cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
AKURASI LUAS AREAL KEBAKARAN DARI DATA LANDSAT-8 OLI DI WILAYAH KALIMANTAN Zubaidah, Any; Sulma, Sayidah; Suwarsono, Suwarsono; Vetrita, Yeni; Priyatna, M.; Ayu, Kusumaning
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1388.772 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-1.442

Abstract

ABSTRAK Informasi luas area kebakaran sangat diperlukan sebagaisalah satu pendekatan untuk penghitungan emisi gas rumah kaca. Data Landsat merupakan salah satu jenis citra penginderaan jauh optis resolusi menengah yang banyak dipergunakan untuk memetakan luas dan sebaran areal kebakaran. Tujuan  penelitian adalah melakukan verifikasihasil deteksi lahan bekas kebakaran hutan/lahanguna tersedianya hasil verifikasi burned area (BA) dari data Landsat-8 untuk dukungan penyusunan pedoman identifikasi BA. Pada penelitian ini dilakukan analisis verifikasilahan bekas kebakaran yang diperoleh dari data satelit Landsat-8 sensor Operational Land Imager (OLI) menggunakan metode Normalized Burn Area (NBR). Data referensi yang digunakan dalam proses verifikasi adalah data lahan bekas kebakaran yang didelineasi dari citra SPOT-5. Citra ini memiliki resolusi spasial lebih tinggi dibandingkan dengan Landsat-8 OLI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat akurasi Burned Area BA Landsat-8 OLI dengan metode ∆NBR memiliki nilai akurasi (overall accuracy) sebesar 87%, dengan commision error sebesar 2%, dan ommision error sebesar 11%. Tingkat akurasi burned area (BA) hasil estimasi dari data Landsat-8 dengan menggunakan metode ∆NBR memiliki nilai koefisien korelasi (r) 0,98 dengan persamaan Y = 0,928X – 21,07dan koefisien determinasi (R2)=0,96. Hasil ini menunjukkan bahwa sebesar 96% wilayah yang diklasifikasikan atau diestimasi sebagai wilayah yang terbakar adalah benar sebagai wilayah yang terbakar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode ∆NBR yang diaplikasikan pada data Landsat-8 terbukti dapat digunakan untuk mendeteksi burned area.Kata Kunci: areal kebakaran, Landsat-8, Normalized Burn Area (NBR) ABSTRACT Information of burned area is needed asone among approaches onthe calculation of greenhouse gas emissions. Landsat is one of the main types of remote sensing imageriesfrequently used to map the distribution of burned area.The purpose of this research is to verify the result of burned area (BA)analysis obtained from Landsat-8 satellite data acquired with Operational Land Imager (OLI) sensor. The results of verification burned area of the Landsat-8 to support the preparation of guidelines for the identification of BA. The BA analysisused Normalized Burn Area (NBR) method. The verification process used a manually digitized SPOT-5 image as the reference data, since it has higher spatial resolution than Landsat-8 OLI. The results of this study showsthat BA Landsat-8 OLI using ΔNBR have accuracy values (Overall Accuracy) by 87%, with the commission error by 2%, and ommision error by 11%. The accuracy of BA which was estimated from Landsat-8 using ΔNBR hasa correlation coefficient (r) of0.98 with the equation Y = 0.928X – 21.07 and the coefficient of determination (R2) = 0.96. These results indicate that 96% area classified or estimated as the burned area was real burned area. Thus, it can be concluded that the method ΔNBR applied on Landsat-8 proved it can be used to detect the burned area.Keywords: burned area, Landsat-8, Normalized Burn Area (NBR)
EVALUASI MULTI-KRITERIA UNTUK KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA LEBAH MADU DI KABUPATEN CIANJUR Rachmawati, Nia; Munibah, Khursatul; Widiatmaka, Widiatmaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.75 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.54

