cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
KAJIAN SPASIAL EVALUASI RENCANA TATA RUANG BERBASIS KEBENCANAAN DI KABUPATEN KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH Suryanta, Jaka; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.979 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.392

Abstract

ABSTRAKPemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dokumen RTRW diharapkan menjadi dasar dalam pengaturan, pengendalian dan pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kota sehingga pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan terhindar dari bencana, mengingat di setiap wilayah administrasi Kabupaten di Indonesia selalu dijumpai bagian yang rawan bencana. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi dokumen RTRW Kabupaten Kudus berdasarkan data spasial kebencanaan. Metode yang digunakan adalah analisis overlay data spasial rawan bencana terhadap pola ruang dan struktur ruang serta wighting/scoring. Analisis spasial menunjukkan pola ruang yang sudah didesain akan terdampak rawan bencana seluas 13.023,22 ha terdiri atas wilayah rawan banjir 11.692,52 ha (89,78%) dan longsor 1.331,17 ha (10,22%). Rawan banjir berdampak pada lahan pertanian sawah 9.497,83 ha (85,32%), permukiman sebesar 1.168,28 ha (10,5%), sedangkan rawan longsor terjadi di wilayah hutan lindung sebesar 459,68 (34,53%), kawasan pertanian tanaman pangan sebesar 524,90 ha (39,43%) dan kawasan hutan produksi sebesar 120,89 ha (13,32%). Hasil penelitian menunjukkan kondisi exsisting sawah dan kawasan hutan bertampalan dengan wilayah rawan bencana longsor dan banjir maka RTRW memungkinkan untuk ditinjau kembali. Struktur ruang khususnya jaringan jalan dapat memberikan akses ke wilayah terdampak longsor maupun banjir dengan baik sehingga evakuasi mudah dilaksanakan. Implementasi pola ruang maupun struktur ruang selanjutnya perlu kajian rekayasa penanggulangan wilayah rawan bencana dengan cara struktural berupa bangunan fisik, maupun peningkatan kapasitas masyarakat dan pemasangan instrumen peringatan dini yang akan dipasang baik pada wilayah rawan longsor maupun banjir. Alokasi pola ruang khususnya pada sawah yang rawan terdampak banjir dan hutan yang rawan terdampak longsor perlu ditinjau kembali atau dibuat infrastruktur untuk mengurangi dampak.Kata kunci: keruangan, rencana tata ruang wilayah (RTRW), kebencanaan, Kabupaten KudusABSTRACTLocal governments are given the authority to regulate and manage their own domestic affairs through spatial planning. Documents of Spattial Planing (RTRW) which become the basics for regulating, controlling and utilizating the district area to implementing sustainable development and avoid disaster, considering that every administrative Regency in Indonesia have disaster-prone areas. This study aims to evaluate the Spatial Planning Document of Kudus District based on spatial disaster data. The method used is the overlaying analysis of disaster-prone spatial data to the spatial patterns and structures as well as the space wighting/scoring. The spatial analysis showed that spatial patterns will be affected by a disaster-prone area of 13.023,22 hectares consisting of flood-prone area 11.692,52 ha (89,78%) and landslides 1.331,17 ha (10,22%). Prone to flooding impact on agricultural land paddy 9.497,83 ha (85,32%), settlement of 1.168,28 ha (10,5%), while prone to landslides occurred in the protected forest area of 459,68 (34,53%), the area of food crops amounted to 524,90 ha (39,43% ) and production forest area of 120,89 ha (13,32%). The results showed some areas of rice fields and forest areas overlap with the potential for landslides and flooding so RTRW allow to be reviewed. The spatial structure mainly the road network access to areas of landsliding and flooding so that the evacuation is well implemented. In the implementation of the spatial planning and structure need to feasibility study due to reduce disaster-prone by using structural means that physically, as well as community capacity building and need to install of early warning instruments that will be used in either region of landslides and floods prone. The spatial pattern allocation  especially used for rice fields that affected by floods and landslides affected the vulnerable forest need to be reviewed or created infrastructure to reduce the impact.Keywords: spatial, spatial planning, disaster, Kudus District
PEMODELAN SPASIAL DEFORESTASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT Nahib, Irmadi; Turmudi, Turmudi; Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.921 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.226

