cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
SISTEM INFORMASI PERTANAHAN PARTISIPATIF UNTUK PEMETAAN BIDANG TANAH Mustofa, Fahmi Charish; Aditya, Trias; Sutanta, Heri
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.149 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2018.20-1.702

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan infrastruktur pendukungnya menciptakan peluang untuk dikembangkannya Sistem Informasi Pertanahan (SIP) yang lebih handal, efisien dan tepat waktu di lingkungan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Pertumbuhan kebutuhan informasi mengenai pertanahan yang lebih mudah diakses yang diminta oleh masyarakat (penerima kebijakan) dan pemerintah (pembuat kebijakan) meningkat lebih tinggi dari sebelumnya. Pengguna data dan informasi dewasa ini sangat kritis terhadap penyediaan layanan informasi pertanahan yang baik. Realitasnya ditemui kendala terkait belum tuntasnya pemetaan bidang tanah. Bidang tanah yang sudah terpetakan baru sekitar 44,5%. Sistem Informasi Pertanahan Partisipatif diusulkan untuk menciptakan lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk dapat terlibat langsung dalam tahapan pemetaan bidang tanah. Pelibatan masyarakat selain menjamin berkurangnya sengketa, juga diharapkan untuk percepatan pemetaan bidang tanah. Tujuan yang hendak dicapai paper ini adalah untuk merangkum isu-isu terbaru mengenai SIP-P untuk pemetaan bidang tanah dan mengembangkan skema konseptual untuk panduan penelitian yang lebih mendalam. Pendalaman tinjauan literatur menghasilkan skema konseptual SIP-P untuk pemetaan bidang tanah. Hal-hal yang terangkum di dalam skema konseptual: sistem informasi yang telah ada, pendekatan partisipatif, kontrol kualitas dan usulan alur kerja pemetaan bidang tanah menggunakan platform SIP-P.Kata kunci: Sistem informasi pertanahan partisipatif (SIP-P), pendekatan partisipatif, pemetaan bidang tanah, pendaftaran tanah
ANALISIS POTENSI TAMBAK GARAM MELALUI PENDEKATAN INTERPRETASI CITRA PENGINDERAAN JAUH : STUDI KASUS DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN KUPANG Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin; Prihanto, Yosef
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.664 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.79

Abstract

ABSTRAKPemanfaatan citra penginderaan jauh untuk pengelolaan wilayah pesisir dapat dilakukan melalui analisis spasialatau kewilayahan. Citra penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk identifikasi potensi sumberdaya di wilayahpesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis spasial areal tambak garam (potensial dan eksisting), danmenganalisis kelayakan usaha budidaya tambak garam di wilayah pesisir Kabupaten Kupang. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan interpretasi visual citra satelit resolusi tinggi, yang dikombinasikandengan pengolahan citra SRTM, serta pemanfaatan Peta RBI skala 1:25.000. Penelitian ini juga ditunjangsurvei lapangan untuk menguji kebenaran hasil interpretasi dan wawancara pengumpulan data parameter ekonomi.Hasil analisis menunjukkan dari lahan seluas ± 3.404,51 ha yang teridentifikasi berpotensi sebagai lahan tambak, ±731,41 ha merupakan areal penyangga berupa mangrove, sehingga luas areal yang dapat dimanfaatkan untukpengembangan tambak adalah ± 2.673,1 ha. Analisis ekonomi menunjukkan bahwa tambak garam layakdikembangkan. Hasil analisis diperoleh benefit cost ratio sebesar 2,20 dengan mendapat nilai net present valuesebesar Rp. 334.888.490 dalam pengusahaan selama 10 tahun. Usaha budidaya ini cukup mapan, bahkan tetapmampu bertahan jika terjadi kenaikan biaya sebesar 25 % dan produksi menurun hingga 25 %.Kata Kunci : Penginderaan Jauh, Tambak Garam, Analisis Spasial, Analisis Ekonomi.ABSTRACTUtilization of remote sensing imagery for coastal zone management can be done through spatial analysis. Remotesensing imagery can be used to identify resources potential in coastal areas. This study aims to analyze spatialdidtribution of salt ponds area (potential and existing) and to analyze the feasibility of salt pond cultures at KupangRegency. The method used in this studies are visual interpretation of high-resolution satellite imagery approach,combined with SRTM image, and utilization of RBI map at the scale of 1:25.000. This study is also supported by fieldsurveys to test the accuracy of the interpretation results, besides interview to fishermen to get economic parametersdata. The results of the analysis shows that among the area of 3,404.51 ha that is identified as a potential salt pond,731.41 ha (21,48 %) of the area is covered by mangrove and consider a buffer area. Therefore total area that can beused for developing salt pond is 2,673.1 ha (81,81 %). Moreover, the economic analysis shows that the salt ponds isfeasible to be developed. Fish pond culture should be developed with benefit cost ratio of 2.20 with Net PresentValue in 10 years. This cultivation is already well established, even still considered capable to survive in case thecost would increased by 25 % and production decreased by 25 %.Keywords: Remote Sensing, Salt Pond, Spatial Analysis, Economic Analysis.
OBSERVASI PENGARUH ENSO TERHADAP PRODUKTIVITAS PRIMER DAN POTENSI PERIKANAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT DI LAUT BANDA Sukresno, Bambang; Suniada, komang lwan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2245.526 KB)

