cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
VARIABILITAS PARAMETER OSEANOGRAFI DAN PERMASALAHAN PENGEMBANGAN SISTEM PERAMALAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN INDONESIA Gaol, Johson Lumban
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.068 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.111

Abstract

Meningkatnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menyebabkan kesulitan besar bagipara nelayan untuk menjalankan usaha penangkapan ikan di Indonesia. Sebagian besar BBM digunakan untuk mencari daerah penangkapan ikan sehingga adanya sistem peramalan daerah penangkapan ikan (DPI) akan membantu para nelayan untuk meningkatkan efisiensi penangkapan ikan. Di beberapa negara sistem ini sudah berjalan dengan baik namun di Indonesia penerapannya masih relatif baru sehingga masih perlu dilakukan pengembangan. Pengembangan sistem peramalan DPI di Indonesia lebih sulit dibandingkan di negara-negara yang berada pada daerah sub tropis karena variasi spasial parameter-parameter oseanografi sangat tinggi sehingga biasanya ikan akan terkonsentrasi di daerah front. Kondisi parameter-parameter oseanografi di perairan Indonesia secara spasial relatif homogen sehingga sulit mengidentifikasi daerah front. Selain itu, keterbatasan data perikanan di Indonesia juga menjadi faktor penyebab sulitnya pengembangan sistem ini. Namun demikian dari beberapa penelitian di perairan Indonesia ditemukan indikasi adanya hubungan parameter-parameter oseanografi dengan keberadaan ikan sehingga sistem peramalan DPI ini perlu dikembangkan melalui penelitian yang berkesinambungan dan terintegrasi. Dalam tulisan ini juga diuraikan contoh penerapan sistim peramalan DPI di Jepang, untuk dapat digunakan sebagai masukan untuk pengembangannya di Indonesia.Kata Kunci : Peramalan, Daerah Penangkapan Ikan,Oseanografi, Satelit.ABSTRACTThe increase of fuel prices has caused difficulties for the fishermen to run a fishingoperation in Indonesia. Most of the fuel was used for searching the fishing ground, so that a fishing ground forecasting system (FGFS) will improve the fishing efficiency. In some countries, this system has been running well, but the implementation in Indonesia is still relatively new and still needs to be developed. Development of FGFS in Indonesia is more difficult as compared to the sub-tropical countries due to the high spatial variations in oceanographic parameters. Whereas the fish is concentrated in the front between two water masses. Condition oceanographic parameters in Indonesian waters are relatively homogeneous making it difficult to identify the front area. In addition, the limitations of fisheries data are the factors for development of this system. However, from some researches in Indonesian waters were found indications that the presence of fish is related to oceanographic conditions. The FGFS should be developed through a sustainable and integrated research in Indonesia. This paper also outlines the examples of the application of FGFS in Japan as consideration for developing the FGFS in Indonesia.Keywords: Forecasting, Fishing Ground, Oceanography, Satellite.
PEMANTAUAN SEBARAN ABU VULKANIK MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH SATELIT HIMAWARI-8 DAN AURA/OMI (OZONE MAPPING INSTRUMENT) Fatkhuroyan, Fatkhuroyan; Wati, Trinah
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1597.438 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-1.539