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk memiliki konsekuensi terhadap perkembangan ekonomi yang menuntut kebutuhan lahan untuk pemukiman, industri, infrastuktur dan jasa, sehingga akan berdampak terhadap laju deforestasi yang dapat mempengaruhi perubahan iklim. Berdasarkan hasil analisis tutupan hutan antara tahun 2000 sampai tahun 2009 bahwa deforestasi di Pulau Jawa mencapai sekitar 1,38 juta ha atau sekitar 60,64% dari luas hutan yang ada. Sedangkan deforestasi di Jawa Barat sekitar 596.743,40 ha, atau 62,55% dari seluruh deforestasi di Pulau Jawa. Deforestasi juga terjadi di wilayah hutan Kabupaten Tasikmalaya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perubahan tutupan hutan Kabupaten Tasikmalaya pada periode 1990-2011, dan membangun model spasial deforestasi di Kabupaten Tasikmalaya untuk memprediksi deforestasi masa yang akan datang. Pengembangan model deforestasi dilakukan dengan menggunakan model regresi logistik. Variabel dependen (Prediktan, Y) biner regresi logistik dinyatakan sebagai 0 dan 1, dimana 1 mengungkapkan terjadinya deforestasi, dan 0 tidak terjadi deforestasi. Variabel independen yang digunakan adalah jarak dari jalan, jarak dari tepi hutan, jarak dari sungai, kelas kelerengan dan kepadatan penduduk. Model ini dibangun atas terjadinya deforestasi antara tahun 1990 dan 2011. Persamaan model deforestasi yang diperoleh adalah Logit (deforestasi) = -2,3711 + 0,000776 x1 + 0,002311 x2 + 0,000554X3 – 0,401958 X4 - 1,346622 x5, dengan nilai Relative Operating Characteristics (ROC) sebesar 0,8874. Hasil validasi model menggunakan deforestasi kejadian antara 2000-2011 menunjukkan bahwa model yang dikembangkan cukup baik dengan memberikan akurasi 77,68%.Kata kunci: pemodelan spasial, penggundulan hutan, model logistik, perubahan penggunaan lahan, prediksiABSTRACTThe increase in population has consequences to the economic development which demand the need of land for residential, industrial, infrastructure and services, and will have impact to increase rate of deforestation that can affect to climate change. Based on analysis of forest cover changes between 2000 and 2009 shows that deforestation in Java around 1.38 million ha, or about 60.64 percent of the existing forest area. While deforestation in West Java accounted at around 596,743.40 ha (62.55%). The deforestation also occured in forest area of Tasikmalaya Regency. This research objectives are to determine forest cover change. Tasikmalaya Regency in the period 1990-2011, and building a spatial model of deforestation to predict the future deforestation. The development model of deforestation was done by using a logistic regression model. The dependent variable (Prediktor, Y) binary logistic regression expressed as 0 and 1, where 1 reveal the deforestation and 0 is not deforestation. The independent variables used are: distance, distance from the forest edge, distance from river, slope and population density. This model was built upon the occurrence of deforestation between 1990 and 2011. Equation of the deforestation models obtained were: logit (deforestation) = -2.3711 + 0.000776 x1 + 0.002311 x2 + 0.000554X3 – 0.401958 X4 - 1.346622 x5, with a value of Relative Operating Characteristics (ROC) of 0.8874. The results of model validation using deforestation between 2000-2011 shows that the model developed was quite suitable, providing accuracy of 77,68%.Keywords : spatial model, deforestation, logistic model, land use change, prediction
PEMETAAN POLA PERGERAKAN ARUS PERMUKAAN PADA MUSIM PERALIHAN TIMUR-BARAT DI PERAIRAN SPERMONDE J, Abd. Rasyid
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.644 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-1.101

