cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
DISTRIBUSI SPASIAL BESARAN EROSI UNTUK PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN LESTARI Widiatmaka, Widiatmaka; Soeka, Benar Darius Ginting
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.008 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.137

Abstract

Metode penghitungan erosi yang digunakan pada umumnya merupakan metode penghitungan statis, artinya penghitungan pada suatu tempat atau titik tertentu. Penghitungan spasial dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor penyebab erosi setempat. Perhitungan spasial perlu dilakukan, agar upaya konservasi dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung secara spasial besaran erosi wilayah, untuk kemudian digunakan sebagai input bagi pertimbangan konservasi. Penelitian ini dilakukan di UPT Rantau Pandan SP-1, Provinsi Jambi. Transmigran ditempatkan di UPT ini sejak tahun 2000/2001, dan merupakan transmigrasi pola lahan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besaran erosi maksimal berkisar dari 2,32 ton/ha/tahun sampai 428,43 ton/ha/tahun. Nilai ini merupakan besaran erosi maksimal pada beberapa tipe penggunaan lahan. Lahan di Rantau Pandan SP-1 memiliki Tingkat Bahaya Erosi yang terklasifikasikan ringan sampai sangat berat. Erosi yang diperbolehkan (Edp) di UPT Rantau Pandan SP-1 berkisar antara 28,8 sampai 36 ton/ha/tahun, dengan mempertimbangkan faktor kelestarian tanah 300 tahun. Spasialisasi erosi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa asumsi yang sesuai dengan pengamatan kondisi lapangan. Pada tiap-tiap poligon penggunaan lahan dapat dapat ditetapkan besarnya erosi maksimal, yang kemudian dapat digunakan untuk penentuan teknik konservasi tanahnya. Karena erosi yang dipertimbangkan adalah erosi maksimal, keamanan terhadap bahaya erosi dapat lebihdijamin.Kata Kunci: Erosi, Spasialisasi, Tingkat Bahaya Erosi, Erosi yang Diperbolehkan ABSTRACTMethod of erosion calculation used is basically a static calculation that is a calculation on a point. Spatialisation can be done by considering the local spatial factors determined erosion. Spatial of erosion calculation need to be done, so that conservation efforts can be carried out in accordance with local requirements. The purpose of this study was to quantify the spatial rate of erosion of the region, to be used as input for the conservation consideration. The research was conducted in transmigration site of Rantau Pandan SP-1, Jambi Province. Transmigrants in this site are placed in the year 2000/2001, considered as dry land farming transmigration. The results of the research showed that the magnitude of the maximum erosion in transmigration site of Rantau Pandan SP-1 ranged from 2,32 tonnes/ha/year to 428,43 tonnes/ha/year. The magnitude of this erosion is the maximum erosion in some land use types in the settlement and other part of land. Lands in Rantau Pandan SP-1 have an erosion hazard rate which was classified as mild to very severe. Tolerable erosion at Rantau Pandan SP-1 ranged from 28,8 to 36 tonnes/ha/year, taking into consideration the 300 years preservation of the land. Spatialization of erosion can be done using several assumptions in accordance with the observations of field conditions. In each land use polygon can be assigned a maximum amount of erosion, which can then be used for the determination of soil conservation techniques. As erosion considered is the maximum erosion, security against erosion can be guaranteed.Keywords: Erosion, Spatialization, Erosion Hazard Rate, Tolerable Erosion
PEMANFAATAN CITRA SATELIT UNTUK MEMANTAU DINAMIKA MASSA AIR PERMUKAAN DI SELAT MAKASSAR Pasaribu, Riza Aitiando; Gaol, Jonson Lumban; Manurung, Djisman
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.343 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.78