Abstract

                                                                                  ABSTRAKIndonesia mempunyai jalur gunung api mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Banda, Maluku hingga Papua (USGS,1999). Hal ini menyebabkan Indonesia rawan terjadinya bencana akibat erupsi gunung berapi seperti lahar, abu vulkanik serta pencemaran udara yang mengandung zat berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Sebaran abu vulkanik letusan gunung berapi menimbulkan banyak kerugian di sektor pertanian, kesehatan dan juga penerbangan. Pemantauan sebaran abu vulkanik menggunakan analisis penginderaan jauh satelit Himawari-8 dan AURA/OMI dilakukan pada peristiwa erupsi Gunung Raung, Gamalama dan Rinjani pada tahun 2015 bertujuan untuk mendeteksi dan memantau abu vulkanik gunung berapi serta arah pergerakannya dan dikaitkan dengan aktivitas gunung tersebut. Analisis menggunakan teknik komposit warna RGB (Red Green Blue) pada beberapa kanal visible dan inframerah dengan perangkat lunak Sataid pada citra satelit Himawari-8, sedangkan pada citra satelit AURA/OMI dengan pendeteksian emisi gas SO2. Hasil Pantauan satelit Himawari-8 menunjukkan abu vulkanik hasil kombinasi RGB dapat dideteksi dengan visual warna merah terang, sedangkan dari satelit OMI berdasarkan emisi SO2 dapat digunakan untuk melacak keberadaan abu vulkanik dan berkaitan dengan aktivitas gunung. Pemantauan menggunakan penginderaan jauh dengan resolusi temporal yang cukup tinggi pada satelit Himawari-8 (10 menit) dan OMI (harian) dapat digunakan untuk melacak keberadaan abu vulkanik dan arah sebaran yang bermanfaat untuk antisipasi bahaya dari abu vulkanik tersebut sehingga dapat dimanfaatkan untuk penyelamatan kebencanaan.Kata kunci: Abu Vulkanik, Himawari-8, OMI, penginderaan jauh                                                                                   ABSTRACTIndonesia volcanic zone lanes sweep through along Sumatera, Java, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Banda, Molucca to Papua (USGS, 1999). It caused Indonesia become very vulnerable to disaster due to material from volcanic eruptions such as lava, volcanic ash and air pollution containing hazardous substances such as sulfur dioxide (SO2) and hydrogen sulfide (H2S). The distribution of Volcanic Ash due to volcanic eruption has caused many losses in the agricultural, health and aviation sectors. In this study, we observed the spread of volcanic ash using remote sensing analysis of satellite Himawari-8 and AURA / OMI at eruptions of Mount Raung, Gamalama and Rinjani in 2015. The aims are to detect and to monitor the volcanic ash as well as the direction of its movement that were associated to the mountains activities. The analysis used the technique of color composite RGB (Red Green Blue) on several visible and infrared channels using Sataid software on satellite images Himawari-8 and SO2 gas emissions detection on satellite image AURA / OMI. The result of RGB combination from Himawari-8 showed light red color for volcanic ash visualization, while SO2 gas emissions from OMI can be use to track the vulcanic ash. The analysis showed that remote sensing with high temporal resolution of Himawari-8 (every 10 minutes) and OMI (daily) can be used to track the presence of volcanic ash and its direction of distribution and very useful to anticipate the hazards and for disaster rescue.Keywords: Volcanic Ash, Himawari-8, OMI, remote sensing
ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH Setiawan, Hendra; Barus, Baba; Suwardi, Suwardi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.704 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.52