Abstract

Pergerakan arus permukaan di perairan Indonesia secara umum dipengaruhi oleh angin monsun. Pergerakan tersebut terus berubah mengikuti pola-pola tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pergerakan arus permukaan pada setiap monsun, khususnya pada monsun peralihan II d Kepulauian Spermonde. Data lapangan di kumpulkan selama 3 bulan pada bulan April–Juni 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bulan September dan Oktober, angin bertiup dari barat dengan dengan kecepatan angin maksimum 15 knot. Pada kecepatan tersebut, kondisi arus dominan memperlihatkan perbedaan pola saat pasang dan saat surut. Pola arus permukaan saat air pasang di laut lepas dari utara dengan kecepatan mencapai 0,04 met/det dan terbagi menuju ke selatan dengan kecepatan yang semakin meningkat yakni 0,30 met/det. Pada saat surut di laut lepas dari selatan dengan kecepatan mencapai 0,07 met/det menuju ke selatan dengan kecepatan yang menurun yakni 0,04 met/det. Pada bulan Nopember, polaangin didominasi dari arah tenggara dengan kecepatan 12 knot. Pada kecepatan tersebut, kondisi arus dominan memperlihatkan pola yang tidak jauh berbeda saat pasang dan saat surut. Pola arus yang terjadi di laut lepas baik saat pasang maupun surut menunjukkan pola yang sama yakni dari selatan dengan kecepatan 0,41 met/det dan menuju ke utara dengan kecepatan arus semakin menurun yakni 0,06 met/det.Kata Kunci: Pemetaan, Arus Permukaan, Peralihan, SpermondeABSTRACTThe movement of surface current in Indonesia water is affected by monsoon wind. This movement changes periodically following certain pattern. The objective of this study was to determine the pattern of surface water movemen in each monsoon period especially the transition monsoon II in Spermonde Archipelago. Field data collection was conducted in in 3 months from April to June 2009. Results showed that on September and October, the wind come from west with maximum velocity 15 knot. Condition of dominant current at that velocity illustrated difference pattern between high tide and low tide. The pattern of surface current when waters passing high tide in open sea move from north with velocity 0,04 m/sec and separated head into south with velocity that increased progressively which was 0,30 m/sec. While when it was low tide in open sea, the current moved from south with velocity reaching 0,07 m/sec headed into south with velocity that decreased progressively which was 0,04 m/sec. On November, wind pattern was predominantly from southeast direction with velocity 12 knot. At that velocity, condition of current dominant showed pattern that not really different between high tide and low tide. However, current pattern that happen in open sea when high tide even low tide shiwed the similiar pattern which was come from south with velocity of 0,41 m/sec and headed into north with current velocity that decreased progressively which is 0,06 m/sec.Keywords: Mapping, Surface Current, Transition, Spermonde
ANALISIS PERUBAHAN KAWASAN HUTAN KABUPATEN BLORA DENGAN PENDEKATAN KAJIAN SPATIO-TEMPORAL Yuwono, Doddy M; Suprajaka, Suprajaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7002.633 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2007.9-1.410

Abstract

Hutan Kabupaten Blora merupakan salah satu kawasan hutan di Pulau Jawa yang mengalami degradasi fungsi hutan, hal ini terlihat adanya alih fungsi dari hutan ke non hutan sebesar 4,49% per tahun. Secara umum,berdasarkan analisis Sistem lnformasi Geografis (SlG )diperoleh informasi perubahan hutan terbesar terjadi di Kecamatan Randublatung, dimana total area hutan yang berubah menjadi tegalan adalah 10.358,95 ha. Kondisi ini apabila terus berlangsung akan memperparah fungsi hutan di Kabupaten Blora. Pengelolaan hutan yang meliputi perencanaan dan pengawasan hutan di Kabupaten Blora menjadi sangat penting untuk dilakukan guna mencegah terjadinya degradasi fungsi hutan yang lebih parah. Analisis citra satelit dan penggunaan Sistem Informasi Geografi diharapkan dapat membantu proses pengelolaan fungsi kawasan hutan di Kabupaten Blora. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perubahan lahan di kawasan hutan dalam kurun waktu selama 3 tahun (2001-2003). Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan analisis spatio-temporal  data Landsat ETM7 2001, 2002, dan 2003. Selain itu dengan model analisis GIS diharapkan dapat memberikan evaluasi dalam pengelolaan kawasan hutan di Kabupaten Blora. Hasil analisis spatio-temporal diperoleh adanya pola perubahan lahan yang semakin luas jika lokasinya semakin dekat dengan kenampakan budaya berupa jalan dan permukiman dalam enclave.Kata kunci: Interpretasi Citra Multitemporal, Analisis Spatio-temporal, dan SIGABSTRACTBlora Regency’s forest area is one of many forest areas in Java Island which has severe forest degradation. Estimation of the forest degradation is 4,49% per year. Based on Geographic Information System analysis, the most forest change happened in Randublatung Sub District, which 10.358,95 ha forest changed into open field crops (tegalan). Implementing on management planning is important to avoid forest degradation. Satellite imagery and Geographic Information System analysis used to help the forest management process in Blora Regency. The aim of this research was to know the forest change in Blora Regency for 3 years. The method in this research in Landsat ETM+ multitemporal (year 2001-2003) interpretation, and spatial-temporal analysis in Geographic Information System (GIS) to analysis forest change detection using overlay and buffering. The result of spatio-temporal analysis showed that more significant land use change pattern exist near cultural features than it located far from the cultural features. Keywords: Multitemporal Image Interpretation, Spatio-Temporal Analysis, dan GIS
ANALISIS WILAYAH KONSERVASI MANGROVE DI KEPULAUAN TALAUD Asriningrum, Wikanti
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2419.781 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.41