Abstract

ABSTRAKSalah satu hal yang menarik untuk dikaji mengenai perairan Indonesia adalah dengan adanya istilah yangmendunia yaitu Indonesian Through Flow atau yang dikenal dengan istilah Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Melaluipemahaman tentang oseanografi terutama oseanografi fisika maka dapat dipelajari kondisi fisik suatu wilayah perairanbeserta karakteristik dari perairan tersebut. Saat ini parameter oseanografi fisika dapat dideteksi denganmenggunakan teknologi penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk memantau dinamika massa air permukaandi Perairan Selat Makassar dengan menggunakan potensi dan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh. Data yangdigunakan dalam penelitian ini adalah data citra satelit Terra dan Aqua MODIS level 1 dengan resolusi 1 km dalamformat Hierarchical Data Format (HDF). Data sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) adalah data harian selama duatahun (2009-2010) dengan citra SPL untuk mendapatkan data time series. Data pendukung yang diambilmenggunakan teknologi penginderaan jauh adalah curah hujan, kecepatan dan arah angin yang merupakan datasekunder. Setiap bulan ada 2 sampai 3 data harian yang layak untuk diolah, hal yang menjadi kendala paling besaradalah banyaknya citra yang tertutup awan sehingga data yang didapat tidak dapat menggambarkan kondisi PerairanSelat Makassar. Dinamika massa air permukaan yang menunjukkan pergerakan massa air permukaan terlihat melaluipola SPL yang terbentuk di Selat Makassar. Massa air permukaan bergerak dari utara ke selatan perairan terdeteksidi Bulan Maret 2010 dan dari selatan ke utara di Bulan Juni 2010.Kata Kunci: Massa Air Permukaan, Selat Makassar, MODIS, Suhu Permukaan Laut.ABSTRACTStudy on Indonesia Through Flow of Makassar Strait is very interesting subjects considering that this term isbocome globally welknown. By understanding its physical oceanography, the characteristic of this waters can belearned. Current technology developments enable scientist to study, physical oceanographic parameters by usingremote sensing technology. This study aims to monitor the dynamics of the surface water mass in Makassar Straitusing the advancement of remote sensing technology. The data used in this study is satellite image data of Terra andAqua Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) level 1 with spatial resolution of 1 km stored inHierarchical Data Format (HDF) format. Meanwhile, daily Sea Surface Temperature (SST) data of two consecutiveyears (2009-2010) were used to obtain time series data of the SST. The other supporting data were rainfall data andwind direction and speed. The biggest obstacle found in this study is that many areas were covered by cloud so thatthe images data could not be used to describe the Makassar Strait waters condition. The result of this study thatdynamics of surface water mass that show the movement of surface water mass distribution can be seen from thepatterns of SST in Makassar Strait. Surface water mass at the Makassar Strait moves from north to south in March2010 and was appeared in opposite flow in June 2010.Keywords: Surface Water Masses, Makassar Strait, MODIS, Sea Surface Temperature.
ANALYSIS OF CATCH-FISHERIES MANAGEMENT AFTER TSUNAMI Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1487.407 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-2.325

Abstract

The earthquakes and tsunamis often occurred in Indonesia. An impact of these unwanted natural disaster was predicted to increase the number of poor fishermen and to decrease their welfare. This prediction is not absolutely true. However, a proper application of economic policy on fisher after earthquakes and tsunamis can be a momentum to improve fishermens welfare in the long term. The objective of this paper is to study the impact of earthquakes and tsunamis to fishermen’s welfare based on theory of marine economic resources. After Earthquakes is expected to increase the stock of fisheries, which will lead to improvement of fishermen’s prosperity in the future.Keyword: Fisheries, Management, Bioeconomic, Earthquakes, Tsunami, PangandaranABSTRAKGempa bumi dan tsunami sering terjadi di Indonesia. Dampak bencana alam yang tidak diinginkan ini diperkirakan akan meningkatkan jumlah nelayan miskin dan mengurangi kesejahteraan nelayan. Prediksi ini tidak sepenuhnya benar. Namun, aplikasi yang tepat dari kebijakan ekonomi perikanan paska gempa bumi dan tsunami dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kesejahteraan nelayan dalam jangka panjang. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari dampak gempa bumi dan tsunami terhadap kesejahteraan nelayan berdasarkan teori sumber daya ekonomi (laut). Pasca gempa bumi diperkirakan akan meningkatkan stok perikanan, yang akan mengarah pada peningkatan kesejahteraan nelayan di masa depan.Kata Kunci: Perikanan, Manajemen, Bioeconomi, Gempa Bumi, Tsunami, Pangandaran.
STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERIKANAN BUDIDAYA DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Ambasari, Lia; Gandasasmita, Komarsa; Sudadi, Untung
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.358 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.83

