cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur?an & Keislaman
ISSN : 23380349     EISSN : 23380349     DOI : -
Jurnal Syahadah merupakan jurnal Ilmu al-Qur’an dan keislaman dengan kajian multidisipliner, terbit dua kali dalam satu tahun (April dan Oktober), dikelola oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan. Redaksi menerima tulisan yang relevan selama mengikuti petunjuk penulisan yang ditetapkan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 2 (2021)" : 5 Documents clear
HERMENEUTIKA AL-QUR’AN; SUATU TELAAH KONSEPTUAL Syafril Syafril; Nasrullah Nasrullah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hermeneutika diperkenalkan pertama kali sebagai metode penafsiran oleh Dannhauer pada abad ke 17 Masehi. Kecenderungan menggunakan hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab suci bermula ketika kalangan Protestan membutuhkan buku pedoman penerjemahan untuk membantu para pendeta memahami dan menafsirkan Bibel, disaat otoritas Gereja dituntut menyelesaikan persoalan-persoalan penafsiran. Belakangan ini, hermeneutika digunakan sebagai metode penafsiran al-Qur’an. Hal ini disebabkan hermeneutika berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan horison-horison yang melingkupi teks tersebut. Horison yang dimaksud adalah horison teks, horison pengarang dan horison pembaca. Dengan memperhatikan ketiga unsur triadik di atas, diharapkan akan berhasil melahir makna-makna baru sesuai dengan situasi dan kondisi saat teks itu di baca atau di pahami. Dengan bahasa lain, metode penafsiran dengan hermeneutika harus memperhatikan tiga komponen pokok, teks, konteks, dan uapaya kontekstualisasi. Dengan demikian, maka penafsiran al-Qur’an akan tetap hidup dan relefan dengan perkembangan zaman.
Penafsiran Ayat Al-Libảs dalam Tafsir Kontemporer Dewi Murni; Hani Asparul
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengkaji kata libảs dalam Al-Qur’an berbasis kontemporer. Adapun permasalahan pokoknya adalah apa saja makna kata al-Libảs secara kontemporer di dalam Al-Qur’an. Hal yang demikian ini karena dilatarbelakangi oleh penafsiran-penafsiran klasik sebelumnya hanya menyebutkan makna al-Libảs pakaian saja. Untuk menjawab pernyataan tersebut, penulis menggunakan metode deskriptif-analitis. Metode deskriptif dimaksudkan untuk mengurai makna kata al-libảs yang terdapat di dalam kamus dan Al-Qur’an, dengan mengumpulkan dan mengidentifikasi ayat-ayat tentang al-Libảs. Sedangkan metode analitis dimaksudkan untuk menganalisa bentuk variasi dan perbedaan makna dari pengertian yang menunjukkan arti pakaian. Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, kata al-Libảs di dalam Al-Qur’an memiliki Fungsi Pakaian sebagai Penutup (Aurat), dalam fungsinya sebagai penutup, tentunya pakaian menutupi segala yang tidak boleh diperlihatkan oleh pemakai. Kedua, pakaian mempunyai fungsi sebagai Perhiasan salah satu yang harus digarisbawahi adalah selama perhiasaan tersebut tidak menimbulkan rangsangan berahi dari yang melihatnya. Ketiga pakaian berfungsi sebagai perlindungan (ketakwaan)pakaian justru bisa memberikan pengaruh psikologis bagi pemakainya untuk senantiasa taat kepada-Nya dan memberikan nilai-nilai moral kepada orang yang melihatnya. Keempat, kata Libâs adalah pasangan suami istri yang diibaratkan pakaian, karena keduanya saling membutuhkan, melindungi, dan merasakan kenikmatan dalam hubungan seksual.
Studi Living Qur’an tentang Implementasi Program Baca Tulis Qur’an melalui Tradisi Literasi Al-Qur’an di MAN 1 Gunungkidul Jauharotun Nafiisah; Ahmad Hanany Naseh; Muh Aufal Minan; Ridhoul Wahidi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur'an is the word of Allah, which is eternal and has no equal. The content of the Qur'an contains all scopes of knowledge. The Qur'an as the basis for teaching also provides inspiration, motivation, and contribution in building and developing various knowledges through verses that command to read, write, explore, memorize, interpret, and understand the Qur'an in the same sense broadly. This meaning is commonly referred to as Al-Qur'an literacy. This study uses descriptive research with a qualitative approach through a case study at MAN 1 Gunungkidul. The data collection is done by interview with informants and library research from various literature sources in accordance with the research theme. Based on the results of the study, the concept of Al-Qur'an literacy includes the implementation process of determining the schedule, time and place of implementation, and the parties involved; the practice of developing the Qur'anic literacy tradition; and its contribution to the potential development and success of students. Thus, learning the Qur'an, including moral education, is expected to create a generation who loves the Qur'an accompanied by practical practices in everyday life.
Nilai-nilai Qur’ani Spritualitas Profetik dalam membangun Budaya Anti Korupsi Syarifuddin Syarifuddin; Andini Febrianty Damasari; Amaruddin Amaruddin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam has a strategic concept of teaching in an effort to prevent falling into acts that are prohibited by religion. In the concept of religion, it is called nahi munkar.. Included in the actions that are given a warning are the prohibition of corruption. Corruption is also referred to as an extraordinary crime in terms of its extraordinary impact on life. There are many aspects of corruption that need attention, especially in the person of Muslims. The pattern of character building through a culture of avoiding corruption needs to be built and instilled from the start. One that is relevant in the construction is the offer of the concept of Qur'anic values ​​in aspects of prophetic spirituality; shiddiq, amanah, tabligh, and fathanah. These four values ​​are very likely to be developed and socialized in the realm of the civilizing system in society, which involves institutional relationships and individual and social responsibilities. So by applying these values ​​in a policy or ethical system, it means that the Qur'an has been grounded at its practical level.
Asketisme Dalam Al-Qur’an: Dari Teosentris Menuju Antroposentris (Studi Tafsir Maqashidi) Arina Milatal Haq; Navis Daris Salamah; Muhammad Mundzir
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asketisme dipandang sebagai hal yang menyebabkan seseorang bersikap individual dan anti sosial. Pelaku asketis saat ini cenderung mementingkan hubungannya dengan Tuhan (hablun min al-Allah) dari pada hubungan dengan manusia (hablun min al-nas). Tulisan ini akan mengungkap bagaimana asketisme di dalam Al-Qur’an berkembang dari teosentris menjadi antroposentris. Asketisme antroposentris menekankan peran diri terhadap lingkungan sosial untuk mencapai kesalehan dan kemaslahatan. Dengan pendekatan Tafsir Maqashidi, penulis mencoba mengungkapkan berbagai maqashid lain yang bernilai maslahat dari asketisme antroposentris. Asketisme antroposentris memiliki nilai-nilai fundamental, antara lain: al-‘Adalah, al-Wasathiyyah, al-Insaniyyah, al-Mas’uliyyah, dan al-Hurriyah. Selain itu, perilaku asketisme antroposentris mengandung aspek-aspek maqashid seperti Hifz al-Mal, Hifdz al-Din, Hifz al-Daulah, dan Hifz al-Bi’ah. Hal ini mengindikasikan bahwa asketisme antroposentris lebih bersifat kontekstual seiring berkembangnya zaman.

Page 1 of 1 | Total Record : 5