Abstract

ABSTRAKKebijakan pembangunan kehutanan yang berbasis sumberdaya alam memberikan manfaat pada pengembangan hasil hutan bukan kayu melalui kegiatan usaha perhutanan rakyat, diantaranya pengembangan usaha perlebahan. Usaha ini cukup prospektif dari sisi pemenuhan kebutuhan dalam negeri, karena tingginya permintaan madu untuk berbagai kebutuhan seperti industri makanan dan farmasi. Salah satu wilayah yang berpotensi untuk pengembangan budidaya lebah madu adalah Kabupaten Cianjur. Di wilayah ini, budidaya lebah madu mulai diusahakan sejak tahun 2006. Jenis lebah madu yang dibudidayakan adalah Apis mellifera. Kendala utama yang dihadapi dalam budidaya tersebut adalah keterbatasan sumber pakan. Sifat migratory lebah Apis mellifera menyebabkan pada bulan-bulan tertentu harus digembalakan keluar Kabupaten Cianjur untuk meningkatkan produksi madu. Sebagai salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Cianjur melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan menyusun Partisipatory Bisnis Plan (PBP) untuk membangun Taman Wisata Lebah. Konsep dasar dalam PBP adalah melaksanakan budidaya lebah madu secara terintegrasi. Atas dasar hal tersebut maka diperlukan penelitian untuk menentukan lokasi-lokasi yang paling berpotensi dan memungkinkan untuk dijadikan tempat budidaya lebah madu. Aspek biofisik maupun sosial merupakan faktor yang memberikan pengaruh terhadap keberlanjutan budidaya lebah madu. Pada penelitian ini, Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan untuk membangun kerangka model kesesuaian lahan untuk budidaya lebah madu melalui pendekatan evaluasi multi-kriteria dan proses hirarki analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa lokasi yang menjadi prioritas utama untuk pengembangan budidaya lebah madu,antara lain Kecamatan Cikalongkulon, Kecamatan Bojongpicung, Kecamatan Haurwangi, dan Kecamatan Sukaresmi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan arahan bagi pengembangan kegiatan budidaya lebah madu di Kabupaten Cianjur, termasuk prioritas wilayah untuk pengembangan budidaya lebah.Kata Kunci: Apis mellifera, budidaya lebah madu, analisis multi-kriteria, kesesuaianABSTRACTForestry development policy based on natural resources, providing the benefits to the development of non-timber forest products through social forestry operations, including beekeeping business. Beekeeping businesses is prospective in terms of domestic needs, because of the high demand for honey bee. This product is used for a variety of needs such as food and pharmacy industries. One of the potential areas for beekeeping development is Cianjur Regency, West Java. In this region, beekeeping was begun to be cultivated since 2006. The species of honey bee that is cultivated is Apis mellifera. The main problem encountered in the cultivation is limited forage resources. Apis mellifera is a migratory insect, causing the obligation of herded out Cianjur in certain months to increase honey production. As an effort to overcome this problem, Cianjur Government through the Agency of Forestry and Plantation has a Participatory Business Plan (PBP) to build a Tourist Park Bees. The basic concept of the PBP is to implement an integrated beekeeping culture. Based on such problem, studies are needed to determine spatially, the most potential location which allows serving as a beekeeping. The biophysical aspects as well as socio-economic aspects are factors that influence the continuity of beekeeping. In this study, the geographic information system (GIS) is used to construct a framework model for land suitability for beekeeping through a multi-criteria evaluation approach (MCE) and analytical hierarchy process (AHP). The result of the study showed that there are some priority areas for beekeeping development such as Cikalongkulon, Bojongpicung, Haurwangi, and Sukaresmi sub-districts. The results of this study are expected to provide direction for the beekeeping development in Cianjur Regency.Keywords: Apis mellifera, beekeeping, multi-criteria evaluation, suitability
KEGIATAN SURVEI DAN PEMETAAN BIDANG KEHUTANAN MENUJU OTONOMI DAERAH Djajono, Ali
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1384.03 KB)