Abstract

ABSTRAKKawasan hutan Kabupaten Lombok Tengah saat ini tidak bisa memproduksi hasil hutan kayu karena kondisi vegetasi hutan kurang optimal sehingga terjadi defisit kebutuhan kayu di wilayah ini. Salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan kayu adalah melalui produksi hutan rakyat. Saat ini produksi hutan rakyat masih rendah tetapi berpotensi besar, untuk itu dibutuhkan perencanaan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendapatkan jenis tanaman yang potensial berdasarkan referensi masyarakat dan identifikasi tingkat kelayakan dari pengusahaan hutan rakyat; (2) memetakan kesesuaian lahan untuk pengembangan hutan rakyat; (3) mendapatkan potensi ketersediaan lahan untuk pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Lombok Tengah; dan (4) menyusun arahan pengembangan hutan rakyat. Analisis data pada penelitian ini mencakup analisis data spasial berbasis Sistem Informasi Geografi (SIG), analisis finansial, identifikasi jenis tanaman hutan rakyat prioritas menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan lahan yang dialokasikan untuk hutan rakyat di Kabupaten Lombok Tengah yang sesuai dan tersedia untuk sengon yaitu seluas 2.552,2 ha, mahoni seluas 4.363,7 ha dan jati seluas 8.825,8 ha. Analisis finansial menunjukkan bahwa pengusahaan hutan rakyat layak untuk dikembangkan terlihat dari nilai NPV, BCR, dan IRR yang memenuhi kriteria layak walaupun pada tingkat suku bunga yang berbeda. Arahan jenis tanaman hutan rakyat yaitu, pada bagian utara untuk sengon (Paraserianthes falcataria) dan mahoni (Swietenia mahogany) sedangkan di bagian selatan untuk jati (Tectona grandis). Lokasi arahan pengembangan terdapat di 8 kecamatan prioritas yaitu Pujut, Praya Barat, Batukliang, Praya Barat Daya, Batukliang Utara, Kopang, Praya Timur, dan Pringgarata. Saat ini posisi tawar petani masih rendah sehingga harga kayu dari hutan rakyat dikuasai oleh pengumpul/pedagang kayu, karena pola pengembangan dan kelembagaan kelompok tani belum terkoordinasi secara baik. Pola pengembangan kemitraan yang berbasis koperasi merupakan solusi yang tepat.Kata Kunci: hutan rakyat, pengembangan hutan rakyat, prioritas pengembanganABSTRACTCurrently, Central Lombok forest area is unable to produce timber because the forest vegetation is not in optimum condition, and resulted to the lack of wood products. Development of community forest is an alternative to meet the need for timber. Although the timber production derives from the community forest is still low, it is actually potential. Therefore, a good planning is required to boost the production. The objectives of this study were: (1) to obtain an excellent potential of plant types based on the community reference and identifiy the community forest feasibility level in terms of economic value; (2) to map potential land availability for developing community forest; (3) to assess the potential of land availability used to developed the community; and (4) to formulate the direction of community forest development. The data analyses covered in this research include spatial analyses based on Geographic Information System (GIS), financial analysis, plant type identification of the community forest priority, and conducting an Analytical Hierarchy Process (AHP). The results shows that the land allocated for the community forest in Central Lombok was suitable and available for growing sengon (Paraserianthes falcataria) (2,552.2 ha), mahogany (Swietenia mahogany) (4,363.7 ha), and teak (Tectona grandis) (8,825.8 ha). The financial analysis showed that community forest business was feasible to be developed based on the values of NPV, BCR, and IRR that met the feasibility criteria in spite of the different interest rates. The northern part of the community forest was suggested to grow sengon and mahogany while the southern part was recommended to grow teak. The recommended locations for developing the community forests consist of eight sub-districts, namely Pujut, Praya Barat, Batukliang, Praya Tenggara, Batukliang Utara, Kopang, Praya Timur and Pringgarata. The farmer’s bargaining position is apparently low so that the pricing of forest products has been controlled by the timber collectors/traders. This is due to the patterns of institutional development and farmer groups that exist today are not well coordinated. Therefore, developing a pattern of a cooperative-based partnership would be a right solution.Keywords: community forest, community forest development, development priority
PERANAN SURVEI DAN PEMETAAN KEHUTANAN DALAM MENJAGA KELESTARIAN HUTAN SEBAGAI BAHAN MASUKAN PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH Hardjoprajitno, Soedari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1879.974 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-1.299

Abstract

Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memegang peranan sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab fungsi dan manfaatnya selalu dibutuhkan oleh manusia kini maupun generasi yang akan datang. Mengingat bahwa jumlah manusia semakin bertambah, kebudayaan mereka selalu berkembang serta ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju, maka sumberdaya hutan harus dimanfaatkan sesuai dengan prinsip kelestarian dengan hasil yang semakin meningkat. Prinsip kelestarian hutan ini dapat terwujud apabila kegiatan pemanfaatan sumberdaya hutan yang dilaksanakan didasarkan atas rencana kegiatan yang mantap, yang dapat disusun apabila tersedia data dan informasi yang teliti dan obyektif tentang situasi dan kondisi sumberdaya hutan tersebut. Data dan informasi demikian dapat dihimpun melalui kegiatan suryei yang dapat dilaksanakan baik secara langsung dengan melakukan kegiatan pengukuran dan pengamatan di lapangan, maupun secara tidak langsung yaitu menggunakan sarana bantu berupa, citra piktorial. Data dan informasi yang berhasil dihimpun ini dapat didokumentasi secara visual dalam bentuk peta. Selain itu peta juga berguna untuk melaksanakan tata ruang dalam rangka rencana pengaturan hasil. Untuk itu maka pemetaan merupakan kegiatan yang perlu dilakukan. Dengan demikian survei dan pemetaan merupakan kegiatan yang sangat penting di dalam rangka memanfaatkan sumberdaya hutan secara lestari.ABSTRACTForest is one of natural resources that holds an important role in human life because its benefits and functions are always needed by both nowadays peoples and future generation. Considering that the number of people are continually increasing more and more, their culture is always developed, science and technology are rapidly expanded, forest resources have to be utilized in line with progressive sustain forest and yield principles. The forest sustain principles seem to be able to realize if the executed forest utilization is based on a steady forest plan which can be made when accurate and objective forest condition/situation data and information are available. Such data can be collected by executing survey activities even directly to measure and to observe the objects (forest land and forest stand) in the field or indirectly by using pictorial imagery as an auxiliary means. Collected data and information can be documented visually in the form of map. Besides, map is also used to execute a layout of forest resources in connection with yield regulation planning. For the sake of this, of course, mapping is a necessary activity that has to be done. So if that is the case, survey and mapping activities are supposed to be very important for sustainable forest resources utilization.Kata Kunci: Hutan/Kehutanan, survei, peta/pemetaan, Kelestarian HutanKeyword:  Forest/Forestry, Survey, Map/Mapping, Sustainable Forest 
PERUBAHAN IKLIM DAN KETAHANAN PANGAN DI JAWA BARAT Suriadi, A.B.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.988 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.116

