cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
PENGEMBANGAN VALUASI EKONOMI TERUMBU KARANG SPASIAL DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN METODE BENEFIT TRANSFER Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin; Soleman, M Khifni; Arief, Syachrul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1672.054 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.94

Abstract

Valuasi ekonomi adalah upaya untuk memberi nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan, baik atas dasar nilai pasar maupun nilai non pasar. Penelitian valuasi ekonomi sudah banyak dilakukan, namun belum banyak yang menyajikan nilai valuasi ekonomi dalam bentuk peta. Dengan menggunakan metode benefit transfer dan sistem informasi geografi dapat mengkalibrasi nilai ekonomi terumbu karang dari suatu areal (rujukan) untuk ditransfer ke lokasi yang diinginkan. Metode penghitungan valuasi ekonomi dengan metode benefit transfer didasarkan pada: peta kualitas sumberdaya terumbu karang lokasi studi, nilai valuasi ekonomi di wilayah rujukan, dan karakteristik sosial ekonomi masyarakatnya. Hal ini dapat dilakukan dengan kalibrasi ulang perkiraan nilai valuasi ekonomi areal rujukan untuk ditransfer ke lokasi studi. Hasil studi menunjukkan bahwa nilai valuasi ekonomi di daerah studi berkisar Rp. 2,46 sampai Rp. 27,26 juta/ha/tahun atau mencapai 9-100 % dari nilai rujukan. Studi ini juga menghasilkan peta valuasi ekonomi terumbu karang yang lebih detil.Kata kunci: Terumbu Karang, Metode Benefit Transfer, Sistem Informasi GeografiABSTRACTEconomic valuation is an attempt to give a quantitative value of goods and services generated from natural resources and environment, both on the basis of market value and non-market value. Research of economic valuation has been done, but not many who present value of economic valuation in a map. Benefit transfer method is used to calibrate the economic value of an area (reference) to be transferred to a desired location. Calculation of the economic valuation using the benefit transfer method is based on: a map of coral reef quality on the study sites, economic valuation in the region of reference, and social economic characteristic of communities in the study area. Re-calibration can be done to estimate economic valuation at the reference area to be transferred to the study site. The study showed that the value of economic valuation in the study area ranges from Rp. 2,46 to Rp. 27,36 million/ha/year or reaching 9% to 100% of the reference value. This study also presented a more detailed map of the economic value of coral reef resources.Keywords: Coral Reef, Benefit Transfer Method, Geographical Information Systems
EKSTRAKSI INFORMASI PENUTUP LAHAN AREA LUAS DENGAN METODE EXPERT KNOWLEDGE OBJECT-BASED IMAGE ANALYSIS (OBIA) PADA CITRA LANDSAT 8 OLI PULAU KALIMANTAN Zylshal, Zylshal; Susanto, Heri; Hidayat, Sarip
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.749 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.390