Abstract

Hutan adalah sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan hutan sekaligus merupakan sumber berbagai barang dan jasa untuk menunjang pembangunan nasional. Oleh karena itu pengelolaannya harus optimal dan lestari. Untuk mendukung pengelolaan tersebut diperlukan data/informasi mengenai hutan dan kehutanan. Salah satu sumber untuk mendapatkan data/informasi tersebut adalah melalui kegiatan survei dan pemetaan hutan. Dengan berlakunya UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah terbuka peluang bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan kegiatan survei dan pemetaan hutan sendiri sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Namun demikian pelaksanaan sendiri kegiatan tersebut memerlukan dana, SDM, peralatan, organisasi dan manajemen yang baik dan memadai. Adanya peluang pendaerahan kegiatan survei dan pemetaan serta kondisi faktor pendukung yang diperlukan menjadi bahasan dalam penulisan ini.ABSTRACTForest is a renewable natural resources which also has produced many things and services to support national development programs. Therefore, forest should be managed in sustainable and optimal manner.  ln order to achieve a sustainable forest management, data and information about forest resources are required. Forest survey and mapping are a part of activities to collect forest data and information. Law No. 22/1999 concerning Local Government will give opportunities to the local government to explore and develop their own forest survey and mapping activities fitted with proper local conditions. Nevertheless, those activities need proper budgeting, professional human resources, equipment, good organization and management. This article discusses about the opportunity of forest survey and mapping activities done by local government and those supported factors.Kata Kunci : Survei, Pemetaan, Hutan/Kehutanan, Pemerintah DaerahKeyword: Survey, Mapping, Forest/Forestry, Regional Government
PENENTUAN SENTRA PETA DI WILAYAH JAKARTA DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Munajati, Sri Lestari; Anadra, Rezki; Aprianto, Arif
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.47 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.118

Abstract

Istilah sentra peta Bakosurtanal baru dikenalkan pada tahun 2009, nama ini sebelumnya adalah Outlet Bakosurtanal, dimana unit ini merupakan unit pelayanan produk Bakosurtanal yang berada di berbagai lokasi, dimana hingga tahun 2010, jumlah sentra peta menjadi 27 unit. Sentra peta di Jakarta, hanya terdapat di MGK (Mega Glodok Kemayoran) yang didirikan pada tahun 2007 dan sudah berjalan selama 3 tahun hingga 2010. Pelayanan di MGK belum bida melayani pelanggan di wilayah Jakarta secara optimal, karena masih banyaknya pelanggan produk Bakosurtanal yang datang ke Kantor Bakosurtanal di Cibinong. Oleh karena itu masih diperlukan adanya kajian untuk membuka sentra peta baru di wilayah Jakarta, dimana lokasi yang tepat secara teknis. Metode yang digunakan untuk melakukan kajian ini adalah dengan Sistem Informasi Geografis dengan menggunakan density analisys. Hasil kajian menunjukkan bahwa Jakarta Selatan merupakan lokasi yangpaling tepat untuk didirikan sentra peta berdasarkan data dan kondisi fisik di lapangan.Kata Kunci: Sentra Peta Bakosurtanal, Jakarta, Analisis Kerapatan, Sistem InformasiGeografiABSTRACTThe term “Bakosurtanal Map Center”, previously called as Bakosurtanal Outlet, has just been used since 2009. These centers are Bakosurtanal’s product sale points located at various locations, and up to 2010 there are 27 centers in Indonesia. In Jakarta, this center is located at MGK (Mega Glodok Kemayoran), which was established in 2007 and has been running for 3 years until now. However, this center has not performed an optimal service because there were still many customers who came directly to Bakosurtanal office in Cibinong. Therefore, a study needed to be done to find an appropriate location for the map center in Jakarta. The study used density analysis method using Geographic Information System. Result of this study showed that South Jakarta is the most suitable location, basedon the data and physical conditions.Keywords: Bakosurtanal Map Center, Jakarta, Density Analysis, Geographic Information System
KARAKTERISASI RESPON SPEKTRAL SPESIES LAMUN Enhalus acoroides DAN Cymodocea rotundata DI PULAU KARIMUNJAWA Wicaksono, Pramaditya
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.971 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-1.551