Abstract

Kabupaten Lampung Timur ditetapkan sebagai kawasan minapolitan pada Tahun 2010 sehingga merancang strategi pengembangan perikanan budidaya menjadi hal yang penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komoditas unggulan, kesesuaian lahan, memetakan arahan pengembangan perikanan budidaya dan merancang strategi pengembangan perikanan budidaya di Kabupaten Lampung Timur. Hasil analisis menunjukkan bahwa rumput laut, kerang hijau, udang vaname, udang windu, ikan bandeng, ikan nila, ikan patin dan ikan gurame merupakan komoditas unggulan budidaya di Kabupaten Lampung Timur. Kesesuaian lahan untuk budidaya perikanan di Kabupaten Lampung Timur sebagian besar memiliki kriteria sangat sesuai (S1) dan sesuai (S2). Pengembangan budidaya laut diarahkan pada wilayah laut sepanjang pantai Kabupaten Lampung Timur seluas 38.871 ha, sedangkan untuk pengembangan budidaya air payau diarahkan di dua kecamatan yaitu Labuhan Maringgai dan Pasir Sakti. Pengembangan budidaya air tawar diarahkan pada lahan seluas 53.304 ha yang tersebar di delapan kecamatan yaitu Kecamatan Bumi Agung, Batanghari, Sekampung, Raman Utara, Purbolinggo, WayBungur, Way Jepara dan Jabung. Strategi yang bisa menjadi alternatif untuk ditempuh adalah meningkatkan kualitas SDM berbasis pengetahuan, meningkatkan kelembagaan pembudidaya, meningkatkan kelembagaan pemasaran danmeningkatkan penyediaan sarana dan prasarana.Kata Kunci: Komoditas Unggulan, Perikanan Budidaya, Kesesuaian Lahan.ABSTRACTLampung Timur Regency appointed as a minapolitan area in 2010 so designing  aquaculture development strategy becomes important. The purpose of this study are to analyze the prime commodities of aquaculture, land suitability, mapping the direction of the development of aquaculture and formulate strategies for developing aquaculture in Lampung Timur regency. The analysis showed that aquaculture prime commodities are seaweed, green mussel, vaname shrimp, black tiger shrimp, milkfish, tilapia, catfish and gurame. Land suitability for aquaculture in LampungTimur regency mostly fall ini highly suitable and suitable criteria. Aquaculture development is directed to marine areas along the coast of Lampung Timur district covering 48,871 ha, while for brackish water aquaculture development is directed at two districts namely Labuhan Maringgai and Pasir Sakti. Freshwater aquaculture development is directed at an area of 53,304 ha of land that spread over 8 districts, those are Bumi Agung District, Batanghari, Sekampung, Raman Utara, Purbolinggo, Way Bungur, Way Jepara, and Jabung. The alternative strategy to improve the human resources quality is development based on knowledge, improvement institutional farmers, marketing institutions and the provision of facilities and infrastructure.Keywords : Prime Commodities, Aquaculture, Land Suitability
MARINE AND COASTAL RESOURCES AND THE ECONOMIC VALUES OF TOGEAN ISLANDS, CENTRAL SULAWESI Suwarno, Yatin; Nahib, lrmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1883.291 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-2.330