Abstract

Observasi pengaruh ENSO terhadap produktifitas primer dan potensi perikanan dengan menggunakan data satelit di Laut Banda telah dilakukan. Data yang digunakan adalah data satelit yang dianalisis untuk mendapatkan nilai suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a dan PAR. ENSO di representasikan oleh index ENSO. Sedangkan data penangkapan ikan didapat dari laporan bulanan dinas perikanan provinsi Maluku. Data timeseries di tampilkan dalam bentuk grafik untuk mengetahui pengaruh musim terhadap fluktuasi parameter lingkungan. Produktifitas primer di kalkulasi dengan Vertically Generalized Production Model (GPM). Penghitungan dugaan potensi perikanan dilakukan dengan Fish Production Model. Dari hasil analisa didapati bahwa SST dan Chl-a di Laut Banda saling berkorelasi dengan koefisien korelasi- 0.918, dan berfluktuasi dipengaruhi oleh musim. Rata-rata produktifitas primer bulanan mulai meningkat pada bulan Juni yaitu pada musim timur dan mencapai puncak pada bulan Agustus. Produktifitas primer mempunyai korelasi yang kuat dengan chl-a dengan koefisien 0.999), sedangkan korelasinya dengan ENSO 0.331083. Dugaan potensi perikanan di Laut Banda pada tahun 2004 adalah 426.790,47 ton, pada tahun 2005 adalah 380.468.70 ton dan tahun 2006 adalah 445.103,29 ton. Tingkat pemanfaatan potensi perikanan di Laut Banda pada tahun 2004 adalah 54.63%, lalu menigkat tajam menjadi 96.20% pada tahun 2005 dan pada 2006 menjadi 98.22%, Koefisien korelasi antara hasil tangkapan dan perubahan musiman menunjukkan nilai yang kecil yang berarti bahwa potensi perikanan tidak dipengaruhi oleh perubahan musim sehingga dapat dikatakan bahwa potensi perikanan selalu tersedia dan dapat ditangkap sepanjang tahun di Laut Banda.Kata Kunci: ENSO, Produktifitas Primer, Potensi Perikanan, Data SatelitABSTRACTObservation on the influence of ENSO to fishery primary productivity and potency using satellite data at Banda Sea has been done. Data used were satellite data that were analized get sea surface temperature, chlorophyl-a concentrate and PAR. ENSO was represented by ENSO index while fish catch data were gathered from the monthly report of the Fishery agency of Maluku Province. Time series data were displayed in graphs to see the influence of seasons to the fluctuation of environment parameter. Primary productivity were calculated using Vertically Generalized Production Model (VGPM). The prediction of fishery production were done using Fish Production Model. The analysis showed that SST and Chl-a at Banda Sea were correlated with coefficient of 0.918, and it was fluctuated depending on the seasons. The average monthly primary productivity started to rise in June, which is in east season, and reached its peak in August. The primary productivity had strong correlation with Chl-a with coefficient of 0.999, while its correlation with ENSO only 0.331083. The fisher potency at Banda Sea in 2004 was predicted 426,790.47 tons, in 2005 was 380,468.70 tons and in 2006 was 445,103.29 tons. Utilization of the fishery potency at Banda Sea in 2004 was 54.63%, then significantly rised to 96.20% in 2005 and became 98.22% in 2006. Correlation coefficient between fish catchment and season change showed a small value which means that the fishery potency was not influence by season change. Therefore it could imply that the fishes are always available at Banda Sea all year long.Keyword: ENSO, Primary Productivity, Fishing Potential, Satellite Data
ANALISIS TEMPORAL CURAH HUJAN DALAM SIKLUS MINGGUAN DI SEMARANG, JAWA TENGAH INDONESIA Hartini, Sri
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.933 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-2.143