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perubahan iklim terhadap ketahananpangan, walau demikian karena keterbatasan waktu, dilakukan simplifikasi sehingga hanya beberapa faktor saja yang dikemukakan. Faktor tersebut antara lain curah hujan, temperatur, produksi beras, serta aspek akses terhadap pangan yaitu masalah kemiskinan. Berdasarkan data dari Global Precipitation Climatology Centre (GPCC) telah dilakukan analisis rata-rata curah hujan tiap 30 tahunan, hasilnya menunjukkan bahwa pola curah hujan Jawa Barat selama 90 tahun (1901-1990) tidak mengalami perubahan yang nyata. Akan tetapi dalam dua dekade terakhir (1991-2007) terjadi perubahan yang cukup berarti. Terlihat awal musim kering bergeser ke bulan Juli yang sebelumnya bulan Juni dan akhir musim kering bergeser ke bulan November. Curah hujan bulan September sampai Desember juga lebih rendah dari rata-rata 90 tahun sebelumnya, sedangkan rata-rata curah hujan bulan April-Juni lebih tinggi dari rata 90 tahun sebelumnya. Penelitian ini belum sampai pada kesimpulan keterkaitan perubahan iklim dengan penurunan produksi beras danketahanan pangan. Namun demikian data menunjukkan bahwa terjadi penurunan produksi dalam dekade akhir-akhir ini. Penelitian ini menyajikan suatu fenomena yang perlu diteliti lebih lanjut mengenai peran perubahan iklim terhadap produksi beras dan dampaknya terhadap ketahanan pangan.Kata kunci: Perubahan Iklim, Pergeseran Musim, Ketahanan Pangan.ABSTRACTThis study aims to analyze the effect of climate change on food security, howeverbecause of time constraints simplification should be made. Therefore only a few factors are presented which are rainfall, temperture, rice production, as well as the aspects of food inaccesibility due to poverty. Based on data from the Global Precipitation Climatology Centre (GPCC) who has conducted average rainfall every 30 years, the pattern of rainfall in West Java for 90 years (1901-1990) did not show real changes. However for the last two decades (1991-2007) there has been a significant change. It is shown that early dry season was shifted from month of June to July and the end of dry season was shifted to November. The amount of rainfall in September to December were below the average in 90 years, while average rainfall in April-June is higher than the previous 90 years. This research cannot yet achieve conclusion of the linkage of climate change with a decrease in rice production and food security. However, other data can indicate the declining trend of rice production in recent decades. This research presents a phenomenon that needs to be further investigated regarding the role of climate change in rice production and its impact on food security.Keyword: Climate Change, Sifting Of Season,Food Security.
PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PADA WILAYAH RAWAN BANJIR DI KOTA PADANG, PROVINSI SUMATERA BARAT U, Iswandi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.809 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-1.537