Abstract

The location of the research is Togean Island, located in the middle of Tomini Bay, Province of Central Sulawesi - Indonesia. The objectives of the research are: to know the present potential, the degradation trend, and the economic values of marine and coastal resources at Togean Island. The methods for resources inventory used remote sensing and geographic information system technologies. Resources economic valuation by using travel cost method, effect on production method, and benefit transfer method. The results of this research are especially for coral reef and mangrove ecosystem. The total area of coral reef ecosystem at Togean island is 36,834.12 Ha, can be classified as 30,116.71 Ha (81%) of coral reef, 1,343.24 Ha (4%) of sea grass, and 5,374.17 (15/r) of sand. Within ten year (1997-2007), coral reef has decreased 91.07 Ha, but sea grass and sand have increased 25.46 Ha and 65.61 Ha. The kinds of coral reef typologies completed: fringing reef, barrier reef, path reef, and atoll. Economic values of coral reef ecosystem as ecotourism based on travel cost method was Rp. 1,6 649,062.000/year (US $ 1,664,906.2/year) and coral fish production based effect on production was Rp 68,417,000/year (US $ 6,841.7/year). The total area of mangrove ecosystem at Togean Island was 11,932.81 Ha, and were classified into 4 (four) classes: low density area was 2,979.52 Ha (24.97%), moderate density area was 1,504.95 Ha (12.61%), high density area was 4,046.74 (33.91%^), and non-forest was 3,228.65 Ha (27.06%). Within ten years (1997-2007), low density mangrove has decreased 1,485,836 Ha; non forest has decreased 2,651,855 Ha. Otherwise, mangrove moderate density and mangrove high density have increased 3,244,543 Ha and 1,005,475 Ha. One of mangrove ecosystem direct use value is potency of mangrove crab (Scitta serrata), with the total benefit of Rp. 3,465,600,000/year (US$ 346,560/year). Indirect use value based on replacement cost for coastline buffer (break water) was Rp. 467,723,000,000/year (US $ 46,772,300/year)Keywords : Marine and Coastal Resources, Economic ValueABSTRAKLokasi penelitian adalah Kepulauan Togean, yang terletak di tengah Teluk Tomini Provinsi Sulawesi Tengah Indonesia. Tujuan dari penelitian adalah: untuk mengetahui potensi sekarang, tren degradasi, dan nilai-nilai ekonomi dari sumberdaya laut dan pesisir di Kepulauan Togean. Metode untuk inventarisasi sumber daya digunakan remote sensing dan teknologi sistem informasi geografis. Penilaian ekonomi sumber daya dengan menggunakan metode biaya perjalanan, efek pada metode produksi, dan keuntungan metode transfer. Hasil dari penelitian ini adalah terutama bagi ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove. Luas wilayah ekosistem terumbu karang di Kepulauan Togean 36,834.12 Ha dapat diklasifikasikan sebagai terumbu karang 30,116.71 Ha (81%), rumput laut adalah 1,343.24 Ha (4%), dan pasir adalah 5,374.17 (15%). Selama sepuluh tahun (1997-2004), terumbu karang penurunan 91,07 Ha, tetapi rumput laut dan pasir meningkat 25,46 Ha dan 65,61 Ha. Jenis -jenis terumbu karang tipologi selesai: renda karang, karang penghalang jalan karang, dan atol. Nilai ekonomi ekosistem terumbu karang sebagai ekowisata didasarkan pada metode biaya perjalanan sebesar Rp. 16,649,062.000/tahun (US $ 1,664,906.2/tahun) dan produksi ikan karang efek didasarkan pada produksi adalah Rp 68.417.000/tahun (US $ 6,841.7/tahun). Luas wilayah ekosistem mangrove di Kepulauan Togean 11,932.81 Ha, dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas: daerah kepadatan rendah adalah 2,979.52 Ha (24,97%), kawasan kepadatan sedang 1,504.95 Ha (12,61%), daerah kepadatan tinggi adalah 4,046.74 ( 33,91%), dan non hutan adalah 3,228.65 Ha (27,06%). Selama sepuluh tahun (1997-2007), kepadatan rendah bakau penurunan 1.485.836 Ha; non penurunan hutan 2.651.855 Ha. Jika tidak, moderat mangrove mangrove kerapatan dan kepadatan tinggi meningkat 3.244.543 Ha dan 1.005.475 Ha. Salah satu ekosistem mangrove nilai pakai langsung potensi mangrove adalah kepiting (Scilla serrata), total keuntungan adalah Rp. 3.465.600.000/tahun (US $ 346.560 / tahun). Nilai pakai tidak langsung didasarkan pada biaya penggantian untuk penyangga pantai (break air) adalah Rp. 467.723.000.000/tahun (US $ 46.772.300 / tahun).Kata Kunci: Pesisir dan Laut, Sumber Daya, Nilai Ekonomi 
HUBUNGAN BIOMASSA PENUTUP LAHAN DENGAN INDEKS VEGETASI DI KABUPATEN MAMUJU UTARA, SULAWESI BARAT Rakhmawati, Melinda
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.061 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-2.147

