cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
INVENTARISASI AREAL POTENSIAL TRANSMIGRASI DI KABUPATEN PONTIANAK DENGAN BANTUAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2319.938 KB)

Abstract

Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka terdapat kecenderungan aktivitas manusia untuk mengubah fungsi ruang guna mengakomodasi dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut akan memicu teriadinya kompetisi untuk mendapatkan ruang atau tumpang tindih penggunaan ruang yang saling merugikan. Guna mencegah dampak negatif tersebut, maka telah dilakukan perencanaan peruntukan kawasan budidaya dan kawasan lindung melalui penyususnan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi / Kabupaten (RTRWP/K). Dalam rangka mengatasi kendala penyediaan lahan akibat semakin tingginya laju pembangunan, maka perlu dilakukan inventariasi status tanah dan penggunaan tanah. Kegiatan penelitian ini bertujuan mengevaluasi lokasi-lokasi transmigrasi yang berada didalam pencadangan Areal (PA) dan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) di Kabupaten Pontianak serta menginventarisasi areal potensial yang dapat dikembangkan untuk pemukiman Transmigrasi dengan bantuan sistem infomasi geografis (SIG).ABSTRACT With the increasing number of population there are trends of human activities to convert land function to accommodate and meet their needs. That condition will cause a competition among people to occupy space. To avoid those negative impacts, it has been planned to allocate cultivated areas and protected areas through physical spatial plan. To overcome constrains of land appropriation in the aftermath of rapid developments, lt needs to have inventory land status and land use. This research intends to evaluate transmigration locations within reserved area and land management rights in Pontianak Regency and to take inventory of the potential areas to be developed for transmigration settlement by using geographic information system.Kata Kunci : Peruntukan Lahan, Areal Transmigrasi, Sistem lnformasi GeografiKeywords: Land Use, Transmigration Area, Geographic Information System
HYPERSPECTRAL OBSERVATION FOR OPTICAL PROPERTIES OF COASTAL BENTHIC COMMUNITIES IN THE SMALL ISLAND Nurdin, Nurjannah; Komatsu, Teruhisa; Yamano, Hiroya; Arafat, Gulam; Rani, Chair; Awaludinnoer, Awaludinnoer
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.681 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.128

Abstract

Collecting the spectral library of different bottom types is an important step in mapping shallow water bottom types with of remote sensing. Five small islands in the Spermonde archipelago, South Sulawesi, Indonesia, were selected to measure the reflectance spectral of benthic communities. The objectives of this study are to determine optical properties of the live corals, dead corals covered with algae, coral rubble, broken shell, sand, seagrass and to collect a spectral library of bottom types present around small islands in the Spermonde archipelago. Several benthic communities appear to be highly correlated with one another when the entire spectrum considered, which may lead to classification errors. Porites meyeri,dead corals and coral rubble (>3 months ago) share a high degree of similarity in reflectance. The other coastal benthic communities are readily distinguishable.Keywords : Spectral, Coral Rubble, Living Corals, Dead Corals, Broken Shell ABSTRAKPengumpulan pustaka spektral pada berbagai jenis dasar perairan merupakan langkah yang penting dalam memetakan karakteristik dasar perairan dangkal dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Pada penelitian ini, pengukuran reflektansi spektral pada komunitas bentik perairan dangkal dilakukan pada lima pulau-pulau kecil yang terdapat di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah selain menentukan karakteristik optik pada karang hidup, karang mati yang ditumbuhi alga, pecahan karang, pecahan cangkang, pasir dan lamun juga untuk membangun pustaka spektral berbagai jenis obyek dasar perairan dangkal yang terdapat di sekitar pulau-pulau kecil Kepulauan Spermonde. Beberapa komunitas dengan jenis komunitas bentik lainnya menunjukkan korelasi yang kuat yang akan menghasilkan kesalahan klasifikasi jika menggunakan julat spektrum yang lebar seperti antara karang Porites meyeri, karang mati yang ditumbuhi alga dan pecahan karang yang telah berumur lebih dari 3 bulan menunjukkan tingkat kesamaaan reflektansi spektral yang tinggi. Sedangkan pada obyek dasar perairan dangkal lainnya, nilai pantulan spektralnya dapat dipisahkan.Kata kuci : Spektral, Pecahan Karang, Karang Hidup, Karang Mati, Pecahan Cangkang.
ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN PANGAN DI KABUPATEN INDRAMAYU murdaning, murdaningsih
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.868 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.604

