancam fungsi kawasan terutama fungsi ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi penutupan lahan di masa yang akan datang dengan mengetahui pola perubahan tutupan lahan di masa lalu hingga saat ini. Metode Cellular Automata Markov (CA Markov) digunakan untuk membuat model spasial perubahan penggunaan lahan. Hasil dari penelitian ini adalah prediksi penggunaan lahan pada tahun 2025 dan rumusan skenario untuk mengatasi perubahan tersebut. Deforestasi diprediksi akan terus terjadi di masa yang akan datang, usaha yang penting untuk dilakukan adalah mengurangi laju deforestasi.Kata Kunci: Gunung Merbabu, perubahan penggunaan lahan, prediksiABSTRACTMerbabu Mountain National Park is one among conservation areas with ecological-overstress condition caused by population pressure. Forest cover in that area is only remains 30% and deforestation rate reaches 3% per year. The occurrence of landuse changes indicates the changes on ecosystem that threaten the ecological function of the area. This study modeled to predict the future landuse by determines the pattern of landuse change in the past to the present. This research uses CA Markov (Cellular Automata Markov) method to derive spatial landuse changes model. The results of this study were landuse prediction in 2025 and scenarios to cope with the changes. The deforestation was predicted to continue in the future, so that the necessary attempt is needed to reduce the rate of deforestation.Keywords: Merbabu Mountain, landuse change, prediction
PENERAPAN SPATIAL APPROACH DALAM KAJIAN SOSIAL-POLITIK DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Karsidi, Asep
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.997 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.140

Abstract

Pendekatan spasial berperan penting dalam kajian sosial-politik dan pembangunan berkelanjutan. Melalui pendekatan spasial, fenomena sosial-politik dapat dipahami secara lebih mudah dalam konteks hubungan keruangan. Penerapan spatial approach dalam bidang sosial-politik dan pembangunan berkelanjutan dapat menggunakan unit pemetaan tingkat rumah tangga sebagai basis pemetaan berbagai skala. Unit pemetaan ini dapat dideteksi dengan teknik penginderaan jauh resolusi tinggi. Dalam unit pemetaan tingkat rumah tangga dapat dihimpun berbagai data sosial-politik, yang dapat digunakan untuk memetakan kondisi sosial-politik multi tema. Berbagai metoda spatial approach yang sering digunakan dalam kajian sosial antara lain metoda Sistem Informasi Geografis, analisis pola spasial, visualisasi peta, interaksi spasial dan multi-agent spatial modeling. Dalam makalah ini dikemukakan beberapa contoh penerapan spatial approach dalam bidang sosial-politik dan pembangunan berkelanjutan.Kata Kunci: Pendekatan Spasial, Sosial-Politik, Unit Pemetaan Rumah Tangga, SIG, Penginderaan Jauh ABSTRACTSpatial approach has important role in socio-politics and sustainable development studies. By using spatial approach, socio-politics phenomena can be understood easily in a context of spatial relationship. Application of spatial approach socio-politics and sustainable development can be applied using household unit as basic for multi-scale mapping. This mapping unit can be detected by using a high spatial resolution of remotely sensed data. Socio-politics data can be collected based on household unit, to be use for multi-thematic mapping of social and political conditions. Several approaches often applied in social studies is Geographical Information Systems (SIG), spatial pattern analysis, map visualization, spatial relationship and multi-agent spatial modeling. This paper describes several example of spatial approach application for socio-politics and sustainable development studies.Keywords: Spatial Approach, Socio-Politics, Household Mapping Unit, GIS, Remote Sensing
POTENSI KERAWANAN BENCANA BANJIR DAN LONGSOR BERBASIS KARAKTERISTIK GEOMORFOLOGI DI SUB-DAS GELIS, KELING, JEPARA Rahma, Ayu Dyah; Mardiatno, Djati
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1311.411 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2018.20-1.724