Abstract

Estimasi biomassa dapat dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu modeling, pengukuran di lapang dan penginderaan jauh (Lu,2006). Dari tiga pendekatan tersebut, pendekatan penginderaan jauh lebih dipilih karena dapat digunakan untuk kawasan dengan luasan besar. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penutupan lahan melalui citra Landsat, membangun model hubungan antara biomass atas permukaan dengan indeks vegetasi, dan mengetahui estimasi biomassa atas permukaan pada berbagai penutupan lahan di Kabupaten Mamuju Utara.Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu persiapan, pengumpulan data, analisis data (koreksi geometri, interpretasi penutupan lahan, perhitungan indeks vegetasi, pemilihan model, estimasi biomassa Kabupaten Mamuju Utara pada berbagai penutupan lahan). Beberapa indeks vegetasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), TNDVI (Transformed Normalized Difference Vegetation Index), RVI (Ratio Vegetation Index), dan TRVI (Transformed Ratio Vegetation Index). Penutupan lahan di Kabupaten Mamuju Utara berjumlah 12 jenis yang umumnya didominasi oleh hutan, perkebunan dan kebun campuran. Penutupan mangrove, semak belukar, tegalan/ladang, sawah, tubuh air, rawa, tanah terbuka, tambak/empang dan pemukiman relatif lebih sedikit. Indeks vegetasi NDVI memiliki korelasi yang paling tinggi baik dari penutupan vegetasi alami maupun non alami dengan biomassa dengan R sebesar 60%. Jumlah estimasi biomassa atas permukaan di Kabupaten Mamuju Utara pada vegetasi alami: hutan primer 104,1 ton/ha, mangrove 79,0 ton/ha, semak belukar 36,0 ton/ha dan pada vegetasi non alami: perkebunan 66,1 ton/ha, kebun campuran 65,1 ton/ha, tegalan 52,1 ton/ha, sawah 5,6 ton/ha. Jumlah biomassa yang tersimpan bervariasi tergantung pada jenis penutup lahan, tanah dan pengelolaan. Semakin tua umur vegetasi, semakin tinggi kandungan biomassanya.Kata Kunci: Penutup Lahan, Biomassa, Penginderaan Jauh, Indeks Vegetasi ABSTRACTThere are three approaches used in biomass estimation, namely modeling, field measurement, and remote sensing (Lu, 2006). Among the three approaches, remote sensing approach is preferred because it can be applied for large extents areas. This research aims to analyze land cover using Landsat imagery, building a model of relationship between surface biomass using a vegetation index, and determining the surface biomass estimates for the various land cover in North Mamuju. This research was conducted through several stages i.e. preparation, data collection, data analysis (geometry correction, interpretation of land cover, vegetation index calculation, model selection, and biomass estimation of various land cover) in North Mamuju Regency. The vegetation indices used in this study were NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), TNDVI (Transformed Normalized Difference Vegetation Index), RVI (Ratio Vegetation Index), and TRVI (Transformed Ratio Vegetation Index). Land cover in North Mamuju consisted of 12 types which in general are dominated by forests, plantations, and mixed farms. Meanwhile, the coverage of mangroves, scrub, moor/field, fields, water bodies, wetlands, open land, farms/ponds and settlements relatively small. Correlation between NDVI vegetation index and the land covers’ biomass was the highest, both of the natural and non-natural vegetation covers with R of 60%. The estimated of total biomass on the surface natural vegetation were as follows: primary forest (104,1) ton/ha, mangrove 79,0 ton/ha, shrubs 36,0 ton/ha; and the non-natural vegetation: plantation 66,1 ton/ha, mixed farms 65.1 ton/ha, dry 52,1 ton/ha, rice 5,6 ton/ha. The amount of biomass stored in each land cover varied, depending on the land cover type, soil type, and management. The older of the vegetation, the greater biomass.Keywords: Land Cover, Biomass, Remote Sensing, Vegetation Index
ANALISIS DAERAH RAWAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DALAM PENATAAN RUANG DI KOTA PALANGKA RAYA, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Mapilata, Eko; Gandasasmita, Komarsa; Djajakirana, Gunawan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.367 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.88