Abstract

Kabupaten Indramayu di Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat konversi lahan pertanian cukup tinggi. Hal ini didorong oleh tingginya permintaan lahan untuk pembangunan fasilitas pendidikan, pemukiman, dan kegiatan perekonomian lainnya. Dinamika perubahan penggunaan lahan dapat diamati dari perubahan penggunaan lahan secara multi temporal. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data penggunaan lahan tahun 1994, 2008, dan 2015 yang bersumber dari foto udara tahun 1994, citra ikonos tahun 2008, SPOT 6 tahun 2015, dan data statistik. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lahan di  Indramayu pada tahun 1994 didominasi oleh lahan sawah seluas 133.716 ha (65%). Penggunaan lahan lainnya yaitu tambak seluas 18.780 ha (9 %) dan permukiman seluas 16.627 ha (8%). Pada tahun 2015, luas lahan sawah turun menjadi 132. 097 ha (64%) dan pemukiman meningkat menjadi 18. 625 ha (9%). Dalam kurun waktu ini terjadi peningkatan area pemukiman dan penurunan luas lahan sawah yang cukup besar. Hasil perhitungan kebutuhan  pangan di Indramayu dengan jumlah penduduk 1.708.551 jiwa dan konsumsi rata-rata 139 kg per kapita per tahun mencapai 237.488.589 kg.
PEMETAAN LAHAN KRITIS KABUPATEN BELITUNG TIMUR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.174 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.69

Abstract

ABSTRAKPulau Belitung dikenal sebagai pulau timah, dimana aktivitas penambangan timah telah dimulai sejak tahun 1852,sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang. Permasalahan penambangan timah adalah lahan bekaspenambangan timah yang banyak ditinggalkan begitu saja sehingga lahan menjadi rusak, terbuka bahkan banyakyang menjadi kolong. Kondisi tersebut merupakan indikasi bahwa lahan kritis telah terjadi di seluruh Pulau Belitung.Tujuan penelitian adalah melakukan inventarisasi lahan kritis dengan melakukan pemetaan lahan kritis. Sisteminformasi geografis telah digunakan untuk mengetahui luas lahan kritis yang ada di Kabupaten Belitung Timur. Metodeyang digunakan yaitu analisis spasial atas berbagai parameter dengan menggunakan sistem informasi geografis.Hasil pemetaan lahan kritis Kabupaten Belitung Timur diperoleh bahwa Lahan Kritis 30.865,75 ha (12%), Lahan AgakKritis 109.862,05 ha (43%), Lahan Potensial Kritis 72.864,58 ha (28%), dan Lahan Tidak Kritis 44.271,03 ha (17%).Kata Kunci: Lahan Kritis, Sistem Informasi Geografis, Kabupaten Belitung Timur.ABSTRACTBelitung Island is known as the tin island, where tin mining activity began in 1852, during the Dutch colonial eraupto the present day. Problems on the tin mining land happen when former tin mining land abandoned the lotresulting in an open damage land, and eventually turned into pit. The condition indicated that critical land has occurredin the entire island of Belitung. The purpose of this research is to conduct an inventory of critical land areas throughcritical land mapping using geographic information systems, in order to know the extent of critical lands in EastBelitung Regency. The method used is a spatial analysis that was applied in a various parameters using a geographicinformation system. The results of the critical land mapping of East Belitung Regency werw obtained as follows:Critical Lands 30,865.75 ha (12%), Near Critical Lands 109,862.05 ha (43%), Potential Critical Lands 72,864.58 ha(28%), and Non Critical Lands 44,271.03 ha (17%).Keywords: Critical Land, Geographic Information Systems, East Belitung Regency.
ANALISIS PERBANDINGAN SISTEM DIREKTORI PULAU BAKOSURTANAL DAN UNEP Pramono, Gatot H.; Rahadiati, Ati
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1974.949 KB)