Abstract

Ekstraksi informasi penutup/penggunaan lahan area luas seperti di Pulau Kalimantan umumnya terkendala oleh variasi nilai spektral di beberapa area yang berbeda, serta sulitnya mendapatkan hasil perekaman yang bebas dari awan. Klasifikasi visual, meski memberikan hasil yang baik, merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu dan tenaga yang relatif banyak, belum lagi potensi pengaruh subjektifitas interpreter. OBIA yang sudah mulai diterima dan banyak digunakan dalam klasifikasi digital bisa menjadi alternatif tambahan selain interpretasi visual maupun analisis digital berbasis piksel konvensional. Penelitian ini menggunakan data Landsat 8 OLI orthorectified yang telah melalui proses mosaicking dan cloud masking untuk mendapatkan citra satu Pulau Kalimantan yang bebas awan. Layer NDVI, MNDWI, NDBI, BSI, SAVI, dan Built-up Index kemudian diturunkan dari data Citra Landsat untuk dimasukkan ke dalam tahap segmentasi dan klasifikasi. Segmentasi dilakukan dengan menggunakan algoritma Multiresolution Segmentation dan Spectral Difference Segmentation. Klasifikasi dilakukan dengan menggunakan serangkaian multilevel threshold yang disusun dalam bentuk decision tree. Empat belas kelas penutup/penggunaan lahan kemudian berhasil diekstrak, dengan nilai overall accuracy 77,65%. Metode yang digunakan juga menunjukkan akurasi yang tinggi untuk kelas hutan lahan kering, perkebunan, kebun campur dan semak belukar dengan nilai akurasi di atas 80%. Hasil ini menunjukkan bahwa metode ini bisa dijadikan sebagai alternatif dalam mengidentifikasi dan mengekstrak informasi tutupan vegetasi untuk kegiatan pemetaan area luas.Kata kunci: OBIA, area luas, perubahan penutupan/penggunaan lahan, citra landsat, decision treeABSTRACTLarge area landuse/landcover extraction such as on the island of Borneo using Landsat 8 data are generally constrained by the great variations in the spectral values, due to the vast use of different scenes with different acquisition time, as well as the fact that it almost impossible to get a completely cloud-free image of the whole island. Visual classification, despite the good results, is a labour-intensif job that requires a huge time and effort, not to mention the potential influence of interpreter’s subjectivity. While the pixel based digital classification suffer from“salt pepper” effect as well as almost exclusively relied on spectral information, OBIA has been accepted and widely used in digital classification as an alternative for the visual interpretation and conventional pixel-based classification, with its ability to use additional contextual information. This study aimed to used OBIA method on Landsat 8 OLI cloudfree mosaic dataset for the whole Borneo region to create a landuse/landcover map using both spectral and contextual information, as well as ancilarry DEM data. Additional layers of NDVI, MNDWI, NDBI, BSI, SAVI, and Built-up Index were then derived from Landsat data to be used in the segmentation and classification process. Multiresolution Segmentation algorithm and Spectral Difference Segmentation were then conducted respectively. The classification wasdone by using a series of multilevel crisp classification using thresholds in the form of a decision tree. Fourteen of landuse/landcover classes were then successfully extracted, with a value of 77.65% on overall accuracy. The proposed method showed reasonable high accuracy for the forest, plantation, mixed garden and shrub classes with the accuracy all above 80%. These results indicate that the proposed method can be used as an alternative to identify and extract information related to vegetation cover for large areamapping activities.Keywords: OBIA, large area, land use cover change (LULC), landsat image, decision tree
APLIKASI METODE VALUASI KONTINGEN DALAM UPAYA PENINGKATAN KEBERSIHAN SUNGAI CIKAPUNDUNG KOTA BANDUNG Jatnika, Luthfan; Rahardyan, Benno
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.988 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.219