Abstract

Konservasi mangrove memerlukan analisis kewilayahan yang berbasis karakteristik biogeofisik agar diperoleh keserasian antar ekosistem. Pemanfaatan citra penginderaan jauh satelit adalah untuk mengenali karakteristiknya. Teknik ini sesuai untuk diterapkan pada daerah pesisir pulau-pulau kecil yang sulit dijangkau seperti di Kabupaten Kepulauan Talaud. Studi ini bertujuan untuk melakukan analisis wilayah karakteristik biogeofisik pulau kecil dan untuk analisis wilayah konservasi mangrove. Metode analisis visual dengan pendekatan geomorfologis dilakukan menggunakan citra Landsat, serta dilengkapi dengan peta geologi, peta rupabumi, peta pelayaran, dan survei lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh wilayah pesisir di daerah studi sesuai untuk tumbuh mangrove. Wilayah mangrove meliputi seluruh wilayah pesisir dengan garis pantai sekitar 395 km dan terutama pada pantai-pantai yang terlindung dari ombak. Area konservasi mangrove bervariasi sesuai dengan kondisi biogeofisik pantai setempat. Hasil penelitian ini juga menyajikan langkah-langkah analisis spasial biogeofisik pantai untuk pengelolaan ekosistem mangrove agar terjaga keberlanjutan sumberdaya alam di wilayah pesisir.Kata Kunci: Mangrove, Wilayah Konservasi, Penginderaan Jauh, Ekosistem, Talaud
VALIDASI GEOID EGM2008 DI JAWA DAN SUMATRA DENGAN MENGGUNAKAN PARAMETER MEAN DYNAMIC TOPOGRAPHY (MDT) PADA GEOID GEOMETRIS Pangastuti, Dyah; Sofian, Ibnu
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087.37 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.231