Abstract

                                                                                      ABSTRAKPemahaman mengenai variasi respon spektral spesies lamun sangat berguna dalam menunjang keberhasilan aktivitas pemetaan sumberdaya alam padang lamun menggunakan penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan inventarisasi pantulan spektral spesies lamun Enhalus acoroides (Ea) dan Cymodocea rotundata (Cr) pada berbagai kondisi, yaitu sehat, tertutup epifit dan rusak. Pengukuran pantulan spektral lamun dilakukan di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 4-6 April 2016. Pengukuran respon spektral spesies lamun dilakukan pada panjang gelombang 350-1100 nm menggunakan Jaz Spectrometer buatan OceanOptics. Hasil dari penelitian ini adalah berupa koleksi respon spektral kedua spesies lamun tersebut pada berbagai kondisi, yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan: 1) panjang gelombang yang sesuai untuk memisahkan spesies tersebut secara spektral; 2) panjang gelombang yang sesuai untuk melakukan pemetaan variasi kondisi spesies tersebut; dan 3) langkah awal dalam pembuatan pustaka spektral padang lamun dan habitat bentik di Indonesia. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada julat panjang gelombang 650–690 nm dapat digunakan untuk membedakan lamun menjadi tiga kelas yaitu 1) Ea rusak, 2) Ea tertutup epifit dan 3) Ea sehat, Cr sehat, dan Cr tertutup epifit. Pada saluran NIR antara 733–888 nm, kelima kelas tersebut dapat dibedakan meskipun akan sulit untuk membedakan Kelas Ea rusak dan Cr ber-epifit. Untuk Ea dan Cr sehat, respon spektralnya berbeda hampir pada semua panjang gelombang kecuali pada 650–730 nm dan kurang dari 480 nm. Kata kunci: respon spektral, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata                                                                                      ABSTRACTUnderstanding spectral variations of seagrass species is important for the success of seagrass mapping activities using remote sensing data. The aim of this research is to collect Enhalus acoroides and Cymodocea rotundata spectral response using field spectrometer at different conditions, i.e. healthy, covered by epiphyte, and dead. The field measurement of seagrass spectral response was conducted in Karimunjawa Islands, Central Java, Indonesia on 4 – 6 April 2016. Jaz spectrometer from OceanOptics was used to collect seagrass spectral response at 350-1100 nm. The results of this research is the collection of seagrass spectral response at different conditions, which is highly important and beneficial for determining: 1) the most suitable spectral wavelength to differentiate these seagrass species; 2) the most effective spectral wavelength to map seagrass condition variations using remote sensing data; and 3) the initial spectral library of seagrass and benthic habitats in Indonesia. From this research, it can be concluded that wavelengths between 650-690 nm can be used to distinguish the seagrass into three classes: 1) dead Ea, 2) Ea covered by epiphytes, and 3) healthy Ea, healthy Cr, and Cr covered by epiphytes. In the near infrared wavelenghts between 733-888 nm, these five classes can be distinguished although it would be difficult to distinguish dead Ea and Cr covered by epiphytes. For healthy Ea and Cr, their spectral response is different in nearly all wavelengths except at 650-730 nm and less than 480 nm.Keywords: spectral response, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata
PEMETAAN EMISIVITAS PERMUKAAN MENGGUNAKAN INDEKS VEGETASI Fawzi, Nurul Ihsan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.026 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.59