Abstract

Saat ini Sub-DAS Cikapundung mengalami pencemaran sampah yang sangat tinggi. Untuk memperbaiki keadaan tersebut harus dengan melibatkan keinginan masyarakat untuk menjaga lingkungannya agar tetap bersih. Keinginan masyarakat ini dapat diketahui dengan metode valuasi kontingen (CVM). Penelitian ini dilakukan di bulan September 2012 sampai dengan November 2012 di Kota Bandung. Sub-DAS Cikapundung menghasilkan 3.018,4 m3 sampah setiap minggu, sementara TPS yang mengakomodir daerah di Sub-DAS Cikapundung hanya ada 22 TPS dengan total daya tampung sebesar 2.768,4 m3/minggu sehingga masih tersisa 8,5% atau 250 m3/minggu (1.000 m3/bulan) sampah yang tidak masuk TPS yang berpotensi masuk mencemari Sungai Cikapundung. Hasil penelitian menyebutkan 56,7% masyarakat (208 responden) masih membuang sampah ke sungai, berarti ada 1.500 m3/minggu sampah yang masuk sungai. Hal itu disebabkan oleh beberapa variabel yang berpengaruh terhadap pola hidup masyarakat dan secara tidak langsung berdampak pada pencemaran sungai oleh sampah. Setidaknya terdapat empat variabel yang berpengaruh, yaitu penghasilan, sampah bikin banjir, lama tinggal, orang lain yang membuang sampah ke sungai, dengan sampah bikin banjir dan lama tinggal menjadi variabel yang paling berpengaruh.Kata kunci: polusi sampah, keinginan masyarakat, metode kontingen valuasiABSTRACTCurrently, Cikapundung sub-watershed is highly polluted by waste. Involvement of the community willingness to take care of their environment is needed in order to remedy this situation. This research measured the willingness value using Contingent Valuation Method (CVM). This research was conducted in September 2012 to November 2012 at Bandung City. Every week Cikapundung sub-watershed produce 3018.4 m3 waste, while there are only 22 polling stations which accommodate the Cikapundung sub-watershed with a total capacity of 2768.4 m3/week. Thus, there are 8.5% or 250 m3/week (1000 m3/month) of the remaining garbage which is potentially polluting the Cikapundung River. The result showed that 56.7% of citizens (208 respondents) still throw garbage into the river, so that there are 1500 m3/week of the garbage have been drowning into the stream. It is caused by several variables that correlated to the lifestyle of the citizens and indirectly impact to garbage pollution at river. There are at least four significant variables, namely Income, Waste Make Flood, Length of Stay, and People who Throw Garbage into the river, with the Waste Make Floods and Length of Stay is the most influential variable.Keywords: waste pollution, community willingness, contingent valuation meth
ANALISIS POTENSI LANSKAP EKOWISATA DI DAERAH PENYANGGA KAWASAN TAMAN NASIONAL UJUNG KULON PROVINSI BANTEN Wakyudi, Wakyudi; Hadi, Setia; Rusdiana, Omo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.616 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.224

Abstract

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi untuk optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatan. TNUK diketahui memiliki potensi keanekaragaman hayati dan keanekaragaman ekosistemnya yang tinggi termasuk potensi ekowisata. Namun, keberadaan potensi TNUK saat ini masih menimbulkan konflik kepentingan berbagai pihak. Oleh karena itu pentingnya perumusan pengelolaan dan pemanfaatan sekitar kawasan TNUK harus selaras dengan kegiatan konservasi, salah satunya dengan penerapan kegiatan ekowisata. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis potensi objek dan daya tarik ekowisata di desa penyangga kawasan TNUK. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil analisis potensi wisata disajikan berupa peta tematik potensi objek wisata dengan menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan penyangga TNUK yang berbatasan langsung sebagian besar memiliki potensi objek dan atraksi wisata yang sangat potensial. Potensi objek dan atraksi wisata yang termasuk kategori sangat potensial (SP) terdapat di 7 desa, kategori potensial (P) sebanyak 3 desa dan kategori kurang potensial (KP) di 5 desa penyangga dari 15 tempat fokus pelaksanaan penelitian. Potensi kelayakan objek wisata yang terdapat di 12 desa penyangga TNUK dominasi memiliki klasifikasi sangat potensial (SP) dan potensial (P) dan 1 desa yang memiliki kelas kurang potensial.Kata kunci: ekowisata, penyangga, Kabupaten PandeglangABSTRACTUjung Kulon National Park (TNUK) is a natural conservation area managed by implementing a zoning system for optimizing its management and utilization. TNUK is known to have high potential of biodiversity and ecosystems including ecotourism potential. However, the existence of the potential TNUK often rises conflicting interests among various parties. Hence, the formulation of the importance of management and utilization of the surrounding area TNUK conservation activities must be aligned with one of them with the implementation of ecotourism activities. This research aims to analyze the potential target of this research object and appeal of ecotourism in the village buffer TNUK region. This research uses qualitative descriptive method. Results of the analysis of the tourism potential in the form of thematic maps mapped potential tourist attraction by using Geospatial Information Systems (GIS). The results showed that the buffer zone immediately adjacent TNUK most have the potential and the object a potential tourist attraction. Potential objects and tourist attractions are categorized very potential (SP) contained in 7 villages, a potential category (P) of 3 villages and less potential categories (KP) in 5 villages buffer of 15 where the focus of the implementation of the research. The potential feasibility of attractions found in 12 villages buffer TNUK classification dominance has potential (SP) and Potential (P) and 1 village has less potential class.Keywords: ecotourism, buffer zone, Pandeglang Regency
PENGEMBANGAN APLIKASI BASISDATA NAMA GEOGRAFI UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA ALAM Santoso, Widodo Edy; Martha, Sukendra; Hasan, Helman; Handoyo, Sri; Susanti, Irena; Perdana, Aji Putra
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.46 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.99