Abstract

                                                                                 ABSTRAKPeningkatan angka pertumbuhan penduduk pada suatu wilayah berdampak kepada peningkatan kebutuhan lahan untuk kawasan permukiman. Sedangkan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk kawasan permukiman sangat terbatas. Tujuan penelitian ini untuk menentukan prioritas pengembangan kawasan permukiman pada zona rawan dan berisiko banjir. Metode yang digunakan untuk menentukan prioritas pengembangan kawasan permukiman adalah overlay peta kesesuaian lahan untuk permukiman, peta rawan banjir, dan peta ketersediaan lahan dengan menggunakan analisis Sistem Informasi Geografi (SIG). Hasil analisis kesesuaian lahan untuk permukiman menunjukkan terdapat 18% kawasan sangat sesuai (S1), 72% lahan sesuai (S2), 6,2% lahan sesuai marjinal (S3), dan 0,4% lahan tidak sesuai (N) untuk permukiman. Selanjutnya, berdasarkan zona kerawanan banjir sebesar 13,7% wilayah penelitian memiliki tingkat kerawanan tinggi, sebesar 14,7% zona kerawanan sedang, dan 71,5% zona kerawanan rendah. Selain itu, berdasarkan ketersediaan lahan untuk permukiman, lahan yang tersedia untuk pengembangan kawasan permukiman sekitar 6%. Analisis prioritas pengembangan kawasan permukiman menghasilkan sembilan tingkatan prioritas pengembangan kawasan permukiman. Berdasarkan prioritas pengembangan kawasan permukiman diharapkan masyarakat lebih membangun pada kawasan yang paling diprioritaskan untuk kawasan permukiman.Kata kunci: kawasan prioritas, permukiman, lahan tersedia                                                                                  ABSTRACTGrowth population rate in a region has affected the escalation of land necessity for residential areas. Meanwhile, the land that utilized for residential areas is very limited. The purpose of this research is to determine the development priorities of residential areas on flood hazard and risks zone. The method used to determine the priority is overlaid the land suitability for resindetial map, flood hazard map, and the land availability map by using analysis from Geographical Information System (GIS). Results of land suitability for resindetial analysis showed that there are 18% of the area is very suitable (S1) for residential, 72% were suitable for residential (S2); 6,2% were marginally suitable for residential (S3); and 0,4% were unsuitable for resindetial (N). Furthermore, approximately 13,7% of the research area has a high hazard area, 14,7% were moderate hazard area, and 71,5% are low hazard area. Based on land availability for residential,  available land for develop residential area is about 6%. The development priorities analysis for residential area produces nine levels of residential area development priorities. Based on those, society could build residential in the most prioritized area.Keyword: priority areas, residential, land availability
ANALISIS SALURAN SPEKTRAL YANG PALING BERPENGARUH DALAM IDENTIFIKASI KESEHATAN TERUMBU KARANG: Studi Kasus Pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, Kepulauan Karimunjawa Murti, Sigit Heru; Wicaksono, Pramaditya
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.85 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.57