Abstract

Di Kota Palangka Raya, kejadian kebakaran hutan dan lahan merupakan kejadian yang hampir terjadi setiap tahun pada musim kemarau. Kondisi ini mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan yang akan menghambat laju pembangunan dan pengembangan wilayah Kota Palangka Raya. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi daerah rawan kebakaran hutan dan lahan berdasarkan lokasi kebakaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi kebakaran hutan dan lahan. Daerah rawan kebakaran hutan dan lahan digunakan sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan analisis regresi logistik, aktivitas manusia merupakan faktor utama yang mempengaruhi kejadian kebakaran hutan dan lahan. Secara spasial aktivitas manusia terdiri atas: jarak dari jalan, tutupan lahan dan kepadatan penduduk. Composite Mapping Analysis (CMA) digunakan untuk memetakan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan berdasarkan lokasi kebakaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi kebakaran hutan dan lahan. Hasil analisis daerah rawan kebakaran hutan dan lahan menggunakan CMA dengan tiga variabel yang mempengaruhi kebakaran hutan dan lahan menghasilkan akurasi model sebesar 80,00% dengan luas daerah dengan tingkat kerawanan tinggi seluas 33.824 ha. Pada akhirnya, pemanfaatan lahan pada daerah rawan kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kerawanan tinggi memerlukan pengelolaan ruang atau adaptasi teknologi dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.Kata Kunci: Kebakaran Hutan dan Lahan, Daerah Rawan, Penataan Ruang.ABSTRACTIn the city of Palangka Raya, land and forest fires is an event that occurred almost every year during the dry season. These conditions resulted in damage and economic loss, socially and environmentally that will inhibit the rate of development and regional development in Palangka Raya City. The main objective of this study is to identify land and forest fires hazard zonation based on fire location and the factors that influence the occurrence of land and forest fires. Land and forest fires hazard zonation is used as an input and consideration in land and forest fire prevention. Base on logistic regression analysis, human activites are the main factor that influence the occurrence of land and forest fires. Spatially human activities consisted of distance from the road, land cover and population density.Composite Mapping Analysis (CMA) is use to map the hazard zonation of land and forest fire based on fire location and factors that influence land and forest fires. The results of the analysis of land and forest fire hazard zonation using CMA with three variables that influence land and forest fires produce model accuracy by 80 % with high hazard area covering 33.824 ha. In the final result of the area to be cultivated in land and forest fires hazard zonation with high hazard area requires spatial management or adaptation of technology to make the area as intended in an effort to prevent land and forest fires.Keyword: Land and Forest Fires, Hazard Zonation, Spatial Planning.
TINGKAT OPTIMAL PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN KERAPU DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA Sari, Yesi Dewita; Nababan, Benny Osta
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2544.699 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.335