Abstract

Basisdata nama geografi merupakan tempat untuk menghimpun nama-nama geografibeserta informasi atau atribut yang relevan, disebut juga sebagai basisdata spasial nama geografi untuk menghimpun layer-layer nama geografi untuk keperluan pemetaan. Melalui proses yang cukup panjang data nama geografi tersebut diekstrak untuk penyusunan gazetir. Gazetir adalah daftar nama-nama geografi yang diurutkan secara alphabetis berikut informasi yang relevan. Penelitian ini mencoba untuk mengembangkan aplikasi basisdata nama geografi yang biasanya untuk pemetaan, dimanfaatkan untuk penanggulangan bencana. Upaya tersebut adalah dengan mengenali bencana alam yang mungkin akan terjadi pada lokasi rawan bencana. Karakteristik bencana akan dapat dikenali secara spesifik, sehingga akan dapat dianalisis cara menanggulangi bencana yang akan terjadi, dengan menekan seminimal mungkin risiko korban. Tindakan tersebut antara lain dengan pendataan lokasi, dan gedung atau bangunan yang disiapkan untuk pengungsian. Selain itu, bagaimana pergerakan pengungsi dari satu dusun ke dusun lain dapat terlacak secara cepat dan efektif, sehingga lokasi untuk pengedropan bantuan logistik atau untuk evakuasi korban dapat ditentukan secara akurat. Informasi lokasi yang ditandai dengan koordinat dapat berperan dalam manajemen bencana secara akurat. Daerah penelitian sebagai sampel adalah lokasi yang paling rawan terkena bencana apabila terjadi letusan Gunung Semeru, yaitu dua kecamatan di Kabupaten Malang dan dua kecamatan di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.Kata Kunci: Pengembangan Aplikasi, Basisdata Nama Geografi, Gazetir, Bencana Alam.ABSTRACTGeographical name database contains collection of geographical names and theirattributes or relevant information. This database also can be defined as geographical names spatial database for accumulating layers of geographic names for mapping purposes. Through along process the geographical names data were extracted for preparation of gazetteer compilation. Gazetteer is a list of geographical names sorted in alphabetical order and followed by relevant information. This study tries to develop a geographical names database application used for mapping purposes to be utilized for disaster management. The effort is to identify natural disasters that might occur in disaster-prone locations. Characteristics of the disaster will be specifically identified, so that it can be analyzed how to overcomethe disasters with a minimum risk of casualties. Such measures include the collection of location or buildings prepared for evacuation. In addition, movement of refugees from one hamlet to another hamlet can be tracked quickly and effectively, so that location for logistical assistance or for evacuation of casualties can be determined accurately. The location information is marked with coordinates which can play a role in disaster management accurately. The research area was the most prone to disasters due in the event of an eruption of Mount Semeru, which were the two districts in Malang Regency, and two districts in Lumajang Regency.Keywords: Application Development, Geographical Names Database, Gazetteer, Natural Disaster.
TINJAUAN HIDROLOGIS MASALAH BANJIR M. Arsjad, A.B Suriadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7022.31 KB)