Abstract

Sistem direktori pulau adalah salah satu cara dalam menyimpan dan menampilkan data dari pulau secara digital. Di dalam sistem tersebut tersimpan informasi yang berkaitan dengan suatu pulau seperti lokasi, luas, panjang garis pantai, jumlah penduduk, jenis ekosistem dan sebagainya. Dengan adanya sistem ini, pengguna dapat mencari informasi yang terkait dengan pulau secara mudah. BAKOSURTANAL telah membangun suatu sistem direktori pulau. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk membandingkan sistem direktori pulau ini dengan yang telah dikembangkan oleh UNEP. Diharapkan dengan mengetahui kelebihan dari sistem UNEP dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan sistem BAKOSURTANAL. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem BAKOSURTANAL perlu diperbaiki dari segi kelengkapan data dan pengembangan ke aplikasi berbasis internet.ABSTRACTThe island directory system is a digital approach to store and display island data. Various information stored in the database are island location, area, shoreline, population and ecosystem. This system enables users to search and retrieve data efficiently. BAKOSURTANAL has developed such system. The paper is aimed to compare between BAKOSURTANAL and UNEP island directories. The positive aspects of TJNEP system will be used to improve BAKOSURTANAL system. The study recommends two points to be implemented: data completeness and web based system.Kata Kunci: Sistem Direktori Pulau, BAKOSURTANAL, UNEP Keywords: Island Directory, BAKOSURTANAL, UNEP
PEMETAAN KARAKTERISTIK PENURUNAN MUKA TANAH BERDASARKAN METODE GEODETIK SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PERLUASAN BANJIR DI CEKUNGAN BANDUNG Gumilar, Irwan; Abidin, H.Z.; Hutasoit, L.M.; Hakim, D.M.; Andreas, H; Sidiq, T.P; Gamal, M
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.39 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.133

Abstract

Peningkatan aktifitas pembangunan di perkotaan dan urbanisasi di Cekungan Bandung telah meningkatkan pengambilan airtanah dari akuifer. Hal ini menyebabkan terjadinya fenomena penurunan muka tanah di beberapa lokasi di Cekungan Bandung. Berdasarkan data GPS (Global Positioning System) dan analisis dari data InSAR (Interferometry Syntetic Aperture Radar), dihasilkan nilai kecepatan penurunan muka tanah di semua area studi bervariasi secara spasial dari 2 sampai 20 cm/tahun. Dampak tidak langsung dari penurunan muka tanah di Cekungan Bandung adalah memperluas area banjir. Banjir sering terjadi di area dimana kecepatan penurunan muka tanahnya besar. Sebagai contoh, banjir parah 2010 terjadi di daerah-daerah yang kecepatan penurunan muka tanahnya antara 7-10 cm/tahun. Banjir besar dapat membawa dampak negatif seperti kerugian ekonomi di sektor industri, pertanian, infrastruktur, rumah tangga, dan fasilitas umum di daerah terdampak. Analisis spasial yang dikombinasikan dengan peta penurunan muka tanah, dapat digunakan untuk mengestimasi luas area banjir total pada tahun 2010 mencapai 6.420 ha. Area banjir yang hanya disebabkan oleh penurunan muka tanah seluas 1.388 ha atau 21% dari total area banjir. Kerugian ekonomi akibat banjir yang disebabkan oleh penurunan muka tanah ini mencapai 203 Milyar rupiah.Kata Kunci: GPS, InSAR, Penurunan Muka Tanah, Banjir, Kerugian Ekonomi ABSTRACTIncrease in urban development activities and urbanization in Bandung Basin have increased the groundwater extraction from the aquifers, which has then led to land subsidence phenomena in several locations inside the basin. Based on GPS (Global Positioning System) survey method and analysis of InSAR (Interferometry Syntetic Aperture Radar) data, it was found that the estimated subsidence rates at all observed areas varied spatially from 2 to 20 cm/year. The indirect impact of land subsidence in Bandung Basin is wider expansion of flooding. Interestingly, floodings frequently occur at the area where the subsidence rate is high. For example, the 2010 heavy flooding covered over the areas where the subsidence rates are about 7-10 cm/year. This proves that the land subsidence can aggravate the flooding in Bandung Basin.The heavy flooding can bring negative impacts such as economic losses on industry, agriculture, infrastructure, household, and public facilities sectors in the affected area. Using spatial analysis in combination with the subsidence map, it was estimated that the flooding covers over the total area of about 6420 Ha. Flooded area caused by subsidence was at 1388 hectares, or 21% from the total flooded area. The economic losses due to the flooding in Bandung Basin could reach about 203billion rupiah.Keywords: GPS, InSAR, Subsidence, Flooding, Economic Losses
MENGUKUR URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH, KASUS DI KOTA YOGYAKARTA Fawzi, Nurul Ihsan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.513 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.603