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah hasil tangkapan ikan kerapu yang optimal dengan menggunakan analisis dinamis. Penelitian dilakukan di wilayah Kepulauan Seribu meggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan nelayan yang melakukan penangkapan ikan kerapu dengan menggunakan alat tangkap pancing dan bubu. Data sekunder diperoleh dari kantor kecamatan, bupati dan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta. Data sekunder dianalisis selama 14 tahun mulai tahun 1990 sampai tahun 2004. Model surplus produksi CYP untuk pendugaan parameter biologi dan analisis dinamis untuk pendugaan tingkat optimal. Dengan menggunakan analisis dinamis (social discount rate = 8,61%), tingkat optimal pengelolaan sumberdaya ikan kerapu di perairan Kepulauan Seribu DKI Jakarta adalah pada tingkat upaya penangkapan 107 unit setara dengan bubu, jumlah hasil tangkapan 37,38 ton per tahun dan manfaat ekonomi 892 juta rupiah per tahun. Tingkat pemanfaatan yang dilakukan oleh nelayan baik dilihat dari jumlah alat tangkap yang digunakan maupun hasil yang didaratkan telah menunjukkan kondisi tangkap lebih sehingga diperlukan kebijakan pemerintah untuk membatasi tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan kerapu tersebut.Kata kunci: Pengelolaan Optimal, Kepulauan Seribu, Kerapu, Analisis Dinamis ABSTRACTThis research was aimed to known groupers optimal exploitation using dynamic analysis. The research was conducted in Seribu Islands using primary and secondary data. Primary data were collected from by interviewing fisherman using hook line and trap to catch fishes. While secondary data were collected from sub district, district and marine, fisheries and animal husbandry agency of DKI Jakarta Province. Data series of 1990 to 2004 were also analyzed. Surplus production model which was developed by Clark, Yoshimoto and Pooley (CYP) was used to estimated biology parameters and dynamic analysis to estimated optimal exploitation rate. Optimal exploitation of groupers fishery management were 107 unit fishing effort, 37,38 ton per year productions and Rp 892.000.000 economic rent per year based on 8,61 % of social discount rate. Exploitation rate by fishermen seen from the number of equipments used and the number of fishes caught in Seribu Islands had indicated over exploitation so that government policy to limit the fishing effort should be imposed. Keyword: Management Optimal, Seribu Islands, Grouper, Dynamic Analysis
DAMPAK EL NIÑO 1997 DAN EL NIÑO 2015 TERHADAP KONSENTRASI KLOROFIL-A DI PERAIRAN SELATAN JAWA DAN BALI-SUMBAWA Martono, Martono
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.314 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.389

Abstract

El Niño adalah fenomena oseanografi yang terjadi di Samudera Pasifik tropis akibat interaksi antara laut dan atmosfer. El Niño menyebabkan bencana kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Penelitian mengenai dampak El Niño terhadap karakteristik oseanografi di perairan Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak El Niño 1997 dan El Niño 2015 terhadap kelimpahan konsentrasi klorofil-a di perairan selatan Jawa dan Bali-Sumbawa. Data yang digunakan adalah indeks NIÑO3.4, klorofil-a bulanan, angin permukaan, arus permukaan dan tinggi muka laut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis anomali konsentrasi klorofil-a selama El Niño. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama El Niño terjadi kenaikan konsentrasi klorofil-a di perairan ini. Kenaikan konsentrasi klorofil-a di perairan selatan Jawa mencapai 678% dalam periode El Niño 1997 dan 78% dalam periode El Niño 2015. Sementara itu, kenaikan konsentrasi klorofil-a di perairan selatan Bali-Sumbawa lebih rendah sekitar 165% dalam periode El Niño 1997 dan 69% dalam periode El Niño 2015. Meskipun demikian, faktor utama yang menyebabkan kenaikan konsentrasi klorofil-a sangat tinggi di perairan selatan Jawa dalam periode El Niño 1997 adalah Indian Ocean Dipole fase positif dan arus eddy searah jarum jam sepanjang pantai selatan Jawa selama September-November 1997 .Kata kunci: klorofil-a, El Niño, indian ocean dipole (IOD), arus eddy       ABSTRACTEl Niño is an oceanography phenomenon which occurs in the tropical Pacific Ocean which caused by interaction between sea and atmosphere. El Niño causes drought disaster in the most of the Indonesian region. Research about impact of El Niño on characteristics of oceanography in the Indonesian waters still limited. This research is conducted to understand impact of El Niño 1997 and El Niño 2015 on abundance of chlorophyll-a concentration in the southern waters of Java and Bali-Sumbawa. Data used consists of NIÑO3.4 index, monthly chlorophyll-a, surface wind, surface current and sea level. Method used in this research was anomaly analysis of chlorophyll-a concentration during El Niño. Results showed that during El Niño occur increasing chlorophyll-a concentration in these waters. Increasing of chlorophyll-a concentration in the southern water of Java reached 678% in the period of El Niño 1997 and reached 78% in the period of El Niño 2015. Meanwhile, increasing of chlorophyll-a concentration in the southern water of Bali-Sumbawa lower about 165% in the period of El Niño 1997 and 69% inthe period of El Niño 2015.Nevertheless, the main factors that caused increase a very high of chlorophyll-a concentration in the southern waters of Java in the period of El Niño 1997 was the positive phase of Indian Ocean Dipole and cyclonic eddies along southern coasts of Java during September-November 1997.Keywords: chlorophyll-a, El Niño, indian ocean dipole (IOD), eddy current
RISIKO BANJIR PADA LAHAN SAWAH DI SEMARANG DAN SEKITARNYA Hartini, Sri; Hadi, M. Pramono; Sudibyakto, Sudibyakto; Poniman, Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.572 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.218