Abstract

Kegiatan antropogenik yang dilakukan oleh manusia selama hari kerja telah menyebabkan berkumpulnya aerosol di udara lebih tinggi dibandingkan pada akhir pekan. Aerosol merupakan partikel di udara yang merupakan salah satu faktor terjadinya kondensasi yang mengubah awan menjadi hujan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan perilaku hujan di daerah tropis pada hari kerja (Senin-Jum’at) dan pada akhir pekan (Sabtu-Minggu). Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data curah hujan harian selama sepuluh tahun yaitu antara tahun 2000 – 2009 yang dikumpulkan dari 9 stasiun curah hujan di Semarang, Jawa Tengah. Analisis yang dilakukan yaitu menghitung persentase jumlah hari hujan (HH) dan jumlah hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara presentase curah hujan yang terjadi selama hari kerja dan akhir pekan, dengan rata-rata persentase hari hujan tahunan pada hari kerja adalah 31% dan pada akhir pekan 30%. Dalam penelitian ini juga dilakukan pembagian bulan basah dan bulan kering ke dalam 4 kelompok yaitu periode Desember-Januari-Pebruari (DJP), Maret-April-Mei (MAM), Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-Nopember (SON). Pola sebaran hari hujan mengikuti pola umum untuk curah hujan di Indonesia yaitu bulan terbasah adalah periode DJP dengan jumlah hari hujan tertinggi 53 HH, dan bulan terkering hanya sebanyak 17 HH yang terjadi pada periode JJA. Pada kasus ini, variasi kondisi geografis seperti perbedaan antara perkotaan dan pedesaan, dan juga dataran rendah dan pegunungan tidak berpengaruh terhadap pola hari terjadinya hujan di wilayah ini.Kata Kunci: Hujan, Hari Kerja, Akhir Pekan, Daerah Tropis ABSTRACTAnthropogenic activities have been done by human along the weekdays has produced aerosol higher than during weekends. The aerosol on air become part of condensation factors of cloud alteration into rain drops. This research aims to investigate whether there is any difference of rain behavior in a tropical area during weekdays (Monday - Friday) and weekends (Saturday - Sunday). This research conducted by analyzing daily rainfall data in ten years period of 2000-2009 that were collected from 9 rainfall stations in Semarang, Central Java and its surrounding area. The analysis is basically to calculate the percentage of rain days comparing to the number of days. The result shows that there is no significant different between the percentage of rain days during weekdays and weekends, with annual average of 32% and 31% respectively. Besides that, the wet and dry months were also classified into 4 classes i.e. December-January-February (DJP), March-April-May (MAM), June-July-August (JJA) and September-October-November (SON) to know the distribution of wet and dry months. The result shows that the pattern follows general figure of Indonesia’s rainfalls with the period of DJP is the wettest months and JJA is the dryest months. The highest rain days during the DJP period was 53 (almost 60%), and the least day rain was 17days (almost 20%) that occurred during the JJA period. In this particular case, the rainfall pattern seems not influenced by the variation geographic condition such as the difference of urban and rural area as well as lowland and highland.Keywords: Rain, Weekdays, Weekends, Tropical Area
PREDIKSI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN PASCATAMBANG NIKEL DI KABUPATEN HALMAHERA TIMUR Tuni, Muhd. Siraz; Barus, Baba; Iskandar, Iskandar
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.118 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.84