Abstract

ABSTRAKPemetaan emisivitas permukaan (land surface emissivity) menjadi penting terutama untuk mengurangi kesalahan dalam estimasi suhu permukaan menggunakan citra satelit. Beberapa metode dikembangkan untuk memperoleh emisivitas permukaan dari data penginderaan jauh. Salah satu alternatif yang mudah untuk mendapatkan emisivitas permukaan adalah dengan menggunakan Indeks Vegetasi. Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) digunakan dalam penelitian ini. Data yang digunakan adalah Landsat ETM+ yang telah dikoreksi geometrik dan radiometrik. Emisivitas permukaan yang diperoleh, kemudian diolah dengan analisis zonal statistic untuk mendapatkan nilai statistik pada masing-masing kelas tutupan lahan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada objek vegetasi (kerapatan tinggi) memiliki nilai emisivitas sebesar 0,986, vegetasi (kerapatan sedang) sebesar 0,982, untuk objek lahan terbangun dan lahan terbuka sebesar 0,965 dan 0,964, dan untuk tubuh air memiliki emisivitas sebesar 0,979. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai emisivitas yang diperoleh dari citra penginderaan jauh Landsat ETM+ mendekati nilai emisivitas yang diperoleh dengan pengukuran menggunakan radiometer termal.Kata Kunci: emisivitas, penginderaan jauh, Landsat ETM+, indeks vegetasi, NDVIABSTRACTLand surface emissivity mapping become important to reduce error on estimating surface temperature using satellite imagery. Several methods have been developed to obtain land surface emissivity from remote sensing data. One of the alternative process to obtain land surface emissivity is using vegetation indices. Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) was used in this research. The primary data used is a Landsat ETM+ imagery with geometric and radiometric corrections. The surface emissivity obtained was processed using zonal statistic to find out a value on each land cover categories. The result shown that emissivity value for high density vegetation was 0.986, moderate density vegetation was 0.982, built-up area and barren land were 0.965 and 0.964, and for water body was 0.979. These results indicated the emissivity value that obtained from Landsat ETM+ remote sensing data were around the emissivity values measured using thermal radiation detector.Keywords: emissivity, remote sensing, Landsat ETM+, vegetation indices, NDVI
HUBUNGAN KEMAMPUAN LAHAN DENGAN KESESUAIAN LAHAN Suryono, Suryono
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2166.744 KB)

Abstract

Lahan kritis terjadi sebagai akibat tidak sesuainya antara penggunaan lahan dengan kemampuan lahan. Hal ini akan mengalami atau dalam proses kerusakan fisik, kimia dan biologis yang akan membahayakan produksi pertanian.Tulisan ini mencoba mempelajari hubungan antara kemampuan lahan terhadap kesesuaian lahan. Daerah penelitian adalah di Kecamatan Piyungan dan sekitarnya karena daerah ini merupakan daerah yang kompleks dalam hal fisik dan telah diusahakan sebagai tanah pertanian dengan berbagai tanaman pertanian, sehingga daerah ini memadai untuk studi tentang sumberdaya lahan. Studi ini dilakukan dengan metode gabungan antara penginderaan jauh, evaluasi lahan dan analisis statistik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan yang positif antara kemampuan lahan dengan kesesuaian lahan pada bentuk lahan Dataran Fluvio Kaki Gunungapi, sedang pada beutuk lahan lainnya yaitu pada Dataran Banjir, Dataran Fluvio Koluvium Kaki Lereng Perbukitan dan Perbukitan tidak signifikan. Hasil studi ini dapat dipakai sebagai bahan pembanding untuk pengembangan potensi wilayah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.ABSTRACTCritical lands occur in areas where landuse do not correspond with land capability. This condition will affect physical, chemical and biological conditions and can reduce agriculture product. This paper tries to study the corresponding between land capability and land suitability. Piyungan Sub District is a complex area in term of physical condition. This area is an agricultural land: therefore, this area is appropriate for land resources study. The study uses an integrated approach, by using remote sensing technology, land evaluation as well as statistical analysis. The result of this study shows the positive correlation between land capability and land suitability in Fuvio Vulcanic Food Plain, white in other landform such as Flood Plain, Fuvio Collovium Hillock Food Slope Plain and Hill areas the correspond between land capability and land suitability are not significant. The writer hopes that the result of the study can be used as a comparative study in regional development, especially in the program of regional autonomy.Kata Kunci : Bentuk lahan, kemampuan lahan, kesesuaian lahan, hubunganKeyword: Landform, land capability, land suitability, relationship
DINAMIKA PENGGUNAAN LAHAN PESISIR TIMUR PROVINSI LAMPUNG Suwarno, Yatin; Susanti, Rahmatia
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.968 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.123