Abstract

Bencana banjir dan longsor adalah kejadian yang sering terjadi di Kabupaten Jepara setiap musim penghujan. Wilayah kajian adalah Sub-DAS Gelis karena kejadian bencana banjir dan longsor yang banyak di area tersebut. Tujuan kajian ini adalah mengidentifikasi karakteristik geomorfologi dan variasi bentuklahan di Sub-DAS Gelis untuk analisis kerawanan bencana banjir dan longsor. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah survei dengan teknik sampling purposif. Analisis data kerawanan bencana dilakukan spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan bantuan Perangkat lunak ILWIS dengan mengaplikasikan metode Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). Bobot berkonsisten (eigenvector) dihasilkan dari pengolahan Analitycal Hierarchy Process (AHP). Hasil kajian adalah peta geomorfologi dan peta multirawan banjir dan longsor skala 1:50.000. Sub-DAS Gelis memiliki karakteristik geomorfologi yang kompleks dengan variasi bentuklahan adalah lereng tengah gunungapi, lereng bawah gunungapi, lereng kaki gunungapi, dataran kaki gunungapi, interfluve lereng kaki gunungapi, interfluve dataran kaki gunungapi, dataran banjir, dan dataran aluvial. Sub-DAS Gelis dinyatakan rawan rendah terhadap bencana banjir dan longsor berdasarkan hasil pemetaan multirawan. Terdapat tiga kelas multirawan yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Kelas multirawan tinggi berada di bentuklahan lereng tengah gunungapi dan sebagian besar dataran kaki gunungapi. Kata kunci: banjir, longsor, geomorfologi, kerawanan, SIG
EKSTRAKSI GARIS PANTAI MUKA LAUT RATA-RATA DARI CITRA MULTI PASUT Amhar, Fahmi; Subagio, Habib; Sumaryono, Sumaryono
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.329 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.91

Abstract

Setiap garis pantai yang didapatkan dari foto udara atau citra satelit adalah garis aktual atau temporal, yang dipengaruhi oleh fenomena pasang surut (pasut). Pada sebuah peta, diperlukan tinggi garis pantai muka laut rata-rata, yang harus dicari dengan bantuan data pasut. Di paper ini, penulis mencoba mendapatkan garis pantai muka laut rata-rata dari citra multi pasut. Hasilnya adalah garis pantai rata-rata dengan akurasi vertikal desimeter sedang akurasi horisontalnya tergantung kelandaian (slope) pantai yang bersangkutan. Penggunaan citra radar lebih mudah sebab citra radar multipasut dengan perbedaan ekstrim lebih mudah diperoleh karena tidak ada kendala awan. Kombinasi metode DEM dan metode median line pada citra radar akan menghasilkan hasil yang nyaris berimpit, sedang pada citra optik, hasilnya akan cukup jauh.Kata Kunci: Garis Pantai, Pasang Surut, Muka Laut Rata-RataABSTRACTAny coastline extracted from aerial or satellite imageries is an actual or temporal line, influenced by tidal phenomena. Mean sea level coastline is needed on a map, which must be extracted with the help of tidal data. In this paper we tried to extract the mean sea level coastline from multi-tidal-imageries. The result was mean sea level coastlines with vertical accuration in decimeter level, while the horizontal accuration depending on slope of the coast. The used of radar data for extracting coastline is easier because the multi-tidal radar images with extreme tidal differences can be obtained since radar data is free of cloud cover problem. Combination method of DEM and median line on radar data would result on a nearly similar coastline.Keywords: Coastline, Tidal, Mean Sea Level
DINAMIKA TUTUPAN PERAIRAN DANGKAL PULAU-PULAU KECIL, KEPULAUAN SPERMONDE Nurdin, Nurjannah; Amri, Khairul; Djalil, Abd. Rasyid; AS, M. Akbar; Jaya, Ilham; agus, Agus
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.852 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.221