Abstract

Halmahera Timur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Maluku Utara dengan potensi sumberdaya mineral yang besar yaitu pertambangan nikel. Namun, sumberdaya mineral yang tersedia belum memberikan dampak yang berarti bagi pertumbuhan ekonomi. Vegetasi tutupan lahan semakin berkurang dengan adanya aktivitas penambangan dan jumlah produksi pertanian tiap kecamatan terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan pascatambang nikel yang mendukung perkembangan wilayah melalui beberapa pendekatan yaitu : analisis dan prediksi perubahan tutupan lahan; evaluasi tingkat perkembangan wilayah dari data PDRB dan identifikasi sektor basis tiap kecamatan; membuat skenario penggunaan lahan pascatambang nikel. Penelitian ini memperlihatkan perubahan tutupan lahan terjadi pada kelas hutan dan kebun campuran yang terkonversi menjadi bukaan tambang, sawah dan tegalan/semak/belukar terkonversi menjadi permukiman. Selain itu, sektor basis tiap kecamatan menurun dari hasil produksi karena ada konversi lahan, seperti kelas kebun campuran menjadi kelas bukaan tambang. Perubahan ini tidak diikuti dengan peningkatan ekonomi wilayah yang tinggi. Tren perkembangan ekonomi wilayah periode 2000-2010 menunjukkan peningkatan yang rendah yaitu 0,8%. Perkembangan ekonomi wilayah dan sektor basis tiap kecamatan di Kabupaten Halmahera Timur belum berkembang, sehingga perlu adanya skenario perencanaan penggunaan lahan pascatambang nikel yang sesuai dengan fungsi ruang yaitu tanaman pangan, perkebunan rakyat, hutan tanaman rakyat,dan hutan.Kata Kunci : Perencanaan Penggunaan Lahan, Lahan Pascatambang, Sektor Basis, Pengembangan Ekonomi Wilayah.ABSTRACTEast Halmahera is one of the regency in North Maluku Province with great mineral resource potential especially nickel mining. However, these mineral resources have not provided a significant impact to the economic growth. Vegetation of land cover decreased in the presence of mining activities and the amount of agriculture production from each sub district is disrupted. This study aims to utilize post-mining land of nickel supporting regional development, through a few parameters, namely : analysis and prediction of land cover change; evaluation of regional growth rate of GDP and identifying leading sector in each sub district; making scenario of ex-nickel mining land. This study showed land cover occurred on the forest class and mixed plantation class converted to land clearing mines, paddy and moors / bush / shrubconverted to settlements. Beside that, leading sector of each sub district decreased of existing production due to land conversion, such as mixed plantation class to be class of mine openings. These changes were not followed by regionaleconomy development. The trend of regional economic development of the period 2000-2010 showed a low increase of 0,8%. Regional economic growth and leading sector each sub district in East Halmahera Regency is undeveloped, so that this needs the presence of scenarios for land use planning of ex-nickel mining appropriate with the spatial function namely food crops, smallholder plantations, community plantation forests, and forest.Keyword : Land Use Planning, Ex-Mining Land, Leading Sector, Regional Economic Development.
A PRELIMINARY STUDY OF NON USE VALUE OF THE SIAK RIVER BASIN Priyatna, Fatriandi Nur; Muliawan, Irwan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.049 KB)

Abstract

The objective of this paper is to study the intrinsic value or non-use value of the Siak River Basin, especially the existence value and the bequest value. The research used CVM (Contingent Valuation Method), with a survey conducted to have WTP (the willingness to pay). This method used total benefit technique as a base to calculate the willingness fo pay. The results showed that socio economic profile of Siak River was noted by 31 to 40 years old respondents with low educational level (mostly unfinished elementary degree), 11 to 20 years experience, and the average of annual income was IDR 8,600,748 per respondent. While total non-use value at the Siak River Basin was IDR 320,026,519 per year, with existence value was IDR 101,129,717 per year and bequest value was IDR 218,896,802 per year. The result also showed that development in the educational sector should be taken into account as a set of resource management option. Better educational level along with better resource condition will give better perception for the resource sustainability. Meanwhile, environmental degradation level is also indicated by the low existence value.Keywords: Non Use Value, CVM, Siak River.ABSTRAKTujuan dari tulisan ini adalah menghitung nilai intrinsik sumberdaya atau non use value dari sumberdaya Sungai Siak, terutama nilai keberadaan (existence) dan nilai pelestarian (bequest) sumberdaya. Penelitian menggunakan survey dan teknik CVM (contingent valuation method) untuk mendapatkan nilai kesediaan membayar dari responden atau WTP (willingness to pay). Metode ini menggunakan teknik total manfaat sebagai dasar dalam menghitung besaran kesediaan membayar. Hasil penelitian.menunjukkan karakteristik sosial ekonomi responden, ditandai sebagian besar responden berumur antara 31 hingga 40 tahun dengan tingkat pendidikan rendah (umumnya tidak tamat sekolah dasar). Pengalaman usaha responden berkisar antara 11 hingga 20 tahun dan pendapatan rala-rata responden sebesar Rp 8.600.748 per tahun. Hasil analisis juga menunjukkan besaran total-non use value sebesar Rp 320.026.519 per tahun, terdiri dari nilai keberadaan (existence) sebesar Rp 101.129.717 per tahun dan nilai pelestarian (bequest) sebesar Rp 218.896.802 per tahun. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan harus menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari opsi pengelolaan sumberdaya. Tingkat pendidikan yang lebih baik dan diiringi oleh lingkungan sumberdaya yang juga lebih baik akan memberikan persepsi yang lebih baik terhadap pentingnya keberlanjutan sumberdaya. Hal lainnya juga menjadi catatan bahwa rendahnya nilai keberadaan (existence) menjadi salah satu indikasi dari telah semakin terdegradasinya sumberdaya itu sendiri.Kata kunci : Nilai Non Use, CVM, Sungai Siak
PERUBAHAN CADANGAN KARBON ORGANIK TANAH DALAM KONTEKS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN SELAMA 2 DEKADE Widiatmaka, Widiatmaka; Ardiansyah, M; Ambarwulan, Wiwin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.843 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-2.148