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika penggunaan lahan pesisir timur Provinsi Lampung dari tahun 1975 sampai tahun 2009. Sumber data yang digunakan adalah citra ALOS AVNIR-2 (resolusi 10m x 10m) tahun 2009, citra Landsat ETM+ (resolusi 60m x 60m) tahun 2000, Peta Penggunaan Lahan Bakosurtanal skala 1:250.000 tahun 1986, dan Peta Topografi JANTOP skala 1:50.000 tahun 1975. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 34 tahun (1975-2009) terjadi dinamika yang berbeda untuk setiap jenis penggunaan lahan. Lahan hutan mengalami penurunan terus dari tahun 1975 sampai tahun 2009, yang diduga karena alih fungsi untuk penggunaan lahan yang lebih ekonomis (perkebunan, tambak, sawah, dan ladang). Penggunaan lahan permukiman dan perkebunan mengalami kenaikan terus, hal ini seiring dengan peningkatan populasi penduduk dan mulai dibukanya berbagai jenis komoditi perkebunan. Adapun lahan sawah dan tambak yang semula naik sampai tahun 2000kemudian turun hingga tahun 2009, ini diduga lebih bersifat pertimbangan ekonomi yaitu pemanfaatan yang lebih menguntungkan pada saat tertentu.Kata Kunci: Dinamika, Penggunaan Lahan, Lahan PesisirABSTRACTThis study examines the dynamics of land use in east coast of Lampung Province from 1975 until 2009. Data sources used were image of ALOS AVNIR-2 (resolution 10m x 10m) in 2009, Landsat ETM+ (60m x 60m resolution) in 2000, Land use map, scale of 1:250.000 from Bakosurtanal in 1986, and Topographic Maps, scale of 1:50.000 from Jawatan Topografi in 1975. The results of this research showed that during 34 years (1975 – 1986) there has been different dynamic for each type of land use. Forest land continues to decrease from 1975 until 2009, indicating the functional transfer for more economical uses (plantations, ponds and rice paddies). The land uses for settlement and plantations have continued to rise, in line with the increase in population and start opening various types of plantation commodities. As for paddy fields and ponds, which initially rose until 2000 andthen fell until 2009, was thought to be more profitable consideration at a given time.Keywords: Dynamics, Land Use, Land Coast.
KESESUAIAN EKOWISATA DI PULAU PASUMPAHAN, KOTA PADANG Tanto, Try Al; Putra, Aprizon; Yulianda, Fredinan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.526 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.606

Abstract

ABSTRAKPulau Pasumpahan terletak di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang merupakan salah satu tempat tujuan wisata kepulauan. Tujuan penelitian ini yaitu menginventarisasi potensi sumber daya pesisir dan mengkaji kesesuaian kawasan dalam mendukung ekowisata Pulau Pasumpahan. Metode yang digunakan dalam kajian berupa pemetaan dan analisis kesesuaian kawasan ekowisata yang dilakukan dengan perhitungan skor dan bobot parameter yang digunakan. Hasil yang diperoleh adalah indeks kesesuaian ekowisata tertinggi terdapat pada potensi wisata pantai (rekreasi) yaitu sebesar 79,91% (sangat sesuai). Dari 9 sampel pengukuran yang tersebar di sekeliling pulau, 8 di antaranya menunjukkan nilai sangat sesuai, hanya satu titik yang menunjukkan sesuai bersyarat karena banyak sampah bertebaran di pantai dan perairan keruh. Untuk kesesuaian wisata snorkeling sebesar 51-68,13% (cukup sesuai) dan kesesuaian wisata selam sebesar 50-68,83% (cukup sesuai). Namun satu titik di sekitar pengukuran sebelah barat laut, sangat berpotensi dikembangkan untuk wisata selam menjadi lebih baik karena kondisi soft coral yang sangat indah berada pada kedalaman sekitar 6 m dengan dasar slope, cocok digunakan sebagai objek penyelaman. Sedangkan untuk wisata snorkeling pada lokasi barat laut tersebut tidak cocok, namun berpotensi untuk dikembangkan di sepanjang pulau yang memiliki pantai, melihat cukup lebar dan luasnya hamparan karang. Kesimpulan yang diperoleh adalah ekowisata bahari cukup potensi dikembangkan di Pulau Pasumpahan, di antaranya wisata pantai (rekreasi) (sebesar 79,91%/sangat sesuai), wisata selam, dan wisata snorkeling.Kata kunci:    ekowisata bahari, kesesuaian kawasan, wisata pantai, wisata selam, wisata snorkeling, Pulau Pasumpahan - Kota PadangABSTRACTPasumpahan Island is located in the Bungus Teluk Kabung District, Padang City is one of the archipelago tourist destinations. The objective of the research is to inventory the potential of coastal resources and assess the regional suitability in supporting ecotourism of Pasumpahan Island. The method used in the study is the mapping and analysis of the suitability of ecotourism is done by calculating a score and weighting parameters used. The results obtained are the highest suitability index contained on coastal tourism potentials (recreation) is 79.91% (very suitable). 8 samples among 9 measurement points are around the island shows very suitable value, only one point showing the suitable conditional because a lot of trash were scattered on the beach and muddy waters. To suitability snorkeling by 51-68.13% (suitable enough) and diving by 50-68.83% (suitable enough). But one point around the northwest measurement is very likely to be developed for diving to be better because the conditions were very beautiful soft corals and a basic profile at a depth of 6 m started slope, suitable for use as a dive attraction. As for the snorkeling at the northwest location is not suitable, but has the potential to be developed along the island which has a coastal, looking quite a width and breadth of the reef flat. The conclusion are enough potential for marine ecotourism developed in Pasumpahan Island, such as coastal tourism (recreational) (amounting to 79.91% / very appropriate), diving and snorkeling ecotourism.Keywords: marine ecotourism regional suitability, beach tourism, snorkeling, diving, Pasumpahan Island, Padang City
ANALISIS SPASIAL SUMBER DAYA HUTAN KABUPATEN TOLI-TOLI Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.584 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.64