Abstract

Salah satu wilayah pesisir yang penting secara ekonomi dan ekologi adalah kawasan pesisir Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Pada wilayah ini terdapat kegiatan ekonomi yang berbasiskan sumber daya alam seperti perikanan. Perairan Kepulauan Spermonde menerima dampak dari kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan sehingga berpengaruh terhadap kerusakan ekosistem pesisir. Penginderaan jauh memiliki peranan penting dan efektif untuk penilaian dan pemantauan dinamika tutupan perairan dangkal. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan informasi dinamika spasial tutupan dasar ekosistem perairan dangkal di pulau-pulau outer zone Kepulauan Spermonde. Lokasi penelitian adalah pulau Langkai. Data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu citra satelit Landsat dengan tahun perekaman 1972, 1981, 1990, 1996, 2002, 2008, dan 2014. Penelitian ini terdiri dari lima tahapan, yaitu: (1) tahap awal pengolahan citra satelit, (2) tahap survei lapangan, (3) tahap pengolahan citra lanjutan, (4) tahap post classification dan (5) uji ketelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan luas karang hidup menjadi karang mati dan pecahan karang, sedangkan luas pecahan karang dan karang mati ditumbuhi alga meningkat selama 42 tahun (1972 – 2014). Kerusakan habitat terumbu karang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia yang menangkap ikan dengan menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan.Keywords: dinamika spasial, terumbu karang, pulau kecil, LandsatABSTRACTOne of the coastal areas are important economically and ecology are Spermonde islands coastal areas of South Sulawesi. In this region there are economic activities based on natural resources such as fisheries. This region receives the impact of fishing activities which are not environmentally friendly and therefore contributes to damage to coastal ecosystems. Remote sensing has an important and effective role in the assessment and monitoring of the dynamics of shallow water cover. The aim of this study is to produce dynamic geospatial information of shallow water on a small island, Spermonde archipelago. The research location is a Langkai island. The data used in this study is Landsat satellite image with a different acquitision date. This study consists of five main steps including: (1) the stage of satellite image processing, (2) field survey, (3) advanced image processing, (4) post classification, and (5) accuracy assessment. The results showed that there was a large decrease in live coral to dead coral with algae and rubble, while the area of dead coral with algae and rubble is increased for 42 years ( 1972-2014 ). Damage to coral reef habitat largely caused by human activity which catch fish by using fishing gear that is not environmentally friendly.Keywords: spatial dynamic, coral reef, small island, Landsat
KAJIAN INDEKS POTENSI LAHAN TERHADAP PEMANFAATAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN Hidayati, Iswanari Nur; Toyibullah, Yoga
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.51 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.96

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengaplikasikan peranan Sistem Informasi Geografis untuk penentuan indeks potensi lahan dan sebaran potensi sumberdaya lahan dan (2) mengetahui kesesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah terhadap indeks potensi lahan di Kabupaten Sragen. Metode yang digunakan adalah metode pengharkatan (skoring) dan tumpang susun (overlay). Pengharkatan dilakukan terhadap parameter-parameter penyusun Indeks Potensi Lahan yang meliputi kelerengan, litologi, jenis tanah dan hidrologi sebagai faktor pendukung serta kerawanan bencana erosi sebagai faktor pembatas. Tumpang susun (overlay) dilakukan terhadap peta Indeks Potensi Lahan yang telah dibuat dengan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tata Guna Lahan tahun 2010 – 2030. Hasil penelitian Indeks Potensi Lahan menunjukkan Kabupaten Sragen memiliki kelas Indeks Potensi Lahan sangat tinggi dan memiliki luas 13,85 km2 dengan persentase 1,47 %, kelas tinggi memiliki luas 386,78 km2 dengan persentase 41,07 %, kelas sedang memiliki luas 344,65 Km2 dengan persentase 36,60 %, dan kelas rendah memiliki luas 196,26 Km2 dengan persentase 20,84 %. Hasil penelitian kesesuaian lahan menunjukkan bahwa Kabupaten Sragen terdapat lokasi sesuai dan memiliki luas 786,27 km2 dengan persentase 83,50 % dan lokasi tidak sesuai memiliki luas 155,28 km2 dengan persentase 16,49 %.Kata Kunci: Indeks Potensi Lahan, RTRW, SIGABSTRACTThis research aimed to study on application of GIS for assesing land potential index and to compare regional planning with land suitability based on land potential index. This method used scoring and overlay of the parameters to arrange the land potential index. Those parameters were slope, lithology, soil, hydrology, and erosion risk. The superimpossed of parameters used to produce land potential index were then compared with regional landuse plan for 2010-2030. Result of this research shows that Sragen Regency area has the highest area of land potential index for agriculture. The area was 13,85 km2, the high area was 386,78 km2, and the lowest area was 196,26 km2. Other conclusion in this research were that the land suitability based on regional planning was 83,50% and the area not appropriate for agriculture area was 16,49%.Keywords: Land Potential Index, Regional Planning, GIS
APLIKASI DATA SATELIT SPOT – 4 UNTUK MENDETEKSI TERUMBU KARANG: STUDI KASUS DI PULAU PARI Arief, Muchlisin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.707 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.131