Abstract

Karbon organik tanah (KOT) memainkan peranan yang sangat penting dalam siklus karbon global, karena merupakan pole karbon permukaan bumi yang paling besar. Pole karbon tanah merupakan 4,2 kali dari seluruh pole karbon atmosferik dan 5,7 kali pole biotik. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung perubahan penggunaan dan tutupan lahan yang terjadi dalam kurun 2 dekade, antara 1989 dan 2006 dengan mengggunakan citra Landsat 5 TM dan Landsat 7 ETM+, dan mengkuantifikasikan besaran karbon organik di dalam tanah dan untuk memperkirakan keterkaitan antara perubahan karbon organik tanah dan perubahan penggunaan dan tutupan lahan di Kabupaten Bogor selama 2 dekade terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan total luas hutan dan sawah masingmasing 24.975 ha dan 54.406 ha di wilayah penelitian. Perubahan dalam penggunaan lahan telah menghasilkan kehilangan yang mengkhawatirkan terhadap ketersediaan karbon tanah pada wilayah penelitian. Secara rata-rata, konversi hutan dan sawah menjadi ladang dan lahan terbuka/permukiman di Kabupaten Bogor menurunkan total KOT 21,33 % dari 25,99 x 106 ton pada tahun 1989 menjadi 20,44 x 106 ton pada tahun 2006. Kata Kunci: Karbon Organik Tanah, Perubahan Penggunaan Lahan ABSTRACTSoil organic carbon plays an important role in the global carbon cycle, because it is a most amount carbon pole of the earth surface. Soil carbon pole is 4,2 times that of the entire atmospheric carbon pole and 5,7 times of the biotic pole. This study aimed to quantify changes in the land use and land cover occurred in the past two decades between the 1989 and 2006 by using Landsat 5 TM and Landsat 7 ETM+, to quantify the amount of organic carbon in the soil and to estimate the relationship between changes in soil organic carbon and changes in land use and land cover in Bogor during 2 decades. The results showed that the total area of forest and rice fields decline, up to 24.975 ha and 54.406 ha in the study area. Changes in land use have resulted in an alarming loss of soil carbon stocks in the research area. On average, the conversion of forests and rice fields in Bogor Regency decrease 21,33% of total soil organic carbon, from 25,99 x 106 tons in 1989 to 20,44 x 106 tons in 2006.Keywords: Soil Organic Carbon, Landuse Change
VALUASI EKONOMI DAMPAK PENCEMARAN DAN ANALISIS KEBIJAKAN PENGENDALIAN PENCEMARAN DI TELUK JAKARTA Haryati, Sri; Sanim, Bunasor; Riani, Etty; Ardianto, Luky; Sutrisno, Dewayany
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.277 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.89