Abstract

Pembalakan hutan belum tentu penyebab utama terjadinya banjir. Penyebab utama banjir adalah surah hujan yang tinggi dalam waktu yang relatif lama dan terjadi di daerah yang luas. Banjir tidak akan terjadi kalau tidak terjadi hujan dalam DAS dalam waktu yang relatif lama dengan intensitas yang tinggi. Penebangan liar (illegal logging) tidak selalu lebih buruk dampaknya terhadap banjir dari pada konversi hutang ke penggunaan lainnya, misalnya konversi hutan ke lahan pertanian. Biasanya konversi hutan ke penggunaan lain dimulai dengan perambahan (land clearing). Tahapan ini saja kemungkinan sudah akan menguraikan tentang proses runoff yang mempengaruhi terjadinya banjir secara rasional dengan contoh-contoh yang mudah dipahami.Kata Kunci: Banjir, Logging Curah Hujan Tinggi, Konversi Hutan. ABSTRACTLogging activity is not always a main cause of flood. The main cause of flood is heavy rainfall on relatively large area in long duration. The flood will not occur when there is no heavy rainfall occurred in a watershed. The illegal logging is not always more harmful than forest conversion to another use e.g conversion forest to agricultural land. It usually starts with land clearing. Just this step only can cause high runoff and triggering flood. This paper describes runoff process in relation with flood, and factors influenced rationally. Keywords: Flood, Logging, Highly Rainfall, Forest Conversion.
ARAHAN PERUNTUKAN RUANG KAWASAN PERKEBUNAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SISTEM LAHAN Nashiha, Maslahatun; Turmudi, Turmudi; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.124 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.229

Abstract

Salah satu permasalahan utama di bidang ekonomi pada sektor pertanian adalah rendahnya produksi dan produktivitas tanaman perkebunan. Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lombok Tengah yang ada telah mengakomodir arahan peruntukan kawasan perkebunan, namun belum menunjukkan distribusi lokasi dan jenis komoditas perkebunan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan dan kesesuaian lahan dari kawasan perkebunan yang telah direncanakan, dan memberikan arahan komoditas yang sesuai berdasarkan kesesuaian lahannya. Metode yang digunakan adalah analisis overlay antarapeta kemampuan lahan dan peta kesesuaian lahan, dengan peta pola ruang, serta metode matching untuk memberikan arahan jenis komoditas perkebunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18,54% dari total luas wilayah dengan peruntukan kawasan perkebunan merupakan lahan yang cocok untuk pertanian (kelas I dan kelas II). Sebagian besar (79,75%) merupakan wilayah yang dapat dipertimbangkan untuk berbagai pemanfaatan lainnya. Kawasan yang merupakan lahan prioritas (35,78%) lebih sedikit jika dibandingkan dengan kawasan yang merupakan lahan potensial (44,25 %). Selebihnya merupakan lahan alternatif (19,67%). Jenis komoditas yang dapat dikembangkan di semua kecamatan adalah tembakau dan jambu mete, sedangkan komoditas perkebunan kakao hanya terbatas di satu kecamatan.Kata kunci: peruntukan ruang, kesesuaian dan kemampuan lahan, sistem lahanABSTRACTOne of the main economic problems in agricultural sector is low production and productivity of plantation crops. Spatial Planning document developed by Lombok Tengah District have accommodate plantation area allocation, but have not shown the suitability of location and plantation commodity. This research aimed to analysis land capability and suitability of the plantation area shown in Spatial Planning Map, as well as providing appropriate referrals commodities based on land suitability. This research used overlay and matching method. Parameters considered are land suitability, land capability and spatial pattern. Land suitability and capability information were derived from Land System Map. Land suitability and capability information were overlaid and matched with the spatial pattern to get plantation commodity allocation. The result show 18.54% of total area allocated for plantation area is suitable for agricultural area (class 1 and 2). Most of that (79.75%) is the area which considered for other uses. Priority land plantation is less (35.75%) compared with the plantation area as a potential land (44.25%). The rest is an alternative land (19.67%). Plantation commodities types that can be developed in all districts are tobacco and cashew nut. While the commodities limited for certain district is cocoa.Keywords: spatial allocation, land suitability and capability, land system
PEMETAAN VALUASI EKONOMI HUTAN MANGROVE BERDASARKAN GIS DAN METODE BENEFIT TRANSFER Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.896 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-1.104