Abstract

Data satelit SPOT dapat digunakan untuk mendeteksi terumbu karang dan objek lainnya di dasar air atau perairan dangkal. Bagi negara yang mempunyai wilayah yang sangat luas, penggunaan teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk inventarisasi terumbu karang, karena hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat. Penggunaan algorithma Depth Invariant Index dari Lyzenga dengan menggunakan band1 dan band2 dapat digunakan sebagai koreksi data satelit dalam memetakan objek yang ada didasar perairan dangkal. Berdasarkan hasil klasifikasi objek di dasar perairan Pulau Pari terdiri dari 5 klas yaitu: karang yang muncul di permukaan laut seluas 15,2 ha, karang yang bercampur pasir seluas 230,06 ha, karang bercampur dengan pasir dan lamun seluas 220,68 ha dan karang yang termasuk jenis karang penghalang (barrier reef) seluas 245,24 ha.Kata Kunci: Terumbu Karang, SPOT, Perairan Dangkal, Indek Invariant KedalamanABSTRACTSPOT satellite data can be used to detect coral reefs and other shallow water objects. For country of vast area, the use of remote sensing technology is an appropriate alternative to inventory coral reefs because it only requires a relatively short time. The use of Depth Invariant Index algorithm of Lyzenga by using band-1 and band-2 can be used as satellite data correction in mapping the shallow waters objects. Based on the classification result, the object under shallow waters of Pari island consist of 5 classes, namely : coral that appear on the water surface area of 15.2 ha, coral mixed with sand of 230.06 ha, coral mixed with sand and seagrass of 220,68 ha, and pure coral which is barrier coral area of 245, 24 ha.Keywords: Coral Reef, SPOT, Shallow Waters, Depth Invariant Index
DISTRIBUSI SPASIAL KUALITAS AIR DI KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (KKLD) LOMBOK TENGAH Yulius, Yulius
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1319.906 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2018.20-1.598

Abstract

Ketersedian data dan informasi terkini terkait kualitas air menjadi sangat penting dalam pengelolaan kawasan konservasi secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran kualitas perairan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di wilayah Lombok Tengah yang dinilai dari 11 parameter dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Pengumpulan data distribusi spasial kualitas air dilakukan di perairan KKLD Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 25 – 30 September 2015. Terdapat 29 stasiun pengamatan yang terdistribusi pada zona perairan yang berbeda. Metode yang dilakukan adalah metode survei pada daerah teluk di perairan Lombok Tengah dengan metode pengambilan sampel secara purposive sampling. Analisis distribusi spasial kualitas air dilakukan dengan menggunakan SIG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi spasial kualitas air parameter suhu, pH, dan klorofil di daerah pesisir lebih tinggi (24,5 – 26,3 °C, 7,23 - 7,94, dan 19,09 - 40,43 μg/L) dibandingkan dengan daerah yang berada jauh dari pesisir. Distribusi spasial kualitas air di Teluk Kuta yang memiliki parameter bernilai cukup tinggi adalah Total Suspended Solid (TSS), Total Organic Matter (TOM), Dissolved Oxygen (DO), fosfat, dan amoniak. Pada Teluk Mawun yang bernilai cukup tinggi adalah TSS, TOM, dan nitrat, sedangkan di Teluk Bumbang parameter bernilai cukup tinggi adalah DO, nitrat, dan nitrit.Kata kunci: Distribusi spasial, kualitas perairan, KKLD, Lombok Tengah, SIG
PEMODELAN SPASIAL PROYEKSI KENAIKAN MUKA LAUT UNTUK ESTIMASI KERENTANAN KESEHATAN Sutrisno, Dewayany; Windiastuti, Rizka; Sofyan, Ibnu; Ramdhani, Dadan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1472.052 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.92