Abstract

Teluk Jakarta adalah salah satu dari perairan Indonesia dengan berbagai macam kegiatan manusia. Semua area dapat meningkatkan jumlah pencemaran logam berat dalam air terutama yang bermuara ke Teluk Jakarta. Logam berat akan disimpan dan terakumulasi dalam air, sedimen dan hewan akuatik. Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu hewan air yang dibudidayakan di Teluk Jakarta sejak Tahun 1979. Dinas Kelautan dan Perikanan Jakarta menganalisis adanya kandungan logam berat pada kerang yang dibudidaya secara komersial di Cilincing dan Kamal Muara, Jakarta Utara. Dari kajian tersebut didapatkan data bahwa kerang yang  dibudidayakan di lokasi penelitian tidak cocok untuk konsumsi, karena memiliki kandungan logam berat yang tinggi. Kerang hijau ini lebih cocok untuk pembersih (purifier) lingkungan laut yang terkontaminasi logam berat. Hasil penelitian ini adalah bahwa polusi berdampak terhadap penurunan produktivitas budidaya kerang hijau. Potensi nilai ekonomis dan ekologis dari hilangnya dalam kasus pencemaran adalah Rp. 5.485.067.304 per hektar dan kemungkinan hilangnya pendapatan akibat polusi adalah Rp. 35.149.103.520 per tahun.Kata Kunci: Teluk Jakarta, Perna viridis, Logam Berat, Limbah, Valuasi Ekonomi.ABSTRACTJakarta Bay water is one of Indonesia waters which are teeming with various kinds of human activities. All area can continuously increase the amount of pollution especially heavy metal in water of Jakarta Bay. Heavy metal will deposited and accumulated in water, sediment and aquatic animal. Green mussel (Perna viridis) is one of the aquatic animals which cultivated in Jakarta Bay since 1979. Jakarta Maritime and Fishery Affairs Agency (2007) analyzed the heavy metal content of mussels farmed commercially in Cilincing and Kamal Muara, North Jakarta. From these explanations it can be said that the mussels are cultivated in the study site is not suitable for consumption, as it has a high content of heavy metals. Green mussel is more suitable for the purifier of marine environment that has been contaminated with heavy metals. Research result was which pollution impact on the reduction of green mussel farming productivity. Potential economic and ecological value of the loss in case of pollution is Rp.5.485.067.304 per hectareand the possible loss of revenue due to pollution is Rp. 35.149.103.520 per year.Keywords: Jakarta Bay, Perna viridis, Heavy Metal, Pollution, Valuation Economic.
ANALISIS EKONOMI KETERKAITAN PEHUBAHAN HUTAN MANGROVE DAN UDANG DI KECAMATAN BELAKANG PADANG KOTA BATAM Nahib, lrmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1540.991 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.336

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang mempunyai peran yang sangat penting dalam mendukung kegiatan produktivitas perikanan, sebagai tempat pembesaran dan tempat pemijahan berbagai jenis biota air, termasuk udang. Data penginderaan jauh merupakan data yang penting dalam penghitungan nilai ekonomi ekologi hutan mangrove, terutama untuk data luas hutan mangrove. Berdasarkan data luas hutan mangrove, kajian ini bertujuan menganalisis hubungan dinamik keterkaitan hutan mangrove dan udang dampak dari perubahan luas hutan mangrove. Berdasarkan hasil analisis data mangrove tahun 1994-2007 di wilayah Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, dengan menggunakan data luas hutan mangrove time series dari penutupan lahan ekosistem mangrove, menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara luas hutan mangrove dengan produksi udang, dengan model persamaan h=0.0018988E(M)-0.000009197E2. Peningkatan luas hutan mangrove per km2 menyebabkan kenaikan produksi udang sebesar 4,057 ton. Berdasarkan hasil analisis simulasi dari efek kehilangan luas hutan mangrove pada kondisi open akses, areal mangrove yang mengalami penurunan marjinal per km2 akan menyebabkan kehilangan produksi udang sebesar 29 kg dan menyebabkan kehilangan pendapatan sebesar Rp. 4,871 juta.Kata Kunci: Ekosistem Mangrove, Produksi Udang, Dinamika Ekologi-Ekonomi, Data SpasiaABSTRACTMangrove ecosystem is one of coastal ecosystems which has very important role to support fishery productivity as habitat of nursery and spawning ground for aquatic biota including shrimp. Remotely sensed data is important data input for calculating economic value of mangrove ecology, especially for inventory of mangrove forest area. Based on spatial data, this study is directed to explore the dynamic interlink age between mangrove forest and shrimp as a result of mangrove forest degradation. The analysis of 1994-2007 data on mangrove at Belakang Padang District, Batam City, using time series of land cover data of mangrove ecosystem showed that there is strong relation between mangrove area and productivity of shrimp. The increasing area of mangrove per square km could improve productivity of shrimp by 4.057 ton. The decline of one km2 of mangrove reduced productivity of shrimp by 29 kg causing the loss of gross revenue of Rp. 4,871 billion.l Keywords : Mangrove Ecosystem, Shrimp Production, Dynamic of Ecology-Economic, Spatial Data
ANALISIS NERACA SPASIAL HUTAN MANGROVE DI WILAYAH PROBOLINGGO Yuwono, Doddy M.; Cahyo, Anggoro; Hartini, Sri; Suprajaka, Suprajaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.887 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.214