Abstract

Peningkatan suhu di kawasan perkotaan adalah salah satu dampak dari urbanisasi. Fenomena Urban Heat Island (UHI) merupakan salah satu akibat yang dihasilkan akibat peningkatan suhu tersebut. Diperlukan upaya untuk menilai perubahan suhu apakah dapat berbahaya bagi manusia atau tidak. Melalui pengukuran UHI, pengaruh pembangunan kota terhadap peningkatan suhu dapat diukur. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan panduan ilmiah tentang perolehan intensitas dan distribusi UHI menggunakan teknik penginderaan jauh. Studi kasus yang dilakukan berada di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Citra penginderaan jauh yang digunakan adalah citra Landsat 8 perekaman tanggal 24 Juni 2013, path/row 120/65. Metode ekstraksi suhu permukaan menggunakan inversi persamaan Planck dengan koreksi emisivitas dan atmosfer menggunakan radiative transfer equation. Hasil pengolahan didapatkan intensitas UHI sebesar ±2,5oC pada Kota Yogyakarta dan intensitas UHI sebesar ±3,23oC pada area yang diperluas dengan buffer 1 km dari batas Kota Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan area penelitian untuk analisis UHI menjadi penting karena mempengaruhi nilai intensitas UHI dan distribusi UHI. Ditemukan kawasan Malioboro dan sekitarnya berpotensi kuat terjadi UHI, sehingga perlu upaya mitigasi UHI pada kawasan tersebut. Pengukuran UHI menggunakan penginderaan jauh dipengaruhi oleh hal-hal yang berkaitan dengan sistem penginderaan jauh, seperti validasi dan akurasi hasil estimasi, pengaruh atmosfer, dan perbedaan waktu intensitas puncak UHI. Metode perolehan UHI dalam penelitian ini dapat menjadi panduan ilmiah yang digunakan untuk dasar evaluasi pembangunan perkotaan untuk lebih baik. 
ANALISIS RISIKO KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI TAMAN NASIONAL RAWA AOPA WATUMOHAI DENGAN PEMANFAATAN PEMODELAN SPASIAL Sugiarto, Dwi Putro; Gandasasmita, Komarsa; Syaufina, Lailan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.362 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.74