Abstract

Masalah yang dihadapi negara berkembang seperti Indonesia dalam menilai kondisisumberdaya alam dan lingkungan adalah sedikitnya data yang tersedia dan biaya yang terbatas untuk melakukan penelitian secara komprehensif. Valuasi ekonomi adalah upaya untuk memberi nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan, baik atas dasar nilai pasar maupun nilai non pasar. Penelitian valuasi ekonomi sudah banyak dilakukan, namun belum banyak yang menyajikan nilai valuasi ekonomi dalam bentuk peta. Dengan menggunakan metode benefit transfer dapat mengkalibrasi nilai ekonomi dari suatu areal (rujukan) untuk ditransfer ke lokasi yang diinginkan. Penghitungan valuasi ekonomi berdasarkan metode benefit transfer didasarkan pada nilai valuasi ekonomi di wilayah rujukan, peta kualitas sumberdaya hutan mangrove lokasi studi, dan karakteristik sosial ekonomi masyarakat di lokasi studi, dapat dilakukan kalibrasi ulang perkiraan nilai valuasi ekonomi areal rujukan untuk ditransfer ke lokasi studi.Hasil studi menunjukkan bahwa nilai valuasi ekonomi di daerah studi berkisar antara US $ 9.278,14 sampai US $ 20.500,99 atau mencapai 67 % s/d 150 % dari nilai rujukan, dan juga peta nilai ekonomi sumberdaya hutan mangrove, yang lebih detil.Kata Kunci: Keberlanjutan, Hutan Mangrove, Metode Benefit Transfer, Sistem Informasi GeografiABSTRACTThe problems that occur in the developing countries like Indonesia for assessing the condition of natural resources and environmental is the llimited of data availability and budget for conducting comprehensive research. Economy Valuations is an attempt to give a quantitative value of goods and services generated by natural resources and environment, both on the basis of market value and non-market value. Research on economic valuation has been done, but not many who present the value of economic valuation on a map. By using the benefits transfer method to calibrate the economic value of an area (reference), the economic value then, to be transferred to the desired location. Calculations of the economic valuation based on the benefit transfer method conducted based on economic valuations in the region of reference, a map of the quality of the mangrove forest study sites, and socioeconomic characteristics of communities in the study area, re-calibration can be estimated economic valuations reference area to be transferred to the study site. The study showed that the value of economic valuation in the study area ranges from U.S. $ 9,278.14 to 20,500.99 or reaches 67 to 150% of the reference value, while the map of the economic value of mangrove forest resources shows in more detailed.Keywords: Sustainability, Mangrove Forest, Benefit Transfer Method, GeographicalInformation Systems
SELEKSI LOKASI TAMBANG RAKYAT MENGGUNAKAN MAP OBJECTS-VISUAL BASIC: Studi Kasus di Kabupaten Pandeglang-Provinsi Banten Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7725.761 KB)

Abstract

Pertambangan rakyat adalah satu usaha pertambangan bahan-bahan galian dari semua golongan yang dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil-kecilan atau secara gotong-royong dengan alat-alat sederhana untuk pencaharian sendiri. Seringkali pertambangan rakyat menjadi masalah, selain dilakukan tanpa ijin juga cenderung merusak lingkungan. Untuk meminimalisir dampak negatif yang timbul digunakan program Map Object - Visual Basic untuk seleksi lokasi yang layak. Tujuan seleksi adalah untuk mendapatkan zonasi layak tambang dari setiap jenis mineral atau batuan. Selain itu untuk mengetahui seberapa kemampuan program Map Objects - Visual Basic dalam analisis spasial. Dari hasil seleksi diperoleh 9 (sembilan) lokasi potensial tambang rakyat untuk setiap jenis mineral/batuan.Kata kunci: Tambang Rakyat, Map Object, Visual BasicABSTRACTArtisanal mining is one of the mining businesses, for all minerals conducted by local people in a piecemeal or mutual assistance with simple tools for their own main. Often people mining is a problem, than is done without a permit is also likely to damage the environment. To minimize the negative impact arising used of Map Object - Visual Basic program for selection of eligible locations. Destination selection is feasible to obtain zoning of any type of minerals or rocks. In addition to the ability to see how the program of Map Objects - Visual Basic in the spatial analysis. From the results of the selection is 9 (nine) the location of mineral potential of artisanal mining for each minerals / rocks. Keywords: Artisanal Mining, Map Obiect, Visual Basic
PENGGUNAAN UNMANNED AERIAL VEHICLE UNTUK VALIDASI PETA RAWAN BANJIR DI KABUPATEN KUDUS DAN PATI Suryanta, Jaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.722 KB)