Abstract

Lahan sawah di wilayah Semarang dan sekitarnya berada pada dataran rendah pesisir yang rawan banjir, baik yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi maupun rob. Analisis risiko banjir diperlukan karena banjir merupakan ancaman bagi lahan sawah. Banjir dapat menyebabkan berkurangnya produktivitas lahan sawah, bahkan lahan sawah akan rusak dan tidak dapat ditanami padi jika tergenang banjir secara permanen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko banjir genangan pada lahan sawah berdasarkan kondisi bahaya dan kerentanannya. Lingkup penelitian mencakup analisis bahaya, kerentanan, dan risiko banjir genangan pada lahan sawah. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), peta Sistem Lahan, citra penginderaan jauh resolusi tinggi, data curah hujan, debit sungai, tinggi pasang air laut, data statistik Potensi Desa (PODES), data statistik pertanian dan laporan banjir. Analisis kerawanan banjir merupakan gabungan antara kerawanan banjir genangan yang disebabkan oleh hujan dan rob. Analisis kerentanan banjir menggunakan data statistik PODES 2008 dan laporan kejadian banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir genangan rob merupakan ancaman dan berisiko pada pengurangan lahan sawah di wilayah ini. Selama periode 1994 – 2009 lahan sawah telah berkurang seluas 8.508,50 ha. Sebagian lahan sawah yang tergenang rob secara permanen telah dialihfungsikan ke penggunaan lain.Kata kunci: banjir genangan, rob, sawah, risikoABSTRACTPaddy field in Semarang and its surrounding areas are situated in low-lying flood-prone coastal area, whether caused by heavy rainfall and high tide. Flood risk analysis is required because flooding in this area is considered as a threat to the paddy field. Floods can lead to reduction of the paddy fields‟ productivity, even damaging and cannot be planted with rice if flooded occurred permanently. This study aimed to analyze the risk of flood inundation in paddy fields based on hazard and vulnerability factors. The scope of the research includes analysis of hazards, vulnerabilities, and risks of flood inundation in the paddy fields. The data used in this study consisted of topographic and land systems maps, high-resolution satellite remote sensed imageries, rainfall data, river discharge, tides, and statistical data of Village Potential (PODES), statistical data of agriculture and flood reports data. The analysis of flood vulnerability is a combination of flood vulnerability caused by high rainfall and tides. The flood vulnerability analysis conducted by using PODES 2008 statistical data and flood incidencereports. The results showed that the tidal flood inundation is the main threat and provide risk on the reduction of the paddy fields in this area. During the period of 1994 – 2009, the paddy field has been reduced by 8,508.50 hectares. Some of the paddy fields that have been flooded permanently due to tides have been converted to other uses.Keywords: flood inundation, tidal flood, paddy field, risk

Page 9 of 35 | Total Record : 347