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) merupakan salah satu kawasan konservasi terpenting diIndonesia. Kawasan ini dihuni oleh spesies-spesies endemik Kawasan Wallacea dan memiliki sebaran rawa gambuttopogen cukup luas yang masih tersisa, dimana kondisi ini cukup langka untuk Pulau Sulawesi. Kawasan ini sejaktahun 2011 telah berstatus sebagai Situs RAMSAR, yaitu situs yang berdasarkan pada Konvensi RAMSARmewajibkan Indonesia sebagai negara anggota untuk mengelola lahan basah penting internasional di dalam cakupanwilayahnya secara bijaksana dan berkelanjutan. TNRAW juga berperan penting dalam perlindungan dan pengawetankeanekaragaman hayati, penyedia jasa lingkungan dan menjaga sistem penyangga kehidupan. Kawasan tersebutsaat ini sedang mengalami beberapa gangguan yang berpotensi mengurangi berbagai fungsinya seperti perambahan,pembalakan, perburuan liar dan kebakaran. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis variabel-variabel yangberpengaruh terhadap kerawanan kebakaran hutan dan lahan di wilayah studi, (2) memetakan risiko kebakaran hutandan lahan di TNRAW dan desa-desa sekitarnya. Berdasarkan hasil pengujian terhadap masing-masing 14 variabelyang berpengaruh terhadap kebakaran, diketahui bahwa variabel tunggal yang paling berpengaruh terhadapkebakaran di wilayah studi adalah tipe penutupan lahan (R2 = 31%), dimana kelas yang paling rawan adalahpenutupan lahan savana. Model komposit terbaik disusun oleh 8 variabel membentuk model polinomial dengan nilaikoefisien determinasi 65 %. Prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan perlu dilakukan pada zona inti danzona rimba dengan risiko tinggi (0,34 %) dan risiko sedang (10,30 %) khususnya pada area-area di sekitar GunungWatumohai.Kata Kunci: Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Model Spasial, Kerawanan Kebakaran.ABSTRACTRawa Aopa Watumohai National Park (TNRAW) is one among the most important conservation areas in Indonesia.This area preserves endemic species in Wallacea region and the only main topogeneouse peat swamp at SulawesiIsland. The area has been designated as RAMSAR Site in 2011. According to the International Convention ofRAMSAR, Indonesia has an obligation to manage the wetland areas wisely in sustainable manner since the areas areconsidered to be internationally important. This national park plays important roles in protecting and preservingbiodiversity, providing environmental services, and supporting life system in surrounding area. Unfortunately, TNRAWhas been disturbed by several threats such as encroachment, illegal logging, illegal hunting and wildfire that couldpotentially degrade the forest’s functions. The objectives of this study were (1) to analyze the appropriate variablesthat influence the vulnerability of forest fires in the study areas, and (2) to develop a fire risk mapping in TNRAW andits surrounding areas. Based on the CMA analysis of the 14 variables associated with biophysical and humanactivities, the most influential variable in the spatial model was individual land cover type (with R2 = 31%) where thehighest one was on the class of savanna. The best composite model derived from CMA method adopted eightvariables with determination coefficient of 65% and formed a polynomial model. The priority of the forest firesmanagement needed to be focused at the core zone and the buffer zone which were grouped to be high risk area(0.34 %) and middle risk area of forest fire (10.30 %), especially at the surrounding of Watumohai Mountains whichhad high vulnerability for wildfires.Keywords: Rawa Aopa Watumohai National Park, Spatial Model, Wildfire Vulnerability.
REMOTE SENSING AND GIS FOR DETERMINING LANDSLIDE SENSITIVITY AREAS Fitrianto, Anggoro Cahyo; Hidayatullah, Taufik; Nahib, lrmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.545 KB)