Abstract

Kebutuhan akan datum vertikal yang akurat di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra sangat mendesak karena pada kedua pulau tersebut banyak dilakukan pembangunan infrastruktur. Saat ini referensi tinggi yang tersedia di Pulau Jawa dan Sumatra adalah geoid EGM2008 (Pavlis dkk, 2008). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan ketelitian geoid EGM2008 di Pulau Jawa dan Sumatra dengan menggunakan data hasil model laut. Sementara itu, hasil penelitian terdahulu (Ramdani, 2013) menunjukkan bahwa geoid EGM2008 di Pulau Jawa dan Sumatra memiliki ketelitian 89,8 cm dan 33,4 cm. Hasil validasi ini diperoleh dari asumsi bahwa mean sea level (MSL) berhimpit dengan geoid. Pada kenyataannya geoid tidak berhimpit dengan MSL.Validasi geoid EGM2008 yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan mean dynamic topography (MDT) sebagai salah satu parameter pada penghitungan geoid geometris. MDT yang digunakan adalah hasil simulasi dari assimilasi altimetri dan HYbrid Coordinate Ocean Model (HYCOM). Berdasarkan hasil penelitian, dengan memasukkan parameter MDT pada penghitungan geoid geometris dan melakukan fitting terhadap jaring kontrol vertikal (JKV), diperoleh ketelitian geoid EGM2008 di Jawa dan Sumatra meningkat menjadi 5,6 cm dan 4,4 cm. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa geoid EGM2008 sudah mencukupi untuk pemetaan skala besar dan menengah.Kata kunci:MDT, Geoid, HYCOM, EGM2008ABSTRACTDue to the rapid infrastructure development in Java and Sumatra islands, accurate vertical reference is required. Until now, EGM2008 is the only geoid available as the vertical reference that used in Java and Sumatra (Pavlis et al, 2008). The purpose of this research is to investigate the accuracy of the EGM2008 by using ocean model. On the other hands, the previous research results (Ramdani, 2013) shows that the accuracy of geoid EGM2008 are 89.8 cm and 33.4 cm for Java and Sumatra Islands, respectively. That accuracies were calculated using the comparison between EGM2008 and geometric geoid with assumption that mean sea level (MSL) coincides with geoid. In fact, geoid does not always coincide with the MSL. Therefore, validation of the EGM2008 in this research was conducted by introducing parameter of mean dynamic topography (MDT) in order to calculate the geoid geometric. The MDT was obtained from simulation of assimilated data between altimetry and HYbrid Coordinate Ocean Model (HYCOM).The result of this research shows the geometric geoid calculation by including the MDT in Java and Sumatra Islands could increase the accuracy of EGM2008 by 5.6 cm and 4.4 cm in Java and Sumatra Islands, respectively, after fitting it into the vertical control network (JKV). Based on the spatial resolution and its accuracies, it can be concluded that geoid EGM2008 is adequate to be used as reference on large and medium scale mapping.Keywords: MDT, Geoid, Hycom, EGM2008
MODEL SPASIAL DENGAN SMCE UNTUK KESESUAIAN KAWASAN INDUSTRI Wibowo, Adi; Semedi, Jarot M
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.966 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-1.106

Abstract

SMCE (Spatial Multi Criteria Evaluation) menjadi suatu alternatif metode dalam analisis spasial. Beberapa software SIG seperti ArcGIS, IDRISI dan ILWIS sudah memasukkan aplikasi MCA (Multi Criteria Analysis) didalamnya. Software ILWIS termasuk dalam GOSS (GIS Open Source Software) yang dikembangkan oleh ITC Belanda (sekarang Twente University). Dalam perencanaan pembangunan MCA menjadi penting agar dapat dilakukan simulasi rencana sehingga beberapa pilihan wilayah berbeda dapat dianalisis untuk pengambilan keputusan. Kota Serang menjadi model penelitian karena termasuk di dalam pilot proyek Kajian Lingkungan Hidup Strategis Nasional. Berdasarkan faktor Akses, Hidrologi, Fisiografi dan Kenyamanan maka hasil simulasi A didapatkan wilayah yang sesuai, kemudian dilakukan uji ulang dengan simulasi B dan simulasi C sehingga didapatkan wilayah yang selalu muncul sebagai wilayah kesesuaian. Hasil penelitian diperoleh bahwa wilayah yang sesuai untuk kawasan industri di Kota Serang mencapai luas 789,25 hektar dan berada di Kecamatan Kesemen dan Kecamatan Serang. Hasil kesesuaian kawasan industri ini dapat dijadikan alternatif bagi para pengambil keputusan.Kata Kunci: SMCE, Perencanaan Wilayah, Kota Serang, Kawasan IndustriABSTRACTSMCE (Spatial Multi Criteria Evaluation) has become an alternative method in spatial analysis. Many GIS softwares like ArcGIS, IDRISI and ILWIS embedded MCA (Multi Criteria Analysis) application in their modules. ILWIS Software is one of GOSS (GIS Open Source Software) developed by ITC Netherlands (now Twente University). In development planning, MCA become important since that simulation can be carried out, besides offer more alternatives to different areas or/and location for decision making. Serang City selected as a model for this case study because it is one of the city included in National SEA pilot project. Base on factors: Accessibility, Hydrology, Physiography and Comfortability, with Simulation A resulted in area suitability, that then tested again using Simulation B and Simulation C, so those area that always selected in each simulation become the suitability area. Final result is the area suitability for industrial region in Serang City are 789.25 ha and this industrial region laid on District Kesemen and District Serang. This result can be used as an alternative for decision maker in Serang city for managing the specific industrial region.Keywords: SMCE, Spatial Planning, Serang City, Industrial Region
IDENTIFIKASI TINGKAT BAHAYA LONGSOR DENGAN SKALA DATA BERBEDA UNTUK PERENCANAAN DAS MIKRO NARUWAN, SUB DAS KEDUANG Wahyuningrum, Nining; Supangat, Agung Budi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.332 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-2.242