Abstract

ABSTRAKSalah satu faktor yang berpengaruh dalam penggunaan teknologi penginderaan jauh untuk identifikasi tingkat kesehatan terumbu karang adalah konfigurasi saluran spektral sensor. Pemahaman tentang saluran spektral yang berpengaruh positif terhadap proses identifikasi kesehatan terumbu karang sangat penting dalam efisiensi pemetaan, baik dari segi waktu maupun akurasi yang didapatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari saluran spektral yang berkontribusi positif terhadap identifikasi kesehatan terumbu karang, dengan menggunakan bantuan analisis PCA (Principle Component Analysis) dan Factor Loadings pada citra Landsat 7 ETM+ dan ASTER. Tingkat kesehatan terumbu karang dilihat dari persentase tutupan karang hidupnya dan dibagi menjadi empat kelas yaitu Sangat Baik (>75% tutupan karang hidup), Baik (50-74%), Sedang (25-49%) dan Rusak (<25%). Untuk mengetahui saluran spektral yang paling baik dalam identifikasi kesehatan terumbu karang, klasifikasi multispektral dilakukan pada kombinasi PC (Principle Component) band dan dilakukan uji akurasi. Hasil uji akurasi dipasangkan dengan hasil analisis Factor Loadings untuk melihat kontribusi tiap saluran spektral pada tiap akurasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran hijau merupakan saluran yang berkontribusi paling tinggi dan saluran merah adalah saluran memberikan kontribusi paling rendah. Saluran biru, yang merupakan saluran dengan penetrasi tubuh air paling baik, memberikan kontribusi yang lebih rendah dibandingkan dengan saluran hijau karena tingginya hamburan Rayleigh yang terjadi pada saluran biru tersebut.Kata Kunci: Landsat 7 ETM+, ASTER, PCA, factor loadings, terumbu karangABSTRACTOne of the major factors to determine the success of remote sensing identification for coral reefs health is the spectral resolution of the sensor. The understanding about the characteristic of spectral bands contribute positively to the identification of coral reefs health is very important for the effective and satisfactory mapping results. This research aimed to identify the most effective spectral band for the coral reefs health identification, using Principle Component Analysis (PCA) and factor loadings analysis. Landsat 7 ETM+ and ASTER VNIR images were used in this research. Coral reefs health condition is determined from the percentage of live coral cover and divided into four ordinal classes: very good (>75% live coral reefs cover), good (50-74%), medium (25-49%), and bad (<25%). To find the most effective bands for coral reefs health identification, multispectral classification was applied on Principle Component (PC) bands combinations. Afterward, the mapping accuracy of each PC bands combination was assessed. Each accuracy assessment result was evaluated with factor loadings analysis result to understand the contribution of different spectral bands on the resulting mapping accuracy. The results show that green band is the most effective spectral band which provides the highest contribution to the mapping, while red band provide the lowest contribution. Blue band, which is the best water penetration band, was less efficient than green band due to the strong Rayleigh scattering that affects more significantly on shorter wavelengths.Keywords: Landsat 7 ETM+, ASTER, PCA, factor loadings, coral reefs
POTENSI GEOGRAFI WILAYAH SEBAGAI FAKTOR PENENTU DALAM KESIAPAN DAERAH OTONOM Martha, Sukendra
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.417 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-1.304

Abstract

Dalam memutuskan kesiapan suatu daerah menjadi daerah otonom, potensi geografi menjadi pertimbangan yang sangat penting. Potensi geografi suatu wilayah baik ditinjau dari sisi fisik maupun non-fisik (sosial ekonomi dan budaya) tidak hanya penting dalam kesiapan otonomi daerah tetapi memang karakteristik wilayah (siap atau tidak siap dalam otonomi) merupakan sesuatu yang harus diidentifikasi, diinventarisasi dan dievaluasi untuk menghitung kemampuan wilayah termasuk sumberdaya alam dan manusia yang dimilikinya. Tersedianya data dasar spasial dan informasi geografi yang ada di daerah sesungguhnya sangat membantu dalam mempertimbangkan dan memahami keuntungan apa yang dapat diperoleh apabila daerah tersebut menjadi daerah otonom. Oleh karena itu pertimbangan teknis yang bersifat geografi perlu dipertimbangkan secara masak-masak, sebab pada akhirnya suatu wilayah yang akan menjadi daerah otonom, harus memiliki karakteristik wilayah yang menonjol. Makalah ini membahas potensi geografi wilayah yang harus diketahui dan dijadikan penentu dalam mempersiapkan daerah otonom.ABSTRACTTo decide a preparation for a region to be autonomy, geographical potency is an important aspect to consider. Regional geographic potency viewed from physical and non-physical aspects (social, economic and cultural) are not only essential for preparing a regional autonomy but also for the purpose of regional characteristics (either ready or not ready for autonomy) which are obligatory to be identified, inventoried and evaluated to calculate regional capability, including human and natural resources owned. The availability of spatial database and geographic information systems in a region is indeed very helpful in considering and understanding the possible advantages or disadvantages if such region will become an autonomy. Therefore, technical consideration of geographical aspects is required because a region becoming autonomy has to have its own distinctive regional characteristics. This article describes geographic potency which has to be known and become a determinant factor for preparing an autonomous regions.Kata Kunci: Potensi Geografi, Daerah OtonomKeyword: Geographic Potency, Autonomous Region
PEMANFAATAN GIS UNTUK REKONTRUKSI KAWASAN STRATEGIS NASIONAL TROWULAN Subagio, Habib; Poniman, Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.754 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.121