Abstract

The objectives of this research were to (1) define the landslide sensitivity area based on evaluation of physical parameter of land from result of satellite image interpretation using Geographic Information System (GlS); (2) provide landslide sensitivity map to Banggai district, Central Sulawesi Province. This research used four physical parameters of land to define landslide sensitivity rates. Physical parameters used in the research were (1) slope derivable from result of SRTM image analysis; (2) landuse derivable from result of satellite image and thematic map analysis; (3) geology factor derivable from geological map; (4) rainfall data. Each of the parameters was weighted/evaluated so that obtainable result indicated that areas having highest value were sensitive to landslide; whereas, areas having lower value were insensitive to landslide. The result of GIS analysis with all overlapping parameters indicated that the Banggai District is dominated by lower landslide sensitivity rate. Medium and high landslide sensitivity rate are distributed to mountain areas having limestone geological structures. Whereas, the lowest landslide sensitivity rate is located in coastal areas having flat slope.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendefinisikan tanah longsor wilayah sensitivitas berdasarkan penilaian parameter fisik tanah dari hasil interpretasi citra satelit menggunakan Sistem Informasi Geografis (GlS); (2) menyediakan peta untuk kepekaan tanah longsor Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan empat parameter fisik lahan untuk menentukan tingkat kepekaan tanah longsor. Fisik parameter yang digunakan dalam penelitian adalah (1) kemiringan dapat diturunkan dari hasil analisis citra SRTM; (2) landuse diturunkan dari hasil analisis imge satelit dan peta tematik; (3) faktor geologi diturunkan dari peta geologi; (4) data curah hujan. Setiap paramaters dibobot / dievaluasi sehingga hasil diperoleh menunjukkan bahwa daerah-daerah yang memiliki nilai tertinggi yang peka terhadap longsor, padahal daerah-daerah yang memiliki nilai lebih rendah yang tidak sensitif terhadap longsor. Hasil analisis menggunakan GIS dengan semua parameter yang tumpang tindih menunjukkan bahwa Kabupaten Banggai didominasi oleh rendahnya tingkat kepekaan tanah longsor. Menengah dan tinggi tingkat sensitivitas longsor didistribusikan ke daerah pegunungan kapur yang memiliki struktur geologi. Padahal, yang terendah tingkat kepekaan tanah longsor terletak di daerah pantai memiliki kemiringan datar.Keywords : Landslide, Remote Sensing, Geographical lnformation System.Kata Kunci : Tanah Longsor, Penginderaan Jauh, Sistem Informasi Geografi
PEMANTAUAN POLA PENANAMAN PADI MELALUI ANALISIS HAMBURAN BALIK CITRA ALOS PALSAR SCANSAR Prachmayandini, Reyna; Prachmayandini, Reyna; Trisasongko, Bambang H
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.807 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.138

Abstract

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk pemantauan areal sawah saat ini banyak dikembangkan guna memberikan informasi pemantauan secara spasial maupun temporal. Pemantauan lahan sawah meliputi pola penanaman padi, pola irigasi, maupun produktivitas lahan. Informasi ini penting sebagai masukan bagi pengambilan keputusan dalam pengembangan areal persawahan di Indonesia guna menunjang pemenuhan produksi pangan. Namun demikian, tutupan awan pada citra optik merupakan kendala yang serius di Indonesia. Oleh karena itu, kajian pemantauan lahan sawah dengan menggunakan citra SAR (Synthetic Aperture Radar) ini dikembangkan karena akuisisi citra tidak terkendala pada faktor cuaca maupun tutupan awan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan kemampuan citra ALOS PALSAR ScanSAR untuk mengetahui intensitas/pola penanaman padi serta teknik irigasi pada wilayah persawahan di Jawa Barat dengan melakukan analisis terhadap nilai koefisian hamburan balik yang dihasilkan dari citra ALOS PALSAR ScanSAR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis nilai koefisian hamburan balik mampu memberikan informasi pola penanaman padi. Selain itu, nilai koefisien hamburan balik tersebut sekaligus mampu memberikan informasi terkait kelembaban tanah, yang terkait dengan sistem pengairan (irigasi) di wilayah penelitian.Kata Kunci : Padi, Sawah, Radar, Hamburan Balik, ALOS PALSAR ScanSAR ABSTRACTApplication of remote sensing technology has been developed to enable spatial and temporal monitoring for paddy fields. Paddy field monitoring requires monitoring of seasonal planting patterns, irrigation scheme, as well as land productivity. Those are essential for decision making processes in Indonesia particularly for supporting the fulfillment of food production. However, cloud cover hinders the use of optical remotely sensed imageries for monitoring purposes in Indonesia. For that reason, it is a necessity to develop paddy field monitoring scheme by using SAR (Synthetic Aperture Radar) image, exploiting atmospheric see-through capabilities of the system. This research aims to explore the capability of ALOS PALSAR ScanSAR image for monitoring intensity/plantation pattern of paddy field at broader coverage as well as to seek irrigation design on West Java paddy field areas by analyzing the backscatter coefficients. The result shows that the backscatter coefficients provide invaluable information of planting patterns in addition to planting intensity of paddy fields. It argues that the backscatter was also suitably informative on soil humidity related to irrigation.Keywords : Rice, Paddy Field, Radar, Backscatter, ALOS PALSAR ScanSAR