Abstract

Kenaikan muka laut menimbulkan dampak pada keberadaan sumberdaya alam, maupun sumberdaya manusianya. Pemunduran garis pantai (shoreline retreat) dan penggenangan pada wilayah-wilayah rentan merupakan dampak ke depannya. Permasalahan wilayah pesisir lainnya, seperti penurunan muka tanah (land subsidence), rob, gelombang pasang, serta banjir, dapat memperburuk dampak kenaikan muka laut, terutama bagi kesejahteraan penduduknya. Oleh karena itu, dengan mengambil studi area di Teluk Jakarta, perlu dikembangkan model spasial estimasi dampak kenaikan muka laut pada kerentanan kesehatan penduduk wilayah pesisir. Model dikembangkan berdasarkan formulasi pemunduran garis pantai (shoreline retreat model) yang telah dikembangkan oleh Sutrisno (2005) dengan parameter permasalahan lingkungan dan sosial lainnya. Estimasi dikembangkan dalam tiga skenario, yaitu rendah, sedang dan tinggi (low impact, moderatedan high). Hasil yang diperoleh adalah model estimasi spasial kerentanan wilayah pesisir dari sisi kesehatan penduduk terhadap kenaikan muka laut selama minimal 20 tahun ke depan, sebagai input untuk model spasial skenario kebijakan (rekomendasi) yang harus dilaksanakan sebagai usaha mitigasi dan adaptasi.Kata Kunci: Kenaikan Muka Laut, Kerentanan, Penyakit InfeksiAbstractSea level rise affects the existence of natural resources as well as human resources. Shoreline retreat and inundation on vulnerable areas are some impacts that can occur in the future. Other problems in coastal areas such as land subsidence, tidal wave, and tidal flood can worsen the effects of sea level rise, especially for the livelihood of people in the area. Therefore, it is necessary to develop a spatial model to estimate the impact of sea level rise to the health of population in the coastal area. The model was developed by taking a study area at Jakarta Bay, based on shoreline retreat model that was developed by Sutrisno (2005) using environmental and social problems as the parameters. The estimation is extended in three scenarios, which are low, moderate, and high impact. The expected result is a spatial model estimation of the vulnerability of population’s health due to sea level rise for at least 20 years ahead, as an input to a spatial model of recommendation scenario that has to be performed as mitigation and adaptation efforts.Keywords: Sea Level Rise, Vulnerability, Infectious Disease
PERANAN IDS DALAM MANAJEMEN BENCANA Soeryamihardia, R Danoe
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1380.256 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.339

Abstract

Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada petemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Putau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah. Kondisi tersebut bisa berdampak positif sekaligus juga rawan bencana seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, dan gerakan-tanah. Disisi lain bencana banjir, langsor, kekeringan lebih banyak disebabkan karena campur tangan manusia yang hal ini dapat dievaluasi dalam penataan ruang baik daerah maupun nasional. Penanganan bencana melibatkan kegiatan sebelum terjadi bencana, saat terjadi bencana dan sesudahnya. Semua kegiatan tersebut membutuhkan pengelolaan informasi yang baik sehingga penanganan bencana dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Data adalah hal yang sangat penting untuk memberikan masukan dalam penanganan bencana. Untuk itu kecepatan dalam memperoleh data, kesahihan, kepercayaan dan tingkat kepercayaan data sangat diperlukan. Serta data tersebut dapat dipakai/berbagi bersama (sharing data). IDS sangat penting karena memungkinkan pengguna mendapatkan informasi yang diinginkan tanpa harus menghabiskan waktu, biaya dan tenaga untuk mencari, atau membuat data yang diinginkan. Peranan IDS datam manajeman bencana akan banyak membantu baik dalam fase mitigation, preparedness, response dan fase recovery.Kata Kunci: Manajemen Bencana, berbagi bersama, Infrastruktur Data Spasial (IDS).ABSTRACTGeographically, Indonesia is an archipelago that ties at the confluence of four tectonic plates which are continent plates of Asia and Australia, and ocean plates of Indian and Pacific Oceans. In southern and eastern parts of Indonesia there is a belt of volcanic (volcanic arc) that extends from the island of Sumatra, Java, Nusa Tenggara, Sulawesi, which are in the side of old volcanic mountains and lowlands. These conditions can have positive impact as well as vulnerability to disasters such as earthquakes, volcanic eruptions, tsunamis, and soil movements. On the other side floods, landslides, and drought are mostly caused by human intervention which can be evaluated through both regional and national spatial planning. Disaster management involves pre-disaster, when disaster strikes and post-disaster. All these activities require good information management so that disaster management can be done effectively and efficiently. The data is very important to Provide input in disaster management. For that purpose it is important to quickly obtain data which are valid, reliable and trustworthy and that the data can be shared among involved institutions. SDI is very important because it allows users to get the desired information without having to spend time, money and effort to find, or create the desired data. The role of SDI in disaster management will be much helpful in the phase of mitigation, preparedness, response and recovery.Keywords: Disaster Management, Sharing Data, Spatial Data Infrastructure (SDI)

Page 11 of 35 | Total Record : 347