Abstract

Penelitian ini mengintegrasikan beberapa hasil kegiatan dan penelitian terkait surveiarkeologis di Trowulan dengan GIS. Metode yang digunakan adalah melakukan set up datadata tersebut kedalam format spasial yang memiliki referensi geografis yang sama. Berbagai aplikasi analisis baik 2D maupun 3D dilakukan untuk menunjukkan representasi keadaan Trowulan dari awal penelitian sampai saat ini, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai input bagi pengambil kebijakan dalam mengambil langkah kedepan, terkait dengan rencana usulan wilayah Trowulan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) ataupun nominasi ’world heritage’. Upaya perlindungan dan konservasi kawasan ini menjadi prioritas utama untuk mengawal Trowulan dalam rangka penetapan kawasan tersebut sebagai KSN ataupun warisan budaya nasional dan dunia. GIS dapat digunakan sebagai instrumen dalam pengelolaan data dan informasi, sekaligus sistem pemantauan terkait dengan keseluruhan properti arkeologi yang ada di kawasan tersebut.Kata Kunci: Pemetaan, GIS, Kawasan Strategis Nasional, Arkeologi.ABSTRACTThis research integrating several related research activities and results of archaeological survey in Trowulan with GIS. The method used is to set up these data into a spatial format that has the same geographic references. Various applications both 2D and 3D analysis done to show a representation of the initial state Trowulan research to date, which is expected to be used as input for policy makers in taking the next step, is associated with the proposed plan area as a National Strategic Area Trowulan (KSN) or nominee the world heritage. The protection and conservation of this region a top priority in order to escort Trowulan determination as KSN region or national and world cultural heritage. GIS can be used as an instrument in the management of data and information, as well as the overall monitoring system associated with the existing archaeological properties in the area.Key Words: Mapping, GIS, National Strategic Area, Archeology
KERENTANAN SOSIAL TERHADAP BANJIR DI BANTARAN SUNGAI BENGAWAN SOLO PASCA RELOKASI MANDIRI setyaningrum, agustina; Rahmawati H, Dyah; Marfai, Muh. Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.97 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.467

Abstract

ABSTRAKBanjir besar pada akhir tahun 2007 mengharuskan Pemerintah Kota Surakarta untuk melaksanakan program relokasi paska terjadinya banjir. Masyarakat pindah dan menempati lokasi relokasi namun tidak jauh dari bantaran Sungai Bengawan Solo. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kerentanan sosial masyarakat terhadap banjir pasca relokasi yang bertempat tinggal di sempadan Sungai Bengawan Solo. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Analisis data keruangan dilakukan dengan metode Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). Penilaian kerentanan dengan menggunakan dua skenario yaitu skenario lingkungan dan skenario ekonomi. Hasil proses SMCE menunjukkan bahwa di lokasi relokasi, terdapat wilayah-wilayah yang masuk dalam kerentanan sosial tinggi dan sedang. Berdasarkan skenario lingkungan, menunjukkan bahwa seluruh kelurahan/desa lokasi relokasi memiliki kerentanan tinggi kecuali Kelurahan Mojosongo yang memiliki kerentanan sedang. Berdasarkan skenario ekonomi, menunjukan lokasi relokasi yang termasuk dalam kerentanan tinggi adalah Kelurahan Semanggi, Jebres, dan Desa Gadingan. Sedangkan lokasi relokasi yang termasuk dalam kerentanan sedang dalam skenario ekonomi adalah Kelurahan Mojosongo, Desa Laban, dan Desa Plumbon.Kata kunci: kerentanan, banjir, relokasiABSTRACT        Great flood at the end of 2007 requires Government of Surakarta to implement the relocation program after the flood. The community moved and occupied the relocation site but not far from the banks of Bengawan Solo River. The aims of the study are to assess the level of social vulnerability after relocation. The data used in this study consist of primary data and secondary data. The sampling technique used in this study was simple random sampling. Spatial data analysis was conducted using Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). The vulnerability assessment using two scenarios, the environmental scenario and economic scenario. Results of the SMCE showed that in relocation sites there are areas that fall into high and medium social vulnerability. Based on the environmental scenarios, the relocation areas have high vulnerability except for Mojosongo which have moderate vulnerability. Based on the economic scenarios, the relocation area that included in high vulnerability are Semanggi, Jebres, and Gadingan.While the relocation area that included in moderate vulnerability using economic scenario are Mojosongo, Laban, and Plumbon.Keywords: vulnerability, flood, relocation 

Page 3 of 35 | Total Record : 347