Abstract

ABSTRAKBanjir terjadi karena hujan lebat dengan sebaran merata dan dalam durasi relatif lama pada suatu wilayah cekungan atau dataran. Menurut tempat kejadiannya, banjir dikelompokkan menjadi empat jenis banjir yaitu banjir bandang, banjir kota, banjir pesisir, dan banjir sungai. Wilayah banjir ini dapat dipetakan dengan bantuan citra satelit, foto udara kemudian diintegrasikan dengan data Shuttle Radar Thematic Mapper (SRTM), bentuklahan, ditambah historis kejadian banjir. Data historis kejadian banjir sangat jarang didokumentasikan dalam bentuk peta poligon atau suatu area yang menggambarkan sebaran genangan, melainkan secara umum berupa titik-titik yang pernah tergenang. Luas genangan banjir akan berubah tergantung pada intensitas dan lama hujan, dengan demikian validasi sangat ideal dilakukan ketika terjadi banjir besar yang akan menunjukkan batas-batas genangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi peta rawan banjir daerah Pati dan Kudus yang sudah dipetakan pada tahun 2008 dengan membandingkan kembali kejadian banjir bulan Februari 2014. Peralatan yang digunakan adalah GPS untuk melakukan pengamatan pada titik-titik batas tergenang dan pesawat Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk pengambilan foto udara pada batas-batas wilayah tergenang. Dari foto UAV bisa ditunjukkan batas genangan banjir, sawah, dan permukiman yang terendam banjir. Berdasarkan hasil pengamatan pada lima stasiun hujan ditunjukkan bahwa intensitas curah hujan tahun 2008 hampir sama dengan yang terjadi pada 2014 dengan pola sebaran banjir juga hampir sama. Setelah dilakukan pengamatan di beberapa titik dengan GPS dan foto UAV, peta rawan banjir menunjukkan ketelitian yang cukup baik.Kata Kunci: banjir, peta rawan banjir, UAVABSTRACTFlood occurs due to heavy rainfall that spread evenly in a basin within a relatively long duration. Based on its location, flood can be grouped into four types, namely flash flood, town flooding, coastal flooding and river flooding. The flood region can be mapped by using satellite imagery and aerial photography. Those data then was integrated with SRTM, landform, and historical flood data. Historical of flood events are rarely documented in the form of a polygon map or an area that describes the distribution of the flood inundation, but generally reported in the form of points that indicated the flooding locations. The spread of inundation would varies depending on the rainfall intensity and duration, thus the ideal validation is done during the occurrence of big flood to identify the limit and extent of flood area. This study aims to validate flood susceptibility maps of Pati and Kudus area that had been mapped in 2008, by comparing with the floods that occurred in February 2014. The equipment used were GPS as a tool to assist in observing the point of flood’s boundaries and Unmanned Aerial Vehicle (UAV) for collecting aerial photo of the flooded area boundaries. The boundary of flood waters can be seen from the photos of UAV including the flooded fields and settlements area. Meanwhile, based on the observations in five rainfall stations, the rainfall in 2008 almost at the same intensity as that occurred in 2014, with the distribution pattern of flooding is also about the same. Based on the observations made at several points marked using GPS and UAV’s photos, it shows that the flood susceptibility map of 2008 considered in a good accuracy.Keywords: flood, flood susceptibility map, UAV