Abstract

ABSTRAKDalam rangka mendukung perencanaan pengelolaan, DAS Mikro Naruwan yang termasuk pada Sub DAS Keduang, DAS Solo, dilakukan identifikasi tingkat potensi bahaya tanah longsor. Penggunaan skala yang berbeda mempengaruhi tingkat kedetilan data. Analisis dilakukan dengan menggunakan software ArcMap 10.2 dengan data spasial yang terdiri dari intensitas hujan, kemiringan lahan, tipe batuan, keberadaan sesar, kedalaman regolit, penggunaan lahan, infrastruktur dan kepadatan pemukiman. Hasil analisis menunjukkan bahwa apabila menggunakan data penutup lahan skala 1:250.000, 86,4% lokasi penelitian merupakan lahan tidak rentan longsor dan 13,6% sedikit rentan. Namun demikian, bila mengunakan data skala 1:5.000 kategori kerentanan tersebut mengalami penurunan tingkat, yaitu kategori tidak rentan berubah menjadi agak rentan 64,2% dan 35,8% sedikit rentan, sedangkan kategori tidak rentan mengalami penurunan menjadi agak rentan dan sedikit rentan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan skala detil diperlukan dalam perencanaan pengelolaan DAS mikro dan menentukan skala prioritas penanganan. Longsor pada kategori agak rentan paling luas berada di Desa Bubakan (36%), disusul Wonokeling (19,0%) dan Wonorejo (8,6%). Secara fisik, prioritas penanggulangan bencana longsor secara berurutan lebih banyak di lakukan di Desa Bubakan, kemudian di Wonokeling dan Wonorejo.Kata kunci: mikro, DAS, longsor, skala, detilABSTRACTTo support watershed management planning of Naruwan Microcatchment, Keduang Sub Watershed, Solo Watershe. Identification of potential landslide vulnerability was conducted to support. Using the different scale is expected to influence the detail data. Analyses were performed using ArcMap 10.2 software with spatial data that consists of rainfall intensity, slope, rock type, fault, regolith depth, landuse, infrastructure and population density. The results showed that when using land cover data of 1: 250.000 scale, 86,4% of the area are not susceptible to landslides and 13,6% moderately low susceptible. However, when using the data of 1: 5.000 scale, landslide category has decreased its susceptibility level. Not susceptible category turned into moderately susceptible 64,2% and 35,8% moderately low susceptible, while the category declined not susceptible to be moderately susceptible and moderately low susceptible. This fact shows that the use of detailed scale is needed in the micro watershed management planning and it will determine the priority handling. Moderately susceptible landslide is mostly located in Bubakan village (36%), Wonokeling (19,0%) and Wonorejo (8,6%). Physically, the landslide disaster management priorities sequentially should be in the Bubakan village, then Wonokeling and Wonorejo.Keywords: micro, watershed, landslide, scale, detail
GEOSPATIAL DYNAMIC OF VEGETATION COVER CHANGES ON THE SMALL ISLANDS, SOUTH SULAWESI, INDONESIA AS, M. Akbar; Saleh, Buce; Sofian, Ibnu; Nurdin, Nurjannah
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.823 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.47