Abstract

ABSTRAKHutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hutan memiliki berbagai fungsi ekologis. Pemanfaatan sumber daya hutan yang dilakukan akan memberikan manfaat yang lebih besar. Salah satu metode yang bisa digunakan untuk menganalisis dinamika sumber daya hutan adalah metode neraca sumber daya hutan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Peta Penutupan dan Penggunaan Lahan tahun 2000, 2006 dan 2011. Analisis dilakukan dengan pendekatan sistem informasi geografis. Penelitian ini bertujuan mengetahui deforestasi sumber daya hutan dan mengetahui perubahan stok karbon yang terjadi akibat dampak dari perubahan penutupan lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa laju penyusutan hutan periode 2000-2011 di Kabupaten Toli-Toli sebesar 19.016 ha atau sekitar 1.729 ha/tahun. Dampak dari perubahan penutupan hutan mengakibatkan penurunan cadangan karbon 3.405,86 Mton atau setara dengan emisi karbon sebesar 3.423,47 Mton. Kerugian ekonomi yang terjadi sebesar US$ 1.100,708 juta atau Rp. 13.208,50 milyar. Hasil analisis valuasi ekonomi konversi hutan menjadi perkebunan sawit diperoleh nilai bersih kini dengan Net Present Value (NPV) sebesar minus US$ 269,65 4 juta yang berarti investasi tidak layak.Kata Kunci: sumber daya hutan, valuasi ekonomi, stok karbon, dinamika spasialABSTRACTForest is a natural resource that is very important and beneficial for the livelihood either directly or indirectly. Forest have a variety of ecological functions. The utilization of natural resources (forests) should be done if would provide greater benefits than the condition of natural resources. One of the functions of forests is to maintain the amount of stored carbon (carbon stocks). The dynamics of forest area changes into non-forest land resulted in reduced forest functions as a provider of environmental services. One of the methods that can be used to analyze the dynamics of forest resources is of forest resources balance method. The data used in this study is the Land cover and Land Use Map (2000,2006 and 2011). The analysis was performed using geographic information system analysis. This study aims to determine the deforestation of forest resources during the period of 2000 to 2011 and determine the changes on carbon stock caused by the impact of land cover change. The results showed the rate of forest deforestation during the period of 2000-2001 at Toli-Toli of 19,016 ha or about 1,729 ha per year. The impact of the changes in the forest cover resulted in the decrease of carbon stocks by 3,405.86 Mtons, equivalent to 3,423,47 Mtons of carbon emissions. Economic losses accounted at US$ 1,100.708 million or Rp.13,208.50billion. The results of the analysis of economic valuation of forest conversion to oil palm plantations, net present value (Net Present Value, NPV) was of minus 4US$ 269.65 million which means that the investment is not feasible.Keywords: forest resources, economic valuation, carbon stock, spatial dynamic