Abstract

Mangrove Pulau Jawa telah mengalami degradasi yang cukup signifikan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Permasalahan tersebut diperparah dengan terbatasnya ketersediaan data spasial yang memadai untuk mengetahui besar maupun laju perubahan/penurunan luas hutan mangrove. Analisa neraca spasial digunakan untuk mengetahui perubahan lahan mangrove. Ketersediaan data spasial yang terbatas dan bersumber dari beragam data citra, menjadi masalah dalam penyediaan data geospasial untuk analisa neraca karena terdapat perbedaan karakter pada data citra yang digunakan. Penelitian ini mendemonstrasikan dan mengkaji bagaimana penggunaan sumber citra dengan perbedaan karakteristik spasial dan spektral untuk analisa neraca spasial perubahan lahan mangrove dengan mengambil lokasi kasus sebagian area mangrove di Probolinggo Jawa Timur. Penelitian ini memberikan indikasi bahwa ketidakpastian dalam data spasial perlu diperhitungkan dalam analisis atau pemetaan neraca spasial. Citra SPOT 4 liputan tahun 2006/2007 digunakan sebagai data awal atau data aktiva yang menunjukkan kondisi awal sumber daya mangrove, sedangkan citra GeoEye dan Quickbird tahun 2010/2011 digunakan sebagai data akhir/pasiva. Metode yang digunakan adalah interpretasi citra dengan metode gabungan antara klasifikasi digital unsupervised dan interpretasi visual, serta dilengkapi dengan kerja lapangan dan generalisasi data spasial. Proses penyusunan neraca dengan membandingkan antara data aktiva dan pasiva. Penyesuaian model data vektor atau generalisasi dilakukan untuk mendapatkan perbandingan yang sama antara dua layer vektor hasil klasifikasi yang bersumber dari dua data citra yang berbeda. Metode generalisasi yang diterapkan adalah aggregate polygon, smoothing polygon, dan simplify polygon. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa luasan sebagian area mangrove di Kota Probolinggo mengalami penurunan sebesar 0,52 km2 atau 38,8%, dan penurunan area mangrove di Kabupaten Probolinggo sebesar 0,41 km2 atau 16,7%. Pemetaan neraca menggunakan dua sumber citra dengan karakteristik spasial dan spektral yang berbeda, dapat menghasilkan kualitas pemetaan yang kurang dapat diandalkan (26,35 m) dibandingkan dimensi piksel citra (20 m) yang digunakan sebagai input analisis.Kata kunci: mangrove, neraca spasial, generalisasiABSTRACTMangrove forest in Java Island has been significantly degrading and experiencing deforestation in the last 20 years. Limited spatial data and information is one of the difficulties in analyzing mangrove forest change and deforestation rate.Spatial balance derived from various digital satellite image data is used to analyse mangrove forest change. However, differences in imageries characters and specifications are the main obstacle for spatial balance analysis. This research demonstrate and evaluate how difference spatial and spectral characteristics of imageries used for spatial balance anlysis and mapping. This research tries to indicate, not an exact calculation, a spatial uncertainties occured in spatial balance mapping and analyses. Location of the research took place in a specific mangrove forest area covered by SPOT, GeoEye, and Quickbird imageries in Probolinggo Region Jawa Timur. SPOT imagery 2006/2007 showed initial state of mangrove forest while GeoEye and Quickbird imageries showed the present state. Hybrid classification was used as primary method in this research. Furthermore, field work and spatial generalization completed the whole methodology. Spatial balance analysis was conducted based on comparison of two generalized spatial data derived from the satellite imageries. Spatial generalization used for cartographic refinement was: aggregate polygon, smoothing polygon, and simplify polygon. The result showed that mangrove forest in Probolinggo City was deforested around 0.52 km2 or around 38.8%. While, mangrove area deforestation in Probolinggo Regency was of 0.41 km2 or around 16.7%. Spatial balance analysis using two difference spatial and spectral characterization resulting a poor quality (26.35 m) comparing to image pixel dimension (20 m) used as an input for analysis.Keywords: mangrove, spatial balance, generalization