Abstract

ABSTRACTAgreement on the extent of mangrove forest in Indonesia has yet existed. The extent of mangrove forest in Indonesia 9 years ago was about 4.13 million ha. Currently, the mangrove has decreased significantly to 2.49 million ha (60%). Remote sensing could play an important and effective role for assessing and monitoring the dynamic of mangrove forest cover. The aim of this study is to measure the changes of the mangrove cover within 20 years period from 1993 to 2013, from 1993 to 2003, and from 2003 to 2013 using multi-temporal Landsat data. The study site was selected in Tanakeke Island, Takalar District, South Sulawesi, Indonesia. Results of the analyses show that the mangrove forest has decreased and it is caused anthropogenic impact.Keywords: geospatial dynamic, mangrove, remote sensing, GISABSTRAKSejauh ini belum ada kesepakatan mengenai luas hutan mangrove di Indonesia. Luas hutan mangrove di Indonesia 9 tahun yang lalu adalah sekitar 4,13 juta ha, akan tetapi sekarang menurun menjadi 2,49 juta ha (60%). Penginderaan jauh memiliki peranan penting dan efektif untuk penilaian dan pemantauan dinamika tutupan hutan mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur perubahan tutupan hutan mangrove selama 20 tahun dari tahun 1993-2013, 1993-2003, dan 2003-2013, dengan menggunakan citra Landsat multi-temporal. Lokasi penelitian dipilih di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas hutan mangrove mengalami penurunan yang disebabkan oleh pengaruh dari manusia.Kata Kunci: dinamika geospasial, mangrove, penginderaan jauh, SIG
PENYUSUNAN INDEKS KEPEKAAN LINGKUNGAN : UPAYA PENANGGULANGAN TUMPAHAN MINYAK DI SELAT LOMBOK Dahuri, Rokhmin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 1, No 2 (1999)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2031.116 KB) | DOI: 10.24895/MIG.1999.1-2.294

Abstract

Perairan Selat Lombok merupakan salah satu perairan yang memiliki kepadatan yang paling tinggi di lndonesia, selain Selat Malaka dan Selat Makasar. Sekitar 5 sampai 6 kapal tanker raksasa yang bermuatan lebih dari 250.000 ton minyak melalui Selat Lombok dan Makasar setiap hari. Mengingat ramainya lalu lintas berbagai kapal termasuk kapal-kapal tanker di perairan tersebut, maka tidak dapat dihindari terjadinya kecelakaan sebagai akibat tanker tabrakan atau kandas yang pada akhiinya menimbulkan tumpahan minyak. Apabila terjadi tumpahan minyak di suatu perairan akan memberikan dampak negatif terhadap ekosistem laut serta biota-biota lainnya bila tidak ditanggulangi secara efektif. Tujuan dari kegiatan ini-adalah: (1) Mengidentifikasi dan memetakan kondisi sekarang dan yang akan datang di wilayah daratan pantai dan perairan di sekitar wilayah Pantai Timur Pulau Bali dan pantai Barat Pulau Lombok, (2) mendapatkan data untuk menyusun basis data spasial, (3) pemaparan peta lndeks Kepekaan Lingkungan (IKL) dari wilayah studi, (4) Menyusun prioritas perlindungan lingkungan dan langkah-langkah penanggulangan tumpahan minyak dengan teknologi SIG (Sistem lnformasi Geografis).ABSTRACTLombok Strait has the largest traffic density in Indonesia after Malacca Strait and Makassar Strait. On the average, 5 to 6 giant tankers each carrying more than 250,000 tons of oil, sail through Lombok and Malacca straits. Due to immensely high traffic density, including super tankers, there is great possibility of having collusion among tankers or being aground, which eventually will cause oil spiil. Any oil spill in all kinds of water will produce negative impact to the marine ecosystem as well as marine biotas if not properly addressed beforehand. The objectives of this work are (1) identifying and mapping of present one future conditions of waters especially Eastern Coast of Bali island and Western Coast of Lombok island, (2) obtaining data for the preparation of spatial database; (3) presenting the Environmental Sensitivity Index (ESI) of the studied area; (4) proceeding with the degree of priority in protecting the environment as well as steps needed to address oil spill using GIS technology.

Page 2 of 35 | Total Record : 347